cover
Contact Name
Suryadi Nasution
Contact Email
suryadinst@stain-madina.ac.id
Phone
+6285265428114
Journal Mail Official
amiruddin@stain-madina.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. Andi Hakim Nst Komplek Stain, Pidoli Lombang, Kec. Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara 22976, Indonesia
Location
Kab. mandailing natal,
Sumatera utara
INDONESIA
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Jurnal Al-Kauniyah adalah wadah publikasi dalam meningkatkan keilmuan dalam ruang lingkup keilmuan Al quran dan tafsir
Articles 129 Documents
KONSEP PEMELIHARAAN HARTA ANAK YATIM PERSPEKTIF QS. AN-NISA AYAT 5-10 Khofifah Alawiyah
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v4i1.1362

Abstract

Anak yatim adalah kelompok yang tidak boleh diabaikan dalam Islam. Mereka termasuk dari generasi selanjutnya yang dapat memberikan kontribusi dalam koridor internal keluarganya, masyarakat sekitar ataupun kontribusi bagi negara. Adapun pengasuhan dan perawatan terhadap anak yatim dan harta mereka sepeninggal kedua orang tuanya dibebankan kepada wali yang diwasiati, baik secara lisan maupun memalui surat wasiat, hal ini juga dituliskan dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 51 ayat 1 dan KHI Pasal 109. Diharapkan agar wali memperlakukan anak yatim dengan baik dan memenuhi segala kebutuhannya, mencakup perawatan diri, pembinaan pendidikan dan moral serata pemeliharaan harta anak yatim yang diwariskan dari orang tuanya. Pemeliharaan harta anak yatim yang dilakukan oleh wali harus mempunyai konsep dalam pengelolaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah mengajarkan konsep dalam memelihara anak yatim, hal itu dapat ditemui dalam QS. An-Nisa’ ayat 5-10, yang pada kenyataannya hal tersebut belum dilaksanakan sebagaimana ajaran Islam karena masih banyak para wali anak yatim yang bebrbuat dzalim terhadap harta mereka. Wali tidak diperkenankan menggunakan harta anak yatim secara semena-mena sehingga akan menimbulkan kerugian terhadap diri anak yatim. Perwalian terhadap anak yatim akan berlangsung sampai anak tersebut mencapai usia baligh, dewasa dan memiliki kecakapan untuk mengelola hartanya. Setalah mencapai pada batas tersebut, hartanya harus diserahkan kepada pemilik aslinya serta turut menghadirkan saksi agar tidak terjadi perselisihan atau pertengkeran dikemudian hari. Dengan menangkap dan mencerna konsep pemeliharaan harta anak yatim, diharapkan wali dapat lebih berhati-hati dan memperhatikan penjagaannya terhadap harta tersebut sampai saat diamana ia harus menyerahkannya.
THE PEMBERIAN SESAJEN SEBAGAI EKSPRESI SPIRITUAL SEBAGAI KONTEKS KELUARGA BAHAGIA PERSFEKTIF ALQURAN DAN HADIS nurfadhilah syam
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v4i1.1400

Abstract

This research adopts a qualitative approach to evaluate the offering of sesajen as a spiritual expression within the context of a happy family, referencing the perspectives of the Quran and Hadith. The study investigates the impact of sesajen practices on family happiness and the potential for actions considered as shirk from a religious standpoint. Through in-depth interviews with involved family members and analysis of relevant Quranic and Hadith texts, it was found that the practice of sesajen does not significantly contribute to family happiness and, in some cases, can lead to disharmony. The Quranic perspective emphasizes the importance of sincerity in worship, while Hadith highlights the significance of sacrifice and affection in the family context. Additionally, a perspective emerged suggesting that sesajen may reflect acts of shirk, surpassing the limits of worship solely to Allah. Although this view is not uniform, it reveals diversity in interpretation. Consequently, within the framework of Quranic and Hadith perspectives, the practice of sesajen needs evaluation concerning family happiness and compatibility with fundamental religious values.
Tumbuhan Bidara Dalam Al-Qur’an Dan Manfaatnya Bagi Kehidupan : (Kajian Tahlili QS. Al-Waqi’ah/56: 27-31) ilham usman; Nurliana; Rahmat Nurdin
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v4i2.1448

Abstract

Abstract This article discusses the bidara plant (sidr)listed in QS. Al-Wa>qi’ah/5: 27-31. This research is a qualitative research that is bibliographical. The results of this study show that in . Al- Wa>qi’ah/56: 27-31, describes some of the pleasures obtained by the right, namely being among the bidara plants that are arranged with their beauty and a very wide shade in all places, running water whenever desired, sweet fruits of various kinds that exist, such is the reward for those who have done good while on earth. Bidara plantsare plants that have many benefits among them: as a spiritual medicine, beauty medicine, as afever reliever and can reduce diabetes, can treat wounds and launch the digestive system, not only that the bidara plant in becoming a business opportunity that can improve the economy of the people. Keywords: Al-Qur’an, Bidara, skincare, remaja
Paralelitas Unsur-Unsur Penciptaan Manusia (Analisis Intertekstualitas Antara Al-Qur’an dan Al-Kitab) Ekatul Hilwatis Sakinah; Syahidil Mubarik Mh
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v4i2.1537

Abstract

Abstract The elements of human creation mentioned by al-Qur'an and al-Kitab have similarities, although it needs to be recognized that al-Qur'an is more explicit in explaining it. This then triggers an expansion of meaning carried out by the Qur'an against al-Kitab. This research focuses on the elements of human creation using the theory of intertextuality initiated by Julia Kristeva. There are two main problems that will be answered in the research, namely how the Qur'an and al-Kitab explain the elements of human formation and how the intertextuality approach is able to explain the elements of human formation contained in the Qur'an and al-Kitab. The purpose of this research is to find the relationship between the elements of human creation in al-Qur'an and al-Kitab. The method used in this research is descriptive analytic with library research. The data were collected through books, articles, journals, and writings related to the research theme. The results show that between al-Qur'an and al-Kitab in explaining the elements of human creation has a transposition of textual relationships that are not only included in the parallel category but also in the categories of expansion, existence, and conversion. Expansion occurs when the Qur'an has expanded the meaning of the elements of human creation in al-Kitab, namely soil, water, and spirit. Existence is when the Qur'an raises water terms explicitly as an element of human creation, including semen. Conversion is the contradiction between the texts of al-Qur’an and al-Kitab regarding who was created from soil. Al-Kitab narrates that only Adam was created from soil and Hawa was created from Adam's rib, while the Qur'an narrates that Adam and Eve were created from the same element, namely soil. Keywords: al-Qur'an, al-Kitab, Intertextuality, Human, Creation
Konsep Perdamaian dalam QS. Al-Hujurat Ayat 9-10 (Analisis Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab) Rengga Irfan
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v4i2.1593

Abstract

Sebagai negara majemuk dengan berbagai latar belakang budaya, bahasa dan agama, Indonesia menjadi salah satu negara yang masyarakatnya rentan terhadap konflik internal. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya konflik yang terjadi sejak terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Islam sendiri yang menjadi agama yang dianut oleh sebagian besar rakyat Indonesia memiliki acuan dalam penyelesaian konflik atau yang lebih dikenal dengan ishlah atau perdamaian melalui QS. Al-Hujurat ayat 9-10 serta merujuk kepada mufasir Indonesia, M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah tentang ishlah pada ayat tersebut serta bagaimana konsep perdamaian yang disuguhkan didalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan library research dan menjadikan Tafsir Al-Misbah sebagai sumber utamanya. Pada penelitian ini ditemukan bahwa M. Quraish Shihab menafsirkan QS. Al-Hujurat ayat 9-10 menggunakan pendekatan tafsir bil ra’yi, ia menjelaskan makna setiap ayat melalui arti kata secara tekstual serta memberikan penjelasan yang dalam terkait kontekstualitas ayat melalui penggunaan bahasa dalam ayat tersebut. Dalam tafsirnya ditemukan konsep perdamaian pada ayat ini berupa: pertama, penguatan keimanan merupakan pondasi dalam meredam konflik. Kedua, penyelesaian konflik harus dilakukan segera serta diatas dasar keadilan. Ketiga, tujuan dari perdamaian itu adalah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menghindari permusuhan antar umat.
Urgensi Dialog Lintas Agama dan Upaya Mencari Titik Temu Ajaran Agama-agama Dalam Khazanah Kitab Tafsir Fadhila Sidiq Permana
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 1 (2026): Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/kauniyah.v7i1.2995

Abstract

This article examines the urgency of interfaith dialogue in the treasury of tafsir books, focusing on the interpretation of QS. Ali Imran verse 64. Interfaith dialogue has become an important agenda to maintain harmonious relations among religious communities, especially in Indonesia. A crisis in communication and dialogue has led to mutual suspicion, resulting in friction and conflict. This study aims to reveal the theological basis of interfaith dialogue contained in the Holy Qur'an, so that it can be useful as a foundation for agendas or forums promoting harmony among religious communities. The analysis uses a literature review method, referring to several tafsir books and various journal articles. The results of this research present several urgencies of interfaith dialogue found in tafsir books, such as efforts to uphold justice, religious moderation, and to find common ground between the teachings of Islam and those of other religions.
A, The Kerusakan Lingkungan Menurut The Study Qur'an: Environmental Degradation in The Study Qur'an Vika Mailasari Dewi
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 1 (2026): Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/kauniyah.v7i1.3007

Abstract

Studi ini meneliti konsep degradasi lingkungan dalam Al-Qur'an melalui interpretasi Al-Qur'an. Fokus studi diarahkan pada tiga ayat yang relevan dengan tema kerusakan lingkungan, yaitu QS. Ar-Rum: 41, QS. Al-A'raf: 56, dan QS. Al-Baqarah: 205. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan menganalisis teks Al-Qur'an, interpretasi Al-Qur'an terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan degradasi lingkungan, serta literatur pendukung dari tafsir klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an memahami istilah fasad sebagai kerusakan, merujuk pada bentuk-bentuk kerusakan yang meliputi dimensi moral, sosial, spiritual, dan ekologis. Interpretasi ini menekankan bahwa degradasi lingkungan tidak terjadi secara alami, melainkan berasal dari perilaku manusia yang ditandai dengan keserakahan, ketidakadilan, dan kelalaian terhadap tatanan ilahi yang ditetapkan oleh Tuhan. Interpretasi ini relevan dengan krisis lingkungan modern seperti polusi, penggundulan hutan, degradasi ekosistem, dan meluasnya ketidakadilan ekologis global. Studi ini menyimpulkan bahwa perspektif Al-Qur'an tentang fasad menawarkan landasan etika ekoteologis untuk upaya pelestarian lingkungan, sekaligus menegaskan kembali peran dan tanggung jawab manusia sebagai penjaga dan penunjang bumi.
Air Sebagai Sumber Kehidupan: Analisis Ekosistem Dari QS Al-Baqarah [2] Ayat 22 dan 60 Naila Nurizza; Mochammad Imamuddin
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 1 (2026): Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/kauniyah.v7i1.3029

Abstract

Air merupakan unsur fundamental yang menopang keberlangsungan kehidupan dan keseimbangan ekosistem, sekaligus memiliki dimensi spiritual yang kuat dalam ajaran Islam. Dalam konteks ekologi modern, air berperan sentral dalam siklus hidrologi, produktivitas primer, pembentukan habitat, regulasi iklim mikro, serta penyediaan jasa ekosistem bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun, meningkatnya tekanan akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi, perubahan iklim, pencemaran, serta pengelolaan sumber daya air yang belum berkelanjutan telah memicu krisis air global yang berdampak pada degradasi ekosistem dan ketimpangan akses air bersih. Di sisi lain, kajian air dalam perspektif keislaman sering kali masih dipisahkan dari pendekatan ilmiah ekologi, sehingga belum membentuk kerangka pengelolaan yang integratif dan aplikatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran air sebagai sumber kehidupan melalui integrasi perspektif ekologi dan teologi Islam dengan menelaah QS Al-Baqarah ayat 22 dan 60. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, menggabungkan literatur ekologi lingkungan, pengelolaan sumber daya air, serta tafsir Al-Qur’an yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memandang air bukan sekadar sumber daya material, melainkan amanah Ilahi yang harus dikelola secara adil, berkelanjutan, dan bertanggung jawab, sejalan dengan prinsip-prinsip ekologi modern. Integrasi nilai-nilai etika Islam dengan sains ekologi berpotensi menjadi kerangka konseptual alternatif dalam pengelolaan sumber daya air yang tidak hanya efektif secara ekologis, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan moral.
Transformasi Digital dalam Studi Tafsir: Potensi, Distorsi, dan Tanggung Jawab Akademik Muhammad Rafsanjani; Muhammad Arwani Rofi’i; Ulfatul Halimah
Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 1 (2026): Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/kauniyah.v7i1.3127

Abstract

The emergence of digital technology has fundamentally revolutionized how Muslims access, study, and disseminate the Qur'anic exegesis (tafsir). The digitization of interpretations poses three risks: loss of text authenticity, decreased validity of interpretations due to truncated context, and weakened scientific authority as interpretations are determined more by algorithms than by the competence of scholars. This article critically examines the dynamics of this digital transformation, highlighting the serious risk of semantic distortion that arises from truncated texts, decontextualized summaries, or inconsistencies with the original intent of the mufassir. Utilizing a qualitative study of popular Indonesian digital platforms, the research reveals that although accessibility has increased, certain digital content fails to fully adhere to authoritative texts and often neglects established methodological principles of interpretation. These findings emphasize the necessity of academic responsibility in harmonizing technological advancement with scholarly integrity, concluding that the digital transformation in tafsir studies can only yield positive contributions if strictly managed through rigorous academic control and ethical scholarship, necessitating wider digital tafsir literacy among users.

Page 13 of 13 | Total Record : 129