cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 328 Documents
Analisis kebutuhan dan praktik luka di masyarakat Widyawati Widyawati; Agus Miraj Darajat
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2011

Abstract

Background: The increasing incidence of wounds, particularly chronic wounds such as diabetic ulcers, has become a significant health burden. The lack of knowledge and substandard wound care practices in the community often trigger high infection rates and delay the healing process. Purpose: To analyze the needs and practices of wound care in the community, as well as to identify influencing factors to improve the quality of home wound management. Method: This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 20 respondents selected through purposive sampling, comprising patients or family members with experience in wound care. Data analysis was conducted univariately to observe the frequency distribution of respondent characteristics and behaviors. Results: The majority of respondents were female (75%), with the most prevalent cases being chronic wounds (70%). It was found that 60% of wounds had experienced infection, which correlated with the dominance of self-care (40%) and family-based care (40%) practices. Although 70% of respondents theoretically understood the signs of infection, there was a very high need (75%) for technical training, particularly regarding the correct method of wound cleansing (45%). Conclusion: Wound care practices in the community still face significant challenges regarding sterility and technical skills, resulting in a high risk of infection.   Keywords: Chronic Wounds; Family Role; Health Education; Infection; Wound Care.   Pendahuluan: Peningkatan insidensi luka, khususnya luka kronis seperti diabetes, menjadi beban kesehatan yang signifikan. Minimnya pengetahuan dan praktik perawatan luka yang tidak sesuai standar di masyarakat seringkali memicu tingginya angka kejadian infeksi dan memperlambat penyembuhan. Tujuan: Untuk menganalisis kebutuhan dan praktik perawatan luka di masyarakat, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya guna meningkatkan kualitas penanganan luka di rumah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 20 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling, terdiri dari pasien atau keluarga yang memiliki pengalaman merawat luka. Analisis data dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi karakteristik dan perilaku responden. Hasil: Mayoritas responden adalah perempuan (75%) dengan kasus terbanyak berupa luka kronis (70%). Ditemukan bahwa 60% luka sempat mengalami infeksi yang berkolerasi dengan praktik perawatan mandiri (40%) dan keluarga (40%) yang dominan. Meskipun 70% responden mengetahui tanda infeksi secara teori, terdapat kebutuhan yang sangat tinggi (75%) akan pelatihan teknis, terutama mengenai cara mencuci luka yang benar (45%). Simpulan: Praktik perawatan luka di masyarakat masih menghadapi tantangan besar dalam hal sterilitas dan keterampilan teknis yang berdampak pada tingginya risiko infeksi.   Kata Kunci: Edukasi Kesehatan; Infeksi; Luka Kronis; Peran Keluarga; Perawatan Luka.
The relationship between family support and hemodialysis compliance in chronic kidney failure patients Aribudiati Sri Hidayati; Adinda Mayada Putri Handani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2020

Abstract

Background: Chronic kidney failure is a condition in which the kidneys experience a progressive decline in function. Chronic kidney failure sufferers in Yogyakarta are ranked 17th out of 25 provinces, reaching 66,433 patients. Family support is an important factor in the success of compliance with hemodialysis. Purpose: To determine the relationship between family support and hemodialysis compliance in chronic kidney failure patients at PKU Muhammadiyah Hospital, Yogyakarta. Method: The design of this study was quantitative with a cross-sectional design method. The sampling technique in this study used purposive sampling with a total of 74 respondents. The instruments used were the family support questionnaire and The End Renal Disease Adherence Questionnaire (ESRD-AQ) which had been modified by (Kim et al., 2010) and translated by (Syamsiah, 2011). Results: The data obtained showed good family support for 65 respondents (87.8%) and compliant compliance for 71 respondents (95.9%) and the sig value result was 0.000 <0.5. And the correlation that occurred was in the strong category with a result of 0.602. Conclusion: There is a significant relationship between family support and hemodialysis compliance in chronic kidney failure patients at PKU Muhammadiyah Hospital, Yogyakarta.   Keywords: Compliance; Family Support; Hemodialysis.
Hubungan pengetahuan tentang penyakit osteoarthritis dan upaya lansia dalam mengatasi penyakit osteoarthritis Al Iman Ferdian Samani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2601

Abstract

Background: An elderly person is someone over 60 years old and is entering the final stages of life. Osteoarthritis (OA) is a non-inflammatory degenerative joint disease that can affect the health of the elderly and tends to cause joint pain, which is the main symptom of osteoarthritis. Elderly people with osteoarthritis will be affected by mobility and activity, which is a vital issue for the overall health of the elderly. Purpose: To determine the relationship between knowledge about osteoarthritis and the efforts of the elderly in overcoming osteoarthritis. Method: The study used a quantitative correlational design with a correlation study approach. A total of 70 elderly people were sampled. The research instrument was a questionnaire on elderly people's knowledge and efforts. Data analysis used the Spearman's Rho test. Results: Most respondents had moderate knowledge (67.1%) and elderly efforts were in the sufficient category (38.6%). Spearman's Rho test obtained p = 0.000 (p < 0.05) with a correlation coefficient value of 0,982 in the positive direction (100%), indicating that the higher the elderly's knowledge, the higher the elderly's efforts in overcoming osteoarthritis. Conclusion: There is a significant relationship between knowledge about osteoarthritis and the efforts of older adults in managing it.   Keywords: Effort; Elderly; Knowledge; Osteoarthritis.   Pendahuluan: Lansia atau lanjut usia merupakan seseorang yang usianya lebih dari 60 tahun dan dimana kondisi umur seseorang yang memasuki tahap akhir dari fase kehidupan. Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif non peradangan yang dapat mempengaruhi kesehatan lansia dan cenderung menimbulkan nyeri sendi yang merupakan gejala utama osteoarthritis. Lansia dengan masalah osteoarthritis akan berpengaruh pada mobilitas dan aktivitas yang merupakan masalah vital bagi kesehatan total lansia. Keluhan ini juga dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup lansia Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang penyakit osteoarthritis dan upaya lansia dalam mengatasi penyakit osteoarthritis. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan correlation study. Sampel sampel diambil secara total yang berjumlah 70 lansia. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan dan upaya lansia. Analisis data menggunakan uji Spearman’s Rho. Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan dengan kategori sedang (67,1%) dan upaya lansia dengan kategori cukup (38,6%). Uji Spearman’s Rho diperoleh p = 0,000 (p < 0,05) dengan nilai correlation coefficient yaitu 0,982 arah korelasi positif (100%), bahwa semakin tinggi pengetahuan lansia, maka semakin tinggi upaya lansia dalam mengatasi penyakit osteoarthritis. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang penyakit osteoarthritis dan upaya lansia dalam mengatasi penyakit osteoarthritis.   Kata Kunci: Lansia, Osteoarthritis; Pengetahuan; Upaya.
Hubungan perilaku pemakaian pembalut dengan kejadian fluor albus santriwati Charlie Fatria Izha Maharani; Dwi Sri Handayani; Sarwinanti Sarwinanti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2620

Abstract

Background: The prevalence of vaginal discharge (fluor albus) in adolescent girls remains high and is a reproductive health issue that requires attention. Preliminary studies indicate a tendency for sanitary napkin use to be inconsistent with hygiene principles during menstruation, which is accompanied by the appearance of symptoms of vaginal discharge (fluor albus). Purpose: To determine the relationship between sanitary napkin use and the incidence of vaginal discharge (fluor albus) in female students. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The sampling technique used purposive sampling, with a sample size of 85 female students. A questionnaire was used to measure sanitary napkin use and the incidence of vaginal discharge (fluor albus). Data were analyzed bivariately using the Fisher's Exact test and contingency coefficient. Results: The study showed that the majority of respondents (43 respondents) used sanitary napkins correctly. Furthermore, 57 respondents (67.1%) experienced physiological vaginal discharge. Fisher's exact test showed a significant relationship between sanitary napkin usage behavior and the occurrence of fluor albus in female students, with a p-value of 0.000. The contingency coefficient test showed a moderate relationship between the two variables, with an r-value of 0.528 and a positive correlation. Conclusion: Improper sanitary napkin usage behavior is directly related to an increased incidence of fluor albus.   Keywords: Female Adolecent Student; Fluor Albus; Sanitary Pad usage.   Pendahuluan: Kejadian fluor albus pada remaja putri masih menunjukkan prevalensi yang tinggi dan merupakan permasalahan kesehatan reproduksi yang perlu mendapat perhatian. Studi pendahuluan menunjukkan adanya kecenderungan perilaku pemakaian pembalut yang tidak sesuai dengan prinsip kebersihan selama menstruasi, yang disertai dengan munculnya gejala fluor albus. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara perilaku pemakaian pembalut dengan kejadian fluor albus pada santriwati. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 85 santriwati. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner untuk mengukur perilaku pemakaian pembalut serta kejadian fluor albus. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact dan koefiesien kontingensi. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memakai pembalut dengan cara yang benar, yaitu sebanyak 43 orang (50.6%). Selain itu, sebanyak 57 responden (67.1%) mengalami kejadian fluor albus fisiologis. Uji Fisher’s Exact Test menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkah laku penggunaan pembalut dengan terjadinya fluor albus pada santriwati dengan nilai p-value = 0.000. Hasil uji koefisien kontingensi menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tergolong sedang, dengan nilai r sebesar 0.528 dan arah hubungan positif. Simpulan: Perilaku pemakaian pembalut yang tidak tepat berhubungan langsung dengan peningkatan kejadian fluor albus.   Kata Kunci : Fluor Albus; Pemakaian Pembalut; Santriwati.
Edukasi kesehatan meningkatkan kemandirian keluarga dalam manajemen kesehatan terkait menarche Esti Asih Mardiana; Agustina Rahmawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2647

Abstract

Background: Menarche is a significant milestone in early puberty, bringing biological, psychological, and social changes to individuals and families. Young adolescents and families who lack adequate information about the menarche process often experience anxiety, confusion, and inappropriate health management practices. Purpose: To provide family nursing care focused on young adolescents experiencing menarche. Method: A case study using a family nursing process approach, including assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Data were collected through interviews, observations, and physical examinations. Interventions included education about menarche, menstrual health management, and common menstrual problems such as dysmenorrhea. Non-pharmacological pain management techniques such as deep breathing relaxation, warm compresses, and dysmenorrhea exercises were also provided. Results: Family independence plays a crucial role in adolescent girls' readiness for menarche. Increased family independence is characterized by increased knowledge about menstruation and menarche, open communication between parents and children, and emotional and informative support provided by families to young women. Conclusion: Comprehensive, family-based, and participatory educational interventions at home were successful in increasing the independence of Mrs. W's family in managing health related to menarche in An. N.   Keywords: Adolescent Reproductive Health; Family Health Education; Family Independence; Family Support; Menarche.   Pendahuluan: Menarche adalah salah satu fitur penting dalam fase pubertas awal yang membawa perubahan biologis, psikologis, dan sosial bagi individu dan keluarga. Remaja awal dan keluarga yang belum mendapat informasi yang memadai tentang proses menarche sering mengalami kecemasan, kebingungan, dan praktik manajemen kesehatan yang tidak tepat. Tujuan: untuk memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan fokus pada remaja awal yang mengalami menarche. Metode: Studi kasus melalui pendekatan terhadap proses keperawatan keluarga meliputi penilaian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Intervensi meliputi edukasi tentang menarche, manajemen kesehatan menstruasi dan edukasi masalah yang sering dialami selama menstruasi seperti dismenore serta teknik manajemen nyeri non-farmakologis seperti relaksasi pernapasan dalam, kompres hangat, dan senam dismenore Hasil: Kemandirian keluarga berperan penting dalam kesiapan remaja putri menghadapi menarche. Peningkatan kemandirian keluarga ditandai dengan peningkatan pengetahuan tentang menstruasi dan menarche, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak-anak, dan dukungan emosional dan informatif yang diberikan keluarga kepada wanita muda. Simpulan: Intervensi edukatif yang komprehensif, berbasis keluarga, dan dilaksanakan secara partisipatif di rumah berhasil meningkatkan kemandirian Keluarga Ny. W dalam mengelola kesehatan terkait menarche pada An. N.    Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Edukasi Kesehatan Keluarga; Kesehatan Reproduksi Remaja; Kemandirian Keluarga; Menarche.
Hubungan konsumsi kafein terhadap kualitas tidur mahasiswa keperawatan semester 7 Vety Dwi Lukitasari; Suratini Suratini; Yuli Isnaeni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2663

Abstract

Background: Sleep quality is an essential component of physical and mental health, particularly among nursing students who face high academic demands during their final semester. Academic pressure and sleep deprivation, many students consume caffeine-containing beverages, which may negatively affect sleep quality if consumed excessively or at inappropriate times. Purpose: To determine the relationship between caffeine consumption and sleep quality among seventh-semester nursing students. Methods: This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 70 nursing students selected using random sampling. Data were collected using a caffeine consumption questionnaire adapted from previous studies and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data analysis was conducted using the Kendall’s Tau correlation test. Results: The majority of respondents had moderate caffeine consumption levels and poor sleep quality. Statistical analysis revealed a significant relationship between caffeine consumption and sleep quality among nursing students (p < 0.05), indicating that higher caffeine consumption was associated with poorer sleep quality. Conclusion: There is a significant relationship between caffeine consumption and sleep quality among seventh-semester nursing students.   Keywords: Caffeine Consumption; Nursing Students; PSQI; Sleep Quality.   Pendahuluan: Kualitas tidur merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental, terutama pada mahasiswa keperawatan semester akhir yang menghadapi beban akademik tinggi. mengatasi kelelahan dan mempertahankan kewaspadaan, mahasiswa sering mengonsumsi minuman berkafein yang apabila dikonsumsi berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kualitas tidur. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kafein dengan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan semester 7. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional dan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 70 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner konsumsi kafein dan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Kendall’s Tau. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat konsumsi kafein sedang dan kualitas tidur yang buruk. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dan kualitas tidur (p < 0,05), di mana semakin tinggi konsumsi kafein maka semakin buruk kualitas tidur mahasiswa. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dengan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan semester akhir.   Kata Kunci: Konsumsi Kafein; Kualitas Tidur; Mahasiswa Keperawatan; PSQI.  
Edukasi manfaat jus timun terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi Efroliza Efroliza; Solihin Solihin; Vira Suci Yunesi; Anjellicha Natassyalia; Devi Safitri; Triani Mustika Sulistin; Resta Widiastuti; Nenti Dayanti; Maria Ulfa; Anisa Anisa; Andi Az Zahra
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2668

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that is a major risk factor for cardiovascular diseases, such as stroke and coronary heart disease, and contributes significantly to global morbidity and mortality rates. The World Health Organization reported that in 2024 approximately 1.4 billion adults aged 30–79 years suffer from hypertension, or nearly 33% of the world's adult population. Purpose: To analyze the effect of education on the benefits of cucumber juice in lowering blood pressure on improving community knowledge. Method: This study used an educational approach with simple interventions based on education and the provision of cucumber juice to increase community knowledge regarding hypertension control. The method used was pre-experimental with a one-group pretest–posttest design. The activity was carried out with 30 adult participants selected using purposive sampling according to the inclusion criteria, namely willing to participate in the activity, not allergic to cucumbers, and not currently undergoing medical conditions that strictly limit fluid intake.. Results: Of the 30 participants who participated in the activity, the average knowledge score before the education (pretest) was recorded at 48.7. After receiving education and a demonstration on how to make and consume cucumber juice, the average knowledge score increased to 81.3. Conclusion: Education on the benefits of cucumber juice using leaflets has been shown to increase public knowledge about lowering blood pressure and managing hypertension.   Keywords: Blood Pressure; Cucumber Juice; Educationl; Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan penyakit jantung koroner, serta berkontribusi signifikan terhadap angka morbiditas dan mortalitas global. World Health Organization melaporkan bahwa pada tahun 2024 sekitar 1.4 miliar orang dewasa usia 30–79 tahun mengalami hipertensi, atau hampir 33% populasi dewasa dunia. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh edukasi manfaat jus timun dalam menurunkan tekanan darah terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat. Metode: Studi ini dilakukan dengan pendekatan edukatif dengan intervensi sederhana berbasis edukasi dan pemberian jus timun untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengendalian hipertensi. Metode yang digunakan adalah pre-experimental dengan desain one group pretest–posttest. Kegiatan dilaksanakan pada 30 peserta dewasa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi, yaitu bersedia mengikuti kegiatan, tidak memiliki alergi terhadap timun, dan tidak sedang menjalani kondisi medis yang membatasi konsumsi cairan secara ketat. Hasil: Sebanyak 30 partisipan yang mengikuti kegiatan, rata-rata skor pengetahuan sebelum edukasi (pretest) tercatat sebesar 48.7. Setelah diberikan edukasi dan demonstrasi mengenai cara pembuatan serta konsumsi jus timun rata-rata skor pengetahuan meningkat menjadi 81.3. Simpulan: Edukasi manfaat jus timun menggunakan media leaflet terbukti meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penurunan tekanan darah dan pengendalian hipertensi.                       Kata Kunci: Edukasi; Hipertensi; Jus Timun; Tekanan Darah.
Hubungan pola tidur dengan hipertensi pada lansia Vera Evita Sari; Suri Salmiyati; Tiwi Sudyasih
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2708

Abstract

Background: The increasing number of elderly people has led to a rise in the prevalence of degenerative diseases, one of which is hypertension, which remains a major health problem in the elderly. In addition to aging and physiological changes, lifestyle factors, such as sleep patterns, play a role in the development of hypertension, as older adults often experience changes in sleep duration and quality. Disturbed sleep patterns can increase sympathetic nervous system activity and stress hormones, leading to increased blood pressure. Purpose: To determine the relationship between sleep patterns and hypertension in elderly Posyandu elderly. Method: This research used a cross-sectional design. The population was 41. Purposive sampling was used, resulting in a sample size of 40 respondents. Data collection techniques included a digital sphygmomanometer and a questionnaire. The chi-square test was used for data analysis. Results: The results of the Chi-Square test showed a p-value of (0.001) < (0.05), meaning that statistically there was a significant relationship between sleep patterns and hypertension in respondents in this study. The majority of respondents experienced poor sleep quality with stage II hypertension of 19 respondents (47.5%). Conclusion: There is a link between sleep patterns and hypertension in the elderly, with poor sleep patterns contributing to increased blood pressure. Improving sleep patterns should be part of promotive and preventive efforts to control hypertension in the elderly at the community level.   Keywords: Elderly; Hypertension; Sleep Patterns.   Pendahuluan: Peningkatan jumlah lanjut usia (lansia) berdampak pada meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif, salah satunya hipertensi yang masih menjadi masalah kesehatan utama pada kelompok usia lanjut. Selain faktor penuaan dan perubahan fisiologis, gaya hidup seperti pola tidur berperan dalam terjadinya hipertensi, mengingat lansia sering mengalami perubahan durasi dan kualitas tidur. Gangguan pola tidur dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis dan hormon stres sehingga memicu peningkatan tekanan darah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pola tidur dengan Hipertensi pada lansia posyandu lansia. Metode: Metode penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 41. Teknik sampling menggunakan purposive sampling sehingga sampel yang digunakan sebanyak 40 responden. Teknik pengumpulannya menggunakan sphygmomanometer digital dan kuisioner. Metode analisa data nya menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value (0.001) < (0.05), artinya secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pola tidur dengan hipertensi pada responden dalam penelitian ini. Mayoritas responden mengalami kualitas tidur buruk dengan hipertensi stage ll sebanyak 19 responden (47.5%). Simpulan: Terdapat hubungan antara pola tidur dengan hipertensi pada lansia, di mana pola tidur yang buruk berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Perbaikan pola tidur perlu menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif dalam pengendalian hipertensi pada lansia di tingkat komunitas.   Kata Kunci: Hipertensi; Lansia; Pola Tidur.
Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien hipertensi Muhammad Nur Maghribi Sembiring; Leny Suarni; Ichfad Ananda; Desi Lianti Sari Hasibuan; Atikah Marhamah Sembiring; Muhammad Simba Sembiring; Thoyibah Pohan
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2718

Abstract

Background: Hypertension is often referred to as a silent killer because in most cases it does not cause any specific symptoms until complications arise. Therefore, family support has been proven to increase medication adherence, maintain diet, and encourage lifestyle changes in hypertensive patients. In hypertensive patients, quality of life is often influenced by physical health conditions, medication side effects, concerns about complications, and limitations in daily activities. Purpose: To analyze the relationship between family support and quality of life in hypertensive patients. Method: A quantitative study with a descriptive correlational design using a cross-sectional approach. The sample in this study used total sampling, which is the total population, consisting of 197 patients who had suffered from hypertension in the last year (2024-2025) based on data from the Tanjung Morawa Community Health Center, Tanjung Morawa District, Deli Serdang Regency, North Sumatra. Data analysis in this study used the Chi-square test. Results: The majority of hypertensive patients had positive family support, with 120 respondents (60.9%), and a high quality of life, with 118 respondents (59.8%). Statistical analysis using the chi-square test yielded a P-value of 0.01. Conclusion: There is a significant relationship between family support and quality of life in hypertensive patients.   Keywords: Family Support; Hypertension; Quality of Life; Patients.   Pendahuluan: Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena pada sebagian besar kasus tidak menimbulkan gejala yang khas hingga terjadi komplikasi. Oleh karena itu, Dukungan keluarga terbukti meningkatkan kepatuhan minum obat, menjaga pola makan, serta melakukan perubahan gaya hidup pada pasien hipertensi. Pada pasien hipertensi, kualitas hidup sering kali dipengaruhi oleh kondisi kesehatan fisik, efek samping obat, kekhawatiran terhadap komplikasi, serta keterbatasan aktivitas sehari-hari. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi malalui pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini menggunakan Total Sampling yaitu total keseluruhan dari jumlah populasi, sebanyak 197 pasien yang menderita hipertensi dalam satu tahun terakhir (2024-2025) berdasarkan data di Puskesmas Tanjung Morawa, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Uji Chi Square.   Hasil: Mayoritas pasien Hipertensi memiliki dukungan keluarga yang positif sebanyak 120 Responden (60,9%), dan kualitas hidup yang tinggi sebanyak 118 Responden (59,8%). hasil analisis statistik menggunakan uji chi square diperoleh nilai P - Value = 0,01.   Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien Hipertensi.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Hipertensi; Kualitas Hidup; Pasien.
Dukungan keluarga berhubungan dengan motivasi menjalani terapi hemodialisis Ruth Berlianing Hanifah; Deasti Nurmaguphita; Prastiwi Puji Rahayu
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2722

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a condition where kidney function declines irreversibly, resulting in the body's inability to maintain fluid balance, necessitating renal replacement therapy, one of which is hemodialysis. Purpose: To analyze the relationship between family support and the motivation of CKD patients undergoing hemodialysis, to determine the most dominant family support, and to determine the close relationship between family support and motivation for undergoing hemodialysis. Method: This study is a quantitative cross-sectional study. The sampling technique used purposive sampling, calculated using the Slovin formula e = 0.05, for 120 respondents. The family support variable was measured using a family support questionnaire. The motivation variable for undergoing hemodialysis was measured using a hemodialysis motivation questionnaire. Results: The study showed that some CRF patients undergoing hemodialysis were highly motivated, demonstrating their readiness and commitment to undergoing hemodialysis. The most prevalent form of family support was informational support. The analysis revealed a positive correlation with moderate closeness, meaning that the higher the family support received, the higher the patient's motivation to undergo hemodialysis. Conclusion: There is a positive correlation between family support and motivation to undergo hemodialysis.   Keywords: Chronic Kidney Failure; Family Support; Hemodialysis; Motivation.   Pendahuluan: Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kondisi menurunnya fungsi ginjal secara irreversible yang mengakibatkan tubuh tidak dapat mempertahankan keseimbangan cairan, sehingga perlu terapi pengganti ginjal salah satunya hemodialisis. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien GGK dalam menjalani hemodialisis, mengetahui dukungan keluarga yang paling dominan, dan bagaimana keeratan hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dengan metode Purposive Sampling setelah dihitung dengan rumus slovin e = 0,05 sebanyak 120 responden. Variabel dukungan keluarga diukur menggunakan kuesioner dukungan keluarga. Variabel motivasi menjalani hemodialisis diukur dengan kuesioner motivasi menjalani hemodialisis. Hasil: Sebagian pasien GGK yang menjalani hemodialisis memiliki motivasi tinggi, menunjukkan kesiapan serta komitmen pasien dalam menjalani hemodialisis. Dukungan keluarga yang paling dominan diberikan adalah dukungan informasional. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dengan keeratan sedang, yang berarti semakin tinggi dkungan keluarga yang diterima maka semakin tinggi motivasi pasien dalam menjalani hemodialisis. Simpulan : Terdapat hubungan positif antara dukungan keluarga dengan motivasi menjalani hemodialisis.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Gagal Ginjal Kronis; Hemodialisis. Motivasi.