cover
Contact Name
Yoel Benyamin
Contact Email
jurnalekklesia@gmail.com
Phone
+6281392368282
Journal Mail Official
jurnalekklesia@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Ekklesia Pontianak Jalan Kom.Yos. Sudarso, Gg. Rambutan 2, No.13 Kota Pontianak, Pontianak Barat, Kalimantan Barat Website: https://www.sttekklesiaptk.ac.id Email: office@sttekklesiaptk.ac.id
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
EKKLESIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29642639     DOI : -
Focus dari Jurnal ini ialah: 1. Pendidikan Kristiani (PAK) 2. Teologi 3. Missiologi 4. Biblika 5. Dogmatika 6. Historika 7. Pastoral
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023" : 6 Documents clear
SORGA BARU, BUMI BARU DAN YERUSALEM BARU MENURUT TEOLOGIA KOVENAN DAN TEOLOGIA DISPENSASI SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEKABARAN INJIL Andris Kiamani; Widodo, Sigit
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i1.33

Abstract

The new heaven, new earth and new Jerusalem are interesting topics to study as they relate to the place of eternity. However, many interpreters of Covenant Theology argue that the New Heaven, New Earth and New Jerusalem are only a state or place that is renewed through the process of renovation/restoration from an old state to a new one, so the word new does not refer to something that is literally new. Therefore, this research aims to find scientific truth by searching, revealing, and obtaining answers to the concepts of the new Heaven, new Earth, and new Jerusalem, and their implications for Dispensational Theology evangelism. This research uses the Systematic Literature Review method of research that relies on previous research findings that are systematically collected and processed. The results of this study found that the concepts of the new Heaven, new Earth and new Jerusalem refer to a new creation that is not through a process of renewal, renovation or restoration of the previous creation. The implications of Dispensation Theology preaching to all people, both Israel and non-Israel, but the love of God and salvation through Christ remains the core of the gospel message.   Sorga baru, Bumi baru dan Yerusalem baru merupan topik yang menarik untuk dipelajari karena topik tersebut berkaitan dengan tempat kekekalan. Namun banyak penafsir Teologia Kovenan berpendapat Sorga baru, Bumi baru dan yerusalem baru hanyalah suatu keadaan atau tempat yang diperbaharui melalui proses renovasi/restorasi dari suatu keadaan yang lama ke yang baru, sehingga kata baru tidak mengacu kepada sesuatu keadaan yang benar-benar baru secara harafiah. Sehingga dalam penelitian ini bertujuan untuk menemukan kebenaran ilmiah dengan mencari, mengungkapkan, untuk mendapatkan jawaban terhadap konsep Sorga baru, Bumi baru, dan Yerusalem baru, serta implikasinya terhadap pekabaran injil Teologia Dispensasi. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review penelitian yang bertumpu pada temuan penelitian sebelumnya yang dikumpulkan dan diolah secara sistematis. Hasil pelitian ini menemukan konsep Sorga baru, Bumi baru dan Yerusalem baru mengacu kepada suatu ciptaan yang banar-banar baru tidak melalui proses pembaharuan, renovasi maupun restorasi dari ciptaan yang sebelumnya. Implikasi pemberitaan Injil Teologia Dispensasi kepada semua orang baik Israel maupun bukan Israel, namun kasih Allah dan keselamatan melalui Kristus tetap merupakan inti dari pekabaran injil.
PERAN GEMBALA SIDANG DALAM MENINGKATKAN KESETIAAN JEMAAT DALAM BERIBADAH MENURUT EFESUS 4:12-13 DI GEREJA BAPTIS INDONESIA BANYUMAS Kurniadi, Iman
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i1.35

Abstract

The pastoral ministry in the church faces many challenges, especially the faithfulness of the congregation in worship. This happens because there are congregations who are busy at work, there are misunderstandings, and the behavior of congregations who are lazy to come to worship at church. The purpose of this research is to find out the role of the pastor in dealing with and increasing the loyalty of the congregation in worship at the Banyumas Indonesian Baptist Church. This research uses a descriptive qualitative approach with a structured interview method. The result of this research is that the pastor increases the loyalty of the congregation by (1) equipping the congregation with ministry work, (2) equipping the congregation to build the body of Christ, (3) equipping the congregation to achieve unity of faith, (4) equipping the congregation with the knowledge that true, (5) equipping the congregation to reach full maturity (6) equipping the congregation to experience growth. This study concludes that the pastor of the congregation has taken various approaches and teachings to increase congregational loyalty in worship.  Pelayanan penggembalaan di gereja tentu banyak menghadapi  tantangan, terutama kesetiaan jemaat dalam beribadah. Ini terjadi karena adanya jemaat yang sibuk dalam bekerja, terjadinya kesalah-pahaman dan perilaku jemaat yang memang malas untuk datang beribadah di gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran gembala sidang dalam menghadapi dan meningkatkan kesetiaan jemaat dalam beribadah di Gereja Baptis Indonesia Banyumas. Penelitian  menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara terstruktur. Hasil dari penelitian ini adalah gembala sidang meningkatkan kesetiaan jemaat dengan cara: (1) melengkapi jemaat dalam pekerjaan pelayanan, (2) melengkapi jemaat untuk membangun tubuh Kristus, (3) melengkapi jemaat untuk mencapai kesatuan iman, (4) melengkapi jemaat dengan pengetahuan yang benar, (5) melengkapi jemaat untuk mencapai kedewasaan penuh, (6) melengkapi jemaat supaya mengalami pertumbuhan. Kesimpulan penelitian ini adalah gembala sidang sudah melakukan berbagai pendekatan serta pengajaran untuk meningkatkan kesetiaan jemaat dalam beribadah.
PRINSIP-PRINSIP REKONSILIASI ANTARA ESAU DAN YAKUB: SEBUAH STUDI EKSPOSISI TERHADAP KEJADIAN 33: 1-20 Tampilang, Petra Harys Alfredo; Malatundu, Ruth Hesti
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i1.30

Abstract

Conflict in a relationship is a common occurrence in life, in fact it is an undeniable fact of life for every human being. This reality of conflict is not only experienced by mankind today but also by the figures of faith in the Bible. This is very concerning, which is why the teaching of reconciliation is needed in Christian families. Reconciliation can be seen as a solution to end a conflict. The conflict that occurred in the relationship between Esau and Jacob was a complicated conflict, because the result of the conflict was hostility and even separation between Esau and Jacob. The topic of reconciliation has been studied by many previous researchers, but these previous studies did not focus on examining the reconciliation narrative of Esau and Jacob in Genesis 33: 1-20.. The purpose of this study is to find the principles of reconciliation between Esau and Jacob according to Genesis 33:1-20. The method used in this study is Then the author will expose the text of Genesis 33: 1-20 by using several analyses, namely: context analysis, historical analysis, translation analysis, and theological analysis. In this study the author also investigated various literatures as support. Through this research, it was found that there are three principles that can be held as the truth to reconcile according to the narrative of Esau and Jacob in Genesis 33, namely: First, forgiveness. Second, having humility. Third, showing sincere love.  Konflik dalam sebuah hubungan adalah hal yang sering terjadi dalam kehidupan, bahkan Konflik merupakan kenyataan hidup yang tidak dapat disangkal oleh setiap manusia. Kenyataan konflik ini tidak hanya dialami oleh umat manusia pada masa sekarang tetapi juga dialami oleh para tokoh iman yang ada dalam Kitab Suci. Hal ini sangat memprihatinkan, itu sebabnya ajaran akan rekonsiliasi sangat diperlukan dalam keluarga Kristen. Rekonsiliasi bisa dipandang sebagai solusi untuk mengakhiri sebuah konflik. Konflik yang terjadi dalam hubungan Esau dan Yakub adalah konflik yang terbilang pelik, karena akibat dari konflik itu adalah permusuhan bahkan terpisahnya kehidupan antara Esau dan Yakub. Topik mengenai rekonsiliasi memang sudah banyak diteliti oleh peneliti-peneliti sebelumnya, namun penelitian-penelitian terdahulu tersebut tidak berfokus untuk meneliti narasi rekonsiliasi Esau dan Yakub dalam Kejadian 33: 1-20.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan prinsip-prinsip rekonsiliasi antara Esau dan Yakub menurut Kejadian 33:1-20. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis tematik. Kemudian penulis juga akan menggunakan beberapa analisis lainnya yaitu: analisis konteks, analisis historis, analisis terjemahan, dan analisis teologis. Dalam penelitian ini penulis juga menyelidiki berbagai literatur sebagai penunjang. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa ada tiga prinsip yang dapat dipegang sebagai kebenaran untuk berekonsiliasi menurut narasi Esau dan Yakub dalam Kejadian 33 yaitu: Pertama, memberi pengampunan. Kedua, memiliki kerendahan hati. Ketiga, menunjukkan kasih yang tulus.
TEOLOGI KEADILAN (MISHPAT) DALAM KITAB MIKHA DAN RELEVANSINYA TERHADAP KEADILAN SOSIAL BAGI ORANG KRISTEN DI INDONESIA Pardede, Harold; Lumingkewas, Martin; Simangunsong, Amran
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i1.39

Abstract

A just and prosperous society is the main goal of every nation. The hope that every society will experience justice and prosperity has been dreamed of by every nation since ancient times. In the Bible, God is described by His characteristics, namely love and justice. Being just means that God supports the moral order of the universe, and in His treatment of mankind. He behaves correctly and gives humans what is their right. In the book of Micah there is a lot to say about justice (mishpat). In the context of the book of Micah, there is injustice committed by humans, especially religious and political leaders, so that God is angry with His people. He expresses His wrath against all forms of unfair treatment towards fellow humans. Injustice will bring divine judgment. This is also related to justice in the history of the Indonesian nation. Injustice is always rampant and oppresses the weak and poor. Injustice has been carried out by the rulers since ancient times so that many Indonesian people have experienced misery. As a pluralistic nation based on a strong foundation, namely the fifth principle of Pancasila, social justice for all Indonesian people, in fact in Indonesia there are still many people who experience injustice. In the current context, some Christians in Indonesia very often experience injustice. Christians are considered a minority and often experience unfair behavior regarding freedom of worship. Several groups of Christians often face rejection and persecution when they want to carry out their worship as clearly regulated in the law. Therefore, in this research, with qualitative data, the author, using various book, news and journal sources, wants to see the correlation of the story about justice (mishpat) in the book of Micah with social justice that occurs in the Indonesian nation. The author wants to show that a loving God will act fairly against the religious and political leaders of a nation who dare to act unfairly and arbitrarily towards their people.  Masyarakat yang adil dan makmur tujuan utama dari setiap bangsa. Harapan agar setiap masyarakat merasakan keadilan dan kemakmuran telah diimpikan setiap bangsa-bangsa sejak zaman kuno. Di dalam Alkitab, Allah itu digambarkan dengan sifatNya yaitu kasih dan adil. Bersifat adil berarti bahwa Allah menopang tatanan moral semesta alam, dan dalam perlakuan-Nya terhadap umat manusia. Ia bersikap benar dan memberikan manusia apa yang sudah menjadi hak-nya. Di dalam kitab Mikha berbicara banyak soal keadilan (mishpat). Dalam konteks kitab Mikha terdapat ketidakadilan yang dilakukan manusia terutama pemimpin agama dan politiknya sehingga Allah murka kepada bangsaNya. Dia menyatakan murka-Nya terhadap segala bentuk perlakuan tidak adil terhadap sesama manusia. Ketidakadilan akan mendatangkan penghukuman Ilahi. Hal ini juga berkaitan untuk dihubungkan dengan keadilan dalam sejarah bangsa Indonesia. Ketidakadilan selalu merajalela dan menindas orang orang lemah dan miskin. Ketidakadilan dilakukan para penguasa sejak zaman dulu sehingga banyak masyarakat Indonesia mengalami sengsara. Sebagai bangsa majemuk yang dilandasi oleh dasar yang kuat yaitu sila kelima dari pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, nyatanya di Indonesia masih banyak orang yang mendapat ketidakadilan. Dalam konteks zaman sekarang, Sebagian orang orang Kristen di Indonesia sangat sering mengalami ketidakadilan. Orang Kristen dianggap kaum minoritas dan sering sekali mendapat perilaku tidak adil menyangkut soal kebebasan beribadah. Beberapa kelompok orang Kristen sering mendapat penolakan dan aniaya ketika ingin melakukan ibadahnya yang sebagaimana diatur dengan jelas dalam undang undang. Maka itu, dalam penelitian ini, dengan data kualitatif, penulis dengan menggunakan berbagai sumber buku, berita dan jurnal ingin melihat korelasi dari kisah soal keadilan (mishpat) dalam kitab Mikha dengan keadilan sosial yang terjadi di bangsa Indonesia. Penulis ingin menampilkan bahwa Allah yang penuh kasih pasti akan bertindak adil terhadap para pemimpin agama dan politik suatu bangsa yang berani berlaku tidak adil dan semena-mena kepada masyarakatnya.
KAJIAN HERMENEUTIK FRASE "SALAH BERDOA" BERDASARKAN YAKOBUS 4:3 SEBAGAI IMPLEMENTASI MOTIVASI DALAM BERDOA Pattinaja, Aska; Maahaly, Caroline; Hendarto, James
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i1.40

Abstract

The book of James is one of the epistles in the general epistles section of the New Testament. An interesting part of the book is found in James 4:3 which contains a statement by James about the phrase "wrong prayer" which is a major part of the thematic discussion of prayer in the Letter of James. There is no previous researcher who focuses specifically on the phrase "wrong prayer", making this research so important to study because it relates to the wrong motivation in praying, and has implications for receiving answers to prayer from God. This article focuses on discussing the hermeneutic study of the phrase "wrong prayer" as an implementation of motivation in prayer, using qualitative research methods in a hermeneutic exegesis approach. This article finds three appropriate motivations for prayer, as a result of analyzing the phrase "wrong prayer" in James 4:3, namely: first, ask for what is in accordance with God's will; second, do not focus on the answer to prayer, focus on God as the source of life; third, remain grateful if God has not answered prayer because He knows the right time to answer. The results of this study serve as a reference for the implementation of understanding the motivation of every believer who is struggling in prayer and waiting for God's answer. Kitab Yakobus merupakan salah satu dari surat dalam bagian surat-surat umum di dalam Perjanjian Baru. Bagian menarik dari kitab ini terdapat dalam Yakobus 4:3 yang memuat sebuah pernyataan Yakobus tentang frase “salah berdoa” yang termasuk bagian utama dari pembahasan tematik doa dalam Surat Yakobus. Belum terdapat peneliti sebelumnya yang memfokuskan penelitian secara khusus pada frase “salah berdoa” menjadikan penelitian ini begitu penting untuk diteliti karena berhubungan dengan motivasi yang keliru dalam berdoa, serta berimplikasi terhadap penerimaan jawaban doa dari Tuhan. Artikel ini difokuskan untuk membahas kajian hermeneutika dari frase “salah berdoa” sebagai implementasi terhadap motivasi dalam berdoa, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dalam pendekatan hermeneutik eksegesis. Artikel ini menemukan tiga motivasi doa yang tepat, sebagai hasil analisa frase “salah berdoa” dalam Yakobus 4:3, yaitu: pertama, mintalah apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan; kedua, jangan fokus kepada jawaban doa, Fokuslah kepada Tuhan sebagai sumber hidup; ketiga, tetap bersyukur jika Tuhan belum menjawab doa karena Ia tahu waktu yang tepat untuk menjawab. Hasil penelitian ini menjadi rujukan bagi implementasi pemahaman terhadap motivasi setiap orang percaya yang sementara bergumul dalam doa dan menantikan jawaban Tuhan.
ANALISIS PENGGUNAAN APLIKASI ZOOM OLEH GEREJA KRISTUS RAHMANI INDONESIA JEMAAT DIASPORA CAWANG UNTUK PEMBELAJARAN ALKITAB SETELAH PANDEMI COVID-19 Ratu Eda, Yohanes
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i1.41

Abstract

This study was carried out with the aim of analyzing the use of the virtual zoom application after the Covid-19 pandemic in Bible learning activities at the Indonesian Christ Rahmani Church, Cawang Diaspora Congregation. Using a descriptive qualitative method approach, and collecting data through various books including the Bible, journals and interviews, as well as various documents that are related to the topic studied in this writing. The order disrupted by the global pandemic of the new coronavirus (COVID-19) has now been declared over and has entered the epidemic stage. Indeed, there are pros and cons among churches regarding the use of the virtual zoom meeting application for activities organized by the church. Each group has its own arguments. However, the church must continue to study the Bible to increase people's faith in the Lord Jesus Christ. The conclusion obtained is that the use of the virtual zoom meeting application in studying the Holy Bible or Bible study after the Covid 19 pandemic is very good and satisfying and will continue to be maintained.  Kajian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis penggunaan aplikasi virtual zoom pasca pandemi covid 19 pada kegiatan pembelajaran Alkitab di Gereja Kristus Rahmani Indonesia Jemaat Diaspora Cawang. Menggunakan pendekatan metode kualitatif deskriptif, serta mengumpulkan data melalui berbagai buku termasuk Alkitab, jurnal jurnal maupun wawancara, serta berbagai dokumen yang mempunyai keterkaitan dengan topik yang menjadi kajian dalam penulisan ini. Tatanan yang terganggu oleh pandemi global virus corona baru (COVID-19) kini telah dinyatakan berakhir dan telah memasuki tahap epidemi. Memang ada pro dan kontra di kalangan gereja terkait dengan pemakaian aplikasi virtual zoom meeting pada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh gereja. Masing-masing kelompok memiliki argumentasi tersendiri. Namun, gereja harus terus mempelajari Alkitab untuk meningkatkan keimanan umat kepada Tuhan Yesus Kristus. Kesimpulan yang diperoleh bahwa penggunaan aplikasi virtual zoom meeting dalam pembelajaran kitab suci atau penelaahan Alkitab pasca pandemi covid 19 sangat bagus dan memuaskan serta terus dipertahankan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6