cover
Contact Name
Teresia Noiman Derung
Contact Email
teresiaderung@gmail.com
Phone
+6282143778367
Journal Mail Official
sapa@stp-ipi.ac.id
Editorial Address
Jln. Seruni No 6 MALANG 65141, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sapa: Jurnal Kateketik dan Pastoral
ISSN : 25035150     EISSN : 26543214     DOI : https://doi.org/10.53544/sapa
Core Subject : Religion, Education,
SAPA merupakan jurnal yang dikelola oleh STP-IPI Malang. Nama SAPA, bukan sebuah nama kebetulan dan juga bukan singkatan. Melainkan memiliki makna yang amat mendalam. Sapa tidak hanya sekedar menyapa para pembaca melainkan mengajak para pembaca untuk semakin mendalami karya pastoral dan katekese, sehingga juga menjadi terlibat dalam kegiatan pastoral dan katekese di manapun berada
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2017)" : 10 Documents clear
KEBANGKITAN YESUS MASIH DIRAGUKAN Paska, Paskalis Edwin I Nyoman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak zaman para rasul hingga dewasa ini ada saja yang meragukan kebangkitan Yesus bahkan menentang ajaran bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit. Padahal iman akan kebangkitan merupakan dasar iman kristiani dan alasan utama mengapa Yesus diakui sebagai Tuhan. Serangan terhadap iman akan kebangkitan pun tetap gencar. Berbagai alasan diajukan untuk meruntuhkannya. Zakir naik, misalnya, mengatakan bahwa Yesus pasti tidak pernah mati. Alasannya, Yunus tetap hidup selama tiga hari di perut ikan. Yesus yang menjadi tanda seperti Yunus tentulah tidak mati selama di rahim bumi. Jika Yesus tidak pernah mati, bagaimana mungkin ia bangkit dari kematian? Sesungguhnya perumusan iman akan kebangkitan yang ada dalam Syahadat Para Rasul sudah melewati proses refleksi dan diskusi yang panjang. Pendasaran biblisnya sangat kuat. Beberapa diantaranya yang biasa dipakai sebagai bukti kebangkitan Yesus ialah wafat Yesus, kubur kosong, dan penampakan-Nya yang jelas-jelas dikisahkan dalam Kitab Suci. Namun, orang orang yang tidak mengimani kebangkitan masih saja bisa mempertanyakan dan menyangkalnya. Dibutuhkan bukti yang lebih meyakinkan, yakni perubahan hidup para saksi kebangkitan baik saksi-saksi di zaman para rasul, maupun di zaman kita sekarang ini. Kesaksian mereka diharapkan membawa orang kepada pengalaman akan Yesus yang bangkit.
LIMA PEREMPUAN DALAM SILSILAH YESUS MENURUT INJIL MATIUS (Mat 1:1-17) Sukendar, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud menganalisa kelima perempuan dalam Injil Matius 1:1-17. Kelima perempuan itu ialah: 1) Tamar perempuan Kanaan, (Kej 38:1-30). 2) Rahap, perempuan Kanaan yang menjadi pelacur, tetapi ia berjasa melindungi mata-mata orang Israel (Yos 2:1-24); 3)Rut, perempuan asing berasal dari Moab. (Bacalah kitab Rut). 4) Istri Uria (Batsyeba), adalah perempuan korban nafsu Daud. Keempat perempuan itu mempunyai kisah perkawinan dengan unsur skandal atau cemoohan. Tetapi mereka adalah sarana aktif Roh Allah untuk menurunkan Mesias. 5) Maria. Situasi perkawinan Maria juga aneh, karena mengandung tanpa melalui hubungan seksual dengan calon suaminya. Yusuf adalah seorang yang benar dan suci dalam keputusannya untuk menceraikan Maria. Tetapi Allah menjelaskan bahwa Maria adalah seorang yang lebih suci daripada Yusuf, karena Maria adalah sarana utama Roh Kudus. Dalam rahimnya terkandung Yesus Kristus. Metode yang digunakan adalah analisa teks. Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa dengan memasukkan kelima perempuan itu Matius mau menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah tidak terhalangi oleh dosa manusia. Bahkan Allah juga menggunakan orang-orang berdosa untuk melaksanakan karya keselamatan-Nya.
KEBAHAGIAAN DAN KESEJAHTERAAN SUAMI-ISTRI IMPLIKASINYA BAGI KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN Mudjijo, Paulus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semua mengakui, semua mengiyakan, bahwa tujuan perkawinan adalah demi kebahagiaan dan kesejahteraan suami isteri. Namun apa makna dan isi dari kebahagiaan dan kesejahteraan suami-isteri itu, barangkali ada berbagai macam pendapat atau pandangan. Dalam tulisan ini akan diuraikan makna sejati dari kebahagiaan dan kesejahteraan suami-isteri, sesuai hukum-hukum yang berlaku. Akan diuraikan bagaimana hal tersebut menurut Kitab Hukum Kanonik, undang- undang perkawinan Republik Indonesia. Juga akan disoroti menurut hukum Islam, dan adat, khususnya Jawa. Ajaran mengenai tujuan perkawinan tersebut mempunyai implikasi bagi Kursus Persiapan Perkawinan. Dalam kursus persiapan perkawinan, para calon suami-isteri harus memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai sejatinya tujuan perkawinan Katolik. Paparan ini merupakan usaha untuk memberikan sumbangan bagi para petugas pastoral atau siapapun yang bertanggungjawab dalam pembentukan keluarga yang sejahtera.
KATEKESE UMAT SEBAGAI CITA–CITA, PILIHAN DAN GERAKAN KATEKESE INDONESIA X, Intansakti Pius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Katekese umat sebagai model khas katekese Indonesia sudah berkembang semenjak pertemuan kateketik antar keuskupan se Indonesia yang pertama di Sindanglaya Jawa Barat tahun 1977 hingga sekarang. Katekese umat adalah musyawarah iman,yang merupakan inkulturasi dari budaya musyawarah. Katekese umat dapat ditinjau dari berbagai aspek dan sudut pandang. Pada tulisan ini katekese umat dilihat dari tiga aspek. Katekese umat sebagai cita cita Gereja Indonesia bahwa yang berkatekese adalah dari,oleh dan untuk umat sesuai dengan paham Gereja yang adalah umat Allah. Katekese umat juga dapat dilihat sebagai suatu pilihan Gereja Indonesia dengan memperhatikan budaya bangsa ini adalah musyawarah dan mufakat. Maka model katekese umat sangat sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Katekese umat juga adalah suatu gerakan, yang berarti katekese umat hendaknya menjadi pola, atau model bagi katekese yang ada di bumi nusantara ini. Ketiga tinjauan ini mau menunjukan bahwa memang katekese umat adalah katekese khas bangsa kita.
MASALAH DISABILITAS DAN SOSIAL KEMASYARAKATAN: Laporan Hasil Penelitian Survey Kuantitatif bersama Pilar Analisa Indonesia Subasno, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Researcher conducted a survey with Pilar Analisa Indonesia, intending to explore the opinion of the disabled and/or their parents about the problems faced by persons with disabilities from their own perspective in the realm of daily life. The study also explores the understanding of persons with disabilities of some important terms that become standard terminology in discussions of solving rehabilitation issues. This research was conducted in Malang Raya by using Primary Sampling Unit method (Multi-stage Random Sampling). Respondents engaged in research using interviews as a method of data collection were 318 persons. The survey illustrated that persons with disabilities see the four most important issues around their dwellings, i.e expensive cost of goods, difficulty finding employment, health problems and educational issues. Other problems are limitations of physical, communication difficulties, alienated, mental and physical limitations, lack of attention from the government and need of mentoring. The understanding of persons with disabilities to the term of “penyandang disabilitas” is 54.09%, the knowledge of the rights of persons with disabilities reaches 95.00%, the inclusion term is understood only by 16.25%. Persons with disabilities who do not understand law and regulation related to the protection and empowerment of persons with disabilities reached 95.42%.
MEDIA DAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN DALAM PENGAJARAN AGAMA KATOLIK Tarihoran, Emmeria
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh Globalisasi tidak dapat dihindari oleh siapapun karena telah memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Era globalisasi ditandai dengan perkembangan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan. Secara khusus, pada bidang pendidikan sangat terasa pengaruhnya dalam proses menyesuaikan pengajaran yang menuntut penggunaan teknologi. Pendayagunaan teknologi sangat dirasakan baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam evaluasi. Hal ini sangat terlihat dalam kerangka kurikulum pendidikan tahun 2013, seorang guru dituntut untuk mampu menyesuaikan pengajarannya berdasarkan situasi dan perkembangan zaman.Dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 perlu didukung oleh guru yang profesional. Guru yang merupakan garda terdepan dan ujung tombak implementasi kurikulum dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan dalam rangka melaksanakan tugas profesinya.Salah satu masalah yang dihadapi oleh guru pada umumnya adalah mengubah mindset tentang proses pembelajaran yang berpusat pada guru bergeser menjadi berpusat dan berorientasi pada siswa. Secara khusus dalam hal ini penulis ingin mengangkat persoalan tentang peran media dan teknologi dalam pembelajaran khususnya dalam pengajaran agama katolik dalam rangka memaksimalkan dan mengefektifkan pembelajaran dalam menwujudkan empat (4) pilar pendidikan yakni Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan), Learning to know (belajar untuk menguasai pengetahuan), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat).
MAKSIMALISASI HIDUP BERIMAN UMAT MELALUI PENINGKATAN KUALITAS STRATEGI BERKATEKESE: MENEROBOS ANCAMAN DIGITALISASI Leba, Katarina
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis permasalahan-permasalahan tentang bagaimana mengajar dan mengkomunikasikan sabda Tuhan di era digitalisasi. Dengan penelitian kualitatif, penulis memahami permasalahan individu, sosial dan organisasi gerejani seperti fundamentalisme, individualisme dan liberalisme menginspirasikan pengikut Tuhan di dalam mengaktualisasikan iman akan Tuhan melalui data yang dianalisis. Perspektif teoritis dan analitis problem yang dilakukan menunjukkan bahwa permasalahan-permasalahan tersebut dapat diminimalisir atau diatasi dengan cara internalisasi nilai-nilai ke-Allah- an dalam sikap moral, dengan menggunakan media digital. Umat Allah harus meningkatkan dialog yang baik dengan yang lain. Pendidikan adalah sesuatu yang penting, tidak hanya dalam hal aplikasi digital tetapi memberikan informasi yang baik untuk keselamatan dunia.
REFLECTIVEE PRACTICE CM, Martinus Irwan Yulius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah aktivitas pastoral tentu memiliki langkah-langkah yang tersusun yang memberikan pedoman bagaimana suatu kegiatan pastoral dapat dikerjakan dengan baik. Artikel ini bukanlah hendak memberikan sebuah langkah pastoral yang baru; namun, artikel ini ingin meyodorkan sebuah instrumen pastoral yang seringkali diabaikan ketika seorang pekerja pastoral sudah terjun langsung dalam dunia pelayanan. Instrumen itu adalah Reflektive Practice;sebuah cara yang membantu seorang pekerja pastoral untuk melihat kerangka kerja pastoral bukan hanya sekedar sebuah aktivitas yang dikerjakan namun juga sebuah hidup yang harus direfleksikan. Reflektive Practice membantu pekerja pastoral untuk bukan hanya mengevaluasi proses aktivitas pastoral melainkan juga mencari makna/nilai bagi hidup pekerja pastoral sendiri. Melakukan sesuatu tanpa mengenal maknanya justru akan menjerumuskan orang pada aktivisme belaka.
INTERAKSIONISME SIMBOLIK DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT Derung, Teresia Noiman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teori interaksi simbolik diperkenalkan oleh beberapa sosiolog, yaitu John Dewey, Chales Horton Cooley, George Hebert Mead dan Hebert Blumer. Keempat tokoh ini melihat interaksi simbolik dari perspektif sosial. Dasar dari teori interaksionisme simbolik adalah teori behaviorisme sosial, yang memusatkan diri pada interaksi alami yang terjadi antara individu dalam masyarakat dan masyarakat dengan individu. Interaksi antar individu berkembang melalui simbol-simbol yang mereka ciptakan. Simbol- simbol ini meliputi gerak tubuh antara lain; suara atau vokal, gerakan fisik, ekspresi tubuh atau bahasa tubuh, yang dilakukan dengan sadar. Ketika individu melakukan interaksi dengan individu lain secara sadar, maka interaksi ini disebut interaksi simbolik. Di dalam simbol-simbol yang dihasilkan oleh masyarakat (society) mengadung makna yang bisa dimengerti oleh orang lain. Herber menyebut gerak tubuh sebagai simbol signifikan. Gerak tubuh mengacu pada setiap tindakan yang dapat memiliki makna. Makna ditanggapi oleh orang lain dan memantulkannya lagi sehingga terjadi interaksi. Interaksi yang terjadi antara aktor bersifat dinamis baik dari segi peran maupun makna yang dapat ditangkap. Terkadang, aktor yang sama dapat berperan sebagai subyek yang memulai interaksi, dan dalam kesempatan itu juga ia dapat berperan sebagai obyek yang menanggapi interaksi tersebut. Gerak tubuh yang dimaksud bersifat verbal yaitu menggunakan bahasa lisan, tetapi bisa juga berupa gerak tubuh non verbal. Ketika gerak tubuh mengandung makna, maka gerak tubuh menjadi nilai dari simbol-simbol yang signifikan. Oleh karena itu, masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana anggota- anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan tindakan orang lain dengan menggunakan simbol-simbol.
EDITORIAL JURNAL SAPA VOL. 2 NO. 1 Editor, Tim
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10