cover
Contact Name
Ria Buana
Contact Email
Jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Phone
+628129657508
Journal Mail Official
jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ebers Papyrus
ISSN : 08548862     EISSN : 27981630     DOI : https://doi.org/10.24912/ep.vxxxx.xxxxx
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ebers Papyrus adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Ebers Papyrus berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli, studi kasus dan tinjauan pustaka. Konten Ebers Papyrus meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 251 Documents
CYP 1A1 GENE POLYMORPHISM IN ACNE VULGARIS PATIENTS IN MAKASSAR: A DESCRIPTIVE STUDY Anis Irawan Anwar
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 1 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akne vulgaris merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh adanya inflamasi kro­ nis pada unit pilosebasea. Walaupun diduga sebagai penyakit turunan, terdapat beberapa data yang mendukung peran genetik sebagai salah satu penyebabnya. sejauh ini CYP1A1 merupakan bentuk yang paling aktif dan bersifat morfogenik bagi kelenjar sebasea. Pada penelitian ini jumlah sampel sebanyak 42 akne vulgaris yang masing-masing diambil sampel darahnya sebanyak satu L. gunakan untuk mendeteksi adanya polimorfisme gen CYP 1A1, dalam penelitian ini menga­mati kelompok genom dengan metode eksploratif dan membandingkan hasil frekuensi geno­tif dan frekuensi alelnya serta membandingkan kelompok sebaran genotif dengan penelitian sebelumnya. Pada kasus ditemukan aiel  GG sebanyak 33,3% aiel GA sebanyak 40,5% dan aiel AA sebanyak 26,2%. Terdapat hubungan signifikan pada kelompok sebaran genotif penelitian inidibandingkan dengan kelompok penelitian sebelumnya di Jerman. Pada peneli­ tian ini ditemukan hubungan yang bermakna pada polimorfisme gen CYP 1A1 pada kasus akne vulgaris.
PENDEKATAN DOKTER KELUARGA UNTUK PASIEN DENGAN HIV-AIDS Ernawati Ernawati
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 1 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penderita HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immune Deficiency Syn­ drome) saat ini jumlahnya semakin lama semakin meningkat. Kelompok umur yang terk­ enapun bervariasi dari janin, bayi, balita, anak, remaja, dewasa muda dan orangtua baik laki-laki maupun   perempuan. Yang  menjadi permasalahan  adalah   bagaimana peranan dokter layanan primer (dokter umum, dokter keluarga) dalam membantu melaku­ kan pencegahan, penegakan diagnosa/penjaringan penderita dan perawatan bagi pen­ derita yang terinfeksi HIV-AIDS.· Kita tahu bahwa seseorang yang sudah terinfeksi HIV maka hal yang akan dihadapinya dalam waktu beberapa tahun kemudian (5 s/d >10 tahun) adalah fase AIDS dimana penderita mulai menderita penyakit-penyakit infeksi oportunistik pada semua organ di tubuh atau keganasan yang akan mengantarkan mereka pada ke­ matian. Saat dalam faseAIDS inilah muncul banyak sekali permasalahan bagi si penderita, keluarga maupun lingkungannya. Oleh sebab itu maka pelayanan kesehatan lini terdepan yaitu dokter umum/dokter keluarga diharapkan mampu membantu melayani penderita dengan HIV-AIDS ini mulai dari menegakkan diagnosis holistik dan melakukan penatalak­ sanaan komprehensif menggunakan paradigma  Mandala of Health.( human ecosystem model).
SITOGLOBIN: ANGGOTA BARU KELUARGA GLOBIN VERTEBRATA Sri Widya Jusman
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 1 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sitoglobin  (Cygb)  merupakan anggota  baru  keluarga  protein  globin  yang  baru-baru  ini ditemukan  pada vertebrata. Globin lainnya yang telah diketahui adalah hemoglobin  (Hb}, yang mengangkut  oksigen di dalam sel darah merah; mioglobin  (Mb) yang mentransport dan menyimpan  oksigen di dalam jaringan otot; dan neuroglobin  (Ngb) yang ditemukan di dalam jaringan saraf dengan fungsi yang belum banyak diketahui.  Struktur Cygb menun­ jukkan kemiripan dengan protein globin lainnya. Baik Cygb maupun Ngb merupakan globin dengan heksakoordinasi, berbeda dengan Hb dan Mb yang merupakan globin pentakoor­ dinasi. Walaupun struktur Cygb telah diketahui sepenuhnya,  akan tetapi fungsinya masih belum banyak diketahui.  Diduga  Cygb berperan  pada difusi oksigen,  melindungi  sel ter­ hadap stres oksidatif karena memusnahkan senyawa oksigen reaktif, seperti NO, H202, ON003-; serta pada suplai oksigen untuk hidroksilasi residu prolin pada sintesis kolagen. Ekspresi Cygb mengalami pengaturan naik (up-regulated) pada keadaan hipoksia melalui hypoxia-inducible factor-1a (HIF-1a)  dan berhubungan dengan  keadaan  stress oksidatif. Overekspresi Cygb pada sel stellate hati dapat melindungi jaring,an hati terhadap fibrosis. Hipermetilasi promoter  gen Cygb berhubungan  dengan terjadintya  keganasan  esofagus dan paru, dan diduga  merupakan  protein  supresor  tumor. Akan tetapi, pengaturan  naik Cygb pada glioblastoma multiforme menyebabkan  daya tahan sel kanker.
PENATALAKSANAAN HIPERTENSI DITINJAU DARI ASPEK GIZI Idawati Karjadidjaja
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 1 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi hipertensi semakin meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup, pola ma­ kan, peningkatan  prevalensi  obesitas  dan sindroma  metabolik.  Diperkirakan terdapat 1 miliar penderita hipertensi di dunia, 1  hal ini akan menimbulkan beban untuk pengobatan­ nya dan  yang ditakutkan adalah akibat dari hipertensi berupa penyakit kardiovasuler. Se­ lain penatalaksanaan farmakologik, pola makan ternyata banyak membantu  menurunkan hipertensi,  seperti  diet rendah  garam.2 Konsensus  yang ditetapkan  oleh  Kementerian Kesehatan  Amerika  Serikat  terbukti menurunkan tekanan  darah. Pengaturan  makanan yang dimaksud  adalah DASH (Dietary Approach  to stop Hypertension) berupa makanan tinggi sayur dan buah, susu rendah lemak atau produknya,  memilih sumber protein    ren­ dah lemak  dan rendah  kolesterol,  serta  asupan  protein  nabati dan kacang-kacangan.3Pola makanan  yang dianjurkan  dalam  konsep  DASH  ternyata  kaya  akan  Kalsium,  Ka­lium, Magnesium  selain rendah Natrium. Perlu dipikirkan cara menyadarkan masyarakat umum untuk mencegah  hipertensi dan memotivasi  penderita  hipertensi  untuk mengikuti pola DASH guna menurunkan tekanan darah. Tanpa dilupakan mengurangi asupan energi untuk mereka yang kelebihan berat badan dan  mengurangi jumlah asam lemak jenuh dan asam lemak trans.
Kalsium bukan monopoli tulang Ekky Rahardja
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 2 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN KALSIUM DENGAN TEKANAN DARAH: SEBUAH STUDI PADA PENDUDUK INDONESIA DEWASA BERUSIA 30 TAHUN Ingrid Widjaya; Marcella Rumawas; Budi Kidarsa
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 2 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Puskesmas Kelurahan Joglo II, pada tahun 2009 hipertensi merupakan kasus terba­ nyak ketiga. lnformasi mengenai hubungan antara asupan kalsium harian dengan tekanan darah di Indonesia masih sangat minimal. Studi cross-sectional ini bertujuan untuk menguji hubungan antara asupan kalsium harian dengan tekanan darah di Puskesmas Joglo II. Data dikumpulan pada 24·30 Juni 2010, 146 subjek penelitian berusia 30 tahun yang tidak sedang mengonsumsi obat antihipertensi maupun menjalani pengaturan diet khusus dipilih secara consecutive dari antara pengunjung Puskesmas Joglo II. lnformasi menge­ nai asupan makanan diperoleh dari kuesioner frekuensi pangan semikuantitatif dan jumlah asupan kalsium dihitung menggunakan software NutrisuNey. Tekanan darah diukur den­ gan sphigmomanometer sesuai pedoman baku. Data dianalisa dengan regresi linier, uji statistik korelasi Pearson, dan uji statistik univariate General Linear Model dengan koreksi Bonferroni. Pada 146 responden {nilai tengah usia 40,5 tahun, 69,86% wanita), rerata asu­ pan kalsium adalah 722 mg/hari dan rerata tekanan darah adalah 122/77 mmHg. Asupan kalsium yang lebih tinggi berhubungan dengan tekanan darah sistolik (r--0,51; p=O,OOO) dan diastolik (r--0,41; p=O.OOO) yang lebih rendah, setelah faktor usia, jenis kelamin, IMT, asupan energi harian dan status menopause disetarakan. Responden pada kelompok kuartil tertinggi memiliki tekanan darah lebih rendah dibandingkan kelompok kuartil te­ rendah (Perbedaan rerata tekanan sistolik dan diastolik adalah 12 mmHg, p= 0.004 dan 5 mmHg, p=0.04 secara berurutan). Dapat disimpulkan bahwa asupan kalsium harian yang lebih tinggi dapat berperan dalam upaya pencegahan hipertensi.
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN KONSUMSI KOPI DAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN BERUMUR 20 TAHUN ATAU LEBIH Willy Winata; Marcella Rumawas; Budi Kidarsa
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 2 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Hipertensi merupakan faktor resiko penyakit kardiovaskuler. Konsumsi kopi telah lama diperkirakan berperan sebagai faktor resiko hipertensi; walaupun bukti yang ada masih kontroversial. Di Jakarta, terutama di Puskesmas Kelurahan Meruya Utara, hipertensi me­ rupakan penyakit ke dua terbanyak pada periode Januari- April 2010; sedangkan banyakpasien hipertensi yang mengunjungi puskesmas ini mengaku mengonsumsi kopi secara teratur. Penelitian cross-sectional ini, bertujuan untuk meneliti hubungan antara kebiasaan konsumsi kopi dan tekanan darah pada 71 responden yang tidak mendapatkan terapi anti-hipertensi. Sampel dipilih dengan non-random sampling secara konsekutif dari pasien yang mengunjungi puskesmas pada tanggal 22-30 Juli 2010.  Responden diwawancara de-ngan menggunakan kuesioner terstruktur meliputi konsumsi kopi dan karakteristik lain­ nya berupa umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok dan riwayat hipertensi dalam keluar­ ga. Dilakukan pengukuran tekanan darah, tinggi dan berat badan menggunakan peralatan yang sudah distandardisasi. Nilai median (minimal, maksimal) konsumsi kopi adalah 200 (86, 1200) cc/hari, nilai tekanan darah sistolik dan diastolik adalah 110 (80, 160) mmHg dan 70 (50, 100) mmHg, secara berurutan. Ditemukan tidak ada hubungan yang ber­ makna secara statistik antara rata-rata konsumsikopi (cc/hari) dan rata-rata tekanan darah sistolik (r= -0,032; p=0,38) ataupun dengan tekanan darah diastolik (r= -0,044; p= 0,12}, setelah faktor lamanya konsumsi dan jenis kopi serta beberapa faktor yang dihubungkan dengan hipertensi disetarakan. Hal serupa, tidak ada perbedaan bermakna pada tekanan darah sistolikldiastolik pada responden yang mengonsumsi 0-1 cangkir kopi/hari (108/72 mmHg; p= 0,38 dan p= 0,12}, untuk tekanan sistolik dan diastolik, secara berurutan) dan pada yang mengonsumsi >1- 2, >2- 3 dan >3 cangkir/hari (114/76, 111/72 dan 111/74, secara berurutan). Kebiasaan konsumsi kopi tidak terlihat sebagai faktor resiko peningka­ tan tekanan darah.
HUBUNGAN ANTARA PENGELUARAN ENERGI HARlAN DENGAN KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA PASIEN USIA MINIMAL 30 TAHUN Lydia Stephanie; Marcella Rumawas; Budi Kidarsa
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 2 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan mengakibatkan kematian. Di Indonesia, sekitar 18% dari total penduduk Indonesia menderita hiperkolesterolemia. Aktivitas fisik harian, seperti gaya hidup lebih banyak duduk saat bekerja (sedentary) dan kurang gerak dalam kehidupan sehari-hari cenderung menyebabkan kadar kolesterol yang tinggi. Diketahui di Puskesmas Kelurahan Meruya Selatan II, banyak pasien yang memiliki kadar kolesterol total yang tinggi, dan kebanyakan dari mereka adalah pegawai kantor. Penelitian dengan desain cross-sectional ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengeluaran energi harian dan kadar kolesterol total pada pasien usia minimal 30 tahun di Puskesmas Kelurahan Meruya Selatan II, Jakarta Barat. Studi ini melibatkan 62 responden yang dipilih secara consecutive sampling pada balai pengobatan Puskesmas Kelurahan Meruya Selatan II selama 4 hari (29 Juni- 2Juli 2010). Kadar kolesterol diukur dengan stik tes kolesterol beserta alat pembaca digi­talnya.  Pengeluaran energi harian diukur dengan mewawancara responden mengguna­ kan kuesioner. Dengan uji korelasi Pearson dan regresi linear, didapatkan korelasi statistik yang bermakna antara pengeluaran energi harian dan kadar kolesterol total setelah faktor perancu umur dan jenis kelamin disetarakan (r = -0,28; p = 0,02). Pada umur dan jenis kelamin yang disetarakan, responden dengan tingkat aktivitas ringan memiliki kadar ko­lesterol total lebih tinggi bermakna (256 mg/dl) dibandingkan dengan responden dengan tingkat aktifitas sedang-berat (236 mg/dl) (p = 0,05). Studi ini menyarankan responden un­ tuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik harian, baik frekuensi maupun intensitas, sebagai salah satu cara untuk mengurangi risiko hiperkolesterolemia.
TRANSPLANTASI HEPATOSIT: TERAPI POTENSIAL YANG MENJANJIKAN UNTUK SIROSIS HEPATIK Siufui Hendrawan; Marcella Rumawas
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 2 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sirosis hati merupakan salah satu penyebab utama kematian. Penya-kit hati stadium akhir ini, tidak hanya menyebabkan kesakitan dan kematian, tetapi juga membawa kerugian ekonomi yang cukup besar. Pada sirosis, akibat kematian  hepatosit, jaringan hati akan digantikan oleh jaringan fibrosis serta kehilangan fungsinya. Sekali memasuki tahap ini, kerusakan jarigan hati tidak dapat dipulihkan kembali sekalipun penyebabnya berhasil dia­ tasi. Terapi standar untuk sirosis sampai sekarang hanya dapat menunda perkembangan penyakit  dan mengurangi  komplikasi.  Di sisi lain, transplantasi  organ hati menawarkan terapi yang definitif untuk penyakit ini. Akan tetapi, prosedur ini memiliki banyak tantangan, seperti kurangnya jumlah organ donor, biaya perawatan yang tinggi, serta kesulitan teknis dan perawatan  intensif pasca operasi. Setelah melalui penelitian bertahun-tahun,  seka­ rang ini transplantasi sel hati telah diusulkan sebagai terapi altematif  untuk kasus gagal hati. Keuntungan  transplantasi hepatosit ini mencakup prosedur yang sederhana, aman, dan lebih murah dibandingkan dengan transplantasi organ hati
KAPSULOREKSIS PADA SMALL INCISION CATARACT SURGERY Cicilia Cicilia
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 2 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Katarak adalah penyebab utama kebutaan di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mem­perkirakan sekitar 50 % kebutaan di dunia disebabkan oleh katarak yang mencapai hampir 20 juta orang. Sebagian besar katarak yang bermakna ditemukan pada negara-negara berkembang. Secara umum ekstraksi katarak secara garis besar dibagiatas ekstraksi kat­ arak intrakapsul (EKIK) dan ekstraksi katarak ekstrakapsul (EKEK). Ekstraksi katarak ek­ strakapsul bisa dibagi lagi menjadi EKEK konvensional dengan jahitan dan tanpa jahitan, di kemudian hari ini dikenal dengan istilah Small Incision Cataract Surgery (SICS). Salah satu tahap yang paling panting pada SICS adalah kapsuloreksis.

Page 2 of 26 | Total Record : 251