cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
ANALISIS KUALITAS AIR TANAH AKIBAT PENGARUH SUNGAI KLAMPOK YANG TERCEMAR LIMBAH INDUSTRI DI KECAMATAN BERGAS SEMARANG JAWA TENGAH (Analysis of Groundwater Quality Due to Effect Klampok River that was Contaminated Industrial Waste in Bergas Semarang Central Java) Sepridawati Siregar; Desi Kiswiranti
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 1 (2019): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.39962

Abstract

AbstrakSungai Klampok mengalir melalui Kecamatan Bergas dan sekelilingnya terdapat beberapa industri sehingga mengakibatkan sungai tersebut tercemar karena menjadi badan penerima air limbah. Akibat penurunan kualitas air Sungai Klampok akan berimbas pada penurunan kualitas air tanah yang digunakan oleh penduduk sekitar sungai tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air tanah yang berada di sekitar Sungai Klampok sebagai akibat adanya pengaruh beban pencemaran oleh air limbah industri berdasarkan Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang persyaratan kualitas air bersih. Lokasi pengambilan sampel air sungai dibagi menjadi 3 stasiun (LK1, LK2 dan LK3) sedangkan untuk sampel airtanah dari rumah-rumah penduduk dilakukan pada 6 titik yaitu 3 titik di daerah utara dari Sungai Klampok (U1,U2, U3) dan 3 titik di daerah selatan dari Sungai Klampok (S1,S2, S3). Pengambilan sampel dilakukan pada musim kemarau. Dari hasil uji kualitas air sungai, pencemaran yang terjadi pada air sungai Klampok masuk dalam kategori tercemar ringan-sedang. Sedangkan hasil uji kualitas air tanah masih berada di bawah baku mutu yang disyaratkan oleh Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990, sehingga penurunan kualitas air sungai Klampok tidak mempengaruhi kualitas air tanah di sekitar sungai tersebut. AbstractThe Klampok River flows through the Bergas Subdistrict and there are a number of industries around it, causing the river to become polluted because it becomes the body of the recipient of wastewater. As a result of the decline in the quality of the water in the Klampok River, it will impact on the quality of groundwater used by residents around the river. This study aims to determine the quality of groundwater around the Klampok River as a result of the influence of pollution load by industrial wastewater based on Permenkes No. 416 / MENKES / PER / IX / 1990 concerning requirements for clean water quality. The location of river water sampling is divided into 3 stations (LK1, LK2, and LK3) while for groundwater samples from residential houses is carried out at 6 points, namely 3 points in the northern area of Klampok River (U1, U2, U3) and 3 points in the area south of the Klampok River (S1, S2, S3). Sampling is done in the dry season. From the results of the test of river water quality, pollution that occurs in Klampok river water is categorized as mild-moderate polluted. While the results of groundwater quality testing are still below the quality standards required by Permenkes No. 416 / MENKES / PER / IX / 1990 so that the decline in the water quality of the Klampok river does not affect the quality of groundwater around the river.
KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN PENAMBANGAN PASIR DI SUNGAI PROGO (Macrozoobenthos Community in Sand Mining Area of Progo River) Auladina Syafiya; Suwarno Hadisusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 2 (2019): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.40255

Abstract

AbstrakSungai memiliki peranan penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, di antaranya adalah sebagai habitat bagi komunitas makrozoobentos dan pemanfaatan material berupa pasir dan batu sebagai bahan bangunan. Sungai Progo merupakan salah satu sungai yang hampir di sepanjang sungainya terdapat aktivitas penambangan pasir. Jika aktivitas ini dilakukan terus menerus dalam jumlah banyak dan tanpa pengawasan yang baik dapat menyebabkan terjadinya erosi dan degradasi serta sedimentasi pada bagian-bagian tertentu sungai. Maka dari itu dilakukan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh aktivitas penambangan pasir terhadap distribusi dan kemelimpahan komunitas makrozoobentos di Sungai Progo, serta Functional Feeding Group (FFG) yang paling melimpah dan parameter fisiko-kimia yang memengaruhinya. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu mencuplik dan preparasi sampel makrozoobentos, identifikasi sampel, dan pengukuran parameter fisiko-kimia. Aktivitas penambangan pasir di Sungai Progo berpengaruh secara tidak langsung terhadap makrozoobentos, yaitu dengan menyebabkan adanya erosi dan degradasi di kawasan penambangan pasir serta sedimentasi di bagian hilir. FFG makrozoobentos di Sungai Progo yang paling melimpah adalah tipe scraper dan collector. Berdasarkan analisis regresi dan korelasi Pearson didapatkan hasil bahwa fosfat berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian hulu Sungai Progo, intensitas cahaya berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian tengah Sungai Progo, dan kecepatan arus berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian hilir Sungai Progo. AbstractRiver has an important role for human and other organisms, among them are as habitat of macrozoobenthos community and the utilization of the material, such as river sand and gravel for building material. Progo River is one of rivers which have sand mining activities almost all along the river. If this activity being done continuously, in a big amount and without a good supervision, it could lead to erosion, degradation and sedimentation in some specific parts. Therefore, this research has an aim to study the effects of sand mining activity towards the distribution and the abundance of macrozoobenthos community in Progo River, and also to study which Functional Feeding Group (FFG) is the most abundant and the physic-chimic parameter that affecting them. This research was conducted in three steps, sampling and preparation of macrozoobenthos’s sample, sample’s identification, and the measurement physicochemical parameter. Sand mining activity in Progo River effect indirectly towards macrozoobenthos by causing erosion and degradation in sand mining area as well as sedimentation in downstream. The most abundant FFG of macrozobenthos in sand mining area of Progo River are scraper and collector. Based on regression and Pearson correlation analysis the results show that phosphate correlated positively against the density of macrozoobenthos in the headwaters of Progo River, light intensity correlated positively against the density of macrozoobenthos in the midstream of the Progo River, and current velocity correlated positively against the density of macrozoobenthos in the downstream of the Progo River.
PERAN KARAKTERISTIK, PENGETAHUAN DAN SIKAP PEKERJA TERHADAP PRAKTIK PENGELOLAAN LIMBAH DI INSTALASI KARANTINA HEWAN (Characteristics, Knowledge and Attitude of Workers Regarding Waste Management Practices in Animal Quarantine Installations) Nuryani Zainuddin; Mohamad Samsul Maarif; Etty Riani; Susan Maphilindawati Noor
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 27, No 1 (2020): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.40808

Abstract

AbstrakLimbah Instalasi Karantina Hewan (IKH) ruminansia besar dapat menjadi sumber penularan penyakit yang mungkin terbawa akibat lalu lintas ternak serta dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sejauh mana karakteristik, pengetahuan dan sikap petugas IKH berpengaruh terhadap praktik pengelolaan limbah di IKH. Responden adalah petugas yang melakukan pengelolaan limbah di IKH. Hubungan dan tingkat pengaruh langsung dan tidak langsung pada variabel yang diamati dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan karakteristik, pengetahuan dan sikap petugas IKH berpengaruh sebesar 68,85%. Pengaruh tersebut digambarkan sebagai pengaruh langsung sebesar 22,76% dan tidak langsung sebesar 46,09% terhadap praktik pengelolaan limbah di IKH. Pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan praktik pengelolaan limbah di IKH. Sikap berpengaruh signifikan terhadap praktik pengelolaan limbah di IKH. Pengelolaan limbah di IKH dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan pengetahuan melalui pelatihan sistem manajemen lingkungan sesuai ISO 14001:2015, pelatihan AMDAL dan UKL/UPL serta pengetahuan mengenai risiko penyakit yang mungkin terbawa oleh limbah IKH.AbstractWaste from large ruminant animal quarantine installations (IKH) can be a source of disease transmission that may be carried away due to livestock traffic and can cause environmental problems. The purpose of this study was to analyze the characteristics, knowledge and attitudes of IKH officers to influence the practice of waste management in IKH. Respondents were officers who carry out waste management in IKH. The relationship and magnitude of direct and indirect effects on observed variables were analyzed using path analysis. The results showed that overall the characteristics, knowledge and attitudes of IKH officers had an effect of 68.85%. The influence is described as a direct influence of 22.76% and indirectly by 46.09% on the practice of waste management in IKH. The practice of waste management in IKH is influenced by significant knowledge and attitudes. Attitudes are influenced by knowledge of waste management in IKH. Waste management in IKH can be improved by increasing knowledge through training in environmental management systems in accordance with ISO 14001: 2015, training on AMDAL and UKL / UPL as well as knowledge about the risk of diseases that may be carried out by IKH waste.
PERENCANAAN INFRASTRUKTUR PERSAMPAHAN TERKAIT MASIFIKASI INDUSTRI KREATIF DAN INDUSTRI DAUR ULANG SKALA KOTA DI KECAMATAN SEBERANG ULU 2, PALEMBANG (Planning Assessment of Waste Infrastructure About Massification of Creative and Recycle Industry on City Scale in Seberang Ulu 2 District, Palembang) Sitti Sarifa Kartika Kinasih; Yuwono Aries
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 27, No 2 (2020): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.41040

Abstract

AbstrakData-data spider web per kawasan kumuh dalam dokumen Slum Improvement Action Plan (SIAP) 2015-2019 Kota Palembang menunjukkan bahwa permasalahan persampahan merupakan masalah yang hampir dominan dibandingkan 6 indikator lainnya. Untuk itu diperlukan upaya penanganan sampah secara lebih strategis dan masif supaya bermanfaat bagi banyak pihak. Penelitian ini bertujuan mengkaji perencanaan infrastruktur persampahan perkotaan yang terbaik untuk masyarakat dan lingkungan. Analisis tata guna lahan berguna memetakan perkiraan lahan yang masih dapat digunakan untuk membuat bank sampah, pusat daur ulang, sekaligus pusat industri kreatif. Analisis statistik untuk mengetahui respon masyarakat tentang pengelolaan sampah dengan pemilahan dari sumbernya dengan menggunakan sampel sebanyak 377 responden berdasarkan pada tabel Krejcie, dan analisis deskriptif induktif dengan menggunakan data wawancara in depth terhadap stakeholder terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bank sampah unggul daripada PLTSa karena dapat mendukung circular economy, cenderung menggunakan teknologi bersih, dan dapat membuka lapangan kerja jauh lebih banyak. Manajemen pengelolaan sampah yang terbaik menurut semua perwakilan pemerintah lokal juga adalah bank sampah, daur ulang, dan pengomposan. Terdapat potensi 3 pasar tradisional di Kecamatan Seberang Ulu 2 Palembang yang apabila direnovasi lantai atasnya dapat dimanfaatkan untuk bank sampah. Jumlah TPS ada 3 (berpotensi untuk direvitalisasi menjadi bank sampah). Hal ini penting untuk menjaga estetika kota. Terdapat 41,1% warga yang menyebutkan bahwa kesulitan memilah sampah adalah kurangnya sarana. Masyarakat mendukung bank sampah di lingkungan mereka, 64,5% setuju; 35,5% cukup setuju, 0% tidak setuju. Masyarakat juga seluruhnya setuju memilah sampah apabila ada bank sampah yang terjangkau dari rumah.AbstractWebspider data per slum area in Slum Improvement Action Plan (SIAP) 2015-2019 Kota Palembang document shows that waste is a dominant problem compared to 6 other indicators. Therefore, waste management efforts are needed in a more strategic and massive way. This study aims to examine the best urban waste infrastructure planning for communities and the environment. The land-use analysis is useful in mapping the estimated land that can still be used to create garbage banks, recycling centers, as well as creative industrial centers. SPSS analysis to find out public response about waste management by sorting from source using 377 respondents as samples based on Table Krejcie, and inductive descriptive analysis using interview in depth data to relevant stakeholder. This research showed that waste banks better than PLTSa because it tend to use clean technology and can open up more jobs. The best waste management according to all local government representatives is waste bank, recycling, and composting. There are 3 potential traditional markets in Seberang Ulu 2 District Palembang which if the upstairs being renovated can be used for garbage bank. The number of TPS (potentially to be revitalized into waste bank) are 3, this is important because to maintain the aesthetics of the city. There are 41.1% of residents said that the difficulty of sorting waste is lack of facilities. Communities support waste banks in their neighborhood, 64.5% agree; 35.5% quite agree, 0% disagree. Communities entirely agreed to sort out garbage if there is an affordable waste bank from house.
INFLUENCE OF NITRATE AND PHOSPHATE ON THE DISTRIBUTION AND ABUNDANCE OF RIPARIAN VEGETATION IN YOGYAKARTA CITY (Pengaruh Nitrat dan Fosfat pada Distribusi dan Kelimpahan Vegetasi Riparian Kota Yogyakarta) Suwarno Hadisusanto; Dwinda Mariska Putri; Raditia Nugraha; Muhammad Rifqi; Qisti Fauziyah; Riska Putri Asmawati; Annisa Mawarni; Firda Nabila Nur Azizah; Dinda Ayu Islami; Fitria Ratna Pratiwi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 27, No 1 (2020): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.41552

Abstract

AbstrakCity of Yogyakarta has three major streams, they are Winongo, Code and Gajahwong. These urban stream accept high input of nutrients throughout the year. Nutrients are in form of organic and non organic matters originated from domestic waste, factory waste, and hospital waste. Riparian vegetation directly respond to stream ecosystem changes. This research aim to learn distribution and abundance of riparian vegetation in Winongo, Code, and Gajahwong, number of species presence in each sampling site, physic-chemical parameters including air and soil temperatures, air and soil humidity, soil pH, light intensity, and NO3- and PO43- in water and riparian soil. In each station, samples were taken using 2x0.5 m plot with 10 replications in floodplain. There are three stations in each stream. Data collected was species number and names. Growth-form grass dominated in all stations. In Winongo the grass density are 1582 ind/10m2 (70%), Code 1697 ind/10m2 (81%) and Gajahwong 1432 ind/10m2 (70%). The most abundant grass were Paspalum sp. in Winongo they were 764 ind/10m2 and in Gajahwong 1103 ind/10m2. While Code was dominated by Panicum sp. they were 735 ind/10m2. Grass were quickly respond to high nutrient availability. High concentration of NO3- and PO43- trigger grass domination. Grass were known for their nutrient fixing behavior, therefore when Grass were most abundant, nutrient concentration decreased in each sampling station.AbstractKota Yogyakarta memiliki tiga sungai utama, yaitu sungai Winongo, Code dan Gajahwong. Sungai perkotaan ini membawa nutrien yang tinggi sepanjang tahun. Nutrien berupa bahan organik dan non organik ini berasal dari limbah domestik, limbah pabrik, dan limbah rumah sakit. Vegetasi riparian secara langsung merespon perubahan ekosistem sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sebaran dan kelimpahan vegetasi riparian di sungai Winongo, Code, dan Gajahwong, jumlah keberadaan spesies di setiap lokasi pengambilan sampel, parameter fisika-kimiawi meliputi suhu udara dan tanah, kelembaban udara dan tanah, pH tanah, intensitas cahaya, dan kadar NO3- dan PO43-  di air dan tanah riparian. Di setiap stasiun diambil sampel dengan menggunakan plot 2x0,5 m dengan 10 ulangan di dataran banjir. Ada tiga stasiun di setiap aliran. Data yang dikumpulkan adalah nomor dan nama spesies. Rerumputan berbentuk tumbuh mendominasi di semua stasiun. Di Winongo kerapatan rumput adalah 1582 ind / 10m2 (70%), Code 1697 ind / 10m2 (81%) dan Gajahwong 1432 ind / 10m2 (70%). Rerumputan yang paling melimpah adalah Paspalum sp. di Winongo seluas 764 ind / 10m2 dan di Gajahwong 1103 ind / 10m2. Sedangkan Code didominasi oleh Panicum sp. mereka 735 ind / 10m2. Rerumputan dengan cepat merespon ketersediaan hara yang tinggi. Konsentrasi NO3- dan PO43- yang tinggi memicu dominasi rumput. Rerumputan dikenal karena perilaku pengikat hara, oleh karena itu pada saat rumput paling melimpah, konsentrasi hara menurun di setiap stasiun pengambilan sampel.
KEMELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN ESTUARI PAYAU BONDAN CILACAP, JAWA TENGAH (The Abundance of Phytoplankton in the Brackish Estuary of Bondan, Cilacap, Central Java) Tjut Sugandawaty Djohan; Annisa Budyasih Ulul Azmi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 27, No 1 (2020): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.42323

Abstract

AbstrakKajian kemelimpahan fitoplankton di perairan estuari payau Bondan Cilacap telah dipelajari. Perairan Bondan merupakan perairan hutan bakau rusak dan dikoloni oleh semak dan liana bakau, padahal daun pohon bakau adalah sumber input nutrien utama untuk komunitas fitoplankton yang merupakan mata rantai pertama dalam jejaring makanan perairan hutan bakau. Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan dengan pencuplikan menggunakan modifikasi van Dorn 5 L dan merupakan komposit 20 L air dengan ulangan 5 kali. Kualitas perairan yang diukur meliputi kecepatan arus dan angin, suhu air dan udara, kelembaban udara, jeluk perairan dan jeluk Secchi, intensitas cahaya, turbiditas, salinitas, pH, NH4+, NO3-, PO43-, dan SO42-. Hasil menunjukkan bahwa cacah spesies dominan adalah fungsional grup diatom, akan tetapi cacah individunya sedikit. Sebaliknya, cacah individu algae koloni melimpah tetapi cacah spesiesnya sedikit, dan terjadi peledakan Aphanocapsa pulchra, 188.260 individu per 100 L. Peledakan ini karena perairan didominasi air tawar dan kerusakan hutan bakau. Peledakan A. pulchra mengindikasikan kualitas perairan hutan bakau Bondan buruk. AbstractThe abundance of phytoplankton in the brackish estuary of Bondan Cilacap have been studied. Bondan waters are setting in the disturbed mangrove ecosystem, which colonized by mangrove shrubs and lianas, whereas, the mangrove leaves are the main source of nutrient input for the phytoplankton community as the first link in the mangrove aquatic food web. Phytoplankton were sampled using a 5 L modification of van Dorn and a composite of 20 L of water with 5 replications. The water qualities measured include surface current, wind speed, water and air temperatures, air humidity, Secchi depth and water depth, light intensity, turbidity, salinity, pH, NH4+, NO3-, PO43-, dan SO42-. The results showed that the number of the dominant species was diatoms, but the number of the individuals was small. In contrast, the individual number of algae colony was abundant but the species number were few, and Aphanocapsa pulchra was blooming, 188,260 individuals per 100 L. This bloom was due to the waters were dominated by freshwater and the disturbed mangrove trees. The blooming of population of A. pulchra indicated that bad waters quality.
KOLONI BURUNG CANGAK ABU (Ardea cinerea LINNAEUS) DI AREA BANDAR UDARA INTERNASIONAL ADISUTJIPTO YOGYAKARTA (Grey Heron Colony (Ardea cinerea Linnaeus) in Yogyakarta Adisutjipto International Airport Area) Bambang Agus Suripto; Kukuh Oktarinaria
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 1 (2019): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.44378

Abstract

AbstrakBird strike merupakan peristiwa tabrakan antara burung baik secara berkelompok maupun tunggal dengan pesawat terbang pada proses penerbangan. Kejadian bird strike dapat menyebabkan kecelakaan ringan hingga serius yang sangat merugikan secara ekonomi Sekalipun telah dilakukan bird control secara maksimal berdasarkan panduan yang tersedia, namun bird strike juga terkadang masih terjadi di Bandar Udara Internasional Adisutjipto Yogyakarta (JOG) dengan tingkat kerusakan pesawat dari berat sampai ringan. Salah satu jenis burung penyebab kejadian bird strike di kawasan ini adalah cangak abu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besaran dan prilaku koloni burung cangak abu (Ardea cinerea) pengunjung area. Pengambilan data besaran koloni burung pengunjung dilakukan dengan penghitungan langsung (sensus); perilaku selama di lokasi antara lain waktu dan arah datang dan pergi serta aktivitas yang dilakukan burung cangak abu selama di area bandara diamati dan dicatat secara langsung. Semua data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan diperbandingkan burung lain dan hasil penelitian lain sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang mengapa koloni cangak abu tersebut menjadi pengunjung area bandara. Hasil penelitian menunjukkan. Keberadaan burung cangak abu di Bandara Adisutjipto berpotensi relatif terbesar menimbulkan kejadian bird strike dibanding burung jenis lainnya karena jumlah individu harian yang datang terbanyak, frekuensi kedatangannya tertinggi kedua setelah burung wallet, ukuran tubuhnya yang  relatif terbesar, terbang rendah, terbang pelan dan manuvernya juga lamban serta terbang menyilang landasan. Kondisi lingkungan area runway bandara yang luas, lapang terbuka, ditutupi hijauan rerumputan, berangin, aman dari predator, sepi jauh dari kegiatan manusia dan lokasinya yang strategis diantara zona roosting/nesting dan zona foraging/feeding menjadi lokasi yang ideal bagi koloni cangak abu untuk melakukan kegiatan harian loafing. Pengelola bandara JOG perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan peningkatan kehadiran burung cangak abu, dan perlu memperluas jangkauan pengelolaan populasi cangak abu di luar wilayah bandara.AbstractBird strike is a bird collision event both in groups and singly with an aircraft in the flight process. Bird strike events can cause minor to serious accidents which are very detrimental to the economy. Although maximum bird control has been carried out based on the available guidelines, bird strikes also sometimes occur at Yogyakarta Adisutjipto International Airport (YAIA) with the level of aircraft damage from heavy to light. One type of bird that causes the bird strike incident at YAIA is grey heron. The purpose of this study was to determine the dayly individual number and behavior of the grey heron (Ardea cinerea), visitors to the YAIA area. Data collection on visitor bird colony size is carried out by direct count (census); behavior while in YAIA, including the time and direction of coming and going, and what the grey heron did during the airport area was observed and recorded directly. All data obtained were analyzed descriptively-qualitatively and compared to other birds and other research results so that a clear picture of why the colony of grey heron can be obtained as a visitor to the YAIA area. The results showed. the presence of grey heron (Ardea cinerea) at Adisutjipto Airport has the highest relative potential to cause bird strike events compared to other types of birds because the highest number of daily individuals, the second highest frequency of arrival after a glossy swiftlet, the largest relative body size, low flight, slow flight and maneuvers are also slow and fly across the runway. The YAIA runway area, which is wide, open and covered with grasses, windy, safe from predators, is quiet away from human activities and a strategic location between the roosting / nesting zone and the foraging / feeding zone makes it an ideal location for grey heron colonies to conduct colony of grey heron daily loafing activities. In conclusion, the manager of YAIA needs to increase awareness of the possibility of increasing the presence of grey herons, and it is necessary to broaden the scope of management of the grey heron population outside the YAIA region.
ANALISIS MULTIKRITERIA DALAM PEMILIHAN SISTEM PEMROSESAN SAMPAH DI KABUPATEN KLUNGKUNG, PROVINSI BALI (Multicriteria Analysis for Selecting Waste Processing System in Klungkung Regency, Bali Province) Mochammad Chaerul; Elprida Agustina; I Made Wahyu Widyarsana
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 2 (2019): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.45358

Abstract

AbstrakBerbagai macam upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan lingkungan suatu kota yang bersih, diantaranya melalui penyediaan fasilitas sistem pemrosesan sampah sebagai tahapan akhir dalam pengelolaan sampah. Saat ini, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali memiliki 3 alternatif sistem pemrosesan sampah yang dapat diaplikasikan, yaitu: menggunakan tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) eksisting Regional Bangli, membangun TPA baru tersendiri untuk Klungkung, dan pemrosesan akhir di Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS). Penelitian ini bertujuan untuk memilih sistem pemrosesan sampah yang paling optimal dengan mempertimbangkan 4 kriteria, yaitu lingkungan, ekonomi, sosial dan teknis (analisis multikriteria) dengan menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Setiap kriteria memiliki beberapa sub kriteria yang dimintakan kepada 35 orang responden yang mewakili 5 institusi pemerintahan daerah terkait untuk dilakukan penilaian perbandingan berpasangan. Penilaian juga dilakukan untuk mengevaluasi setiap alternatif terhadap semua sub kriteria dan kriteria. Secara global, responden lebih memilih pencegahan pencemaran lingkungan (nilai bobot 0,16) sebagai sub kriteria terpenting dari total 13 sub kriteria yang tersedia. Urutan kriteria yang dianggap lebih penting adalah lingkungan (nilai bobot 0,543), sosial (0,181), ekonomi (0,146) dan teknis (0,130). Untuk alternatif pengolahan sampah di fasilitas TOSS dianggap yang paling optimal (total nilai 0,47) disusul TPA Regional Bangli (0,28), terakhir TPA baru (0,25). Suatu alternatif sistem pemrosesan sampah dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing harus dipilih yang paling dapat diterima oleh berbagai stakeholder terkait sehingga diharapkan dapat menjadi bagian dari suatu sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dari suatu kota.AbstractIn order to create a city clean, efforts are taken by government including provision of waste processing system facility as part of waste management system. Recently, Klungkung Regency, Bali Province has 3 alternatives of waste processing system to be applied, namely: utilizing the existing regional final disposal site (TPA) of Bangli, building a new TPA facility dedicated for Klungkung area only, and on-site waste processing facility (TOSS). The study aims to determine the most optimal of waste processing system by considering 4 criteria, namely environment, economic, social and technical (multicriteria analysis) with the help of Analytical Hierarchy Process (AHP). Each criterion having several sub criterions were assessed by 35 respondents representing 5 local government’s institutions by applying pair wise comparison. The asessement were also performed to evaluate the alternatives to the given criteria and sub criterion. In global, respondents preferred to put environmental pollution prevention (weight of 0.16) as the most important among total 13 sub criterions available. Among the criteria, environment (weight of 0.543) was more prioritized than social (0.181), economic (0.146) and technical (0.130) aspects. Other result showed that TOSS (total value of 0.47) was more preferred than existing TPA of Bangli (0.28), and new TPA of Klungkung (0.25). An alternative of waste processing with its advantages and disadvantages should be chosen and acceptable by the related stakeholders, thus the facility becomes part of sustainable waste management system in a city.
ISOLASI BAKTERI RESISTENSI MERKURI DARI LIMBAH PENAMBANGAN EMAS KABUPATEN BURU, MALUKU (Isolation of Mercury Resistance Bacteria from Gold Mining Waste in Buru District, Maluku) Rosita Mangesa; Kasmawati Kasmawati
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 27, No 1 (2020): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.47864

Abstract

AbstrakPulau Buru merupakan salah satu pulau penambangan emas dan banyak dilakukan secara illegal dengan melibatkan penggunaan merkuri untuk alat bantu dalam proses ekstraksi emas melalui proses amalgamasi. Merkuri merupakan bahan kimia yang berbahaya dan bersifat toksik bagi manusia dan juga lingkungan, dan dampak dari penggunaan merkuri ini telah dirasakan oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri yang resisten terhadap merkuri sehingga dapat digunakan dalam proses bioremediasi. Penelitian ini merupakan penelitian skala laboratorium dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu dari kedua lokasi pengambilan sampel diperoleh 17 isolat dengan morfologi yang berbeda-beda serta dari ke-17 isolat tersebut resisten terhadap merkuri.AbstractBuru Island is one of the gold mining islands and much of them are illegally that used mercury in gold extraction using uses mercury. Mercury is a chemical that is harmful and toxic to humans as well as the environment, and recently the impact of mercury use has been found by the local community. This study aims to obtain bacteria that are resistant to mercury so that it can be used in the bioremediation process. This research is a laboratory scale research and analyzed descriptively. The results of this study, namely from the two sampling locations obtained 17 isolates with different morphologies and from the 17 isolates were resistant to mercury.
PERAN TUMBUHAN BAWAH DALAM KESUBURAN TANAH DI HUTAN PANGKUAN DESA PITU BKPH GETAS (The Role of Undergrowth Species for Soil Fertility in Hutan Pangkuan Desa Pitu BKPH Getas) Frita Kusuma Wardhani; Ikhwanudin Rofi’i; Ambar Kusumandari; Sena Adi Subrata; Kristiani Fajar Wianti
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 27, No 1 (2020): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.49668

Abstract

AbstrakKehadiran tumbuhan bawah pada hutan tanaman jati dapat memberikan dampak positif yaitu, menjadi sumber keragaman hayati, menciptakan iklim mikro di lantai hutan, menjaga tanah dari bahaya erosi, serta dapat memelihara kesuburan tanah. Namun keberadaannya seringkali dianggap sebagai kompetitor bagi tanaman yang dibudidayakan. Hutan Pangkuan Desa (HPD) Pitu telah dikelola secara intensif oleh masyarakat yang dilakukan baik di bawah maupun di luar tegakan sehingga diduga mempengaruhi kondisi ekosistem di kawasan tersebut baik terhadap kelimpahan tumbuhan bawah maupun kualitas kimia tanahnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan bawah dan kualitas kimia tanah pada berbagai tipe penutupan lahan di HPD Pitu, BKPH Getas. Pengamatan dilakukan dengan menempatkan petak kuadrat berukuran 1 m x 1 m sebanyak 5 petak pada setiap unit lahan secara random. Hasil penelitian menunjukkan pada 4 (empat) penutupan lahan yaitu hutan, semak, ladang, dan pemukiman didominasi oleh jenis yang berbeda tetapi komposisi komunitas pada hutan dan semak memiliki similaritas yang relatif tinggi. Kualitas kimia tanah pada berbagai penutupan lahan tidak berbeda secara signifikan. Aktivitas masyarakat yang tinggi pada berbagai penutupan lahan diduga menjadi penyebab rendahnya hara pada berbagai tipe penutupan. Kondisi keharaan yang miskin hara khususnya pada kawasan hutan tentu akan memengaruhi produktivitas tegakan jati yang merupakan tanaman pokok di kawasan tersebut. AbstractThe presence of undergrowth on teak plantations can have a positive impact i.e, a source of biodiversity, creating a microclimate on the forest floor, keeping the soil from the erosion, and can maintain soil fertility. On the other hand, its existence is often regarded as a competitor for cultivated plants. Hutan Pangkuan Desa (HPD) Pitu has been intensively managed by communities undertaken either below or outside the stand so that it is suspected to affect the ecosystem condition in the region both to the abundance of plants and quality of soil chemistry. The purpose of this study was to determine the diversity of undergrowth species and soil chemical qualities in various types of land cover in HPD Pitu, BKPH Getas. The observation was done by placing a 1 m x 1 m square plot of 5 plots on each unit of land. The results showed that 4 (four) land closures i.e forests, shrubs, dry farmland, and settlements were dominated by different species but the community composition in forests and shrubs had a relatively high similarity. The soil chemical quality at various land coverings did not differ significantly. High community activity in various land closures is thought to be the cause of low nutrients in various types of closure. The nutrient-poor condition of the forest, especially in the forest area, will affect the productivity of teak stands, which are the staple crops in the area.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue