cover
Contact Name
Moh. Fathoni
Contact Email
jurnaladalah@gmail.com
Phone
+6285328075686
Journal Mail Official
jurnaladalah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Miuwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Al'Adalah
This journal aims to publish original research articles on Islam and Muslims, especially Islamic thoughts, doctrines, and practices oriented toward moderation, egalitarianism, and humanity. The journal articles cover integrated topics on Islamic issues, including Islamic philosophy and theology, Islamic culture and history, Islamic politics, Islamic law, Islamic economics, and Islamic education, engaging a multidisciplinary and interdisciplinary approach. Therefore, this journal receives original research articles from any country and region concerned with Islam and Muslim.
Articles 468 Documents
ISLAM DEMOKRASI DAN PLURALISME: TELAAH TERHADAP ISLAM MODERAT DI INDONESIA Mustajab
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika masyarakat menggunakan kata demokrasi, mereka acapkali memaknai dengan hal-hal yang berbeda, bahkan tidak jarang malah kontradiktif. Jika demokrasi berarti persamaan yang formal di hadapan hukum, maka hal itu bukan hanya sesuai dengan Islam, bahkan jika kita melihat catatan sejarah, Islamlah agama yang memperkenalkan konsep persamaan dihadapan hukum secara formal dimuka bumi. Demokrasi dan pluralisme memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Semakin banyak dibicarakan, semakin menarik dan tak ada habis-habisnya. Sepintas ia seolah bersifat elitis, tapi semakin dalam kita menyelami semakin tahu bahwa ia adalah kehidupan kita sendiri. Itu sekarang dikenal dengan sebutan “living democracy and pluralism”. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa demokrasi dan pluralisme merupakan produk pemikiran manusia yang paling cerdas.
KONSTRUKSI PEMIKIRAN REFORMASI ISLAM AHMAD SURKATI Rusydi
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Syeh Ahmad Surkati adalah tokoh utama berdirinya Jam’iyah al-Islah wa al-Irsyad al-Arabiyah kemudian berubah menjadi Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah, sekarang menjadi al-lrsyad al-Islamiyyah atau disingkat dengan nama Al-Irsyad. Banyak ahli sejarah mengakui perannya yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia, namun sayang namanya tak banyak disebut dalam wacana sejarah pergulatan pemikiran Islam di Indonesia. Pemikiran Ahmad Surkati dalam kerangka tajdid di bidang keagamaan mengemukakan konsep Kafa ‘ah dan Musawah yang merupakan perlawanan Ahmad surkati terhadap diskriminasi keturunan Arab Alawi dan non Alawi. Juga Mabadi al-Irsyad yakni perlawanan Ahmad Surkati terhadap praktik-praktik beragama yang menyimpang serta heterodoks, yang dipengaruhi animisme, Hindu, dan Budha. Serta pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas imaniyah dan insaniyah.
ISLAM DI JAWA: KASUS DI MATARAM DAN KARTASURA Miftah Arifin
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Islam di Jawa pada masa Kerajaan Mataram dan Kartasura menampilkan corak yang berbeda apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Hal itu ditandai dengan kentalnya teosofi kejawen berpadu dengan unsur-unsur budaya Islam. Pada masa ini raja dianggap sebagai simbol penata agama seperti gelar pada sultan Agung. Istana menjadi pusat reproduksi ajaran Islam yang dikemas dalam bentuk serat dan suluk. Pada, masa dua kerajaan inilah berkembang tradisi penulisan serat atau suluk yang digubah dan disesuaikan dengan agama Islam dan bahkan mengadaptasi cerita- cerita dan khazanah Islam yang ada di dunia luar Mataram dan Kartasura.
GAYA KEPEMIMPINAN DAN UPAYA PENINGKATAN MUTU SEKOLAH Zainuddin
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembaga pendidikan dikatakan bermutu ketika kondisi input, proses, output dan outcome-nya baik atau memuaskan. Namun bal tersebut tidak akan tercapai tanpa peran aktif seorang pemimpin atau gaya kepemimpinan yang ditampilkannya. Karena pemimpin adalah orang pertama dan figur utama dalam komunitas lembaga tersebut serta ujung tombak untuk menjadikan lembaga pendidikan bermutu tinggi. Pengertian mutu dalam konteks pendidikan adalah mengacu pada masukan (input), proses, hasil (output) dan outcome-nya. Mutu input dapat dilihat dan beberapa sisi, yaitu pertama, kondisi baik atau tidaknya SDM in-put-nya. Kedua, memenuhi atau tidaknya sarana dan prasarananya. Ketiga, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan yang berupa perangkat lunak, misalnya peraturan, struktur organisasi, job descriptionnya dan lain-lain. Keempat, mutu masukan berupa harapan dan kebutuhan, seperti visi misi dan cita-cita. Sedangkan, hal-hal yang termasuk dalam mutu proses pembelajaran adalah derajat kesehatan, keamanan, disiplin, keakraban, saling menghormati, kepuasan dan lain-lain dari subyek selama memberikan dan menerima jasa pelayanan. Hasil (output) pendidikan dipandang bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurikuler pada peserta didik. Di luar kerangka itu, mutu out-put dapat dilihat dari nilai-nilai hidup yang dianut, moralitas, dorongan untuk maju, dan Iain-lain yang diperoleh oleh peserta didik pada saat ia menjalani proses belajar mengajar.
INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEGIATAN PEMBELAJARAN Sahlan
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada indikasi kuat mengenai tercerabutnya nilai-nilai luhur bangsa kita, seperti kesantunan, kejujuran, kebersamaan dan lain-lainnya, sehingga muncullah antara lain kasus tawuran pelajar dan mahasiswa, perjokian, penyuapan, markus, korupsi. Semua itu menggambarkan kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter bangsa. Ini sebagai bukti bahwa selama ini ada kecendenmgan masyarakat maupun sekolah hanya sekadar memacu peserta didiknya untuk memiliki kemampuan akademik tinggi, tapi mengabaikan hal-hal yang non akademis dan tanpa diimbangi pembentukan karakter yang kuat dan cerdas. Oleh karena itu, pendidikan karakter mendesak untuk segera mendapat perhatian serius, yang salah satunya dengan cara menanamkan nilai-nilai luhur tersebut melalui kegiatan pembelajaran di setiap satuan pendidikan.
MENGUAK STRATIFIKASI SOSIAL KIAI, HAJI, DAN ULAMA Sukarno
Al'Adalah Vol. 9 No. 2 (2006)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human being is equal before Allah, except because of one spiety (taqwa). But in social life, human being is different and stratified into several degree. Social stratification happens in society because everyone has different ability in accessing dimension, privilege, prestige, and status. This article aims to give some explanation about the phenomena of hajji, Moslem scholar (Ulama') and Kyai from the economic, power and status perspectives. When these social phenomena in Moslem society are analyzed with social stratification theory, they will explain the character of social change in our society in general. The conclusion suggests that (1) Haji is an achieved status because of existence of economic wealthy, and the Moslem society perceive someone who own the hajji title as an ordinary citizen, because hajji is a religious obligation and the fifth pillar of Islam: (2) Kyai is achieved stains, social stratification transformation, and vertical social mobility. This title is given to someone who has expertise in religious knowledge and become the exemplar of the society. Kyai is an informal and non-formal leader who reaches respectable .status and power in society, and economically become the wealthy class; and (3) Title ulama (Moslem scholar) is an achieved status because of religious piety and intellectuality. He obtain honored place in society, and also has formal and non-formal power, and pertains to an higher economic class.
PESANTREN: SEBUAH CAGAR TRADISI ISLAM INDONESIA Chotib
Al'Adalah Vol. 9 No. 2 (2006)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan merupakan realitas yang tak dapat dipungkiri. Sepanjang sejarah yang dilaluinya, pesantren terus menekuni pendidikan tersebut dan menjadikannya sebagai fokus kegiatan. Dalam mengembangkan pendidikan, pesantren telah menunjukkan daya tahan yang cukup kokoh sehingga mampu melewati berbagai jaman dengan beragam masalah yang dihadapinya. Dalam sejarahnya itu pula, pesantren telah menyumbangkan sesuatu yang tidak kecil bagi Islam di negeri ini. Sungguhpun demikian, pesantren tak dapat berbangga hati dan puas dengan sekedar mampu bertahan terhadap sumbangan yang diberikan di masa lalu. Signifikansi pesantren bukan hanya terletak pada dua hal tersebut, tetapi pada kontribusinya yang nyata bagi umat Islam, secara khusus dan masyarakat secara umum di masa kini dan mendatang. Justru kalau kita mau jujur, ketahanan pesantren ternyata menyimpan berbagai persoalan yang cukup serius. Sebab dalam realitasnya daya tahan tersebut, pada satu sisi telah membuat terjadinya pengentalan romantisme konservatif, dan pada sisi lain, hal itu telah menyeret pesantren kedalam perubahan yang sekadar "latah" dan tanpa antisipatif.
POLA HIDUP SUFI DI TENGAH KEHIDUPAN GLOBAL Hepni
Al'Adalah Vol. 9 No. 2 (2006)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adalah kurang tepat pemahaman masyarakat yang menganggap bahwa sosok sufi itu adalah mereka yang berpenampilan kolot, yang benci kehidupan dunia, yang menolak hidup mewah atau berpakaian seadanya. Kendati dalam dunia sufi melekat pola hidup zuhud, tetapi vang dimaksud bukan tidak boleh punya harta benda, atau menolak kehidupan dunia. Sejatinya manusia sufi adalah mereka yang muwafaqoh kepada Allah, yang munasahah dengan sesama makhluk, yang mukhalafah dengan nafsu serta yang muharabah dengan setan. Untuk itulah dalam kehidupan yang semakin kompetitif, bising dan tidak jarang kejam, pola hidup sufi diharapkan dapat berperan signifikan sebagai pusat rehabilitasi sosial bagi pihak-pihak yang mengalami kegoncangan psikologis dan kegersangan spritual sekaligus sebagai penyeimbang terhadap kecenderungan pola hidup serakah, saling menjegal, materialistik dan hedonis.
ABDUL MUHYI PAMIJAHAN DAN TAREKAT SYATTARIYAH: MENELUSURI PENYEBARAN TAREKAT SYATTARIYAH DI JAWA Miftah Arifin
Al'Adalah Vol. 9 No. 2 (2006)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abdul Muhyi merupakan salah seorang murid dari Abdur Rauf al-Sinkel dan sebagai salah satu jalur penyebaran Islam Nusantara khususnya di Pulau Jawa pada masa awal. Doktrin wihdatul wujud yang pada awalnya sebagai sebuah doktrin yang rumit dan kontroversi disajikan dalam bentuk yang lebih traditional dan mudah dimengerti oleh orang awam melalui ajaran martabat tujuh. Abdul Muhyi berjasa besar dalam doktrin wihdatul wujud dalam bentuk yang lebih tradisional terutama melalui tarekat Syattariyah dan menjadikannya sebagai sebuah perbincangan dan menyebar di kalangan masyarakat.
HEGEMONI NEGARA TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN: TELAAH ATAS TEORI KRITIS ANTONIO GRAMSCI Hafidz
Al'Adalah Vol. 9 No. 2 (2006)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejatinya, pendidikan dibangun untuk mengembangkan pengetahuan manusia agar lepas dari keadaan tertindas dan hegemoni. Alih-alih mencapai target membentuk manusia otonom, kelangsungan dunia pendidikan di negara ini, terutama pada pemerintahan Orde Baru, justeru selalu berada dan terjebak dalam dominasi negara. Dunia pendidikan selalu tidak dapat keluar dan bebas dari kepentingan negara. Maklum, keberadaan negara begitu dominan. Dominasi negara di setiap kelangsungan aktifitas warga bangsa, termasuk pendidikan, dalam bahasa Gramsci dikenal dengan sebutan hegemoni. Berpijak pada teori hegemoni Gramsci, secara gamblang tergambar betapa selama ini dunia pendidikan mengalami hegemoni negara yang berakihat pada hilangnya fungsi dasar pendidikan, yakni membebaskan manusia dari kondisi yang merongrong nilai-nilai kemanusiaannya.