cover
Contact Name
Andreas Kristianto
Contact Email
andreassiwi1305@gmail.com
Phone
+6281226747122
Journal Mail Official
jurnal.marturia@gmail.com
Editorial Address
Jln. Kedawung 137, Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
ISSN : 23382627     EISSN : 29866111     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal MARTURIA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta secara berkala (bulan Juni dan Desember). Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah di bidang disiplin teologi dan pendidikan agama Kristen baik dalam bentuk artikel maupun resensi buku. Semua artikel yang masuk akan dinilai kelayakannya oleh mitra bestari secara tertutup (blind review process). Artikel yang diserahkan harus merupakan karya asli penulis yang belum pernah diterbitkan di jurnal atau penelitian lainnya dalam bahasa apapun. Nama Marturia diambil dari bahasa Yunani: martyria, yang berarti bersaksi. Seperti halnya arti dari Marturia sendiri, jurnal ini diharapkan dapat menjadi saksi kemuliaan Tuhan dalam dinamika akademik dan teori praksis.
Articles 46 Documents
Kekerasan Verbal terhadap Hamba Tuhan (Pendeta): Dalam Perspektif Etika Kristen Jonson Marpaung; Rencan Carisma Marbun
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Verbal violence is a form of violence that has not been very popular in the public sphere but has a tremendous impact when compared to the impact of other violence that is often exposed in the public sphere. Almost all lines of human life and relationships with others often face and even receive verbal violence. It is no exception for a servant of God (Pastor) who deals with the congregation and church institutions. The treatment received from the congregation served and even from the leadership of church institutions often hurts hearts and feelings. In this situation, a servant of God or pastor must keep in mind his duty and calling which must be ready to accept everything, for the sake of service to God. So, the Servant of God or Pastor who is God's messenger entrusted by God to carry out God's mandate on this earth must remain firm in His calling. The mandate or command is to make disciples of all mankind. There is no reason for a servant of God or a pastor to resign just because of the situation at hand. Because, whether the time is good or not, we must be ready to preach His salvation. In his duties and calling, a servant of God (pastor) is entrusted to serve God's people in His church. As the leader of the people, a servant or pastor must make Jesus Christ as the head. God appoints His servants to guard, guide, and teach the people to live according to God's will. Faithfulness to God is the strength of the servants in carrying out the task of service. Even in the task of service, pastors often face challenges, obstacles, and even great suffering. The power of the world is often an enemy for servants of God. However, in the midst of this struggle, servants of God must be strong and courageous. So faithfulness in serving God's work is the character of the servant required from God from the beginning of serving until reaching the finish line. Abstrak Kekerasan verbal merupakan salah satu bentuk kekerasan yang selama ini tidak terlalu populer di ruang publik, namun memiliki dampak yang luar biasa bila dibandingkan dengan dampak dari kekerasan-kekerasan lain yang sering dipaparkan di ruang publik. Hampir di semua lini kehidupan umat manusia dan hubungannya dengan sesama sering menghadapi dan bahkan menerima perlakuan kekerasan secara verbal. Tidak terkecuali bagi seorang hamba Tuhan (Pendeta) yang berhubungan dengan para jemaat dan institusi gereja. Perlakukan yang didapat dari para jemaat yang dilayani dan bahkan dari pimpinan institusi-institusi gereja sering sekali menyakiti hati dan perasaan. Dalam situasi tersebut seorang hamba Tuhan atau pendeta haruslah tetap mengingat tugas dan panggilannya yang harus siap sedia menerima segalanya, demi pelayanan kepada Tuhan. Maka, Hamba Tuhan atau Pendeta yang adalah utusan Allah yang dipercayakan Allah untuk menjalankan mandat Allah di bumi ini harus tetap berpegang teguh dalam panggilanNya. Adapun mandat atau perintah itu adalah untuk menjadikan seluruh umat manusia menjadi muridNya. Tidak ada alasan bagi seorang hamba Tuhan atau seorang pendeta untuk undur diri hanya karena situasi yang dihadapi. Sebab, baik atau tidak waktunya maka kita harus siap sedia untuk memberitakan keselamatanNya. Dalam tugas dan panggilannya seorang pelayan Tuhan (pendeta) dipercayakan untuk melayani umat Tuhan di dalam GerejaNya. Sebagai pemimpin umat maka seorang Pelayan atau Pendeta harus menjadikan Yesus Kristus sebagai kepala. Allah yang mengangkat para hambaNya untuk menjaga, menuntun dan mengajar umat agar tetap hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kesetiaan kepada Tuhan adalah kekuatan para hamba dalam menjalankan tugas pelayanan. Meskipun dalam tugas pelayanan, para pendeta sering menghadapi tantangan, hambatan, bahkan penderitaan yang sangat hebat. Kekuatan dunia sering menjadi musuh bagi hamba Tuhan. Namun di tengah pergumulan itu hamba Tuhan harus kuat dan berani. Sehingga kesetiaan dalam melayani pekerjaan Allah merupakan karakter pelayan yang dituntut dari Allah sejak awal mengabdi hingga mencapai garis finis.
SEKOLAH MINGGU SEBAGAI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN KONTEKSTUAL DI INDONESIA Ongkowijoyo, Billy Amos Daud Putra
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63669/marturia.v5i1.51

Abstract

Pendidikan agama Kristen memainkan peran penting dalam pembentukan karakter dan mentalitas generasi Alpha di Indonesia. Meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program pendidikan, tantangan literasi dan tingginya angka kriminal di kalangan anak-anak tetap ada. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan penguraian dari berbagai literatur dan informasi yang kredibel, serta analisis melalui pemikiran Paulo Freire. Pendekatan ini bertujuan untuk menghasilkan diskursus yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga menghasilkan praksis dalam pendidikan agama Kristen kontekstual di Indonesia. Penanaman Firman Tuhan melalui pendidikan yang terstruktur dan melibatkan pendidik berpengetahuan Alkitabiah dapat membentuk karakter dan pola pikir generasi Alpha. Hal ini tidak hanya membentuk spiritualitas, tetapi juga kesadaran sosial yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan agama Kristen yang kontekstual sangat penting untuk membekali generasi Alpha dengan nilai-nilai Kristiani yang relevan dengan tantangan zaman.
TRAGEDI DI KIBROT-TAAWA: TAFSIR SOSIO-EKOLOGI TERHADAP TEKS BILANGAN 11:31-35 SEBAGAI KRITIK TERHADAP PERILAKU KONSUMERISME DAN EKSPLOITASI L. K., Geovanny Geraldy
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63669/marturia.v5i1.52

Abstract

Artikel ini menganalisis teks Bilangan 11:31-35 dengan pendekatan tafsir sosio-ekologi untuk mengkritik perilaku konsumerisme dan eksploitasi terhadap sumber daya alam. Dalam teks tersebut, orang Israel yang kelaparan di Padang Gurun menginginkan makanan yang lebih baik, yang kemudian diberikan oleh Tuhan berupa burung puyuh. Namun, keinginan mereka yang tidak terkendali mengarah pada kemarahan Tuhan. Penelitian ini menyoroti dampak dari kecenderungan manusia untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya. Tafsir sosio-ekologis ini menekankan pentingnya kesadaran terhadap keterikatan manusia dengan alam dan hewan, serta perlunya perubahan paradigma untuk mencegah kerusakan lingkungan. Melalui perspektif ini, teks ini mengajukan kritik terhadap pola pikir manusia sebagai penguasa alam dan mendorong perlindungan terhadap hak hidup makhluk lain.
PANGGILAN HERMENEUTIS PAUL RICOEUR TERHADAP EDUKASI DAN ADVOKASI UNTUK ORANG DENGAN DISABILITAS PSIKOSIAL Herlina, Elizabeth Widya
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengelaborasi konsepsi tentang pribadi dengan disabilitas psikososial dari lanskap filosofis dan teologis yang mempersoalkan akseptasi, aksesibilitas, dan normalitas. Bagi orang dengan disabilitas psikososial, kondisi mereka distigmatisasi sebagai “orang gila” dan segera dikaitkan dengan gangguan roh jahat atau keterbelakangan mental secara neurologis. Dengan mempertimbangkan hal itu, tulisan ini menawarkan pertimbangan dan pendekatan hermeneutis Paul Ricoeur mengenai idem dan ipse identity yang dikaitan dengan disabilitas psikososial untuk menggagas edukasi dan advokasi bagi masyarakat dengan memunculkan identitas yang merasa bertanggung jawab dan bersimpati. Edukasi dan advokasi memberikan gagasan untuk menentang diskriminasi dan perasaan paranoid terhadap pribadi dengan disabilitas psikososial dengan landasan pikir memanusiakan manusia yang serupa dengan Gambar Allah dengan kasih dan menyahabati realitas yang tak terlihat, sehingga membuat identitas diri semakin relevan. Sehingga, melalui edukasi dan advokasi diberikan sebuah atensi dan akomodasi bagi pribadi bahkan komunitas dengan disabilitas psikososial.
TATA LITURGI YANG BERUBAH DAN MENGUBAH Noegroho, Seno Adhi
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63669/marturia.v5i1.54

Abstract

Tata liturgi mengalami perubahan seiring waktu, dan artikel ini menelusuri perjalanan pembentukannya dalam gereja, mulai dari mitos dan ritual sebagai dasar, hingga dinamika liturgi dari gereja mula-mula hingga kini. Melalui studi pustaka, penelitian ini melakukan tiga langkah: penelusuran referensi, seleksi literatur, dan analisis bagian-bagian terkait. Hasilnya menyimpulkan bahwa perubahan tata liturgi tidak hanya menyesuaikan konteks zaman, tetapi juga mengubah atmosfer peribadahan. Pada gereja mula-mula, ibadah bersifat cair dan partisipatif, sementara di abad pertengahan menjadi kaku dan sakral. Era reformasi dan modern membawa upaya kembali ke akar ibadah yang lebih sederhana dan terpusat pada Firman. Perubahan ini menunjukkan bahwa tata liturgi tidak hanya merespons zaman, tetapi juga membentuk pengalaman spiritual jemaat.
PENDEKATAN SAINS SOSIAL DAN IDENTITAS SOSIAL DALAM PEMBACAAN INJIL Tampubolon, Yohanes Hasiholan
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63669/marturia.v5i1.58

Abstract

Artikel ini membahas pendekatan Sains Sosial dan Identitas Sosial dalam membaca Injil, yang bertujuan untuk memberikan wawasan baru dalam penafsiran teks-teks suci. Dengan melihat konteks budaya, sosial, dan historis, artikel ini menjelaskan bagaimana pendekatan ini dapat membantu pembaca memahami dinamika identitas kelompok yang dihadapi oleh para tokoh dalam Injil. Meskipun pendekatan ini menawarkan perspektif yang mendalam, artikel juga mengakui kritik terhadap potensi penyederhanaan yang dapat terjadi melalui penggunaan model Sains Sosial. Penelitian ini mengaplikasikan metode multidisiplin, termasuk analisis etnografi, analisis teks, dan penggunaan model teoritis dari berbagai disiplin ilmu untuk menggali konteks sosial yang melatarbelakangi narasi Injil. Melalui pendekatan Identitas Sosial, artikel ini mencerminkan bagaimana teks-teks Injil tidak hanya mencerminkan situasi sosial pada zamannya tetapi juga memengaruhi pembentukan identitas kelompok di antara para pembacanya. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih kompleks mengenai interaksi sosial, identitas, dan makna dalam konteks Injil.