cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 338 Documents
Hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri Irma Miftahul; Suri Salmiyati; Suratini Suratini
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2474

Abstract

Background: Anemia is a common health problem among adolescent girls, often triggered by poor nutritional status. Adolescent girls are susceptible to anemia due to iron deficiency and an unbalanced diet. This study aims to determine the relationship between nutritional status and the incidence of anemia in adolescent girls. Purpose: To determine the relationship between nutritional status and the incidence of anemia in adolescent girls. Metode: This study is a correlational descriptive quantitative study with a cross-sectional approach. The sampling technique used total sampling, involving 41 respondents. Data analysis was performed using the Spearman's rank correlation test. Results: A study of 41 respondents showed that 34.1% had normal nutritional status, 48.8% were underweight, and 17.1% were overweight. Regarding anemia, 36,6% of respondents were not anemic, 46.3% had mild anemia, and 17.1% had moderate anemia. The Spearman Rank statistical test showed a p-value of 0.037<0.05) proving a significant relationship between nutritional status and the incidence of anemia. Conclusion: There is a significant relationship between nutritional status and the incidence of anemia in adolescent girls, where poor nutritional status increases the incidence of anemia.   Keywords: Adolescent Girls; Anemia; Nutritional Status.   Pendahuluan: Anemia adalah masalah kesehatan yang umum terjadi pada remaja perempuan, yang seringkali dipicu oleh status gizi yang buruk. Remaja putri rentan mengalami anemia karena kekurangan zat besi dan pola makan yang tidak seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, dengan melibatkan 41 responden. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Rank Spearman. Hasil: Penelitian terhadap 41 responden menunjukkan bahwa 34.1% memiliki status gizi normal, 48.8% memiliki berat badan kurang, dan 17.1% memiliki berat badan berlebih. Mengenai anemia, 36.6% responden tidak mengalami anemia, 46.3% mengalami anemia ringan, dan 17.1% mengalami anemia sedang. Uji statistik Rank Spearman menunjukkan nilai p-value sebesar 0.037<0.05 yang membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dan kejadian anemia. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri, dimana status gizi yang buruk meningkatkan kejadian anemia.   Kata Kunci: Anemia; Remaja Putri; Status Gizi.
Penerapan batuk efektif sebagai intervensi keperawatan dalam optimalisasi bersihan Jalan napas pada pasien asma di komunitas pedesaan Rangga Aprigha Pamungkas; Suratini Suratini
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2460

Abstract

Background: Bronchial asthma is a chronic obstructive disease of the respiratory tract characterized by bronchial hyperreactivity to various stimuli, resulting in episodic symptoms such as shortness of breath, coughing, wheezing, and chest tightness. This condition can cause impaired airway clearance due to accumulation of secretions in the lungs. Purpose: To maintain bleeding in patients with bronchial asthma through the application of effective coughing exercises to improve the effectiveness of airway clearance. Method: The study used a descriptive method with a case study approach on one patient in Genitem Hamlet. Data collection techniques included interviews, observations, physical examinations, and documentation. Results: The client complained of shortness of breath, coughing, and weakness with a diagnosis of Ineffective Airway Clearance and Ineffective Breathing Pattern. After three days of effective coughing exercise intervention with the application of SLKI and SIKI, the results showed that the client's airway clearance problems could be resolved. Conclusion: Effective coughing exercises have been proven to be a non-pharmacological intervention that can improve the effectiveness of airway clearance in bronchial asthma patients.   Keywords: Airway Clearance; Bronchial Asthma; Effective Coughing Exercises.   Pendahuluan: Asma bronkial merupakan penyakit obstruktif kronik pada saluran pernapasan yang ditandai dengan hiperreaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan, sehingga menimbulkan gejala episodik seperti sesak napas, batuk, mengi, dan rasa berat di dada. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan bersihan jalan napas akibat penumpukan sekret di paru-paru. Tujuan: Untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan asma bronkial melalui penerapan latihan batuk efektif guna meningkatkan efektivitas bersihan jalan napas. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada satu pasien di Dusun Genitem. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Hasil: Subjek menunjukkan keluhan sesak napas, batuk, dan lemas dengan diagnosa keperawatan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Pola Napas Tidak Efektif. Setelah dilakukan intervensi latihan batuk efektif selama tiga hari dengan penerapan SLKI dan SIKI, diperoleh hasil bahwa masalah bersihan jalan napas pada klien dapat teratasi. Simpulan: Latihan batuk efektif terbukti sebagai intervensi non farmakologi yang dapat meningkatkan efektivitas bersihan jalan napas pada pasien dengan asma bronkial.   Kata Kunci: Asma Bronkial; Bersihan Jalan Napas; Latihan Batuk Efektif.
Efektivitas penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja Nuke Arifah Maharani; Yuni Purwati; Dwi Sri Handayani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2641

Abstract

Background: Knowledge about anemia among adolescents is the understanding of the definition, causes, signs, impacts, and prevention of anemia. The level of knowledge about anemia among adolescents is influenced by education, age, socioeconomic-cultural factors, environment, and the lack of health education, which is the main cause of low knowledge. Purpose: To determine the effectiveness of health education on the level of knowledge about anemia among adolescents. Method: This study wa s pre-experimental study with a one-group prestes-posttest design. Ninety adolescents at SMP Negeri 1 Ngluwar Magelang waresampled using a purposeve sampling technique. A questionnaire was used as the research instrument. The results ware analyzed using the Wilcoxon signed rank test. Results: This study was a pre-experimental study with a one-group pretest-posttest design. A purposive sampling technique was used to select 90 adolescents. The research instrument used a questionnaire. The results of the study were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. Conclusion: Health education is effective in improving the level of knowledge about anemia among adolescents. Keywords: Adolescent Knowledge; Health Education; Knowledge About Anemia. Pendahuluan: Pengetahuan anemia pada remaja adalah pemahaman tentang definisi, penyebab, tanda, dampak, dan pencegahan anemia. Tingkat pengetahuan anemia remaja dipengaruhi pendidikan, usia, sosial-ekonomi-budaya, lingkungan, dan kurangnya penyuluhan kesehatan yang menjadi penyebab utama rendahnya pengetahuan. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja. Metode: Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan rancangan one-group pretest-posttest design. Sempel diambil dengan teknik purposive sampling sebanyak 90 remaja di SMP Negeri 1 Ngluwar Magelang. Intrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil penelitian dianalisis dengan uji wilcoxon sign rank test. Hasil: Tingkat pengetahuan anemia sebelum diberikan penyuluhan kesehatan tentang pada remaja sebagian besar adalah kategori tingkat pengetahuan kurang sebanyak 64 remaja (71.1%). Tingkat pengetahun remaja setelah diberikan penyuluhan kesehatan tentang anemia pada remaja sebagian besar adalah dengan katerogri baik sebanyak 85 remaja (94.4%). Hasil uji wilcoxon sign rank test diperoleh p-value 0.000. Simpulan: Terdapat efektivitas penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja. Kata Kunci: Pengetahuan Anemia; Pengetahuan Remaja; Penyuluhan Kesehatan.      
Hubungan kualitas pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat jalan BPJS Candra Ari Zoga; Yuni Kurniasih; Noor Ariyani Rokhmah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2495

Abstract

Background: Patient satisfaction is an indicator of healthcare services because it reflects the match between expectations and the service received. Based on the patient satisfaction rate at Playen 1 Community Health Center in the first semester of 2025, it was 84.39%. This result indicates that service quality remains below the minimum service standard set by the Indonesian Minister of Health Regulation in 2016, which is >95%. Purpose: To determine the relationship between the quality of health services and the level of satisfaction of BPJS outpatients. Method: This study was a quantitative study with a descriptive correlation design using a cross-sectional approach. A sample of 106 respondents was selected using a purposive sampling technique. Data collection was conducted using a questionnaire on health service quality and patient satisfaction. Data analysis was performed using the Spearman Rank test. Results: The majority of health service quality respondents stated that it was in the very good category, with 97 respondents (91.5%). Patient satisfaction was mostly in the very satisfied category, with 98 respondents (92.5%). Data analysis yielded a p-value of 0.001 <0.05 and a correlation coefficient of 0.817, indicating a significant, positive, and very strong relationship. Conclusion: There is a significant, positive, and very strong relationship between the quality of healthcare services and the satisfaction level of BPJS outpatients.   Keywords: BPJS; Community Health Center; Outpatient Care; Patient Satisfaction; Quality Of Service.   Pendahuluan: Kepuasan pasien menjadi indikator pelayanan kesehatan karena mencerminkan kesesuaian antara harapan dan pelayanan yang diterima. Berdasarkan tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Playen 1 pada semester I tahun 2025 sebesar 84.39%. Hasil tersebut menunjukkan kualitas pelayanan masih berada dibawah nilai standar pelayanan minimal yang ditetapkan PERMENKES RI tahun 2016 yaitu >95%. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat jalan BPJS. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 106 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner kualitas pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Kualitas pelayanan kesehatan mayoritas menyatakan kategori sangat baik sebanyak 97 responden (91.5%). Kepuasan pasien mayoritas menyatakan kategori sangat puas sebanyak 98 responden (92,5%). Hasil analisis data didapatkan hasil p-value 0.001<0.05 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0.817 artinya terdapat hubungan signifikan, positif, dan sangat kuat. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan, positif, dan sangat kuat antara kualitas pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat jalan BPJS.   Kata Kunci: BPJS; Kepuasan Pasien; Kualitas Pelayanan; Puskesmas; Rawat Jalan.
Determinan kemandirian lansia dalam melakukan activity daily living (ADL) Nadia Fudhiati; Rr. Vita Nurlatif; Dewi Nugraheni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2507

Abstract

Background: Elderly individuals 60 years experience physical and cognitive decline that may reduce independence in Activities of Daily Living (ADL). Purpose: To identify factors associated with elderly independence in ADL. Method: A quantitative descriptive study with a cross-sectional design was conducted among 82 elderly respondents. Data were collected using questionnaires and analyzed using chi-square tests and contingency coefficients. Results: Analysis indicates significant relationships between the elderly's level of independence and factors such as age (p=0.003<0.05), gender (p=0.037<0.05), physical health (p=0.000<0.05), social aspects (p=0.015<0.05), economic status (p=0.023<0.05), cognitive function (p=0.014<0.05), and family support (p=0.030<0.05). Conclusion: Elderly independence in ADL is influenced by demographic characteristics, physical health, social and economic factors, cognitive function, and family support.   Keywords: ADL; Cognitive Function; Elderly Independence; Family Support.   Pendahuluan: Lansia dengan umur 60 tahun mengalami penurunan fungsi fisik dan kognitif yang dapat memengaruhi kemandirian dalam melakukan Activity of Daily Living (ADL). Tujuan: Untuk mengetahui determinan kemandirian lansia dalam melakukan ADL. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 82 lansia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square serta koefisien kontingensi. Hasil: Analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat kemandirian lansia dengan faktor umur (p=0.003<0.05), jenis kelamin (p=0.037<0.05), kesehatan fisik (p=0.000<0.05), sosial (p=0.015<0.05), ekonomi (p=0.023<0.05), fungsi kognitif (p=0.014<0.05), dan dukungan keluarga (p=0.030<0.05). Simpulan: Kemandirian lansia dipengaruhi oleh faktor demografis, kesehatan, sosial ekonomi, fungsi kognitif, dan dukungan keluarga.   Kata Kunci: ADL; Dukungan Keluarga; Fungsi Kognitif; Kemandirian Lansia.
Persepsi masyarakat terhadap pengobatan tradisional pada penyakit tulang Sri Wahyuni; Cut Fitriani Rahayu; Cut Dini Shaleha; Rahmat Riski; Najwa Salsabila; Sayyed Sabiq; Syakila Zaura
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2516

Abstract

Background: Traditional medicine is still widely used by rural communities as an alternative approach to managing bone diseases and musculoskeletal complaints. The practice of bone sorting in Samuti Village by local practitioners remains trusted and used by the community due to cultural factors, accessibility, and perceived empirical experience. Purpose: To analyze community perceptions and levels of trust toward traditional treatment for bone diseases in Samuti Village. Method: The study used a descriptive qualitative approach, collecting data through in-depth interviews and participant observation with community members who had undergone bone-sharpening treatment. Data were analyzed thematically to describe perceptions, experiences, and factors influencing their choice of traditional medicine. Result: The majority of people have a positive perception of traditional medicine. Bone massage is considered effective for treating mild to moderate ailments such as sprains, aches, and joint pain. Ease of access, an "as you wish" payment system, and trust built through personal experience, community testimonials, and local wisdom are key reasons for choosing traditional medicine. Conclusion: Traditional medicine still plays a vital role in the public health system of Samuti Village. However, effective integration and referral mechanisms with formal health services are needed to ensure patient safety and optimize health care delivery.   Keywords: Bone Diseases; Bone Massage; Community Perception; Traditional Medicine; Trust.   Pendahuluan: Pengobatan tradisional masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan sebagai alternatif penanganan penyakit tulang dan keluhan muskuloskeletal. Praktik pengurutan tulang di Desa Samuti oleh praktisi lokal tetap dipercaya dan digunakan oleh masyarakat karena faktor budaya, aksesibilitas, dan pengalaman empiris yang dirasakan. Tujuan: Untuk menganalisis persepsi dan tingkat kepercayaan masyarakat Desa Samuti terhadap pengobatan tradisional pada penyakit tulang. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap masyarakat yang pernah menjalani pengobatan pengurutan tulang. Data dianalisis secara tematik untuk menggambarkan persepsi, pengalaman, serta faktor yang memengaruhi pemilihan pengobatan tradisional. Hasil: Sebagian besar masyarakat memiliki persepsi positif terhadap pengobatan tradisional. Pengurutan tulang dinilai efektif untuk menangani keluhan ringan hingga sedang seperti keseleo, pegal-linu, dan nyeri sendi. Faktor kemudahan akses, sistem pembayaran “seikhlasnya”, serta kepercayaan yang dibangun melalui pengalaman pribadi, testimoni masyarakat, dan kearifan lokal menjadi alasan utama pemilihan pengobatan tradisional. Simpulan: Pengobatan tradisional masih berperan penting dalam sistem kesehatan masyarakat Desa Samuti. Namun, diperlukan mekanisme integrasi dan rujukan yang baik dengan layanan kesehatan formal untuk menjamin keselamatan pasien dan optimalisasi pelayanan kesehatan.   Kata Kunci: Kepercayaan; Pengobatan Tradisional; Pengurutan Tulang; Penyakit Tulang; Persepsi Masyarakat.
Hubungan tingkat stres dengan kejadian dismenore pada remaja putri Lintang Teja Putri; Diah Nur Annisa; Sri Riyana
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2550

Abstract

Background: Dysmenorrhea in adolescent girls not only causes physical pain but also impacts academic performance and quality of life. This condition can lead to decreased concentration, limited activity, and school absence. Repeated monthly impacts have the potential to trigger stress, which can further exacerbate menstrual pain through disruption of the neuroendocrine system, increasing uterine contractions and pain perception. Purpose: To determine the relationship between stress levels and the incidence of dysmenorrhea in adolescent girls. Method: This quantitative study used a cross-sectional design. The sample consisted of 61 adolescent girls who had experienced menstruation and were selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Depression Anxiety Stress Scales 42 (DASS-42) questionnaire and a questionnaire about dysmenorrhea. Data were analyzed univariately and bivariately using correlation tests. Results: The p-value = 0.000 with r = 0.762, indicating a significant relationship between stress levels and the incidence of dysmenorrhea. The higher the stress level, the more severe the dysmenorrhea. Conclusion: There is a significant relationship between stress levels and the incidence of dysmenorrhea in adolescent girls. Therefore, stress management needs to be a priority in promotive and preventive efforts to prevent and mitigate the impact of dysmenorrhea in adolescents.   Keywords: Adolescent Girls; Dysmenorrhea; Menstruation; Stress Level.   Pendahuluan: Dismenore pada remaja putri tidak hanya menimbulkan nyeri fisik, tetapi juga berdampak pada aktivitas belajar dan kualitas hidup. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, keterbatasan aktivitas, serta ketidakhadiran di sekolah. Dampak yang berulang setiap bulan berpotensi memicu stres yang selanjutnya dapat memperberat nyeri haid melalui gangguan sistem neuroendokrin sehingga meningkatkan kontraksi uterus dan persepsi nyeri. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadian dismenore pada remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 61 remaja putri yang telah mengalami menstruasi dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scales 42 (DASS-42) dan kuesioner kejadian dismenore. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi. Hasil: Nilai p-value = 0.000 dengan r = 0.762 yang menandakan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore artinya semakin tinggi tingkat stres maka semakin berat dismenore yang dirasakan. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore pada remaja putri. Sehingga pengelolaan stres perlu menjadi perhatian dalam upaya promotif dan preventif untuk mencegah serta mengurangi dampak dismenore pada remaja.   Kata Kunci: Dismenore; Menstruasi; Remaja Putri; Tingkat Stres.
Gadget bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi pola tidur pada remaja Revina Ayu Lestari; Suryani Suryani; Agustina Rahmawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2559

Abstract

Background: Adolescents are vulnerable to sleep disturbances due to biological changes during puberty and increasing exposure to digital devices. Gadget use is often associated with poor sleep patterns however, previous findings remain inconsistent, indicating that sleep problems among adolescents may be influenced by multiple factors. Purpose: To examine the relationship between gadget use and sleep patterns among seventh-grade students. Method: This study used a quantitative descriptive-correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 86 seventh-grade students selected using a purposive sampling method. Data were collected using the Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV) to assess gadget use and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to evaluate sleep patterns. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. Results: A total of 54.7% of students reported high levels of gadget use, while 91.9% reported poor sleep patterns. Statistical analysis showed no significant association between gadget use and sleep patterns (p = 0.352; OR = 0.454; 95% CI 0.083-2.481). Conclusion: Gadget use was not significantly associated with sleep patterns among seventh-grade students.   Keywords: Adolescents;  Gadget Use; Sleep Pattern; Smartphone, Students.   Pendahuluan: Remaja rentan mengalami gangguan tidur akibat perubahan biologis selama masa pubertas dan paparan yang semakin meningkat terhadap perangkat digital. Penggunaan gadget sering dikaitkan dengan pola tidur yang buruk namun, temuan sebelumnya masih tidak konsisten, menunjukkan bahwa masalah tidur pada remaja mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tujuan: Untuk mengkaji hubungan antara penggunaan gadget dan pola tidur di kalangan siswa kelas VII. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 86 siswa kelas tujuh yang dipilih menggunakan metode sampling purposif. Data dikumpulkan menggunakan Skala Kecanduan Smartphone Versi Pendek (SAS-SV) untuk menilai penggunaan gadget dan Indeks Kualitas Tidur Pittsburgh (PSQI) untuk mengevaluasi pola tidur. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Sebanyak 54.7% siswa memiliki tingkat penggunaan gadget yang tinggi, sementara 91.9% mengalami pola tidur yang buruk. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara penggunaan gadget dan pola tidur (p = 0.352; OR = 0.454; 95% CI 0.083-2.481). Simpulan: Penggunaan gadget tidak secara signifikan terkait dengan pola tidur di kalangan siswa kelas VII.   Kata Kunci: Penggunaan Gadget; Pola Tidur; Ponsel Pintar; Remaja; Siswa.
Hubungan dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri Rieke Diah Fitaloka; Diah Nur Anisa; Dwi Sri Handayani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2565

Abstract

Background: Poor vulva hygiene behavior can cause various negative impacts on the reproductive health of adolescent girls, such as vaginal discharge, urinary tract infections, reproductive tract infections, and long-term reproductive health problems. Purpose: To determine the relationship between peer support and vulva hygiene behavior among adolescent girls. Method: This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected using peer support questionnaires and vulva hygiene behavior questionnaires, then analyzed using the Spearman Rank correlation test. Results: The most respondents had a high level of peer support and good vulva hygiene behavior. Statistical analysis indicated a significant relationship between peer support and vulva hygiene behavior among adolescent girls, with a p-value of 0.000 and a correlation coefficient (r) of 0.717. Conclusion: There is a significant relationship between peer support and vulva hygiene behavior among adolescent girls. Good peer support plays an important role in improving healthy vulva hygiene behavior.   Keywords: Adolescent Girls; Peer Support; Vulva Hygiene Behavior.   Pendahuluan: Perilaku vulva hygiene yang tidak dilakukan dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada kesehatan reproduksi remaja putri, seperti keputihan, infeksi saluran kemih, infeksi saluran reproduksi, hingga gangguan kesehatan reproduksi jangka panjang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan teman sebaya dan kuesioner perilaku vulva hygiene, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden memiliki dukungan teman sebaya kategori tinggi dan perilaku vulva hygiene kategori baik. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri, dengan hasil p value 0.000 dan korelasi r 0.717. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri. Dukungan teman sebaya yang baik berperan dalam meningkatkan perilaku vulva hygiene yang sehat.   Kata Kunci: Dukungan Teman Sebaya; Perilaku Vulva Hygiene; Remaja Putri.  
Dampak faktor organisasi, sosial, dan beban kerja terhadap burnout pada tenaga kesehatan dalam perspektif lintas sektor Rizqi Mubarok; Eric Satrio Adi Prabowo; Billy Octavianus Samuel Mayusip; Laela Sari Restiani; Rony Rikus Missa; Vip Pamarta
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2594

Abstract

Background: Burnout among healthcare workers is a growing psychological problem across various healthcare sectors and impacts the well-being of healthcare workers and the quality and safety of patient care. Burnout is influenced by various factors, including organizational, social, and workload factors, with varying characteristics across healthcare facilities. Purpose: To examine the state of healthcare worker burnout across various healthcare sectors and to analyze the influence of organizational, social, and workload factors from a cross-sectoral perspective. Method: A literature review was conducted by searching scientific articles through PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, and ResearchGate databases during the August–September period. Articles were selected based on topic suitability, methodological quality, and relevance of the research findings. Results: The study shows that burnout occurs widely in hospitals, community health centers, and community healthcare facilities, with the main triggers being excessive workload, high emotional demands, administrative burden, unsupportive leadership, and minimal social support. Furthermore, the quality of the work environment and interpersonal relationships have been shown to play a significant role in exacerbating or protecting healthcare workers from burnout. Conclusion: Burnout among healthcare workers is a multidimensional problem that requires a comprehensive and cross-sectoral approach with a focus on improving organizational systems, strengthening social support, and managing workloads fairly and adaptively.   Keywords: Burnout; Healthcare Workers; Organizational Factors; Social Support; Workload.   Pendahuluan: Burnout pada tenaga kesehatan merupakan masalah psikologis yang semakin meningkat di berbagai sektor pelayanan kesehatan dan berdampak pada kesejahteraan tenaga kesehatan serta mutu dan keselamatan pelayanan pasien. Burnout dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor organisasi, sosial, dan beban kerja, dengan karakteristik yang berbeda pada setiap jenis fasilitas pelayanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengkaji kondisi burnout tenaga kesehatan di berbagai sektor pelayanan kesehatan serta menganalisis pengaruh faktor organisasi, sosial, dan beban kerja dalam perspektif lintas sektor. Metode: Studi literature review dengan penelusuran artikel ilmiah melalui basis data PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, dan ResearchGate pada periode Agustus–September. Artikel diseleksi berdasarkan kesesuaian topik, kualitas metodologi, dan relevansi hasil penelitian. Hasil: kajian menunjukkan bahwa burnout terjadi secara luas di rumah sakit, puskesmas, dan layanan kesehatan komunitas, dengan pemicu utama berupa beban kerja berlebih, tuntutan emosional tinggi, beban administratif, kepemimpinan yang tidak suportif, serta minimnya dukungan sosial. Selain itu, kualitas lingkungan kerja dan hubungan interpersonal terbukti berperan penting dalam memperburuk atau melindungi tenaga kesehatan dari burnout. Simpulan: Burnout tenaga kesehatan merupakan masalah multidimensional yang memerlukan pendekatan komprehensif dan lintas sektor dengan fokus pada perbaikan sistem organisasi, penguatan dukungan sosial, serta pengelolaan beban kerja yang adil dan adaptif. Kata Kunci: Beban Kerja; Burnout; Dukungan Sosial; Faktor Organisasi; Tenaga Kesehatan.