cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana
ISSN : -     EISSN : 26866404     DOI : -
Core Subject : Education,
Seminar nasional Pascasarjana merupakan kegiatan rutin yang dilakasanakan oleh Pascasarjana UNNES. Tahun 2018 adalah kali ke 5 pelaksanan yang diselenggarakan oleh Kampus yang telah berubah alamat dari lokasi di Kampus Bendan Ngisor berpindah di Kampus Kelud Utara III Kecamatan Gajahmungkur kota Semarang. Kegiatan akademik ini merupakan kerjasama yang sinergi antar enam Kampus Pascasarjana LPTK di Indonesia.
Articles 84 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2021)" : 84 Documents clear
Paulo Freire dan Pendidikan untuk Transformasi Sosial Abad 21 Muhammad Iqbal Fauzi
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Pendidikan di Indonesia saat ini disesuaikan dengan prinsip pengetahuan dan keterampilan abad ke-21 yang dapat mencetak generasi unggul. Upaya menciptakan sumber daya manusia yang unggul dapat dicapai melalui peningkatan kualitas pendidikan. Tantangan utama pendidikan kita memasuki abad 21 adalah: pertama, belum meratanya akses terhadap pendidikan sebab kesenjangan sosial-ekonomi. Kedua, Ketidakmampuan pendidikan melahirkan manusia Indonesia yang punya daya kritis, berani berinovasi dan tanggap terhadap kondisi zaman. Tawaran untuk menjawab tantangan abad-21 salah satunya menggunakan paradigma pendidikan Paulo Freire dengan gagasan pendidikan yang membebaskan. Paulo Freire menawarkan pendidikan pembebasan dengan cara merevisi pendidikan gaya bank diganti dengan pendidikan yang dialogis secara aksi-refleksi secara berkelanjutan. Pendidikan dilakukan dengan cara hadap-masalah. Freire memperkenalkan “Problem Posing Method” (PPM), yaitu metode pendidikan yang tidak “menindas” dan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan realitas. Desain pembelajaran model Paulo Freire menginspirasi model pendidikan andragogi yaitu pendidikan orang dewasa, secara dialogis, guru berposisi sebagai fasilitator. Kata kunci: pendidikan, paulo freire, pembebasan. Abstract. Education in Indonesia is currently adapted to the principles of 21st century knowledge and skills that can produce superior generations. Efforts to create superior human resources can be achieved through improving the quality of education. The main challenges of our education entering the 21st century are: first, the uneven access to education due to socio-economic disparities. Second, the inability of education gives birth to Indonesian people who have critical power, dare to innovate and are responsive to the conditions of the times. One of the offers to answer the challenges of the 21st century is using Paulo Freire's educational paradigm with the idea of liberating education and Paulo Freire's alternative answer to dealing with shackled education and liberation education when it is associated with 21st century education. Paulo Freire offers liberation education by revising bank-style education to replace it with a dialogue-based education with continuous action-reflection. Education is carried out in a problem-solving manner. Freire introduced the “Problem Posing Method” (PPM), which is an educational method that is not “oppressive” and aims to raise awareness of reality. The learning design of Paulo Freire's model inspired the andragogy education model, namely adult education, in a dialogical manner, the teacher plays the role of a facilitator. Key words: education, paulo freire, liberation.
Persepsi Masyarakat Indragiri Hilir Riau Terhadap Olahraga Tradisional Pacu Sampan Leper dalam Melestarikan Kebudayaan Daerah Dedi Nofrizal; Hari Setijono; Heny Setyawati; Nasuka Nasuka; Bella Putri Utami
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian dilakukan secara deskriptif, yaitu dengan menyebarkan angket tertutup pada sampel untuk melakukan survei. Jumlah subjek atau sampel diperoleh dengan metode teknik proporsional random sampling adalah 75 orang. Hasil survei terhadap data sampel dianalisis dengan menggunakan data statistik. Instrumen tersebut digunakan untuk mengetahui persepsi Masyarakat Indragiri Hilir Riau Terhadap Olahraga Tradisional Pacu Sampan Leper dalam Melestarikan Kebudayaan Daerah. Sebelum penelitian, terlebih dahulu perlu diketahui validitas dan reliabilitas angket dan instrumen pada penelitian tersebut. Uji Validitas dan reliabilitas angket yang berjumlah 36 butir pertanyaan yang akan digunakan pada penelitian ini telah valid dan reliabel dari angket yang berjumlah 40 angket pertanyaan yang akan diujicobakan. Hasilnya, menunjukkan bahwa dari indikator stimulus, dengan sub indikator pengetahuan tentang olahraga tradisional pacu sampan Leper memberikan hasil 71,35%, sub indikator manfaat olahraga tradisional Pacu Sampan Leper diperoleh hasil 67,61%. Lalu pada Indikator penginderaan, dengan sub indikator lingkungan menunjukkan bahwa 63,67%, sub indikator kegiatan menunjukkan 74,46%. Sedangkan indikator tanggapan, dengan sub indikator pemain olahraga tradisional pacu sampan Leper sebesar 73,36%, sub indikator sarana dan prasarana sebesar 78,45%, sub indikator prestasi olahraga tradisional Pacu Sampan Leper sebesar 71,69%. Sehingga totalnya sebesar 72,65%, dan dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat Indragiri Hilir Riau Terhadap Olahraga Tradisional Pacu Sampan Leper dalam Melestarikan Kebudayaan Daerah termasuk pada kategori Baik. Kata kunci: Persepsi masyarakat, olahraga tradisional pacu sampan leper, memberdayakan dan melestarikan Abstract. The research was conducted descriptively, namely by distributing closed questionnaires to the sample to conduct a survey. The number of subjects or samples obtained by the method of proportional random sampling technique is 75 people. The results of the survey on the sample data were analyzed using statistical data. The instrument was used to determine the perception of the Indragiri Hilir community of Riau on the traditional sport of Pacu Sampan Leper in Preserving Regional Culture. Before the research, it is necessary to know the validity and reliability of the questionnaires and instruments in the study. Test the validity and reliability of the questionnaire, amounting to 36 questions used in this study, has been valid and reliable from the questionnaire totaling 40 questions that will be tested. The results show that from the stimulus indicator, with the sub-indicator of knowledge about the traditional sport of Pacu Sampan Leper giving 71.35% results, the sub-indicator of the benefits of the traditional sport Pacu Sampan Leper getting 67.61% results. Then on the sensing indicator, with the environmental sub-indicator showing 63.67%, the activity sub-indicator shows 74.46%. While the response indicators, with the sub-indicator of traditional sporting Pacu Sampan Leper being 73.36%, sub-indicator of facilities and infrastructure of 78.45%, and sub-indicator of traditional sports performance of Pacu Sampan Leper being 71.69%. So, the total is 72.65%, and it can be concluded that the people of Indragiri Hilir Riau's perception of the Traditional Sport of Pacu Sampan Leper in Preserving Regional Culture is included in the good category. Key words: community perception, traditional sport pacu sampan leper, empowering and preserving
Pengaruh Latihan Handstand Terhadap Hasil Entry pada Atlet Loncat Indah Sumtera Selatan Kevin Octara
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tujuan Penelitan adalah untuk mengetahui pengaruh latihan Handstand terhadap hasil entry atlet loncat indah Suamatera Selatan. Entry adalah salah satu teknik dalam loncat indah yang penting dalam penyelesaian akhir suatu loncatan. Atlet loncat indah Sumatera selatan memiliki kelemahan dalam teknik entry, sehingga dibutuhkan latihan untuk meningkatkan kemampuan teknik entri. Populasi penelitian adalah atlet loncat indah yang aktif latihan berjumlah 10 orang dan seluruh atlet dijadikan sampel menggunakan purposive true metode eksperimen dengan one group pre-test. Lokasi Penelitian Kolam Aquatik Jakabaring Sport City. Penelitian dilakukan selama 16 kali pertemuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latihan handstand sangat efektif meningkatkan gerakan entry. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai t hitung -7.739, df = 19 dan p-value 0.00<0.05 yang berarti terdapat perbedaan/pengaruh yang signifikan pada hasil entry atlet sebelum adanya perlakuan dan sesudah adanya perlakuan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh latihan handstand terhadap hasil entry atau dengan kata lain latihan handstand efektif dalam meningkatkan kemampuan entry. Kata kunci: handstand, entry, loncat indah Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of handstand training on the entry results of the South Sumatra diving athletes. Entry is one of the techniques in the beautiful jump that is important in the final completion of a jump. South Sumatra diving athletes have a weakness in technical entry, so practice is needed to improve entry technique skills. The research population was diving athletes who were active in exercising 10 people and all athletes were sampled using the purposive true experimental method with one group pre-test. Jakabaring Sport City Aquatic Pond Research Location. The research was conducted for 16 meetings. The results of this study indicate that the handstand exercise is very effective in increasing the entry movement. Based on the results of the statistical test, the t-count value was -7.739, df = 19 and p-value 0.00 <0.05, which means that there is a significant difference/influence on the entry results before the treatment and before the treatment. Thus, it can be said that there is an effect of handstand training on entry results or in other words handstand exercises are effective in improving entry skills. Key words: handstand, entry, beautiful jump
Identifikasi Sistem Belajar Mengajar PJOK dalam Masa Pandemi Covid-19 di Sekolah Menengah Pertama Khoirul Anwar Pulungan; Agus Kristiyanto; Sulaiman Sulaiman; Heny Setyawati
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem belajar mengajar PJOK di masa pandemi covid-19 kota palembang. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dalam pendekatan survey. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah guru PJOK di Sekolah Menengah Pertama Kota Palembang. Teknik Pengumpulan data dengan menggunakan angket. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif persentase. Alat ukur yang digunakan pada variabel keterlaksanaan pembelajaran PJOK adalah kuesioner dengan skala Likert yang memiliki bobot skor 1-5. Sampel penelitian mengisi angket yang diberikan dengan me-checklist pada kolom dan pemberian bobot sesuai dengan lima alternatif jawaban yang telah disediakan, mulai dari sangat setuju, setuju, ragu ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Skala untuk pernyataan bersifat favourable dan unfavourable Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sistem belajar mengajar PJOK di masa pandemi covid-19 dalam kategori sedang dengan 87,35%.
Persepsi Mahasiswa dengan Kecenderungan Gaya Belajar Kinestetik Terhadap Perkuliahan Virtual Kunjung Ashad; Laily Mita Andrian; I Nengah Sandi
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kebijakan physical distancing mempengaruhi banyak aspek khususnya pada bidang pendidikan. Metode perkuliahan secara virtual dinilai efektif namun tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan dalam memahami materi perkuliahan dengan mudah karena setiap individu memiliki kecepatan pemahaman, kecepatan kinerja dan gaya belajar yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis persepsi mahasiswa dengan kecenderungan gaya belajar kinestetik terhadap perkuliahan virtual. Metode penelitian yang digunakan adalah cross-sectional design yang melibatkan sebanyak 213 mahasiswa fakultas ilmu olahraga di Universitas Negeri Surabaya. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner gaya belajar mahasiswa dan persepsi mahasiswa terhadap perkuliahan virtual. Teknik analisis data yang digunakan adalah mean, standar deviasi, dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 46% mahasiswa memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik, mahasiswa memiliki persepsi yang cukup baik terhadap pembelajaran mata kuliah senam aerobik ditinjau dari aspek sarana prasarana, sumber daya manusia, media dan sistem pembelajaran serta kompetensi mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa perkuliahan praktek senam aerobik secara virtual dinilai efektif untuk mahasiswa dengan gaya belajar kinestetik. Abstract. The physical distancing during covid-19 pandemic affects many aspects, especially in education. The virtual lecture method is considered effective but not all students have the ability to understand lecture material easily because each individual has a different speed of understanding and learning style. The purpose of this study was to analyze the perceptions of students with a kinesthetic learning style tendency towards virtual lectures. The research method used is a cross-sectional design involving 213 students of the sports science faculty at the Universitas Negeri Surabaya. The instrument used is a questionnaire on student learning styles and student perceptions of virtual lectures. The data analysis technique used is the mean, standard deviation, and percentage. The results showed that as many as 46% of students had a kinesthetic learning style tendency, students had a fairly good perception of learning aerobics in terms of infrastructure, human resources, media and learning systems and student competencies. Based on the results of the study, it was concluded that the practical aerobic exercise lecture was considered effective for students with kinesthetic learning styles.
Ekowisata Arung Jeram Poduwoma sebagai Wisata Olahraga Minat Khusus di Suwawa Timur Bone Bolango Mirdayani Pauweni; Tandiyo Rahayu; M.E Winarno; Zainudin Amali; Heny Setyawati
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Ekowisata atau ekoturisme atau wisata ekologi adalah kegiatan wisata ke tempat-tempat yang masih alami. Arung jeram Poduwoma merupakan ekowisata yang ada di Desa Poduwoma Suwawa Timur Bone Bolango. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi ekowisata arung jeram Poduwoma sebagai wisata olahraga minat khusus. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik observasi dan wawancara dengan pihak terkait. Temuan dalam hasil penelitian ini adalah arung jeram Poduwoma memenuhi 10 dari 12 komponen daya tarik bagi pasar wisata olahraga minat khusus. Komponen yang tidak terpenuhi adalah 1) terselenggaranya even, dan 2) jaminan keselamatan, diakibatkan pandemi Covid-19. Dengan demikian disimpulkan potensi ekowisata arung jeram Poduwoma dapat dikembangkan sebagai wisata olahraga minat khusus. Abstract. Ecotourism or ecotourism or ecotourism is tourism activities to unspoiled places. Poduwoma rafting is ecotourism in Poduwoma Village, East Suwawa, Bone Bolango. The purpose of this study was to analyze the ecotourism potential of Poduwoma white water rafting as a particular interest in sports tourism. The research method used is descriptive qualitative, with observation and interviews with related parties. The findings in this study are that Poduwoma white water rafting fulfils 10 of the 12 attractiveness components for the unique interest sports tourism market. The components that are not fulfilled are 1) holding an event and 2) guaranteeing safety due to the Covid-19 pandemic. Thus, it can be concluded that Poduwoma white water rafting ecotourism potential can be developed as a particular interest in sports tourism.
Peningkatan Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Bahasa Secara Daring Mahda Haidar Rahman; Subyantoro Subyantoro; Tommy Yuniawan; Rahayu Pristiwati
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Selama pandemi covid-19 pembelajaran dilakukan secara daring atau jarak jauh. Berbagai aplikasi teknologi informasi dan komunikasi digunakan, namun banyak kendala yang terjadi, mulai dari ketersediaan sarana, jaringan dan sumber daya manusia. Dari total guru yang ada di Indonesia, baru 40% guru yang melek teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini memfokuskan apa yang dimaksud literasi TIK, bagaimana TIK digunakan dalam pembelajaran dan bagaimana meningkatkan literasi TIK bagi guru dan peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literatur review. Hasil dari penelitian ini adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran harus mempertimbangkan lima kriteria, yakni kemudahan akses, lingkungan belajar, penggunaan Learning Management System (LMS), user experience aplikasi, dan interaksi antara pengajar dan peserta didik. Peningkatan literasi TIK bagi guru dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan, penyediaan sarana dan melakukan studi banding. Adapun bagi siswa dapat dilakukan dengan cara memberikan video tutorial yang dibuat oleh guru dan memberikan arahan bagaimana menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara positif. Abstract. During the COVID-19 pandemic, learning is carried out online. Various information and communication technology applications are used, but many obstacles occur, ranging from the availability of facilities, networks and human resources. Moreover, of all teachers in Indonesia, only 40% of teachers are literate in information and communication technology. This research focuses on what ICT literacy is, how ICT is used in learning and how to improve ICT literacy for teachers and students. The method used in this research is literature review. The results of this study are that the use of information and communication technology in learning must consider five criteria, namely ease of access, learning environment, use of Learning Management System (LMS), application user experience, and interaction between teachers and students. Improving ICT literacy for teachers can be done by providing training, providing facilities and conducting comparative studies. As for students, this can be done by providing video tutorials made by teachers and providing directions on how to use information and communication technology positively.
Tuntutan Kompetensi 4C Abad 21 dalam Pendidikan di Perguruan Tinggi untuk Menghadapi Era Society 5.0 Meilan Arsanti; Ida Zulaeha; Subiyantoro Subiyantoro; Nas Haryati S
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Makalah ini ditulis berdasarkan hasil kajian pustaka tentang tuntutan kompetensi abad 21 dalam proses pendidikan di Perguruan Tinggi untuk menghadapi era society 5.0. Pada era society 5.0 Perguruan Tinggi memiliki tanggung jawab yang penting untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Agar dapat menghasilkan lulusan yang kompeten maka proses pendidikan di Perguruan Tinggi harus dilakukan berdasarkan tuntutan kompetensi abad 21. Kompetensi abad 21 yang diperoleh tersebut menjadi bekal lulusan Perguruan Tinggi untuk menghadapi era society 5.0. Kompetensi abad 21 tersebut disebut 4C, yaitu keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration). Kompetensi 4C tersebut dapat ditanamkan baik dalam proses pembelajaran di kelas dengan berbagai model perkuliahan maupun di luar kelas melalui unit kegiatan mahasiswa. Dalam makalah ini diuraikan tentang tuntutan kompetensi abad 21 dalam pendidikan di Perguruan Tinggi dan model-model pembelajaran yang dapat mengasah kompetensi abad 21. Melalui makalah ini penulis berharap dapat menambah wawasan bagi pembaca khususnya dosen maupun praktisi pendidikan. Selain itu, penulis berharap dapat menginspirasi dosen maupun para praktisi pendidikan untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif yang dapat memberikan keterampilan atau kompetensi sesuai dengan tuntutan kompetensi abad 21 sehingga lulusan Perguruan Tinggi lebih siap dalam menghadapi era society 5.0. Abstract. This paper was written based on the results of a literature review on the demands of eternal competence in the educational process in higher education to face the era of society 5.0. In the era of society 5.0, universities have an important responsibility to produce competent graduates. In order to produce competent graduates, the education process in higher education must be carried out based on the demands of 21st century competencies. The 21st century competencies obtained are the provisions for university graduates to face the era of society 5.0. These 21st century competencies are called 4Cs, namely creative thinking skills, critical thinking and problem solving, communication, and collaboration. These 4C competencies can be instilled both in the learning process in the classroom with various lecture models and outside the classroom through student activity units. In this paper, topics are described, namely the demands of 21st century competence in higher education and learning models that can hone 21st century competencies. Through this paper, the author hopes to add insight to readers, especially lecturers and education practitioners. In addition, the author hopes to inspire lecturers and education practitioners to create innovative learning that can provide skills or competencies in accordance with the demands of 21st century competencies so that university graduates are better prepared to face the era of society 5.0.
Evaluasi Hasil Belajar pada Awal, Proses, dan Akhir Mata Kuliah Psikolinguistik di Universitas Muria Kudus Mila Roysa; Fathur Rokhman; Rustono Rustono; Hari Bakti Mardikantoro
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan evaluasi hasil belajar pada awal, proses, dan akhir mata kuliah psikolinguistik di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muria Kudus. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian evaluatif dengan sumber data kartu data kriteria evaluasi hasil belajar. Berdasarkan pada hasil analisis data evaluasi hasil belajar pada awal, proses, dan akhir mata kuliah psikolinguistik di Universitas Muria Kudus diperoleh informasi bahwa aspek ketepatan perumusan indikator pencapaian kompetensi diperoleh persentase sebanyak 90% dengan kategori sangat baik. Pada aspek ketepatan penyusunan kisi-kisi penilaian hasil belajar diperoleh sebanyak 90% dengan kategori sangat baik. Aspek kualitas perangkat instrumen penilaian hasil belajar sebanyak 80% dengan kategori baik. Pada tahap-tahap pencapaian hasil belajar yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara berkelanjutan mendapat nilai 80 dengan kategori baik. Aspek kaidah pengelolaan dan pemanfaatan hasil belajar dan aspek kaidah analisis butir soal masing-masing mendapat 90%. Berdasarkan pada data diatas, maka dapat diberikan rekomendasi untuk meningkatkan persentase menjadi 98% aspek penilaian hasil belajar. Rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti dalam evaluasi hasil belajar pada awal pembelajaran adalah perlunya mencantumkan hirarki kompetensi sesuai dengan Bloom yang disesuaikan dengan kemampuan berpikir kritis. Dapat dilakukan dengan cara meminta mahasiswa untuk memberikan masukan atau mencari sumber rujukan yang tepat. Rekomendasi yang dapat diberikan dalam evaluasi hasil belajar pada proses pembelajaran adalah sebaiknya dosen memperhatikan sepuluh kriteria evaluasi hasil belajar pada proses pembelajaran dengan baik. Kualitas perangkat instrumen penilaian harus dirancang dengan sebaik- baiknya memenuhi unsur komprehensif, valid, reliabel, fokus pada kompetensi, objektif, mendidik, terpadu, keterlibatan peserta didik, umpan balik, dan tindak lanjut. Berikut ini akan disajikan tabel evaluasi hasil belajar pada akhir pembelajaran. Rekomendasi yang dapat diberikan pada evaluasi hasil belajar pada akhir pembelajaran adalah hendaknya dosen dapat melakukan penilaian dengan baik dan memberikan umpan balik dengan tujuan memantik semangat belajar mahasiswa pada perkuliahan yang akan datang. Butir soal sebaiknya dianalisis dengan konsisten. Tidak hanya pada posttest tetapi juga saat pretest. Abstract. The purpose of this study is to describe the evaluation of learning outcomes at the beginning, process, and end of the psycholinguistics course in the Indonesian Language and Literature Education study program, Muria Kudus University. The research method used is evaluative research with data source card data of learning outcomes evaluation criteria. Based on the results of the data analysis on the evaluation of learning outcomes at the beginning, process, and end of the psycholinguistics course at Muria Kudus University, information was obtained that the accuracy aspect of the formulation of competency achievement indicators obtained a percentage of 90% with very good categories. In the aspect of the accuracy of the preparation of the learning outcomes assessment grid, it was obtained as much as 90% with a very good category. Aspects of the quality of the instrument for assessing learning outcomes as much as 80% with good categories. At the stages of achieving learning outcomes that include aspects of attitudes, knowledge, and skills on an ongoing basis, they get a score of 80 with a good category. Aspects of the rules of management and utilization of learning outcomes and aspects of the rules of item analysis each got 90%. Based on the data above, it can be given a recommendation to increase the percentage to 98% aspects of learning outcomes assessment. Recommendations that need to be followed up in evaluating learning outcomes at the beginning of learning are the need to include a competency hierarchy according to Bloom which is adapted to critical thinking skills. This can be done by asking students to provide input or look for appropriate reference sources. Recommendations that can be given in evaluating learning outcomes in the learning process are that lecturers should pay close attention to the ten criteria for evaluating learning outcomes in the learning process. The quality of the assessment instruments must be designed as well as possible to meet the elements of comprehensive, valid, reliable, focus on competence, objective, educating, integrated, student involvement, feedback, and follow-up. The following table will present the evaluation of learning outcomes at the end of the lesson. Recommendations that can be given to the evaluation of learning outcomes at the end of the lesson are that lecturers should be able to assess well and provide feedback with the aim of sparking students' enthusiasm for learning in future lectures. Items should be analyzed consistently. Not only in the posttest but also during the pretest.
Retorika Komunikasi Verbal Calon Guru melalui Literasi Digital Mukhlis Mukhlis; Fathur Rokhman; Ida Zulaeha; Hari Bakti Mardikantoro
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Latar belakang penelitian ini bahwa kegagalan komunikasi karena orang tidak memahami retorika. Banyak orang salah paham karena apa yang disampaikan pembicara tidak dipahami sama oleh pendengar tentang apa yang dimaksudkan dan diinginkan pembicara. Tujuan penelitian ini ada dua; pertama memberikan jawaban atas pentingnya pembelajaran retorika bagi calon guru, kedua memberikan jawaban atas pentingnya retorika komunikasi verbal bagi calon guru. Metode penelitian menggunakan mixed methods, menggunakan desain penelitian explanatory yang terdiri dari dua fase. Fase pertama ini diikuti dengan bagian pengumpulan dan analisis data kuantitatif. Fase kedua, fase penelitian kualitatif dirancang mengikut hubungan atau hasil kuantitatif pada fase pertama. Karena, desain explanatory ini dimulai dengan kuantitatif, maka para peneliti menempatkan penekanan yang lebih besar pada metode kuantitatif daripada metode kualitatif. Tujuan desain explanatory ini secara keseluruhan adalah bahwa data kuantitatif membantu menjelaskan atau membangun hasil penelitian kuantitatif. Varian atau model desain explanatory ini terdiri dari dua model, yaitu 1) Follow-up Explanation Model (menekankan kuantitatif), 2) Participant Selection Model (menekankan kualitatif). Hasil dan simpulan; retorika komunikasi verbal guru harus terus dilatih dan dikembangkan sesuai dengan kondisi peserta didik di jamannya. Retorika komunikasi verbal guru melalui literasi digital terus perlu dikembangkan. Abstract. This research is motivated by the failure of communication because people do not understand the rhetoric. Many people misunderstand because what the speaker conveys is not understood by the listener. This study aims to 1) provide answers to the importance of learning rhetoric for prospective teachers, 2) provide answers to the importance of rhetorical verbal communication for prospective teachers. The research method used is mixed methods. This research is an explanatory type which consists of two phases. The first phase is the collection and analysis of quantitative data. The second phase, the qualitative research phase, is designed according to the relationship or quantitative results in the first phase. Because this explanatory design begins with quantitative, the researchers place a greater emphasis on quantitative methods than qualitative methods. The overall purpose of this explanatory design is to help explain or build on the results of quantitative research. This variant or explanatory design model consists of two models, namely 1) Follow-up Explanation Model (emphasizing quantitative), 2) Participant Selection Model (emphasizing qualitative). The results of this study indicate that the teacher's verbal communication rhetoric must continue to be trained and developed in accordance with the conditions of the students at that time. In addition, the rhetoric of teachers' verbal communication through digital literacy also needs to be developed.