cover
Contact Name
Firman Firdausi
Contact Email
journal.issr@gmail.com
Phone
+6285230383570
Journal Mail Official
journal.issr@gmail.com
Editorial Address
Perum Pesona Mutiara, Karangwidoro, Dau, Kabupaten Malang 65151
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Social Science Review
ISSN : 30260035     EISSN : 30257352     DOI : -
This paper is a means of scientific communication in social science fields such as Sociology, Administration, Communication, Politics, Law and Public Policy.
Articles 40 Documents
Manajemen Pelaporan Keuangan Digital Melalui Sistem Keuangan Desa (SISKEUDES) Di Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Magi Diala, Cindy Claudia; Setiawan, MN Romi A; Bagus, Nanang
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.185

Abstract

The implementation of digital financial management at the village level remains a critical issue, particularly in ensuring transparency, accountability, and the quality of financial reporting. Although the Village Financial System (SISKEUDES) has been widely adopted, empirical studies examining how this system supports digital financial reporting management at the village level are still limited. This study aims to analyze the management of digital financial reporting through SISKEUDES and to identify the supporting and inhibiting factors in its implementation in Kalisongo Village, Dau District, Malang Regency. The study adopts a qualitative descriptive approach, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data were analyzed using reduction, display, and conclusion-drawing techniques. The analysis is guided by the qualitative characteristics of financial reporting in the public sector, including relevance, reliability, understandability, and comparability. The findings indicate that the implementation of SISKEUDES in Kalisongo Village has improved the quality of digital financial reporting, particularly in terms of accuracy, efficiency, and transparency. However, several challenges remain, especially related to internet connectivity and technical constraints. Overall, SISKEUDES plays a significant role in strengthening digital financial reporting management at the village level, although continuous system and infrastructure improvements are still required. Penerapan pengelolaan keuangan digital di tingkat desa masih menjadi isu penting, terutama dalam mewujudkan transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pelaporan keuangan. Meskipun Sistem Keuangan Desa (SISKEUDES) telah banyak digunakan, kajian yang membahas secara empiris pengelolaan pelaporan keuangan digital di tingkat desa masih terbatas. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pelaporan keuangan digital melalui SISKEUDES serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam penerapannya di Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis didasarkan pada karakteristik kualitas laporan keuangan sektor publik, yaitu relevan, andal, mudah dipahami, dan dapat dibandingkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan SISKEUDES di Desa Kalisongo mampu meningkatkan kualitas pelaporan keuangan digital, terutama dari sisi ketepatan, efisiensi, dan transparansi. Namun demikian, masih terdapat kendala, terutama terkait keterbatasan jaringan internet dan aspek teknis sistem. Secara keseluruhan, SISKEUDES berperan penting dalam memperkuat manajemen pelaporan keuangan digital di tingkat desa, meskipun perbaikan sistem dan infrastruktur tetap diperlukan.
Rethinking Media Ethics in the Digital Age: Toward a Framework for Alternative Media Control Katamba, Muzafalu
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.335

Abstract

The growth of alternative media has challenged traditional media practices and structures, enabling new ways for participatory journalism and digital activism. However, the ethical frameworks governing these alternative platforms remain unclear and under theorized, largely operating in an ethical vacuum or borrowing from mainstream media ethics to guide online performances. This article identifies a critical ethical gap in alternative media practices. Through a systematic literature review, it examines the ethical tensions and regulatory gaps that emerge when non-professional actors engage in production of media content for public consumption. This article proposes principles for creating ethical guidelines that match with the values of transparence and inclusivity in the digital age. It guides to understand the present setting of media ethical frameworks, focusing on how ethical frameworks can be transformed to meet digital age’s dynamic nature, helping policymakers, media practitioners, assess the implications and guide future studies. The article concludes that alternative media ethics are inevitable in the current digital environment and they offer theoretical guidance for producers and consumers to be free in the production and consumption of media content especially online content ethically, creating something different from the known mainstream media ethics purposely to help in regulating alternative media in the digital era for better services.
Implementasi Program PRLB dalam Mendorong Transformasi Sistem Pertanian di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur Caurelysia, Nasha Presly; Marsetyanti, Aliza Dwi Kusuma; Al Faris, Zaldi; Hariyoko, Yusuf
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.345

Abstract

Ngawi Regency, a national rice granary, introduced the Sustainable Environmentally Friendly Agriculture Program (PRLB) in 2020 to shift from chemical-heavy farming to sustainable organic practices. This qualitative study analyzes the program’s implementation in Paron District using the Van Meter and Van Horn model, focusing on policy standards, resources, interorganizational communication, and agency characteristics. The findings reveal a paradox: while the program offers clear standards—such as using local microorganisms (MOL) and owl-based pest control—and provides adequate structural support (including competent extension workers and effective communication), the farmer adoption rate remains low at only 35–40%. The research demonstrates that structural success is insufficient when implementation requires fundamental behavioral shifts. While resources and agency capacity are strong, adoption is stifled by deep-seated psychosocial factors: conventional habits, a preference for convenience, and resistance to change. Furthermore, the effectiveness of communication channels is heavily mediated by the influence of social opinion leaders. Ultimately, this study concludes that successful policy implementation for behavioral change requires integrating structural-institutional frameworks with behavioral sociology. Policymakers must recognize that farmers act based on practical rationality and socio-cultural contexts, meaning structural inputs alone cannot guarantee the transition to sustainable agricultural practices. Kabupaten Ngawi, sebagai lumbung padi nasional, menghadapi tantangan penurunan produktivitas akibat ketergantungan pupuk kimia. Sebagai solusi, Program Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) diluncurkan pada 2020 untuk mentransformasi sistem pertanian menuju praktik organik. Penelitian kualitatif ini menganalisis implementasi PRLB di Kecamatan Paron menggunakan model Van Meter dan Van Horn. Hasil penelitian menunjukkan adanya paradoks implementasi. Secara struktural, program ini memiliki standar kebijakan yang jelas (seperti penggunaan MOL dan burung hantu) serta didukung agen pelaksana yang kompeten dengan komunikasi antarorganisasi yang baik. Namun, tingkat adopsi petani hanya mencapai 35–40%. Analisis mendalam mengungkap bahwa hambatan utama bukan terletak pada sumber daya fisik, melainkan pada faktor psikososial petani. Path dependency (ketergantungan pada pola lama), preferensi terhadap kepraktisan kimiawi, dan resistensi budaya menjadi variabel mediator yang menghambat aksi nyata. Meskipun input struktural memadai, efektivitas program sangat bergantung pada validasi sosial dan peran opinion leaders. Temuan ini memperkaya model Van Meter dan Van Horn dengan menegaskan bahwa kebijakan yang menuntut perubahan perilaku fundamental tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan struktural-institusional. Diperlukan integrasi sosiologi perilaku yang memahami kelompok sasaran sebagai aktor dengan rasionalitas praktis dalam konteks sosial-budaya spesifik.
Pemanfaatan Instagram sebagai Media Edukasi Investasi: Analisis Multimodal Akun @AKADEMICRYPTOCOM Bisri, Ahmad Vicky Nihalani; Elviria, Samia; Yusnaini, Yusnaini
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.368

Abstract

This study aims to analyze the use of Instagram as a medium for cryptocurrency investment education on the account @akademicryptocom through a multimodal content analysis approach. The analytical framework is based on multimodality theory developed by Gunther Kress and Theo van Leeuwen, which emphasizes the integration of various semiotic modes in meaning-making. This research employs a qualitative method using observation and documentation techniques on Feed and Reels content published by the account. The analysis focuses on how textual, visual; audio, movement, and layout elements are constructed to convey educational messages related to cryptocurrency investment. The findings indicate that @akademicryptocom utilizes visual strength, informative design, and relatively simple language to enhance audience understanding. The integration of these multimodal elements contributes to the development of systematic and accessible educational content for social media users. However, the effectiveness of educational communication still faces several challenges, including limited two-way interaction, the use of technical terms that are not fully simplified, and potential distractions inherent in the social media environment. This study highlights that optimizing multimodal strategies is essential for improving the quality and effectiveness of cryptocurrency investment education on Instagram. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan Instagram sebagai media edukasi investasi kripto pada akun @akademicryptocom melalui pendekatan analisis konten multimodal. Kerangka analisis mengacu pada teori multimodalitas yang dikembangkan oleh Gunther Kress dan Theo van Leeuwen, yang menekankan integrasi berbagai mode semiotik dalam membangun makna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik observasi dan dokumentasi terhadap konten Feed dan Reels yang dipublikasikan akun tersebut. Analisis difokuskan pada bagaimana elemen teks, visual, audio, gerak, dan tata letak dikonstruksi untuk menyampaikan pesan edukatif terkait investasi kripto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun @akademicryptocom memanfaatkan kekuatan visual, desain informatif, serta penggunaan bahasa yang relatif sederhana untuk meningkatkan pemahaman audiens. Integrasi elemen multimodal tersebut berkontribusi dalam membangun pesan yang lebih sistematis dan mudah diakses oleh pengguna media sosial. Namun demikian, efektivitas komunikasi edukatif masih menghadapi beberapa hambatan, antara lain keterbatasan interaksi dua arah, penggunaan istilah teknis yang belum sepenuhnya disederhanakan, serta potensi distraksi yang melekat pada karakteristik platform media sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa optimalisasi strategi multimodal menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas komunikasi edukasi investasi kripto di Instagram.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Implikasi Sosial, Ekonomi, dan Politik terhadap Masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia Beruh, Mustapa Kamil Alga; Lusiana, Lusiana
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.380

Abstract

The Free Nutritious Meals Program (MBG) is a national strategic policy aimed at enhancing human capital quality through nutritional intervention. This study aims to analyze the social, economic, and political implications of the MBG program for the community in Aceh Tenggara Regency. The method employed is a qualitative descriptive approach with a case study design. Data were gathered through in-depth interviews with 10 key informants, including education authorities, school administrators, MSME caterers, and parents, supplemented by a review of regional development documents. The findings indicate that in Aceh Tenggara, the MBG program successfully stimulates the local agricultural sector by absorbing regional commodities such as rice and highland vegetables, while creating new employment opportunities for village-level cooks and distributors. Socially, the program significantly reduces the daily expenditure burden on farming households and improves students' learning readiness. However, politically, the study identifies a risk of local-level program instrumentalization, where food vendor selection mechanisms are vulnerable to political patronage practices by village elites. This study concludes that the long-term effectiveness of the MBG program requires standardized procurement transparency and the strengthening of Village-Owned Enterprises (BUMDes) to minimize practical political interference in aid distribution. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui intervensi gizi. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi sosial, ekonomi, dan politik program MBG terhadap masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 10 informan kunci yang terdiri dari otoritas pendidikan, pengelola sekolah, pelaku UMKM jasa boga, dan orang tua siswa, serta didukung oleh studi dokumen laporan pembangunan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Aceh Tenggara, MBG berhasil menstimulasi sektor pertanian lokal melalui penyerapan komoditas unggulan seperti beras dan sayuran pegunungan, serta menciptakan lapangan kerja baru bagi tenaga masak dan distribusi di tingkat desa. Secara sosial, program ini mengurangi beban pengeluaran harian rumah tangga tani secara signifikan dan meningkatkan kesiapan belajar siswa. Namun secara politik, penelitian ini menemukan adanya risiko instrumentalisasi program di tingkat lokal, di mana mekanisme penentuan vendor penyedia makanan rentan terhadap praktik patronase politik elit desa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas jangka panjang MBG memerlukan standarisasi transparansi pengadaan dan penguatan peran BUMDes untuk meminimalisir intervensi politik praktis dalam distribusi bantuan.  
Digitalisasi Administrasi Tugas Akhir melalui Sistem E-JB di FISIP Universitas Tribhuwana Tunggadewi Zaini, Alya Fattika; Chornelia Wulandary, Roro Merry; Suprojo, Agung; Najih, Aizun
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.187

Abstract

This study aims to evaluate the implementation of the Electronic Title and Guidance (E-JB) system at the Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, as a strategic response to inefficient manual administrative processes. The research employs a qualitative descriptive approach, utilizing semi-structured interviews with faculty leaders and students, field observations, and documentation as primary data collection techniques. The results indicate that the E-JB system significantly enhances administrative efficiency by reducing title submission processing time from seven days to approximately three days. Furthermore, the system promotes transparency through real-time tracking of academic status and contributes to environmental sustainability by minimizing paper consumption. However, the study identifies critical implementation barriers, including user resistance due to varying levels of digital literacy and technical constraints such as unstable internet connectivity and hardware limitations. In conclusion, while the E-JB system successfully modernizes academic services and accelerates bureaucratic workflows, its long-term effectiveness depends on comprehensive digital literacy training and infrastructure optimization. This study provides a foundational framework for higher education institutions seeking to navigate digital transformation while mitigating the socio-technical challenges inherent in transitioning from conventional to integrated digital administrative models. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi sistem Elektronik Judul dan Bimbingan (E-JB) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, sebagai respons strategis terhadap ketidakefisienan proses administrasi manual. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semiterstruktur bersama pimpinan fakultas dan mahasiswa, observasi lapangan, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem E-JB secara signifikan meningkatkan efisiensi administrasi dengan memangkas waktu pemrosesan pengajuan judul dari tujuh hari menjadi sekitar tiga hari. Lebih lanjut, sistem ini mendorong transparansi melalui pelacakan status akademik secara real-time dan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dengan meminimalkan konsumsi kertas. Namun, penelitian ini mengidentifikasi hambatan implementasi yang kritis, termasuk resistensi pengguna akibat tingkat literasi digital yang bervariasi serta kendala teknis seperti konektivitas internet yang tidak stabil dan keterbatasan perangkat keras. Kesimpulannya, meskipun sistem E-JB berhasil memodernisasi layanan akademik dan mempercepat alur kerja birokrasi, efektivitas jangka panjangnya bergantung pada pelatihan literasi digital yang komprehensif dan optimalisasi infrastruktur. Penelitian ini memberikan kerangka dasar bagi institusi pendidikan tinggi yang berupaya melakukan transformasi digital sembari memitigasi tantangan sosio-teknis yang melekat dalam transisi dari model administrasi konvensional ke digital terintegrasi.
Just Energy Transition dalam Hubungan Internasional Kontemporer: Debat, Kontestasi, dan Politik Keadilan Global Supriatna, Asep Agil; Shafar, Wildan Ilmanuarif
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.399

Abstract

This article maps the Just Energy Transition (JET) debate in contemporary International Relations (IR) literature and identifies its fundamental conceptual contestations. Using qualitative document analysis combined with reflexive thematic analysis of peer-reviewed publications from 1995 to 2025, this study purposively selected literature representing diverse IR theoretical approaches and Global North-South perspectives. The analysis identifies four main themes: International Political Economy and Global Governance, Political Ecology and Energy Justice, Energy Democracy and Socio-Technical Transitions, and Public Policy and Development Studies. Their interaction produces four conceptual contestations: reform versus structural transformation, universalism versus normative particularism, speed versus inclusivity, and epistemic asymmetry between the Global North and Global South. The findings demonstrate that JET is not merely a technical policy matter but a field of global political contestation reflecting deep ontological and epistemological differences about justice, power, and world order transformation. This study contributes the first systematic conceptual mapping of JET debates from an IR lens. Artikel ini memetakan perdebatan Just Energy Transition (JET) dalam literatur Hubungan Internasional (HI) kontemporer dan mengidentifikasi kontestasi konseptual fundamentalnya. Menggunakan analisis dokumen kualitatif dengan reflexive thematic analysis terhadap publikasi peer-reviewed periode 1995-2025, penelitian ini memilih literatur secara purposif yang merepresentasikan beragam pendekatan teoretis HI serta perspektif Global North dan Global South. Analisis mengidentifikasi empat tema utama: Ekonomi Politik Internasional dan Tata Kelola Global, Ekologi Politik dan Keadilan Energi, Demokrasi Energi dan Transisi Sosio-Teknis, serta Kebijakan Publik dan Studi Pembangunan. Interaksi antarkeempat tema menghasilkan empat kontestasi fundamental: reformasi versus transformasi struktural, universalisme versus partikularisme normatif, kecepatan versus inklusivitas, serta asimetri epistemik Global North-South. Temuan menunjukkan bahwa JET dalam perspektif HI bukan sekadar persoalan teknis-kebijakan, melainkan arena kontestasi politik global yang mencerminkan perbedaan ontologis dan epistemologis mengenai keadilan, kekuasaan, dan transformasi tatanan dunia.
Representasi Kesetaraan Gender dalam Reinterpretasi Tokoh Srikandi pada Media Novel Ilustrasi Gunawan, Margaretha; Aryani, Dewi Isma; Tjandra, Miki
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.400

Abstract

This study aims to analyze the representation of gender equality through the reinterpretation of the Srikandi character in an illustrated novel as an effort to reconstruct the meaning of women in a contemporary cultural context. The study uses a Design-Based Research (DBR) approach with qualitative methods supported by descriptive quantitative data. Data were collected through interviews with cultural experts, literature reviews, and questionnaires with 120 respondents aged 11–24 years. The results show that the Srikandi character is represented as an independent, courageous, and agency-based female figure, thus being able to deconstruct traditional gender stereotypes. This reinterpretation also presents the relevance of local cultural values ​​in the modern discourse of gender equality. The questionnaire findings indicate that the majority of respondents are interested in strong female characters and recognize the importance of gender equality issues, although their understanding of cultural symbols is still limited. Illustrated novels as a visual medium have proven to have the potential to be an effective agent of value socialization through an immersive narrative and visual approach. This research contributes to the development of visual communication design as a social practice that is not only aesthetically oriented but also plays a role in shaping community perspectives on gender issues based on local culture. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kesetaraan gender melalui reinterpretasi tokoh Srikandi dalam media novel ilustrasi sebagai upaya konstruksi ulang makna perempuan dalam konteks budaya kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan Design-Based Research (DBR) dengan metode kualitatif yang didukung data kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan ahli budaya, kajian literatur, serta kuesioner terhadap 120 responden berusia 11–24 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Srikandi direpresentasikan sebagai figur perempuan yang mandiri, berani, dan memiliki agensi, sehingga mampu mendekonstruksi stereotip gender tradisional. Reinterpretasi ini juga menghadirkan relevansi nilai budaya lokal dalam wacana kesetaraan gender modern. Temuan kuesioner menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki ketertarikan terhadap karakter perempuan yang kuat dan menyadari pentingnya isu kesetaraan gender, meskipun pemahaman terhadap simbol budaya masih terbatas. Novel ilustrasi sebagai media visual terbukti memiliki potensi sebagai agen sosialisasi nilai yang efektif melalui pendekatan naratif dan visual yang imersif. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan desain komunikasi visual sebagai praktik sosial yang tidak hanya berorientasi estetika, tetapi juga berperan dalam membentuk perspektif masyarakat terhadap isu gender berbasis budaya lokal.
Problematika Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Mengonstruksi Batas Kewenangan Negara dan Otoritas Kelembagaan Publik Harsanti, Tikka Dessy; Novitasari, Rika; Umamy, Etty
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.406

Abstract

This study examines the role of decisions of the Constitutional Court of Indonesia in shaping and clarifying the boundaries of state authority and institutional power within Indonesia’s constitutional system. The research aims to analyze how Constitutional Court decisions contribute to the structuring of institutional powers and their implications for the principle of checks and balances. A socio-legal qualitative approach is employed through the analysis of 42 Constitutional Court decisions from 2019 to 2024, complemented by in-depth interviews with legal scholars, retired constitutional judges, and legal practitioners. The findings identify three main patterns of authority construction: annulment of norms, constitutional interpretation, and conditional decisions, with a notable prevalence of conditional rulings. The study indicates that, in certain cases, the Court does not merely review norms but also provides interpretative guidance for their application, particularly in situations involving legal ambiguity or potential normative gaps. While such practices may enhance constitutional effectiveness, they also highlight the need for clearer interpretative boundaries to avoid divergent understandings in inter-institutional relations. This study concludes that Constitutional Court decisions function as part of a dynamic process in the ongoing development of constitutional meaning within Indonesia’s evolving constitutional practice. Penelitian ini mengkaji peran putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam membentuk dan menegaskan batas kewenangan negara serta otoritas kelembagaan publik dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana putusan Mahkamah Konstitusi berkontribusi terhadap penataan kewenangan lembaga negara serta implikasinya terhadap prinsip checks and balances. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif sosio-legal melalui analisis terhadap 42 putusan Mahkamah Konstitusi periode 2019–2024, yang dilengkapi dengan wawancara mendalam bersama akademisi, hakim konstitusi purnatugas, dan praktisi hukum. Hasil penelitian menunjukkan tiga pola utama dalam konstruksi kewenangan, yaitu pembatalan norma, tafsir konstitusional, dan putusan bersyarat, dengan kecenderungan dominan pada putusan bersyarat. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam sejumlah perkara, Mahkamah tidak hanya melakukan pengujian norma, tetapi juga memberikan penafsiran yang memuat arahan penerapan norma dalam situasi ketidakjelasan atau potensi kekosongan hukum. Praktik tersebut di satu sisi berkontribusi terhadap efektivitas konstitusi, namun di sisi lain memunculkan kebutuhan akan kejelasan batas interpretasi agar tidak menimbulkan variasi pemaknaan dalam relasi antarlembaga negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi berperan sebagai bagian dari proses dinamis dalam pembentukan makna konstitusional yang berkembang sesuai dengan konteks praktik ketatanegaraan.
Mapping Social Responsibility Theory in Media and Journalism: A Bibliometric Analysis (2001–2025) Mahdiyar, Sakhidad; Yıldız, Göktürk
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i1.408

Abstract

This study examines the intellectual structure and evolving trajectory of Social Responsibility Theory (SRT) within media and journalism studies through a bibliometric analysis of peer-reviewed journal articles published between 2001 and 2025. Drawing on data (n = 54) retrieved from the Scopus database , the analysis employs VOSviewer to map co-authorship networks, keyword co-occurrence patterns, co-citation relationships, and bibliographic coupling structures. The findings reveal a highly fragmented and weakly connected research landscape, characterized by limited scholarly collaboration, low cross-national citation exchange, and the absence of a cohesive theoretical core. While earlier studies are anchored in normative concerns such as ethics, accountability, and democracy, more recent research reflects a shift toward digital-era issues, including misinformation, social media, and platform governance. However, this thematic expansion appears to be reactive rather than theoretically integrative, with SRT functioning more as a residual normative reference than as a dynamic framework. Overall, the results suggest that SRT occupies an increasingly peripheral position in contemporary media scholarship, raising critical questions about its adaptability to the complexities of the digital communication environment. By providing a systematic mapping of the field, this study contributes to ongoing debates on the relevance and future of normative media theories in a rapidly transforming media ecosystem.

Page 4 of 4 | Total Record : 40