cover
Contact Name
Moh. Fathoni
Contact Email
jurnaladalah@gmail.com
Phone
+6285328075686
Journal Mail Official
jurnaladalah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Miuwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Al'Adalah
This journal aims to publish original research articles on Islam and Muslims, especially Islamic thoughts, doctrines, and practices oriented toward moderation, egalitarianism, and humanity. The journal articles cover integrated topics on Islamic issues, including Islamic philosophy and theology, Islamic culture and history, Islamic politics, Islamic law, Islamic economics, and Islamic education, engaging a multidisciplinary and interdisciplinary approach. Therefore, this journal receives original research articles from any country and region concerned with Islam and Muslim.
Articles 464 Documents
KRITIK NALAR ISLAM ARAB: TELAAH NALAR KRITIS EPISTEMOLOGI MOH ABID AL-JABIRI
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abid al-Jabiri sebagai pemikir utama dalam mengkaji perkembangan pemikiran Islam Arab yang berkembang di era kontemporer. Abid al-Jabiri dengan mengikuti langkah modernitas yang di bangun untuk mencoba memperkenalkan bangunan nalar epistemologinya pada dunia Barat, ia merupakan tokoh yang banyak mencatat pemikiran wacana lama dengan paradigma gaya baru sehingga orisinalitasnya bisa berdampak seperti yang ia bangun sampai sekarang masih menggema sebagai sebuah wacana pengetahuan. Paradigma tersebut menjadi pilihan yang tidak terelakkan, karena mampu mencakup segala yang berhubungan dengan sumber pengetahuan. Abid al-Jabiri mencoba mendasari keilmuan dengan tiga epistemologi, epistemologi nalar bayani, epistemologi nalar burhani dan epistemologi nalar irfani, yang menjadi nalar epistemologi Islam. Namun di sisi lain, pemikirannya banyak mendapatkan kritikan tajam, karena ada unsur subjektifitas yang ia lakukan, jika ada tokoh yang mendukungnya dari pemikirannya, maka ia catat dan mengalahkan pemikir atau pendapat yang lain. Namun setidaknya Abid al-Jabiri mampu membangun wacana nalar epistemologi dengan trilogi pemikirannya, maka wajar karena bagaimanapun juga al-Jabiri adalah manusia biasa yang mencoba membangun modernitas di dunia Islam tanpa kehilangan ruh Islamnya.
MENGUAK PEMIKIRAN JASSER AUDA TENTANG FILSAFAT HUKUM ISLAM
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemikiran Jasser Auda berupaya untuk mendekati hukum Islam dalam berbagai dimensi, yang kemudian disebut dengan pendekatan multidisiplin. Pendekatan multi disiplin itu meliputi aspek metododologi yang telah mapan dirumuskan oleh ulama masa lalu, seperti ushul fiqh, ilmu tafsir, dll. Selain itu pendekatan lapangan filsafat dan teori sistem menjadi pendekatan yang paling signifikan dalam menetapkan dinamik hukum Islam. Pendekatan multidisiplin inilah yang kemudian dikenal dengan pendekatan maqashid yang dirumuskan Jasser Auda yaitu suatu pendekatan teori fiqh yang bersifat holistik (kulliyun) dan tidak membatasi pada teks ataupun hukum parsialnya saja. Namun lebih mengacu pada prinsip-prinsip tujuan universal. Pendekatan dengan menggunakan pemahaman maqashid bernilai tinggi dan dapat mengatasi berbagai perbedaan, seperti gap antara Sunni dan Shi’ah, ataupun gap politik umat Islam. Maqashid merupakan sebuah budaya yang sangat diperlukan untuk konsiliasi umat, sehingga mampu hidup berdampingan secara damai. Maqashid hendaknya dijadikan sebagai tujuan pokok dari semua dasar metodologi linguistik dan rasional dalam ijtihad, terlepas dari berbagai varian metode dan pendekatannya. Karena, merealisasikan maqashid yang dijadikan sebagai sistem, pendekatannya akan dapat menggapai keterbukaan, pembaharuan, realistis, dan fleksibel dalam sistem hukum Islam. Dengan demikian proses ijtihad akan menjadi efektif dan realistis sesuai dengan maqashid Shari’ah, yang intinya meraih kemaslahatan (jalnul masalih).
PASANG SURUT UNDANG-UNDANG PERADILAN AGAMA: PROBLEM PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi Pengadilan Agama telah menjadikan umat Islam Indonesia terlayani dalam penyelesaian masalah perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan shadaqah. Setelah diberlakukannya UU. No. 3 Tahun 2006 dan UU. No. 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama membawa perubahan besar penambahan wewenang dalam bidang ekonomi syariah. Hakim Pengadilan Agama, di satu sisi dituntut untuk memahami segala perkara yang menjadi kompetensinya. Di sisi lain, hakim pengadilan agama selama ini tidak menangani sengketa yang terkait dengan ekonomi syari’ah. Di situlah kemudian muncul problem-problem yang mengitari kompetensi baru peradilan agama. Problem-problem itu menyangkut tumpang tindihnya undang-undang, faktor kepercayaan dan pendapat publik, dan faktor keberadaan Badan Arbitrase.
AL-QUR’AN DAN HADITS: DIALEKTIKA SAINS-TEKNOLOGI DAN ILMU AGAMA
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampai saat ini, keadaan sains-teknologi di Barat mempunyai banyak pengaruh negatif terhadap kehidupan dan lingkungan di belahan dunia lainnya. Perilaku kekerasan, pergaulan bebas, hedonis dan perbuatan amoral lainnya merupakan bentuk nyata dari ”manipulasi” konstruksi teori dan aplikasi sains-teknologi yang bebas nilai. Untuk mengatasi situasi tersebut, salah satu yang harus dilakukan yaitu membuka dan memahami kembali teks al-Qur’an dan Hadis, Dialektika sains-teknologi dan ilmu agama, serta reformulasi tujuan, materi dan desain proses pendidikan Islam, agar upaya untuk menciptakan manusia ulul albab termanifestasikan dalam output pendidikan.
ISLAM KANAN VERSUS ISLAM KIRI DI INDONESIA
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Realitas kelompok umat Islam di Indonesia secara sederhana dapat dikelompokan menjadi dua golongan, yaitu: pertama, golongan kanan, yang dikenal kemudian dengan sebutan Islam kanan atau dengan istilah Funadamentalisme. Islam kanan lebih menekankan pada pemahaman teks secara normative, ingin mengembalikan kejayaan Islam pada masa Rasul dipraktekan dalam kontreks kekinian. Mereka selalu menggunakan issue-issue politik, seperti khilafah, anti barat, dan bahkan bisa bertindak anarkhis atas dalil agama, termasuk juga gerakan terorisme. Islam kanan juga terkesan sangat eksklusif, intoleran terhadap kelompok lain yang dianggap telah menyeleweng dari ajaran Islam. Secara historis Islam Kanan memiliki akar dengan kelompok DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang menentang perjanjian Renvile pada masa awal Indonesia dan berakhir dengan pemberontakan terhadap NKRI pada tahun 60-an. Kedua, golongan kiri, adalah kelompok yang lebih terbuka, inklusif, toleran terhadap nilai-nilai local maupun nilai-nilai Barat. Islam kiri bisa juga direpresentasikan oleh kelompok Islam tradisional yang bersifat moderat. Islam kiri juga bisa dikembangkan oleh gerakan Islam liberal saat ini.
DISKURSUS SEMIOTIKA: SUATU PENDEKATAN DALAM INTERPRETASI TEKS
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecenderungan untuk menggunakan semiotika sebagai metode baru dalam menafsirkan teks al-Qur’an, karena didasari oleh beberapa pertimbangan, yaitu pertama, bahwa perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dibangun atas peradaban teks. Proses membangun peradaban, kebudayaan dan ilmu pengetahuan didasari atas dialektika antara subjek manusia dengan realitas atau konteks sosial, dan dalam peradaban Islam ada dialektika antara manusia dengan teks al-Qur’an sebagai wahyu. Kedua, karena peradaban Islam terpusat pada teks, maka melakukan penafsiran akan teks menjadi keharusan esensial yang selalu hadir dalam setiap peradaban Islam, dan menjadi warisan intelektual Islam. Ketiga, tuntutan untuk melakukan interpretasi akan teks selalu memunculkan gagasan-gagasan dan metode baru yang perlu dirumuskan, ketika metode interpretasi sebagai produk masa lalu sudah tidak lagi memadai untuk menafsirkan al-Qur’an, sehingga al-Qur’an nampak sebagai sebuah teks yang tidak lagi perkasa menjawab tantangan masa depan, tetapi akan menjadi ditinggalkan oleh manusia karena tidak lagi menarik untuk diperbincangkan. Salah satu metode baru yang dianggap menarik dalam menafsirkan al-Qur’an adalah semiotika. Semiotika adalah ilmu tentang tanda yang digunakan oleh ilmuan Barat dalam memahami teks-teks. Semiotika mendapat apresiasi serius di dunia Barat, ketika persoalan bangunan epistemologi Barat yang dibangun dewasa ini ternyata mendapatkan banyak kritikan, sebagai akibat ketidak-berhasilannya membangun dan mengusung kebahagiaan universal bagi kemanusiaan. Kritik itu dilakukan oleh kalangan ilmuan yang mengusung bahasa sebagai titik tolak pemikirannya.
PSIKOLOGI MORAL AL-MUHASIBI: STUDI ATAS KITAB AL-RI’AYAH LI HUQUQ ALLAH
Al'Adalah Vol. 15 No. 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melalui karyanya, al-Ri’ayah li Huquq Allah, al-Muhasibi menganalisis secara utuh mengenai berbagai bentuk egoisme manusia, metode pelatihannya, dan cara mewaspadainya. Bentuk egoisme utama yang dibahasnya adalah; riya’ (narsisisme); kibr (megalomania); ‘ujub, dan ghirrah. Menyangkut pembahasan tentang khatarat, ia mengajukan tiga sumber penyebabnya, yakni hawa nafsu, setan atau iblis, dan Tuhan—melalui wahyu Ilahi dan nalar manusia. Analisis al-Muhasibi mengenai khatarat hawa nafsu dan setan merupakan analisis yang paling terkenal di kalangan kaum sufi. Namun, adalah penting untuk mengingat bahwasanya dia juga meyakini Allah sebagai sumber khatarat.
INTEGRATING OF THE RELIGIOUS AND SCIENTIFIC UNDERSTANDING DURING THE COVID-19 PANDEMIC Asmawati Asmawati
Al'Adalah Vol. 25 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v25i1.203

Abstract

This article analyzes the Indonesian people's scientific and religious understanding during the Covid-19 pandemic. It is a crucial topic to discuss because some religious people in Indonesia resist the government policies restricting worship. Based on the analysis, the results obtained include an excessive understanding of religion that will make people increasingly distrustful of reality, so they avoid the scientific explanation. The article also explains that religion is the primary factor in building community perspectives in Indonesia. Nevertheless, science and religion have contributed and should be integrated to solve the problems during the Covid-19 pandemic.
MEMBONGKAR KLAIM HARAM ATAS PENGHORMATAN BENDERA Zainul Hakim
Al'Adalah Vol. 25 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v25i1.205

Abstract

Recently the extreme tendency in religion has strengthened (conservative turn). The online media also promoted the discourses and fatwas on prohibition and disbelief for Muslims to salute the Indonesian flag. This is also reinforced by some Muslim preachers who are indicated as part of the transnational Islamic movement (takfiri), which states that saluting the flag is a heresy (bid'ah) or haram. It can disrupt the unity and integrity of the Indonesian people (Bhinneka Tunggal Ika; unity in diversity). Therefore, this article seeks to reveal the meaning of flag-saluting from the perspective of Islamic studies, including aspects of taklifiy and wad'iy ways in Islamic law. This effort is carried out by searching rigidly, both lughowi and ma’nawi. The results of this study conclude that saluting the national flag is not included in the category of mahdhah worship. Therefore, it cannot be called heresy or shirk; moreover, the person who does it is called an apostate (murtad) or kafir (infidel). In such cases, honoring the flag based on ethics or moral behavior differs from worship based on theology. Thus, the article can help clarify and reflect on religious problems in society.
DISKURSUS METODOLOGI STUDI AGAMA: PERGULATAN YANG BELUM TUNTAS
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam konstelasi global, fungsi agama mulai digugat banyak pihak. Agama tidak hanya sekadar dipahami dalam pengertian historis dan doktrinal, melainkan mampu berdialektika dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Di sinilah pentingnya multidisiplin ilmupengetahuan untuk mengurai berbagai fenomena agama yang kompleks. Sejatinya, para ulama Islam telah merintis tradisi keilmuan dan penelitian berbasis multidisplin tersebut, sehingga mampu keluar dari berbagai persoalan umat. Sebut saja Imam Bukhori, Imam Syafi’i dan Imam al-Ghazali misalnya. Karena, kajian agama secara akademik bukan hanya dimaksudkan untuk membedah hal-hal yang berada di luar jangkauan kapasitas nalar, tetapi juga untuk mengefektifkan fungsinya sebagai rujukan, way of life, weltanschauung, dan falsafah al-hayah.