cover
Contact Name
Ria Buana
Contact Email
Jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Phone
+628129657508
Journal Mail Official
jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ebers Papyrus
ISSN : 08548862     EISSN : 27981630     DOI : https://doi.org/10.24912/ep.vxxxx.xxxxx
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ebers Papyrus adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Ebers Papyrus berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli, studi kasus dan tinjauan pustaka. Konten Ebers Papyrus meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 278 Documents
Studi Kasus Skabies Dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan J, Kecamatan Kembangan, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta, 3 - 20 Februari 2012 Andri Wanananda; Ernawati Ernawati; Linda Kertanegara; Andruw Tantri S T; Muliyaman Muliyaman
Ebers Papyrus Vol. 20 No. 2 (2014): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies merupakan kasus yang banyak ditemukan di lingkungan yang padat dan kumuh, sangat mudah menular dari satu individu ke individu lainnya. Di wilayah kerja Pukesmas Kelurahan J, kasusnya cukup tinggi di mana pada tahun 2011 sudah terdapat 30 kasus. Penanganan kasus skabies tidak akan berhasil dengan penanganan yang hanya bersifat indi­ vidual, namun butuh pendekatan holistik dan komprehensif. Maka pendekatan kedokteran keluarga merupakan pendekatan yang tepat. Penulis melakukan studi kasus dengan menggunakan pendekatan kedokteran keluarga pada anak perempuan berusia 3 tahun 11 bulan dengan status gizi normal,merupakan anak keempat dari 5 bersaudara.Ia menderita skabies setelah tertular dari kakak keduanya dan juga sudah menularkan kepada ayah,ibu, kakak ketiga,adik dan salah satu anak tetangga yang merupakan ternan bermainnya. Faktor­ faktor yang menyebabkan ia menderita skabies berdasarkan Mandala of healthadalah per­ sonal behavior, psycho-socio-economic environment, physical environment, sick care sys­ tem,the human made environmentdan culture. Penatalaksanaan holistik komprehensifyang dilakukan dalam penyelesaian adalah dengan farmakoterapi,perbaikan kebersihan diri dan lingkungan dalam rumah secara serentak seperti membersihkan seluruh bagian rumah, menjemur semua kasur, merendam semua selimut,handuk,sprei,pakaian dan tirai dengan air panas. Memotivasi penggunaan handuk terpisah dan rutin menjemur kasur. Memotivasi orangtua pasien untuk segera membawa anggota keluarga yang punya keluhan sama, menganjurkan tetangga dan pimpinan sekolah/pesantren anaknya untuk mengobati secara tuntas dan perbaikan lingkungan supaya tidak terjadi penularan kasus scabies. Hasilnya ia, orangtuanya,kakak dan adiknya sembuh dari skabies.
THERMOREGULATION Tjie Haming Setiadi; Evy Luciana
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 2 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Regulasi temperatur atau pengaturan suhu merupakan hal yang penting pada manusia karena mereka tetap harus mempertahankan suhu inti tubuh walaupun mereka terpapar terhadap perubahan suhu di sekitarnya. Fungsi hemeotermi ini terpengaruh ketika terjadi cedera korda spinalis di atas T6 sehingga pasien menunjukkan poikilotermi  parsial. Dengan demikian hipotermia maupun hipertermia biasanya dialami oleh pasien dengan cedera korda spinalis tetapi tidak ada penelitian apakah hal tersebutjuga terjadi di negara­ negara dengan dua musim seperti Negara kita. Di Amerika Serikat, cedera kordal spinalis dengan insidens sebanyak 10.000 kasus/tahun dan prevalensi 200.000 kasus, merupakan salah satu cedera yang paling berbahaya yang dapat diderita oleh seseorang. Gangguan pengaturan suhu hanya dapat diperkirakan ada pada seorang penderita cedera korda spi­ nalis apabila penyebab lain dari demam (di atas 38oC) termasuk yang berasal dari agen infeksius telah disingkirkan. Tinjauan pustaka ini ditulis dengan maksud untuk meningkat­ kan kesadaran dokter tentang pengaturan suhu pada manusia dan bagaimana hal tersebut dipengaruhi oleh adanya cedera korda spinalis. Hal ini penting mengingat bahwa pena­ talaksanaannya terdiri dari penyesuaian suhu lingkungan, penemuan kondisi yang dapat mengganggu kemampuan pengaturan suhu tubuh, dan pemberian resep obat secara hati­ hati agar tidak terjadi modifikasi terhadap pengaturan suhu yang efektif.
Prof. Dr. dr. Azrul Azwar, MPH., PKK, FFM (Hon) Andri Wanananda
Ebers Papyrus Vol. 20 No. 2 (2014): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dokter Keluarga dan BPJS Tom Surjadi
Ebers Papyrus Vol. 20 No. 2 (2014): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya Penurunan Insiden Demam Berdarah Dengue dengan Peningkatan Pengetahuan Warga dan Peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ) di RT 03/ RW 06, Desa L, Kecamatan Legok, Provinsi Banten Periode 28 September 2014- 13 November 2014 Tom Surjadi; Erni Hermijanti; Sari Mariyati Dewi; Reza Adrian; Adinda Nourmalyta; Angelia Angelia
Ebers Papyrus Vol. 20 No. 2 (2014): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2012,tercatat ada 12 kasus baru DBD di Puskesmas L. Pada tahun 2013 terjadi kenaikan insiden menjadi 31kasus baru dengan kenaikan terbanyak pada Desa L,dari yang tidak ada insiden DBD pada tahun 2012,menjadi13 kasus baru pada tahun 2013. Berdasarkan perhitungan  Angka Bebas Jentik (ABJ) Desa L pada tanggal 20 Juni 2014, ABJ terendah didapatkan pada RT 03/RW 06 sebanyak 40%. Jumlah persentase rata-rata ABJ Desa L adalah 62,3% (dengan targetABJ 96%). Diagnosis komunitas dilakukan dengan pendekatan paradigma  BLUM dan Fishbone Diagram untuk mencari faktor penyebab. Penetapan prioritas masalah dengan metode Non-scoringDelbeque dan pelaksanaan alternatif jalan keluarnya menggunakan Fishbone Diagram. Penetapan intervensi,Logframe Goals, Planning of Action {POA} dan indikator keberhasilan disusun secara sistematis. Berdasarkan hasil analisis masalah,didapatkan penyebabnya adafahlifestyleyaitu kurangnya pengetahuan warga akan DBD dan upaya-upaya pencegahan, maka dilakukan edukasi dan kegiatan Sabtu Bersih (SABSIH) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-4M plus. Plan-Do-Check-Act(PDCA) cycle digunakan untuk monitoring. Hasil intervensi  yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan pengetahuan mencapai 70% dan partisipasi warga dalam kegiatan Sabtu Bersih(SABSIH)dan PSN-DBD sehingga berhasil meningkatkan ABJ di RT 03/ RW 06 mencapai e" 70% dalam waktu 3 minggu setelah intervensi, dengan monitoring setiap minggu. Disarankan penerapan SABSIH dan PSN-4M plusnya dilaksanakan  secara terus menerus.
Kho Lien Kheng Andri Wanananda
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peranan zinc dalam menurunkan lama sakit diare pada bayi dan anak Ronald Sugiono Suwandi
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NILAI DIAGNOSTIK SKOR KALSIFIKASI ARKUS UNTUK DETEKSI KALSIFIKASI VASKULAR PADA PASIEN DENGAN HEMODIALISIS RUTIN Eva Sian Li; Maruhum Bonar Marbun; Vanny Wulani
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalsifikasi vaskular pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Penilaian kalsifikasi vaskular dapat dilakukan dengan  pemeriksaan  pencitraan  yang canggih  sampai  yang sedehana  seperti  foto palos abdomen   lateral  dan  toto  toraks   PA.  Adanya   perbedaan demografi dan praktek klinis di setiap unit hemodialisis (HD) akan mempengaruhi  karakteristik pasien HD dengan kalsi­ fikasi vaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai diagnostik skor Kalsifikasi Arkus Aorta (KAA) untuk deteksi kalsifikasi vaskular pada pasien HD  rutin dan karakteristik pasien HD dengan kalsifikasi vaskular. Penelitian ini dilakukan dengan disain studi potong lintang analitik  di unit HD RS Cipto Mangunkusumo dengan metoda  pengambilan  sampel  konse­ kutif. Kalsifikasi vaskular dinilai dengan dua pemeriksaan foto toraks PA (skor KAA) dan foto palos abdomen lateral (skor Kalsifikasi Aorta Abdominalis/KAAb).  Dari 55 subjek penelitian didapatkan kalsifikasi vaskular pada 76%   subjek penelitian (71% dengan foto toraks PA, 58% dengan foto palos abdomen lateral, dan 53%  dengan  keduanya). Rerata  usia  subjek penelitian  50,9±12,4  tahun  dan  penyebab  PGK terbanyak  nefropati  diabetik  (33%).  Re­ rata  lama  HD  subjek  penelitian  43±44  bulan. Penggunaan Obat Pengikat Fosfat (OPF) terbanyak berbasis kalsium (89%) dengan rerata asupan  kalsium  dari OPF  1,3 gram/hari. Peningkatan   kejadian  kalsifikasi  vaskular didapatkan   pada  pasien  dengan  rerata  usia yang   lebih  tinggi   (53,1±11,4  vs  44,2±13,7 tahun), gender pria (62% vs 54%), diabetes melitus (33% vs 23%), lama HD lebih panjang 47±49 vs 31±20 bulan),  subjek dalam  terapi OPF berbasis kalsium   (93% vs 77%), obat hipoglikemik (26% vs 15%), anti-dislipidemia (19% vs 15%), warfarin (5% vs 2%), dan  vitamin D  (2%  vs  0%). Median  untuk  skor KAA pada   penelitian   ini  18,75%,  skor KAAb   segmental   25%,   dan  skor KAAb   gabungan 2,0. Terdapat  korelasi  positif  antara skor KAA dengan  skor KAAb  segmental  (r = 0,582;p<0,0001) dan dengan  skor KAAb gabungan (r = 0,593; p< 0,0001). Nilai Area Under Curve (AUC) skor KAA 0,815 (p< 0,0001; IK 95% 0,697-0,923)  untuk  skor KAAb  gabungan  >0. Nilai  titik  potong  skor KAA  pada  skor KAAb gabungan >0 didapatkan 9,375% dengan sensitivitas 87,5%, spesifisitas 73,9%, nilai duga positif 82,4%, dan nilai duga negatif 80,9%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan nilai   diagnostik  skor KAA  untuk  deteksi   kalsifikasi vaskular  pada  pasien HD rutin cukup tinggi. Peningkatan kejadian kalsitikasi vaskular dida­ patkan pada pasien dengan rerata usia yang lebih tinggi, gender pria, diabetes melitus, lama HD lebih panjang, subjek  yang  dalam  terapi  OPF  berbasis  kalsium,  obat  hipoglikemik, anti-dislipidemia, warfarin, dan vitamin D.
PENATALAKSANAAN LINI PERTAMA PADA DERMATITIS ATOPIK Jennifer Idris; Linda Julianti Wijayadi
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis atopik (DA) termasuk salah satu kelainan kulit yang paling umum terjadi pada anak -  anak, memiliki prevalensi 10% - 20% pada dekade pertama kehidupan. Derma­ tis akuta merupakan suatu kelainan inflamasi kronik dengan karakteristik berupa pruritus, morfologi dan distribusi lesi yang khas, sering rekuren, berdampak nyata pada kualitas kehidupan, dan berperan sebagai pintu gerbang menuju "atopic march" sehingga terjadi asma dan rinitis alergik. Patogenesis DA bersifat multifaktor, melibatkan mutasi gen Filag­ grin, defek fungsi sawar kulit, disregulasi imun, faktor neurogenik, dan lingkunganKeber­ hasilan penatalaksanaan lini pertama DA tercapai melalui keharmonisan dalam mengiden­ tifikasi dan mengeliminasi faktor pencetus, mempertahankan fase remisi dan mengatasi fase rekuren secara cepat, serta menanggulantgi fase rekalsitran. Perawatan kulit atopi harus menjadi dasar dari terapi DA.
TERAPI TROMBOLISIS:HARAPAN BARU PADA PENATALAKSANAAN STROKE ISKEMIK AKUT Ingrid Wijaya; Yuwono Yuwono
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke iskemik merupakan penyakit yang kompleks yang merupakan salat:l satu penyebab kecacatan utama di dunia. Hal ini terjadi karena terbatasnya  pilihan terapi yang dapat di­ gunakan. Terapi trombolisis menawarkan  harapan baru dan memperbaharui penatalaksa­ naan stroke iskemik akut dalam merevaskularisasi sel-sel saraf yang mengalami iskemia untuk mencegah kerusakan lebih luas. Hal ini dilakukan dengan merekanalisasi arteri yang tersumbat  melalui penghancuran  trombus  untuk menyelamatkan jaringan otak yang me­ ngalami iskemia (penumbra). Walaupun perdarahan intrakranial merupakan risiko utaman­ ya, manfaat terapi trombolisis untuk memulihkan  keadaan fungsional penderita dalam 90 hari setelah onset stroke masih lebih besar. Selain trombolisis  intravena dengan rt-PA (IV rt-PA) yang telah direkomendasikan oleh American Heart Association,  beberapa studi ter­ kini mengemukakan berbagai  terapi endovaskular  yang dapat  meningkatkan perbaikan klinis pada beberapa penderita, baik tunggal maupun dikombinasi c;lengan IV rt-PA. Metoda revaskularisasi  berkembang  pesat.  Berbagai  kombinasi  obat-obatan,  teknologi,  metoda dan alat-alat mekanik dapat mencapai tingkat rekanalisasi yang lebih tinggi, namun ke­ mampulaksanaan, keamanan dan efektivitasnya masih dipelajari lebih lanjut.

Page 3 of 28 | Total Record : 278