cover
Contact Name
Gurid Pramintarto Eko Mulyo
Contact Email
gurid@staff.poltekkesbandung.ac.id
Phone
+6281399091484
Journal Mail Official
jurnal.siliwangi@poltekkesbandung.ac.id
Editorial Address
Direktorat Politenik Kesehatan Kemenkes Bandung Jl.Pajajaran No 56 Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Siliwangi
ISSN : -     EISSN : 28071530     DOI : https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1671
Jurnal Kesehatan Siliwangi menerima publikasi dalam makalah penelitian artikel asli, makalah tinjauan, laporan kasus, pengabdian masyarakat, penelitian kualitatif/dan kuantitatif di Indonesia atau negara lain untuk memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan. Ruang lingkup Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini adalah bidang : - Analis Kesehatan/ Teknik Laboratorium Medik - Gizi - Farmasi - Keperawatan Gigi - Keperawatan - Kebidanan - Kesehatan Lingkungan - Promosi Kesehatan
Articles 546 Documents
PERBEDAAN STABILITAS AKTIVITAS ENZIM ALKALI FOSFATASE PADA SERUM DAN PLASMA HEPARIN PADA SUHU RUANG
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1456

Abstract

Salah satu tahapan pemeriksaan laboratorium adalah tahapan pra analitik, dimana tahapan tersebut memiliki persentase kesalahan yang paling besar, yaitu sebesar 68%. Pemeriksaan aktivitas enzim alkali fosfatase merupakan salah satu pemeriksaan untuk mengetahui adanya kelainan, penyakit, dan kerusakan pada jaringan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas aktivitas enzim ALP pada serum dan plasma heparin pada suhu ruang. Penelitian ini merupakan quasy eksperimental dengan memberi perlakuan berupa penyimpanan sampel serum dan plasma heparin selama 10, 12, dan 14 jam pada suhu ruang yang kemudian aktivitas enzim dibandingkan dengan aktivitas pada sampel segera diperiksa, Didapatkan 64 data pemeriksaan yang diolah menggunakan SPSS dengan uji general liear model (GLM). Penelitian ini mendapatkan hasil uji GLM sampel serum dengan variasi lama simpan 10, 12, dan 14 jam menunjukkan nilai sig. 0,220, 0,262, dan 0,062. Sedangkan pada sampel plasma heparin menunjukkan nilai sig. 0,118, 0,271, dan 0,053 (Sig.>0,05). Sehingga dapat dihasilkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara variasi lama simpan dengan pemeriksaan segera. Hasil uji GLM antara sampel serum dan plasma heparin pada pemeriksaan segera, setelah 10, 12, dan 14 jam menunjukkan nilai sig. 0,054, 0,080, 0,050, dan 0,136 (Sig.> 0,05). Maka, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada setiap variasi lama simpan. Maka, dari penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara stabilitas aktivitas enzim pada serum dan plasma heparin, yaitu tetap stabil hingga 14 jam pada suhu ruang.
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN LARUTAN GIEMSA 3% TERHADAP KUALITAS PREPARAT MALARIA
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1457

Abstract

Mikroskopis merupakan standar emas untuk mengidentifikasi parasit malaria dengan Giemsa 3% yang digunakan segera setelah preparasi sebagai standar pewarnaan preparat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran morfologi Plasmodium sp. Ketika larutan Giemsa diwarnai untuk waktu penyimpanan yang berbeda, penggunaan langsung dan penyimpanan berubah menjadi 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, dan 6 jam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi-experimental) dimana peneliti membandingkan pengaruh perlakuan pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Data penelitian dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis SPSS dilanjutkan dengan uji Mann Whitney U.  Didapatkan hasil kualitas preparat  yang di warnai dengan giemsa 3% yang di simpan 1 jam nilai Asymp.Sig > 0,05 yaitu 1.00, disimpulkan baik. preparat yang di warnai dengan giemsa 3% yang di simpan 2 jam nilai Asymp.Sig > 0,05 yaitu 0,065, disimpulkan baik. preparat yang di warnai dengan giemsa 3% yang di simpan 3 jam nilai Asymp.Sig > 0,05 yaitu 0,317. preparat yang di warnai dengan giemsa 3% yang di simpan 4 jam nilai Asymp.Sig > 0,05 yaitu 0,065, disimpulkan baik. preparat yang di warnai dengan giemsa 3% yang di simpan 5 jam nilai Asymp.Sig > 0,05 yaitu 0,145 namun pada sitoplasma dan eritositnya mendapat nilai Asymp.Sig < 0,05 yaitu 0,011 disimpulkan tidak baik. preparat yang di warnai dengan giemsa 3% yang di simpan 6 jam nilai Asymp.Sig < 0,05 yaitu 0,004, disimpulkan tidak baik. Disarankan untuk  menggunakan larutan Giemsa 3% yang digunakan segera setelah persiapan.
PERBEDAAN WAKTU DAN SUHU INKUBASI TERHADAP TITER SEKRETOR PADA BERCAK SALIVA PUNTUNG ROKOK
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1459

Abstract

Identifikasi individu pada pemeriksaan forensik dapat menggunakan metode pemeriksaan golongan darah. Pada individu berstatus sekretor, golongan darah dapat diperiksa melalui cairan tubuh seperti saliva. Puntung rokok merupakan barang bukti yang sering ditemukan di TKP dan dapat menjadi spesimen pemeriksaan golongan darah karena terdapat bercak saliva. Salah satu tahapan dalam pemeriksaan sekretor adalah tahap inkubasi untuk menginisiasi reaksi antigen-antibodi antara sampel dan antisera. Dalam penelitian ini, pemeriksaan titer sekretor pada bercak saliva puntung rokok diambil dari 6 individu yang berbeda. Dilakukan perendaman sampel puntung rokok dalam pelarut lalu dilanjutkan dengan pengenceran, kemudian dilakukan inkubasi dengan variasi suhu (2-8˚ C dan 20-25˚ C) serta waktu inkubasi (15 dan 120 menit) dibandingkan dengan waktu standar 1080 menit. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu, dilakukan pemeriksaan dari spesimen yang sama dengan perlakuan suhu dan waktu inkubasi yang berbeda dengan menggunakan prinsip aglutinasi-inhibisi. Hasil penelitian menunjukkan titer terendah 1/4 dan titer tertinggi 1/16. Dapat disimpulkan terdapat perbedaan nilai titer pada pemeriksaan dengan waktu inkubasi 15 menit, namun tidak terdapat perbedaan pada waktu inkubasi 120 menit. Selain itu, tidak terdapat perbedaan titer pada pemeriksaan suhu inkubasi refrigerator maupun suhu ruang.
PENGARUH METODE PENGUMPULAN SALIVA SEBELUM DAN SETELAH MENYIKAT GIGI TERHADAP TITER STATUS SEKRETOR
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1460

Abstract

Status sekretor  mengacu pada individu yang mengeluarkan antigen ABH pada cairan tubuhnya seperti pada saliva. Pengumpulan saliva perlu diperhatikan bagaimana pengumpulan dan penanganannya. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adanya pengaruh metode pengumpulan pada saliva sebelum dan setelah menyikat gigi terhadap titer status sekretor. Jenis penelitian yang dilakukan adalah kuarsi eksperimen dengan desain penelitian semu. Dalam penelitian ini saliva dikumpulkan dari 8 individu sehat, pengumpulan dilakukan dengan metode passive drooling dan spitting sebelum dan setelah menyikat gigi. Penelitian dilakukan di Laboratorium hematologi jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Bandung pada Mei 2023. Titer status status sekretor diperiksa dengan metode hemaglutinasi inhibisi. Hasil penelitian dilakukan uji Willcoxon pada kelompok data saliva yang dikumpulkan sebelum menyikat gigi dengan metode yang berbeda didapatkan nilai p=0,018 dan kelompok data saliva yang dikumpulkan setelah menyikat gigi dengan metode berbeda nilai p=0,027. Kedua kelompok data tersebut menunjukkan nilai sig p<0,05. Sedangkan, kelompok data saliva yang dikumpulkan dengan metode  Passive drooling sebelum dan setelah menyikat gigi didapatkan nilai p 0.180 dan kelompok saliva yang dikumpulkan dengan metode Spitting sebelum dan setelah menyikat gigi didapatkan nilai p yaitu 0.317 kedua data menunjukkan p>0,05. Sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh pengumpulan saliva dengan metode yang berbeda. Namun, tidak terdapat pengaruh pengumpulan saliva yang diambil sebelum dan setelah menyikat gigi.
PENGARUH WAKTU PENGAMBILAN DAN LAMA PENYIMPANAN SALIVA PADA SUHU REFRIGERATOR TERHADAP TITER STATUS SEKRETOR
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1461

Abstract

Saliva mengandung glikoprotein musin yang membawa spesifitas golongan darah. Saliva dapat terpengaruh oleh waktu pengambilan, suhu, dan lama penyimpanan. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan titer status sekretor saliva pagi dan saliva sore yang disimpan pada suhu refrigerator (2-80C) selama 30 menit, 60 menit, dan 90 menit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran titer status sekretor dan melihat adakah pengaruh waktu pengambilan dan lama penyimpanan saliva pada suhu refrigerator terhadap titer status sekretor. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan 6 sampel saliva berstatus sekretor golongan darah A dengan metode aglutinasi inhibisi. Hasil penelitian ini yaitu saliva pagi dengan variasi lama penyimpanan menunjukkan rentang nilai titer status sekretor 1/16 - ≥1/512, sedangkan pada sampel saliva sore menunjukkan rentang nilai titer 1/8 - 1/256. Hasil uji statistik Friedman dan uji Wilcoxon terhadap waktu pengambilan saliva didapatkan nilai p (sig) 0,001, artinya terdapat pengaruh waktu pengambilan saliva terhadap titer status sekretor. Sedangkan hasil uji Friedman dan uji Wilcoxon terhadap lama penyimpanan saliva pada suhu refrigerator (2-80C) didapatkan nilai p (sig) 0,027 pada kelompok data saliva yang disimpan 90 menit, artinya terdapat pengaruh lama penyimpanan saliva terhadap titer status sekretor.
OPTIMASI SUHU DAN MASA INKUBASI PADA UJI HEMAGLUTINASI AVIAN INFLUENZA H5N1 DENGAN SEL DARAH MERAH MANUSIA GOLONGAN O
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1462

Abstract

Avian Influenza H5N1 memiliki patogenisitas tinggi (HPAI H5N1) yang telah diketahui menginfeksi hewan dan manusia.  Ciri utama Avian Influenza  yaitu memiliki protein hemaglutinin. Protein hemaglutinin mempunyai kemampuan mengaglutinasi sel darah merah. Berdasarkan kemampuan protein tersebut, maka dapat dilakukan uji hemaglutinasi. Aktifitas protein hemaglutinin dapat dipengaruhi oleh suhu dan masa inkubasi. Pada uji hemaglutinasi dibutuhkan sel darah merah sebagai reseptor pengikatan protein hemaglutinin. Selain sel darah merah ayam sebagai reseptor, sel darah merah manusia golongan O juga dapat dijadikan sebagai reseptor bagi protein hemaglutinin. Avian influenza H5N1 mengenali asam sialat α-2,3-galaktosa pada unggas, sedangkan pada manusia mengenali asam sialat α-2,6-galaktosa yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan suhu dan masa inkubasi yang optimum untuk uji hemaglutinasi Avian Influenza H5N1 dengan sel darah merah manusia golongan O. Jenis penelitian yang digunakan  adalah quasi ekperimen, sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah Post-test Control Group Design. Sampel yang digunakan berupa virus inaktif Avian Influenza H5N1 untuk diuji hemaglutinasi dengan sel darah merah golongan O. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji two-way ANOVA pada SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan masa inkubasi yang optimum dengan sel darah merah golongan O adalah pada suhu 25oC  dan masa inkubasi selama 60 menit.
PEMANFAATAN NASI AKING SEBAGAI PENGGANTI SUMBER KARBOHIDRAT PADA MEDIA Potato Dextrose Agar (PDA) UNTUK PERTUMBUHAN Trichopyton rubrum
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1463

Abstract

Dermatofitosis termasuk infeksi yang disebabkan kelompok jamur dermatofita. Salah satu jenis infeksi yang umum terjadi adalah tinea pedis yang disebabkan oleh Trichopyton rubrum. Jamur ini melekat pada kulit dan menggunakan enzim keratinase untuk mencerna keratin. Dalam mendiagnosis infeksi jamur ini, dilakukan pengkulturan pada media PDA. Sumber karbohidrat dalam media PDA dapat digantikan dengan bahan lain yang lebih ekonomis dan mudah diperoleh seperti nasi aking. Nasi aking mengandung karbohidrat sebesar 83,14%, protein 3,36% serta amilosa 29,70%. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment, dengan mengggunakan 3 replikasi dan 2 perlakuan yaitu variasi massa tepung (5g, 10g, dan 15g), serta lama waktu inkubasi (Hari ke-3, 5, 7, dan 10). Media PDA digunakan sebagai kontrol. Inokulasi Trichopyton rubrum dilakukan dengan metode single dot pada media PDA dan media nasi aking. Pengamatan dilakukan secara makroskopis dengan mengamati karakteristik morfologi dan mengukur diameternya, serta secara mikroskopis untuk melihat adanya hifa, makrokonidia, dan mikrokonidia. Hasil data pengukuran diameter pertumbuhan Trichopyton rubrum dianalisis menggunakan uji parametrik Two Way Anova. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan Trichopyton rubrum pada media PDA dan media nasi aking tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Rata-rata diameter koloni Trichopyton rubrum mencapai 6,20 cm pada konsentrasi tepung nasi aking sebesar 10 gram dengan waktu inkubasi 10 hari. Dengan demikian, nasi aking dapat digunakan sebagai pengganti karbohidrat dalam media PDA untuk pertumbuhan Trichopyton rubrum.
PERBANDINGAN KADAR UREUM PADA SERUM LIPEMIK METODE BERTHELOT DENGAN ULTRAVIOLET KINETIK
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1472

Abstract

Serum lipemik dapat mengganggu pemeriksaan kadar ureum karena kekeruhan dalam sampel mempengaruhi pemeriksaan yang menggunakan spektofotometri. Pemeriksaan kadar ureum di laboratorium umumnya menggunakan pendekatan berdasarkan reaksi enzimatik dengan metode Berthelot atau UV kinetik. Metode dengan panjang gelombang rendah lebih banyak terpengaruh oleh serum lipemik, karena absorbansinya tinggi. Interferensi lipemia dalam metode spektrofotometri ditentukan oleh panjang gelombang reaksi dan arah reaksi (yang mengukur peningkatan atau penurunan absorbansi). Oleh karena itu, terdapat kemungkinan bahwa arah dan tingkat interferensi akan berbeda ketika membandingkan metode pemeriksaan yang berbeda untuk parameter yang sama.  Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Klinik Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung pada bulan Mei 2023. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperiment (eksperimen semu) dengan desain penelitian static group comparation, yaitu dilakukan perlakuan terhadap kelompok eksperimen. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah pooled sera. Data diolah menggunakan uji statistik General Linear Model (GLM) dan Paired Sample T-Test, didapatkan hasil rata-rata kadar ureum pada serum lipemik dengan metode Berthelot secara berurutan berdasarkan kadar trigliserida 99,2; 378; 658 dan 932 mg/dL adalah 16,5; 19,3; 22,0; 24,3 mg/dL dan untuk metode UV kinetik adalah 21,6; 14,7; 8,58; 5,22 mg/dL. Hasil data pada kedua metode ureum memiliki nilai p 0,001 < Sig 0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara metode Berthelot dan UV kinetik.
PENGARUH VARIASI SUHU DAN WAKTU VIRGIN COCONUT OIL PADA PROSES DEPARAFINISASI PEWARNAAN HEMATOKSILIN EOSIN TERHADAP KUALITAS PREPARAT
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1473

Abstract

Deparafinisasi bertujuan untuk melarutkan kelebihan parafin dari jaringan, umumnya menggunakan xylol. Mempertimbangkan kelemahan xylol seperti berbahaya jika kontak dengan kulit, maka lebih baik jika mengganti xylol dengan bahan alternatif seperti virgin coconut oil (VCO). Penggunaan VCO sebagai bahan alternatif xylol harus diikuti dengan pemanasan dengan suhu yang bervariasi. Tujuan penelitian ini untuk melihat ada tidaknya pengaruh variasi suhu dan waktu VCO pada proses deparafinisasi terhadap kualitas preparat dan perbedaan kualitas preparat menggunakan VCO dengan xylol sebagai bahan deparafinisasi jaringan. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan menggunakan jaringan hepar Rattus novergicus yang diberikan 5 perlakuan pada proses deparafinisasi yaitu menggunakan larutan xylol pada suhu kamar selama 5 menit, dan VCO pada suhu 50°C dan suhu 60°C dengan masing-masing suhu direndam selama 10 menit dan 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VCO pada suhu 50°C secara mikroskopis menghasilkan preparat dengan warna inti sel yang jelas dengan nilai OD 160.630 dan sitoplasma yang jelas dengan nilai OD 149.805, sedangkan pada suhu 60°C secara mikroskopis menghasilkan preparat dengan warna inti sel yang jelas dengan nilai OD 172.061, namun warna sitoplasma terlihat mulai memudar dengan nilai OD 146.398. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh variasi suhu dan waktu pada proses deparafinisasi menggunakan VCO terhadap kualitas preparat dan terdapat pula perbedaan kualitas preparat jaringan antara xylol dengan VCO sebagai bahan deparafinisasi pewarnaan hematoksilin eosin. Penggunaan VCO pada suhu 50°C selama 10 menit menjadi alternatif bahan deparafinisasi jaringan yang efektif untuk menghasilkan kualitas preparat yang baik.
HUBUNGAN PENGGUNAAN SEPATU BOOTS DENGAN KEJADIAN TINEA PEDIS PADA PETANI DAN PETERNAK SAPI
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1474

Abstract

Jenis jamur tinea pedis merupakan infeksi kulit pada sela jari kaki yang disebabkan oleh Trihopyton rubrum. Berbagai penelitian menyebutkan dengan  penggunaan sepatu tertutup penyebab penting dalam kejadian tinea pedis yaitu penggunaan sepatu boots lama di jari kaki lembab yang menimbulkan pertumbuhan jamur Golongan Dermatofita yang menyerang jaringan mengandung keratin misalnya stratum korneum. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui lama penggunaan sepatu boots dengan kejadian Tinea Pedis pada petani dan peternak sapi di Kampung Gunung Cupu Desa Margaluyu Kecamatan Pangalengan. Metode penelitian ini Menggunakan desain deskriptif survey korelasi mendeskripsikan hubungan antara variabel bebas yaitu (penggunaan sepatu boots dan Jenis pekerjaan) dengan variabel terikat berupa Kejadian Tinea Pedis untuk mendeskripsikan penyebaran suatu penyakit tertentu pada masyarakat dengan cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan adalah 60 responden. sampel penelitian adalah petani dan peternak sapi di Kampung Gunung Cupu Desa Margaluyu Kecamatan Pangalengan.Data yang diperoleh  dengan observasi atau wawancara kemudian mengambil sampel kerokan kulit sela jari-jari kaki. Menggunakan metode chi square.  Hasil penelitian menunjukan bahwa kejadian Tinea Pedis pada Petani dan Peternak ada 19 responden (31,7%) yang terinfeksi dan 41 responden (68,3) yang tidak terinfeksi