cover
Contact Name
Gurid Pramintarto Eko Mulyo
Contact Email
gurid@staff.poltekkesbandung.ac.id
Phone
+6281399091484
Journal Mail Official
jurnal.siliwangi@poltekkesbandung.ac.id
Editorial Address
Direktorat Politenik Kesehatan Kemenkes Bandung Jl.Pajajaran No 56 Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Siliwangi
ISSN : -     EISSN : 28071530     DOI : https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1671
Jurnal Kesehatan Siliwangi menerima publikasi dalam makalah penelitian artikel asli, makalah tinjauan, laporan kasus, pengabdian masyarakat, penelitian kualitatif/dan kuantitatif di Indonesia atau negara lain untuk memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan. Ruang lingkup Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini adalah bidang : - Analis Kesehatan/ Teknik Laboratorium Medik - Gizi - Farmasi - Keperawatan Gigi - Keperawatan - Kebidanan - Kesehatan Lingkungan - Promosi Kesehatan
Articles 546 Documents
Stability of Total Cholesterol Measurement CHOD-PAP Method in K3EDTA Plasma with Variations in Incubation Period
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1428

Abstract

Pemeriksaan kolesterol total berguna untuk membantu diagnosis penyakit jantung, atherosclerosis, stroke, hipertensi, obesitas dan Diabetes Melitus (DM). Spesimen yang dapat digunakan adalah serum atau plasma dengan antikoagulan yang dianjurkan adalah Etilen Diamin Tetra Acetat (EDTA). Kenyataan di lapangan seringkali pembacaan hasil tidak dapat dilakukan sesuai prosedur yang disebabkan karena beberapa faktor yang mengakibatkan waktu inkubasinya menjadi lebih dari 10 menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas kadar kolesterol total pada spesimen plasma K3EDTA dengan variasi waktu inkubasi. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experiment. Sampel yang digunakan adalah 4 orang mahasiswa/i Jurusan TLM Poltekkes Kemenkes Bandung. Perlakuan berjumlah 6 yaitu inkubasi 10, 30, 60, 90, 120 dan 150 menit pada masing-masing spesimen plasma K3EDTA. Hasil rata-rata kadar kolesterol total pada waktu inkubasi 10 (sebagai standar), 30, 60, 90, 120, dan 150 menit berturut-turut 155 mg/dL, 147 mg/dL, 140 mg/dL, 130 mg/dL, 123 mg/dL, 119 mg/dL dengan perbedaan yang dibandingkan dengan 10 menit berturut-turut sebesar 5,1%; 9,6%; 16,1%; 20,6% dan 23,2%. Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan uji GLM dan uji Pairwise Comparisons, hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan (Sig.0,000<0,05) antara kelompok inkubasi 10 menit dengan kelompok perlakuan inkubasi 30, 60, 90, 120, dan 150 menit. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar kolesterol total pada plasma K3EDTA secara statistik sudah tidak stabil pada waktu inkubasi 30 menit.
THE EFFECT OF TEMPERATURE AND STORAGE TIME SERUM ON C- RECATIVE PROTEIN ON PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELITUS
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1429

Abstract

Pemeriksaan C- Reactive Protein digunakan untuk mengetahui inflamasi. Diabetes Melitus Tipe 2 disebabkan oleh penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan naiknya gula darah akibat sekresi insulin yang menurun. Pada pasien diabetes melitus tipe 2 meningkatnya kadar CRP dapat mengakibatkan stress oksidatif. Stabilitas serum yang disimpan pada suhu 2-8℃ stabil dalam 48 jam jika sampel perlu disimpan dalam waktu tidak lebih dari 3 minggu dapat disimpan selama 4℃, dalam suhu ruang dapat disimpan tidak lebih dari 7 hari, tetapi masih ditemukan penyimpanan serum yang tidak layak karena kondisi suhu tidak sesuai. Penelitian yang digunakan studi eksperimental dengan populasi sampel 10 orang penderita dibetes melitus tipe 2 dengan usia lebih dari 50 tahun dan kadar gula darah ≥ 250 mg/dL dan lama menderita diabetes ≥5 tahun. Serum dilakukan pemeriksaan CRP secara kualitatif dan semi kuantitatif untuk mengetahui titer CRP kemudian serum disimpan pada suhu refrigerator dan suhu ruang selama 0, 12, 24, 36, dan 72 jam. Berdasarkan hasil pemeriksaan CRP kualitatif dan semi kuantitattif didapatkan kadar CRP dari 10 pasien adalah 24 mg/L kemudian uji friedman dan Wilcoxon penyimpanan pada suhu refrigerator diketahui nilai Sig. >0.05 tidak terjadipenurunan titer CRP setelah dilakukan penyimpanan serum selama 0, 12, 24, 36, dan 72 jam. Pada penyimpanan suhu ruang di 36 dan 72 jam didapatkan nilai Sig. <0.05 maka terjadi penurunan titer CRP pada suhu ruang di 36 dan 72 jam yang sebelumnya memiliki titer 24 mg/L menjadi 12 mg/L Tidak terdapat pengaruh secara statistik pada waktu penyimpanan serum pada suhu refrigerator selama 0, 12, 24, dan 36 jam terhadap titer CRP, terdapat pengaruh secara statistik pada waktu penyimpanan serum pada suhu ruang selama 36 dan 72 jam terhadap titer CRP.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Staphylococcus epidermidis
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1439

Abstract

Salah satu bentuk peradangan kulit yang umumnya terjadi pada remaja bahkan orang dewasa dan dapat menurunkan kepercayaan diri yaitu jerawat. Penyebab tumbuhnya jerawat diakibatkan oleh aktivitas kelenjar minyak wajah (sebum) yang berlebih dan diperburuk dengan kontaminasi bakteri, salah satunya Staphylococcus epidermidis. Kejadian jerawat terus meningkat setiap tahunnya dan kondisi ini menjadi dorongan untuk dilakukan pengobatan jerawat menggunakan bahan alam, contohnya daun kelor (Moringa oleifera). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan lama waktu kontak dari ekstrak etanol daun kelor sebagai antibakteri dalam menghambat bertumbuhnya S. epidermidis. Metode penelitian yang digunakan dengan jenis penelitian kuasi eksperimen dan desain penelitian yaitu perbandingan kelompok statis. Penelitian ini menggunakan lima variasi konsentrasi yaitu 1,25%; 2,5%; 5%; 10%; dan 20% serta variasi lama waktu kontak 24 jam dan 48 jam. Sampel yang digunakan berupa ekstrak etanol daun kelor dengan parameter penelitiannya yaitu pertumbuhan S. epidermidis. Data yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan Microsoft Excel, dengan hasil yang diperoleh yaitu konsentrasi ekstrak etanol daun kelor dapat menghambat pertumbuhan S. epidermidis sebesar 20% dengan lama waktu kontak selama 24 jam.Salah satu bentuk peradangan kulit yang umumnya terjadi pada remaja bahkan orang dewasa dan dapat menurunkan kepercayaan diri yaitu jerawat. Penyebab tumbuhnya jerawat diakibatkan oleh aktivitas kelenjar minyak wajah (sebum) yang berlebih dan diperburuk dengan kontaminasi bakteri, salah satunya Staphylococcus epidermidis. Kejadian jerawat terus meningkat setiap tahunnya dan kondisi ini menjadi dorongan untuk dilakukan pengobatan jerawat menggunakan bahan alam, contohnya daun kelor (Moringa oleifera). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan lama waktu kontak dari ekstrak etanol daun kelor sebagai antibakteri dalam menghambat bertumbuhnya S. epidermidis. Metode penelitian yang digunakan dengan jenis penelitian kuasi eksperimen dan desain penelitian yaitu perbandingan kelompok statis. Penelitian ini menggunakan lima variasi konsentrasi yaitu 1,25%; 2,5%; 5%; 10%; dan 20% serta variasi lama waktu kontak 24 jam dan 48 jam. Sampel yang digunakan berupa ekstrak etanol daun kelor dengan parameter penelitiannya yaitu pertumbuhan S. epidermidis. Data yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan Microsoft Excel, dengan hasil yang diperoleh yaitu konsentrasi ekstrak etanol daun kelor dapat menghambat pertumbuhan S. epidermidis sebesar 20% dengan lama waktu kontak selama 24 jam.
PEMANFAATAN SARI BUAH BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) SEBAGAI PEWARNA PADA PEMERIKSAAN TELUR CACING Soil-Transmitted Helminth PENGGANTI EOSIN 2%
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1444

Abstract

Penyakit kecacingan merupakan masalah kesehatan yang disebabkan oleh Soil Transmitted Helminths (STH). Diagnosis kecacingan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis menggunakan Eosin 2%. Akan tetapi salah satu kekurangan Eosin adalah memiliki harga yang mahal. Alternatif yang dapat digunakan yaitu menggunakan pewarna dari bahan alami salah satunya buah Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Buah Binahong memiliki kandungan antosianin yang memberikan warna merah keunguan sehingga dapat digunakan sebagai alternative pengganti Eosin 2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sari buah Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dapat dimanfaatkan sebagai pewarna pada pemeriksaan telur cacing STH pengganti Eosin 2%. Metode pemeriksaan telur cacing yang digunakan yaitu metode langsung menggunakan feses positif (+) telur cacing yang kemudian diwarnai dengan sari buah Binahong sebanyak 100ml dengan variasi langsung, 75%, 50% dan 25% dengan pH 2 dan pH 12. Hasil uji Kruskal wallis sari buah Binahong 100% pH 2 memberikan hasil yang hamper mendekati Eosin 2% dan hasil uji Mann U whitney Nilai Asym. Sig. (2-tailed) sari buah Binahong 100% pH 2 > 0,05. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa sari buah Binahong 100% pH 2 dapat dimanfaatkan sebagai pewarna pada pemeriksaan telur cacing STH pengganti Eosin 2%.
GAMBARAN DARAH LENGKAP PADA BALITA STUNTING di WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS CIBEBER BANTEN
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1448

Abstract

Stunting adalah kondisi dimana anak di bawah usia 5 tahun tidak berkembang akibat kekurangan gizi baik di dalam kandungan maupun di usia muda ketika anak masih terlalu muda untuk usianya. Anemia defisiensi besi dapat menjadi penyebab stunting yang disebabkan oleh defisiensi mikronutrien. Hitung darah lengkap penting karena dapat mendeteksi anemia, leukositosis, dan trombositosis, yang umum terjadi pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan hitung darah lengkap pada bayi dengan keterlambatan tumbuh kembang di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cibeber Banten. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis observasi deskriptif. Berdasarkan hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cibeber Banten dilakukan pemeriksaan darah lengkap pada 64 balita stunting mengalami anemia atau hemoglobin berada di bawah nilai normal dengan rata-rata hemoglobin 10,9 g/dL dengan range nilai normal 11,5 - 13,0 g/dL, 60 % nya mengalami penurunan nilai hematokrit di bawah nilai normal dengan rata- rata nilai hematokritnya 32 % dengan range nilai normal 34 - 39 % dan 50 % nya memiliki nilai monosit yang di bawah nilai normal dengan rata - rata nilai monositnya 3% dengan range nilai normal 3 - 6 %. Sedangkan untuk jenis anemia berdasarkan morfologinya anemia normokrom normositer sebanyak 31,25%, anemia normokrom mikrositer sebanyak 50% dan anemia hipokrom mikrositer sebanyak 18,75%. Dari hasil penelitian diharapkan dapat terjadi upaya tindaklanjut pemantauan terapi terhadap balita stunting dan juga agar terjadinya pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
HUBUNGAN KADAR CRP DENGAN PERSENTASE MONOSIT PADA PASIEN TB PARU SETELAH PENGOBATAN 3 BULAN
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1451

Abstract

  Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan inflamasi. Sel makrofag merangsang inflamasi dengan melepaskan sitokin seperti IL-6, di mana IL-6 memicu hati untuk menghasilkan protein fase akut yang disebut CRP dan fibrinogen, yang bertindak sebagai protein ekstraseluler, merangsang fagosit untuk memfagosit bakteri. Monosit memainkan peran penting dalam respon imun terhadap infeksi tuberkulosis. Waktu penelitian bulan Mei 2023. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Al-Ihsan dan Poltekkes Kemenkes Bandung jurusan Teknologi Laboratorium Medis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan CRP dengan persentase monosit setelah pengobatan 3 bulan. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelatif. Jenis sampling adalah kuota sampling, dimana teknik harus mengalokasikan sampel dari populasi dengan karakteristik tertentu ke kuantitas (kuota) yang diinginkan. Jumlah sampel penelitian 30 sampel.Terdapat 16 sampel (53%) yang memiliki persentase monosit dan CRP dalam kisaran normal, 3 sampel (10%) memiliki monosit dalam kisaran normal tetapi CRP meningkat, 5 sampel (17%) memiliki monosit meningkat, tetapi nilai CRP  dalam kisaran normal dan 6 sampel (20%) menunjukkan peningkatan jumlah monosit dan kadar CRP. Pada penderita tuberkulosis paru, setelah tiga bulan pengobatan, terdapat hubungan antara proporsi monosit dengan kadar CRP. Secara statistik uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan nilai signifikansi 0,010 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,463 artinya hubungan kedua variabel searah dengan kategori hubungan cukup. 
EKSTRAK UBI UNGU (Ipomoea batatas L) SEBAGAI INDIKATOR ALTERNATIF UJI FERMENTASI KARBOHIDRAT Escherichia coli
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1452

Abstract

Penggunaan indikator dalam bidang mikrobiologi digunakan pada uji fermentasi karbohidrat bakteri untuk mengetahui metabolisme bakteri. Indikator sintetis yang terbatas dan mahal juga bersifat karsinogenik yang yang memiliki dampak negatif pada lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan alam dengan kandungan antosianin dapat digunakan sebagai indikator alternatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami kemampuan ekstrak ubi ungu sebagai indikator alternatif  uji fermentasi karbohidrat. Penelitian ini menerapkan jenis Quasy Eksperiment dengan desain Post-test Only Control Group. Kelompok penelitian terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen menggunakan ekstrak ubi ungu dengan ragam konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% serta  variasi pH media 6,7, dan 8. Kelompok kontrol menggunakan indikator Bromocresol Purple. Parameter yang diamati yaitu perubahan warna yang terjadi. Data yang diperoleh diujikan dengan Friedman. Hasil penelitian menunjukan terjadi perubahan warna pada media yang berarti ekstrak ubi ungu dapat digunakan sebagai indikator alternatif uji fermentasi karbohidrat Escherichia coli.  Hasil uji Friedman didapatkan nilai signifikasi <0,05 yang mengindikasikan adanya perbedaan yang cukup besar antara kelompok eksperimen dengan  kontrol yang bermakna perubahan warna yang terjadi tidak sejelas kontrol pada semua variasi konsentrasi maupun pH media. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak ubi ungu dapat dimanfaatkan sebagai indikator alternatif uji fermentasi karbohidrat Escherichia coli. 
PENGARUH VARIASI LAMA WAKTU INKUBASI TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL SERUM METODE Cholesterol Oxidase – Para aminoantypirin (CHOD-PAP)
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1453

Abstract

Pemeriksaan kadar kolesterol total serum merupakan bagian dari pemeriksaan profil lipid yang harus memperhatikan waktu inkubasi agar hasil pemeriksaan yang didapatkan merupakan hasil yang akurat dan valid. Namun, dalam beberapa kasus waktu inkubasi tidak terlalu diperhatikan disebabkan banyaknya permintaan pemeriksaan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh waktu inkubasi 10, 30, 60, 90, 120, dan 150 menit  terhadap kadar kolesterol total serum. Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan jumlah sampel 4 orang Mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Bandung. Desain penelitian yang digunakan yaitu quasy experimental dengan memberikan perbedaan perlakuan lama waktu inkubasi pada pemeriksaan kadar kolesterol total serum. Analisis data yang digunakan yaitu Uji General Linear Model (GLM) dan Uji F.  Hasil rata-rata kadar kolesterol total serum mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu inkubasi. Uji GLM menunjukkan nilai Sig. waktu inkubasi 30 menit dan 60 menit yaitu 0,561 dan 0,091 dimana nilai Sig. > 0,05 yang artinya kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 30 dan 60 menit secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 10 menit. Nilai Sig. waktu inkubasi 90, 120, dan 150 yaitu 0,000 dimana nilai Sig. < 0,05 yang artinya kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 90, 120 dan 150 menit secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan dengan kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 10 menit. Uji F menunjukkan nilai Sig. 0,000 dimana nilai Sig. < 0,05 yang artinya waktu inkubasi memiliki pengaruh terhadap kadar kolesterol total serum. Terdapat pengaruh penurunan kadar kolesterol total serum seiring bertambahnya waktu inkubasi.
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN TEH PUTIH SEBAGAI ANTIBAKTERI DALAM MENGHAMBAT DAN MEMBUNUH Staphylococcus epidermidis
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1454

Abstract

Jerawat disebabkan karena kondisi pori-pori kulit yang tersumbat dan mengakibatkan kantong berisi nanah yang meradang. Jerawat dapat disebabkan oleh beberapa bakteri yang berflora normal dikulit, salah satunya Staphylococcus epidermidis. Bakteri ini berkontribusi mengubah bagian cair sebum menjadi massa padat dan menyumbat saluran kelenjar sebasea. Penggunaan methicillin dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik lain. Oleh karena itu, diperlukan bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri seperti daun teh putih (Camellia Sinensis L. Kuntze). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan efektivtas antibakteri dari daun teh putih dan konsentrasi efektif ekstrak daun teh putih dalam menghambat dan membunuh S. epidermidis, serta menentukkan keasaman media optimum untuk pertumbuhan S. epidermidis. Penelitian ini menggunakan 5 variasi konsentrasi ekstrak daun teh putih yaitu 10%, 15%, 20%, 25% dan 30% dengan variasi keasaman media yaitu 6,5; 7,0; 7,5. Sampel yang digunakan berupa ekstrak daun teh putih dengan parameter penelitian yaitu pertumbuhan S. epidermidis. Data yang didapat kemudian diolah menggunakan Two Way Anova. Hasil pada penelitian ini adalah konsentrasi efektif untuk menghambat pertumbuhan S. epidermidis adalah 10% tetapi konsentrasi tertinggi 30% masih belum dapat membunuh S. epidermidis. Keasaman media pertumbuhan yang optimum untuk pertumbuhan S. epidermidis adalah diantara pH 7,0 sampai 7,5.
PENGARUH WAKTU SIMPAN DARAH DAN JENIS ANTIKOAGULAN TERHADAP JUMLAH RETIKULOSIT PADA SUHU LEMARI ES
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1455

Abstract

Pemeriksaan retikulosit merupakan pemeriksaan hematologi. Tahap pra analitik pemeriksaan laboratorium salah satunya yaitu penggunaan antikoagulan. Jumlah  retikulosit digunakan untuk menilai keakuratan respons sumsum tulang terhadap anemia. Pemeriksaan retikulosit menggunakan pewarna supravital yang dapat mewarnai sisa-sisa ribosom dan RNA dalam retikulosit yang hidup. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus saat pemeriksaan hematologi yaitu antikoagulan, waktu dari pengumpulan sampel hingga pengujian dan penyimpanan. Penelitian ini bertujuan  untuk melihat pengaruh antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA dengan variasi penyimpanan waktu yaitu 0 jam, 30 jam, dan 36 jam pada jumlah retikulosit pada suhu lemari es. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 1 orang. Data penelitian jumlah retikulosit diolah secara statistik dengan metode General Linear Model (GLM). Data rata-rata jumlah retikulosit dengan antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA pada masing-masing waktu simpan darah yaitu 0 jam 1,3%; 30 jam 0,72%; dan 36 jam 0,63%. Hasil data untuk variasi waktu 0 jam, 30 jam, dan 36 jam memiliki nilai sig 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh jumlah retikulosit dengan antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA pada suhu lemari es.