cover
Contact Name
Steven Palilingan
Contact Email
palilingans@gmail.com
Phone
+6281383608023
Journal Mail Official
palilingans@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sehati (Ex. Bank Pinaesaan), Jl. Samratulangi No. 162 Manado
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : -     EISSN : 2797314X     DOI : doi.org/10.61390/euanggelion
Core Subject : Religion, Education,
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, merupakan wadah publikasi hasil penelitian di bidang teologi dan Pendidikan Agama Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado. Scope dan Focus penelitian adalah: 1. Teologi Biblika (PL dan PB) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Etika Kristen 5. Misiologi 6. Pendidikan Kristen di Keluarga, Sekolah dan Masyarakat EUANGGELION menerima kontribusi artikel dari dosen yang ahli di bidangnya, dari segala pendidikan teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang memenuhi syarat akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. EUANGGELION terbit dua kali dalam satu tahun, Januari dan Juli
Articles 49 Documents
Konsep Adoption dan Sanctification di dalam Doktrin Keselamatan Israel I. Adu; Vrichilya E. Lessy; Sofia Mangke; James Palk
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.69

Abstract

Abstract: Since humans fell into sin, Jesus Christ has been the person who acts as the Reconciler between humans and God. Sin has separated humans and God, but with the work of the cross of Christ, He has adopted humans to be His children and sanctified them so that they can be saved from the penalty of death. Man is saved by God through Jesus Christ. Those who believe in Him have been adopted as His children and sanctified so that they can grow in Him, and ultimately so that they can become like Christ. So, the truth about the concept of Adoption and Sanctification is a fundamental concept that needs to be firmly understood because it is directly related to saving faith. The firm concept of Adoption and Sanctification is able to ward off polemics or doubts about the status of believers before God. This research uses qualitative methods by describing the concepts of Adoption and Sanctification through scientific studies of systematic theology.Abstrak: Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Yesus Kristus merupakan pribadi yang berperan sebagai Pendamai antara manusia dengan Allah. Dosa telah memisahkan manusia dan Allah, namun dengan karya salib Kristus, Ia telah mengangkat manusia menjadi anak-anak-Nya dan menguduskan mereka sehingga mereka dapat diselamatkan dari hukuman maut. Manusia diselamatkan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Mereka yang percaya kepada-Nya telah diangkat menjadi anak-Nya dan disucikan supaya bertumbuh di dalam Dia, dan akhirnya supaya dapat menjadi serupa dengan Kristus. Kebenaran tentang konsep Adoption dan Sanctification ini merupakan konsep yang mendasar yang perlu dipahami dengan teguh karena berkaitan langsung dengan iman yang menyelamatkan. Konsep Adoption dan Sanctification yang teguh mampu menepis polemik atau keraguan tentang statusnya orang percaya di hadapan Allah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mendeskripsi konsep Adoption dan Sanctification melalui kajian keilmuan teologi sistematika.
Penggunaan Media Digital bagi Kegiatan Pembelajaran Interaktif dalam Pendidikan Agama Kristen Melvin Subay
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.65

Abstract

Abstract: Education in the 21st century is often marked by the use of technology in learning as a demand in the industrial era 4.0 until it develops in the 5.0 era. Christian Religious Education teachers in the era of the industrial revolution 4.0-5.0 need to master tricks in teaching that are far more creative, innovative, productive and inspirational and are not left behind in terms of the use of technology (not clueless). In this study the authors used a type or research approach from a Library Research. The results of this study are that students feel bored and very quickly bored when studying independently at home when they are faced with the many tasks they face. This is very much related to the morals or character of students while students study from home. Students are not very creative in doing assignments, do not have enthusiasm when studying independently at home, do not have discipline or are not responsible in completing assignments that have been given by their teacher. This is what causes frequent problems between parents and children when children study at home. Digital media has an impact on the character of students. Directly or indirectly, digital media will greatly impact on strengthening character values for students, including: Religious Character, Honest, Love Peace, Tolerance, Creative, Independent, Curiosity, Discipline, Love to read, and Responsibility. The contents of the material The beauty of forgiveness, the appearance of the media used and designed with a variety of Christian Spiritual nuances, the backsound of Spiritual songs that are appropriate to the contents of the material which in the end are considered capable of providing positive reinforcement to the Religious Character values of Students in using digital media.Abstrak: Pendidikan pada abad yang ke-21 sering kali di tandai oleh Penggunaan teknologi dalam pembelajaran sebagai suatu tuntutan di era industry 4.0 sampai berkembang pada era 5.0. Guru Pendidikan Agama Kristen pada era revolusi industri 4.0-5.0 perlu menguasai trik dalam mengajar yang jauh lebih kreatif, inovatif, produktif dan inspiratif serta tidak ketinggalan dalam hal Penggunaan teknologi (tidak Gaptek). Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis atau pendekatan penelitian dari sebuah Studi Kepustakaan (Library Research). Hasil dari penelitian ini adalah Peserta didik merasa bosan dan sangat lekas jenuh ketika belajar mandiri di rumah yang sedang diperhadapkan dengan banyaknya tugas-tugas yang dihadapi. Hal ini amat sangat berhubungan terhadap moral atau karakter dari peserta didik selama peserta didik belajar dari rumah. Peserta didik sangat tidak kreatif dalam mengerjakan tugas, tidak memiliki semangat saat belajar mandiri di rumah, tidak memiliki disiplin atau tidak bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan oleh gurunya. Hal ini yang menyebabkan sering terjadinya permasalahan antara orang tua dengan anak pada saat anak belajar di rumah. Media Digital mempunyai dampak terhadap karakter dari peserta didik. Secara langsung maupun tidak langsung Media digital akan sangat berdampak terhadap penguatan nilai-nilai karakter bagi peserta didik, diantaranya adalah: Karakter Religious, Jujur, Cinta Damai, Toleransi, Kreatif, Mandiri, Rasa Ingin Tahu, Disiplin, Gemar membaca, dan Tanggung jawab. Isi dari materi Indahnya mengampuni, tampilan media yang digunakan dan didesain dengan beragam nuansa Rohani Kristen, backsound lagu Rohani yang tepat sesuai dengan Isi materi yang pada akhirnya dinilai mampu memberikan penguatan positif terhadap nilai Karakter Religious Peserta Didik dalam menggunakan media digital.
Kiranya Ia Mencium Aku dengan Kecupan! Karena Cintamu Lebih Nikmat dari pada Anggur: Studi Eksegesis Kidung Agung 1:2 Dolfie Lumimpah
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.70

Abstract

Abstract: Context opens the way in understanding long texts and connecting statements. Context guides the interpreter to the meaning according to the author's point of view. The substance of love and the motif of the love song. The song presented between Solomon and the Shulammite in the Song of Solomon teaches a reality that is more than mere physical intimacy. The essence of the love poem Kidung Agung, matters of lust or sexual desire are the main points even though the readers find vulgar words in the book but it is a drama show. The Bible is more real than the world, and the way to live within the Bible's record of reality, namely the real world, is to immerse yourself in it, understand it, enjoy it, look at it day and night.Abstrak: Konteks membuka jalan di dalam memahami teks-teks yang panjang dan pernyataan-pernyataan yang sambung menyambung. Konteks memandu penafsir pada makna menurut cara pandang penulisnya. Substansi cinta dan motif lagu percintaan.yang ditampilkan antara Salomo dan gadis Sulam di dalam Kidung Agung mengajarkan suatu realitas yang lebih dari sekedar keintiman fisik belaka. Inti dari puisi cinta Kidung Agung bukanlah hal Hawa nafsu atau hasrat seksual yang menjadi pokok utama sekalipun para pembaca menemukan kata – kata vulgar didalam kitab itu akan tetapi itu bukanlah sebuah pertunjukkan drama. Alkitab lebih nyata daripada dunia, dan cara untuk hidup dalam catatan Alkitab tentang realitas, yaitu dunia nyata, adalah menenggelamkan diri di dalamnya, memahaminya, menikmatinya itu, merenungkannya siang dan malam
Pemberdayaan Jemaat dan Pertumbuhan Gereja Suhartono Suhartono
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.73

Abstract

Abstract: A healthy church is a church that experiences full growth both in quantity (quantity and distribution) and quality (spirituality that reflects the example of Christ). In a world that is currently facing various problems, especially related to the Covid-19 Pandemic, The Church cannot be silent or passive. Although the Church cannot solve every problem, at least the church can be part of the solution of some problems faced by the congregation and the surrounding community. A healthy church presence and its mission to empower communities are needed as solutions to today's global problems. This article uses a qualitative descriptive approach with a literature study approach to answer questions related to healthy churches and church empowerment tasks. From the study of various literature sources, it was found that there are at least 4 aspects that describe the characteristics of a healthy church: the increase in the number of congregations, the mission of evangelizing/pioneering new churches, spiritual growth, and church involvement in serving. This is to be viewed as part of a spiritual formation that shows Christlikeness and a longing to bring souls to Christ. This can be seen in the task of church empowerment which includes all church Citizen Service movements in the midst of churches and communities that are mutually constructive. Church empowerment includes elements of enabling, empowering, and charity. The empowerment of the congregation is comprehensive and included in the three tasks of the church, namely: koinonia, marturia, and diakonia. In conclusion, a healthy church is a church that grows in quantity and quality and leads movements that empower the church as a guide to life for the glory of Christ.Abstrak: Gereja yang sehat adalah gereja yang mengalami pertumbuhan yang utuh baik secara kuantitas (kuantitas dan sebaran) maupun kualitas (spiritualitas yang mencerminkan keteladanan Kristus). Di dunia yang saat ini menghadapi berbagai permasalahan, terutama terkait pandemi Covid-19, Gereja tidak bisa diam atau pasif. Meskipun Gereja tidak bisa menyelesaikan setiap permasalahan, setidaknya Gereja dapat menjadi bagian dari solusi beberapa permasalahan yang dihadapi jemaat dan masyarakat sekitar. Kehadiran Gereja yang sehat dan misinya untuk memberdayakan masyarakat diperlukan sebagai solusi terhadap permasalahan global saat ini. Artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka untuk menjawab pertanyaan terkait gereja sehat dan tugas pemberdayaan gereja. Dari kajian berbagai sumber pustaka, ditemukan minimal ada 4 aspek yang menggambarkan ciri-ciri gereja yang sehat: pertambahan jumlah jemaat, misi pengabaran Injil/perintisan gereja baru, pertumbuhan spiritual, dan keterlibatan jemaat dalam melayani. Hal ini harus dipandang sebagai bagian dari formasi spiritual yang menunjukkan keserupaan dengan Kristus dan kerinduan membawa jiwa kepada Kristus. Hal ini tampak dalam tugas pemberdayaan jemaat yang mencakup seluruh gerak pelayanan warga gereja di tengah-tengah jemaat dan masyarakat yang bersifat saling membangun. Pemberdayaan jemaat mencakup unsur enabling, empowering, dan charity. Pemberdayaan jemaat tersebut bersifat menyeluruh dan termasuk dalam tiga tugas gereja, yaitu: koinonia, marturia, dan diakonia. Kesimpulannya, gereja yang sehat adalah gereja yang bertumbuh secara kuantitas dan kualitas serta memimpin gerakan-gerakan yang memberdayakan gereja sebagai pedoman hidup untuk kemuliaan Kristus.
Deskripsi Pelaku Perundungan pada Anak Usia Didik sebagai Isu Psikologi Sosial di Indonesia Charles Petra Nicolaas Rembang
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.71

Abstract

Abstract: Bullying is an effort or action carried out by individual human beings, both personally and collectively that attacks a target repeatedly physically, psychologically, socially or verbally, which is carried out in a situationally defined position of strength for their own benefit or satisfaction (Elinda Emza, 2015). Another opinion defines bullying as the use of aggression in any form that aims to hurt or corner other people physically or mentally. Purpose: To describe and explain the perpetrators of bullying in school-aged children as a social psychological issue in Indonesia. In terms of (1) the perpetrators of bullying, (2) the causes of bullying, (3) the process of bullying behavior, (4) excesses of bullying behavior. Methodology: This research is a research with a descriptive qualitative approach, namely a research method that utilizes qualitative data which is described according to the existing conditions and facts. Descriptive method is a method in examining the status of human groups, an object, condition, a system of thought or a class of events in the present. The strength of this method lies in the facts that are happening now. Data collection by means of interviews, journals, digital books, mainstream media such as mass media, social media (XL nodes), libraries, data agencies or organizations. Data Collection Techniques use the Fishbone Technique, which emphasizes collecting data from various sources and collectors. The data analysis technique uses the Morphology Technique, which is a technique that describes the quality of a problem that explains it comprehensively. Implication: Bullying in Student Age Children as a Social Psychological Issue is a reality whose phenomenon occurs everywhere. In the case of perpetrators of bullying, this is a big problem that must be handled together. Data on bullying in Indonesia, especially on students in their teens, is still very high. The perpetrators of bullying continue to carry out their actions because there are still many reproaches that are open to repetition. Students are the main perpetrators of bullying on other students. Teachers, parents and the community either directly or indirectly have played a role in bullying. The process of bullying; Social media is the most powerful tool for perpetrators of bullying that can continue in the real world. Educational institutions and systems do not clearly handle cases of bullying, especially for perpetrators. The government and schools have not been firm in terms of bullying rules and laws. The perpetrator commits bullying in verbal and non-verbal ways. Causes of bullying behavior; there are problems that arise from the perpetrator who is mentally unstable; Another cause is the existence of problems in the social psychology of society which indirectly help perpetrators commit bullying. The excesses of bullying behavior include: The excesses for the bully are legal issues, negotiations, revenge and repetition of acts that can turn them into criminals, radicals and terrorists. Victims of bullying can become perpetrators in the future. If the perpetrators of bullying are not prevented, they can become predators for the next victims. That bullying is a behavior that can be modified through the education process.Abstrak: Perundungan atau bullying adalah suatu upaya atau aksi yang dilakukan oleh individu manusia, baik secara personal maupun kolektif yang menyerang target berulang secara fisik, psikologis, sosial, ataupun verbal, yang dilakukan dalam posisi kekuatan yang secara situasional didefinisikan untuk keuntungan atau kepuasan mereka sendiri (Elinda Emza, 2015). Pendapat lain yang mengartikan perundungan sebagai penggunaan agresi dalam bentuk apapun yang bertujuan menyakiti atau menyudutkan orang lain secara fisik maupun mental. Tujuan: Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan Pelaku Perundungan pada Anak Usia Didik Sebagai Isu Psikologi Sosial di Indonesia. Dalam hal (1) Pelaku Perundungan, (2) Penyebab terjadinya Perundungan, (3) Proses Perilaku Perundungan,  (4) Ekses Perilaku Perundungan. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yakni metode penelitian yang memanfaatkan data kualitatif yang dijabarkan sesuai keadaan dan kenyataan yang ada. Metode deskriptif adalah metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa kini. Kekuatan dari metode ini adalah pada fakta yang terjadi saat sekarang. Pengambilan Data dengan cara Wawancara, Jurnal, Buku Digital, Media Utama seperti Media Masa, Media Sosial (Node XL), Perpustakaan, Badan atau Organisasi Data. Teknik Pengumpulan Data menggunakan Teknik Fishbone atau Tulang Ikan, yang menekankan pada pengumpulan data dari berbagai sumber dan kolektor. Teknik analisis data menggunakan Teknik Morfologi, yakni teknik menggambarkan kualitas suatu masalah yang menjelaskan secara komprehensif.  Implikasi: Perundungan pada Anak Usia Didik sebagai Isu Psikologi Sosial merupakan realitas yang fenomenanya terjadi di mana saja. Dalam hal Pelaku Perundungan, merupakan masalah besar yang harus ditangani bersama. Data perundungan di Indonesia khususnya pada anak didik pada usia remaja masih sangat tinggi. Pelaku perundungan masih terus melakukan perbuatannya karena masih banyak cela yang terbuka untuk diulangi. Anak didik adalah pelaku utama perundungan pada anak didik lainnya. Guru, Orang tua dan masyarakat baik secara langsung maupun tidak telah berperan dalam perundungan.  Proses terjadinya Perundungan; Media sosial adalah alat yang paling ampuh bagi pelaku melakukan perundungan yang bisa berlanjut pada dunia nyata. Lembaga dan sistem Pendidikan tidak jelas menangani kasus perundungan khususnya untuk pelaku. Pemerintah dan pihak sekolah belum ada ketegasan dalam hal aturan dan undang-undang perundungan. Pelaku melakukan perundungan dengan cara verbal dan non verbal.  Penyebab perilaku perundungan;   adanya masalah yang muncul dari diri pelaku yang tidak stabil secara mental; Penyebab lainnya adalah adanya permasalahan dalam psikologi sosial masyarakat yang secara tidak langsung membantu pelaku melakukan perundungan. Ekses perilaku perundungan mencakup: Ekses bagi pelaku perundungan adalah masalah hukum, negosiasi, dendam dan pengulangan perbuatan yang dapat menjadikannya pada kriminalis, radikalis dan teroris. Korban perundungan dapat menjadi pelaku dikemudian hari. Pelaku perundungan jika tidak dicegah dapat menjadi predator bagi korban-korban berikutnya.  Bahwa perundungan merupakan perilaku yang dapat dimodifikasi melalui proses Pendidikan. 
Peran Pemimpin Gereja dan Etika Kristen dalam menyikapi Isu Kontemporer di Era Revolusi Industri 4.0 Nova Ritonga
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.61

Abstract

Abstract: This article discusses the role of church leaders and Christian ethics in the era of the Fourth Industrial Revolution. Church leaders have a crucial responsibility in providing guidance and correct answers amidst the issues and challenges faced by the congregation and society. The literature review method was used in writing this article. The objective of this article is to explore the role of church leaders in addressing contemporary issues and upholding Christian ethics. The findings indicate that church leaders need to be sensitive and caring towards the congregation, and they play various roles such as administrators, organizers, decision-makers, group facilitators, board chairpersons, and counselors. The conclusion drawn is that church leaders must be able to provide guidance based on the Word of God and Christian ethics in dealing with complex issues in the era of the Fourth Industrial Revolution.Abstrak: Artikel ini membahas peran pemimpin gereja dan etika Kristen di era Revolusi Industri 4.0. Pemimpin gereja memiliki tanggung jawab penting dalam memberikan arahan dan jawaban yang benar di tengah persoalan dan isu yang dihadapi oleh jemaat dan masyarakat. Metode penelitian kepustakaan digunakan dalam penulisan artikel ini. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menggali peran pemimpin gereja dalam menghadapi isu-isu kontemporer dan menegakkan etika Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin gereja harus memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap jemaat serta berperan sebagai administrator, organisator, pembuat keputusan, fasilitator kelompok, ketua dewan pengurus, dan konselor. Kesimpulan yang diperoleh, pemimpin gereja harus mampu memberikan arahan yang didasarkan pada firman Tuhan dan etika Kristen dalam menghadapi isu-isu yang kompleks di era Revolusi Industri 4.0
Konseling Pastoral dalam Pendekatan dan Integrasi Teologis Psikologis Meiland Fera Sasauw
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.72

Abstract

Abstract: Pastoral counseling is very important, especially in a church. Pastoral counseling is a method and effort that is part of church ministry, especially in the pastoral realm, which aims to embrace problems that occur in the context of the congregation. Pastoral counseling is a dialogic effort between theological concepts, especially in the context of pastoral praxis, and psychological concepts related to the psychological context of humans, especially members of a church. This combination of theology and psychology creates an integration of church praxis in pastoral ministry to answer and resolve pastoral problems in God's church. The aim of this research is to explore scientific integration and practical application of pastoral counseling, especially those related to theological and psychological integration. In this study the authors used a qualitative research method that was more focused on literature study to explore the theoretical integration between theology and psychology in the concept of pastoral counseling. The results of this study found that there is theological-psychological integration in the concept of pastoral counseling.Abstrak: Konseling pastoral merupakan hal yang sangat penting terutama dalam sebuah gereja. Konseling pastoral adalah suatu cara dan upaya yang menjadi bagian dalam pelayanan gereja terutama dalam ranah pastoral yang bertujuan untuk merengkuh permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam konteks jemaat. Konseling pastoral merupakan upaya dialogis antara konsep teologis terutama dalam konteks praksis pastoral dan konsep psikologi yang berhubungan dengan konteks kejiwaan dari manusia khususnya jemaat dalam suatu gereja. Kombinasi antara teologi dan psikologis ini menciptakan suatu integrasi praksis gereja dalam pelayanan pastoral untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan pastoral dalam gereja Tuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali integrasi keilmuan dan penerapan praksis dari konseling pastoral terutama yang berhubungan dengan integrasi teologis dan psikologis. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang lebih terfokus pada studi pustaka untuk menggali integrasi teoritis antara teologi dan psikologi dalam konsep konseling pastoral. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa ada integrasi teologis-psikologis dalam konsep konseling pastoral.
Kuasa Kepemimpinan Seorang Pemimpin Kristen: Studi Biblika terhadap Kuasa Yesus sebagaimana tercatat dalam Markus 11 sebagai Kerangka Acuan bagi Kuasa Kepemimpinan Kristen Masa Kini Ronny O. B. Worang
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.74

Abstract

Abstract: In general, several parties question the power of leadership, especially for Christian leaders. It is as if Christian leaders do not have leadership power. As a result, some Christian leaders become less confident in carrying out the leadership responsibilities entrusted to the Christian leader. It is explicit in Jesus Christ's response to questions from the chief priests, scribes and elders of Israel during His ministry, that the power that Jesus had came from God the Father in Heaven. The power within Jesus in the form of His skills, abilities and authority enabled Jesus to attract the sympathy of many people so that these people hailed Him when He entered the city of Jerusalem, dried the fig tree when He found no fruit and purified the Temple of God when He saw misuse of its functions. Temple of God. Only by the power of God the Father in Heaven was Jesus able to do these three things.Abstrak: Secara umum beberapa pihak menanyakan kuasa kepemimpinan, khususnya bagi pemimpin Kristen. Seakan pemimpin Kristen tidak memiliki kuasa kepemimpinan. Akibatnya, beberapa pemimpin Kristen menjadi kurang percaya diri dalam melaksanakan tugas tanggung jawab kepemimpinan yang dipercayakan kepada pemimpin Kristen dimaksud. Eksplisit di dalam respons Yesus Kristus terhadap pertanyaan para imam kepala, para ahli Taurat dan tua-tua Israel pada masa pelayanan-Nya, bahwa kuasa yang dimiliki Yesus berasal dari Allah Bapa di Surga. Kuasa dalam diri Yesus berupa kecakapan, kemampuan dan otoritas-Nya memampukan Yesus menarik simpati banyak orang sehingga orang-orang tersebut mengelu-elukan Dia ketika Ia masuk kota Yerusalem, mengeringkan pohon ara ketia Ia tidak menemukan buahnya dan menyucikan Bait Allah ketika Ia melihat penyalahgunaan fungsi Bait Allah. Hanya oleh kuasa dari Allah Bapa di Surga Yesus mampu mengerjakan ketiga hal tersebut.
Penderitaan Yesus di dalam Matius 27:46 dan Relasinya dengan Allah Samuel Lengkong
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i2.63

Abstract

Abstract: When looking at the history of the teachings or understanding of Jesus or what is called christology, there are debates that occur because of the controversial understanding of the doctrine of Christ. The views of Docetism and Adoptionism both maintain on one side of Jesus himself, namely Docetism understands and defends the divinity of Jesus, while Adoptionism is more likely to understand and defend the humanity of Jesus. The aim of this research is to develop research that analyzes Jesus' humanity and His unity with God in suffering based on Matthew 27:46. The research method used by the researcher is library research. The result is that the Word is "God Himself". The Word comes from or comes from God. The Word is God's "rib and flesh," that is, the part of God that is separate but One, of the same nature as God, and becomes a Helper for God. Even though they are two, they are still One. Unity that remains connected, two but one and one but two.Abstrak: Ketika melihat sejarah mengenai ajaran-ajaran atau pemahaman tentang Yesus atau yang disebut dengan kristologi, ada perdebatan-perdebatan yang terjadi karena kontroversial pemahaman mengenai ajaran tentang Kristus. Pandangan Doketisme dan Adopsionisme sama-sama mempertahankan pada satu sisi dari diri-Nya Yesus, yakni Doketisme memahami dan mempertahankan mengenai keilahian Yesus, sedangkan Adopsionisme lebih cenderung memahami dan mempertahankan mengenai kemanusiaan Yesus. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengembangkan penelitian yang menganalisis mengenai kemanusian Yesus dan kesatuan-Nya dengan Allah dalam penderitaan berdasarkan Matius 27:46. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kepustakaan. Hasil yang didapatkan adalah Firman itu adalah “Diri Allah”. Firman itu berasal atau keluar dari Allah. Firman itu merupakan “Tulang rusuk dan Daging” Allah, yakni bagian diri Allah yang menjadi terpisah namun Satu, sama hakikat dengan Allah, dan menjadi Penolong bagi Allah. Walaupun menjadi dua, namun tetaplah Satu. Kesatuan yang tetap terhubung, dua tetapi satu dan satu tetapi dua