cover
Contact Name
Andreas Kristianto
Contact Email
andreassiwi1305@gmail.com
Phone
+6281226747122
Journal Mail Official
jurnal.marturia@gmail.com
Editorial Address
Jln. Kedawung 137, Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
ISSN : 23382627     EISSN : 29866111     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal MARTURIA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta secara berkala (bulan Juni dan Desember). Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah di bidang disiplin teologi dan pendidikan agama Kristen baik dalam bentuk artikel maupun resensi buku. Semua artikel yang masuk akan dinilai kelayakannya oleh mitra bestari secara tertutup (blind review process). Artikel yang diserahkan harus merupakan karya asli penulis yang belum pernah diterbitkan di jurnal atau penelitian lainnya dalam bahasa apapun. Nama Marturia diambil dari bahasa Yunani: martyria, yang berarti bersaksi. Seperti halnya arti dari Marturia sendiri, jurnal ini diharapkan dapat menjadi saksi kemuliaan Tuhan dalam dinamika akademik dan teori praksis.
Articles 46 Documents
LOVE MYSELF: Misi Yesus Kristus yang Hidup dalam Lagu BTS Aan Priyadi
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.989 KB)

Abstract

AbstractPopular culture, especially popular music, is a reality that is difficult to separate from the lives of young people. It has a huge influence in shaping their way of thinking. This is possible because of the nature of popular culture that is easily accepted and understood. It fits the needs of the audience. However, the church often still underestimates popular culture as being in a different world and has nothing to do with the mission of the church to preach the good news from God. This article wants to show that God can say that through popular music culture and it can also be the glory of His name. Abstrak Budaya populer, khususnya musik populer merupakan realitas yang sulit dipisahkan dari kehidupan kaum muda. Pengaruhnya sangat besar dalam membentuk cara berpikir mereka. Hal itu dimungkinkan oleh karena sifat budaya populer yang mudah diterima dan dipahami sebab sesuai dengan kebutuhan penikmatnya. Namun demikian gereja sering kali masih memandang sebelah mata menganggap budaya populer berada dalam dunia yang berbeda dan tidak ada kena mengenanya dengan misi gereja memberitakan kabar baik dari Tuhan. Artikel ini hendak menunjukkan bahwa Tuhan dapat berfirman melalui budaya musik populer dan budaya musik populer dapat juga menjadi kemuliaan nama-Nya.
MERAYAKAN KEHIDUPAN MASYARAKAT BERISIKO DENGAN HUMOR Isak Bendris Oematan
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.809 KB)

Abstract

AbstractThis paper discusses the concept of a risk society which was developed by the famous German sociologist Ulrich Beck. The massive development of technology and information has brought a paradoxical impact on human life. One of those affected is religious individuals. Information implosion makes anyone free to choose and determine the things they like as well as their spiritual values without basing on the values of the religion they adhere to. In response to this, this paper offers an alternative interpretation of celebrating spirituality for post-modern Christianity, using Richard Kearney's thoughts on Atheism. This concept stakes five folds as a way to meet and encounter the Divine in the journey of life. One of the highlights in this article is the second fold which is about humor. Humor describes the natality of human life in a surplus of divine reality. This paper bases its analysis on qualitative research methods with reflective-theological studies in order to obtain theological values in the folds of humor which are then applied to the context of at-risk communities. The theory used to explain the phenomenon of humor in a society at risk is The Play Theory. The result is that the value of humor can be an alternative interpretation for contemporary Christianity in order to understand, reflect and describe the beauty of the manifestation of the Divine in all its natality and limitations, especially in the context of a risky society that is also a surplus of information, openness, schizophrenic and networking. Abstrak Tulisan ini membahas konsep masyarakat berisiko (Risk Society) yang dikembangkan oleh sosiolog kenamaan Jerman Ulrich Beck. Perkembangan teknologi dan informasi yang masif telah membawa dampak yang paradoks dalam kehidupan manusia. Salah satu yang terkena dampaknya adalah individu-individu beragama. Implosi informasi membuat siapa saja bebas untuk memilih dan menentukan hal-hal yang disukai begitu pun dengan nilai-nilai spiritualitasnya tanpa mendasarkan pada nilai-nilai dari agama yang di anutnya. Dalam menanggapi hal tersebut tulisan ini menawarkan suatu tafsir alternatif dalam merayakan spiritualitas bagi Kekristenan post-modern, dengan menggunakan pemikiran Richard Kearney tentang Anateisme. Konsep ini mempertaruhkan lima lipatan sebagai jalan untuk bertemu dan berjumpa dengan yang Ilahi dalam perjalanan kehidupan. Salah satu yang menjadi sorotan dalam tulisan ini adalah lipatan kedua yang menyoal soal humor. Humor menggambarkan natalitas kehidupan manusia di dalam surplus realitas Ilahi. Tulisan ini mendasarkan analisisnya pada metode penelitian kualitatif dengan kajian reflektif-teologis guna mendapatkan nilai-nilai teologis dalam lipatan humor yang kemudian dipakaikan ke dalam konteks masyarakat berisiko. Teori yang dipakai untuk menjelaskan fenomena humor dalam masyarakat berisiko adalah The Play Theory. Hasilnya adalah nilai humor dapat menjadi suatu tafsir alternatif bagi kekristenan masa kini guna memahami, merefleksikan dan menggambarkan keindahan manifestasi dari yang Ilahi dalam segala natalitas dan keterbatasan dirinya terutama dalam konteks masyarakat berisiko yang juga surplus informasi, keterbukaan, skozofrenik dan berjejaring.
MAJELIS GEREJA BERBASIS KESETARAAN GENDER: Studi Kasus Di GKPS Lubuk Pakam Kota, Resort Lubuk Pakam Distrik VIII Sumatera Utara (2021-2022) Purba, Michael Rony
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.052 KB)

Abstract

AbstractServing like Christ is the basis of service for Christians. It grows out of genuine love for God, and for others. In the GKPS structure, each congregation must have a position called the Assembly. The assembly is in charge of preserving God's Word, preaching, attending sermons, and performing social services to the congregation. In that case, the author's research leads to the Lubuk Pakam City GKPS Congregation Council, Lubuk Pakam Resort, District VIII, North Sumatra. The main purpose of this paper is to see whether the implementation of services has been based on gender equality? The reason why the author wrote this article is that women's councils often do not receive strong support from their families. The role of women in Simalungun Batak Culture in the household is very much a reason. However, what is interesting is that the pressure of women's councils in the family becomes their encouragement, motivation, and enthusiasm for these people in carrying out every service activity in the service of the Church. The author's data collection will use the qualitative method. Talking, observation, and analysis of findings through human behavior observed in the field, as well as results of interviews, and research recordings are the methods of this research as well. Abstrak Melayani seperti Kristus adalah dasar pelayanan bagi orang Kristen. Hal itu tumbuh dari kasih yang tulus kepada Allah, dan sesama. Dalam struktur GKPS, setiap jemaat harus memiliki jabatan yang disebut Majelis. Majelis bertugas memelihara Firman Tuhan, berkhotbah, menghadiri sermon, serta melakukan pelayanan sosial kepada jemaat. Dalam hal itu, penelitian penulis mengarah kepada Majelis Jemaat GKPS Lubuk Pakam Kota, Resort Lubuk Pakam, Distrik VIII, Sumatera Utara. Tujuan utama tulisan ini melihat, apakah dalam pelaksanaan pelayanan sudah berbasis kesetaraan gender? Alasan penulis mengangkat tulisan ini mengingat majelis perempuan sering tidak mendapat dukungan kuat dari keluarga. Peranan perempuan dalam Budaya Batak Simalungun di rumah tangga sangat banyak menjadi sebuah alasan. Namun yang menarik adalah ketertekanan majelis perempuan dalam keluarga menjadi dorongan, motivasi, dan semangat tersendiri bagi kaum ini dalam melakukan setiap kegiatan pelayanan di dalam pelayanan Gereja. Pengumpulan data penulis akan memakai metode Kualitatif. Temu bual, pemerhatian, dan analisis temuan melalui tingkah laku manusia yang diamati di lapangan, serta hasil wawancara, dan rekaman penelitian menjadi metode penelitian ini juga.
PERJUMPAAN DAN DIALOG RITUAL ZAISO SUKU WEWEWA DENGAN IMAN KRISTEN Martha Ari Molla
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.726 KB)

Abstract

AbstractThe presence of a church will only be meaningful if it can theology according to the context. Therefore, dialogue between the Bible and culture is a demand that must be pursued by the church so that the appreciation of the Christian faith can be relevant to the local cultural context in which the church is present and works. It must be admitted that so far the church has tended to be identical with Western culture, which is actually unable to see values in other cultures, so that other cultures outside of Western culture are considered infidels. This has resulted in the proclamation of the Gospel which tends to be identical with Western culture, not easily accepted by other cultures outside of Western culture. The Sumba Christian Church (GKS) is a church resulting from the Dutch zending gospel message and also a Calvinist church, rejecting all forms of prayer and worship to Marapu. Without in-depth study, it is a fact that church members have stronger relations with culture/customs because it is supported by the kabisu/clam system, so that their participation in the zaiso ritual is a form of respect for ritual order and kabisu attachment. AbstrakKehadiran gereja hanya akan bermakna jika dapat berteologi sesuai dengan konteks. Oleh karena itu, dialog antara Injil dan budaya merupakan tuntutan yang harus diupayakan oleh gereja agar penghayatan iman Kristen dapat relevan dengan konteks budaya lokal di mana gereja hadir dan berkarya. Harus diakui bahwa selama ini gereja cenderung identik dengan budaya Barat yang sebenarnya tidak mampu untuk melihat nilai-nilai dalam budaya lain, sehingga budaya lain di luar budaya Barat dianggap kafir. Hal ini mengakibatkan pewartaan Injil yang cenderung identik dengan budaya Barat, tidak mudah diterima oleh budaya-budaya lain di luar budaya Barat. Gereja Kristen Sumba (GKS) adalah gereja hasil pekabaran Injil zending Belanda dan juga gereja aliran Calvinis, menolak semua bentuk doa dan penyembahan kepada Marapu. Tanpa suatu penelitian mendalam bahwa adanya kenyataan anggota jemaat yang memiliki relasi lebih kuat dengan budaya/adat-istiadat karena didukung oleh sistem kabisu/clam, sehingga keikutsertaan mereka dalam ritual zaiso sebagai bentuk menghormati tata tertib ritual dan keterikatan kabisu.
PENYANDANG DISABILITAS DALAM GEREJA Sat Herry Sucahyo
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.049 KB)

Abstract

AbstractAccording to Galtung, three forms of violence are direct violence, structural violence and cultural violence. The three forms of violence are interrelated with one another. Violence exists and occurs everywhere. including the church. The church, which has a foundation of love as its main law, is not free from violent behavior. People with disabilities in the church have the potential to be victims of violence. Therefore, Christ's action when he healed two blind people became an example for the church to be friendly to brothers and sisters with disabilities. Being a friendly church means being friendly to all, without categorizing any particular group. A friendly church is a church that brings peace.. Abstrak Tiga bentuk kekerasan menurut Galtung adalah kekerasan langsung, kekerasan struktural dan kekerasan kultural. Ketiga bentuk kekerasan tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Kekerasan tersebut ada dan terjadi disemua tempat. Termasuk juga di gereja. Gereja yang memiliki dasar kasih sebagai hukum utamanya, ternyata tak terhindar dari perilaku-perilaku kekerasan. Penyandang disabilitas di gereja memiliki potensi sebagai korban kekerasan. Oleh karenanya tindakan Kristus ketika menyembuhkan dua orang buta menjadi teladan bagi gereja ramah terhadap saudara penyandang disabilitas. Menjadi gereja yang ramah memiliki arti ramah pada semua, tanpa mengkotak-kotakkan kelompok tertentu. Gereja yang ramah adalah gereja yang membawa perdamaian.
KRISTOLOGI DISABILITAS SEBAGAI UPAYA MENUJU KERAMAHAN ATAS KAUM DISABILITAS: Tafsir Yohanes 20:24-28 Dengan Pendekatan Disabilitas Jepri Alexander Perangin-angin
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.899 KB)

Abstract

AbstractChristology in its development has changed to be very contextual. The concept of Christ is not only seen in the context of the Bible alone but how the reader sees the text about Christ through its context. One of the contexts that the church and society live in is disability. Disability Christology is needed not only to raise awareness for you with disabilities but more fundamentally that Christ himself rose in a disability condition. It is hoped that this understanding of faith will be able to turn the church into a church that is friendly to people with disabilities. Abstrak Kristologi dalam perkembangannya telah berubah menjadi sangat kontekstual. Konsep tentang Kristus tidak hanya dilihat dalam konteks Alkitab semata namun bagaimana pembaca melihat teks tentang Kristus melalui konteksnya. Salah satu konteks yang hidup bersama-sama dengan gereja dan masyarakat adalah disabilitas. Kristologi Disabilitas dibutuhkan bukan hanya untuk membangun kepedulian kepada kau disabilitas namun yang lebih mendasar ialah bahwa Kristus sendiri bangkit dalam kondisi disabilitas. Pemahaman iman ini diharapkan mambu merubah gereja menjadi gereja yang ramah terhadap disabilitas.
AL-QUR’AN DAN KEBENCIAN TERHADAP KEKRISTENAN: MEMBACA SURAT AL-BAQARAH 120 MELALUI LENSA HOLY ENVY Wahyu Nugroho
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.575 KB)

Abstract

AbstractThis research offers a path of interfaith dialogue based on the holy envy approach. This approach emphasizes two crucial points. Firstly, other religious traditions have good and wisdom values that reduce supersessionism towards other religions. Secondly, an openness to learn from other religious traditions can enrich own religious understanding. This research focuses on QS. Al-Baqarah which has a negative view of Christianity. Here the author does not interpret the verse but examines the interpretation according to Indonesian mufassirun Hamka, Quraish Shihab, and Zuhairi Misrawi. Through this research, the negative nuances found in Al-Baqarah 120 regarding Christianity have contextual backgrounds and demonstrate how the attitude of Christians at that time towards Prophet Muhammad SAW and his followers. On the other hand, these findings also lead to a consideration that nowadays QS. Al-Baqarah 120 can stand as a mirror to build critical reflections regarding Christian-Muslim relations based on honesty and sincerity. Abstrak Penelitian ini menawarkan jalan relasi antar agama berdasarkan pembacaan teks agama lain dengan menggunakan pendekatan holy envy. Pendekatan ini memberikan penekanan pada dua hal. Pertama, adanya kebaikan dan hikmat dalam tradisi agama lain yang membongkar cara pandang supersesionisme terhadap agama lain. Kedua, keterbukaan untuk belajar dari tradisi agama lain yang dapat memperkaya cara penghayatan agamanya sendiri. Penelitian ini fokus kepada Surat Al-Baqarah 120 yang memiliki pandangan negatif terhadap kekristenan. Di sini penulis tidak menafsirkan ayat melainkan menganalisis tafsir atas tersebut menurut Hamka, Quraish Shihab dan Zuhairi Misrawi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa nuansa negatif Al-Baqarah 120terhadap kekristenan sesungguhnya bersifat kontekstual dan menggambarkan bagaimana sikap orang Kristen di masa itu terhadap Nabi Muhammad SAW dan pengikut beliau. Di sisi yang lain, ayat ini dapat menjadi cermin untuk mengembangkan refleksi kritis tentang relasi Kristen-Muslim saat ini berdasarkan kejujuran dan ketulusan.
MELAWAN ECOCIDA DENGAN ECOSOTERIA: SOLIDARITAS GEREJA TERHADAP ALAM YANG MENDERITA Gunawan Adi Prabowo
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.333 KB)

Abstract

AbstractThe limits of the ability and carrying capacity of nature for the life of all creatures on earth are decreasing. This crisis is rooted in technological-economic and socio-political problems. This is especially related to the fast pace of human growth accompanied by various necessities of life, lifestyle and consumption patterns. This situation creates an imbalance in the relationship between humans and nature. Because humans are only oriented to their needs to survive, but do not have a perspective to build and manage nature without destroying it. Such an anthroponcentric attitude resulted in the occurrence of ecocida, namely the destruction of living ecosystems. So it is necessary to transform the attitude of religious life towards nature with a better perspective. Especially in Christianity that needs to be re-hermenetic to discuss the issue of full and comprehensive salvation for humans and nature, as well as the responsibility to cultivate and maintain in the context of Genesis 1:28. This hermeneutics becomes a new way of church in the ecosoteria vocation that sided with the suffering nature for the restoration of all creation. Abstrak Batas kemampuan dan daya dukung alam untuk kehidupan semua makhluk di bumi semakin menurun. Krisis ini berakar pada masalah-masalah teknologi-ekonomi dan sosial-politik. Terutama menyangkutpautkannya dengan laju pertumbuhan manusia yang semakin cepat diringi dengan berbagai kebutuhan hidup, gaya hidup dan pola konsumsi. Situasi inilah yang mencipta ketidakseimbangan relasi antara manusia dengan alam. Karena manusia hanya berorientasi pada kebutuhannya untuk bertahan hidup, namun tidak memiliki cara pandang untuk membangun dan mengelola alam tanpa harus merusaknya. Sikap antroposentris demikian yang mengakibatkan terjadinya ecocida yaitu penghancuran ekosistem kehidupan. Maka diperlukan upaya transformasi sikap hidup religius terhadap alam dengan cara pandang yang lebih baik. Khususnya di dalam kekristenan yang perlu melakukan hermeneutika ulang untuk membahas soal keselamatan yang penuh dan menyeluruh bagi manusia dan alam, serta tanggung jawab untuk mengolah dan memelihara dalam konteks Kejadian 1:28. Hermeneutika ini menjadi cara menggereja yang baru dalam panggilan ecosoteria yang berpihak pada alam yang menderita demi pemulihan seluruh ciptaan.
EKLESIOLOGI DIGITAL DI ERA PANDEMI DAN PASCA PANDEMI COVID-19 Dani Firmanto Simanjuntak
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.54 KB)

Abstract

AbstractDigital Ecclesiology is a concept that the author may offer to us (the church) as an effort to build a church that always exists, is strong and adaptive in the era of the pandemic and post-covid-19 pandemic. Our fellowship as a community of believers who come together (face to face) turns into a virtual community. Through digital technology, virtual space is an opportunity to meet other believers, as well as being interpreted as a space for spiritual encounters. In the historical series of ecclesiology in the Old Testament, New Testament, after the Reformation Period and until now, it is a sign for us that the church is constantly adapting to new cultures and phenomena. This Digital Ecclesiology means churches and ministries must move towards a more confident Digital Church than ever before. Churches globally must adapt quickly and innovatively to the challenges presented by the Covid-19 pandemic. Abstrak Eklesiologi Digital merupakan konsep yang boleh ditawarkan penulis bagi kita (gereja) sebagai upaya membangun gereja yang senantiasa eksis, kuat dan adaptif di era pandemi dan pasca pandemi covid-19. Persekutuan kita sebagai komunitas orang percaya yang berkumpul bersama (tatap muka) berubah menjadi komunitas virtual. Melalui teknologi digital, ruang virtual menjadi kesempatan bagi berjumpa dengan orang-orang percaya lainnya, sekaligus dapat dimaknai sebagai ruang perjumpaan spiritualitas. Dalam rentetan sejarah eklesiologi dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Masa setelah Reformasi hingga saat ini menjadi pertanda bagi kita bahwa gereja senantiasa beradaptasi dengan budaya dan fenomena baru. Eklesiologi Digital ini berarti gereja dan pelayanan harus menuju ke Gereja Digital yang lebih percaya diri daripada sebelumnya. Gereja secara global harus beradaptasi dengan cepat dan inovatif terhadap tantangan yang dihadirkan oleh pandemi Covid-19.
KAPITALISME DAN KEKRISTENAN: SEBUAH UPAYA MEMPERJUMPAKAN SISTEM EKONOMI KAPITALISME SEBAGAI KONTEKS SOSIAL DENGAN MATIUS 11:15-19 SEBAGAI TEKS KITAB SUCI UMAT KRISTEN Wahyu Sulistyono
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.988 KB)

Abstract

AbstractCapitalism is an economic system that uses capital as the fulcrum of the economy. The four main characteristics of capitalism are: economic growth, private ownership of capital, individual freedom in economic activities, and market autonomy. This market autonomy or free market is often regarded as the cause of social inequality because of the freedom of all parties to freely compete. We need to examine whether this inequality problem arises because of the existence of the capitalist economic system or because of human desires and greed that are out of control. This paper is an interpretation and a small reflection of the reading of selected Bible texts, Mark 11:15-19, which is met with the social reality called capitalism. This encounter is carried out in a dialogical manner as we place the two entities as dialogue partners who are equally important. The results of these encounters are expected to lead us to find more holistic understandings. Abstrak Kapitalisme merupakan sebuah sistem ekonomi yang menjadikan modal sebagai titik tumpu perputaran ekonomi. Empat ciri utama kapitalisme yaitu: pertumbuhan ekonomi, kepemilikan pribadi/swasta atas modal, kebebasan individu dalam kegiatan ekonomi, dan otonomi pasar. Otonomi pasar atau pasar bebas inilah yang sering dianggap sebagai penyebab kesenjangan sosial karena keleluasaan semua pihak untuk bebas berkompetisi. Kita perlu mencermati apakah masalah kesenjangan ini muncul karena keberadaan sistem ekonomi kapitalisme atau lebih karena hasrat dan keserakahan manusia yang lepas kendali. Tulisan ini adalah sebuah interpretasi dan refleksi kecil dari pembacaan teks Alkitab terpilih, yaitu Markus 11:15-19, yang diperjumpakan dengan realitas sosial bernama kapitalisme. Perjumpaan ini dilaukan secara dialogis sebagaimana kita menempatkan dua entitas tersebut sebagai mitra dialog yang sama pentingnya. Hasil dari upaya memperjumpakan tersebut diharapkan dapat mengantar kita untuk menemukan pemahaman-pemahaman baru yang lebih holistik.