cover
Contact Name
Andreas Kristianto
Contact Email
andreassiwi1305@gmail.com
Phone
+6281226747122
Journal Mail Official
jurnal.marturia@gmail.com
Editorial Address
Jln. Kedawung 137, Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
ISSN : 23382627     EISSN : 29866111     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal MARTURIA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta secara berkala (bulan Juni dan Desember). Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah di bidang disiplin teologi dan pendidikan agama Kristen baik dalam bentuk artikel maupun resensi buku. Semua artikel yang masuk akan dinilai kelayakannya oleh mitra bestari secara tertutup (blind review process). Artikel yang diserahkan harus merupakan karya asli penulis yang belum pernah diterbitkan di jurnal atau penelitian lainnya dalam bahasa apapun. Nama Marturia diambil dari bahasa Yunani: martyria, yang berarti bersaksi. Seperti halnya arti dari Marturia sendiri, jurnal ini diharapkan dapat menjadi saksi kemuliaan Tuhan dalam dinamika akademik dan teori praksis.
Articles 46 Documents
KRITIK SOSIAL GEREJA KEPADA NEGARA MENURUT KACAMATA MICHAEL WALZER Kolsinus Kalven Benu
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.771 KB)

Abstract

AbstractThe church's social criticism of the State from the development of the early church until the church reformation period, the New Order era, and even the Indonesian reformation order have not run optimally. This is due to the church's closeness to the State to free itself from minority feelings, to be free from suffering and persecution, and to fight for the interests of the church. The such closeness makes it difficult for the church to voice social criticism. This paper intends to rebuild the understanding of the church's social criticism of the State, in light of Michael Walzer's thoughts. According to Walzer, the church needs to have a socially critical attitude towards the government, to convey social criticism. This critical distance helps the church to be free from emotional ties and the influence of certain ideologies with the government to be free to express criticism, especially ahead of general elections and regional head elections. Instead, the church positions itself with marginalized communities and fights for their politics. Abstrak Kritik sosial gereja terhadap Negara sejak perkembangan gereja mula-mula sampai masa reformasi gereja, masa orde baru, bahkan orde reformasi Indonesia belum berjalan secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh kedekatan gereja terhadap Negara untuk membebaskan diri dari perasaan minoritas, bebas dari penderitaan dan penganiayaan, serta memperjuangkan kepentingan gereja. Kedekatan yang demikian membuat gereja sulit untuk menyuarakan kritik sosial. Tulisan ini bermaksud membangun kembali pemahaman kritik sosial gereja terhadap Negara, dalam terang pemikiran Michael Walzer. Menurut Walzer, gereja perlu memiliki sikap jarak kritis sosial terhadap pemerintah, agar dapat menyampaikan kritik sosial. Jarak kritik tersebut menolong gereja untuk bebas dari ikatan emosional dan pengaruh ideologi tertentu dengan pemerintah untuk bebas menyampaikan kritik, terlebih menjelang pemilihan umum maupun pemilihan Kepala Daerah. Sebaliknya gereja menempatkan diri bersama masyarakat yang terpinggirkan dan memperjuangkan politik mereka.
Mengkonstruksi Kerja Tahun sebagai Jembatan Etis Praktis Bagi Gereja Batak Karo Protestan dan Agama Pemena dalam Merawat Ekologi EM. Swarintha Sinulingga
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.133 KB)

Abstract

AbstractThis paper begins with the tense relationship between Christianity and the dominant religion as the "ancestor religion" in Karo. In unraveling this tension, the author uses an ethical-practical bridge according to Paul Knitter, and then constructs the year's work as a meeting place between GBKP and the dominant religion. In his research, the author found that "kerja tahun" can be used as a fluid meeting space, and can be constructed to preserve nature by giving the land (farming) the opportunity to rest for a while to restore the natural elements of the soil. Even though it is done once a year, the spirit of "kerja tahun" can become a pilgrimage to appreciate nature as a place entrusted by God for its preservation. Abstrak Tulisan ini diawali dengan ketegangan hubungan antara kekristenan dengan agama Pemena sebagai “agama pendahulu” di Karo. Dalam mengurai ketegangan ini penulis memakai jembatan etis-praktis menurut Paul Knitter, dan kemudian mengkonstruksi kerja tahun sebagai ruang perjumpaan antara GBKP dengan agama Pemena. Dalam penelitiannya, penulis menemukan bahwa kerja tahun dapat dijadikan ruang perjumpaan yang bersifat cair, dan dapat dikonstruksi sebagai ruang dalam rangka menjaga kelestarian alam dengan cara memberi kesempatan kepada tanah (perladangan) untuk beristirahat sejenak untuk mengembalikan unsur alami tanah. Walaupun dilakukan sekali setahun, spirit Kerja tahun dapat menjadi peziarahan untuk menghargai alam sebagai tempat yang dititipkan Tuhan untuk dijaga kelestariannya.
Saat Tubuhku Bukan Lagi Menjadi Hal Privat: Analisis Pemikiran Michel Foucault Terhadap Kasus Kekerasan Media Kepada Kelompok Minoritas Gender dan Seksual di Indonesia Lay Lukas Christian
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.124 KB)

Abstract

AbstractIt seems that the pandemic that hit Indonesia has not only attacked society in general but also gender and sexual minority groups in this country. Especially if we look at the media in the period 2019 to 2022. Many news cornered this group as carriers of disaster. The author tries to offer a new alternative in social life through the thoughts of Michel Foucault, a philosopher who tries to see this group as a victim of power relations from various sides, such as the government, religion, and even the media. This paper wants to show an alternative way of thinking to prevent this group from these various forms of violence. At the beginning of this paper, the author will describe Foucault's thoughts regarding the other to see the phenomenon of gender and sexual minority groups. Furthermore, the author will also describe the forms of violence that occurred in this group. And at the end of this paper the author finds that the relationship between individual bodies and power encourages groups in power to oppress these groups. Abstrak Pandemi yang melanda Indonesia rupanya bukan hanya menyerang masyarakat secara umum tetapi juga kelompok minoritas gender dan seksual di negara ini. Apalagi jika melihat media pada periode 2019 hingga 2022. Banyak berita yang menyudutkan kelompok ini sebagai pembawa bencana. Penulis mencoba menawarkan alternatif baru dalam hidup bermasyarakat melalui pemikiran Michel Foucault, seorang filsuf yang berusaha melihat kelompok ini sebagai korban relasi kuasa dari berbagai sisi, seperti pemerintah, agama, dan bahkan media. Tulisan ini ingin menunjukkan alternatif pemikiran untuk menghindarkan kelompok ini dari berbagai bentuk kekerasan tersebut. Pada awal tulisan ini, penulis akan menjabarkan pemikiran Foucault mengenai sang liyan untuk melihat fenomena kelompok minoritas gender dan seksual. Selanjutnya penulis juga akan memaparkan bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi pada kelompok ini. Dan pada bagian akhir tulisan ini penulis menemukan bahwa relasi tubuh individu dan kekuasaan mendorong kelompok yang berkuasa untuk menindas kelompok ini.
Teologi Ekologi di Gereja Kristen Jawa: Memahami Ajaran Gereja Mengenai Sikap Terhadap Alam dalam Terang Teologi Proses Pulung Sriyono Sanyoto
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.032 KB)

Abstract

AbstractPokok-pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ) provide guidelines related to ecclesiastical teachings for the GKJ congregation, one of which is regarding the attitude of believers towards nature. The purpose of this study is to look at GKJ in ecological theology through a process theology framework, as well as aim at whether there are things that need to be criticized from the ecological theology developed by GKJ. The research method used in this study is qualitative with a literature study approach. After conducting a series of analyzes and discussions, the author finds that the ecological theology developed by GKJ still adheres to the concept of anthropocentrism, in which humans as imago dei receive a mandate from God to control and cultivate nature to support their lives. However, on the other hand, the values contained in process theology can still be seen from several things, including: humans have freedom in determining their lives, there is a relationship between humans and other creatures that live together on earth, there is an understanding that the universe This process will continue on an ongoing basis. Meanwhile, in relation to the ecological crisis, it can be understood that humans fail to grasp God's will that has been offered to them. Abstrak Pokok-Pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ) memberikan pedoman terkait ajaran gerejawi bagi jemaat GKJ, salah satunya mengenai sikap orang percaya terhadap alam. Tujuan dari kajian ini adalah melihat GKJ dalam berteologi ekologi melalui kerangka pikir teologi proses, sekaligus juga bertujuan apakah ada hal-hal yang perlu dikritisi dari teologi ekologi yang dibangun oleh GKJ. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Setelah melakukan serangkaian analisa dan pembahasan, penulis menemukan bahwa teologi ekologi yang dibangun oleh GKJ masih menganut paham antroposentrisme, dimana manusia sebagai imago dei mendapat mandat dari Allah untuk menguasai dan mengolah alam untuk mendukung kehidupannya. Akan tetapi, di sisi yang lain nilai-nilai yang terkandung dalam teologi proses masih dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain: manusia memiliki kebebasan dalam menentukan kehidupannya, adanya keterkaitan manusia dan ciptaan yang lain yang hidup bersama di bumi, adanya pemahaman bahwa alam semesta ini akan terus berproses secara berkesinambungan. Sedangkan, kaitannya dengan krisis ekologis dapat dipahami bahwa manusia gagal dalam menangkap kehendak Allah yang sudah ditawarkan kepadanya.
Keniscayaan Fenomena Sinkretis dalam Aktivitas Misioner Gereja Fiany Priska Kasedu
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.107 KB)

Abstract

AbstractMission gave birth to biblical texts and several texts in the Bible were also used as the basis for mission, this is the view of missiological hermeneutic activists who try to explore in depth the importance of mission for Christianity. Missionary patterns need to be changed from century to century based on the theological phenomena encountered. The essence of the church's mission is the integration of the kingdom of God that Jesus threw away in His ministry. The Kingdom of God is no longer in the understanding where everyone must be a part of Christianity, but rather the impact of the presence of Jesus which is marked by the realization of justice, truth and renewal. Spiritual experience with Jesus Christ today is not only the experience of people who have given themselves to become Christians, but many people who have experienced Jesus Christ in different ways. This fact was realized when the news about Jesus Christ was met with other religions that caused this thought to occur. Jesus Christ who is met with other religious understandings will give birth to a new understanding that works with each other. Abstrak Misi melahirkan teks Alkitab dan beberapa teks dalam Alkitab pun dijadikan landasan misi, demikianlah pandangan pegiat hermeneutik misiologi yang mencoba menelusuri secara mendalam mengenai pentingnya misi bagi kekristenan. Pola bermisi perlu berubah dari abad ke abad berdasarkan fenomena berteologi yang dihadapi. Inti dari misi gereja ialah pengintegrasian kerajaan Allah yang diberitakan oleh Yesus dalam pelayananNya. Kerajaan Allah ini tidak lagi dalam pemahaman di mana semua orang harus menjadi bagian dari kekristenan, tetapi justru dampak dari kehadiran Yesus yang ditandai dengan terwujudnya keadilan, kebenaran dan pembaharuan. Pengalaman spiritual bersama Yesus Kristus saat ini tidak hanya menjadi pengalaman orang-orang yang telah memberi diri menjadi Kristen, tetapi banyak orang telah mengalami Yesus Kristus dalam cara yang berbeda. Kenyataan ini disadari pada saat pemberitaan mengenai Yesus Kristus diperjumpakan dengan keberadaan agama lain yang menyebabkan terjadinya pertukaran pemikiran. Yesus Kristus yang diperjumpakan dengan pemahaman agama lain akan melahirkan sebuah pemahaman yang baru yang saling memperkarya.
Model Pendidikan Komunikasi Iman di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kota Jakarta Pusat Lusia Rahajeng
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.852 KB)

Abstract

AbstractIndonesian society, both demographically and sociologically, is a diverse society. The characteristics that characterize the nature of this diversity are the presence of language, race (ethnic), religious beliefs and other cultural practices. This cultural diversity is an invaluable asset of the nation, but at the same time cultural diversity can collapse or be a divisive one for a country. This cultural diversity is often used as a trigger for racial, religious, ethnic, and intergroup (SARA) conflicts. When children enter the school education level, the teachings of tolerance and respect for differences must be instilled as early as possible. Therefore, this study aims to describe how the faith communication education model can be accepted as an educational model to teach giving meaning to pluralism in Indonesia. The method used is a qualitative research method with a literature review approach. The result of the research is that teachers and students can apply the faith communication education model as a learning model for Christian religious education in schools. Abstrak Masyarakat Indonesia baik dari segi demografis maupun sosiologis merupakan masyarakat yang beragam. Ciri-ciri yang mencirikan sifat keanekaragaman ini adalah adanya bahasa, ras (suku), keyakinan agama dan praktik budaya lainnya. Keanekaragaman budaya adalah peninggalan bangsa yang tidak ternilai harganya, namun pada saat yang sama keragaman budaya dapat runtuh atau menjadi pemecah belah suatu negara. Keberagaman budaya ini sering dijadikan sebagai pemicu konflik ras, agama, suku, dan antargolongan (SARA). Ketika anak memasuki jenjang pendidikan sekolah, ajaran toleransi dan menghargai akan perbedaan harus ditanamkan sedini mungkin. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana model pendidikan komunikasi iman dapat diterima sebagai model pendidikan untuk mengajarkan memberi makna terhadap pluralisme di Indonesia. Metode yang digunakan yakni metode penelitian kualitatif dengan pendekatan literature review. Hasil riset yaitu guru serta peserta didik bisa mempraktikkan model pembelajaran komunikasi iman sebagai salah satu model pendidikan pembelajaran agama Kristen di sekolah.
Bangsa Kanaan sebagai Kritik Ideologi terhadap Bangsa Israel Tafsir Yosua 11:16-23 Heri Purwanto
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis interpretive article on the book of Joshua 11:16-23 aims to provide a reflection on the social and humanitarian events that have been full of acts of violence that have occurred recently. What is worse is that those who commit acts of violence and crimes against humanity are acting in the name of God's command and defending a particular religion. They "believe" that the actions they are carrying out are God's orders and are an obligation, while the losses and suffering experienced by the victim are not a problem. The Israelites' conquest of the Canaanites is an image of power and oppression carried out by the majority (strong) against the minority (weak). Based on the promise of the "promised land" and orders from the LORD, the Israelites occupied and controlled the land of Canaan and completely destroyed the Canaanite people. The Israelites, who were once an oppressed nation, then changed their role as oppressors to other nations. All the crimes committed by the Israelites against the Canaanites were holy war as a command from the Divine. On the other hand, the Canaanites as indigenous people became victims of the conquest of the Israelites as a nation that was "blessed" by GOD. The death of the Canaanites was a form of their courage in fighting for their land and nation as an inheritance from their ancestors that must be protected. Their resistance against the Israelites was a manifestation of their struggle as inferior people against superior people. In the text of Joshua 11:16-23, the Canaanites act as ideological critics of the conquest carried out by the Israelites. Abstrak Tulisan penafsiran tentang kitab Yosua 11:16-23 ini bermaksud untuk memberikan suatu refleksi atas peristiwa-peristiwa sosial dan kemanusiaan yang sarat dengan tindak kekerasan yang terjadi pada akhir-akhir ini. Parahnya, para pihak yang melakukan tindak kekerasan dan kejahatan kemanusiaan itu mengatasnamakan sebagai perintah Tuhan dan pembelaan terhadap agama tertentu. Mereka “mengamini” bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah perintah Tuhan dan menjadi suatu kewajiban, sedangkan kerugian dan penderitaan yang dialami oleh pihak korban bukanlah menjadi masalah. Penaklukan bangsa Israel terhadap orang-orang Kanaan adalah suatu gambar kekuasaan dan penindasan yang dilakukan oleh pihak mayoritas (kuat) terhadap pihak minoritas (lemah). Atas dasar janji “tanah perjanjian” dan perintah dari TUHAN, bangsa Israel melakukan pendudukan dan penguasaan terhadap tanah Kanaan serta menumpas habis orang-orang Kanaan. Bangsa Israel yang dulunya adalah bangsa yang tertindas (oppressed), kemudian berganti peran sebagai penindas (oppressor) terhadap bangsa-bangsa lain. Segala tindak kejahatan yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap orang-orang Kanaan adalah perang suci (holy war) sebagai perintah dari Yang Ilahi. Sebaliknya, orang-orang Kanaan sebagai penduduk pribumi menjadi korban atas penaklukkan bangsa Israel sebagai bangsa yang “dirahmati” TUHAN. Kematian orang-orang Kanaan merupakan suatu bentuk keberanian mereka dalam memperjuangkan tanah dan bangsanya sebagai warisan leluhur mereka yang harus dijaga. Perlawanan mereka terhadap bangsa Israel merupakan sebuah wujud perjuangan mereka sebagai orang-orang yang inferior terhadap yang superior. Dalam teks Yosua 11:16-23 ini bangsa Kanaan berperan sebagai kritik ideologi atas penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Israel.
Anything Goes Ala Paul Feyerabend, Pendidikan Finlandia Sampai Ke Nadiem Makarim Dani Firmanto Simanjuntak
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract I, as a [college] student of Indonesian standard education products, have experienced a barren of knowledge because of the ‘doctrine’ system in accordance with the prevailing interests in the Indonesian education system. Learning from the principle of anything goes, Feyerabend disassembles all projections of the unity of science and theory in the division of reality into an open space for other studies or theories. Freedom is the right word to express and actualize human beings themselves with others. The education system, which consists of scientific content, is an effort to liberate humans but is trapped in a system that enslaves them. Students no longer learn ‘for’, but learn ‘from’ which restrains them as humans playing (homo ludens) and learning. I compare Finnish education with Indonesian education, as an effort called Nadiem Makarim, simultaneous and moving changes. Abstrak Saya sebagai [maha] siswa produk pendidikan baku Indonesia selama ini mengalami kemandulan ilmu pengetahuan karena sistem ‘doktrin’ sesuai dengan kepentingan yang berlaku di dalam sistem pendidikan Indonesia. Belajar dari prinsip anything goes, Feyerabend membongkar semua proyeksi kesatuan ilmu dan teori di dalam kepelbagian realitas menjadi ruang terbuka untuk kajian-kajian atau teori yang lainnya. Kebebasan adalah kata yang tepat untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri manusia itu sendiri dengan yang lain. Sistem Pendidikan yang di dalamnya terdiri muatan ilmu pengetahuan adalah upaya membebaskan manusia, tetapi terjebak dalam sistem yang memperbudak. Siswa tidak lagi belajar ‘untuk’, tetapi belajar ‘dari’ yang mengekang dirinya sebagai manusia bermain (homo ludens) dan belajar. Saya membandingkan pendidikan Finlandia dengan Pendidikan Indonesia, sebagai upaya yang disebut Nadiem Makarim, perubahan yang serentak dan bergerak.
Gereja dalam Arus Politik Transaksional: Mewaspadai Politik Transaksional dalam Moment Pemilu Ove Oktavian Purba
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractPolitical Power, where in a democratic process such as the direct Election of Regional Heads to elect regents, mayors, governors, or members of the legislature today cannot be separated from the existence of the power of political capital from the candidates. This paper will discuss the Transactional Politics that occurs at the moment of the Election. It is hoped that this article will serve as a warning and a discourse that can be shared among the congregation considering that it is possible for important figures in the church to get trapped or involve themselves in the currents of transactional politics where they serve. An important point that will also be discussed is that the Church as a Religious Institution can be a source of Ethics and Morals for its followers in carrying out political activities as a form of service in the midst of society and the world. Abstrak Kekuatan Politik, di mana dalam proses demokrasi seperti Pemilukada langsung untuk memilih bupati, walikota, gubernur atau anggota legislatif dewasa ini tidak lepas dari keberadaan kekuatan pemodal politik dari kandidat calon. Tulisan ini akan membahas mengenai Politik Transaksional yang terjadi pada momen Pemilu. Tulisan ini diharapkan menjadi peringatan dan sebuah wacana yang dapat di sharing kan di tengah-tengah jemaat mengingat mungkin saja tokoh-tokoh penting dalam gereja terjebak ataupun melibatkan dirinya dalam arus politik transaksional di mana dia melayani. Pokok penting yang juga akan dibahas adalah Gereja sebagai sebuah Institusi Keagamaan dapat menjadi sumber Etika dan Moral bagi pengikutnya dalam melakukan aktivitas Politik sebagai bentuk pelayanannya di tengah-tengah masyarakat dan dunia.
Tubuh Perempuan dan Artificial Intelligence Dian Ursula Yenifer Sarah
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Nowadays, the flow of information and developments in the world of science is both an opportunity and a challenge that all elements continue to face. The world of theology is no exception, especially when facing various latest discoveries in the scientific world, for example, a technology called Artificial Intelligence or artificial intelligence. Departing from this, this paper aims to analyze the position of humans in terms of women's bodies in the midst of the presence of sexual robots. This paper uses a qualitative methodology with literature studies. The data will be obtained from various sources of scientific literature, documents, news, or written information that has a connection. The author will conduct an analysis with a feminist perspective on the presence of sexual robots that resemble women as a result of Artificial Intelligence. From the results of the writing, it was found that by embedding Artificial Intelligence into sexual robots, the warm and intimate relationship between men and women seems to have faded. Abstrak Sekarang ini arus informasi dan perkembangan dalam dunia sains menjadi peluang sekaligus tantangan yang terus dihadapi oleh semua elemen manusia. Tidak terkecuali dunia teologi, khususnya ketika menghadapi berbagai penemuan terbaru dalam dunia saintek misalnya teknologi yang bernama Artificial Intellegence atau kecerdasan buatan. Berangkat dari hal tersebut maka tulisan ini hendak bertujuan untuk menganalisis posisi manusia dalam hal tubuh perempuan di tengah kehadiran robot seksual. Penulisan ini menggunakan metodologi kualitatif dengan studi kepustakaan. Adapun data akan diperoleh dari berbagai sumber literatur ilmiah, dokumen, berita atau informasi tertulis yang memiliki keterkaitan. Penulis akan melakukan analisis dengan perspektif feminis terhadap kehadiran robot seksual yang menyerupai perempuan sebagai hasil dari Artificial Intellegence. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dengan menyematkan Artificial Intellegence ke dalam robot seksual maka relasi hangat dan intim antara laki-laki dan perempuan seakan menjadi pudar.