cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 306 Documents
Gambaran tingkat pengetahuan dan kesadaran penggunaan kacamata pada lansia Muzakki, Muhammad Alfian; Putra, Meirizal Ari
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2518

Abstract

Background: Older adults are defined as individuals aged 60 years and above. According to the World Health Organization (WHO), aging is classified into several stages, including older adults (60–74 years), old-old (75–90 years), and very old (>90 years), with individuals aged 45–59 years categorized as the pre-elderly group. Aging is commonly accompanied by a decline in visual function due to physiological changes in the eye, including reduced accommodative ability, decreased reading capacity, and impaired color vision. Purpose: To describe the level of knowledge and awareness regarding the use of eyeglasses as visual aids among older adults. Method: Descriptive quantitative research using a cross-sectional design involving 49 respondents. Results: The majority of respondents were female (75.5%, n = 37). Most respondents were in the age group of 51–60 years (42.9%, n = 21). The predominant level of knowledge was moderate, reported by 63.3% (n = 31) of respondents, followed by good knowledge at 16.3% (n = 8), while 20.4% (n = 10) had poor knowledge. In contrast, awareness regarding the use of eyeglasses was predominantly low, with 83.7% (n = 41) of respondents categorized as not aware of the importance of using eyeglasses, whereas only 16.3% (n = 8) demonstrated adequate awareness.. Conclusion: The level of knowledge is sufficient (63.3%) that using glasses is important but awareness of using glasses is low at 83.7%. Keywords: Eyeglasses Awareness; Knowledge. Pendahuluan: Lansia adalah usia diatas rata-rata 60 tahun keatas, menurut WHO klasifikasi usai lanjut yaitu terbagi menjadi beberapa kategori seperti lansia (60-74 tahun), lansia tua (75-90 tahun), dan sangat tua (>90 tahun) dengan usia pertengahan (45-59 tahun) sebagai kelompok pra-lansia. Usia lanjut menyebabkan penurunan pengelihatan sebab respons- respons perseptual terhadap lingkungan berhubungan dengan rasa aman. Penurunan penglihatan (low vision) dan fungsi penglihatan yang dianggap normal seiring proses penuaan termasuk fisiologi penglihatan yang berkurang, penurunan kemampuan mata untuk membaca dan penglihatan warna. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan kesadaran dalam penggunaan kacamata sebagai alat bantu pengelihatan pada lansia. Metode: Peniltian kuantitatif deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional yang melibatkan 49 responden. Hasil: Jenis kelamin di dominasi perempuan sebanyak 75.5% (37) Responden dengan usia responden dominan usia 51-60 tahun sebanyak 6.1% (21) Responden. Tingkat pengetahuan tertinggi yaitu pengetahuan cukup sebanyak 63.3% (31) Responden, lalu pengetahuan baik sebanyak 16.3% (8) Responden sedangkan pengetahuan kurang sebanyak 20.4% (10) Responden. Tingkat kesadaran dalam penggunaan kacamata tertinggi tidak sadar sebanyak 83.7% (41) Responden dan tingkat kesadaran pentingnya penggunaan kacamata yaitu sebanyak 16.3% (8) Responden. Simpulan: Tingkat pengetahuan cukup (63.3%) bahwa penggunaan kacamata itu penting namun rendah dalam sadar untuk menggunakan kacamata sebanyak 83.7%. Kata Kunci: Kacamata; Kesadaran; Pengetahuan.      
Analisis hubungan antara pola makan tinggi gula dan kebiasaan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri Siregar, Erin Padilla; Pitaloka, Diah; Rezeki, Sri; Damayanty S, Damayanty S; Rista, Henny; Misno, Misno
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2554

Abstract

Background: Vaginal discharge (flour albus) is a common reproductive health problem among adolescents, and if pathological, can lead to serious complications. Lifestyle factors such as a high-sugar diet and poor personal hygiene practices are strongly suspected to be the main triggers for imbalances in normal vaginal flora. Purpose: To analyze the relationship between a high-sugar diet and personal hygiene habits and the incidence of vaginal discharge in adolescent girls. Method: This quantitative study used a correlational analytic design with a cross-sectional approach. A sample of 98 adolescent girls was selected using a total sampling technique in Banun Rejo Village, Deli Serdang. The research instruments included a questionnaire on knowledge, hygiene practices, and a Food Frequency Questionnaire (FFQ) for sugar intake. Data were analyzed univariately and bivariately. Results: The majority of respondents had insufficient knowledge (59.20%) and poor personal hygiene (62.25%). A total of 35.71% of adolescents had a high-sugar diet. The analysis showed a significant correlation between a high-sugar diet (80% of pathological cases) and poor personal hygiene (85% of pathological cases) and the incidence of vaginal discharge. Conclusion: There is a significant relationship between a high sugar diet and personal hygiene habits and the incidence of vaginal discharge.   Keywords: Adolescent; Diet; Sugar; Personal Hygiene; Vaginal Discharge.   Pendahuluan: Keputihan (flour albus) merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja yang jika bersifat patologis dapat memicu komplikasi serius. Faktor gaya hidup seperti pola makan tinggi gula dan praktik personal hygiene yang buruk diduga kuat sebagai pemicu utama ketidakseimbangan flora normal vagina. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pola makan tinggi gula dan kebiasaan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 98 remaja putri dipilih menggunakan teknik total sampling di Desa Banun Rejo, Deli Serdang. Instrumen penelitian meliputi kuesioner pengetahuan, praktik hygiene, dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk asupan gula. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang (59.20%) dan personal hygiene tidak baik (62.25%). Sebanyak 35.71% remaja memiliki pola makan tinggi gula. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi signifikan antara pola makan tinggi gula (80% kasus patologis) dan personal hygiene yang buruk (85% kasus patologis) dengan kejadian keputihan. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan tinggi gula dan kebiasaan personal hygiene dengan kejadian keputihan.   Kata Kunci: Gula; Keputihan; Personal Hygiene; Pola Makan; Remaja.
Gambaran jenis-jenis penyakit penglihatan mata pada lansia di dusun kembang Sulistyo, Joko; Kumalasari, Sekar
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2557

Abstract

Background: Vision disorders in the elderly generally include myopia, presbyopia, glaucoma, and cataracts, Advanced age causes decreased vision. Decreased vision and visual function that are considered normal with the aging process include reduced vision physiology, decreased eye ability to read and color vision. Purpose: To determine the types of eye diseases experienced by the elderly. Method: This research uses a descriptive quantitative method using a cross-sectional design, involving 93 respondents.. Results: Frequency distribution data shows that the gender of respondents is dominated by women with 63 (67.7%) respondents. Based on the age of respondents, the most age range is 51-60 years with 36 (38.71%) respondents. Eye diseases in the elderly are the highest experiencing myopia with 40 (43.3%) respondents, presbyopia with 28 (30.1%) respondents, glaucoma with 14 (15.1%) respondents and those experiencing cataracts with 11 (11.8%) respondents. However, of the elderly experiencing these diseases who use glasses, only 24 (25.8%) respondents. Conclusion: The study concluded that the elderly in Kembang Hamlet experienced various eye diseases such as presbyopia, myopia, cataracts and glaucoma, but only 25.8% used eyeglasses as visual aids.   Keywords: Cataract; Glaucoma; Myopia; Presbyopia.   Pendahuluan: Penyakit penglihatan pada lansia pada umumnya meliputi myopia, presbiopia, glaukoma, dan katarak. Usia lanjut menyebabkan penurunan penglihatan. Penurunan penglihatan dan fungsi penglihatan yang dianggap normal seiring proses penuaan termasuk fisiologi penglihatan yang berkurang, penurunan kemampuan mata untuk membaca dan penglihatan warna. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran jenis-jenis penyakit mata yang dialami lansia. Metode: penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional yang melibatkan 93 responden. Hasil: Data distribusi frekuensi menunjukkan jenis kelamin responden di dominasi perempuan sebanyak 63 (67.7%) responden. Berdasarkan usia responden, rentang usia terbanyak yaitu 51-60 tahun sebanyak 36 (38.71%) responden. Penyakit mata pada lansia yaitu tertinggi mengalami myopia sebanyak 40 (43.3%) responden, presbiopia sebanyak 28 (30.1%) responden, Glukoma sebanyak 14 (15.1%) responden dan yang mengalami katarak sebanyak 11 (11.8%) responden. Namun dari lansia mengalami penyakit tersebut yang menggunakan kacamata hanya 24 (25.8%) responden. Simpulan: Lansia di dusun Kembang mengalami berbagai penyakit mata seperti presbiopia, myiopia, katarak dan glukoma namun yang menggunakan alat bantu penglihatan kacamata hanya 25.8% saja.   Kata Kunci: Glukoma; Katarak; Myopia; Presbiopia.
Hubungan peran teman sebaya dengan pemilihan jajanan pada siswa sekolah dasar Sari, Novita; Zahara, Putri; Devita, Dian; Rahayu, Lisnawati; Mualim, Azhar
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2569

Abstract

Background: The incidence of illness and food poisoning caused by street food among school-age children is currently on the rise. School-age children develop snacking habits that are difficult to break, and snacks that do not meet health and nutritional requirements can be detrimental to their health. Therefore, children's ability to choose healthy snacks is crucial. Purpose: To determine the relationship between the role of peers and the choice of snacks among students. Method: This study employed a quantitative analytical method with a cross-sectional approach. The population and sample were all 73 fifth and sixth grade students of SD Negeri 1 Teubeng, Pidie Regency. The study was conducted from October 26 to November 6, 2024. Results: The study showed that the majority of respondents chose healthy snacks, as many as 40 people (54.8%) and the majority had a positive peer role, as many as 42 people (57.5%). Statistical tests showed a relationship between the role of peers and snack choices among students, Pidie Regency, with a p value <0.05 (0.001). Conclusion: There is a significant relationship between the role of peers and snack choices among students. Keywords: Peer Role; Snacking Behavior; Students. Pendahuluan: Angka kejadian penyakit dan keracunan akibat makanan jajanan pada anak usia sekolah saat ini cenderung meningkat. Anak usia sekolah memiliki kebiasaan jajan yang sulit dihilangkan, sementara makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan gizi dapat mengancam kesehatan. Sehingga, kemampuan anak dalam memilih jajanan yang sehat sangat diperlukan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan peran teman sebaya dengan pemilihan jajanan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa dan siswi kelas V dan VI SD Negeri 1 Teubeng Kabupaten Pidie yang berjumlah 73 orang. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober sampai dengan 06 November 2024. Hasil: Mayoritas responden memilih jajanan sehat sebanyak 40 orang (54.8%) dan mayoritas memiliki peran teman sebaya yang positif sebanyak 42 orang (57.5%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara peran teman sebaya dengan pemilihan jajanan pada siswa dengan nilai p < 0.05 (0.001). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara peran teman sebaya dengan pemilihan jajanan pada siswa Sekolah Dasar. Kata Kunci: Peran Teman Sebaya; Perilaku Jajanan; Siswa.      
Pengaruh costumer perceived value terhadap kepuasan pasien pada instalasi rawat inap Sahputri, Anita; Kesumah, Rita
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2582

Abstract

Background: Health is a basic need for every individual, making quality healthcare services crucial. Hospitals, as healthcare providers, are required to deliver services that meet patient expectations. Patient satisfaction is one indicator of hospital service quality and is influenced by customer perceived value, which encompasses patients' assessment of the benefits of the service compared to the costs. Purpose: To determine the influence of Customer Perceived Value based on the dimensions of professionalism, emotional value, and social value on patient satisfaction in the Class III Inpatient Installation. Method: This study used an analytical survey method with a cross-sectional approach. The sampling technique used was proportional sampling, with a sample size of 79 respondents. Results: The study showed that there was a significant relationship between the dimensions of professionalism and patient satisfaction (p value = 0.000; p < 0.05), emotional value and patient satisfaction (p value = 0.000; p < 0.05), and social value and patient satisfaction (p value = 0.000; p < 0.05). Conclusion: Customer Perceived Value, which encompasses the dimensions of professionalism, emotional value, and social value, significantly influences patient satisfaction. Keywords: Customer Perceived Value; Hospital; Patient Satisfaction. Pendahuluan: Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap individu sehingga pelayanan kesehatan yang berkualitas menjadi hal yang sangat penting. Rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan dituntut untuk mampu memberikan pelayanan sesuai harapan pasien. Kepuasan pasien menjadi salah satu indikator kualitas pelayanan rumah sakit dan dipengaruhi oleh customer perceived value yang mencakup penilaian pasien terhadap manfaat layanan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Tujuan: Mengetahui pengaruh Customer Perceived Value berdasarkan dimensi profesionalism, emotional value, dan social value terhadap kepuasan pasien pada Instalasi Rawat Inap Kelas III. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara proporsional sampling dengan jumlah sampel sebanyak 79 responden. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara dimensi profesionalism dengan kepuasan pasien (p value = 0.000; p < 0.05), emotional value dengan kepuasan pasien (p value = 0.000; p < 0.05), serta social value dengan kepuasan pasien (p value = 0.000; p < 0.05). Simpulan: Customer Perceived Value yang meliputi dimensi profesionalism, emotional value, dan social value berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. Kata Kunci: Customer Perceived Value; Kepuasan Pasien; Rumah Sakit.        
Studi kasus penatalaksanaan fisioterapi pasien post repair tendon achilles pada pemain badminton Fadhail, Maulana Ahsan; Putri, Lilik Nurhasanah Purnomo
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2583

Abstract

Background: The demand for sports has increased in recent years, including badminton, a sport enjoyed by all ages. The high intensity of this sport is often not matched by adequate physical ability, resulting in the potential for injury. One common injury is Achilles tendon rupture (ATR). Surgery is one of the most frequently chosen treatments given the significantly better postoperative outcomes compared to non-operative options. Of course, surgery is not a stand-alone procedure; controlled and targeted rehabilitation is necessary. Providing exercise and physiotherapy modalities can help reduce post-operative complaints such as pain, range of motion (ROM), muscle weakness, atrophy and decreased cardiovascular endurance. Purpose: Further research is needed, particularly in the case studies or clinical studies, to evaluate the effectiveness of comprehensive physiotherapy management in patients who have undergone achilles tendon repair. This findings can provide a basis for designing better, more applicable, and evidence-based rehabilitation protocols. Methods: This study used a case report design with a pre and post evaluation approach. The subject or sample was a 35 year old male badminton player (non-professional athlete) diagnosed with Achilles Tendon Rupture (ATR) and underwent post-repair surgery. Results: After a 5-month rehabilitation program, there was a significant decrease in pain (NRS) and swelling (anthropometry), as well as an increase in ROM, muscle strength, muscle mass, and cardiovascular endurance. Conclusion: Physical rehabilitation program for patients with post-repair Achilles Tendon Rupture (ATR) is individually designed and phased and has been shown to have positive effects in reducing pain, edema, ROM, muscle strength, muscle mass, and cardiovascular endurance. A rehabilitation approach that combines pain management, joint function restoration, muscle strengthening, and cardiovascular endurance can enable full functional recovery and support patient readiness to return to sport.   Keywords: Badminton; Tendon Achilles; Tendon Achilles Rupture; Rehabilitation Program.   Pendahuluan: Salah satu cedera yang kerap terjadi pada seorang atlet yakni achilles tendon rupture (ATR). Tindakan operatif adalah salah satu tindakan paling banyak dipilih mengingat hasil pasca operatif jauh lebih baik daripada pilihan non-operatif. Tentunya tindakan operatif tidak serta merta berdiri sendiri, perlu adanya rehabilitasi secara terkontrol dan terarah. Pemberian latihan dan modalitas fisioterapi dapat membantu menurunkan keluhan pasca operasi seperti nyeri, penurunan ROM, Kelemahan otot, penurunan daya tahan jantung hingga penurunan massa otot. Tujuan: Untuk mengevaluasi seberapa efektif pengelolaan fisioterapi secara menyeluruh pada pasien yang sudah menjalani perbaikan tendon achilles. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus (case report) dengan melakukan pendekatan pre dan post evaluation. Subjek atau sampel  adalah seorang pemain badminton (atlet non professional) laki-laki berusia 35 tahun telah terdiagnosa dengan kondisi Achilles Tendon Rupture (ATR) dan telah dilakukan tindakan operatif post- repair. Hasil: Pasca pemberian program rehabilitasi selama 5 bulan terdapat penurunan signifikan pada nilai nyeri (NRS) dan bengkak (antropometri), peningkatan ROM, Kekuatan otot, Massa otot dan daya tahan kardiovaskular. Simpulan: Program rehabilitasi fisik untuk pasien dengan kondisi post-repair ruptur tendon Achilles (ATR) dirancang secara individual secara bertahap dan telah terbukti memberikan efek positif dalam mengurangi rasa sakit, edema, ROM, muscle strength, muscle mass, dan daya tahan kardiovaskular.   Kata Kunci: Achilles Tendon Rupture; Badminton; Program Rehabilitasi; Tendon Achilles.
Faktor–faktor penghambat pelaksanaan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit (SMK3RS) pada perawat Linda, Herna; Serli, Serli
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2595

Abstract

Background: The Hospital Occupational Safety and Health Management System (SMK3RS) is a system designed to manage, monitor, and improve occupational safety and health in the hospital environment. Optimal implementation of SMK3RS is crucial for reducing the risk of workplace accidents and occupational diseases and improving the quality of healthcare services. Purpose: To determine the relationship between inhibiting factors including knowledge, attitudes, and K3RS training on the implementation of SMK3RS among nurses. Method: This study employed an analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 89 respondents selected using accidental sampling. The independent variables included knowledge, attitudes, and K3RS training, while the dependent variable was the implementation of SMK3RS. Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test. Results: Most respondents had a good SMK3RS implementation category, namely 84 respondents (100%). There was a significant relationship between knowledge and SMK3RS implementation (p-value = 0.000), attitude and SMK3RS implementation (p-value = 0.000), and K3RS training and SMK3RS implementation (p-value = 0.000). Conclusion: Knowledge, attitudes, and training in occupational safety and health (K3RS) are significantly related to the implementation of SMK3RS. Continuous education and training are needed to increase nurse awareness and participation in implementing occupational safety and health in hospitals.   Keywords: Attitude;  K3RS Training; Knowledge; SMK3RS.   Pendahuluan: Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (SMK3RS) merupakan sistem yang dirancang untuk mengelola, mengawasi, dan meningkatkan keselamatan serta kesehatan kerja di lingkungan rumah sakit. Penerapan SMK3RS yang optimal sangat penting untuk menurunkan risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan faktor penghambat yang meliputi pengetahuan, sikap, dan pelatihan K3RS terhadap pelaksanaan SMK3RS pada perawat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 89 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Variabel independen meliputi pengetahuan, sikap, dan pelatihan K3RS, sedangkan variabel dependen adalah pelaksanaan SMK3RS. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki kategori pelaksanaan SMK3RS yang baik yaitu sebanyak 84 responden (100%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan pelaksanaan SMK3RS (p-value = 0.000), sikap dengan pelaksanaan SMK3RS (p-value = 0.000), serta pelatihan K3RS dengan pelaksanaan SMK3RS (p-value = 0.000). Simpulan: Pengetahuan, sikap, dan pelatihan K3RS berhubungan signifikan dengan pelaksanaan SMK3RS. Peningkatan edukasi dan pelatihan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran serta partisipasi perawat dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit.   Kata Kunci: Pengetahuan; Pelatihan K3RS; Sikap; SMK3RS.
Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia Dasrina, Dasrina; Yulastri, Desi; Sutrisna, Eka; Safriana, Ita
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2609

Abstract

Background: Increasing life expectancy has led to a continued rise in the number of elderly people, making attention to their well-being and quality of life increasingly important. One factor that plays a role in determining the quality of life for older adults is family support. Purpose: To determine the relationship between family support and the quality of life of the elderly. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study population was all 40 elderly people in Panglima Sahman Village, using a total sampling technique to sample the entire population. Data were collected using a questionnaire and analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test with SPSS. Results: The majority of elderly people (29 respondents) received family support. The quality of life of elderly people was in the adequate and good categories, respectively, with 15 respondents (37.5%). Furthermore, among elderly people who did not receive family support, the majority had a poor quality of life (45.5%). The statistical test results showed a p-value of 0.000 (<0.05), indicating a significant relationship between family support and elderly people's quality of life. Conclusion: There is a significant relationship between family support and quality of life in older adults. Family support plays a crucial role in improving the physical, psychological, and social well-being of older adults, making family involvement a key factor in efforts to improve quality of life for older adults.   Keywords: Attitude;  K3RS Training; Knowledge; SMK3RS.   Pendahuluan: Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan jumlah lansia terus meningkat, sehingga perhatian terhadap kesejahteraan dan kualitas hidup lansia menjadi semakin penting. Salah satu faktor yang berperan dalam menentukan kualitas hidup lansia adalah dukungan keluarga. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh lansia di Desa Panglima Sahman sebanyak 40 orang dengan teknik total sampling sehingga seluruh populasi dijadikan sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan SPSS. Hasil: Sebagian besar lansia mendapatkan dukungan keluarga sebanyak 29 responden (72.5%). Kualitas hidup lansia berada pada kategori cukup dan baik masing-masing sebanyak 15 responden (37.5%). Kemudian pada lansia yang tidak mendapatkan dukungan keluarga, sebagian besar memiliki kualitas hidup kurang baik (45.5%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value = 0.000 (< 0.05) yang berarti terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup lansia. Dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial lansia, sehingga keterlibatan keluarga menjadi faktor kunci dalam upaya peningkatan kualitas hidup lansia.   Kata Kunci: Pelatihan K3RS; Pengetahuan; Sikap; SMK3RS.
Pengaruh terapi akupunktur pada kualitas tidur pasien nyeri muskuloskeletal kronis Ningtyas, Ayunda Prisilia Kusuma; Murti, Mehdya Vikia; Tasya, Lisna; Alenta, Aad
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2619

Abstract

Background: Chronic neuromusculoskeletal pain is pain that lasts more than three months and is often accompanied by sleep disturbances, impacting the sufferer's quality of life. Acupuncture, a complementary therapy, is known to reduce pain and improve sleep quality through nervous system modulation and neurohormonal regulation. Purpose: To determine the effect of acupuncture therapy on sleep quality in patients with chronic neuromusculoskeletal pain. Method: The study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach and a control group. The sample size was 50 respondents, divided into an experimental group and a control group. Sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) before and after the intervention. Results: PSQI score in the experimental group decreased from 11.5 in the pretest to 5.3 in the posttest, indicating an improvement in sleep quality from poor to good. Most respondents in the experimental group were in the good sleep category after the intervention, while the control group remained predominantly in the mild sleep category, with an average PSQI score of 8.2. Conclusion: Acupuncture therapy has been shown to have a positive effect in improving sleep quality in patients with chronic neuromusculoskeletal pain and can be used as a complementary therapy in chronic pain management. Keywords: Acupuncture; Chronic Neuromusculoskeletal Pain; PSQI; Sleep Quality. Pendahuluan: Nyeri neuromuskuloskeletal kronis merupakan nyeri yang berlangsung lebih dari tiga bulan dan sering disertai gangguan kualitas tidur, sehingga berdampak pada kualitas hidup penderita. Terapi akupunktur sebagai terapi komplementer diketahui mampu menurunkan nyeri serta memperbaiki kualitas tidur melalui modulasi sistem saraf dan regulasi neurohormonal. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap kualitas tidur pada pasien dengan nyeri neuromuskuloskeletal kronis. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pretest–posttest disertai kelompok kontrol. Sampel berjumlah 50 responden yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran kualitas tidur dilakukan menggunakan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Rata-rata skor PSQI pada kelompok eksperimen menurun dari 11.5 saat pretest menjadi 5.3 pada posttest yang menandakan peningkatan kualitas tidur dari kategori buruk menjadi baik. Sebagian besar responden pada kelompok eksperimen berada dalam kategori tidur baik setelah intervensi, sedangkan kelompok kontrol masih didominasi kategori tidur buruk ringan dengan rata-rata skor PSQI sebesar 8.2. Simpulan: Terapi akupunktur terbukti berpengaruh positif dalam meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan nyeri neuromuskuloskeletal kronis dan dapat digunakan sebagai terapi komplementer dalam manajemen nyeri kronis. Kata Kunci: Akupunktur; Kualitas Tidu; Nyeri Neuromuskuloskeletal Kronis; PSQI.      
Pengaruh kombinasi posisi tripod dan latihan pernapasan diafragma terhadap status pernapasan pada pasien asma bronkial akut di unit gawat darurat Ardiansyah, Diki; Shafira, Fadilah Anggelia; Yuswandi, Yuswandi; Badrujamaludin, Asep; Yulita, Rita Fitri; Awaliyah, Siti Nurbayanti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2449

Abstract

Background: Bronchial asthma is a chronic inflammatory airway disease characterized by bronchial narrowing and hyperresponsiveness, leading to episodic dyspnea, wheezing, chest tightness, and coughing. In addition to pharmacological therapy, non-pharmacological interventions such as the Tripod Position and Diaphragmatic Breathing Exercise may improve respiratory status in acute exacerbations. Purpose: To evaluate the effect of combining Tripod Position and Diaphragmatic Breathing Exercise on respiratory status in a patient with acute bronchial asthma. Method: A descriptive case study using a nursing approach was conducted. Data collection included interviews, observation, physical examination, literature review, and documentation analysis. Results: The patient presented with dyspnea, respiratory rate of 28 breaths/min, SpO₂ 88%, tachypnea, nasal flaring, and wheezing. The primary nursing diagnosis was ineffective airway clearance. After 15 minutes of combined Tripod Position and Diaphragmatic Breathing Exercise, respiratory rate decreased to 26 breaths/min, SpO₂ improved to 92%, and dyspnea severity reduced to a score of 3. Conclusion: The combination of Tripod Position and Diaphragmatic Breathing Exercise improved respiratory parameters in acute bronchial asthma. This non-pharmacological intervention may serve as an adjunct to pharmacological therapy in nursing practice. Keywords: Acute Bronchial Asthma; Diaphragmatic Breathing Exercis; Respiratory status; Tripod position. Pendahuluan: Asma bronkial merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang ditandai dengan penyempitan dan hiperresponsivitas bronkus, sehingga menimbulkan gejala episodik berupa sesak napas, mengi, rasa berat di dada, dan batuk. Selain terapi farmakologis, intervensi non-farmakologis seperti Posisi Tripod dan Latihan Pernapasan Diafragma dapat membantu memperbaiki status respirasi pada kondisi eksaserbasi akut. Tujuan: Untuk Mengevaluasi efek kombinasi posisi tripod dan latihan pernapasan diafragma terhadap status respirasi pada pasien dengan asma bronkial akut. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan keperawatan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, kajian literatur, dan studi dokumentasi. Hasil: Pasien dengan asma bronkial akut menunjukkan sesak napas, frekuensi napas 28 kali/menit, SpO₂ 88%, takipnea, napas cuping hidung, serta bunyi tambahan berupa mengi. Diagnosis keperawatan utama adalah bersihan jalan napas tidak efektif. Setelah intervensi kombinasi Posisi Tripod dan Latihan Pernapasan Diafragma selama 15 menit, frekuensi napas menurun menjadi 26 kali/menit, SpO₂ meningkat menjadi 92%, dan tingkat sesak napas menurun menjadi skor 3 (sedang). Simpulan: Kombinasi Posisi Tripod dan Latihan Pernapasan Diafragma terbukti memperbaiki parameter respirasi pada pasien dengan asma bronkial akut. Intervensi non-farmakologis ini dapat dijadikan terapi tambahan yang mendukung manajemen farmakologis dalam praktik keperawatan Kata Kunci: Asma Bronkial Akut; Diaphragmatic Breathing Exercise; Tripod Position Status pernafasan.