cover
Contact Name
Moh. Fathoni
Contact Email
jurnaladalah@gmail.com
Phone
+6285328075686
Journal Mail Official
jurnaladalah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Miuwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Al'Adalah
This journal aims to publish original research articles on Islam and Muslims, especially Islamic thoughts, doctrines, and practices oriented toward moderation, egalitarianism, and humanity. The journal articles cover integrated topics on Islamic issues, including Islamic philosophy and theology, Islamic culture and history, Islamic politics, Islamic law, Islamic economics, and Islamic education, engaging a multidisciplinary and interdisciplinary approach. Therefore, this journal receives original research articles from any country and region concerned with Islam and Muslim.
Articles 468 Documents
PSIKOLOGI MORAL AL-MUHASIBI: STUDI ATAS KITAB AL-RI’AYAH LI HUQUQ ALLAH Khoirul Faizin
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melalui karyanya, al-Ri’ayah li Huquq Allah, al-Muhasibi menganalisis secara utuh mengenai berbagai bentuk egoisme manusia, metode pelatihannya, dan cara mewaspadainya. Bentuk egoisme utama yang dibahasnya adalah; riya’ (narsisisme); kibr (megalomania); ‘ujub, dan ghirrah. Menyangkut pembahasan tentang khatarat, ia mengajukan tiga sumber penyebabnya, yakni hawa nafsu, setan atau iblis, dan Tuhan—melalui wahyu Ilahi dan nalar manusia. Analisis al-Muhasibi mengenai khatarat hawa nafsu dan setan merupakan analisis yang paling terkenal di kalangan kaum sufi. Namun, adalah penting untuk mengingat bahwasanya dia juga meyakini Allah sebagai sumber khatarat.
INTEGRATING OF THE RELIGIOUS AND SCIENTIFIC UNDERSTANDING DURING THE COVID-19 PANDEMIC Asmawati Asmawati
Al'Adalah Vol. 25 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v25i1.203

Abstract

This article analyzes the Indonesian people's scientific and religious understanding during the Covid-19 pandemic. It is a crucial topic to discuss because some religious people in Indonesia resist the government policies restricting worship. Based on the analysis, the results obtained include an excessive understanding of religion that will make people increasingly distrustful of reality, so they avoid the scientific explanation. The article also explains that religion is the primary factor in building community perspectives in Indonesia. Nevertheless, science and religion have contributed and should be integrated to solve the problems during the Covid-19 pandemic.
MEMBONGKAR KLAIM HARAM ATAS PENGHORMATAN BENDERA Zainul Hakim
Al'Adalah Vol. 25 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v25i1.205

Abstract

Recently the extreme tendency in religion has strengthened (conservative turn). The online media also promoted the discourses and fatwas on prohibition and disbelief for Muslims to salute the Indonesian flag. This is also reinforced by some Muslim preachers who are indicated as part of the transnational Islamic movement (takfiri), which states that saluting the flag is a heresy (bid'ah) or haram. It can disrupt the unity and integrity of the Indonesian people (Bhinneka Tunggal Ika; unity in diversity). Therefore, this article seeks to reveal the meaning of flag-saluting from the perspective of Islamic studies, including aspects of taklifiy and wad'iy ways in Islamic law. This effort is carried out by searching rigidly, both lughowi and ma’nawi. The results of this study conclude that saluting the national flag is not included in the category of mahdhah worship. Therefore, it cannot be called heresy or shirk; moreover, the person who does it is called an apostate (murtad) or kafir (infidel). In such cases, honoring the flag based on ethics or moral behavior differs from worship based on theology. Thus, the article can help clarify and reflect on religious problems in society.
DISKURSUS METODOLOGI STUDI AGAMA: PERGULATAN YANG BELUM TUNTAS zain
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam konstelasi global, fungsi agama mulai digugat banyak pihak. Agama tidak hanya sekadar dipahami dalam pengertian historis dan doktrinal, melainkan mampu berdialektika dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Di sinilah pentingnya multidisiplin ilmupengetahuan untuk mengurai berbagai fenomena agama yang kompleks. Sejatinya, para ulama Islam telah merintis tradisi keilmuan dan penelitian berbasis multidisplin tersebut, sehingga mampu keluar dari berbagai persoalan umat. Sebut saja Imam Bukhori, Imam Syafi’i dan Imam al-Ghazali misalnya. Karena, kajian agama secara akademik bukan hanya dimaksudkan untuk membedah hal-hal yang berada di luar jangkauan kapasitas nalar, tetapi juga untuk mengefektifkan fungsinya sebagai rujukan, way of life, weltanschauung, dan falsafah al-hayah.
REKONSTRUKSI KONSEP METODE STUDI KE-ISLAMAN: UPAYA PENYESUAIAN TERHADAP KEBUTUHAN MASYARAKAT MODERN Umam
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adalah suatu kenyataan yang pada gilirannya mendorong minat ilmiah terhadap agama. Pendekatan terhadap agama tidak lagi sebatas teologis, studi perhubungan agama, atau sejarah agama-agama, tetapi telah meluas ke disiplin ilmu-ilmu humaniora lain. Agama, dalam pengertiannya yang potensial untuk meluas, telah menjadi subyek lintas disiplin ilmu. Maka, tulisan ini mencoba mengangkat, mengkaji, dan menata kembali pemikiran (rekonstruksi) terhadap studi agama (khususnya Islam), dengan menguraikan terlebih dahulu, 1) periode awal pembahasan terhadap studi agama, 2)tujuan diadakannya penulisan, 3) obyek yang diangkat dalam studi agama, dan 4) pendekatan yang digunakan dalam studi ke-Islaman, yang meliputi pendekatan filologi, dan di dalamnya menggunakan; metode tafsir, metode content analysis, dan metode hermeneutika. Agar pembahasan dalam mengkaji studi agama lebih mendalam, sangat dibutuhkan pendekatan-pendekatan pemikiran yang meliputi; 1) pendekatan pemikiran kalam, 2) pendekatan filsafat, dan 3) pendekatan pemikiran tasawuf.
EPISTEMOLOGI FEMINIS ASGHAR ALI ENGINEER Mun'im
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang epistemologi feminis yang ditawarkan oleh Asghar Ali Engineer dengan berpijak pada pemahamannya tentang al-Qur’an yang bersifat normatif sekaligus pragmatis yang bergantung pada interpretasi subjektif penafsirnya yang bisa dilakukan sepanjang masa. Berdasarkan epistemologi inilah, akhirnya Asghar melakukan penafsiran ulang terhadap ayat poligami yang menurutnya bukan tentang proses poligami tetapi lebih pada perbuatan adil terhadap anak-anak yatim. Kalaupun menyinggung poligami, itupun dalam koteks sosial yang berlaku pada waktu itu yang berkaitan dengan fenomena perang yang mendera umat Islam.
MEMBONGKAR EKSISTENSI (HIPOKRISI) WAHABI, MERAJUT CONVERSATION OF CIVILIZATION Siswanto
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peristiwa II September menyita perhatian banyak kalangan, di antaranya Ibrahim Abu Rabi’ dan Stephen Sulaiman Schwartz. Bagi Schwartz, aliansi wahabi-saudi adalah aliansi bandit dan perampok. Tujuan aliansi untuk meneguhkan ekonomi Saudi dan keberagamaan puritan di dunia. Dari sini terjadi konflik antara dunia Islam dan barat dan bahkan Islam sendiri. Menurut Schwartz, konflik ini sangat ironis, karena Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi seluruh orang. Dengan pendekatan sosio-historis dan epistemologis, Schwartz menawarkan dialog peradaban (conversation of civilization) yang memiliki akar sosio-historis satu rumpun yaitu yahudi, kristem dan Islam sebagai agama ibrahimiyah.
DEKONSTRUKSI GOD-CONSCIOUSNESS TUHAN NEW NIETZSCHE DI ABAD POST-TUHAN (ABAD KEMATIAN MASSAL TUHAN) Anam
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abad Post-Tuhan merupakan suatu masa yang mengindikasikan tentang kematian massal Tuhan dan mendiskripsikan suatu kehidupan manusia yang ”membunuh” posisi Tuhan secara eksistensial dan meninggalkan formalitas-dogmatis yang absolut. Di abad ini, muncul wajah-wajah Tuhan New Nietzsche yang memiliki kehendak berkuasa yang sangat tinggi dan mutlak serta mengingkari ada sesuatu lain yang menguasai dirinya, baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Mereka sadar bahwa ada Tuhan, tapi kesadaran mereka pada tataran persaksian formalitas dan tidak pada tataran substansial-operasional. Jika fenomena ini dianalisis lebih jauh, maka tanpak jelas bahwa adanya wajah-wajah Tuhan New Nietzsche di abad Post-Tuhan telah terjadi krisis God-Consciousness. Dengan demikian, dekonstruksi God-Consciousness untuk merubah Tuhan New Nietzsche menjadi insan yang sempurna dan menjelma menjadi Tuhan sebagai wakil Tuhan di dunia adalah langkah yang progresif dan solutif bagi masa depan peradaban dunia.
HERMENEUTIKA HADITS: TINJAUAN HISTORIS, METODE, DAN APLIKASI TERHADAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN DAN HADITS Furqan
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Istilah hermeneutika agaknya relatif asing bagi sebagian besar umat Islam di tanah air. Tidak demikian halnya apabila melihat sejarah hermeneutika itu sendiri yang nyatanya sudah muncul berabad-abad yang lampau serta berkembang pesat di Eropa Barat. Sebagai sebuah metode interpretasi teks Bibel, hermeneutika terutama digunakan untuk mengakomodasi dinamika perkembangan zaman yang kemudian melahirkan tradisi sekular-liberalisme di Barat pada abad pertengahan. Kini, hermeneutika yang berasal dari tradisi Barat-Nasrani tersebut coba diterapkan pada tradisi kajian al-Quran dan al-hadits. Saat ini, ada kecenderungan di kalangan muslim modernis untuk menjadikan hermeneutika sebagai pengganti ilmu tafsir al-Quran dan al-hadits. Bahkan, di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia, hermeneutika diajarkan sebagai mata kuliah khusus. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang munculnya hermeneutika dan aplikasinya terhadap penafsiran al-Qur’an dan al-hadits.
ISLAM TRANSISI PADA MASA DINASTI MAMLUK DAN MONGOL ISLAM Agus
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa transisi ini adalah situasi Islam saat dan pasca hancurnya Baghdad setelah dihancurkan oleh bangsa Mongol. Dampak dari jatuhnya Baghdad ke Mongol adalah kehancuran yang terjadi di mana-mana dari wilayah timur hingga wilayah barat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah dan perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi Islam saat itu. Pembunuhan terhadap umat Islam terjadi, bukan hanya pada masa Hulagu yang membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan juga dilakukan terhadap umat Islam yang tidak berdosa, seperti juga dilakukan oleh Argun, Khan keempat pada masa Dinasti II Khaniyah terhadap Takudar sebagai Khan ketiga yang dihukum bunuh karena masuk Islam. Peran Dinasti Mamluk dan Mongol Islam dalam peradaban Islam pada masa transisi memberikan sumbangsih yang begitu pesat terhadap perkembangan Islam berikutnya. Itu tidak lain karena peran kedua dinasti tersebut yang membangun kembali peradaban Islam yang telah porakporanda dihancurkan oleh bangsa Mongol sebelumnya.