cover
Contact Name
Wahyu Nova Riski
Contact Email
wahyunovariski@isi-padangpanjang.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cinelook@isi-padangpanjang.ac.id
Editorial Address
Jl. Bahder Johan, Guguk Malintang, Kec. Padang Panjang Tim., Kota Padang Panjang, Sumatera Barat 27118
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
The main focus of the journal is to promote a global discussion forum and an interdisciplinary exchange among scholars exploring the topic of Television, Film and new media studies. This journal encourage innovation and research, contributing to a better understanding of the narrative, technological, economic, social, cultural, and political impact of Television program, film, and new media. To this end, some areas of interest will be: Narrative analysis of specific phenomena, with a focus on innovative television program; Studies on the influence and/or connection of TV, film, and new media driven by technologies; Analysis of TV program, film, and the content of new media as capable of advancing aesthetic thought; Study of the relationship between technology and creativity in the TV, film, and new media; Studies on the economic and innovative formulas in terms of production chain and marketing strategies for TV, film, and new media; The impact and significance of TV, film, and new media from a political, ethnological, or educational perspective; Historical approach in terms of media history in order to locate and identify influences on TV program, film, and new media; Analyses and studies focusing on audiences, artists, or industries, and producers.
Arjuna Subject : Seni dan Humaniora -
Articles 29 Documents
PENERAPAN MOTION GRAPHIC PADA IKLAN LAYANAN MASYARAKAT “DUA FAKTA” Astuti, Aprilina Dwi
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 2, No 1 (2024): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v2i1.4455

Abstract

Public Service Advertisements (PSAs) are the process of conveying information, which is persuasive and educational in nature. For this reason, the packaging of PSAs needs to be packaged carefully in order to produce work that is easily understood by the audience.  One way to package PSAs to produce interesting and easy-to-understand impressions needs to be packaged using motion graphics. The aim of this research is to apply motion graphics to the production of the public service advertisement "Two Facts". This research uses a qualitative descriptive method, the research process goes through three stages, namely pre-production, production and post-production. The results of this research show that the applied motion graphics can create impressions that are easy to understand depending on the planning process, selection and application of motion graphics techniques that are in accordance with the specified objectives. In this work, 2D compositing and flat animation techniques are applied combined with cutting by narration image continuity techniques.
optimalisasi akting Danala melalui gestur pada film fiksi A Lonely Beauty Aulia, Rani; Minawati, Rosta
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 2, No 1 (2024): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v2i1.3447

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya kasus intimidasi, melalui karya film fiksi yang berjudul A Lonely Beauty ini bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada penonton dampak dari tindakan mengintimidasi dapat mengangu mental seseorang baik secara fisik maupun psikis. Skenario dari film ini yaitu Danala seorang wanita yang mengalami intimidasi oleh lingkungan karena penampilanya. Adanya penerapan metode dalam pengarapan film ini yaitu melalui gestur untuk mengoptimalisasikan akting. Gestur yang dipakai yaitu dari teori Eka D Sitorus yang mengelompokan gestur menjadi 4 yaitu (1) ilustratif (2) indikatif (3) empatik (4) autistik.  Penerapan gestur di film A Lonely Beauty yaitu ada 3 macam (1) empatik (2) autistik (3) indikatif. Hasil dari pemakaian gestur ini dapat menghasilkan film kaya akan pesan dengan mengunakan bahasa tubuh dari pada dialog yang dapat meningkatkan efisiensi durasi.                                                               
SKENARIO FILM FIKSI KASIH LILY MENGGUNAKAN METODE EIGHT SEQUENCES UNTUK MEMBENTUK KARAKTER Nita, Resma
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 2, No 1 (2024): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v2i1.3457

Abstract

Skenario Kasih Lily merupakan drama keluarga yang mengangkat tentang kisah percintaan yang dihalangi oleh keinginan orang tua. Perihal keluarga, apalagi sudah urusan perjodohan, selalu menjadi kisah yang menarik. Ada yang terhalang oleh adat, ada yang terhalang oleh agama, dan untuk Kasih Lily mereka terhalang oleh keinginan orang tua. Ide ini tercipta dari pengalaman, pengamatan dan imajinasi yang diproses menjadi sebuah karya melalui tahapan, menentukan ide cerita, tema, intisari, latar belakang, sinopsis dan treatment. Skenario Kasih Lily menggunakan salah satu metode penciptaan skenario film yaitu metode Eight Sequences. Tujuan dari tulisan ini yaitu mampu menciptakan skenario film fiksi menggunakan metode Eight Sequences untuk membentuk karakter. Metode Eight Sequences ini adalah metode pengembangan dari struktur tiga babak yaitu memiliki awal, tengah dan akhir, lalu babak 1 dikembangkan menjadi sequence 1 dan 2, Babak 2 menjadi sequence 3, 4, 5, dan 6 lalu babak 3 menjadi sequence 7 dan 8.  Perubahan karakter Lily dalam 8 sequence ini dikemas menggunakan unsur dramatik yaitu Conflict, Suspense, Coriusity dan Suprise. Hasil dari proses Eight Sequences ini membentuk karakter Lily mulai dari munculnya conflict atau plot point I pada sequence 2, lalu berkembang pada conflict atau plot poin II pada sequence 6, dan mendapatkan penyelesaian di sequence 8. Dengan demikian, metode Eight Sequences menjadi salah satu metode yang walaupun sederhana namun efektif untuk digunakan dalam membangun sebuah skenario yang rapi dan mudah dipahami.
FILM DOKUMENTER EKSPOSITORI ORANG RANTAI SAWAHLUNTO Yova, Dahlia Braga; Rahman, Abdul; Najmi, Maisatun
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 2, No 2 (2024): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (July-December 2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v2i2.4653

Abstract

Orang Rantai, terdapat di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat, adalah buruh paksa pada kegiatan pertambangan batu bara di Sawahlunto yang dirantai di leher, tangan dan kaki. orang rantai yang didatangkan dari berbagai penjara dari berbagai pulau di Indonesia khususnya dari luar pulau Sumatera yang dominan dari pulau Jawa, mereka merupakan narapidana yang menjalani masa hukuman sehingga dipekerjakan di tambang-tambang batu bara di kota Sawahlunto. Dengan didatangkan tanpa menggunakan identitas nama mereka lagi, melainkan hanya menggunakan nomor-nomor registrasi yang diberikan oleh pihak Belanda.Metode penciptaan dari film dokumenter ini adalah menggunakan gaya ekspositori, karena di dalam film dokumenter orang rantai ini banyak menggunakan narasi yang mana disampaikan oleh narator. Dan genre film ini juga yaitu Sejarah yang mana memang mengangkat kejadian yang sudah lama berlangsung.Hasil dari film dokumenter tersebut terbagi menjadi 4 segment, segment pertama adalah membahas pengertian orang rantai, segment kedua membahas permasalahan mengapa tidak tertera nomor identitas orang rantai, segment ketiga membahas pekerjaan orang rantai dan segment keempat membahas peninggalan orang rantai yang masih ada hingga kini. 
ANALISIS SET DAN PROPERTI FILM PENYALIN CAHAYA KARYA SUTRADARA WREGAS BHANUTEJA DALAM MENDUKUNG DRAMATIK dewi, winda triana
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 2, No 2 (2024): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (July-December 2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v2i2.3512

Abstract

ABSTRACTThe film Copying Light directed by Wregas Bhanuteja is a thriller drama genre that lasts 120 minutes and 73 scenes, tells the story of a student who is framed by her own friends so that she threatens to have her scholarship revoked. The research entitled "Analysis of Sets and Properties of Light Copying Films by Wregas Bhanuteja in Supporting Dramatic", aims to describe about sets and properties that support dramatic. This study uses a qualitative method with a descriptive approach as an effort to describe the data obtained in the form of pictures and descriptive words.            Based on the analysis of the data used, it can be concluded that there are five scenes presenting sets and properties to build suspense, namely Scene 18, Scene 22, Scene 54. Scene 62, and Scene 62. Four scenes presenting sets and properties to build coiousity namely in Scene 25, Scene 27, Scene 33, Scene 51, then four times the scene that presents sets and properties to build conflict namely in Scene 23, Scene 43, Scene 62, Scene73. And there are six scenes that present sets and properties to build Surprise, namely Scene 39, Scene 58, Scene 46, Scene 58, Scene 54, and Scene 88. Keywords: Set and Properti, Dramatic, Penyalin Cahaya ABSTRAKFilm Penyalin Cahaya disutradarai oleh Wregas Bhanuteja bergenre drama thriller yang berdurasi 120 menit dan 73 scene, menceritakan tentang seorang mahasiswi yang dijebak oleh temannya sendiri sehingga terancam beasiswanya dicabut. Penelitian dengan judul “Analisis Set Dan Properti Film Penyalin Cahaya Karya Wregas Bhanuteja Dalam Mendukung Dramatik”, bertujuan untuk mendeskripsikan tentang set dan properti yang mendukung dramatik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif sebagai upaya mendeskripsikan data yang diperoleh berupa gambar dan kata-kata yang deskriptif.Berdasarkan analisis data yang digunakan diperoleh kesimpulan bahwa bahwa terdapat lima kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun suspense yaitu pada Scene 18, Scene 22, Scene 54. Scene 62, dan Scene 62. Empat kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun coriousity yaitu pada Scene 25, Scene 27, Scene 33, Scene 51, lalu empat kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun konflik yaitu pada Scene 23, Scene 43, Scene 62, Scene73. Dan terdapat enam kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun Surprise yaitu pada Scene 39, Scene 58, Scene 46, Scene 58, Scene 54, dan Scene 88. Kata Kunci: Set Dan Properti, Dramatik, Film Penyalin Cahaya 1.      PENDAHULUAN  Film tercipta dari hasil olah pikir yang dituangkan dalam bentuk naskah dan diproduksi oleh pembuat film. Sehingga tercipta sebuah  film yang terdiri dari antara gabungan audio dan visual, film juga dapat menyampaikan pesan dan hiburan tersendiri kepada penikmat film.  Jika membahas sebuah film, film secara umum  terbentuk atas dua unsur naratif dan sinematikPenelitian pada film ini, mengidentifikasi  tiap adegan yang mengandung unsur dramatik berdasarkan teori yang dipaparkan oleh Elizabeth Lutter dalam bukunya yang berjudul Kunci Menulis Skenario. Lutter mengelompokkan dramatik menjadi empat unsur yaitu, Suspense, Surprise, Coriousity dan  Konflik.  Selain itu penulis juga memaparkan set dan properti berdasarkan teori yang dipaparkan oleh Himawan Pratista dan boggs dalam bukunya Memahami film dan The art of watching film,Objek penelitian yaitu Penyalin Cahaya diproduksi oleh dua rumah produksi, Rekata Studio dan Kaninga Pictures Film ini dirilis pada tanggal 08 Oktober 2022. Film yang bergenre thriller drama ini berdurasi 120 menit di disutradarai oleh Wregaas Bhanuteja yang sekaligus sebagai penulis cerita.  Film Penyalin Cahaya menceritakan  seorang mahasiswa pintar yang bernama Suryani, ia merupakan mahasiswa jurusan informatika yang mendapatkan beasiswa dari kampusnya, ia juga mengikuti organisasi  kampus  yang bernama Teater Matahari. Ia merupakan anggota baru sebagai pembuat web Teater Matahari. Awal mula permasalahan dimulai dari kemenangan kelompok Teater tersebut, Sur yang menghadiri pesta  perayaan atas kemanangan Teater Matahari,  ia yang  mengikuti sebuah permainan yang harus terpaksa meminum alkohol sehingga membuat dirinya tidak sadarkan diriSur mencoba mencari tahu kebenaran pada pesta malam itu karena curiga sesuatu telah terjadi kepadanya. Ia yang dibantu oleh Amin yang diperankan oleh Chico Kurniawan merupakan sahabatnya dari kecil, amin yang berkerja sebagai fotokopi didekat kampusnya dan merasa kasihan terhadap Sur mencoba  membantu menyelesaikan masalanya2.      TINJAUAN PUSTAKAUntuk menghindari kesamaan dalam penelitian yang sudah ada sebelumnya, maka peneliti menemukan beberapa hasil penelitian yang sejenis dengan topik penelitian yang berbeda, antara lain. Asih Sayekti dengan judul Analisis Konsep Tata Artistik Program Pangkur Jenggleng TVRI Stasiun Yogyakarta, 2015 Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Insititut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian  Asih mendeskripsikan bagaimana penerapan konsep tataartistik pada program Pangkur Jenggleng TVRI Stasiun Yogyakarta. Asih mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif,  skripsi ini membahas proses perancangan dan perubahan pada  Properti pada program Pangkur Jenggleng TVRI Stasiun Yogyakarta disebabkan oleh putusnya sponsor sebagai properti utama,Properti menjadi identitas  program karena dapat memberikan ciri khas pada program. Skripsi tersebut menjadi acuan dalam penelitian yang akan dilakukan karena sama-sama meneliti tentang, Properti artistik, yang membedakanya dari segi objek penelitian, karena penulis lebih fokus meneliti properti untuk mendukung dramatik pada film Penyalin Cahaya, sedangkan Asih lebih meneliti program televisi .Dipa Utomo dalam skripsinya berjudul “Analisis Pengunaan Mise-En-Scene  Yang mendukung Realisme Pada Film Siti”. Dipa yang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Seni Rupa Dan Desain, Program Studi Televisi Dan Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pada Skripsi tersebut Dipa menganalisis bagaimana pengunaan Mise-en Scene  dalam sebuah film, Skripsi ini dapat menjadi acuan bagi penulis karena  Mise-en Scene  adalah bagian dari properti hal yang membedakan adalah penulis lebih fokus membahas properti sebagai pendukung DramatikSkripsi dari Reo Saputra mahasiswa ISI Surakarta yang berjudul “Visualisai Properti dalam film Aku Jatuh Cinta”  yang ditulis pada tahun 2018 penelitian ini membahas mengenai properti sebagi penunjuk waktu. Kesamaan dengan penelitian sama-sama membahas mengenai properti. yang membedakan dengan penulis mengunakan metode deskriptif sedangkan skripsi ini mengunakan metode deskriptif kualitatif.Wahyu Rianto dalam skripsinya berjudul fungsi Properti dalam mendukung karakter tokoh utama pada film, “Copy Of Mind “  Wahyu yang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Seni Rupa dan Desain, program studi Televisi dan Film di Institut Seni Indonesia Padang Panjang, persamaan penulis dengan skripsi lebih fokus menganalisis tentang properti, sebagai acuan bagi penulis.3.      METODEmengunakan pendekatan kualitatif Dalam penelitian kualitatif tidak mengunakan angka-angka namun lebih mengunakan  pada bentuk kata-kata, kalimat, pernyataan, foto sebagainya. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif  ini lebih mengandalkan manusia sebagai alat penelitian. Sebagai penunjuk sasaran penelitianya pada usaha mengunakan teori penelitianya.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primier dan data sekunder. Data primier pada penelitian ini Film Penyalin Cahaya dan data sekunder pada penelitian ini adalah buku buku yang berkaitan dengan set dan properti, juga buku yang berkaitan dengan dramatik. Beserta jurnal yang mengenai penelitian ini.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa observasi, wawancara, dokumentasi dan studi Pustaka Teknik analisis data mencari, menganalisis, dan menarik kesimpulan pada penelitian ini yaitu berupa data yang sudah terklarifikasi, dilakukan analisi data dengan mengunakan teori setting dan properti dan dramatik. Aktivitas dalam analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan cara mengelompokkan data dan membandingkan data, menginterprestasikan data.4.      HASILSet Dan Properti Yang Mendukung Dramatik4.1  Set Dan Properti Yang Mendukung Dramatik suspens  menghadirkan set diruang sidang kampusnya Sur, ruang sidang tersebut diperjelas dengan menghadirkan beberapa meja dengan bentuk yang sama disusun membentuk leter U, dan menempatkan sebuah kursi dan meja kecil ditengah-tengah sebagai tempat duduk Sur, lalu terdapat lampu support di dinding bewarna tungsten sebagai pencahayaan utama di ruangan tersebut tanpa memperlihatkan adanya jendela, sehingga membuat set tersebut minim cahaya atau low light, ditambah dengan penggunaan warna gelap pada dinding, hal tersebut bertujuan untuk mendukung adegan sidang yang dialami oleh Sur, dengan menempatkan Sur di tengah-tengah diantara para dewan mahasiswa membuat Sur lebih tertekan, dan yang didapat Sur lebih tinggi, sehingga adegan sidang tersebut lebih natural dan lebih dramatismenghadirkam tumpukan kertas yang berada di atas meja, sebagai data dan bahan yang telah dikumpulkan sebelum persidangan dimulai dan menunjukkan bahwa permasalahan tersebut akan berpengaruh terhadap perkuliahan Sur, juga untuk meyakinkan penonton bahwa lokasi benar-benar berada diruang sidang. Laptop dan layar proyektor yang berwana putih dihadirkan sebagai key prop yang digunakan untuk menunjukan foto-foto Sur yang sedang mabuk, sehingga menampilkan ekspresi cemas dan takut dari Sur, Sur tidak menyangka persidangan tersebut akan membahas hal itu dan juga tidak mengira bahwa foto-foto resebut akan terekspos. Penggunaan properti tersebut menambah ketegangan bagi penonton karena membuat suasana jadi tegang.4.2  Sett Dan Properti Yang Mendukung Dramatik Konflik adegan Sur yang baru saja tiba di rumah, namun ia disambut dengan raut wajah kecewa ibunya karena mendapatkan Surat dari kampus yang menyatakan bahwa dia tidak berprilaku baik sehingga beasiswanya  dicabut, ayah Sur yang mendengar percakapan antara Sur dan ibunya, langsung marah karena sebelumnya dia telah diperingati untuk tidak meminum alkohol, Sur mencoba membela diri, sehingga menimbulkan perdebatan anatara Sur dan ayahnya dan membuat ayahnya semakin emosi dan menjetik mulut Sur karena dianggap melawan, lantaran emosi, ayahnya kemudian menarik  Sur keluar bersama sebuah tas yang berisi pakain miliknyaSet yang dihadirkan disebuah ruangan yang menggunakan warna abu-abu tua agar terlihat lebih Suram, adanya meja, kursi, lemari es, buah, kotak-kotak kerupuk yang digantung didinding, dan etalase yang berisi sambal dan lauk, yang ditempatkan persis seperti warung warteg (warung tegal). Penggunaan properti tersebut untuk memperjelas status ekonomi karakter karena pekerjaan mereka adalah pedagang makanan menandakan bahwa mereka bukanlah orang kaya.Pintu rolling yang ditutup setengah padahal mereka lagi jualan sebagai petanda mereka belum buka karena sedang berdebat dan tidak ingin orang lain tau, hal tersebut menandakan konflik tersebut sangat sensitive untuk diketahui orang lain. Selain itu penggunaan asap untuk memperjelas cahaya terobosan dibuat agar konflik keluarga yang terjadi lebih dramatis.Properti yang digunakan untuk mendukung dramatik konflik pada Scene 23 adalah handphone sebagai key prop, karena Surat pemberitahuan dari kampus yang dikirim melalui handphone membuat Ibu dan ayah terkejut dan marah, sehingga mengakibatkan konflik diantara mereka yang membuat Sur diusir dari rumah. Adegan pengusiran yang dilakukan tersebut juga didukung dengan penggunaan tas yang berisikan baju dilempar keluar pintu, tas tersebut menjadi penanda bahwa Sur diusir dari rumah dan membuktikan bahwa konflik yang terjadi sangat berat dan berpengaruh besar terhadap cerita.Pada Scene 23 dramatik yang dihadirkan adalah konflik,  ayahnya sangat marah kepada Sur,  langsung mengusirnya dari rumah karena perbuatannya Sur dianggap telah merusak nama baik keluarga dan kehilangan beasiswa yang menunjukan kalau kelurga Sur bukan keluarga kaya, dan meletakkan harapan mereka terhadap Sur yang mendapat beasiswa pendidikan agar bisa sukses, tetapi dihancurkan oleh tindakan yang dilakukan oleh Sur, sehingga menjadi penambah motivasi konflik, dimana prilaku Sur yang mabuk menimbulkan pertingkian antara ia dan keluarganya.4.3   Sett Dan Properti Yang Mendukung Dramatik curiosity   dari lantai 2 toko tersebut Sur mencoba meretas data pribadi anggota Teater Matahari yang berada dilantai 1 disaat mereka menghubungkan handphone-nya disalah satu komputer yang berada difotokopi tersebut, Sur pun dengan cepat dapat langsung menyalin data pribadi anggota Teater Matahari.Penerapan properti disett fotokopi sudah natural menggambarkan sebuah ruangan tempat fotokopi pada umumnya, key prop dalam Scene 33 adalah satu set komputer, satu unit handphone yang dipegang oleh salah satu anggota Teater Matahari, laptop pribadi milik Sur yang digunakan untuk mencuri data pribadi anggota Teater Matahari, dan satu unit speaker. Handphone, speaker dan laptop tersebut menjadi properti kunci karena adanya adegan pemindahan data non fisik yang hanya bisa dilakukan oleh dua perangkat elektronik tersebut. Sedangkan speaker digunakan Sur untuk mengkode Amin, di mana jika lagu dangdut diputarkan maka berarti Sur sedang menyalin data sehingga Amin harus mengulur waktu agar handphone anggota Teater Matahari tetapp terhubung ke komputer fotokopi Amin, lalu jika lagu rocks diputarkan maka berarti Sur sudah selesai menyalin data.Properti tersebut menjadi pendukung unSur dramatik coriousity karena menambah penasaran penonton terhadap adegan selanjutnya, apakah tindakan yang mereka lakukan akan berhasil dan akan sempat karena waktu yang singkat, dan apakah akan ada masalah ketika melakukan tindakan tersebut, karena berhubungan dengan alat electronic dan mengakses privasi oranglain secara illegal. Tindakan yang Sur lakukan dalam mencoba mengungkap siapa pelaku dibalik masalahnya dapat membuat penonton merasa terpancing untuk juga ingin mengetahui siapa pelakunya, apakah pelaku tersebut ada diantara orang-orang yang handphone nya diretas oleh Sur, apakah Sur akan mendapatkan petunjuk dari handphone tersebut atau apakah Sur akan ketahuan atas tindakan yang dilakukannya itu4.4   Sett Dan Properti Yang Mendukung Dramatik surpeise . 63 berada dilantai dua tempat fotokopi, terdapat beberapa lemari yang digunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi Amin, penggunaan warna gelap pada Properti yang digunakan serta cahaya yang minim (mati lampu) menunjukan setting waktu pada malam hari, serta memberikan kesan intimidasi untuk karakter tokoh. Set pada scene 63 masih sama seperti yang penulis bahas pada scene 63, karena masih di ruangan yang sama dan adegan yang berkelanjutan, set ini adalah space kosong yang dimamfaatkan sebagai tempat tinggal dan tempat penyimpanan barang.Properti sebagai pendukung dramatik pada Scene 63 adalah laptop dan hardisk, Sur kaget setelah mengeatahui isi hardisk tersebut yang dibuka melalui laptop, Sur menemukan bahwa terdapat banyak foto-foto seksi perempuan anak kampusnya, termasuk dirinya yang disimpan oleh rama dan Amin, hal tersebut membuat Surprise (kejutan) baru antara Amin dan Sur yang sebelumnya adalah sahabat, Scene ini merupakan klimaks atas beberapa konflik yang dihadirkan pada film, Dita Gambiro juga menambahkan bahwa setiap adegan dibikin semisteri mungkin, sehinnga dapat dinikmati oleh penonton dengan pencapain konsep yang dinginkan (Wawancara, 2023) .Dramatik yang dibangun pada Scene 63 adalah Surprise ,  penonton dibuat kaget karena tidak menyangka Amin yang merupakan sahabat Sur mempunyai hubungan dekat dengan Rama yakni orang yang dicurigai Sur sebagai pelaku dibalik foto selfinya dan telah melakukan tindakan yang tidak disangka oleh Sur, rama dan Amin bekerja sama menyimpan foto-foto cewek seksi dari data yang mereka dapatkan secara ilegal, termasuk Sur, hal tersebut membuat penonton dan Sur kaget, Amin yang selalu membantu Sur, bahkan memberikan tempat tinggalnya kepada Sur untuk menetap setelah Sur di usir dari rumah, pada Scene ini Amin diketahui bekerjasama dengan rama, sehingga membuat jalan cerita semakin tidak midah ditebak.5.      SIMPULANFilm Penyalin Cahaya meruapakan film bergenre drama thriller yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja yang menceritakan tentang tentang perjuangan Suryani yang biasa dipanggil Sur merupakan seorang mahasiswi penerima beasiswa untuk kuliah. Sur yang tidak pernah  berpesta, terpaksa minum alkohol  hingga mabuk dan tak sadarkan diri. Lalu Sur bergegas kekampus dan mendapatkan kabar bahwa beasiswanya dicabut pihak kampus. Hal ini bukan tanpa sebab karena foto Sur yang sedang mabuk telah tersebar ke penjuru kampus, Sur mencari bantuan dari teman masa kecilnya, yang bernama Amin yang bekerja dan tinggal di toko fotokopi dekat kampus. Di toko itu mereka mencoba menemukan kebenaran tentang foto pada malam  pesta tersebut dengan meretas ponsel para mahasiswaFilm Penyalin Cahaya memiliki beberapa Scene yang menghadirkan set dan properti yang digunakan untuk membangun dramatik didalam alur ceritanya, set dan properti tersebut diidentifikasi kemudian dianalisis apa saja yang membangun dramatik seperti suspense, Surprise, coriousity, dan konflik, menggunakan teori setting dan dramatik yang diutarakan oleh Elizabeth Lutters.Berdasarkan analisis data yang digunakan diperoleh hasil bahwa terdapat 4 kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun suspense yaitu pada Scene 18, Scene 22, Scene . Scene 62, dan Scene 62. Lima kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun coriousity yaitu pada Scene 25, Scene 27, Scene 33, 54 Scene 51, lalu empat kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun konflik yaitu pada Scene 23, Scene 43, Scene 62, Scene 94 Dan terdapat enam kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun Surprise yaitu pada Scene 39, Scene 58, Scene 46, Scene 58, Scene 54, dan Scene 88.Penelitian mengenai set dan properti untuk membangun dramatik dalam film Penyalin Cahaya disimpulkan bahwa set dan properti mampu untuk membangun dramatik pada film Penyalin Cahaya, sehingga properti yang digunakan sangat berpengaruh terhadap alur dan cerita film6.      DAFTAR AJUAN Biran, Misbach Yusa. 2006. Teknik Menulis         Skenario Film Cerita. Jakarta:        Dunia Pustaka Jaya.Boggs, M Joseph.1992.The art of watching film, terjamahan Drs.Asrul Sani. Jakarta: Yayasan CitraJ. Moleong, Lexy. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandug: Remaja RosdakaryaLutters, Elizabeth. 2004. Kunci sukses menulis skenario. Jakarta : PT. Gramedia    Widiasarana IndonesiaMiles, and Michel Huberman 1992. Analis Data Kualitatif Buku Sumber Metode-Metode Baru; Jakarta: UIP Pratista, Himawan. 2018. Memahami Film           Edisi 2. Yogyakarta : Montase Press. Sugioyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitattif, Kualitatif dan R&D. Indonesia : Alfabeta.Sumarno, Marselli 1996. Dasar- Dasar Apreasiasi Film. Jakarta :Gramedia Widiasarana IndonesiaSkripsi. Syekti, asih. 2015 . “Analisis Konsep      Tata Artistik Program Pangkur    Jenggleng         TVRI Stasiun     Yogyakarta”,  Insititut Seni Indonesia   Yogyakarta. YogyakartaSkripsi. Rianto wahyu ,2019. Analisis Properti     Dalam Mendukung Karakter Tokoh          Utama Pada Film Copy Of Min.             Padang panjang : Institut Seni    Indonesia Padang Panjang,Skripsi Utomo, Dipo, 2018 .Analisiss Yang         mendukung Realisme Pada Film Siti.      yogyakarta : insititut seni indonesia             yogyakartaSkripsi. Saputra , Reo. 2018. Visualisasi             Properti Dalam Film Aku Jatuh Cinta       .yogyakarta: institut seni indonesia             yogyakartaSubranto, Darwanto.1994. Produksi Acara          Televisi. Yogyakarta: Duta Wancana      University Press            Skripsi Dicha, Nurlaily, 2019. Mise en     Scene Dalam Membangung Adegan                    Dramatik Pada Film Torture. Jember:            Universitas JemberINTERNET https://www.google.com/ =poster+film+penyalin+cahaya )(https://www.google.com/film+penyalin+cahaya )https://www.intipseleb.com/lokal/32625-2022Sumber:https://arsip.festivalfilm.id/name/gunnar-nimpuno/)://www.festivalfilm.id/arsip/name/dita-gambiro)NARASUMBERDita Gambiro Crew Film Penyalin Cahaya Sebagai ART DIRECTOR Film Penyalin Cahaya   
ANALISIS NARASI VISUAL FILM SERI STAR WARS: ANDOR (2022) DALAM MEMBANGUN TEMA PERJUANGAN, IDENTITAS DAN MORALITAS Avalokiteshvara, Avalokiteshvara
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 3, No 1 (2025): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (Juanuary-June 2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v3i1.4424

Abstract

Andor (2022) merupakan film dengan gaya penceritaan yang berbeda dan baru dari film-film Star Wars produksi Disney. Gaya naratif unik dan penceritaan yang menarik menjadikan film ini salah satu serial Star Wars terbaik di tahun belakangan ini. Kualitas film yang dibawa oleh Andor dapat dilihat dari detail penceritaan yang mencakup berbagai hal dari karakter, motivasi, suasana, set dan lain-lain. Tentu topik yang diteliti dalam artikel ini adalah elemen visual penceritaan. Artikel ini meneliti gaya penceritaan dari film seri Andor secara kualitatif deskriptif menggunakan metodologi teori naratif Seymour Chatman. Metodologi penelitian dari teori narasi Seymour Chatman diterapkan dalam meneliti narasi visual film seri Star Wars: Andor karena pendekatannya yang komprehensif terhadap analisis cerita dan wacana dalam medium visual. Tujuan penelitian ini adalah untuk membedah narasi film yang memberi kualitas dan makna cerita pada film serta menjadi sebuah inspirasi dan referensi ilmu bagaimana kualitas film Andor menjadikan salah satu produksi Disney yang menonjol setelah Rogue One. Penelitian ini akan membahas dan menjabarkan narasi dari Andor menggunakan metode Seymour Chatman dan memetakan narasi sesuai teori Chatman. Jabaran tersebut akan membagi narasi film menjadi dua bagian yaitu konten cerita dan ekspresi dari cerita sehingga menghasilkan bentuk dan substansi dari masing-masing bagian. Hasilnya adalah sebuah pemetaan kompleksitas narasi dari film seri ini sehingga pembaca dapat memahami komunikasi pesan dari pelaku film (real author) hingga penikmat film (real reader).
ANALISIS SEMIOTIK PEMANFAATAN PRACTICAL EFFECT PADA NARASI VISUAL FILM “OPPENHEIMER” (2023) Nasution, Amaranila Nur Aqdin; Mutiaz, Intan Rizky
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 2, No 2 (2024): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (July-December 2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v2i2.4342

Abstract

With the development of technology, the majority of widescreen movies are now produced utilizing computer assistance such as CGI. Even though biopics are based on true stories, many of them use computer-generated imagery (CGI) in their production. However, the increasing creativity of directors and the film industry, practical effects are still used to create more realistic scene atmosphere. Christopher Nolan is a famous director known for his distinctive use of practical effects in his films. The objective of this research is to analyse the correlation between the use of practical effects and their significance to the visual narrative in the film Oppenheimer (2023). This study involves observational research methods and is descriptive qualitative. The writer then selects visual representations of Oppenheimer's thought processes that utilize practical effect techniques. The author uses Ferdinand De Saussure's semiotic theory to identify the meanings of the practical effect shots used for visualization within Oppenheimer's mind in the film Oppenheimer (2023). The study's conclusion is that each scene's narrative in the film Oppenheimer (2023) holds significance that are related to the practical effects used to portray Oppenheimer's thought processes.
ANALISIS PACING DALAM MEMBANGUN EMOSI PADA FILM JOKER KARYA TODD PHILLIPS Persada, Taruna Satria; Sasongko, Hery; Karyadi, Yatno
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 3, No 1 (2025): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (Juanuary-June 2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v3i1.4319

Abstract

Film Joker menceritakan perjalanan Arthur Fleck secara perlahan bertransformasi menjadi Joker. Menelusuri sisi kelam Arthur dan mengungkap tragedi yang membentuknya menjadi Joker. Film yang disutradarai oleh Todd Phillips ini memiliki pacing yang kontras dalam membangun berbagai macam emosi pada filmnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan dan penyajian data pacing menggunakan konsep three act structure untuk menunjukan pengaruh pacing pada setiap plot point dalam film Joker.Pacing kontras terbentuk dengan menggabungkan pacing cepat dan lambat. Pacing terbentuk melalui rate of cutting, rate of movement dan rate of overall change. Pacing cepat terbentuk melalui rate of cutting dengan banyak frekuensi cutting point membuat durasi shot menjadi pendek. Pacing cepat juga dapat terbentuk melalui rate of movement dengan pergerakan cepat karakter dan kamera pada suatu shot yang menunjukan banyak peristiwa. Pacing cepat membangun intensitas ketegangan, atmosfir yang mencekam dan surprise. Pacing lambat terbentuk melalui frekuensi cutting point yang sedikit, membuat durasi shot menjadi panjang. Pacing lambat juga dapat dibangun melalui rate of movement dengan pergerakan karakter dan kamera yang lambat. Pacing lambat membangun dan memperkuat emosi, dialog yang intens dan suspense pada filmnya.
PENERAPAN MODEL HERO’S JOURNEY UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER TOKOH UTAMA PADA SKENARIO FIKSI FANTASI BUMINTARA zuhran, alifra; Suisno, Edy; Eriswan, Eriswan
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 3, No 1 (2025): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (Juanuary-June 2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v3i1.3623

Abstract

Skenario fiksi fantasi Bumintara merupakan skenario yang dilatarbelakangi oleh isu perpecahan yang dapat diakibatkan dari keberagaman yang ada di Indonesia, sehingga menyadarkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika  yang artinya “Berbeda-beda Tetap Satu Jua”. Keresahan ini menjadi sumber ide cerita yang kemudian dikemas menjadi cerita fantasi petualangan dalam skenario Bumintara. Penciptaan skenario Bumintara memiliki tujuan untuk memperlihatkan dampak buruk perpecahan yang dapat diatasi dengan sikap saling tolong menolong dan bekerja sama hingga mencapai persatuan dan kesatuan. Skenario ini diharapkan dapat menjadi sarana hiburan yang edukatif dan juga menarik untuk berbagai kalangan usia.Penuturan cerita skenario Bumintara menggunakan model hero’s journey oleh Christopher Vogler yang memiliki 12 tahapan cerita. Melalui model hero’s journey penulis dapat mengembangkan karakter tokoh utama berkat tahapan yang telah dibagi oleh Vogler. Model hero’s journey ini mempermudah penulis dalam proses penulisan skenario, sebab terdapat panduan lengkap untuk merangkai peristiwa dan konflik pada setiap tahapannya. Konflik sangat berpengaruh besar dalam perkembangan tokoh utama, karena tanpa adanya konflik tokoh utama tidak akan mengalami perkembangan.   
Penciptaan Skenario Cahaya Hangat Di Kala Hujan untuk Menerapkan Teori Five Stages of Grief Budiman, Muhammad Farrell
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 2, No 2 (2024): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (July-December 2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v2i2.3557

Abstract

The screenplay for the film Cahaya Hangat Di Kala Hujan seeks to inform to readers the struggle of a cancer patient in healing himself physically and psychologically. So that readers can understand the importance of maintaining health. The screenplay for the film Cahaya Hangat Di Kala Hujan tells about the struggle of a woman with leukemia to maintain her life and her relationship with a man she meet at her new school.The creation of the screenplay for Cahaya Hangat Di Kala Hujan was inspired by the theory of the Five Stages of Grief, which involves the period of time during of which a person adjusts to the reality of their impending death or grief. There are Five Stages of Grief, including denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. This is a method of assisting leukemia patients in resolving their issues.This work applies the theory of the Five Stages of Grief to the scenario Cahaya Hangat Di Kala Hujan by incorporating if with the three act narrative structure. The result of this work is every stage of sadness that the main female character goes through is reflected in the narrative structure, which also goes according to the character's emotional condition. It is might because the theory of the Five Stages of Grief has the same graph as the structure of three rounds, where the graph rises and reaches a climax.

Page 2 of 3 | Total Record : 29