cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 328 Documents
Hubungan dukungan teman sebaya dengan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri Laela Hidayah Eka Maulida Muntabiah; Suratini Suratini; Ibrahim Rahmat
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2744

Abstract

Background: Adolescent girls are a group vulnerable to anemia due to iron deficiency, especially during menstruation. Regular consumption of iron supplements is an important way to prevent anemia and support adolescent health. However, adherence to iron supplements remains low due to various factors, one of which is peer support Purpose: The aim of this study was to determine the relationship between peer support and the consumption of iron tablets. Metod: This quantitative research used a cross-sectional method. The data collection technique used total sampling. The sample size for this study was 50 respondents. Data analysis used the Chi-Square test. Results: The results of this study indicate that there is a relationship between peer support and the consumption of iron tablets in female adolescents (p value: 0.009 < 0.05) which means that the data that has been tested is said to be significant and the correlation coefficient is 0.037 which means that the correlation between good relationships Conclusion: There is a significant relationship between peer support and the consumption of iron tablets in adolescents.   Keywords: Adolescents; Consumption Of Iron Tablets; Peer Support.   Pendahuluan: Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia akibat kekurangan zat besi, terutama selama masa menstruasi. Konsumsi tablet tambah darah secara rutin menjadi salah satu Upaya penting untuk mencegah anemia dan mendukung Kesehatan remaja. Namun, kepatuhan mengonsumsi TTD masih rendah karena berbagai factor, salah satunya adalah dukungan dari teman sebaya Tujuan: untuk mengetahui hubungan dukungan teman sebaya dengan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional. Teknik pengambilan data ini menggunakan total sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 50 responden. Analisis data penelitian menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Ada hubungan anatar dukungan teman sebaya dengan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri p value: 0.009<0.05 yang berarti data yang telah dilakukan uji dikatakan signifikan dan hasil korelasi koefien sebesar 0.037 yang berarti korelasi antara hubungan baik. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan konsumsi tablet tambah darah pada remaja.   Kata Kunci: Dukungan Teman Sebaya; Konsumsi Tablet Tambah Darah; Remaja.
Pemberian massage dengan minyak beraroma lavender untuk kram otot pada pasien hemodialisis Adinda Mayada Putri Handani; Erna Rochmawati; Estri Haryani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2764

Abstract

Background: Muscle cramps are a common complaint experienced by patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis and can reduce their comfort and quality of life. One potentially effective non-pharmacological intervention is massage combined with lavender-scented oil, which has physical and psychological relaxation effects. Purpose: To describe the effect of massage with lavender-scented oil on reducing muscle cramps in hemodialysis patients. Method: This study used a descriptive design with a case study method in two hemodialysis patients experiencing muscle cramps in the Hemodialysis Ward at PKU Muhammadiyah Bantul Hospital. Muscle cramps were measured using the Cramp Questionnaire Chart before and after the intervention. The intervention, which consisted of massage using lavender-scented oil for approximately 30 minutes, was conducted in two sessions for each respondent. Results: There was a decrease in muscle cramp scores in both respondents after the intervention. Mr. T experienced a decrease in muscle cramp scores from 9 (severe cramps) to 7 at the first session and from 7 to 6 at the second session. Meanwhile, Mr. M's muscle cramp score decreased from 9 to 8 at the first session and from 8 to 7 at the second session. Conclusion: Massage with lavender oil showed a synergistic effect in reducing muscle cramps in hemodialysis patients.   Keywords: Hemodialysis; Lavender Aromatherapy; Massage Therap; Muscle Cramps.   Pendahuluan: Kram otot merupakan salah satu keluhan yang sering dialami pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dan dapat menurunkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien Salah satu intervensi nonfarmakologis yang berpotensi efektif adalah pemberian massage yang dikombinasikan dengan minyak beraroma lavender, yang memiliki efek relaksasi fisik dan psikologis. Tujuan: Untuk mendeskripsikan efek pemberian massage dengan minyak beraroma lavender terhadap penurunan tingkat kram otot pada pasien hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan metode studi kasus pada dua pasien hemodialisis yang mengalami kram otot di Ruang Hemodialisa RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Pengukuran kram otot dilakukan menggunakan Cramp Questionnaire Chart sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi berupa massage menggunakan minyak beraroma lavender selama kurang lebih 30 menit dilakukan sebanyak dua kali pertemuan pada masing-masing responden. Hasil: Adanya penurunan skor kram otot pada kedua responden setelah diberikan intervensi. Tn. T terjadi penurunan skor kram otot dari 9 (kram berat) menjadi 7 pada pertemuan pertama dan dari 7 menjadi 6 pada pertemuan kedua. Sedangkan Tn. M dengan skor kram otot menurun dari 9 menjadi 8 pada pertemuan pertama dan dari 8 menjadi 7 pada pertemuan kedua. Simpulan: Pemberian massage dengan minyak beraroma lavender menunjukkan efek sinergis dalam menurunkan kram otot pada pasien hemodialisis.   Kata Kunci: Aroma Lavender; Hemodialisis; Kram Otot; Massage.
Faktor risiko dan pencegahan dermatitis kontak akibat kerja: Literature review Mutiara Mutiara; Nurelly Nurelly; Abbas Zavey Nurdin; Adharia Adharia; Solecha Setiawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2816

Abstract

Background: Occupational contact dermatitis (OCD) is a significant occupational health problem, particularly among industrial workers who are routinely exposed to chemicals and irritants. Risk factors are multifactorial, including occupational factors (duration and frequency of chemical exposure, wet work), individual factors (age, gender, history of atopy, personal hygiene), and work environment factors (temperature, humidity, availability of sanitation facilities, and use of PPE). Effective prevention includes exposure control, appropriate use of PPE, worker education and training, and improving the work environment to maintain skin integrity and reduce the incidence of OCD. Purpose: To identify risk factors and prevention of occupational contact dermatitis. Method: This study used a systematic literature review method, searching PubMed, ScienceDirect, Scopus, Google Scholar, and ProQuest for articles published between 2020 and 2025. Selection was carried out through screening titles, abstracts, and full-text review according to inclusion and exclusion criteria. This resulted in 20 relevant articles for descriptive and systematic analysis. Results: Proper use of PPE, good personal hygiene, and controlling exposure to irritants were the most consistent factors in preventing DKAK. Conclusion: Prevention of occupational contact dermatitis requires an integrated and sustainable approach involving exposure control, education, use of PPE, and improvements to the work environment.   Keywords: Contact Dermatitis; Occupational Contact Dermatitis; Prevention; Risk Factors; Systematic Literature Review.   Pendahuluan: Dermatitis kontak akibat kerja (DKAK) merupakan masalah kesehatan kerja yang signifikan, terutama pada pekerja industri yang rutin terpapar bahan kimia dan iritan. Faktor risiko bersifat multifaktorial, meliputi faktor pekerjaan (lama dan frekuensi kontak bahan kimia, wet work), faktor individu (usia, jenis kelamin, riwayat atopi, personal hygiene), serta faktor lingkungan kerja (suhu, kelembapan, ketersediaan sarana sanitasi, dan penggunaan APD). Pencegahan efektif meliputi pengendalian paparan, penggunaan APD yang tepat, edukasi dan pelatihan pekerja, serta perbaikan lingkungan kerja untuk menjaga integritas kulit dan menurunkan insiden DKAK. Tujuan: Untuk mengetahauhi faktor resiko dan pencegahan dermatitis kontak akibat kerja. Metode: Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan penelusuran literatur melalui PubMed, ScienceDirect, Scopus, Google Scholar, dan ProQuest terhadap artikel yang diterbitkan pada periode 2020–2025. Seleksi dilakukan melalui screening judul, abstrak, dan telaah teks lengkap sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh 20 artikel relevan yang dianalisis secara deskriptif dan sistematis. Hasil: Penggunaan APD yang tepat, personal hygiene yang baik, serta pengendalian paparan bahan iritan merupakan faktor yang paling konsisten berperan dalam pencegahan DKAK. Simpulan: Pencegahan dermatitis kontak akibat kerja memerlukan pendekatan terpadu dan berkelanjutan yang melibatkan pengendalian paparan, edukasi, penggunaan APD, dan perbaikan lingkungan kerja.   Kata Kunci: Dermatitis Kontak; Faktor Risiko; Occupational Contact Dermatitis; Pencegahan; Systematic Literature Review.
Literature review: Prinsip dasar anestesi pada pasien eklampsia Lujna Adharani Hidayat; Faisal Sommeng; Abadi Aman; Nur Rakhmah; Julia Hasir
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2862

Abstract

Background: Eclampsia is a life-threatening obstetric complication associated with high maternal and perinatal morbidity and mortality. Anesthetic management in eclampsia is challenging due to endothelial dysfunction, severe hypertension, seizure risk, and systemic complications affecting maternal and fetal outcomes. Objective: To review and summarize the basic principles of anesthetic management in patients with eclampsia based on current scientific evidence. Methods: This study employed a narrative literature review approach. Data were obtained from electronic databases including PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and Cochrane Library. Included studies were published in English and Indonesian, focusing on eclampsia and anesthetic management, with study designs such as systematic reviews, meta-analyses, cohort studies, and case reports. Literature selection followed inclusion–exclusion criteria and PRISMA guidelines. Results: The main principles of anesthetic management in eclampsia include initial stabilization (ABCDE), seizure control with magnesium sulfate, gradual blood pressure control, and restrictive fluid management. The choice of anesthetic technique should be individualized; regional anesthesia is preferred in stable patients without coagulopathy, while general anesthesia is indicated in emergency situations or when regional anesthesia is contraindicated. Close intraoperative monitoring and intensive postoperative care are essential to prevent complications. Conclusion: Anesthetic management in eclampsia requires a comprehensive and individualized approach.   Keywords: Eclampsia; Obstetric Anesthesia; Magnesium Sulfate; Hypertensive Disorders Of Pregnancy; Perioperative Management.   Pendahuluan: Eklampsia merupakan komplikasi obstetri yang mengancam jiwa dengan morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal yang tinggi. Penatalaksanaan anestesi pada pasien eklampsia menjadi tantangan karena adanya disfungsi endotel, hipertensi berat, risiko kejang, serta komplikasi sistemik yang dapat memengaruhi outcome ibu dan janin. Tujuan: Meninjau dan merangkum prinsip dasar manajemen anestesi pada pasien eklampsia berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan naratif. Data diperoleh dari berbagai basis data elektronik seperti PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan Cochrane Library. Artikel yang disertakan adalah penelitian dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang membahas eklampsia dan manajemen anestesi, dengan desain studi seperti systematic review, meta-analisis, cohort, dan laporan kasus. Seleksi literatur dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta mengikuti pedoman PRISMA. Hasil: Prinsip utama manajemen anestesi pada eklampsia meliputi stabilisasi awal (ABCDE), kontrol kejang menggunakan magnesium sulfat, pengendalian tekanan darah secara bertahap, serta manajemen cairan yang restriktif. Pemilihan teknik anestesi harus individual; anestesi regional lebih disarankan pada pasien stabil tanpa gangguan koagulasi, sedangkan anestesi umum digunakan pada kondisi emergensi atau kontraindikasi regional. Monitoring intraoperatif dan perawatan pascaoperatif yang ketat berperan penting dalam mencegah komplikasi. Simpulan: Manajemen anestesi pada pasien eklampsia memerlukan pendekatan komprehensif dan individualisasi berdasarkan kondisi klinis pasien.   Kata Kunci: Anestesi Obstetri; Eklampsia; Magnesium Sulfat; Hipertensi Kehamilan; Manajemen Perioperatif.
Hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian hipertensi Ilham Cahya Nugraha; Asmarawanti Asmarawanti; Rima Novianti Utami
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2870

Abstract

Background: Hypertension is a major health problem in the elderly, and anxiety is a contributing factor, which can trigger sympathetic nervous system activation and increase blood pressure. Purpose: To determine the relationship between anxiety levels and the incidence of hypertension. Method: This quantitative study used a correlational analytical design and a cross-sectional approach. The population was all hypertensive patients (157), with a sample size of 61 individuals using stratified random sampling. Data analysis used the Chi-Square test. Results: Most respondents had stage 1 hypertension (54.1%), and nearly half had severe anxiety (44.3%). The Chi-Square test showed a 0.001<0.05 indicating a significant relationship between anxiety levels and the incidence of hypertension. Conclusion: There is a significant relationship between anxiety levels and the incidence of hypertension, therefore, psychological aspects need to be part of comprehensive interventions in managing hypertension in the community.   Keywords: Anxiety; Elderly; Hypertension.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada lansia dan salah satu faktor yang berkontribusi adalah kecemasan, yang dapat memicu aktivasi saraf simpatis dan peningkatan tekanan darah. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh pasien hipertensi (157 orang), dengan sampel 61 orang menggunakan teknik stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden berada pada kategori hipertensi derajat 1 (54.1%) dan hampir setengahnya memiliki kecemasan berat (44.3%). Uji Chi-Square menunjukkan nilai 0.001<0.05 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara tingkat kecemasan dan kejadian hipertensi pada pasien. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara tingkat kecemasan dengan kejadian hipertensi, sehingga aspek psikologis perlu menjadi bagian dari intervensi komprehensif dalam pengelolaan hipertensi di masyarakat.   Kata Kunci: Hipertensi; Kecemasan; Lansia.
Hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada lansia penderita hipertensi Mohamad Azka; Teten Tresnawan; Dedi Wahyudin
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2882

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease with chronic elevated blood pressure and is a major risk factor for cardiovascular disease in the elderly. Sleep quality disturbances are common in elderly people with hypertension due to physiological changes and impaired blood pressure regulation. Regular physical activity plays an important role in controlling blood pressure and improving sleep quality. Purpose: To determine the relationship between physical activity and sleep quality in elderly people with hypertension. Method: This study used a quantitative, correlational, analytic design with a cross-sectional approach. The population was all 877 elderly people with hypertension aged ≥60 years, with a sample of 90 respondents selected using stratified random sampling. The research instrument was a questionnaire covering respondent characteristics, physical activity, and sleep quality, which has been tested for validity and reliability. Data were analyzed using the Chi-Square test. Results: The chi-square statistical test yielded a P-value of 0.001 <0.05, indicating a relationship between physical activity and sleep quality in elderly people with hypertension. Conclusion: There is a relationship between physical activity and sleep quality in elderly people with hypertension.   Keywords: Elderly; Hypertension; Physical Activity; Sleep Quality.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan peningkatan tekanan darah kronis dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular pada lansia. Gangguan kualitas tidur sering ditemukan pada lansia hipertensi akibat perubahan fisiologis dan regulasi tekanan darah yang terganggu. Aktivitas fisik teratur berperan penting dalam pengendalian tekanan darah dan peningkatan kualitas tidur. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada lansia penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh lansia penderita hipertensi usia ≥60 tahun sebanyak 877 orang dengan sampel 90 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner karakteristik responden, aktivitas fisik, dan kualitas tidur yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil:  Uji statistik dengan chi-square nilai P yang dihasilkan sebesar 0.001 < 0.05 yang artinya ada hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada lansia penderita hipertensi. Simpulan: Ada hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada lansia penderita hipertensi.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Hipertensi; Kualitas Tidur; Lansia.
Hubungan pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan hipertensi pada lansia Fathan Fauzhan; Teten tresnawan; Herlina Lidyawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2883

Abstract

Background: Hypertension is a chronic non-communicable disease characterized by systolic blood pressure ≥140 mmHg or diastolic blood pressure ≥90 mmHg, and is a leading cause of premature death globally, with a prevalence of more than 1.13 billion people. Objective: To determine the relationship between knowledge and efforts to prevent hypertension recurrence among elderly in Selabatu Village. Methods: This was a quantitative analytical correlational study with a cross-sectional design. The population consisted of 877 elderly with hypertension, with a sample of 90 respondents selected using stratified random sampling. Instruments were a knowledge questionnaire (15 items, Likert scale, α=0.85) and a prevention effort questionnaire (15 items, positive/negative Likert items, α>0.7), both valid and reliable. Bivariate analysis used the Chi-Square test. Results: Based on the study results, the level of knowledge among hypertension sufferers, with a total sample of 90 respondents, was found to be quite good (42 respondents (46.7%). The results of hypertension prevention efforts were also found to be quite good (36 respondents (40.0%). The chi-square statistical test yielded a P-value of 0.001 < 0.05. Conclusion: There is a relationship between knowledge and hypertension prevention efforts in the elderly.   Keywords: Elderly; Hypertension; Knowledge; Recurrence Prevention.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular kronis dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg, yang menjadi penyebab utama kematian dini global dengan prevalensi >1.13 miliar orang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan hipertensi pada lansia. Metode: Penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan desain cross-sectional. Populasi 877 lansia hipertensi, sampel 90 responden via stratified random sampling. Instrumen: kuesioner pengetahuan (15 item, Likert, α=0.85) dan upaya pencegahan (15 item, Likert positif/negatif, α>0.7), valid dan reliabel. Analisis bivariat menggunakan Chi-Square.​ Hasil: Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan tingkat pengetahuan pada penderita hipertensi dengan total sampel 90 responden, hampir setengahnya dalam kategori cukup baik sebanyak 42 responden (46.7%). Hasil upaya pencegahan hipertensi hampir setengahnya dalam kategori cukup baik sebanyak 36 responden (40,0%). Hasil uji statistik dengan chi-square nilai P yang dihasilkan sebesar 0.001 < 0.05. Simpulan:  Ada hubungan pengetahuan dengan upaya pencegahan hipertensi pada lansia.   Kata Kunci: Hipertensi; Lansia; Pengetahuan; Pencegahan Kekambuhan.
Hubungan self eficacy dengan kualitas hidup pasien TB paru Febryan Rifky Syahputra; Yeni Yulianti; Rani Indriani Kusumah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2884

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains one of the leading causes of death worldwide. This disease affects not only the physical condition of patients but also their psychological and social aspects. The quality of life among pulmonary TB patients is influenced by various factors, including self-efficacy, or an individual’s belief in their ability to manage the disease. Purpose: To determine the relationship between self-efficacy and the quality of life of pulmonary TB patients. Method: This study used a cross-sectional design with a quantitative approach. The study population consisted of all 431 pulmonary TB patients, including 58 currently undergoing treatment. The sample size was 58 respondents, using a total sampling technique. The research instruments included the TB Pulmonary Self-Efficacy Scale (TBSES) and the WHOQOL-BREF. Data analysis was performed using the Chi-Square test. Results: The analysis showed a significant relationship between self-efficacy and the quality of life of pulmonary TB patients (p < 0.001). Conclusion: A higher level of self-efficacy contributes to an improved quality of life among pulmonary TB patients. Interventions aimed at strengthening self-efficacy are essential to enhance treatment success and overall patient well-being.   Keywords: Pulmonary Tuberculosis; Quality Of Life; Self-Efficacy.   Pendahuluan: Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit infeksi menular yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Penyakit ini tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga aspek psikologis dan sosial pasien. Kualitas hidup penderita TB paru dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk self-efficacy atau keyakinan individu dalam mengelola penyakitnya. Tujuan: Untuk engetahui hubungan antara self-efficacy dengan kualitas hidup pasien TB paru. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh pasien TB paru sebanyak 431 orang dan yang sedang menjalani pengobatan sebanyak 58 orang. Besar sampel dalam penelitian ini sesanyak 58 responden menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian meliputi TB Pulmonary Self-Efficacy Scale (TBSES) dan WHOQOL-BREF. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self-efficacy dan kualitas hidup pasien TB paru (p < 0.001). Simpulan: Tingkat self-efficacy yang tinggi berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup pasien TB paru. Intervensi untuk memperkuat self-efficacy penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan dan kesejahteraan pasien.   Kata Kunci: Self-Efficacy; Kualitas Hidup; TB Paru.