cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 369 Documents
Hubungan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (safety culture) dengan penurunan tindakan tidak aman (unsafe action) pada pekerja Esra Dwita Simamora; Dwi Noerjoedianto; David Kusmawan; Wilia Novita
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2596

Abstract

Background: The persistently high number of workplace accidents indicates that unsafe behavior remains a major issue in high-risk industrial sectors, including the rubber processing industry. According to a report by the International Labour Organization (ILO), occupational safety and health (OHS) remains a major challenge. Each year, approximately 2.02 million workers die from work-related diseases, while approximately 321,000 deaths occur due to workplace accidents. Purpose: To analyze the relationship between an OHS culture (safety culture) and a reduction in unsafe acts among workers. Method: The study used a quantitative method with an observational analytical design and a cross-sectional approach. The sample consisted of 58 workers in the dry and wet production divisions. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Chi-Square test. Results: There was a significant relationship between management commitment (p=0.019) and OHS communication (p=0.009) and a reduction in unsafe acts. However, OHS training (p=0.117) and worker participation in OHS (p=0.193) did not show a significant relationship. Conclusion: Not all dimensions of OHS culture are related to a reduction in unsafe acts, so it is important to strengthen a deeper occupational safety culture.   Keywords: Occupational Safety And Health; Safety Culture; Unsafe Action.   Pendahuluan: Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi menunjukkan bahwa perilaku tidak aman tetap menjadi persoalan utama pada sektor industri dengan tingkat risiko tinggi, termasuk pada industri pengolahan karet. Berdasarkan laporan International Labour Indonesia (ILO), isu keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih menjadi tantangan besar.Setiap tahunnya, sekitar 2.02 juta pekerja meninggal dunia akibat penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan, sedangkan kurang lebih 321.000 kematian terjadi karena kecelakaan kerja. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan budaya K3 (safety culture) dengan penurunan tindakan tidak aman pada pekerja. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 58 pekerja bagian produksi kering dan basah, dengan pengumpulan data melalui kuesioner dan analisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara komitmen manajemen (p=0.019) dan komunikasi K3 (p=0.009) dengan penurunan tindakan tidak aman. Namun, pelatihan K3 (p=0.117) dan partisipasi pekerja dalam K3 (p=0.193) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Simpulan: Tidak semua dimensi budaya K3 berhubungan dengan penurunan tindakan tidak aman, sehingga pentingnya penguatan budaya keselamatan kerja yang lebih mendalam.   Kata Kunci: Budaya Keselamatan; Keselamatan dan Kesehatan Kerja; Tindakan Tidak Aman.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan tidak aman (unsafe action) pada pekerja bagian proses produksi Erika Vernanda Br Lbn Toruan; Budi Aswin; Kasyani Kasyani; Rd. Halim
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2599

Abstract

Background: Occupational accidents remain a serious problem in the industrial sector, particularly in the rubber processing industry, which is characterized by high-risk production processes. Most accidents are caused by unsafe actions performed by workers. Purpose: To analyze the factors associated with unsafe actions among workers in the production process unit. Method: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The research was conducted among production process workers at PT X Jambi in 2025. A total of 53 workers were selected using a quota sampling technique. Data were collected through questionnaires and observation, then analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. Results: This study found that approximately 39.6% of workers engaged in unsafe acts. This study found a significant relationship between knowledge (with a p-value of 0.000), the use of personal protective equipment (p-value of 0.002), and occupational safety and health (K3) supervision (p-value of 0.020) with these unsafe behaviors among workers. Furthermore, length of service (p-value of 1.000) and K3 training (p-value of 1.000) did not show a significant relationship with unsafe acts among workers in the production process. Conclusion: There is a relationship between knowledge, use of PPE, and supervision with unsafe actions among workers. Meanwhile, there is no relationship between work period and training.   Keywords: Occupational Accidents; Occupational Safety And Health; Unsafe Action.   Pendahuluan: Kecelakaan kerja masih menjadi masalah serius di sektor industri, terutama pada industri pengolahan karet yang berisiko tinggi. Mayoritas kecelakaan kerja terjadi tindakan tidak aman (unsafe action) yang dilakukan pekerja. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan tidak aman (unsafe action) pada pekerja bagian proses produksi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 53 pekerja yang dipilih lewat teknik quota sampling. Data diperoleh dari kuesioner dan pengamatan langsung, lalu diolah dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Menunjukkan bahwa sekitar 39.6% pekerja ternyata melakukan tindakan yang tidak aman. Penelitian ini menemukan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan (dengan nilai p=0.000), pemakaian alat pelindung diri (p=0.002), serta pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 (p=0,020) dengan perilaku tidak aman tersebut pada pekerja. Selain itu, masa kerja (p=1.000) dan pelatihan K3 (p=1.000) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tindakan tidak aman di kalangan pekerja bagian proses produksi. Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan, penggunaan apd, dan pengawasan dengan unsafe action pada pekerja. Sedangkan untuk masa kerja dan pelatihan tidak tidak terdapat memiliki hubungan.   Kata Kunci: Kecelakaan Kerja; Keselamatan dan Kesehatan Kerja; Tindakan Tidak Aman.
Analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) akibat pajanan PM2.5 pada pedagang tetap Filia Alvionita Br Tarigan; Fajrina Hidayati; Kasyani Kasyani; Oka Lesmana S
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2602

Abstract

Background: Particulate matter (PM) refers to a mixture of solid and liquid particles suspended in ambient air, forming one of the main components of air pollution. PM2.5 increases the number of respiratory illnesses by up to 34% annually. Purpose: To measure the environmental health risks caused by Particulate Matter (PM2.5) exposure among market vendors. Method: This is a quantitative, descriptive, observational study to describe the level of PM2.5 exposure among vendors using the Environmental Health Risk Analysis (EHR) method. Results: The risk characteristics analyzed at three points revealed that for the current time (real-time RQ), there were 5 individuals at risk in the morning (RQ>1) and 1 individual at risk in the afternoon (RQ>1). Risk characteristics for the 30-year projection category (RQ lifetime) are obtained at point 4 with an average risk in the 15th year of 1,073. Point 1 will have no risk from the 5th to the 30th year (RQ ≤ 1). Point 2 will experience risk in the 20th year with an average RQ value of 1,231. While at point 3, respondents will be at risk in the 30th year with an RQ value of 1,447. Conclusion: The safe concentration value of risk agents (C) PM2.5 is 0.121 mg/m3, the safe exposure time (tE) value is 4.11 hours/day, the safe frequency (fE) value is 136.2 days/year, and the safe exposure duration (Dt) is 8.8 years.   Keywords: Lifetime; PM2.5; Realtime; RQ.   Pendahuluan: Partikulat atau particulate matter (PM) merujuk pada campuran partikel padat dan cair yang tersuspensi di udara ambien, membentuk salah satu komponen utama pencemaran udara. PM2.5 setiap tahunnya meningkatkan kasus penyakit pernapasan sampai 34%. Tujuan: untuk mengukur seberapa besar risiko Kesehatan lingkungan akibat pajanan Particulate Matter (PM2,5) pada pedagang pasar. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan observasional yang bersifat deskriptif untuk menggambarkan tingkat pajanan PM2.5 pada pedagang menggunakan metode analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL). Hasil: Karakteristik Risiko yang telah dianalisis pada 3 titik didapatkan hasil bahwa untuk karakteristik risiko pada waktu saat ini (RQ realtime) terdapat 5 orang berisiko pada pagi hari atau RQ>1 dan pada siang hari terdapat 1 orang berisiko atau RQ>1. Karakteristik risiko untuk kategori proyeksi 30 tahun kedepan (RQ lifetime) didapatkan pada titik 4 rata-rata berisiko pada tahun ke-15 sebesar 1.073, titik 1 akan tidak ada berisiko dari tahun ke-5 sampai tahun ke-30 (RQ≤1), titik 2 akan mengalami resiko pada tahun ke20 dengan nilai RQ rata-rata sebesar 1.231, sedangkan pada titik 3 responden akan berisiko pada tahun ke-30 dengan nilai RQ 1.447. Simpulan: Nilai konsentrasi agen resiko (C) PM2.5 aman sebesar 0.121 mg/m3, nilai waktu pajanan (tE) aman sebesar 4.11 jam/hari, nilai Frekuensi (fE) aman sebesar 136.2 hari/tahun dan Durasi pajanan (Dt) aman sebesar 8.8 tahun.   Kata Kunci: PM2.5; Realtime; Lifetime; RQ.
Responsiveness pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap Nafiz Naufal Hadhad; Yuni Kurniasih; Noor Ariyani Rokhmah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2611

Abstract

Background: Patient satisfaction is influenced by the quality of nursing services, one of which is responsiveness. Based on the results of a community satisfaction survey conducted by the Bantul Regency Health Office in 2025, patient satisfaction was recorded at 88.92%. This result indicates that patient satisfaction is below the minimum service standard set by the Indonesian Ministry of Health Regulation (PERMENKES) in 2016, which is >95%. Purpose: To determine the relationship between responsiveness of nursing services and patient satisfaction in inpatient wards. Method: This quantitative study used a descriptive cross-sectional design. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 100 respondents. The research instrument used a questionnaire. Data analysis used the Spearman Rank Test. Results: 62 respondents (62%) rated the responsiveness of nursing services as good, with the majority of patients being satisfied (89 respondents (89%). The Spearman Rank Test obtained a correlation coefficient of 0.416 with a p-value of 0.000 (p < 0.05). This indicates a significant relationship between responsiveness of nursing services and patient satisfaction in inpatient wards, with a positive relationship and moderate correlation strength. Conclusion: There is a relationship between responsiveness of nursing services and patient satisfaction in inpatient wards.   Keywords: Nursing Service; Patient Satisfaction; Responsiveness.   Pendahuluan: Kepuasan pasien dipengaruhi oleh mutu pelayanan keperawatan, salah satunya daya tanggap perawatan. Berdasarkan laporan hasil survei kepuasan masyarakat dinas kesehatan Kabupaten Bantul tahun 2025 tercatat kepuasan pelayanan 88.92%. Hasil tersebut menunjukkan kepuasan pasien berada dibawah nilai standar pelayanan minimal yang ditetapkan PERMENKES RI tahun 2016 yaitu >95%. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan daya tanggap pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling dengan jumlah sampel 100 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan Uji spearman rank Hasil: Daya tanggap pelayanan keperawatan kategori baik sebanyak 62 responden (62%) dengan kepuasan pasien sebagian besar berada pada kategori puas sebanyak 89 responden (89%). Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.416 dengan p-value = 0.000 (p < 0.05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara daya tanggap pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap dengan arah hubungan positif dan kekuatan korelasi sedang. Simpulan: Terdapat hubungan antara daya tanggap pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap.   Kata Kunci: Daya Tanggap; Pelayanan Keperawatan; Kepuasan Pasien.
Hubungan mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien Nawwaf Abdurrahman Nur Tsaqief; Noor Ariyani; Yuni Kurniasih
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2615

Abstract

Background: The development of the healthcare system in Indonesia places patient satisfaction as a primary indicator of hospital quality. The quality of nursing care is a vital aspect because nurses have direct and intense interactions with patients, which influences perceptions of service quality. However, most previous studies have emphasized technical dimensions over interpersonal aspects such as empathy and communication. Purpose: To determine the relationship between nursing care quality and patient satisfaction. Method: This quantitative study used a descriptive analytical design with a cross-sectional approach. The population consisted of 625 patients, with a sample of 95 respondents selected using a purposive sampling technique. The research instrument was a valid and reliable questionnaire. Bivariate analysis was performed using the chi-square test. Results: The quality of nursing care was classified as good in 65 respondents (68.4%) and poor in 30 respondents (31.6%). Patient satisfaction levels were categorized as satisfied in 79 respondents (83.2%) and dissatisfied in 16 respondents (16.8%). The chi-square test yielded a p-value of 0.000 (<0.05), indicating a significant relationship between nursing care quality and patient satisfaction. Conclusion: There is a significant relationship between the quality of nursing services and patient satisfaction.   Keywords: Nursing Service Quality; Patient Satisfaction; Service Quality.   Pendahuluan: Perkembangan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia menempatkan kepuasan pasien sebagai indikator utama mutu rumah sakit. Kualitas pelayanan keperawatan menjadi aspek vital karena perawat memiliki interaksi langsung dan intens dengan pasien yang memengaruhi persepsi terhadap mutu layanan. Namun, sebagian penelitian sebelumnya lebih menekankan dimensi teknis daripada aspek interpersonal seperti empati dan komunikasi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 625 pasien dengan sampel 95 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner valid dan reliabel. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil: Mutu pelayanan keperawatan tergolong baik pada 65 responden (68.4%) dan kurang baik pada 30 responden (31.6%). Tingkat kepuasan pasien menunjukkan kategori puas sebanyak 79 responden (83.2%) dan tidak puas sebanyak 16 responden (16.8%). Uji chi-square menghasilkan nilai p = 0.000 (<0.05) yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien. Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien.   Kata Kunci: Kepuasan Pasien; Kualitas Layanan; Mutu Pelayanan Keperawatan.
Pengalaman pasien myasthenia gravis yang menjalani therapeutic plasma exchange Catur Wijayanti; Dwi Retno Sulistyaningsih; Erna Melastuti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2643

Abstract

Background: Myasthenia gravis is a rare autoimmune neuromuscular disorder that significantly impacts patients' quality of life due to fluctuating muscle weakness and the risk of myasthenic crisis. Therapeutic plasma exchange is one of the primary therapies used to manage acute exacerbations by removing pathogenic antibodies from the circulation. Purpose: To explore the lived experiences of patients with myasthenia gravis undergoing therapeutic plasma exchange from physical, psychological, social, cultural, and spiritual perspectives. Method: A qualitative study using a phenomenological approach was conducted involving nine participants diagnosed with myasthenia gravis who had undergone therapeutic plasma exchange more than once. Data were collected through in-depth face-to-face interviews and analyzed using Husserlian phenomenological analysis. Results: Participants reported physical symptoms including ptosis, diplopia, dysphagia, dyspnea, dysphonia, and limb weakness. During the procedure, common complaints were a sensation of coldness and fatigue, while post-therapy improvements included reduced shortness of breath, clearer voice, improved eyelid function, and increased muscle strength. Conclusion: The experiences of patients with Myasthenia Gravis undergoing Plasma Exchange Therapy are multidimensional. Holistic nursing care that addresses physical, psychological, social, cultural, and spiritual aspects is crucial to support treatment success and improve patient outcomes.   Keywords: Holistic Nursing Care; Myasthenia Gravis; Phenomenology; Patient Experience; Therapeutic Plasma Exchange.   Pendahuluan: Miastenia Gravis adalah gangguan neuromuskular autoimun langka yang secara signifikan memengaruhi kualitas hidup pasien karena kelemahan otot yang berfluktuasi dan risiko krisis miastenia. Pertukaran Plasma Terapeutik adalah salah satu terapi utama yang digunakan untuk mengelola eksaserbasi akut dengan menghilangkan antibodi patogen dari sirkulasi. Tujuan: Untuk mengeksplorasi pengalaman hidup pasien Miastenia Gravis yang menjalani Pertukaran Plasma Terapeutik dari perspektif fisik, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual. Metode: Studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dilakukan yang melibatkan sembilan partisipan yang didiagnosis dengan Miastenia Gravis yang telah menjalani Pertukaran Plasma Terapeutik lebih dari sekali. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka mendalam dan dianalisis menggunakan analisis fenomenologis Husserlian. Hasil: Partisipan melaporkan gejala fisik termasuk ptosis, diplopia, disfagia, dispnea, disfonia, dan kelemahan anggota tubuh. Selama prosedur, keluhan umum adalah sensasi dingin dan kelelahan, sementara perbaikan pasca-terapi meliputi berkurangnya sesak napas, suara yang lebih jernih, peningkatan fungsi kelopak mata, dan peningkatan kekuatan otot. Simpulan: Pengalaman pasien dengan Myasthenia Gravis yang menjalani Terapi Pertukaran Plasma bersifat multidimensional. Perawatan keperawatan holistik yang menangani aspek fisik, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual sangat penting untuk mendukung keberhasilan pengobatan dan meningkatkan hasil pasien.   Kata Kunci: Fenomenologi; Myasthenia Gravis; Pengalaman Pasien; Perawatan Keperawatan Holistik; Terapi Pertukaran Plasma.
Pengaruh pemberian jus semangka terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi Dewi Pujiana; Amelia Apriyani; Muhammad Surya Abdillah; Della Julia Sari; Dzuri Yatun; Selly Puspitasari; Rita Herlina; Meta Mulia; Nanda Herliyani; Ade Siti Fatima
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2648

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that is a serious health problem due to its increasing prevalence and significant contribution to global morbidity and mortality. According to the World Health Organization (WHO), approximately 1.28–1.4 billion adults aged 30–79 years worldwide live with hypertension, with the majority living in low- and middle-income countries. Purpose: To analyze the effect of watermelon juice on lowering blood pressure in hypertensive patients. Method: This pre-experimental study used a one-group pretest–posttest design. The study was conducted among 50 individuals identified as having high blood pressure. Participants were selected using purposive sampling according to inclusion and exclusion criteria. Results: Based on measurements of 50 participants, watermelon juice administration demonstrated a positive effect on lowering blood pressure. The average systolic blood pressure before the intervention was 154.9 mmHg and decreased to 141.9 mmHg after the intervention, resulting in a decrease of 13.0 mmHg. Meanwhile, the average diastolic blood pressure decreased from 96.8 mmHg to 90.2 mmHg, a decrease of 6.6 mmHg. Conclusion: Watermelon juice has been shown to be safe, readily accessible, and can be used as an effective non-pharmacological intervention to support hypertension control.   Keywords: Blood Pressure; Hypertension; Watermelon Juice.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan yang serius karena prevalensinya terus meningkat dan berkontribusi besar terhadap angka kesakitan serta kematian secara global. Menurut World Health Organization (WHO) sekitar 1.28–1.4 miliar orang dewasa usia 30–79 tahun di dunia hidup dengan hipertensi, dan sebagian besar berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pemberian jus semangka terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Studi dengan pre-experimental menggunakan desain one group pretest–posttest. Kegiatan dilaksanakan pada masyarakat yang teridentifikasi memiliki tekanan darah tinggi sebanyak 50 orang. Peserta dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Pengukuran pada 50 partisipan, pemberian jus semangka menunjukkan efek positif terhadap penurunan tekanan darah. Rata-rata tekanan darah sistolik sebelum intervensi adalah 154.9 mmHg dan menurun menjadi 141.9 mmHg setelah intervensi, sehingga terjadi penurunan sebesar 13.0 mmHg. Sementara itu, rata-rata tekanan darah diastolik turun dari 96.8 mmHg menjadi 90.2 mmHg dengan penurunan sebesar 6.6 mmH. Simpulan: Jus semangka terbukti aman, mudah diakses, dan dapat digunakan sebagai intervensi non-farmakologis yang efektif untuk mendukung pengendalian hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Jus Semangka; Tekanan Darah.
Pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi Ahmad Zaki Naufal; Istiqomah Istiqomah; Aini Inayati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2650

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that is common in the elderly and can lead to serious complications if not properly controlled. Physical activity such as morning walks is a non-pharmacological intervention that is easy and safe to perform. Purpose: To determine the effect of morning walks on blood pressure in elderly people with hypertension. Method: This study used a quasi-experimental design with a nonequivalent control group. A sample of 34 elderly people was selected using a purposive sampling technique. Respondents were divided into a control group and a treatment group. Data analysis used an independent t-test for systolic and diastolic blood pressure. Results: The average systolic blood pressure after morning walking in the control group was 144.72 mmHg, while the average diastolic blood pressure was 88.35 mmHg. In the treatment group, the average systolic blood pressure after morning walking was 130.18 mmHg, while the average diastolic blood pressure was 79.82 mmHg. The difference in systolic blood pressure after morning walking was 14.54 mmHg, and the difference in diastolic blood pressure was 8.63 mmHg. Conclusion: Morning walking has an effect on blood pressure in elderly people with hypertension.   Keywords: Elderly; Hypertension; Morning Walk; Physical Activity.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang banyak terjadi pada lansia dan dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik. Aktivitas fisik seperti jalan pagi merupakan salah satu intervensi non farmakologis yang mudah dan aman dilakukan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan rancangan nonequivalent control group. Sampel sebanyak 34 lansia dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Responden dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Teknik analisis data menggunakan Independent t-Test untuk tekanan darah sistolik dan diastolik. Hasil: Rata-rata tekanan darah sistolik sesudah aktivitas fisik jalan pagi pada kelompok kontrol adalah 144.72 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 88.35 mmHg. Pada kelompok perlakuan rata-rata tekanan darah sistolik sesudah aktivitas fisik jalan pagi adalah 130.18 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 79.82 mmHg. Selisih tekanan darah sesudah aktivitas fisik jalan pagi sistolik adalah 14.54 mmHg dan selisih tekanan darah diastolik adalah 8.63 mmHg. Simpulan: Ada pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Hipertensi;Jalan Pagi; Lansia.
Hubungan durasi penggunaan gadget dengan kualitas tidur pada remaja SMA Ani Ani; Suratini Suratini; Tiwi Sudyasih
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2711

Abstract

Background: Sleep quality is an important factor in maintaining adolescents’ physical, psychological, and academic well-being. The increasing use of digital gadgets among high school students may negatively affect sleep patterns and quality, particularly due to nighttime screen exposure. Purpose: To determine the relationship between the duration of gadget use and sleep quality among students of SMA. Method: This study employed a quantitative descriptive correlational design with a cross- sectional approach. The sample consisted of 57 tenth-grade students selected using simple random sampling. Data were collected using a gadget usage duration questionnaire and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data analysis was conducted using the Spearman Rank correlation test with a significance level of α = 0.05. Results: The majority of respondents had high levels of gadget usage (74%) and poor sleep quality (88%). Spearman correlation analysis revealed a significant relationship between gadget usage duration and sleep quality (p = 0.001; r = 0.156). The correlation was weak but positive, indicating that longer gadget usage was associated with poorer sleep quality. Conclusion: There is a significant relationship between gadget usage duration and sleep quality among students of SMA.   Keywords: Adolescents;  Gadget Usage Duration; PSQI; Sleep Quality.   Pendahuluan: Kualitas tidur merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan fisik, psikologis, dan performa akademik remaja. Peningkatan penggunaan gadget pada siswa SMA berpotensi memengaruhi pola dan kualitas tidur, terutama akibat paparan layar pada malam hari. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara durasi penggunaan gadget dengan kualitas tidur pada siswa SMA. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 57 siswa kelas X yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi penggunaan gadget dan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi α = 0.05. Hasil: Mayoritas responden memiliki durasi penggunaan gadget kategori tinggi (74%) dan kualitas tidur buruk (88%). Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dan kualitas tidur (p = 0.001; r = 0.156) dengan tingkat keeratan hubungan lemah dan arah positif yang berarti semakin lama durasi penggunaan gadget maka semakin buruk kualitas tidur siswa. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara durasi penggunaan gadget dengan kualitas tidur pada siswa SMA.   Kata Kunci: Durasi Penggunaan Gadget; Kualitas Tidur; PSQI; Remaja.
Efektif terapi wound bed preparation terhadap waktu penyembuhan luka pada pasien diabetes melitus tipe 2 Suprapti, Tuti; Herawati, Ade Tika
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2008

Abstract

Background: Wound Bed Preparation (WBP), a modern approach focusing on wound cleansing, infection control, moisture balance, and edge stimulation, has proven globally effective but is not yet widely and systematically implemented or studied in Indonesia. Purpose: This study aimed to assess the effectiveness of the Wound Bed Preparation (WBP) therapy on wound healing time in T2DM patients compared to standard wound care methods. Method: A quasi-experimental study with a pretest-posttest control group design was conducted. The sample consisted of 30 patients divided into two groups (intervention and control). Wound evaluation was performed using the Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) on day 0, day 7, and day 14. The respondents' age ranged from 45 to 83 years, with 63.3% being male. Results: The effectiveness of wound healing showed a -value of on day 7 and a highly significant -value of on day 14. Clinically, by day 7, a significant positive response was observed in the intervention group, including the emergence of a 'minimal severity' category and a decrease in the number of 'critical' wounds, indicating an improvement in the wound bed quality through debridement, infection control, and moisture management. Although the distribution of severity categories on day 14 appeared similar to day 0, a notable decrease in BWAT scores within those categories demonstrated structural improvement in the wounds. Conclusion: Wound Bed Preparation (WBP) is effective in improving the quality of the wound bed and is recommended to be adopted as a standard approach in diabetic wound care.   Keywords: BWAT; Diabetes Mellitus; Diabetic Ulcer; Wound Bed Preparation; Wound Healing.   Pendahuluan: Terapi Wound Bed Preparation (WBP) yang berfokus pada pembersihan luka, pengendalian infeksi, menjaga kelembapan, dan stimulasi tepi luka menjadi pendekatan modern yang terbukti efektif secara global, namun belum banyak diimplementasikan dan dikaji di Indonesia secara sistematis. Tujuan: Menilai efektivitas terapi Wound Bed Preparation terhadap waktu penyembuhan luka pada pasien DM tipe 2 dibandingkan dengan metode perawatan luka standar. Metode: Penelitian quasi-eksperimen dengan pretest-posttest control group. Sampel terdiri dari 30 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok (intervensi dan kontrol). Evaluasi dilakukan menggunakan BWAT (Bates-Jensen Wound Assessment Tool) pada hari ke-0, ke-7, dan ke-14. Hasil: Efektifitas penyembuhan luka pada hari ke 7 dengan p Value 0.91 pada hari ke 14 efektifitas  0.000, Diskusi pada hari ke-7 terjadi perubahan klinis yang bermakna, yaitu munculnya kategori keparahan minimal dan penurunan jumlah luka kritis. Hal ini menunjukkan adanya respons positif terhadap penerapan WBP, terutama melalui proses debridement, pengendalian infeksi, dan manajemen kelembapan yang mampu memperbaiki kualitas dasar luka. Sedangkan pada hari ke-14, meskipun kategori keparahan luka tampak serupa dengan hari ke-0, penurunan skor BWAT dalam kategori tersebut menunjukkan adanya perbaikan struktural pada luka. Simpulan: WBP efektif dalam memperbaiki kualitas dasar luka dan layak dijadikan pendekatan standar dalam perawatan luka diabetes.   Kata Kunci: BWAT; Diabetes melitus; Penyembuhan luka; Ulkus Diabetikum;  Wound Bed Preparation.