cover
Contact Name
Syarif Hadiwijaya
Contact Email
syarifhadiwijaya@unkris.ac.id
Phone
+6281517610679
Journal Mail Official
industrikrisna@unkris.ac.id
Editorial Address
Kampus UNKRIS Jatiwaringin - Pondok Gede 13077, Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta, 13077
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Industrikrisna
ISSN : -     EISSN : 28297709     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal IndustriKrisna adalah jurnal peer review yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik Universitas Krisnadwipayana. Jurnal ini mempublikasikan hasil penelitian dan kajian ilmiah yang berkaitan dengan bidang teknik industri.
Articles 67 Documents
Analisis dan Optimasi Sistem Antrean Pelanggan pada Cafe Kopinan 24 Jepara Menggunakan Model M/M/1 dan M/M/2 QILMI, AHMAT THOLIQUL; Dwi Retna Sulistyawati; Gunawan Mohammad
INDUSTRIKRISNA Vol 15 No 1 (2026): INDUSTRIKRISNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/industrikrisna.v15i1.754

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengoptimalkan sistem antrean pelanggan pada Cafe Kopinan 24 Jepara menggunakan model antrean M/M/1 dan M/M/2. Data kedatangan dan pelayanan dikumpulkan pada jam sibuk pukul 20.00–23.00. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak POM-QM for Windows dan simulasi ProModel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem antrean M/M/1 memiliki tingkat utilisasi tinggi sehingga menyebabkan antrean panjang dan waktu tunggu yang lama. Usulan penambahan satu server pada jam sibuk (model M/M/2) terbukti mampu menurunkan panjang antrean dan waktu tunggu pelanggan secara signifikan. Dengan demikian, penerapan model M/M/2 dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan pada Cafe Kopinan 24 Jepara.
ANALISI BEBAN KERJA MENGGUNAKAN METODE DRAWS DAN CVL di PT TJB POWER SERVICES Surahman; Dwi Retna Sulistyawati; Muhammad Choiru Zulfa
INDUSTRIKRISNA Vol 15 No 1 (2026): INDUSTRIKRISNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/industrikrisna.v15i1.787

Abstract

Perkembangan industri ketenagalistrikan menuntut perusahaan untuk menjaga kinerja operasional yang optimal, salah satunya melalui pengelolaan beban kerja sumber daya manusia. Helper teknisi sebagai garda terdepan dalam kegiatan perawatan peralatan pembangkit memiliki risiko beban kerja fisik dan mental yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat beban kerja fisik dan mental pada helper teknisi mekanik dan kontrol instrumen di PT TJB Power Services PLTU Tanjung Jati B Unit 1–2 Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cardiovascular Load (CVL) untuk mengukur beban kerja fisik dan Defence Research Agency Workload Scale (DRAWS) untuk mengukur beban kerja mental. Data diperoleh melalui pengukuran denyut jantung, observasi lapangan, wawancara, serta pengisian kuesioner DRAWS oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar helper memiliki beban kerja fisik pada kategori ringan hingga sedang, dengan nilai CVL rata-rata di bawah 30%. Namun demikian, hasil pengukuran beban kerja mental menunjukkan bahwa mayoritas helper mengalami beban kerja mental tinggi (overload) dengan nilai DRAWS di atas 70%. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun tuntutan fisik relatif rendah, tekanan mental tetap tinggi akibat kompleksitas pekerjaan dan tanggung jawab yang besar. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam merancang pengelolaan beban kerja yang lebih seimbang guna meningkatkan kinerja, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja.
pengendalian kualitas untuk mengurangi pemborosan pada produksi outsole menggunakan metode six sigma dan failure mode and effect analysis (fmea) fitrian, damayanti; Noor Nailie Azzat; Dwi Retna Sulistyawati
INDUSTRIKRISNA Vol 15 No 1 (2026): INDUSTRIKRISNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas pengendalian kualitas untuk mengurangi pemborosan pada produksi outsole di PT Hwaseung Indonesia. Masalah utama yang dihadapi adalah masih tingginya tingkat kecacatan produk berupa poor trimming, over cement, dirty, dan yellowing yang berdampak pada efisiensi produksi dan kualitas produk. Metode yang digunakan adalah Six Sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) serta analisis risiko menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai level sigma untuk jenis cacat poor trimming sebesar 6,83, yellowing sebesar 6,86, over cement sebesar 6,85, dan dirty sebesar 6,88, yang seluruhnya termasuk kategori green belt. Melalui analisis FMEA, penyebab dominan dari kecacatan antara lain operator kurang terampil, penggunaan alat yang tumpul, aplikasi lem yang tidak terkontrol, lingkungan kerja yang kotor, serta paparan sinar UV. Usulan perbaikan yang direkomendasikan meliputi pelatihan operator, pengasahan alat secara terjadwal, penggunaan alat takaran lem otomatis, penerapan 5S di lingkungan kerja, serta penggunaan bahan baku tahan UV. Penelitian ini membuktikan bahwa penerapan Six Sigma yang dipadukan dengan FMEA efektif dalam mengidentifikasi akar masalah, mengurangi pemborosan, serta meningkatkan kualitas produk outsole sehingga mampu mendukung daya saing perusahaan. Kata Kunci: Six Sigma, FMEA, Outsole, Kualitas, Pemborosan
Pemilihan supplier kayu kayu pada cv integritas mulia bersama untuk menentukan prioritas supplier kayu bagi perusahaan dengan menggunakan metode analytic network process(ANP) Saktyo Arzaqi, Dodi; Febri Nugroho Mujiraharjo; Noor Nailie Azzat
INDUSTRIKRISNA Vol 15 No 1 (2026): INDUSTRIKRISNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/industrikrisna.v15i1.811

Abstract

This research is motivated by the problem faced by CVIntegritas Mulia Bersama, which failed to achieveproduction targets due to late deliveries from severalsuppliers. The company wanted to determine whichcriteria were prioritized in supplier selection.Decision-making is crucial for any company, asdetermining priorities is crucial for improving thequality and product quality of a company. Oneexample is improving wood quality, price, supplierservice, and chair delivery. The Analytic NetworkProcess (ANP) method is a crucial factor in decision-making, enabling the company to systematicallyidentify dependencies and provide feedback. Datacollection in this study involved interviews andquestionnaires directed at the production manager,production head, and production supervisor. The ANPcalculation in this study used Super Decisions dataprocessing software, which uses the ANP method. Thesupplier priority ranking was determined by CompanyB with a weight of 0.60082, Company C with a weightof 0.45246, and Company A with a weight of 0.41737.From these results, it can be concluded that thepriority order for selecting the best supplier based onwood quality, price, supplier service, and chairdelivery is Company B, as it has the most ideal value.
PENURUNAN RISIKO OPERASIONAL PENGADAAN BARANG/JASA DI KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN METODE HOUSE OF RISK gealovey azzahra; Vera Nova Lumban Raja; Tini Juartini
INDUSTRIKRISNA Vol 15 No 1 (2026): INDUSTRIKRISNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/industrikrisna.v15i1.816

Abstract

This study aims to examine and mitigate operational risks in the procurement of goods and services at the Ministry of Industry. The research was carried out at the Procurement Unit of the Ministry of Industry in Jakarta, with data collected through interviews, observations. The applied method is the House of Risk (HOR), which consists of two stages: HOR 1 to identify risks and determine priority risk agents based on the Aggregate Risk Priority (ARP) value, and HOR 2 to formulate mitigation strategies by considering the effectiveness-to-difficulty ratio (ETD). The findings reveal 20 categories of goods and 17 categories of services with a total procurement value of IDR 2.37 billion, while estimated losses due to operational risks amounted to IDR 48 million, or approximately 2% of the total value. The implementation of the HOR method successfully reduced the number of risk incidents from 23 to 10 cases and decreased the loss value by IDR 216.4 million, equivalent to 56.5%. Thus, it can be concluded that the House of Risk method is effective in supporting the development of more reliable, efficient, and low-risk procurement strategies, while also enhancing operational risk management within the Ministry of Industry.
PERANCANGAN SISTEM KERJA REPLENISHMENT HPL YANG ERGONOMIS DI WAREHOUSE PT XYZ Syafrudiansyah Ichwal; Florida Butarbutar; Syarif Hadiwijaya
INDUSTRIKRISNA Vol 15 No 1 (2026): INDUSTRIKRISNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/industrikrisna.v15i1.817

Abstract

The condition of the work system that is less ergonomic can cause a non-ideal posture, so that workers get tired easily because there are several parts of the body that receive static loads continuously, therefore the existing work system needs to be improved. The purpose of this study is to determine the impact of worker complaints, determine posture while working, and design an ergonomic work system that can provide convenience to operators when doing their work. This research method uses Nordic Body Map (NBM) to analyze worker complaints, Rapid Entire Body Assessment (REBA) and Ovako Working Analysis System (OWAS) to measure body posture, and anthropometric data to determine the dimensions of the trolly replenishment design. Data was obtained from the collection of data on worker complaints before design, posture before design, anthropometric data, and cycle time data. By designing a new work system based on three main aspects, namely layout, movement, and work aids, significant changes were made to complaints, work posture, and operator cycle time. Among them are the 5 biggest complaints of workers before the design, namely the waist (23), back (22), left shoulder (18), right shoulder (19), and right upper arm (18), after the design of the 5 complaints decreased significantly to waist (9), back (8), left shoulder (9), right shoulder (9), and right upper arm (9). Then the REBA score before the design, which is (9), is included in the high risk, after the design is analyzed with OWAS into category (1), meaning that there is no musculoskeletal system problem in this attitude. And the cycle time that originally took 43.4 minutes to work on 1 HPL crate, became 37.0 minutes.
ANALISIS EFEKTIVITAS PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) DI PT ADVANCE DIGITAL Muhammad Hasib Hilmi; Noor Nailie Azzat; Sisno Riyoko
INDUSTRIKRISNA Vol 15 No 1 (2026): INDUSTRIKRISNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/industrikrisna.v15i1.828

Abstract

Penelitian ini menganalisis efektivitas produksi menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) pada PT Advance Digital, perusahaan manufaktur elektronik di Indonesia yang memproduksi kipas angin. Sebagai perusahaan yang baru beroperasi sejak tahun 2025, ditemukan permasalahan efisiensi produksi khususnya pada mesin injeksi molding, seperti keterlambatan produksi, kerusakan mesin, dan produk cacat. Orisinalitas penelitian ini terletak pada penerapan metode OEE yang dikombinasikan dengan analisis six big losses dalam mengevaluasi kinerja mesin pada perusahaan manufaktur yang masih dalam tahap awal operasional. Tujuan penelitian ini adalah mengukur efektivitas mesin injeksi molding, mengidentifikasi faktor dominan yang mempengaruhi kinerja mesin, serta memberikan usulan perbaikan. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan perhitungan nilai OEE dan analisis komponen six big losses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mesin MI-4 dan MI-5 memiliki nilai OEE di bawah standar JIPM sebesar 85%. Faktor paling dominan yang mempengaruhi efektivitas adalah breakdown losses dengan persentase sebesar 33% pada mesin MI-4 dan 32% pada mesin MI-5. Hal ini menunjukkan bahwa downtime mesin menjadi penyebab utama ketidakefisienan produksi. Oleh karena itu, usulan perbaikan meliputi penjadwalan pemeliharaan rutin harian dan bulanan, pembersihan mesin oleh operator, serta pemeriksaan komponen mesin secara berkala. Penelitian ini memberikan implikasi praktis dalam meningkatkan kinerja mesin dan mengurangi kerugian produksi pada industri manufaktur.