cover
Contact Name
Andreas Kristianto
Contact Email
andreassiwi1305@gmail.com
Phone
+6281226747122
Journal Mail Official
jurnal.marturia@gmail.com
Editorial Address
Jln. Kedawung 137, Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
ISSN : 23382627     EISSN : 29866111     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal MARTURIA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta secara berkala (bulan Juni dan Desember). Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah di bidang disiplin teologi dan pendidikan agama Kristen baik dalam bentuk artikel maupun resensi buku. Semua artikel yang masuk akan dinilai kelayakannya oleh mitra bestari secara tertutup (blind review process). Artikel yang diserahkan harus merupakan karya asli penulis yang belum pernah diterbitkan di jurnal atau penelitian lainnya dalam bahasa apapun. Nama Marturia diambil dari bahasa Yunani: martyria, yang berarti bersaksi. Seperti halnya arti dari Marturia sendiri, jurnal ini diharapkan dapat menjadi saksi kemuliaan Tuhan dalam dinamika akademik dan teori praksis.
Articles 46 Documents
The I-Zation of Society, Religion, and Neoliberal Post-Secularism Benu, Kolsinus Kalven
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.661 KB)

Abstract

Judul Buku : The i-zation of Society, Religion, and Neoliberal Post-Secularism Bahasa : Bahasa Inggris Penulis : Adam Possamai ISBN : 978-981-10-5941-4 / 978-981-10-5942-1 (eBook) Terbit : 2018 Tebal : 251 halaman Penerbit : Palgrave MacMillan
Melihat Kembali Dinamika Kritik Agama Menurut Karl Marx Valerian, Hizkia Fredo
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.638 KB)

Abstract

Abstract Marx’s critique of religion is a part of his ideological critique of society. In Marx’s view, religion as an integral part of society’s consciousness which must be rejected due to it offers a false consciousness. For Marx, religion is not helped humans to liberate themself from an oppressive situation otherwise it affirmed that. Therefore, Marx undoubtedly assumed religion will disappear along with the economic structure’s change. However, Marx’s assumption is never to be proved. Precisely religion still has an important effect on social life. Then the main question we could ask for now whether Marx’s critique will turn to be vain? This article will focus on how is Marx’s critique reinterpreted just like Jürgen Habermas’s did. Habermas is one of the thinkers who grew in Marxist tradition and then goes beyond it. Habermas preserves Marx’s Ideological critique in through different critical way. Habermas’s view here can explain how religion still become an important part of society, and he offers a critical paradigm in communication praxis too at the same time. Abstrak Kritik Marx terhadap agama adalah bagian dari kritik ideologinya terhadap masyarakat. Marx melihat bahwa agama sebagai bagian integral dari kesadaran masyarakat harus ditolak karena menawarkan kesadaran palsu. Bagi Marx, agama tidak membantu kehidupan manusia untuk keluar dari situasi penindasan, malah justru meneguhkannya. Oleh sebab itu, secara niscaya Marx melihat bahwa agama dengan sendirinya akan hilang seiring dengan perubahan struktur ekonomi. Namun anggapan tersebut tidak kunjung terbukti. Dalam kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, bahwa agama memiliki pengaruh yang penting dalam kehidupan sosial. Lantas apakah kritik Marx tidak lagi berharga? Tulisan ini hendak melihat kembali bagaimana kritik Marx diinterpretasikan ulang. Salah satunya oleh Jürgen Habermas, pemikir yang tumbuh dari kalangan pemikir Marxis sekaligus melampauinya. Habermas mempertahankan kekuatan kritik Ideologi Marx meski dengan sentuhan yang kritis dan berbeda. Di sini pandangan Habermas dapat menjelaskan bagaimana agama menjadi bagian yang penting dalam masyarakat, dan di saat yang sama ia menawarkan paradigma kritis melalui praksis komunikasi.
Empowering People to Serve and to Heal: Gereja Sebagai Komunitas Iman Inklusif dalam Memberdayakan Penyandang Disabilitas Purwanto, Heri
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.973 KB)

Abstract

Abstract This paper is an attempt to discuss the issue of disability and the vulnerability of persons with disabilities in the midst of a culture of normalcy. The normal life in society has framed the order of human life by presenting all the consequences for persons with disabilities. Normality views persons with disabilities as a form of “disability,” “abnormality” and “imperfection” in human beings. Normality also places persons with disabilities as objects, not subjects. As a result, people with disabilities are often eliminated, discriminated against, and marginalized for their perceived “abnormality” in a society that glorifies normality. The solidarity model is an alternative as a counter-attack to normalcy. Likewise with the role and responsibility of the church towards persons with disabilities. In the midst of its imperfections, the church needs to have solidarity with people with disabilities as with God who has solidarity with the world who was incarnated in Jesus with a body full of wounds and “disability” after His resurrection. Therefore, this paper seeks to present an ecclesiological view of the church as a faith community that is inclusive, liberates, and at the same time empowers persons with disabilities in the midst of normalcy. Abstrak  Makalah ini merupakan sebuah upaya untuk membahas isu disabilitas dan kerentanan para penyandang disabilitas di tengah budaya kenormalan. Kenormalan yang hidup di dalam masyarakat telah membingkai tatanan kehidupan manusia dengan menghadirkan segala konsekuensinya terhadap para penyandang disabilitas. Kenormalan memandang para penyandang disabilitas sebagai bentuk “kecacatan,” “ketidaknormalan” dan “ketidaksempurnaan” dalam diri manusia. Kenormalan juga menempatkan para penyandang disabilitas sebagai obyek, bukan subyek. Dampaknya, para penyandang disabilitas seringkali tereliminasi, terdiskriminasi, dan terpinggirkan atas anggapan “keabnormalan” mereka di dalam tatanan masyarakat yang mengagungkan kenormalan. Model solidaritas menjadi salah satu alternatif sebagai counter-attack atas kenormalan. Demikian juga dengan peran dan tanggung jawab gereja terhadap para penyandang disabilitas. Di tengah ketidaksempurnaannya, gereja perlu untuk memiliki solidaritas terhadap para penyandang disabilitas sebagaimana dengan Allah yang memiliki solidaritas terhadap dunia yang berinkarnasi di dalam diri Yesus dengan tubuh yang penuh luka dan “kecacatan” setelah kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, makalah ini berupaya untuk menyajikan pandangan eklesiologi gereja sebagai komunitas iman yang inklusif, membebaskan dan sekaligus memberdayakan para penyandang disabilitas di tengah kenormalan.
Je Ne Sais Pas, Il Faut Croire: Upaya Memahami Epistemologi Ketuhanan Menurut Jacques Derrida Kristianto, Andreas
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.048 KB)

Abstract

AbstractOften religion becomes a text of terror / violence which becomes the norm of absolute truth, while 'others' becomes a marginal subject and is outside the truth. Derrida actually criticizes through decontrucsive reading of the presence of religion which is often absolute (logocentrism) in its hegemonic character towards the others (the other). Derrida developed a deconstruction effort which pointed to the impossibility itself, namely the impossibility of talking about God or talking about God. In this paper, Derrida's idea of a God who is a Mysterious Magnum in a jungle of endless trails is described. Apocalyptic and apophatic theology ideas in 'The Impossible' about the Other. At the end, I will reflect theologically about believing in the impossibility of an alternative effort to live in a plurality of religions. AbstrakSeringkali agama menjadi teks teror/ kekerasan yang menjadi norma kebenaran mutlak, sedangkan ‘yang lain’ menjadi subjek marjinal dan ada di luar kebenaran. Derrida justru melakukan kritik melalui pembacaan yang bersifat dekonstrukstif terhadap kehadiran agama yang seringkali bersifat absolut (logosentrisme) wataknya yang hegemoni terhadap the others (sang liyan). Derrida mengembangkan upaya dekonstruksi yang menunjuk pada ketidakmungkinan itu sendiri yaitu ketidakmungkinan untuk membicarakan Tuhan atau berbicara tentang Tuhan. Dalam tulisan ini, diuraikan gagasan Derrida tentang Tuhan yang Magnum Misterium dalam rimba jejak yang tiada ujung. Gagasan teologi apokaliptik dan apofatik dalam ‘Yang Tak Mungkin’ tentang the Other. Pada bagian akhir, saya akan merefleksikan secara teologis tentang beriman dalam ketidakmungkinan sebagai upaya alternatif hidup dalam pluralitas agama.
Mendahulukan Kehendak Tuhan di Atas Kehendak Pribadi: Pemaknaan Lintas Teks Qs Al-Kahfi: 23-24 dengan Surat Yakobus 4:13-17 Siregar, Gerald Moratua
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.837 KB)

Abstract

Abstract Since the Creation, humans, who naturally have free-will, tend to be autonomous in their actions. This tendency had become more solid when civilization entered modernization. In this era, humans most likely were to prioritize reasoning more than spiritual and religious values. Humans had become more independent and autonomous, and this matter mainly applied whenever they want to determine their own destiny. But instead of having “the happy ending”, human choices are sometimes arrogant, and unfortunately, those choices could lead them into their own misery. Whereas the Scriptures often remind mankind to prioritize God's will over their personal will. In both the Koran and the Bible, there are verses that specifically highlight how humans should prioritize God's will. In this regard, this paper will examine the topic about the problem between God's will and human responsibility through a comparison of the biblical study of the Koran and the Bible, as well as the crossing of meanings between the two which can be complementary and symbiotic. Abstrak Sejak Penciptaan, manusia yang secara kodrati memiliki kehendak bebas, cenderung otonom di dalam bertindak. Kecenderungan ini menjadi lebih solid ketika peradaban memasuki modernisasi, karena modernisasi telah menjadikan manusia semakin mengutamakan rasio, dan sadar atau tidak, perlakuan tersebut telah mereduksi nilai-nilai spiritual dan religius. Manusia menjadi lebih independen dan otonom, termasuk ketika manusia hendak menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun alih-alih ingin mendapatkan yang terbaik, pilihan manusia kadang takabur dan menuntun kepada penderitaan. Padahal Kitab Suci kerap mengingatkan umat manusia untuk memprioritaskan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi. Baik dalam al-Quran maupun Alkitab terdapat ayat-ayat yang secara khusus membahas perihal bagaimana manusia seharusnya mengindahkan kehendak Tuhan. Berkaitan dengan itu, tulisan ini akan membahas topik tentang permasalahan antara kehendak Allah dan tanggung jawab manusia (ikhtiar) melalui perbandingan kajian biblis Al-Quran dan Alkitab, serta penyilangan makna di antara keduanya yang dapat bersifat komplementer dan simbiosis.
Budaya Populer dalam Praktek Keagamaan Saragih, Rim Glory Phasah; Turnip, Sonny H.
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.604 KB)

Abstract

Abstract Culture is an important part of the life of a church, especially in Indonesia. Everything related to culture will remain relevant in everyday life and when talking about culture it must be applied that culture is not only silent and will continue to move according to the times. However, on the other hand, certain church cultures are still adhered to by historical heritage or ethnicity, where this condition forms a high barrier and wall between religion and popular culture. In this paper the author will discuss religious practices in the Indonesian context and how popular culture in Christianity is also Islam. This paper will also look at how popular culture has had an impact on religious practice in Indonesia, as well as how popular culture has actually become a medium for developments in religious practice, whether in worship or in religions that adhere to that religion. Abstrak Budaya menjadi bagian penting dalam hidup bergereja terkhusus di Indonesia. Segala hal yang terkait dengan budaya akan tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari dan kalau berbicara budaya popular maka harus dipahami bahwa budaya itu tidak hanya diam dan akan terus bergerak sesuai dengan perkembangan jaman. Namun di sisi lain budaya gereja tertentu masih terpaut kepada warisan sejarah atau juga suku di mana kondisi ini yang terkesan memberi sekat dan dinding yang tinggi antara agama dan budaya populer. Dalam tulisan ini penulis akan membahas praktek ke-agamaan dalam konteks Indonesia dan bagaimana budaya populer terlibat di dalamnya baik agama Kristen juga agama Islam. Tulisan ini juga akan melihat bagaimana dampak yang diberikan oleh budaya populer terhadap praktek keagamaan di Indonesia, juga bagaimana budaya populer tersebut justru menjadi media bagi perkembangan dalam praktek keagamaan, baik itu dalam ibadah atau juga di dalam pengajaran kepada umat yang menganut agama tersebut.
KASIH SANG GEMBALA MEMELIHARA SEMUA DOMBA: Memaknai Domba dari Kandang yang Lain dalam Injil Yohanes 10:16 Adhika Tri Subowo
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.244 KB)

Abstract

AbstractLiving a life in the midst of diversity is not always easy. Sometimes the temptation to be exclusive occurs, to think of ourselves as better and right while others are wrong. As a result the other groups were excluded. Through the effort to interpret the sheep from another cage as contained in John 10:16 we will see that it turns out the Shepherd takes care of all the sheep, including sheep from another cage. To elaborate on this theme, the author will begin by describing the meaning of the shepherd's metaphor and then raising the reinterpretation of John 10:16 so that the text can be used as a basis in an effort to embrace 'the other'. Abstrak Menjalani kehidupan di tengah keberagaman tidak selalu mudah. Terkadang godaan untuk menjadi eksklusif terjadi, menggap diri kita lebih baik dan benar sedangkan yang lain salah. Alhasil kelompok yang lain tersisih dan bahkan disisihkan. Melalui upaya memaknai domba dari kandang yang lain sebagaimana terdapat dalam Yohanes 10:16 kita akan melihat bahwa ternyata Sang Gembala memelihara semua domba, termasuk domba dari kandang yang lain. Untuk mengelaborasi tema ini, penulis akan memulai dengan menjabarkan makna dari metafora gembala dan kemudian mengangkat reinterpretasi terhadap Yohanes 10:16 sehingga teks dapat dijadikan dasar dalam upaya merangkul ‘sang liyan’.
MENGENAL PEMIKIRAN YVES CONGAR: Sebuah Refleksi Ekumenis dalam Konteks Gereja Kristen Jawa Yudo Aster Daniel
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.167 KB)

Abstract

AbstractTheology is a fact of life in which it must respond to the times, and therefore always needs reflection and renewal. One of them is to build relations between the Catholic and Christian churches in the ecumenical movement. One of the Catholic figures, as well as an early pioneer of the ecumenical movement, was Yves Congar. Even because of the movement, Congar had received ecclesiastical tactics from the Vatican Rome. The ecclesiological view that underlies the Congar ecumenical movement focuses on the divine and human dimensions of the church, which over time has an impact on the tension between the two. For Congar the core of ecclesiology is Ecclesia de Trinitate, Ecclesia ex Hominibus, and Ecclesia in Christo. Congar's theological view has similarities with the teachings in Pokok-pokok Ajaran Gereja Kristen Jawa (PPA GKJ). Recognizing Congar's ecumenical thoughts and reflecting on the context of the GKJ will enrich insight into the ecumenical movement in Indonesia. Abstrak Teologi adalah kenyataan hidup di mana ia mesti menyikapi perkembangan zaman, dan karena itu selalu membutuhkan refleksi dan pembaruan. Salah satunya adalah dengan membangun relasi antara gereja Katolik dan Kristen dalam gerakan ekumenisme. Salah satu tokoh Katolik, sekaligus perintis awal dari gerakan ekumenis, adalah Yves Congar. Bahkan karena gerakan itu, Congar pernah mendapat siasat gerejawi dari Vatikan Roma. Pandangan eklesiologi yang mendasari gerakan ekumenis Congar berfokus pada dimensi ilahi dan insani dalam gereja, di mana seiring perkembangan zaman berdampak pada ketegangan antara keduanya. Bagi Congar inti dari eklesiologis adalah Ecclesia de Trinitate, Ecclesia ex Hominibus, dan Ecclesia in Christo. Pandangan teologis Congar ini memiliki kemiripan dengan ajaran dalam Pokok-pokok Ajaran Gereja Kristen Jawa (PPA GKJ). Mengenali pemikiran ekumenis Congar dan merefleksikan dalam konteks GKJ akan memperkaya wawasan mengenai gerakan ekumenisme di Indonesia.
PENERIMAAN DAN KESELAMATAN: Sebuah Perbandingan Konsep Penerimaan dan Keselamatan S. Mark Heim dengan YIPC Winda Patrika Embun Sari
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.712 KB)

Abstract

AbstractIndonesia has a diversity of languages, ethnicities, religions and traditions. This diversity is not free from conflict. Indonesia is very vulnerable to so-called racism because of differences in dogmatics and differences in the perspective of each individual. Mark Heim sees religious differences as something unique and differences should be a unifying human relationship with one another. There is always something good in differences so that through these differences will create a dialogue that enriches each other. Heim believes that a religion must have a goal, namely salvation, but to achieve this of course everyone takes a different path. For Heim, these differences become a bridge to know and learn about the beauty of God's presence outside of Christianity. The concept of acceptance becomes a very important emphasis for Heim. This paper will talk about the concept of acceptance in religious differences by Mark Heim by looking at the concept of acceptance and salvation by an interfaith community. Abstrak Indonesia memiliki keberagaman bahasa, suku, agama dan tradisi. Keberagaman tersebut tidak luput dari konflik. Indonesia sangat rentan dengan yang disebut rasisme karena perbedaan dogma dan perbedaan perspektif setiap individunya. Mark Heim melihat perbedaan agama sebagai sesuatu yang unik dan seharusnya perbedaan menjadi pemersatu hubungan manusia yang satu dengan yang lain. Selalu ada sesuatu yang baik dalam perbedaan sehingga melalui perbedaan tersebut akan tercipta suatu dialog yang saling memperkaya satu sama lain. Heim meyakini bahwa dalam suatu agama pasti memiliki tujuan yaitu keselamatan, namun untuk mencapai hal tersebut tentu saja setiap orang menempuh jalan yang berbeda-beda. Bagi Heim perbedaan tersebut menjadi jembatan untuk mengenal dan belajar akan keindahan kehadiran Ilahi di luar Kristiani. Konsep penerimaan menjadi penekanan yang sangat penting bagi Heim. Tulisan ini akan berbicara mengenai konsep penerimaan dalam perbedaan agama oleh Mark Heim dengan melihat konsep penerimaan dan keselamatan oleh sebuah komunitas lintas iman.
YESUS DALAM IHYA' ULUM AD-DIN: Membaca Konteks Perkataan-Perkataan Yesus dalam Ihya' Ulum Ad-Din yang Beresonansi Sangat Kuat dalam Injil Kanonik Sukarno
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.631 KB)

Abstract

AbstractThe name “Jesus” in Ihya' Ulum ad-Din is mentioned 161 times, some related to the phrase “Jesus said” is mentioned 75 times and selected 5 which resonate very strongly in the Canonical Gospels. Studied to read the context that the guidance teacher (Sufi) limits his teaching that is appropriate to understanding and beneficial to students, the scholars of the world who tend to hold lies and the scholars of the hereafter who tend to hold the truth, dress as a sign of arrogance or humility, the wealth necessary to live and the greatness necessary to influence the heart, and surrender as dependence on God. Christians who read Ihya' Ulum ad-Din can appreciate, enrich and transform themselves by providing teachings according to the needs of the congregation, do not prioritize in enjoying worldly pleasures, dress modestly and elegance, wealth necessary for the necessities of life, and surrender to God.   Abstrak Nama “Yesus” dalam Ihya' Ulum ad-Din disebut 161 kali, beberapa berkaitan dengan kalimat “Yesus berkata” disebut 75 kali dan dipilih 5 yang beresonansi sangat kuat dalam Injil Kanonik. Dikaji untuk membaca konteksnya bahwa guru pembimbing (Sufi) membatasi pengajarannya yang sesuai dengan pemahaman dan bermanfaat bagi pelajar, ulama dunia yang cenderung memegang kebohongan dan ulama akhirat yang cenderung memegang kebenaran, pakaian sebagai tanda keangkuhan atau kerendahan hati, kekayaan yang perlu untuk hidup dan keagungan yang perlu untuk mempengaruhi hati, dan berserah diri sebagai kebergantungan kepada Allah. Umat Kristen yang membaca Ihya' Ulum ad-Din dapat mengapresiasi, memperkaya dan mentransformasi diri dengan memberikan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan jemaat, tidak mengutamakan dalam menikmati kesenangan duniawi, berpakaian yang  pantas dan sederhana, kekayaan yang perlu untuk kebutuhan hidup, dan berserah kepada Allah.