cover
Contact Name
Royyan Hafizi
Contact Email
royyanhafizi18@gmail.com
Phone
+6285960430213
Journal Mail Official
royyanhafizi18@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lingkok Buak No. 1, Desa Lingkok Berenga, Kec. Janapra, Kab. Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Location
Kab. lombok tengah,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mandalika Law Journal
ISSN : -     EISSN : 29873401     DOI : https://doi.org/10.59613/mlj
Core Subject : Social,
Mandalika Law Journal : Journal of Legal Studies (MLJ) is an international journal established by yayasan baru haji samsudin. It has 2 issues per year (May and November). MLJ is an open access, double peer-reviewed e-journal which aims to offer an international scientific platform for national as well as cross-border legal research in goverment regulation. The materials published include major academic papers dealing critically with various aspects and field of laws as well as shorter papers such as recently published book review and notes on recent issues of law. The goal of Mandalika Law Journal is to bring the highest quality research to the widest possible audience
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 33 Documents
Digitalization of the Judiciary and Its Impact on Criminal Procedure Law Reform Haning, Semuel; Latianingsih, Nining; Budiyanto, Budiyanto; Wilsa, Wilsa; Putri, Vegitya Ramadhani
Mandalika Law Journal Vol. 4 No. 1 (2026): Mandalika Law Journal
Publisher : Yayasan Baru Haji Samsudin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/mlj.v3i2.6194

Abstract

The digitalization of the judiciary has significantly transformed criminal justice systems worldwide, introducing both efficiency and new legal challenges. This research explores the impact of judicial digitalization on criminal procedure law, specifically focusing on how digital technologies affect procedural practices, legal safeguards, and fundamental rights. The study aims to identify key areas where criminal procedure law must be reformed to accommodate digital practices without compromising fairness, transparency, and due process. Using a library-based research method, this study analyzes relevant literature, legal texts, and case studies to assess the implications of digital tools such as virtual hearings and digital evidence management. Findings indicate that while judicial digitalization enhances efficiency and access to justice, it also creates legal uncertainties, particularly concerning data privacy, digital evidence handling, and the protection of defendants' rights. The research concludes that comprehensive legal reform is necessary to align criminal procedure law with the realities of digital justice, ensuring that technological advancements contribute to, rather than undermine, fair and transparent criminal proceedings.
Reintegrative Shaming Theory dalam Pencegahan Perilaku Koruptif Ditinjau dari Perspektif Kriminologi Farida Kaplele; Dian Rahadian
Mandalika Law Journal Vol. 4 No. 1 (2026): Mandalika Law Journal
Publisher : Yayasan Baru Haji Samsudin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/mlj.v4i1.6395

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris yang meneliti dan mengkaji relevansi Reintegratif Shaming Theory sebagai salah satu teori kausa kejahatan kaitannya dalam pencegahan perilaku koruptif. Teori pembangkit budaya malu (teori reintegrative shaming) mempunyai relevansi sebagai alternatif pendekatan pemberantasan kotupsi, dimana masyarakat mempunyai peran yang sangat besar. Budaya malu dan perilaku koruptif merupakan 2 (dua) variable yang seharusnya saling berkaitan satu sama lain. Jika budaya malu pada suatu masyakata tinggi, maka seharusnya berbanding lurus dengan angka tindak pidana korupsi yang terjadi pada masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kita justru dihadapkan pada situasi yang menggambarkan masyarakat Indonesia dengan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran tetapi angka tindak pidana korupsi yang terjadipun tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka, Relevansi Reintegrative Shaming dalam mencegah perilaku korupsi dapat dikembangkan dalam 4 (empat) pola sebagaimana yang telah disebutkan oleh Braithwaite yaitu: (a) menolak atau mencela tingkah laku jahat, memuji atau mendukung tingkah laku baik, (b) memiliki formalitas yang menyatakan tingkah laku seseorang jahat atau menyimpang, yang diakhiri dengan menyatakan orang tersebut sudah dimaafkan, (c) memberikan hukum atau pencelaan tanpa proses labeling, dan (d) tidak menjadikan kesalahan atau penyimpangan atau kejahatan sebagaidari status utama (master status trait). Pentingnya budaya malu yang disertai dengan budaya bersalah dapat menjadi sarana pencegahan perilaku korupsi yang lahir dari dalam diri setiap pribadi. Jika nilai-nilai baik dari budaya malu dan budaya salah ini dibentuk sejak dini maka upaya pemberantasan perilaku korupsi dipastikan lebih efektif dan efisien karena tidak memfokuskan pada penindakan kejahatan korupsi karena telah berhasil ditekan dalam upaya pencegahan. Disarankan agar perlu mengakarkan kembali budaya malu dalam kehidupan sehari-hari. Budaya malu adalah awal dari integritas. Komitmen terhadap budaya rasa malu tersebut tidak sekadar idea filosofis atau narasi fiksional belaka, tetapi harus hadir secara nyata dalam pergulatan hidup manusia. Komitmen terhadap budaya rasa malu sebagai bagian integritas diri akan terbukti dalam fenomena-fenomena pencegahan tindak pidana korupsi. Harus ditumbuhkan budaya malu mulai dari hal-hal sederhana dan dari lingkungan terkecil seperti lingkungan keluarga, lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan lain-lain. Selain itu perlu ditunjang dengan peran katif semua pihak dan pemahaman yang sama bahwa mengakarkan kembali budaya malu dalam diri setiap individu merupakan sarana efektif dalam pencegahan perilaku koruptif.
Industrial-Based Corrections Training in Lapas Class I Cirebon: Prisoners’ Achievements and Post-Release Impacts Rahma Melisha Fajrina; Sigid Riyanto
Mandalika Law Journal Vol. 4 No. 1 (2026): Mandalika Law Journal
Publisher : Yayasan Baru Haji Samsudin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/mlj.v4i1.6408

Abstract

This study investigates the industrial-based correctional training implemented at Lapas Class I Cirebon and examines how prisoners’ achievements and post-release impacts relate to achieving the aims of the Indonesian correctional system. Guided by the legal framework of Law Number 12 of 1995 and Government Regulation Number 31 of 1999, the research focuses on independence development through structured industrial training. The study uses an empirical descriptive legal research approach based on data contained in the thesis materials. Industrial training in the institution is implemented through five stages: orientation, apprenticeship, industrial production implementation, marketing of industrial outputs, and monitoring by relevant authorities. The study reports that fifty prisoner respondents participating in active industrial posts evaluate the training as beneficial, with three documented achievement themes: (1) skill and knowledge enhancement related to industrial activities, (2) increased productivity and constructive engagement during incarceration, and (3) optimism for independent living after release. In addition, the thesis materials provide narrative evidence of post-release business initiation by former prisoners whose work was linked to industrial skills developed during incarceration. Overall, the findings suggest that industrial-based training functions as an institutional mechanism aligned with reintegration and non-repetition objectives by strengthening work-based competence and post-release livelihood readiness.

Page 4 of 4 | Total Record : 33