cover
Contact Name
Binov Handitya
Contact Email
library@unw.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
binovhanditya@unw.ac.id
Editorial Address
Jalan Diponegoro No 186, Ungaran, Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50228
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Rampai Jurnal Hukum
ISSN : -     EISSN : 29617219     DOI : 10.35473
Core Subject : Social,
Rampai Jurnal Hukum is a journal of law and society published by the Department of Law, Faculty of Economics, Law, and Humaniora, annually in March and December. RJH welcomes any research-based as well as concept-based manuscripts dealing with its focus and scope.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2025): Maret" : 5 Documents clear
Implementasi Nilai Pancasila sebagai Dasar Hukum Humanis Terhadap Karakter Bangsa Ar Rahiim Innash
Rampai Jurnal Hukum (RJH) Vol. 4 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/rjh.v4i1.4327

Abstract

If we observe the existing legal system in Indonesia, there is a foundational legal principle that is deeply rooted in the country, namely Bhinneka Tunggal Ika, which means "Unity in Diversity." Within Bhinneka Tunggal Ika lies the emblem of Pancasila as the cornerstone of Indonesia's national legal foundation. The values contained in Pancasila are reflected in its five principles: religious values in the first principle, humanitarian values in the second, unity in the third, democracy in the fourth, and justice in the fifth principle. Thus, society believes that the character of the Indonesian nation is embodied in Pancasila. Thought can be seen as an effort to deeply and seriously reflect on the body of knowledge and the values of Pancasila that have developed in the implementation of education in the era of globalization, which are subsequently formulated into a concept or theory. Education in Indonesia is seen as being less grounded in character education based on Pancasila, and instead tends to prioritize or even boast of an education system that focuses merely on cognitive logical reasoning.   Abstrak Jika memperhatikan hukum yang ada di Indonesia selama ini terdapat dasar hukum yang sangat melekat erat pada Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu, Dimana dalam Bhinneka Tunggal Ika terdapat simbol Pancasila sebagai prasasti dasar hukum negara Indonesia. Nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila ada 5 sila. Nilai keagamaan yaitu dalam sila 1, nilai kemanusiaan dalam sila 2, nilai persatuan dalam sila ke 3, nilai kerakyatan dalam sila 4 dan yang terakhir  nilai keadilan dalam sila 5. Dengan demikian Masyarakat menganggap bahwa karakter bangsa Indonesia tercermin melalui Pancasila. Pemikiran dapat dipandang sebagai suatu upaya untuk melakukan refleksi mendalam dan serius dalam menelaah ilmu pengetahuan serta nilai-nilai Pancasila yang berkembang dalam pelaksanaan pendidikan di era globalisasi, yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah konsep atau teori. Pendidikan di Indonesia dianggap kurang berbasis pada pendidikan karakter Pancasila, melainkan lebih mendominankan atau menyombongkan pendidikan yang takabur pada keunggulan berpikir logika kognitif belaka.
Hubungan Antara Upacara Tedak Siten dan Hukum dalam Masyarakat Jawa Az-Zahra, NAJWA
Rampai Jurnal Hukum (RJH) Vol. 4 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/rjh.v4i1.4334

Abstract

Customary law can serve as a reflection of a nation's or country's character, and even embody the spirit and soul of the relevant nation as an element of national identity. One example is the Tedhak Siten tradition. Tedhak Siten is a series of traditional rituals from the Javanese life cycle that is increasingly rare nowadays. The term 'Tedhak Siten' comes from 'Tedhak', which means 'to descend' (to step), and 'Siten' or 'Siti', which means 'earth', so Tedhak Siten is a tradition where a child steps on the ground for the first time. 1) It is therefore necessary to examine the meaning and function of the Tedhak Siten ceremony in the context of Javanese legal culture, and 2) the Tedhak Siten ceremony from the perspective of modern law, using the Descriptive Method and then the Resulst is. 1) The Tedhak Siten ceremony is not merely a cultural ritual, but also an integral part of Javanese customary legal culture that regulates both social and spiritual relationships in society. Its main functions are as a symbol of respect for nature, the development of a child's character, and the strengthening of binding social norms within the Javanese community while also serving as a cultural identity passed down through generations. 2) However, in modern times the ceremony is often overlooked as modern society tends to prioritize practicality, resulting in the Tedhak Siten tradition still being performed but with reduced materials, simpler procedures, and fewer ritual accessories.   Abstrak Hukum adat ini dapat menjadi cerminan kepribadian suatu bangsa atau negara, bahkan mewadahi jiwa dan bangsa yang bersangkutan sebagai bagian dari unsur jati diri bangsa atau unsur identitas nasional. Salah satu contohnya adat atau Tradisi Tedhak Siten. Tedhak Siten merupakan rangkaian prosesi adat tradisi daur hidup masyarakat jawa yang mulai jarang dilaksanakan. Tedhak Siten berasal dari kata Tedhak berarti turun (menapakkan kaki) dan Siten atau Siti yang artinya tanah, sehingga Tedhak Siten merupakan tradisi menginjakkan atau menapakkan kaki ke tanah bagi seorang anak. 1) Maka perlu makna dan fungsi upacara Tedak Siten dalam konteks budaya hukum masyarakat Jawa serta 2) upacara Tedak Siten dalam perspektif hukum modern dengan menggunakan Metode Deskriptif lalu menghasilkan hasil 1) Upacara Tedak Siten bukan hanya ritual budaya, tetapi juga bagian integral dari budaya hukum adat Jawa yang mengatur hubungan sosial dan spiritual masyarakat. Fungsi utamanya adalah sebagai simbol penghormatan kepada alam, pembentukan karakter anak, dan penguatan norma sosial yang mengikat dalam komunitas Jawa, sekaligus menjadi identitas budaya yang diwariskan turun-temurun 2) hal ini dipandang sebelah mata karena masyarakat kaum modern hanya lebih mengarah kepada kepraktisan, sehingga budaya hukum tedak siten tetap dilakukan namun mengalami pengurangan dalam material, pelaksanaan upacara maupun perlengkapan upacara.
Nilai Tradisi dalam Kebudayaan Hukum Mengenai Upacara Adat Nyanggring di Lamongan Affandi, AIA
Rampai Jurnal Hukum (RJH) Vol. 4 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/rjh.v4i1.4335

Abstract

Indonesia is one of the countries with considerable diversity that attracts global attention. Culture is the product of the ongoing life of a nation's society. The implementation of culture visible in community life is also very diverse, with local traditions still preserved by the people. Tradition is one form of culture that is continuously inherited. For example, the Nyanggring customary ceremony found in the village of Lamongan. This study uses the Descriptive Method.The formulation of the problem is 1)The Nyanggring Customary Ceremony in Lamongan represents the customary law system and social control mechanisms within the Tlemang Village community. 2) The implications of this coexistence on local cultural preservation and law enforcement at the community level using the Descriptive Method, where the researcher describes the detailed characteristics of a phenomenon. The results obtained are 1)The Nyanggring Customary Ceremony not only functions as a religious or cultural ritual but also serves as a significant social control mechanism and a manifestation of customary law within the Tlemang Village community. 2)The relationship between customary law as manifested in the Nyanggring Ceremony and state law in Indonesia shows a harmonious pattern of coexistence, especially after the formal recognition of this tradition.   Abstrak Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keberagaman yang cukup menyita perhatian dunia. Kebudayaan merupakan hasil dari keberlangsungan hidup masyarakat bangsa. Implementasi dari kebudayaan yang terlihat di kehidupan masyarakat juga sangat beragam dimana tradisi lokal yang masih dilestarikan oleh masyarakat. Tradisi menjadi salah satu wujud kebudayaan yang diwariskan secara terus-menerus. Seperti dengan upacara adat nyanggring yang terdapata di desa Lamongan. Penelitian ini menggunakan. Lalu rumusan 1) Upacara Adat Nyanggring di Lamongan merepresentasikan sistem hukum adat dan mekanisme kontrol sosial dalam masyarakat Desa Tlemang 2) mplikasi dari koeksistensi ini terhadap pelestarian budaya lokal dan penegakan hukum di tingkat masyarakat dengan Metode Deskriptif, dimana peneliti menggambarkan karakteristik suatu fenomena secara detail. Maka diperoleh 1) dengan adanya Upacara Adat Nyanggring tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan atau budaya semata, tetapi juga berperan sebagai mekanisme kontrol sosial yang signifikan dan manifestasi hukum adat dalam masyarakat Desa Tlemang 2) Hubungan antara hukum adat yang termanifestasi dalam Upacara Nyanggring dan hukum negara di Indonesia menunjukkan pola koeksistensi yang harmonis, terutama setelah pengakuan formal terhadap tradisi ini.
Peran Hukum Adat dalam Pelestarian Tradisi Suku Baduy di Banten Purwanti
Rampai Jurnal Hukum (RJH) Vol. 4 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/rjh.v4i1.4336

Abstract

This study examines the vital role of the customary law of the Baduy Tribe in efforts to preserve their traditions and natural order. The Baduy customary law is deeply rooted in the Sunda Wiwitan belief and the principle of "pikukuh karuhun," which emphasizes harmony with nature and maintaining ecological balance. This principle is reflected in nature conservation practices, such as protecting forests and refraining from damaging valleys, as well as in regulating social and economic life that prioritizes simplicity and honesty. Despite facing the challenges of modernization, the Baduy community continues to strive to sustain their customary law by internalizing traditional values to safeguard cultural identity and environmental preservation. The research questions are 1) What are the structure, values, and role of the Baduy Tribe’s customary law? 2) How is the synergy between the indigenous community and the government in preserving traditions? Using qualitative methods to gain a deep and comprehensive understanding of the role and participation in this phenomenon, with a case study on the Baduy community in Banten, the study finds that 1) The core values of Baduy customary law are simplicity, honesty, mutual cooperation (gotong royong), and harmony with nature, serving as a system for cultural control. 2) The government plays a very important and strategic role in supporting the preservation of the Baduy community’s customary laws and traditions. Holding regulatory and administrative authority, the government can formulate policies that support indigenous communities and protect cultural existence from external threats.   Abstrak Penelitian ini mengkaji peran vital hukum adat Suku Baduy dalam upaya pelestarian tradisi dan tatanan alam mereka. Hukum adat Baduy berakar kuat pada kepercayaan Sunda Wiwitan dan prinsip "pikukuh karuhun," yang menekankan keselarasan dengan alam dan menjaga keseimbangan ekologi. Prinsip ini diwujudkan dalam konservasi alam, seperti menjaga hutan dan tidak merusak lembah, serta dalam pengaturan kehidupan sosial dan ekonomi yang mengutamakan kesederhanaan dan kejujuran. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi, masyarakat Baduy terus berupaya mempertahankan keberlangsungan hukum adat mereka dengan menginternalisasi nilai-nilai tradisional untuk menjaga identitas budaya dan pelestarian lingkungan. Lalu 1) Seperti apa struktur, nilai-nilai, serta peran hukum adat Suku Baduy 2) Sinergi antara Masyarakat adat dan pemerintah dalam pelestarian tradisi dengan menggunakan metode kualitatif yaitu untuk mendapatkan pemahman yang mendalam dan komprehensif mengenai fenomena peran serta dengan studi kasus pada Masyarakat di suku Baduy Banten lalu menghasilkan 1) Nilai utama hukum adat Baduy adalah kesederhanaan, kejujuran, gotong royong, dan harmoni dengan alam serta sebagai sistem pengendali budaya 2) Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam membantu pelestarian hukum adat dan tradisi masyarakat Suku Baduy memiliki kekuasaan regulatif dan administratif, pemerintah dapat menciptakan kebijakan yang berpihak pada masyarakat adat serta melindungi eksistensi budaya dari ancaman eksternal
Dinamika Pengaturan Simbol Negara dan Kebebasan Ekspresi Terhadap Polemik Mengenai Bendera One Piece Rosid, Ibnu
Rampai Jurnal Hukum (RJH) Vol. 4 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/rjh.v4i1.4351

Abstract

Independence Day is an event that should be celebrated, especially in Indonesia. Many activities are conducted, such as flag-raising ceremonies and lively competitions, but the most common way is by flying the red-and-white flag, both at home and in every institution, which is required to do so in commemoration of Independence Day. However, what if there emerges a new symbolic gesture from society where people start raising flags from the anime series One Piece as a symbol of freedom of expression in response to the weakening of law in the country? This would naturally generate various reactions from political figures, some opposing while others consider it mere creativity. This study employs a case study method, which has become prominent ahead of Indonesia's 80th Independence Day, exploring aspects of positive law, human rights, and the political legal implications in Indonesia. It also highlights past events with similar cases, finding that the raising of flags or other symbols is permitted as long as it does not intend to insult Indonesia's sovereignty or establish its own sovereignty. Furthermore, the symbol or flag must not be flown at the same level as the Indonesian flag.   Abstrak Hari kemerdekaan adalah hal yang sudah semestinya dirayakan terutama di Indonesia, banyak hal yang dilakukan seperti melakukan upacara bendera, merayakan dengan lomba yang meriah, namun yang paling umum adalah dengan mengibarkan bendera merah-putih baik itu di rumah bahkan hingga setiap instansi diwajibkan untuk mengibarkan bendera merah-putih demi memperingati hari kemerdekaan. Namun bagaimanakah jika muncul simbolik baru dari masyarakat yang mulai mengibarkan bendera dari serial anime one piece sebagai simbol untuk kebebasan berekspresi terhadap negara yang hukumnya sedang melemah?. Hal ini pastinya memunculkan banyak reaksi dari tokoh-tokoh politik entah itu menentang atau hanya menganggap hal itu hanyalah kreativitas belaka. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang kini ramai menjelang kemerdekaan ke-80 Indonesia. Dengan kajian terhadap hukum positif dan hak asasi manusia serta implikasi politik hukum di Indonesia. Serta mengangkat kejadian pada masa lalu dengan kasus yang sama dengan hasil bahwa pengibaran bendera atau simbolik lainnya diperbolehkan saja asalkan tidak memiliki maksud untuk menghina kedaulatan Indonesia dan tidak dengan maksud untuk mendirikan kedaulatannya sendiri dan pastinya dengan syarat bahwa simbol atau bendera tersebut tidak sejajar dengan bendera Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 5