cover
Contact Name
Antonius Primus
Contact Email
fatima.parepare28@gmail.com
Phone
+6242122167
Journal Mail Official
fatima.parepare28@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ganggawa, No. 22, Kelurahan Ujung Bulu, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, Sulawesi Selatan
Location
Kota pare pare,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
ISSN : 23563028     EISSN : 26563495     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan “Lentera Acitya” merupakan media komunikasi dan informasi ilmiah bidang ilmu kesehatan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fatima Parepare. “Lentera Acitya” merupakan hasil elaborasi berbagai pemikiran dan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh para dosen dan para ahli serta mahasiswa di bidangnya, baik dalam lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fatima Parepare maupun di luar lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fatima Parepare. Jurnal ini diterbitkan secara berkala, dua kali setahun (Juni dan Desember). “Lentera Acitya” diterbitkan pertama kali pada Desember 2014. Jurnal Kesehatan Lentera Acitya terindeks LIPI, ISSN Indonesia, Google Schoolar, PKP Index, OJS, dan GARUDA (Garba Rujukan Digital) Dikti. Terintegrasi pada SINTA.
Articles 112 Documents
GAMBARAN PEMENUHAN ACTIVITY DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN POST STROKE DI POLIKLINIK SARAF RSUD ANDI MAKKASAU KOTA PAREPARE Yunita Palinggi; Leony Patricia Anggraeni
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potret terjadinya permasalahan kesehatan masa kini sangat beragam, salah satu yang terus mengalami peningkatan yakni kejadian stroke. Menurut WHO tahun 2012, stroke adalah salah satu gangguan saraf yang terjadi akibat dari terganggunya peredaran darah ke otak yang terjadi sekitar 24 jam atau lebih, gangguan saraf ini bersifat permanen tanpa penyebab lain kecuali gangguan vascular (Junaidi, 2011: 13). Stroke juga merupakan penyebab kematian utama dan kecacatan yang dapatdicegah (American Heart Association, 2015). Untuk mengetahui gambaran pemenuhan Activity Daily Living (ADL) pada pasien post stroke di poliklinik syaraf RSUD Andi Makkasau Kota Parepare. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Indeks Barthel. Secara umum dari 30 responden yang ada di poliklinik saraf, rata-rata pasien mandiri dalam melakukan ADL setiap hari yaitu sebanyak 14 pasien Mandiri (46,44%) dan yang paling sedikit pasien dengan kategori ketergantungan total yaitu sebanyak 1 orang (3,34%). Di uraikan seperti yang pertama Pemenuhan Perawatan Diri Pada Pasien Post Stroke sebanyak 23 pasien Mandiri (76,66%), yang kedua berdasarkan tingkat mobilitas sebanyak 14 orang Mandiri (46,66%) dan yang ketiga berdasarkan Kemandirian dalam penggunaan toilet sebanyak 25 orang Mandiri (83,33%). Gambaran pemenuhan activity daily living (ADL) pada pasien post stroke didapatkan sebagian besar adalah tingkat activity daily living dengan kategori mandiri sedangkan yang paling sedikit adalah kategori tingkat ketergantungan total. Penelitian ini diharapkan agar responden lebih memperhatikan dan mengontrol kondisinya sesuai jadwal cek up, rutin mengikuti program rehabilitasi medik yang sudah diprogramkan untuk membantu kesembuhannya, pasien juga dianjurkan agar patuh minum obat.Kata Kunci: Activity Daily Living (ADL), Post StrokeABSTRACTPortraits of the occurrence of health problems today are very diverse, one of which continues to increase is the incidence of stroke. According to WHO in 2012, stroke is one of the nerve disorders that occur as a result of  disruption of blood circulation to the brain that occurs around 24 hours or more, this nerve disorder is permanent without any other cause except vascular disorders (Junaidi, 2011: 13). Stroke is also a leading cause of death and preventable disability (American Heart Association, 2015). To determine the description of the fulfillment of Activity Daily Living (ADL) in post stroke patients in the nerve clinic at the Andi Makkasau Regional Hospital, Parepare City. This type of quantitative research with a descriptive design. The instrument used was a Barthel Index questionnaire. In general out of 30 respondents in the neuro polyclinic, the average independent patient in performing ADL every day is as many as 14 independent patients(46,44%) and the least number of patients in the total dependency category is 1 person (3,34%). Described as the first fulfillment of self-care in post stroke patients as many as 23 independent patients (76,66%), the second is based on the level of mobility of 14 independent people (46,66%) and the third is based on independence in using the toilet as many as 25 independent people (83,33%). The description of fulfillment of daily living activity (ADL) in post stroke patients was obtained mostly by the level of daily living activity with an independent category while the least was the category of total dependency level. The research is expected that respondents pay more attention and control their condition accordingto the check-up schedule, routinely follow the medical rehabilitation program that has been programmed to help his recovery, adhere to taking medication. Keywords: Activity Daily Living (ADL), Post Stroke
Pengetahuan Mahasiswi AKBID Andi Makkasau Tentang Penundaan Pemotongan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir di Akademi Kebidanan Andi Makkasau Parepare Tahun 2016 Arifa Usman
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 4, No 4 (2017): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut WHO pada manajemen fisiologis ini, waktu yang optimal untuk pengkleman dan pemotongan tali pusat semua bayi tanpa memandang usia kehamilan atau berat badan janin adalah ketika sirkulasi atau denyutan di tali pusat telah berhenti dan tali pusat terlihat mendatar sekitar 3 menit atau lebih. (Depkes RI)Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan bidan tentang penundaan pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir di akademi kebidanan andi makkasau kota parepare tahun 2016    Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian dengan pendekatan deskriptif dengan populasi semua mahasiswi tingkat II yang ditemui di Akbid andi makkasau parepare sebanyak 195 orang dan terdapat 30 orang sampel yaitu 15 orang mahasiswi dari tingkat II dan 15 orang mahasiswi dari tingkat III    Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiswi Akbid andi makkasau tentang penundaan pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir di akademi kebidanan andi makkasau kota parepare tahun 2016 sebanyak 4 orang (13,33%) yang mempunyai pengetahuan baik, yang terdiri dari 1 orang dan 10 orang (33,33%) tingkat II dan 3 orang (10%) tingkat III dan mempunyai pengetahuan kurang sebanyak 11 orang (36,66) yang terdiri dari 9 orang (30%) tingkat 2 dan 3 orang (6,66) tingkat 3.    Diharapkan dapat sebagai bahan kajian terhadap teori  yang  telah  diperoleh  mahasiswi  selama  mengikuti pembelajaran serta diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan tentang penundaan pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir
FILOSOFI PENYAKIT BERBASIS KESEHATAN LINGKUNGAN Martinus Jimung
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKFilosofi penyakit berbasis kesehatan lingkungan merupakan artikel yang mengupas tentang cara kerja atau siklus perjalanan hidup dan perkembangbiakan penyakit berbasis kesehatan lingkungan yang suka dan senang hidup pada lingkungan yang kurang bersih dan pada perilaku manusia yang kurang menghargai hidup sehat dan bersih. Karena Penyakitberbasis lingkungan masih menjadi permasalahan hingga saat ini. ISPA dan diare yang merupakan penyakit berbasis lingkungan selalu masuk dalam 10 besar penyakit di hampir seluruh Puskesmas di Indonesia. World Health Organization (WHO) memperkirakan insiden Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada usia balita. Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan Tren Masalah Kesehatan Lingkungan, Penyakit Berbasis Lingkungan dan Filosofi Penyakit Berbasis Lingkungan yang terjadi di Indonesia. Jenis tulisan artikel ini adalah deskriptif dengan kajian kualitatif dari berbagai buku dan jurnal Kesehatan Masyarakat serta dianalisis dengan pendekatan filosofi penyakit berbasis kesehatan lingkungan. ABSTRACTThe health based disease philosophy consists of articles that discuss the workings or life cycle and environmental health based disease breeding cycle that likes and likes to live in an unclean environment and in unhealthy humans who are healthy and clean. Because Environmental Based Disease is still a debate until now. ARI and diarrhea, which are environmental-based diseases, are among the top 10 diseases in almost all Puskesmas in Indonesia. The World Health Organization (WHO) estimates the incidence of Acute Respiratory Infection (ARI) in developing countries with underfivemortality rates above 40 per 1000 live births is 15% -20% per year at the age of children under five. In Indonesia, Acute Respiratory Infections (ARI) always determine the first sequence of causes of death in infants and toddlers. This article is intended to explain the Trends in Environmental Health Problems, Environmental-Based Diseases and the Philosophy ofEnvironmental-Based Diseases that occur in Indonesia. The type of writing of this article is descriptive with a qualitative study of various Public Health books and journals which are analyzed by understanding the philosophy of disease based on environmental health.   
Gambaran Kejadian TBC Paru di Poli TB Paru PKM Lakessi Kota Parepare Tahun 2016 Martina Malla; Novia Sari
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 4, No 5 (2017): Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini penderita TBC Paru semakin hari semakin meningkat khususnya di Negara kita “Indonesia”. Persentase jumlah kasus di Indonesia pun menjadi 10 persen terhadap seluruh kasus di dunia sehingga menjadi Negara dengan kasus terbanyak kedua bersama dengan Tiongkok. Provinsi Sulawesi Selatan saat ini memiliki jumlah penderita TBC Paru sebanyak 7.182 laki – laki dan 4.994 perempuan. Penderita penyakit TBC Paru untuk wilayah Sulawesi Selatan saja, Kota Parepare masuk dalam urutan ke – 3 dalam jumlah TB Paru terbanyak setelah Makkasar dan Palopo (dr.Nevy Sinta Damayanti, selaku dokter poli penyakit paru – paru RSUD Tipe B Andi Makkasau Parepare). PKM Lakessi memiliki jumlah pasien dengan suspek TBC Paru 219 pasien, 219 pasien terdapat 27 pasien yang saat ini menjalani pengobatan yang terdiri dari 14 orang dengan BTA (+), 12 orang dengan BTA (-), TB Paru kategori anak 1 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang Gambaran Kejadian Tuberkulosis (TBC) Paru di Poli TB Paru PKM Lakessi Kota Parepare Tahun 2016 dan untuk mengetahui Mengetahui gambaran umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, rokok, riwayat imunisasi dengan kejadian penderita TBC Paru di Poli TB Paru PKM Lakessi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif tetapi untuk data TBC Paru pengobatan/konseling di Poli TBC Paru PKM Lakessi Kota Parepare, proses desain penelitian yang dilakukan melalui sensus dengan sampel 25 responden TBC Paru pada periode Januari-Desember 2016. Hasil penelitian ini menunjukkan berdasarkan umur ditemukan angka kejadian TBC Paru tertinggi pada kelompok usia 46 – 55 tahun banyak 6 kasus (24%), berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah laki – laki sebanyak 16 kasus (64%), berdasarkan tingkat pendidikan terbanyak adalah tingkat pendidikan SMA sebanyak 7 kasus (28%), berdasarkan tingkat pekerjaan terbanyak adalah tingkat pekerjaan berat sebanyak 12 kasus (48%), berdasarkan kebiasaaan merokok terbanyak adalah pada klien yang tidak memiliki kebiasaan merokok sebanyak 14 responden (56%), berdasarkan riwayat imunisasi BCG terbanyak adalah klien yang memiliki riwayat imunisasi BCG sebanyak 13 kasus (52%).
GAMBARAN PEMENUHAN NUTRISI PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LAKESSI KOTA PAREPARE Martina Malla; Emilia Emilia
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DAN KEPATUHAN ANC DENGAN TINGKAT KECEMASA PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI PUSKESMAS LOMPOE Ayu Irawati; Arifa Usman; Susianti Susianti
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA NYERI REMATIK PADA LANSIA DI PPSLU MAPPAKASUNGGU KOTA PAREPARE Eka Apriyani Kasmar; Martina Malla
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri merupakan masalah yang sering dijumpai dalam kehidupan dan menjadi alasan alasan umum orang mencari perawatan kesehatan. Lebih dari setengah jumlah lansia yang mengalami nyeri rematik (nyeri sendi). Faktor yang dapat meningkatkan nyeri rematik antara lain umur, makanan dan aktivitas lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan terjadinya nyeri rematik pada lansia dan skala nyeri yang dirasa oleh lansia di PPSLU Mappakasunggu Kota Parepare Tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Alat pengumpulan data yang di gunakan adalah kuesioner, wawancara dan observasi langsung lapangan melalui pendekatan fenomenologi untuk mencari tahu faktor yang mempengaruhi nyeri rematik dan skala nyeri yang diraskan pada lansia. Waktu penelitian pada bulan juli hingga agustus denga responden 63 lansia. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala nyeri yang dirasakan lansia rata-rata > 7. Hasil uji chi-Square menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna nyeri rematik dengan umur dimana nilai p = 0,028 < 0,05, tidak ada hubungan faktor makanan dengan nyeri rematik dimana nilai p = 0,302 > 0,05, ada hubungan faktor aktivitas lansia dengan nyeri rematik diman nilai p = 0,000 < 0,05.    Kata Kunci: Nyeri Rematik, Umur, Makanan dan Aktivitas Lansia.ABSTRACTPain is a problem that is often found in life and is the reason for the general reason people seek health care. More than half of the elderly who experience rheumatic pain (joint pain). Factors that can increase rheumatic pain include age, food and elderly activities. This study aims to determine the factors that cause rheumatic pain in the elderly and the scale of pain felt by the elderly in PPSLU Mappakasunggu Parepare City in 2017. The research method used is qualitative and quantitative. The data collection tools used are questionnaires, interviews and direct field observations through a phenomenological approach to find out factors that affect rheumatic pain and pain scale that is measured in the elderly. The time of the study was from July to August with 63 respondents. Data analysis was done by univariate and bivariate by Chi-Square test. The results showed that the pain scale perceived by the elderly average> 7. The results of the chi-Square test showed that there was a significant relationship with rheumatic pain with age where the value of p = 0.028 <0.05, there was no association of food factors with rheumatic pain where p = 0.302> 0.05, there is a correlation between the activity factor of the elderly and rheumatic pain where the value of p = 0,000 <0.05. Keywords: Rheumatic Pain, Age, Food and Elderly Activities
GAMBARAN PEMENUHAN ACTIVITY DAILY LIVING DI PUSAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA MAPPAKASUNGGU KOTA PAREPARE Sampeangin, Henrick; Tena, Andreas; Rustang, Nur Ana
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : FATIMA PAREPARE HEALTH SCIENCE COLLEGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan populasi yang rentang terhadap masalah biologis, fisik, sosial ekonomi maupun mental dan akan mengalami peristiwa seperti pensiun, berkabung, dan cacat sehingga lansia tidak lagi produktif. Activity Daily Living adalah kegiatan rutin setiap hari untuk memenuhi kebutuhan diri. Tujuan penelian untuk mengetahui gambaran pemenuhan activity daily living di Pusat Pelayanan Sosial Lanjut Usia Mappakasunggu Kota Parepare.Metode penelitian menggunakan desain deskriptif dengan jenis penelitian kuantitatif yang mendeskripsekan variabel penelitian. Instrumen yang digunakan kuesioner. Dari 30 responden yang ada di Pusat Pelayanan Sosial Lanjut Usia Mappakasunggu Kota Parepare, berdasarkan hasil indeks katz dalam kategori mandiri meliputi mandi sebanyak 25 lansia, makan 29 lansia, berpakaian 28 lansia, berpindah sebanyak 26 lansia, toileting sebanyak26 lansia, kontinen sebanyak 24 lansia. Pada penelitian ini, Tingkat pemenuhan Activity Daily Living di Pusat Pelayanan Sosial Lanjut Usia Mappakasunggu Kota Parepare memiliki persentase tertinggi sebanyak 22 responden dengan kategori terpenuhi. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai Activity Daily Living dan mungkin dapat meneliti mengenai pengaruh peran caregiver dalam tingkatkemandirian lansia dalam pemenuhan Activity Daily Living. Kata kunci : Lansia, Activity Daily Living, PPSLU.ABSTRACTElderly is a population that is vulnerable to biological, physical, socio-economic and mental problems and will experience events such as retirement, bereavement, and disability so that the elderly are no longer productive. Activity Daily Living is a routine activity every day to fulfill one’s needs. To find out an overview of fulfilling daily living activities at the Mappakasunggu Social Service Center for the Elderly, Parepare City. Research methoddescriptive design with a type of quantitative research that describes research variables, where data collection is in the form of distributing questionnaires. Based on the katz index results, the independent category includes 25 elderly bathing, 29 elderly eating, 28 elderly dressing, 26 elderly moving, 26 elderly toileting, 24 elderly continental. In this study, the level of fulfillment of Activity Daily Living at the Mappakasunggu Social Service Centerfor the Elderly in Parepare City had the highest percentage of 22 respondents in the fulfilled category. Future research is expected to be able to conduct further research on Activity Daily Living and maybe be able to examine the influence of the caregiver’s role on the level of independence of the elderly in fulfilling Activity Daily Living.Keywords : Elderly, Activity Daily Living, PPSLU.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PASIEN TB PARU TERHADAP LANJUTAN UNTUK MINUM OBAT Indirwan Hasanuddin; Mardiana Mardiana
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTuberkulosis menjadi masalah utama kesehatan masyarakat sampai saat ini karena mempengaruhi produktivitas seseorang, serta merupakan penyebab kematian kedua setelah penyakit kardiovaskuler. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional Studydengan teknik AccidentalSampling dimana suatu tekhnik pengambialn sampel dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30orang. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan pasien TB paru terhadap lanjutan minum obat dimana hasil uji Fisher Exactdidapatkan nilai p=0,019<0,005. Ada hubungan antara presepsi jarak dengan kepatuhan pasien TB paru terhadap lanjutan minum obat dimana hasil uji Fisher Exactdidapatkan nilai p=0,000<0,005. Ada hubungan antara motivasi dengan kepatuhan pasien TB paru terhadap lanjutan minum obat dimana hasil uji Fisher Exactdidapatkan nilai p=0,008<0,005. Hasil penelitian ini dapat dipergunkan sebagai bahan masukan bagi institusi kesehatan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam meminum obat dan meningkatkan pelayanan bagi pasien. Semoga penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi peneliti dalam hal melakukan penelitian.Kata Kunci: Kepatuhan Minum Obat Lanjutan, Pengetahuan, Presepsi Jarak, MotivasiABSTRACTTuberculosis has become a major public health problem to date because it affects a person’s productivity, and is the second leading cause of death after cardiovascular disease. In this study using quantitative research with a Cross Sectional Study approach with the Accidental Sampling technique where a sample taking technique is to determine the subjects who meet the research criteria. Respondents in this study amounted to 30 people. From the results of this study it can be concluded that there is a relationship between knowledge and compliance of pulmonary tuberculosis patients with continued taking medication where the Fisher Exact test results obtained p value = 0.019 <0.005. There is a relationship between perceived distance and compliance of pulmonary tuberculosis patients with continuing to take medication where the Fisher Exact test results showed a value of p = 0.000 <0.005. There is a relationship between motivation and compliance of pulmonary tuberculosis patients with continued taking medication where the Fisher Exact test results showed p value = 0.008 <0.005. The results of this study can be used as input for health institutions regarding the factors that affect patient compliance in taking medication and improve patient care. Hopefully this research can increase knowledge for researchers in terms of conducting research. 
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MADISING NA MARIO KOTA PAREPARE Yenny Djeny Randa
Jurnal Kesehatan Lentera Acitya Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Lentera Acitya
Publisher : Nursing Faculty of Fatima Nursing Academy of Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan, dan angka kematian cukup tinggi, maka penyakit ISPA perlu penanganan yang terpadu, terarah yang ditujukan pada perbaikan mutu lingkungan atau keadaan perumahan serta penatalaksanaan penderita padaPuskesmas/rumah sakit. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kepadatan penghuni, ventilasi, keterpaparan asap rokok dan status gizi balita dengan kejadian ISPA pada anak balita diPuskesmas Madising Na Mario KotaParepare. Metode penelitian yang digunakan adalah Observational study dengan rancangan “ CaseControl Study. Jumlah sampel yaitu sebanyak 94 balita yang terdiri dari 47 balita penderita ISPA dan 47 balita bukan penderita ISPA. Data primer diperoleh menggunakan wawancara dan menggunakan ceklist. Data diolah menggunakan komputer program SPSS 11,5. uji yang digunakan adalah chisquare, kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan ventilasi (p=0,008) dan keterpaparan asap rokok (p=0,020) berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita. Sedangkan kepadatan penghuni (p=0,376) dan status gizi balita ( p=0,820) tidak berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita.Penelitian ini menyarankan agar rumah seharusnya memiliki ventilasi dengan luas 10% - 20% dari luas lantai agar pertukaran udara lancar dan harus dibuka. Untuk mencegah kejadian ISPA pada Balita semestinya menghentikan kebiasaan merokok atau kalau ingin merokok sebaiknya diluar rumah. Menggalakkan kegiatan upaya peningkatan gizi keluarga melalui penyuluhan mengenai status gizi dan kegiatan pemantauan status gizi untuk mencegah terjadinya gizi kurang pada anak khususnya pada bayi dan anak balita.

Page 3 of 12 | Total Record : 112