cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 9 (2023)" : 5 Documents clear
Hubungan Antara Passionate Love dan Dating Violence Pada Korban Mahasiswa Universitas Negeri Malang Leyly Rahmawati; Andrini Farida, Ika
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p392-405

Abstract

This study aims to determine whether the passion component has a relationship with dating violence. The method used is the correlational quantitative method. Malang State University Student Population. Samples were obtained using a purposive sampling technique of 107 people. The instruments used are the passionate love and conflict in adolescent dating relationship inventory (CADRI) scales. Analysis of the research data used is Spearman's rank correlation analysis. The results of the analysis showed that there was no significant relationship between passionate love and dating violence (P = 0.238 > 0.05), this was because victims who had passionate love, whether high or low, did not affect the victim's decision to survive or leave their partner. Suggestions for future researchers, the research sample can be further expanded so that the data can be more varied, and the dependent variable can be changed by perpetrators of dating violence, to follow up on this research. AbstrakBerdasarkan hasil temuan riset sebelumnya, belum ditemukan riset yang meneliti hubungan antara passionate love dan dating violance. Adapun riset yang sejalan yaitu, kekerasan seksual dapat terjadi dalam hubungan berpacaran baik bagi mereka yang pernah melakukan hubungan seksual ataupun mereka yang sesertag dalam hubungan berpacaran. Riset ini dimaksudkan guna mengetahui apakah komponen passion memiliki hubungan dengan kekerasan dalam berpacaran (dating violence) bagi korban. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif korelasional. Populasi Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling 107 orang. Instrumen yang dipakai yaitu skala passionate love serta conflict in adolescent dating relationship inventory (CADRI). Analisis data riset yang digunakan yaitu analisis korelasi rank spearman. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara passionate love serta kekerasan dalam berpacaran (dating violence) (P = 0,238 > 0,05), hal ini disebabkan korban yang memiliki passionate love baik itu tinggi maupun rendah, tidak memengaruhi pengambilan keputusan korban untuk bertahan atau meninggalkan pasangannya. Saran untuk peneliti berikutnya, sampel riset dapat lebih diperluas lagi agar data lebih bervariasi serta variabel dependen dapat diubah dengan pelaku kekerasan dalam berpacaran, untuk menindaklanjuti riset ini.
Asesmen Kognitif Anak Usia Sekolah Eva, Nur; Sri Andayani; Azizan Fatimah Assyahro
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p360-365

Abstract

A child's cognitive development can be explored through intelligence tests. This research aims to obtain information about the level of cognitive development of children aged 8-15 years. The intelligence tests used to obtain this information are Colored Progressive Matrices (CPM) and Culture Fair Intelligence test (CFIT). The data analysis of the research results was carried out using a descriptive quantitative approach. On the CFIT intelligence test, the results show that there are ten children, or about 43.5%, who are in the average category, then above average as many as six children (26.1%), superior 3 children (13.1%), very superior one child (4.3%), below average two children (8.7%) and intellectually deficient one child (4.3%). As for the CPM, the most categories are in class 1, with 11 children or about 47.8%. These results show that most of the children have reached a level of cognitive development that is appropriate for their age. These results indicate that the majority of children have reached the level of cognitive development appropriate for their age. AbstrakPerkembangan kognitif seseorang anak dapat digali melalui tes intelegensi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran informasi mengenai tingkat perkembangan kognitif anak dengan rentang usia sekolah 8-15 tahun. Tes inteligensi yang digunakan untuk mendapatkan informasi ini adalah Coloured Progressive Matrices (CPM) dan Culture Fair Intelligence test (CFIT). Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Pada tes kecerdasan CFIT hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 10 anak atau sekitar 43,5% yang berada pada kategori rata-rata, kemudian di atas rata-rata sebanyak 6 anak (26,1%), superior 3 anak (13,1%), sangat superior 1 anak (4,3%), di bawah rata-rata 2 anak (8,7%), serta intelectual deficient 1 anak (4,3%). Sedangkan untuk CPM kategori terbanyak ada pada grade 1 sebanyak 11 anak atau sekitar 47,8%. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak sudah mencapai tingkat perkembangan kognitif sesuai usianya. Penggalian pada tiap aspek kemampuan kognitif perlu dilakukan pada penelitian selanjutnya. Alasanya agar diketahui aspek spesifik apa yang paling dominan pada anak-anak ini sehingga dapat dilakukan treatment pengembangan potensi yang lebih baik.
Self-compassion sebagai Prediktor Psychological Well-being Mahasiswa di Tiga Perguruan Tinggi Negeri Kota Malang Malinda Syafrina; Ika Andrini Farida
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p366-379

Abstract

Psychological well-being is a positive evaluation of oneself that is derived from oneself and others, the ability to direct themselves and their environment, a feeling of growth and development, the ability to interpret life, and the ability to associate well with others. One of the factors that can improve psychological well-being is self-compassion. The purpose of this study was to determine the predictive relationship between self-compassion and the psychological well-being of students at three public universities in Malang. This study used quantitative research methods and accidental sampling techniques. The research sample was 250 students from Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, and UIN Maulana Malik Ibrahim. The research instrument used was the self-compassion scale to measure self-compassion and the Indonesian version of the psychological well-being scale to measure psychological well-being. The data analysis technique used is simple linear regression analysis. The results of the study show that self-compassion predicts psychological well-being. The result of R Square= 0.548 means that the self-compassion component contributes 54.8% to psychological well-being. Based on the results found, self-compassion can be a predictor in improving the psychological well-being of students at three public universities in Malang. AbstrakPsychological well-being adalah evaluasi positif yang dilakukan untuk diri sendiri dan orang lain, kemampuan mengarahkan diri dan lingkungannya, perasaan tumbuh dan berkembang, kemampuan menginterpretasikan kehidupan, dan kemampuan bergaul dengan baik dengan orang lain. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan psychological well-being adalah self-compassion. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan prediktif antara self-compassion dan psychological well-being mahasiswa di tiga perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Sampel penelitian adalah 250 mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan UIN Maulana Malik Ibrahim. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala welas diri untuk mengukur self-compassion dan skala psychological well-being versi Indonesia untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan self-compassion memprediksi kesejahteraan psikologis. Hasil R Square=0,548 artinya komponen self-compassion berkontribusi sebesar 54,8% terhadap kesejahteraan psikologis. Berdasarkan hasil yang ditemukan, self-compassion dapat menjadi prediktor dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa di tiga perguruan tinggi negeri di Kota Malang.
Empati dan Cyberbullying pada Remaja Pengguna Media Sosial: Sebuah Kajian Literatur Ahya Ghina Qolbya; Aleissya Sahira Siswandi; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p352-359

Abstract

The many emerging social media features and easy access when using them have made the younger generation interested in using social media. However, excessive use of social media or the internet cannot be separated from the risk of being involved in cyberbullying behavior. There are many factors that influence the occurrence of cyberbullying, starting from external factors such as the use of social media, and school climate. Apart from external factors, internal factors within an individual can also be a risk factor for involvement in cyberbullying, such as a feeling of empathy. This lack of empathy will later influence individuals to carry out cyberbullying. The aim of this research is to explore more deeply the relationship between empathy and cyberbullying in adolescent social media users. The method used is literature study by collecting various information through books, journals, and official websites to obtain the necessary data, which is then analyzed by combining, selecting, sorting, and comparing data from previous research. The results obtained indicate that there is a link between low empathy scores and adolescent cyberbullying behavior. Individuals with low empathy scores will tend to feel less guilty about their behavior in bullying others on social media. AbstrakPada era saat ini tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi dan informasi semakin hari semakin pesat. Banyaknya fitur media sosial yang bermunculan dan mudahnya akses ketika menggunakannya membuat generasi muda tertarik menggunakan media sosial. Namun, penggunaan media sosial ataupun internet yang berlebih tidak terlepas dari risiko terlibatnya dalam perilaku cyberbullying. Ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya cyberbullying, mulai dari faktor eksternal seperti penggunaan media sosial, dan iklim sekolah. Selain faktor eksternal, faktor internal dalam individu juga dapat menjadi faktor risiko dari keterlibatan dalam cyberbullying, misalnya rasa empati. Ketiadaan rasa empati ini nantinya akan mempengaruhi individu dalam melakukan cyberbullying. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengeksplorasi lebih dalam hubungan empati dengan cyberbullying pada remaja pengguna media sosial. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan cara mengumpulkan berbagai informasi melalui buku, jurnal, dan website resmi hingga mendapat data yang diperlukan kemudian dianalisis dengan penggabungan, pemilihan, pemilahan, dan perbandingan data hasil penelitian sebelumnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara skor empati yang rendah dengan perilaku cyberbullying remaja. Individu dengan skor empati yang rendah ini akan cenderung kurang memiliki perasaan bersalah atas perilakunya dalam merundung orang lain di media sosial.
Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter dan Perilaku Agresif pada Remaja Maryam; Retno Sulistiyaningsih
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p380-391

Abstract

Aggressive behavior in adolescents is a quite serious phenomenon because various aggressive behaviors tend to be hurtful, dangerous, and disturbing to other people. One of the reasons for the tendency of teenagers to have aggressive behavior is due to their parenting style at home. One f parenting style that risks causing teenagers to engage in aggressive behavior is authoritarian parenting. This research was conducted to examine the relationship between authoritarian parenting and aggressive behavior in adolescents. The research uses a quantitative approach with a correlational design. Participants in this research were 150 respondents aged 15-19 years. Sampling was carried out using a non-probability sampling technique. The instrument used in this research was an adaptation of the theory of aggressive behavior by Buss & Perry and a modification of the theory of authoritarian parenting by Baumrind. Data analysis uses correlation, namely product moment. It was found that there was a significant relationship between the two research variables (rxy = 0.481, p<0.000). The results of this research show that the higher the level of authoritarian parenting, the higher the level of aggressive behavior. AbstrakPerilaku agresif pada remaja merupakan fenomena yang cukup serius dikarenakan berbagai perilaku agresif cenderung bersifat menyakiti, berbahaya, dan mengganggu orang lain. Kecenderungan remaja dengan perilaku agresif salah satunya ialah karena pola asuh orang tua di rumah. Salah satu pola asuh yang berisiko menyebabkan remaja terlibat dalam perilaku agresif ialah pola asuh otoriter. Penelitian ini dilakukan untuk menguji hubungan antara pola asuh otoriter dan perilaku agresif pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan pada penelitian ini sejumlah 150 responden yang berusia 15-19 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil adaptasi dari teori perilaku agresif oleh Buss & Perry dan hasil modifikasi teori pola asuh otoriter oleh Baumrind. Analisis data menggunakan korelasi yakni, product moment. Ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dua variabel penelitian (rxy = 0,481, p<0,000). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pola asuh otoriter maka akan semakin tinggi tingkat perilaku agresif.

Page 1 of 1 | Total Record : 5