cover
Contact Name
Firman Firdausi
Contact Email
journal.issr@gmail.com
Phone
+6285230383570
Journal Mail Official
journal.issr@gmail.com
Editorial Address
Perum Pesona Mutiara, Karangwidoro, Dau, Kabupaten Malang 65151
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Social Science Review
ISSN : 30260035     EISSN : 30257352     DOI : -
This paper is a means of scientific communication in social science fields such as Sociology, Administration, Communication, Politics, Law and Public Policy.
Articles 47 Documents
Keamanan Personal Masyarakat Sipil dalam Konflik Bersenjata: Kegagalan Perlindungan Internasional pada Blokade Koridor Lachin (2022–2023) Wafa Wafa; Abdullah Abdullah
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.401

Abstract

This study examines the limitations of personal security protection for civilians in situations of armed conflict, focusing on the Lachin Corridor Blockade of 2022–2023. The central problem addressed is the gap between the international normative recognition of human security and the realities of protection on the ground, which remain dominated by state sovereignty interests. This study aims to analyze the blockade's impact on the dimensions of individual security, identify the instruments of state sovereignty used to restrict humanitarian access, and evaluate the structural limitations of international protection mechanisms. The method employed is qualitative, using an explanatory case study design, with secondary data drawn from reports by international and humanitarian organizations, official documents, academic articles, and media coverage, analyzed through thematic analysis. The findings show that the blockade created systemic threats through structural physical violence, disruption of daily life patterns, and loss of confidence in the future for approximately 120,000 ethnic Armenian residents. The failure of protection stemmed from two mutually reinforcing mechanisms: the instrumentalization of sovereignty by Azerbaijan and the geopolitical paralysis of the Russian Peacekeepers in fulfilling their formal mandate. In conclusion, civilian protection within the international system remains fragile and dependent on the political will of sovereign states, underscoring a structural institutional failure in the implementation of the human security norm. Penelitian ini mengkaji keterbatasan perlindungan keamanan personal (personal security) masyarakat sipil dalam situasi konflik bersenjata, dengan fokus pada Blokade Koridor Lachin periode 2022–2023. Masalah utama penelitian ini adalah kesenjangan antara pengakuan normatif terhadap human security secara internasional dan realitas perlindungan di lapangan yang masih didominasi kepentingan kedaulatan negara. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak blokade terhadap dimensi keamanan individu, mengidentifikasi instrumen kedaulatan negara yang digunakan untuk membatasi akses kemanusiaan, serta mengevaluasi keterbatasan struktural mekanisme perlindungan internasional. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus eksplanatif, menggunakan data sekunder dari laporan lembaga internasional dan kemanusiaan, dokumen resmi, artikel akademik, serta pemberitaan media, yang dianalisis melalui teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blokade menciptakan ancaman sistemik melalui kekerasan fisik struktural, disrupsi pola hidup sehari-hari, dan hilangnya kepastian masa depan bagi sekitar 120.000 penduduk etnik Armenia. Kegagalan perlindungan bersumber dari dua mekanisme yang saling memperkuat: instrumentalisasi kedaulatan oleh Azerbaijan dan kelumpuhan geopolitik Russian Peacekeepers dalam menjalankan mandat formalnya. Kesimpulannya, perlindungan masyarakat sipil dalam sistem internasional bersifat rapuh dan bergantung pada kehendak politik negara berdaulat, menegaskan adanya kegagalan institusional struktural dalam implementasi norma human security.
Local Currency Transaction sebagai Instrumen Kedaulatan Moneter Regional: Analisis Kepemimpinan Indonesia melalui QRIS Cross-Border di ASEAN Muhammad Abdurrohim; Flori Mardiani Lubis; Prilla Marsingga
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.410

Abstract

The rapid digitalization of Southeast Asia's payment systems has positioned the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) as more than a domestic financial innovation, raising the question of how a technical payment standard can be converted into projections of regional influence in a region that normatively rejects coercive power. This study aims to analyze how Indonesia leverages QRIS Cross-Border as an instrument of non-coercive regional leadership within ASEAN's payment architecture. Employing a liberal-institutionalist approach and Oran R. Young's theory of regional leadership, encompassing structural, entrepreneurial, and intellectual leadership, this qualitative library research examines secondary data from central bank documents, international financial institution reports, and academic literature published between 2019 and 2026. The findings show that Indonesia's leadership operates through two interlocking pathways, namely strengthening regional monetary sovereignty through Local Currency Transactions, and institutionalizing QRIS's inclusive technical standards as a regional public good legitimized through Indonesia's 2023 ASEAN Chairmanship. However, this functional legitimacy remains at a consolidation stage, constrained by currency asymmetries among member states and reliance on ad hoc bilateral agreements rather than a binding multilateral regime. These findings contribute conceptually to the study of non-coercive regional leadership among developing states and inform policymakers on the strategic value of digital diplomacy in shaping regional financial architecture. Pesatnya digitalisasi sistem pembayaran di Asia Tenggara menempatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai lebih dari sekadar inovasi finansial domestik, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang bagaimana sebuah standar teknis pembayaran dapat dikonversi menjadi proyeksi pengaruh regional di kawasan yang secara normatif menolak kekuasaan koersif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Indonesia memanfaatkan QRIS Cross-Border sebagai instrumen kepemimpinan regional yang bersifat non-koersif dalam arsitektur pembayaran ASEAN. Dengan menggunakan pendekatan liberal-institusionalisme dan teori kepemimpinan regional Oran R. Young, yang mencakup kepemimpinan struktural, kewirausahaan, dan intelektual, penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini menelaah data sekunder dari dokumen bank sentral, laporan lembaga keuangan internasional, serta literatur akademik yang terbit antara 2019 hingga 2026. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Indonesia bekerja melalui dua jalur substantif yang saling melengkapi, yaitu penguatan kedaulatan moneter kawasan melalui Local Currency Transaction, dan pelembagaan standar teknis QRIS yang inklusif sebagai barang publik regional yang memperoleh legitimasi melalui Keketuaan ASEAN 2023. Meskipun demikian, legitimasi fungsional ini masih berada pada tahap konsolidasi, dibatasi oleh asimetri stabilitas mata uang antarnegara anggota serta ketergantungan pada kesepakatan bilateral ad hoc, bukan rezim multilateral yang mengikat. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual bagi kajian kepemimpinan regional non-koersif di negara berkembang, sekaligus memberi masukan bagi pembuat kebijakan mengenai nilai strategis diplomasi digital dalam membentuk arsitektur keuangan kawasan.  
Limbah sebagai Instrumen Diplomasi: Kebijakan Impor Limbah Swedia dalam Kerangka Ekonomi Sirkular dan Tata Kelola Lingkungan Global Muhamad Rifqy Syahputra Suhaimi; Nurbani Adine Gustianti
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.411

Abstract

Global urban waste is projected to reach 3.8 billion tons by 2050, prompting countries to seek alternative management approaches. However, cross-border waste trade remains perceived as an ambiguous balance between environmental solutions and burden-shifting concerns. This study analyzes how Sweden's circular economy drives transnational waste imports through the framework of environmental diplomacy. In circular economy logic, waste imports result from successfully closing the domestic material cycle. Having minimized domestic residual waste, Sweden expands its circularity transnationally by converting foreign waste into energy. Using a qualitative descriptive-analytical case study approach with secondary data from academic literature, policy documents, and the UN Comtrade database, this study reveals that the success of Sweden’s Waste-to-Energy system creates a structural paradox—a dependence on imported waste. This phenomenon highlights three dimensions of environmental diplomacy: environmental governance via cross-border resource management, global environmental governance through adherence to the Basel Convention and prior informed consent mechanisms, and environmental peacebuilding through institutional interdependence and trust. Ultimately, Swedish waste imports illustrate how environmental issues can serve as diplomatic instruments to foster international cooperation while supporting a sustainable energy transition. Proyeksi peningkatan limbah perkotaan global hingga 3,8 miliar ton pada 2050 mendorong pencarian pendekatan pengelolaan sampah alternatif. Namun, perdagangan limbah lintas batas masih dipersepsikan ambigu antara solusi lingkungan dan pemindahan beban. Penelitian ini menganalisis bagaimana penerapan ekonomi sirkular di Swedia mendorong impor limbah melalui kerangka diplomasi lingkungan. Dalam logika ekonomi sirkular, impor limbah merupakan konsekuensi dari keberhasilan menutup siklus material domestik. Saat limbah residu domestik hampir habis, Swedia memperluas sirkularitasnya ke tingkat transnasional dengan menjadikan sampah luar negeri sebagai bahan bakar energi. Penelitian kualitatif studi kasus deskriptif-analitis ini menggunakan data sekunder dari literatur akademik, dokumen kebijakan, dan basis data UN Comtrade. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sistem Waste-to-Energy Swedia menciptakan paradoks struktural berupa ketergantungan pada pasokan limbah asing. Fenomena ini mencerminkan tiga dimensi diplomasi lingkungan: environmental governance melalui pengelolaan sumber daya lintas batas, global environmental governance melalui kepatuhan pada Konvensi Basel dan mekanisme prior informed consent, serta environmental peacebuilding melalui interdependensi dan kepercayaan antarnegara. Impor limbah Swedia membuktikan bahwa isu lingkungan dapat menjadi instrumen diplomasi yang mendorong kerja sama internasional dan transisi energi berkelanjutan.
Integrasi Komunikasi Formal-Informal sebagai Akselerator Budaya Hospitality di Industri Perhotelan Fazar Ramadhan; Dwi Prasetyo
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.424

Abstract

The hospitality industry operates under rapid, 24-hour service demands, making interdepartmental communication critical to guest experience. This qualitative intrinsic case study examines how formal and informal communication are integrated to strengthen hospitality culture at Hotel Shangri-La Surabaya. Data were collected through semi-structured interviews with six informants from Food and Beverage, Front Office, Housekeeping, Banquet, and Guest Relations and analyzed thematically. Four interrelated themes emerged: formal direction, informal adaptation, feedback and correction, and cultural reinforcement. Formal channels such as briefings, BITE meetings, SOPs, and email align service standards and priorities, while WhatsApp groups, handy talkies, and face-to-face coordination enable rapid operational adaptation. Feedback, leader-mediated interpretation, and message redundancy reduce communication distortion, whereas respect, ownership, teamwork, and appreciation reinforce hospitality behavior. Barriers include unread digital messages, misinterpreted chat tone, shift gaps, and sudden operational changes. The study proposes a four-stage communication model linking organizational direction, real-time adaptation, corrective feedback, and cultural reinforcement to empathy, responsiveness, personalization, and service recovery. Industri perhotelan beroperasi dalam tuntutan layanan 24 jam yang cepat, sehingga komunikasi antardepartemen menjadi faktor kritis bagi pengalaman tamu. Studi kasus intrinsik kualitatif ini mengkaji bagaimana komunikasi formal dan informal diintegrasikan untuk memperkuat budaya hospitality di Hotel Shangri-La Surabaya. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan enam informan dari Food and Beverage, Front Office, Housekeeping, Banquet, dan Guest Relations, kemudian dianalisis secara tematik. Analisis menghasilkan empat tema yang saling berkaitan: formal direction, informal adaptation, feedback and correction, dan cultural reinforcement. Kanal formal seperti briefing, BITE meeting, SOP, dan email menyelaraskan standar serta prioritas layanan, sedangkan grup WhatsApp, handy talky, dan koordinasi tatap muka memungkinkan adaptasi operasional secara cepat. Umpan balik, penerjemahan informasi oleh pemimpin, dan redundansi pesan mengurangi distorsi komunikasi, sementara respek, ownership, teamwork, dan apresiasi memperkuat perilaku hospitality. Hambatan meliputi pesan digital yang tidak terbaca, salah tafsir nada chat, kesenjangan shift, dan perubahan operasional mendadak. Penelitian ini menawarkan model komunikasi empat tahap yang menghubungkan arahan organisasi, adaptasi real-time, koreksi umpan balik, dan penguatan budaya dengan empati, responsivitas, personalisasi, dan service recovery.
Kontra-Narasi Simbolik Krisis Legitimasi Polri: Konstruksi Personal Branding Humanis Aipda Purnomo pada Akun TikTok @purnomobelajarbaik_ Arrasyidin Daffatyar Tatah Bayu Erlangga; Ferry Adhi Dharma
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.426

Abstract

This study aims to analyze the construction of Aipda Purnomo's humanistic personal branding on the TikTok account @purnomobelajarbaik_. The account, which accumulated 3.3 million followers as of January 20, 2026, serves as a symbolic counter-narrative strategy in responding to the legitimacy crisis of the Indonesian National Police (Polri). Grounded in the personal branding framework of Montoya & Vandehey, this research employs an interpretative qualitative approach utilizing qualitative content analysis on three pinned posts prioritized by Purnomo. The findings indicate that Aipda Purnomo's personal branding is consistently built upon eight primary personal branding elements: specialization, leadership, personality, distinctiveness, visibility, personal–professional identity unity, persistence, and goodwill. The main findings demonstrate that personal branding practices based on humanistic values, tangible actions, and reflective narratives effectively serve as a symbolic counter-narrative against the negative institutional image of the police in the digital sphere. This research contributes to the literature on public sector personal branding by illustrating that the personal branding of state apparatuses functions not merely as an individual self-presentation strategy, but also as a communication mechanism capable of restoring public trust amid institutional legitimacy crises. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi personal branding humanis Aipda Purnomo melalui akun TikTok @purnomobelajarbaik_. Akun yang telah memiliki 3,3 juta followers per 20 Januari 2026 ini dimanfaatkan sebagai strategi kontra-narasi simbolik dalam merespons krisis legitimasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Berangkat dari perspektif personal branding Montoya & Vandehey, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan metode analisis isi kualitatif terhadap tiga unggahan yang disorot (pinned content) karena dianggap penting oleh Purnomo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding Aipda Purnomo dibangun secara konsisten melalui delapan elemen utama personal branding, yaitu spesialisasi, kepemimpinan simbolik, kepribadian, keunikan, visibilitas, kesatuan identitas personal–profesional, keteguhan pesan, dan pembentukan nama baik (goodwill). Temuan utama penelitian ini memperlihatkan bahwa praktik personal branding berbasis nilai kemanusiaan, tindakan nyata, dan narasi reflektif mampu berfungsi sebagai kontra-narasi simbolik terhadap citra negatif institusi kepolisian di ruang digital. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian personal branding sektor publik dengan menunjukkan bahwa personal branding aparat negara tidak hanya berfungsi sebagai strategi pencitraan individual, tetapi juga sebagai mekanisme komunikasi yang berpotensi memulihkan kepercayaan publik dalam situasi krisis legitimasi institusional.
Agile Leadership Pemerintah Daerah dalam Menghadapi Keterbatasan Fiskal dan Sumber Daya di Era Program Makan Bergizi Gratis Alisha Azzahra; Mochammad Rozikin
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.434

Abstract

The spending efficiency policy outlined in Presidential Instruction No. 1 of 2025, alongside the implementation of the Free Nutritious Meals Program (MBG), presents new challenges for local governments, particularly regarding fiscal constraints and organizational resources. The reduction in Regional Transfer Allocations (TKD) amid increasing demands for national priority programs has the potential to undermine development capacity and public service quality. This study aims to analyze the impact of budget efficiency policies and the implementation of the MBG Program on local government fiscal capacity and to formulate agile leadership strategies as a strategic management approach to address resource constraints. This study employs a qualitative approach with a documentary case study design, analyzing 42 secondary documents comprising government regulations, official reports, academic literature, and credible mass media reports. Data were analyzed using the interactive model by Miles, Huberman, and Saldaña, involving data condensation, data display, and drawing conclusions. The results indicate that budget efficiency policies significantly affect local fiscal capacity, human resource management, and infrastructure development. In addressing these conditions, agile leadership is effectively formulated through four key strategic pillars: fiscal agility, lean governance, collaborative value creation, and people-first transformation. This study concludes that agile leadership serves as a responsive strategic leadership model for enhancing local bureaucratic adaptability to maintain public service sustainability amid fiscal pressure. Kebijakan efisiensi belanja melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan tantangan baru bagi pemerintah daerah, khususnya terkait keterbatasan fiskal dan sumber daya organisasi. Penurunan alokasi Transfer ke Daerah (TKD) di tengah meningkatnya tuntutan pelaksanaan program prioritas nasional berpotensi mengganggu kapasitas pembangunan dan kualitas pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan efisiensi anggaran dan implementasi Program MBG terhadap kapasitas fiskal pemerintah daerah serta merumuskan strategi agile leadership sebagai pendekatan manajemen strategis dalam menghadapi keterbatasan sumber daya. Penelitian kualitatif ini menggunakan desain studi kasus berbasis dokumen (documentary case study) terhadap 42 dokumen sekunder yang mencakup regulasi, laporan resmi pemerintah, literatur akademik, dan berita media kredibel. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahap kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan efisiensi anggaran berdampak signifikan terhadap kapasitas fiskal daerah, pengelolaan sumber daya manusia aparatur, dan pembangunan infrastruktur. Dalam merespons kondisi tersebut, agile leadership terformulasi secara efektif melalui empat pilar strategi utama, yaitu fiscal agility, lean governance, collaborative value creation, dan people-first transformation. Penelitian ini menyimpulkan bahwa agile leadership merupakan model kepemimpinan strategis yang responsif dalam meningkatkan adaptabilitas birokrasi daerah guna menjaga keberlanjutan pelayanan publik di tengah tekanan fiskal.
Dialektika Teori Kontrak Sosial dan Pancasila dalam Penguatan Peran Civil Society di Indonesia Akhirul Aminulloh; Abd. Mu'id Aris Shofa; Firman Firdausi; Emei Dwinanarhati Setiamandani
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.459

Abstract

Pancasila as the Staatsfundamentalnorm faces substantive challenges in the era of disruption, characterized by the waning understanding of national values among the younger generation and growing public mistrust toward the government. This study aims to analyze the role of civil society in internalizing Pancasila values and shaping civic character. Utilizing a normative juridical method with a legal philosophy and statutory approach, this research compares the social contract theories of John Locke and Jean-Jacques Rousseau within the framework of Pancasila. The results show that Indonesian civil society continues to uphold the noble virtues of Pancasila through the manifestation of social solidarity (the "warga jaga warga" phenomenon) as a form of social contract between the people and the state. However, the power of civil society remains largely fragmented at the level of community groups or Non-Governmental Organizations (NGOs). This condition is driven by a lack of effective communication channels and the prevalence of meaningless participation in public policy formulation. This study concludes that civil society groups play a crucial role in shaping civic character; thus, expanding meaningful public participation spaces and strengthening legal instruments are essential requirements for realizing a balanced Pancasila democracy. Pancasila sebagai Staatsfundamentalnorm menghadapi tantangan substantif pada era disrupsi, yang ditandai oleh memudarnya pemahaman nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda serta menguatnya krisis kepercayaan (untrust) publik terhadap pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran masyarakat sipil (civil society) dalam menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dan membentuk karakter warga negara. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan filsafat hukum dan perundang-undangan, mengomparasikan teori kontrak sosial John Locke dan Jean-Jacques Rousseau dalam kerangka Pancasila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa civil society di Indonesia masih memegang teguh nilai luhur Pancasila melalui manifestasi solidaritas sosial (fenomena warga jaga warga) sebagai wujud kontrak sosial antara rakyat dan negara. Namun, kekuatan masyarakat sipil saat ini masih cenderung terfragmentasi pada tingkat kelompok atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kondisi ini dipicu oleh minimnya saluran komunikasi yang efektif serta maraknya meaningless participation dalam proses pembentukan kebijakan publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelompok masyarakat sipil memegang peran krusial dalam pembentukan karakter warga negara, sehingga pembukaan ruang partisipasi publik yang bermakna dan penguatan instrumen hukum menjadi syarat mutlak dalam mewujudkan demokrasi Pancasila yang seimbang.