cover
Contact Name
Wahdaniyah
Contact Email
wahdaniyah@unsulbar.ac.id
Phone
+6282188658880
Journal Mail Official
wahdaniyah@unsulbar.ac.id
Editorial Address
Kelurahan Baurung, Kec. Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat 91415
Location
Kab. majene,
Sulawesi barat
INDONESIA
Nutrition Science and Health Research
ISSN : -     EISSN : 29625726     DOI : https://doi.org/10.31605/nutrition
Core Subject : Health,
Nutrition Science and Health Research merupakan terbitan berkala ilmiah yang dikelola oleh Prodi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Sulawesi Barat. Jurnal ini menerima naskah pada bidang gizi dan fokus pada gizi klinik, Gizi Masyarakat, Food science, Food service, dan Gizi olahraga. Nutrition Science and Health Research terbit dua kali dalam setahun pada bulan Januari dan Juli.
Articles 65 Documents
Pola Pemberian MP-ASI Anak Usia 6-23 Bulan Berdasarkan Leaflet Kemenkes di Wilayah Kerja Puskesmas Kapasa Destriyani Destriyani; Nursalim; Agustian Ipa
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 1 (2025): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i1.5295

Abstract

The first 1,000 days of life represent a crucial period for a child's growth and development. Appropriate complementary feeding practices are key to fulfilling the nutritional needs of children aged 6–23 months. This study aimed to explore the complementary feeding patterns of children aged 6–23 months based on the Ministry of Health’s leaflet in the working area of Kapasa Public Health Center. This research employed a descriptive quantitative design using purposive sampling, involving 94 parents of children aged 6–23 months. Data were collected through questionnaires and the Ministry of Health leaflet, then analyzed descriptively using SPSS. Most respondents were housewives aged 20–35 years with low family income. The majority of children had normal nutritional status based on weight-for-age and height-for-age indicators. The findings showed that 72.4% of children met the minimum dietary diversity, 88.3% consumed eggs, fish, or meat (EFM), and 72.4% received appropriate complementary feeding. Dietary diversity and EFM consumption increased with the child’s age. Dietary diversity and the consumption of animal protein play a vital role in meeting children’s nutritional needs. Improvements in complementary feeding practices are still needed, particularly through parental education on food selection in accordance with balanced nutrition guidelines to support the optimal growth and development of children aged 6–23 months.
Uji Daya Terima dan Analisis Zat Besi Puding Bayam dan Kurma untuk Pencegahan Anemia pada Remaja Putri Nidatrisuci Nidatrisuci
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 2 (2026): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i2.5298

Abstract

Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami remaja putri akibat kurangnya asupan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya terima dan kandungan zat besi pada puding bayam merah dan kurma sebagai alternatif camilan fungsional untuk pencegahan anemia. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga formula (F0: 100% bayam, F1: 50% bayam dan 50% kurma, F2: 75% bayam dan 25% kurma). Uji daya terima dilakukan pada 30 siswi SMP dengan skala hedonik 5 poin mencakup warna, aroma, rasa, dan tekstur. Analisis zat besi dilakukan dengan metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula F1 paling disukai dari segi rasa dan aroma, sedangkan warna dan tekstur lebih disukai pada formula F0. Kandungan zat besi pada F1 sebesar 193,9451 µg/200 gram. Untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian, remaja usia 10–12 tahun disarankan mengonsumsi 2 potong puding per hari, sedangkan usia 13–18 tahun sebanyak 3–4 potong. Puding bayam dan kurma berpotensi menjadi makanan fungsional yang praktis dan bergizi untuk pencegahan anemia pada remaja putri.
Daya Terima Kandungan Protein dan Zat Besi pada Sosis Ikan Kembung dan Hati Ayam Nahda Fadhilah Fadhilah; Sunarto; Fatmawaty Suaib
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 1 (2025): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i1.5300

Abstract

Stunting and anemia are two major nutritional problems that are closely related and affect the growth and development of children. According to SSGI 2022, the prevalence of stunting in Indonesia was 21,6%, while anemia among toddlers reached 38,5% (Riskesdas, 2018). Prevention efforts can be carried out by consuming foods high in protein and heme iron, such as mackerel and chicken liver. This study aimed to determine the acceptability, protein content, and iron (Fe) levels in sausage made from mackerel and chicken liver as an alternative food to prevent stunting and anemia in toddlers. The research used a completely randomized design (CRD) with three sausage formulations: F1 (80% mackerel:20% chicken liver), F2 (70%:30%), and F3 (60%:40%). Acceptability was tested organoleptically by 30 panelists on four attributes: color, aroma, texture, and taste. Protein content was analyzed using the Kjeldahl method, and iron was measured using spectrophotometry. Data were analyzed using the Kruskal Wallis test and continued with the Mann Whitney test. The results showed that Formula F1 had the highest overall preference. Significant differences were found in aroma (p = 0,015) and texture (p = 0,024). Nutritional analysis of F1 showed a protein content of 42% and iron of 1,5 mg/100 g. Mackerel and chicken liver sausage, particularly formula F1, had good acceptability and high nutritional content, making it a potential alternative food to help prevent stunting and anemia in toddlers.
Daya Terima Kandungan Zat Besi dan Vitamin C Nugget Kentang dengan Penambahan Daging Ayam dan Bayam Elsi Asnuriani
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 2 (2026): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i2.5302

Abstract

Anemia di Indonesia pada Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 tercatat 14,6% pada kelompok usia 15-24 tahun dan 31,4% pada kelompok usia 25-34 tahun. Anemia menyebabkan tubuh kekurangan oksigen dan menimbulkan gejala seperti lemah, letih, lesu, lelah, dan lunglai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan daging ayam dan bayam terhadap daya terima, kandungan Zat Besi dan Vitamin C pada nugget kentang. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan One Shot Case Study terhadap tiga formula, yaitu tanpa penambahan daging ayam : bayam 0%:0% (F0); penambahan daging ayam : bayam 93%:7% (F1); 87%:13% (F2). Data daya terima dilakukan menggunakan skala hedonik terhadap 30 panelis agak terlatih. Kandungan Zat Besi dan Vitamin C dilakukan di laboratorium menggunakan metode Spektrofotometrik. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan daya terima yang sangat disukai dari aspek warna, aroma, rasa, tekstur adalah 93% : 7% (F1). Analisis gizi pada F1 menunjukkan kandungan zat besi sebesar 2,730 mg/100 g dan vitamin C 6,246 mg/100 g. Nugget kentang dengan penambahan daging ayam dan bayam, khususnya formula F1, memiliki daya terima yang baik dan kandungan gizi tinggi, sehingga berpotensi menjadi pangan alternatif untuk membantu pencegahan anemia pada remaja.
Analisis Kandungan Protein, Beta karoten dan Daya Terima Pempek Ikan Lele dengan Penambahan Wortel Mia Asriani; Suriani Rauf; Chaerunnimah
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 2 (2026): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i2.5303

Abstract

Masalah gizi kurang masih menjadi tantangan serius di Indonesia, khususnya pada balita. Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi balita gizi kurang secara nasional mencapai 12,2% dan stunting sebesar 21,6%. Di Sulawesi Selatan, prevalensi gizi kurang bahkan mencapai lebih dari 15%, sedangkan di Kota Makassar tercatat sebesar 11,2% untuk gizi kurang dan 24,8% untuk stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan protein, beta karoten, dan daya terima pempek ikan lele dengan penambahan wortel sebagai upaya pengembangan pangan lokal bergizi untuk anak usia 6–59 bulan. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan One Shot Case Study terhadap tiga formulasi: F0 (tanpa wortel), F1 (50 g wortel), dan F2 (25 g wortel). Uji daya terima dilakukan terhadap 30 panelis, dan analisis kandungan protein serta beta karoten dilakukan di laboratorium. Hasil menunjukkan bahwa formula F1 merupakan formulasi terbaik dengan total skor kesukaan tertinggi (384). Hasil uji laboratorium menunjukkan kadar protein sebesar 5,52% dan beta karoten sebesar 392,82 µg/g pada pempek F1. Kandungan ini berkontribusi sebesar 70,8% terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG) protein harian berdasarkan kebutuhan 25 g/hari dan 87,2% terhadap AKG beta karoten harian berdasarkan kebutuhan 450 µg/hari. Pempek ikan lele dengan penambahan wortel terbukti memiliki daya terima yang tinggi, kandungan gizi yang signifikan, serta berpotensi sebagai pangan alternatif untuk intervensi gizi anak usia dini di wilayah dengan prevalensi gizi buruk yang tinggi.
Daya Terima dan Analisis Protein Otak-otak Ikan Kakap Putih Dengan Penambahan Tempe Untuk Pencegahan Stunting Anggun Khairunnisa
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 2 (2026): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i2.5309

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan utama di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di indonesia pada tahun 2024 adalah sebesar 19,8%. Salah satu pendekatan pencegahan stunting adalah dengan pemberian makanan tambahan (PMT) yang berbasis pangan lokal dan kaya protein. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya terima dan kandungan protein dari produk otak-otak ikan kakap putih (Lates calcarifer) dengan penambahan tempe (Rhizopus oryzae) sebagai alternatif PMT untuk balita. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan metode One Shot Case Study, melalui tiga formula otak-otak: F0 (0% tempe), F1 (25% tempe), dan F2 (50% tempe). Penilaian organoleptik dilakukan oleh 30 panelis semi-terlatih terhadap parameter warna, aroma, rasa, dan tekstur. Analisis kadar protein dilakukan menggunakan metode Kjeldahl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula F1 memiliki tingkat penerimaan paling tinggi dari seluruh aspek sensori dengan skor 415. Kandungan protein sebesar 9,53 gram per 100 gram. Untuk memenuhi kebutuhan protein cemilan harian balita diperlukan konsumsi sekitar 1 buah otak-otak dapat memenuhi kebutuhan cemilan balita berdasarkan AKG. Hasil ini menunjukkan bahwa otak-otak ikan kakap putih dengan penambahan tempe berpotensi sebagai PMT lokal yang bergizi, diterima baik, dan efektif untuk mencegah stunting pada balita.
Uji Sitotoksik Ekstrak Tanaman Kirinyuh (Choromolaena Ododrata) terhadap Viabilitas Sel Kanker Kolon WiDr Hairul Anam; Hijral Aswad; Ade Irma
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 2 (2026): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i2.5312

Abstract

Sistem pencernaan manusia merupakan suatu sistem yang tersusun dari berbagai organ baik struktural maupun fungsional yang tergabung menjadi satu kesatuan kompleks yang bekerja secara sinergis untuk menunjang kehidupan manusia. Bagian dari system pencernaan yang berperan dalam membuang sisa pencernaan adalah usus besar atau disebut juga kolon salah satu jenis penyakit mematikan pada bagian kolon adalah kanker kolon. Kanker kolon adalah kanker ketiga terbanyak di dunia, dengan 1,9 juta kasus baru dan 935 ribu kematian pada 2020. Ini menjadi penyebab kematian kanker kedua secara global. Di Indonesia, kanker kolorektal juga menempati peringkat ketiga, diperparah oleh tingginya jumlah perokok. Sulawesi Selatan menduduki urutan ketiga kasus kolorektal di Indonesia pada tahun 2020. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efek sitotoksik dari tanaman kirinyuh dengan menggunakan metode MTT assay kstrak Kirinyuh menghambat pertumbuhan sel kanker WiDr secara signifikan dan bergantung dosis, dengan 94% inhibisi pada 1000 ppm dan nilai IC50 149,09 ± 20,91 ppm, menunjukkan potensi sitotoksik yang baik
Daya Terima Biskuit Tulang Ikan Tuna sebagai Alternatif Makanan Pendamping dalam Upaya Pencegahan Stunting Anisa Dwirizky Abdullah; Ika Putri Ramadhani; Devi Andriani; Faradiba; Hizkia Arruan Mapu
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 2 (2026): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i2.5315

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah gizi masyarakat di Indonesia yang menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronis pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak seribu hari awal kehidupan, keadaan ini ditandai dengan tinggi badan anak lebih pendek dari teman-teman seusianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dari biskuit tulang ikan sehingga dapat digunakan sebagai makanan tambahan balita dan ibu hamil dalam upaya pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah pendekatan eksperimentatif dengan menggunakan desain uji one way anova. Uji organoleptik dilakukan dengan menggunakan uji Hedonic Scale Test yang melibatkan panelis agak terlatih sebanyak 24 orang, digunakan untuk mengukur tingkat penerimaan seseorang berupa rasa suka atau tidak terhadap tekstur, warna, aroma, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung tulang ikan tuna akan mempengaruhi aroma, tekstur dan rasa dari biskuit. Formula terbaik dari biskuit tepung tulang ikan tuna yang diujikan yaitu biskuit dengan persentase penambahan tepung tulang ikan tuna sebanyak 15%
Inovasi Mie Ikan Penja dengan Subtitusi Tepung Kelor dan Tepung Cassava Sebagai Alternatif PMT Balita Gizi Kurang Justiyulfah Syah
Nutrition Science and Health Research Vol. 3 No. 2 (2025): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v3i2.5316

Abstract

Undernutrition remains one of the major causes of infant mortality in Indonesia. Providing supplementary feeding (PMT) is one of the key strategies to combat this issue. This study aimed to examine the innovation of penja fish noodles substituted with moringa leaf flour and cassava flour in three formulations: P1 (0:20:80), P2 (3:20:80), and P3 (10:20:80), and to evaluate their acceptability and nutritional content. The research was an empirical laboratory-based study conducted over four months. Organoleptic tests were carried out in Kelurahan Rangas, Majene, and nutritional analysis was performed at the Health Laboratory Center in Makassar. The data were analyzed using a Completely Randomized Design (CRD) and ANOVA. Organoleptic parameters included color, aroma, taste, and texture, while nutritional tests measured fat, protein, carbohydrate, and iron content. The results showed that formula P2 (3:20:80) was the most preferred by consumers and had a balanced nutrient composition. Although some nutrient components did not differ significantly, the substitution improved carbohydrate content. In conclusion, this innovation has the potential to serve as an alternative PMT for undernourished toddlers. Further studies are needed to evaluate its long-term effects and feasibility for broader implementation.
Efektivitas Terapi Posisi Semi-Fowler dan Pemberian Zat Besi terhadap Status Oksigenasi dan Hemoglobin Anak dengan Gagal Napas Akut Ringan di Ruang Perawatan Intensif Husnul Khatimah; Kartika Sari Wijayaningsih
Nutrition Science and Health Research Vol. 4 No. 1 (2025): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i1.5337

Abstract

Latar Belakang: Anak dengan gagal napas akut ringan sering mengalami penurunan saturasi oksigen (SpO₂) dan kadar hemoglobin, yang dapat memperburuk kondisi klinis jika tidak ditangani secara tepat. Penanganan multidisiplin yang melibatkan keperawatan anak, perawatan kritis, dan intervensi gizi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan status klinis anak. Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi intervensi posisi semi-Fowler dan suplementasi zat besi dalam meningkatkan saturasi oksigen dan kadar hemoglobin pada anak usia 5–12 tahun dengan gagal napas akut ringan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen pretest-posttest tanpa kelompok kontrol, melibatkan 30 anak yang dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Intervensi yang diberikan meliputi posisi semi-Fowler selama 30 menit dua kali sehari dan pemberian suplementasi zat besi oral selama lima hari. Pengukuran SpO₂ dilakukan menggunakan pulse oximeter, dan kadar hemoglobin diukur melalui pemeriksaan laboratorium. Hasil dan Pembahasan: Terdapat peningkatan signifikan pada saturasi oksigen dari rata-rata 92,6% menjadi 96,3% (p = 0,002) dan kadar hemoglobin dari 10,1 g/dL menjadi 11,5 g/dL (p = 0,004) setelah intervensi. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi posisi semi-Fowler membantu memperbaiki ventilasi paru, sementara suplementasi zat besi meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah. Kesimpulan: Kombinasi intervensi posisi semi-Fowler dan suplementasi zat besi terbukti efektif dalam meningkatkan status oksigenasi dan kadar hemoglobin pada anak dengan gagal napas akut ringan. Pendekatan ini direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan yang integratif dan aplikatif dalam praktik klinis keperawatan anak.