cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
UJI TOKSISITAS SODIUM SIANIDA (NaCN) PADA BEBERAPA SPESIES IKAN AIR TAWAR: REVIEW (The Toxicity Test of Sodium Cyanide (NaCN) to Some Species of Freshwater Fish: A Review) Siti Muyassaroh; Indah Rahmatiah Siti Salami
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 1 (2018): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23117

Abstract

AbstrakSianida telah digunakan sebagai senyawa toksik selama beberapa dekade untuk penangkapan ikan. Pengetahuan para nelayan yang rendah dapat menyebabkan kelebihan dosis penggunaan senyawa sianida. Hal ini dapat menyebabkan kematian ikan dan bahkan kerusakan terumbu karang. Sodium sianida tidak bersifat bioakumulasi dan biomagnifikasi berdasarkan nilai Kow-nya dan sebagian besar metabolit dikeluarkan melalui urin dalam bentuk thiosianat, SCN- (60-80%), 2-aminothiazoline-4-carboxylic acid (ATCA) atau 2-iminothiazolidine-4-carboxylic acid, ITCA (15%), serta gas HCN dan CO2. Biomarker organisme yang terpapar sianida yaitu kandungan CN-, SCN-,ATCA atau ITCA pada urin dan darah; perubahan histopatologis di limpa, hepato-renal dan ginjal; penurunan aktivitas enzim katalase pada jaringan hati, insang, otak, dan otot ikan; perubahan aktivitas laktat dehydrogenase (LDH) dan suksinat dehydrogenase (SDH), tingkah laku, laju respirasi, dan metabolit (asam piruvat dan asam laktat). Akan tetapi, aktivitas enzim dan struktur histopatologis kembali normal setelah pemulihan selama 14 hari di medium bebas NaCN. Paparan NaCN juga dapat menyebabkan perubahan kecepatan renang dan durasi surfacing behavior. Konsentrasi sianida di lingkungan tidak bisa diabaikan, sebab dimungkinkan adanya efek sinergis dan juga penghambatan sistem enzim katalase, yang pada akhirnya terjadi kerentanan organisme akuatik terhadap toksisitas sianida. Labeo rohita merupakan spesies ikan air tawar yang paling sensitif terhadap paparan NaCN, dengan nilai LC50 sebesar 0,32 mg/L (tanpa melihat jenis aliran yang digunakan).AbstractCyanide has been used as a toxic compound for decades for fishing. Lack of knowledge of fishermen can lead to overdosing use of a compound. This can lead to fish kills and even damage the coral reefs. Sodium cyanide is not bioaccumulative and biomagnificative based on the value of Kow and most metabolites are excreted in the urine in the form of SCN- (60-80%), 2-aminothiazoline-4-carboxylic acid, ATCA or 2-iminothiazolidine-4-carboxylic acid, ITCA (15%), as well as HCN gas and CO2. Biomarkers organisms are exposed cyanide content of CN-, SCN-, ATCA or ITCA on urine and blood; histopathological changes in spleen, hepato-renal and kidney; decreased activity of catalase enzyme in the liver, gills, brain, and muscles of fish; lactate dehydrogenase (LDH) and succinate dehydrogenase (SDH) activity changes, behavioral, respiratory rate, and metabolites (pyruvic acid and lactic acid). However, the enzyme activity and histopathological structure back to normal after recovery for 14 days at NaCN-free medium. NaCN exposure can also cause changes in swimming speed and duration of surfacing behavior. The concentration of cyanide in the environment can not be ignored, because it is possible the existence of a synergistic effect and also the inhibition of catalase enzyme system, which eventually happened vulnerability of aquatic organisms to cyanide toxicity. Labeo rohita is a freshwater fish species are most sensitive to exposure to NaCN, with LC50 values of 0.32 mg / L (regardless of the type of flow used).
PENGGUNAAN AERMOD UNTUK KAJIAN SIMULASI DAMPAK PENCEMARAN KARBON MONOKSIDA DI KOTA YOGYAKARTA AKIBAT EMISI KENDARAAN BERMOTOR (Using Aermod to Simulation Study of Carbon Monoxide Pollution Effect in Yogyakarta City Caused by The Emission of Motor Vehicles) Taufik Abdillah Natsir; Yudith Windrianto Pambarep; Retno Susetyaningsih; Kris Setyanto; Rita Dewi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 24, No 1 (2017): Januari
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23631

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian terkait simulasi dampak pencemaran udara di Kota Yogyakarta akibat dari emisi kendaraan bermotor dengan menggunakan perangkat lunak AERMOD dan visualisasi hasil dengan menggunakan perangkat lunak SURFER 9. AERMOD merupakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh US-EPA dan merupakan perangkat lunak yang direkomendasikan oleh US-EPA untuk memprakirakan dampak polutan udara. Penelitian dilakukan di 4 ruas jalan kota Yogyakarta, yaitu jalan Cik Di Tiro, jalan Prof. Herman Yohanes, jalan Colombo, dan jalan Jendral Sudirman dan dilaksanakan pada bulan Januari 2015. Data iklim diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Parameter yang diukur adalah karbon monoksida (CO) dan jumlah kendaraan yang lewat di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tertinggi CO pada bulan Januari 2015 berada pada rentang antara 5.500 – 8.000 mg/m3 (4,46–6,49 ppm) berada di jalan Cik Di Tiro. Hasil simulasi selama 10 tahun menunjukkan bahwa pada tahun 2025, konsentrasi CO tertinggi hingga mencapai ± 16.000 mg/m3 (16 ppm) dan berada di jalan Cik Di Tiro.ABSTRACTA research of the simulation of air pollution effect in Yogyakarta city caused by the emission of motor vehicles had been conducted by using the AERMOD software, and the result was visualized by using SURFER 9. AERMOD was a software which was developed and is recommended by US-EPA to predict air pollution. The research was conducted on January 2015 in 4 locations in Yogyakarta city, which were Cik Di Tiro Road, Prof. Herman Yohanes Road, Colomobo Road, and Sudirman Road. Climatology data was obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) of the Special Province of Yogyakarta. Parameters which were measured in this research were carbon monoxide (CO) and traffic counting. The result showed that the highest concentration of CO on January 2015 was 5,500–8,000 mg/m3 (4.46–6.49 ppm) located in Cik Di Tiro Road. The result of air pollution simulation for ten years showed that in 2025, the highest concentration of CO would be approximately ± 16,000 mg/m3 (16 ppm), located in Cik Di Tiro Road.
PEMANFAATAN RUMPUT DAN KAYU BAKAR UNTUK KEBUTUHAN SUBSISTEN MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU (Utilization of Grass and Fuel Wood for Community Subsistence Needs in Gunung Merbabu National Park) Ayu Kurnia Aissiyah; Lies Rahayu Wijayanti Faida; Much. Taufik Tri Hermawan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 1 (2019): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23635

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan rumput dan kayu bakar oleh masyarakat sekitar pada Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) tidak sejalan dengan zonasi taman nasional. Pada penelitian ini telah dilakukan berupa kajian intensitas pemanfaatan rumput dan kayu bakar dari kawasan TNGMb melalui identifikasi pengaruh antar faktor pada aktivitas pemanfaatan rumput dan kayu bakar oleh masyarakat serta identifikasi unsur pembentuk akses masyarakat dalam pemanfaatan rumput dan kayu bakar yang berasal dari kawasan TNGMb. Penelitian dilakukan di wilayah TNGMb dengan mengambil lokasi sampel di Dusun Godang, Guwolelo, Batur, dan Sembungan. Tipe penelitian yang digunakan adalah metode kombinasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner, wawancara, dan penelusuran dokumen. Metode kuantitatif disajikan dalam bentuk statistik diskriptif (peta, distribusi frekuensi) dan analisis jalur. Metode kualitatif menggunakan analisis akses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pemanfaatan rumput dan kayu bakar di TNGMb di lokasi sampel tergolong sedang cenderung tinggi (63 kali per hari untuk rumput dan 41 kali per minggu untuk kayu bakar). Dalam kaitannya terhadap faktor pengelolaan lahan maka faktor budaya berpengaruh sebesar 91%, faktor ekonomi berpengaruh sebesar 17,8 %. Faktor ekonomi menjadi faktor mediasi antara faktor budaya dan faktor pengelolaan lahan, serta terukur secara bersama-sama berpengaruh terhadap faktor pengelolaan lahan sebesar 49,2%. Unsur pembentuk akses masyarakat sekitar kawasan dalam pemanfaatan rumput dan kayu bakar bersifat sederhana atau konvensional.ABSTRACTGrass and fuel wood utilization by community around Gunung Merbabu National Park (GMNP) was inconsistent with national park zoning. This research have been done by evaluating of the intensity of grass and fuel wood derived from GMNP, according to identify the effect between factors at grass and fuel wood utilization by community and determining of the community access pattern in grass and fuel wood utilization. The research study was implemented in GMNP area, which sample locations were Gondang, Guwolelo, Batur, and Sembungan villages. The method used for the research was a combined research method. Data collection was conducted by field observation, interview, questionnaires and document analysis. Quantitative method was presented in descriptive statistic (map, frequency distribution) and path analysis results. Qualitative method was conducted by access analysis. The results showed that intensity grass and fuel wood utilization in GMNP in sample location was in the middle to high trend categories (63 times per day for grass and 41 times per week for fuel wood). Affect to the land management factor, it has been known that the contribution of the cultural factor was in 91% and the economic factor in 17.8 %. Economic factor become intervening factor between cultural factor and land management factor and it was evaluated in 49.2%. Community access structure in grass and fuel wood utilization was simple or conventional.
ASPEK LINGKUNGAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT PADA PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA JATINEGARA BARAT (Accessibility of Rented Simple Flats in Perspective of Sustainable Housing) Ruby Josephine Leepel; Suyud Warno Utomo; Emirhadi Suganda
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 24, No 3 (2017): September
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23638

Abstract

ABSTRAKJakarta sebagai kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi akan menimbulkan berbagai masalah lingkungan akibat terbatasnya daya tampung kota untuk memberikan kehidupan yang berkualitas. Kenyataan ini bertentangan dengan konsep aksesibilitas perumahan yang didefinisikan sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan hak atas perumahan yang layak salah satunya berdasarkan kriteria ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan perumahan. Kriteria ini sangat erat kaitannya dengan keberlanjutan lingkungan dalam konsep perumahan berkelanjutan. Pendekatan kualitatif dianggap sebagai pendekatan yang tepat dalam penelitian ini. Namun metode pengumpulan data penelitian dirancang untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif yang dapat memperkaya evaluasi ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan di rumah susun sederhana sewa, serta partisipasi masyarakat penghuni rumah susun. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan, yang berkaitan erat dengan perwujudan keberlanjutan lingkungan dalam konsep perumahan berkelanjutan, belum diterapkan dengan baik pada Rusunawa Jatinegara Barat. Partisipasi masyarakat penghuni secara kelompok dalam menjaga kebersihan lingkungan rusunawa belum dapat dikaji mendalam mengingat rusunawa baru saja dihuni. Namun kesadaran untuk menjaga kebersihan secara individu mulai terlihat. Inisiatif individu untuk berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan adalah langkah awal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama dalam hal pengelolaan sampah rumah tangga.ABSTRACTJakarta as the city with high density of population will rise several environmental issues due to the limited city capacity in providing quality living to its dense population. This fact contradicts the housing accessibility, which is defined as an opportunity to access one’s rights to sustainable housing based on a criteria of facilities and infrastructure in the residential neighborhood. This criterion is closely related to environmental sustainability aspect in the concept of sustainable housing. Qualitative approach was considered as the best approach for this study. However, the data collection methodology was designed to gather qualitative and quantitative data that can enrich the evaluation of the availability of facilities and infrastructure in the residential neighborhood, as well as participation of the rented simple flat’s residents. The result of the study explains that the availability of facilities and infrastructure in the residential neighborhood, which is closely related with the creation of environmental sustainability in the concept of housing sustainability has not been applied properly in Rusunawa Jatinegara Barat. Participation within community group has not been able to be observed in depth since the building has just been occupied. However, the awareness in maintaining environmental hygiene has been observed.  Individual innitiatives to participate in maintaining environmental hygiene are initial steps that can be developed to improve community participation, especially in household waste management.  
STATUS KEBERLANJUTAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI CADANGAN KARBON DI KOTA PEKANBARU (The Sustainability Status of Green Open Space as Carbon Stock in Pekanbaru City) Sri Wulandari; Rifardi Rifardi; Aslim Rasyad; Yusmarini Yusmarini
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 2 (2018): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23817

Abstract

AbstrakRuang Terbuka Hijau (RTH) merupakan ruang dengan vegetasi yang berfungsi sebagai penyerap gas karbondioksida (CO2) dalam bentuk karbon tersimpan sehingga dapat tercapai suatu kualitas lingkungan udara kota yang bersih dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberlanjutan RTH publik sebagai cadangan karbon di Kota Pekanbaru. Data diperoleh melalui metode survey, pengamatan dan wawancara dianalisis menggunakan Multi Dimensional Scaling (MDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan RTH publik Kota Pekanbaru termasuk kurang berkelanjutan (49,57). Dimensi sosial (52,24) dinilai cukup berkelanjutan. Sementara dimensi ekologi (46,23), ekonomi (49,91), dan kelembagaan (49,93) tergolong kurang berkelanjutan. Secara umum disimpulkan bahwa pengelolaan RTH Kota Pekanbaru tergolong kurang berkelanjutan. Peningkatan indeks dan status keberlanjutan pengelolaan RTH Kota Pekanbaru perlu diupayakan dalam perspektif pembangunan kota berkelanjutan. AbstractGreen Open Space (GOS) is a space with vegetation that serves as an absorber of carbondioxide gas (CO2) in the form of carbon is stored so that a good quality of clean and comfortable city air environment could be achieved. This study aimed to analyze the status and the factors that affect the level of sustainability of public green space as a reserve of carbon in Pekanbaru. Data obtained through the survey, observation, and interviews method were analyzed using Multi Dimensional Scaling (MDS). The results showed that the management of public green space was less sustainable (49.57). The social dimension (52.24) is considered quite sustainable. While the dimensions of the ecological (46.23), economic (49.91), and institutional (49,93) relatively less sustainable. In general the management of Pekanbaru City GOS relatively less sustainable. Improving index and sustainability status RTH Pekanbaru City management needs to be pursued in the perspective of sustainable urban development.
DISTRIBUSI POLA AEROSOL DI WILAYAH INDUSTRI BALONGAN DAN SURALAYA (Aerosol Distribution in The Industry Areas of Balongan and Suralaya) Eko Heriyanto; Kadarsah Kadarsah; Radyan Putra Pradana
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 2 (2018): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.24142

Abstract

AbstrakKajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi aerosol yang aktual dan dominan dari kegiatan yang melepaskan emisi polutan, khususnya di sekitar wilayah industri Pertamina-Balongan dan PLTU-Suralaya. Parameter distribusi aerosol, planetary boundary layer dan angin didapatkan dari alat Lidar. Pengukuran pada kedua lokasi menunjukkan tren kenaikan aktivitas polutan setelah pukul 08.00 WIB, distribusi aerosol pekat Pertamina-Balongan berada pada kisaran 800–1400 mdpl, sedangkan wilayah PLTU-Suralaya bervariasi pada kisaran 500-6500 mdpl. Sebaran partikel aerosol disimulasikan menggunakan model dispersi untuk mengetahui pola arah sebaran.AbstractThis study aims to identify distribution of the aerosol as the pollutants emissions affected by the selected industrial activity i.e. Pertamina-Balongan and PLTU-Suralaya. Distribution of aerosols parameter, planetary boundary layer, and wind were measured by Lidar. The measurement at both locations showed an increasing trend in pollutant emission at morning local times after 8 AM. The dispersion of aerosol in Pertamina-Balongan dominate at the altitudes of 800-1400 masl, while in PLTU-Suralaya area varies at the range 500-6500 masl. Dispersion of the aerosols was simulated using a dispersion model to determine the direction of the dispersion.
PENGGUNAAN SPATIAL MULTICRITERIA ANALYSIS UNTUK MENENTUKAN DAERAH RAWAN MALARIA DI KABUPATEN PURWOREJO (Application of Spatial Multicriteria Analysis Determining Malaria Vulnarable Area in Purworejo Regerency) Prima Widayani; Erika Yuliantari
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 24, No 2 (2017): Mei
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.24819

Abstract

AbstrakMalaria merupakan salah satu penyakit menular endemis yang masih menjadi perhatian khusus pada kesehatan masyarakat di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Purworejo. Tahun 2013, terdapat 615 kasus kejadian penyakit malaria pada semua rentang umur di kabupaten ini. Penanganan penyakit ini dilakukan dengan beberapa cara, contohnya adalah dengan surveilans malaria. Kegiatan surveilans bermaksud untuk melaksanakan tindakan penanggulangan yang cepat dan akurat disesuaikan dengan kondisi setempat. Salah satu tujuan kegiatan ini untuk mendapatkan gambaran distribusi penyakit malaria yang dapat dilakukan dengan pembuatan peta kerawanan penyakit malaria. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kerawanan wilayah terhadap penyakit malaria dengan metode Spatial Multicriteria Analysis (SMCA). Penelitian ini memanfaatkan data Citra Landsat 8 dan beberapa data sekunder yang diolah dengan menggunakan software ILWIS. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa metode SMCA dapat memetakan kerawanan penyakit malaria dan terdapat enam kecamatan di Kabupaten Purworejo yang rawan, yaitu Kecamatan – kecamatan Bruno, Bener, Gebang, Loano, Kaligesing, dan Bagelen.AbstractMalaria is one of endemic infectious disease that has been special concern in Indonesian public health, especially in Purworejo Regency. In 2013, there were 615 incident cases of malaria disease in all age ranges. There are several kinds of handling malaria disease, one of which is malaria surveillances. Surveillances activity intends to implement handling fast and accurate actions. One of this activity aims to obtain overview distribution of malaria disease which can be done with vulnerable mapping. This study aims to determine vulnerability of area with malaria disease using Spatial Multicriteria Analysis (SMCA). It has been done by utilizing Landsat 8 Imagery data and some of secondary data processing with ILWIS software. The result of this study showed that SMCA methods can be used to vulnerability mapping of malaria disease and found that there are six vulnerable districts, Bruno, Bener, Gebang, Loano, Kaligesing, and Bagelen District.
KONSEP PENANGANAN PERMUKIMAN KUMUH KELURAHAN KOTABARU KOTA SERANG (Concept of Slum Handling in Kotabaru Serang City) Laily Kurniasari; Raldi Hendro Koestoer; Emirhadi Suganda
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 2 (2018): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.24979

Abstract

AbstrakSalah satu dampak semakin tingginya jumlah penduduk di perkotaan adalah munculnya permukiman kumuh, termasuk yang terjadi di Kelurahan Kotabaru, kota Serang. Berbagai upaya penanganan permukiman kumuh telah lama dilakukan, namun kenyataannya secara keseluruhan program penanganan permukiman kumuh yang telah dilaksanakan hasilnya belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam membantu penataan dan perbaikan permukiman kumuh. Untuk mengetahui penanganan permukiman kumuh yang sesuai maka perlu dilakukan analisis tingkat kekumuhan berdasarkan karakteristik lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakatnya dan menyusun konsep penanganan permukiman kumuh yang sesuai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode campuran untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa strata kekumuhan di permukiman Kotabaru terdiri dari kumuh sedang (RW 1 dan RW 2) dan kumuh berat (RW 3 dan RW 5). Tingkat kekumuhan yang berbeda membutuhkan penanganan yang berbeda pula, untuk wilayah kumuh sedang, penanganan dilakukan melalui peremajaan dengan land sharing. Untuk wilayah kumuh berat penanganan melalui pembangunan rumah susun. AbstractThe increase in the urban population has led to various impacts, and it also occurs in Sub Kotabaru city of Serang. One consequence is the increasing demand for appropriate housing, but this increase is not offset by an increase in the amount of land in the city. Limitations of land in the city resulted in land prices high and not affordable by low-income people. They occupied the land with the designation not to settlements such as riverbanks, railroad tracks and lead to slums in urban areas. Various efforts to address the slum has long been done, but in fact the overall program management of slums that have been implemented the results have not shown significant changes in assisting the structuring and slum upgrading. To determine the proper handling of slums it is necessary to identify the level of squalor by environmental characteristics, economic, and social communities; and draft handling of slums. This study used a qualitative approach with a mix of methods to collect qualitative and quantitative data. The results of the study explained that the strata level of slum in Kotabaru consists of medium slum (RW 1 and RW 2) and heavy slum (RW 3 and RW 5). Squalor different level requires different handling, anyway, to the slums being, handling through rejuvenation with land sharing. To the slums of heavy handling through the construction of flats.
INTERVENSI MANUSIA TERHADAP KOMUNITAS RHIZOSFIR: REVIEW (Human Disturbance on Rhizosphere Communities: Review) Enny Widyati
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 1 (2019): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.25513

Abstract

AbstrakWalaupun tersembunyi di dalam tanah komunitas rhizosfir merupakan penentu kehidupan di muka bumi dan berperan penting pada pelestarian alam. Rhizosfir merupakan daerah di sekitar perakaran tanaman yang dihuni oleh berbagai mikrobia tanah yang berperan dalam menentukan pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Struktur dan komposisi komunitas mikrobia sangat dipengaruhi oleh macam, konsentrasi dan komposisi eksudat akar. Perubahan yang terjadi pada tanaman (umumnya sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia) mempengaruhi komunitas rhizosfir, sebaliknya komunitas rhizosfir akan menentukan struktur tumbuhan dan fungsi ekosistem. Review ini membahas pengaruh aktivitas manusia yang mempengaruhi kualitas lingkungan terhadap komunitas mikrobia di rhizosfir, yang merupakan hasil kajian dari berbagai sumber terbaru yang dianalisis secara induktif. Aktivitas manusia yang dikaji meliputi praktek pertanian intensif, deforestasi hutan menjadi perkebunan serta perubahan iklim. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktek monokulturisasi telah menurunkan biodiversitas mikrobia rhizosfir, menurunkan kinerja enzim tanah dan menurunkan keragaman dan konsentrasi senyawa glukosinolat untuk melawan patogen. Pengolahan tanah, pemupukan anorganik dan penggunaan pestisida telah menurunkan biodiversitas mikrobia rhizosfir. Sebaliknya pemupukan organik tidak berpengaruh terhadap biodiversitas mikrobia tanah. Perubahan fungsi hutan menjadi kebun intensif telah merubah dominansi kelompok mikrobia serta kemampuan mikrobia sesuai fungsinya di ekosistem. Perubahan iklim berdampak pada peningkatan suhu tanah, hal ini telah mengubah komposisi mikrobia rhizosfir. Perubahan komposisi, dominansi dan kemampuan mikrobia di rhizosfir tersebut dapat merubah komposisi populasi tumbuhan di atasnya. Hal ini dapat mengubah keseimbangan dan fungsi ekosistem yang berakibat pada berubahnya kesejahteraan manusia.AbstractEven though it is hidden underground, rhizosphere communities define the life in this earth planet and has an important role on nature preservation. Rhizosphere is the zone of soil adjacent immediately to plant roots which inhabited by varies species of beneficial soil microbes for facilitating plants growth and health. Human activities are strongly influence on plant performance. Alteration on plant growth and health statues determine rhizosphere communities that will define the vegetation structures and ultimately ecosystem functions. This paper discuss the negative influences of human activities (anthropogenic factors) on the environment to the rhizosphere communities. Especially the impacts of intensive farming, deforestation and climate changes. It is sourced from current referrences in inductive analysis. One of intensive farming management is monoculture that is not only drastically depleted microbes diversity in the rhizosphere hence decresed soil enzimes activities, but also reduced glucocynolates production, a crucial compound against pathogen. Whereas, tillage, fertilizers and pesticide application significantly diminished microbe biodiversity. Organic fertilizers, on the other hand, did not give crucial impacts this biodiversity. Modify forest into estate have changed domination of groups and lessened capability of phosphate solubilizers. While climate changes, that enhance soil temperature escalation, have altered rhizosphere microbes composition and structure. Replacement of composition, domination, abundance and capability of rhizosphere communities will modify composition and structure of vegetation aboveground. Eventually, will alter the ballance and functions of the ecosystem, which determine the wealth of human population in the earth.
ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PELANGGAN AIR BERSIH PDAM DI KOTA KUPANG (Analysis of Willingness to Pay Clean Water Customers of PDAM in Kupang City) Tris Mesano Talahatu; Marthen Robinson Pellokila; Johanis N. Kallau
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 1 (2018): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.25875

Abstract

AbstrakPDAM Kabupaten Kupang dalam mengelola pelayanan air bersih kepada masyarakat Kota Kupang menghadapi tantangan dalam pelayanannya. Salah satu permasalahan yang dihadapi PDAM adalah menyangkut tarif air minum. PDAM dalam menetapkan tarif selalu mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku dengan pertimbangan tarif yang ada dapat memberikan keuntungan setelah biaya operasional dan pengembalian investasi. PDAM tidak pernah melakukan survey untuk mengetahui tingkat kesediaan konsumen dalam membayar tarif air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai Willingness To Pay (WTP) pelanggan air bersih golongan rumah tangga di Kota Kupang dan menganalisis faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi WTP pelanggan air bersih golongan rumah tangga di Kota Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey deskriptif dan teknik pengambilan sampel menggunakan kombinasi antara Area Sampling dan Proportionate Random Samplingdengan 250 responden. Metode valuasi kontingensi digunakan untuk mengetahui nilai WTP pelanggan air bersih. Nilai WTP pelanggan (individu) per bulan dalam membayar air bersih sebesar Rp. 145.489,46 sedangkan nilai total WTP untuk seluruh pelanggan PDAM Kabupaten Kupang golongan rumah tangga A (Rp 20.846 konsumen) per tahun sebesar Rp 36.394.479.684,00. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap WTP adalah tingkat pendapatan dan jumlah pemakaian air.AbstractPDAM Kabupaten Kupang to manage clean water service always face challenges in its service. One of the problems that PDAM often faces is the tariff of drinking water. The PDAM in determining the tariff always refers to the prevailing law and regulation with the consideration of the existing tariff can give profit after the operational cost and the return of investment. PDAM has never conducted a survey to find out how much the willingness of consumers in paying drinking water rates. This study aims to estimate the value of Willingness To Pay (WTP) of household clean water subscribers in Kupang City and to analyze the factors that significantly affect the WTP of household clean water subscribers in Kupang City. The research method used is descriptive survey method and sampling technique using a combination of sampling area and proportionate random sampling with 250 respondents. Contingency valuation method is used to know the value of PAP of clean water customer. WTP value of customer (individual) per month in paying clean water Rp. 145,489.46 while the total value of WTP for all customers of PDAM Kabupaten Kupang household class A (20,846 consumers) per year amounted to 36.394.479.684,00. Factors that have significant effect on the PAP are the level of income and the amount of water consumption.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue