cover
Contact Name
Suryadi Nasution
Contact Email
suryadinst@stain-madina.ac.id
Phone
+6285265428114
Journal Mail Official
amiruddin@stain-madina.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. Andi Hakim Nst Komplek Stain, Pidoli Lombang, Kec. Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara 22976, Indonesia
Location
Kab. mandailing natal,
Sumatera utara
INDONESIA
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Jurnal Al-Kauniyah adalah wadah publikasi dalam meningkatkan keilmuan dalam ruang lingkup keilmuan Al quran dan tafsir
Articles 129 Documents
Analisis Kitab Al-Tash?l Li Ta’w?l Al-Tanz?l Dengan Epistimologi Penafsiran Musth?fa Al’adaw? Maisarotil Husna
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2020): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v1i1.371

Abstract

suk Musth?fa al-‘ Adaw?. Dia tidak sama dengan ulama tafsir lainnya karna tidakmemiliki latar belakang pendidikan formal di bidang tafsir, tetapi memiliki sebuah karyayang fenomenal di bidang tafsir dengan merumuskan konsepnya sendiri sehingga bisamenjadi wawasan Khazanah keilmuan dalam bidang ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Salahsatu Bentuk karakteristik Musthafa al-‘Adawî adalah konsisten dengan menggunakanmetode tanya jawab dalam menafsirkan ayat demi ayat dalam al-Qur’an. SehinggaDengan metode yang dipakainya kita bisa merumuskan bentuk karakteristik tafsirMusth?fa al-‘ Adaw? .
Studi Corak Ad?bi Ijtim?’? Dalam Tafsir Al-Azhar Karya Hamka Syaripah Aini
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2020): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v1i1.372

Abstract

Corak Tafsir Ad?b? Ijtim?’? adalah satu dari sekian corak tafsir yangmenjelaskan ayat -ayat al-Qur'an berdasarkan ketelitian ungkapan-ungkapanal-Qur'an. Kemudian yang disusun dengan gaya bahasa indah, denganmenekankan tujuan pokok diturunkan al-Qur'an lalu mengaplikasikannyadalam tatanan sosial, dan perkembangan masyarakat. Hamka dalam tafsirnyaal-Azhar disinyalir menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an melalui pendekatan coraktafsir adabi ijtima’i. Sinyal-sinyal tersebut dapat ditemukan diberbagaipenafsirannya, baik ayat-ayat Teologi, Hukum dan Kauniyah.
Fitrah Dalam Al-Qur’an Dan Harmonisasinya Dengan Pendidikan Ansor dan Abu Anwar
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i1.463

Abstract

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sejak 14 abad yang lalu sampai sekarang, berisi petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Al-Qur’an juga memiliki banyak isyarat dan solusi dalam mengarungi kehidupan. Manusia sebagai hamba sekaligus juga khalifah di bumi, Allah jelaskan dalam Al-Qur’an memiliki Fitrah, anugrah Allah yang ditanamkan secara rahasia. Kata Fitrah dalam Al-Qur’an diualang sebanyak 20 kali dalam berbagai bentuk, dan tidak hanya bermakna Suci atau penciptaan.
Nur Dalam Perspektif Al-Qur'an Ilham Mustafa
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i1.464

Abstract

Nur secara arti arti hakiki yaitu cahaya yang bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indra, sedangkan secara majazi, nur adalah sesuatu yang menjelaskan/menghilangkan kegelapan atau sesuatu yang sifatnya gelap atau tidak jelas. Dalam al-Quran kata nur terdapat 43 kali yang tersebar dalam 20 surat, baik dalam bentuk nur atau al-nur, yang masing-masingnya memiliki indikasi yang beragam, karena ia merupakan perumpamaan dari berbagai hal, di antaranya adalah: 1) Agama Islam, 2) Iman, 3) Pemberi petunjuk, 4) Nabi Muhammad SAW., 5)Cahaya siang (dinamakan nur), 6) Cahaya bulan (dinamakan nur), 7) Cahaya yang menerangi orang mukmin dalam melintasi ”sirathul mustaqim”, 8) Kitab Taurat, 9) Kitab Injil, 10) Kitab al-Quran, 11) Cahaya Allah SWT., 12) Keadilan. Intinya Semua hal yang baik memiliki nilai Nur dalam pandangan Al-Quran.
?????? ??????? ???? ????? ??????? ?? ?????? ??? ?????? ???????? ?? ?????? Ilham Syukri
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i1.465

Abstract

??? ????? ?????? ???? ????? ??????? ?? ?????? ??? ???????? ?? ?????? ?????????? ?? ??????? ???? ????? ???? ????? ????? ?? ?????? ??????? ???????????? ???? ???? ??? ???? ?? ???? ??????? ??? ?????? ??????? ?? ????????? ????? ?? ?????? ?????? ???? ????? ??????? ???????? ????? ??? ?????? ?????????????? ?? ??? ???????? ???????? ??? ???? ??????? ?? ???????? ?????????? ????????? ???? ???????? ??? ????? ????????? ??????? ????????? ??????? ?????? ?? ??????????? ???????? ?????? ?????? ??????? ??? ???? ?????? ?????? ?? ?????? ??? ???????? ????? ???? ??? ?? ?? ???? ?????? ??????.
Begal Dalam Al-Qur’an (Analisis Tafsir Sosial) Muhammad Husein
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i1.466

Abstract

Perilaku kejahatan pembegalan tidak ada satu pihak pun yang membenarkan dan membolehkannya terjadi seperti dari kalangan kriminologi, psikolog, sosiaolog, aparatur pemerintash termasuk pihak kepolisian, penegak hukum dalam hal ini kejaksaan, dan dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan lainnya. Semuanya sepakat bahwa prilaku kejahatan pembegalan harus di hukum dan di minimalisr sejak sekarang. Oleh karena itu perlu kita meningkatkan kewaspadaan dan perlu kehati-hatian untk mencegah serta menghindari terjadinya korban kejahatan pembegalan yang marak terjadi di tengah-tengah masyarakat, seperti menghidari bepergian sendirian pada waktu tengah malam jika tidak terlalu mendesak serta menghidari pada tempat-tempat yang sepi yang memungkinkan akan bisa terjadi kejahatan pembegalan.
Konsep Nur Muhammad Studi Penafsiran Surat An-Nur Ayat 35 Muhammad Roni
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i1.467

Abstract

“Nur Muhammad” merupakan konsep yang tidak asing dalam wacana tasawuf, demikian pula halnya dalam kajian ilmu tafsir, teks-teks “Nur Muhammad” juga dikenal luas. Teks-teks tersebut, sabahagian penulis temukan terkumpul di sebuah koleksi naskah dengan tema “Isra’ Mi’raj). Mungkin ini dikarenakan naskah tentang “Nur Muhammad” dibacakan setiap bulan, biasanya tanggal 27 bulan Rajab, yakni acara peringatan Isra’ dan Mi’raj. Artikel ini menunjukkan bahwa naskah “Nur Muhammad” dalam kajian tafsir surat an-nur ayat 35. Asumsi ini didasarkan pada analisa teks, perbadingan dengan naskah-naskah lainnya, serta analisa kehidupan social-budaya komnitas Muslim yang mentradisikan membaca naskah-naskah sesuai hari besar Islam. Pendekatan intertekstual pemahaman konsep Nur Muhammad semakin luas dan utuh berkat bantuan dari teks-teks terkait. Perbedaan pengungkapan konsep Nur Muhammad di berbagai teks tersebut memperlihatkan fungsi sendiri. Konsep Nur Muhammad berfungsi untuk menegaskan silsilah Nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw, menegaskan tentang keutamaan dan kemuliaan Nabi Muhammad yang nurnya menjadi asal seluruh manusia.
Takdir Dalam Al-Qur'an Amiruddin, M.TH
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i2.701

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pemaknaan takdir dalam Alquran melalui penafsiran para mufasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan takdir, tanggapan ulama mengenai takdir dan pengaruh yang diperoleh masyarakat kontemporer jika berpedoman kepada tafsir dalam pemaknaan takdir. Penciptaan adalah takdir, baik itu penciptaan di awal maupun di akhir, semua menjadi takdir dari Allah. Takdir itu merupakan ketetapan, ilmu, kehendak dan ciptaan Allah, sehingga tidak ada atom atau yang lebih kecil darinya yang bergerak kecuali sejalan dengan kehendak, ilmu dan kekuasaan Allah. Tiada daya dan kekuasaan kecuali hanya milik Allah. Semua tindakan, perbuatan, diam, dan gerakan bergantung pada Allah dan bukan pada manusia. Kehidupan manusia saat ini adalah kehidupan dimana manusia berkontaminasi dengan ilmu dan teknologi, hidup penuh dengan materialis, prakmatis. Maka, kehidupan yang seperti ini selalu berkecendrungan dengan hidup duniawi dan selalu terpukau kesenangan dunia, sehingga dapat lupa kepada takdir Allah. Jika lupa terhadap takdir Allah maka akan semakin jauh dari nilai Islam.
Konsep Mustadh’afin Dalam Kajian Tafsir Kontemporer (Studi Atas Tafsir Farid Esack) Hasbi Nawi Ashidiki
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i2.707

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai mustadh’afin sebagai konsep dalam kajian tafsir kontemporer dan studi atas tafsir Farid Esack dalam memperjuangkan ketidakadilan dan penindasan. Tentu mustadh’afin menjadi hal yang penting di pahami karena adanya masyarakat yang berada dalam kelemahan dan penindasan yang harus diperjuangkan dan ditolong bersama. Apalagi dalam kajian tafsir kontemporer yang benar-benar dibutuhkan untuk memahami penafsiran yang tepat dalam permasalahan orang-orang tertindas dan perlu ditolong bersama. Farid Esack tentu menjadi salah satu orang yang benar-benar berjuang untuk memperbaiki perjuangan mustadh’afin. Tepat sekali dengan tafsir Farid Esack yang kontemporer dengan melihat tafsir-tafsir lainnya. Lebih dari pemahaman yang ada ialah kajian berat mengenai pembelaan orang-orang lemah dan tertindas yang harus dibela bersama dengan memahami juga penafsiran Alqurannya yang tentunya banyak pandangannya yang mesti dipelajari agar mampu mempermudah perjuangan agar lebih baik lagi dan lebih berharga. Seperti hermeneutika harus dinikmati secara liberatif agar mampu dimengerti dengan mudah lagi. Sehingga akan datang kesimpulan pergerakannya seperti apa yang telah terjadi kelemahan itu kepada Farid Esack serta telah memperjuangkan orang-orang yang tertindas di Afrrika Selatan sampai keluarganya pun termasuk mustadh’afin sejak dari kecil Farid Esack telah banyak mempelajari keadaan Islam dan keadaan masyarakat yang lemah atau tertindas tentu dengan banyaknya ayat Alquran tentang mustdah’afin yang mesti dimengerti penafsirannya dengan sangat banyak tafsir yang membicarakan mustdah’afin. Karenanya penting sekali dalam memperjuangkan penindasan dan kelemahan seperti dalam (Q.S. An-Nisa [4] : 75).
Kedudukan Sumber Hukum Islam Kedua (Hadis) Dalam Al-Qur'an Muhammad Lathief Ilhamy Nasution
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v2i2.708

Abstract

Its position as a syara' argument means that in addition to the Qur'an, the sunnah of the Prophet also gives us instructions to know the eternal commandment of Allah which is called syar'i law. The word "sunnah" (????) comes from the word etymologically means: the way that is usually done, whether that way is something good, or bad. Sunnah in terms of ushul scholars is: "whatever is narrated from the Prophet Muhammad SAW., good in the form of words, deeds or confessions and the nature of the Prophet." While the sunnah in terms of fiqh scholars is: "the legal nature of an act that is required to do it in the form of an uncertain demand" with the understanding that the person who does it is rewarded and the person who does not commit it is not guilty. Sunnah according to the understanding of ushul experts as mentioned above is divided into three kinds. First, sunnah qauliyah, namely the words of the Prophet that were heard by his companions and conveyed to others. For example, a friend said that he heard the Prophet say, "Who does not pray because he is asleep or because he forgot, let him do the prayer when he has remembered.” Second, sunnah fi'liyah, namely the act of What was done by the Prophet Muhammad SAW who was seen or known by his companions, then conveyed it to others with his words. For example, a friend said, "I saw the Prophet Muhammad SAW. Perform two rak'ahs of sunnat prayer after the noon prayer." Third, sunnah taqririyah, namely the actions of a friend or his words which were carried out in the presence or knowledge of the Prophet, but were not responded to or prevented by the Prophet. The silence of the Prophet was conveyed by friends who witnessed to others with his words.

Page 10 of 13 | Total Record : 129