cover
Contact Name
Magfiroh
Contact Email
dokicti@gmail.com
Phone
+6285288852893
Journal Mail Official
dokicti@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Surya Alam 8 Blok A No. 15 Jl. Masjid Jami, Talang Jambe, Kec. Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30961
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
ISSN : 2988439X     EISSN : 2987260X     DOI : https://doi.org/10.61994/alshamela
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies is a scientific journal published by CV Doki Course and Training. The papers to be published in Al-Shamela are research articles (quantitative or qualitative research approaches), literature studies or original ideas that are considered to contribute to scientific studies of Quranic and Hadith Studies. It is published two times a year, in April and October. There are two version of publication; print out (p) with ISSN: 2988-439X and electronic (e) with ISSN Online: 2987-260X
Articles 65 Documents
Kritik atas Gagasan Al-Qur’an sebagai Produk Budaya dalam Pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd Ika Hilmiatus Salamah; Muhammad Fadhil Wathani
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2293

Abstract

Penelitian ini bertujuan membahas kontroversi konsep Al-Qur’an sebagai “produk budaya” dalam pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd yang dinilai berpengaruh terhadap cara memahami historisitas dan universalitas wahyu. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana konsep tersebut dipahami, dikritisi, dan diperdebatkan dalam wacana tafsir kontemporer. Pertanyaan penelitian difokuskan pada kritik atas konsep Al-Qur’an sebagai produk budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis deskriptif-komparatif terhadap karya-karya Abu Zayd dan literatur yang mendukung maupun menolak pemikirannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep “produk budaya” membuka ruang tafsir kontekstual, namun menimbulkan kritik karena dianggap berpotensi mereduksi sifat transendensi wahyu. Analisis menunjukkan adanya tiga aspek kritik yang ditujukan yaitu kritik teologis, epistemologis dan metodologis. Penelitian ini berkontribusi dalam memetakan secara sistematis tiga dimensi kritik terhadap konsep Al-Qur’an sebagai produk budaya sekaligus memperjelas batas antara historisitas teks dan transendensi wahyu dalam studi Al-Qur’an kontemporer. Penulis menginterpre-tasikan bahwa keseimbangan antara aspek historis dan transenden diperlukan agar Al-Qur’an tetap relevan tanpa kehilangan kesakralannya. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya integrasi metodologis dalam memahami hubungan antara wahyu, teks, dan budaya.
Constructing Quranic Self-Efficacy: Analisis Tafsir Al-Mishbah dalam Dinamika Kepuasan Pernikahan Modern Adreina Maharani; Mujiburohman Mujiburohman
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2326

Abstract

Transformasi sosial di era kontemporer telah membawa perubahan dalam peran dan dinamika pernikahan yang dapat menghadirkan tantangan psikologis bagi pasangan dalam mengelola tanggung jawab rumah tangga dan mempertahankan kepuasan pernikahan. Penelitian ini mengkaji relevansi konsep self-efficacy dalam penafsiran M. Quraish Shihab terhadap Al-Qur'an melalui Tafsir Al-Mishbah dengan kepuasan pernikahan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis library research dengan pendekatan tafsir tematik (mauḍū‘ī) dan menganalisis penafsiran menggunakan perspektif teori self-efficacy Albert Bandura. Penelitian berfokus pada lima konsep Al-Qur'an, yaitu al-wus‘a (kapasitas manusia), al-‘azm (keteguhan tekad), al-mujāhadah (kesungguhan usaha), aṣ-ṣabr (kesabaran), dan at-tawakkul (bersandar kepada Allah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima konsep tersebut membentuk kerangka self-efficacy Qur'ani yang memadukan ikhtiar manusia, ketahanan psikologis, dan sandaran spiritual. Al-wus‘a merepresentasikan kesadaran terhadap kapasitas manusia, al-‘azm menekankan keteguhan, al-mujāhadah menunjukkan kesungguhan dalam berusaha, aṣ-ṣabr merepresentasikan ketahanan dalam menghadapi kesulitan, sedangkan at-tawakkul memberikan dimensi spiritual setelah ikhtiar dilakukan. Kelima konsep tersebut memiliki relevansi terhadap kepuasan pernikahan melalui regulasi kognitif, regulasi motivasional-emosional, dan regulasi transendental, khususnya dalam mengelola ekspektasi, menyelesai-kan konflik, mempertahankan komitmen, dan menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa self-efficacy dalam Tafsir Al-Mishbah menawarkan kerangka konseptual berbasis Al-Qur'an untuk memahami ketahanan psikologis dan spiritual dalam kehidupan pernikahan kontemporer. Kontribusi penelitian ini terletak pada perumusan konstruksi Quranic self-efficacy yang mengintegrasikan dimensi psikologis dan spiritual sebagai kerangka konseptual dalam membaca dinamika kepuasan pernikahan.
Zannī al-Dalālah dalam Ayat Ahkam: Analisis Tafsir terhadap Penetapan Hukum Islam Modern Kamila Rahma Azizah; Agus Sarifudin; Cecep Supriadi
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2294

Abstract

Melalui fleksibilitas penafsiran ayat-ayat hukum, penunjukkan makna dari zannī al-dalālah sangat krusial dalam menjawab tuntutan permasalahan modern.  Penelitian ini bertujuan untuk merespon dinamika  problematika kontemporer dengan menganalisis karakteristik, urgensi serta batasan metodologis penggunaan zannī al-dalālah agar tetap objektif. Penelitian ini berbasis kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif-analitis yang mengintegrasikan analisis hermeneutika-tafsir dan ushul fiqh. Data primer penelitian ini bersumber dari kitab tafsir otoritatif yang dianalisis secara sistematis melalui reduksi, penyajian, dan metode komparatif-verifikatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat zannī pada teks wahyu merupakan instrumen fleksibilitas syariat yang dipengaruhi oleh aspek kebahasaan dan metodologi penafsiran. Melalui contoh aplikatif kasus QS. Al-Ahzab: 59 mengenai jilbab, ditemukan polarisasi penafsiran dari pendekatan tekstual-klasik hingga kontekstual-kontemporer. Dalam hal ini, penggunaan Tahqīq al-Manāṭ terbukti menjadi kunci krusial dalam menyesuaikan hukum dengan fenomena modern secara presisi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting berupa formulasi kerangka metodologis yang mengintegrasikan analisis linguistik dengan Tahqīq al-Manāṭ sosiologis, menawarkan solusi objektif untuk menjembatani keaslian teks dengan perubahan sosial tanpa terjebak dalam penafsiran bebas.
Analisis Semantik Toshihiko Izutsu terhadap Makna Lafaz Wajh dalam Al-Qur'an pada Tafsir Abad Pertengahan (Abad ke 3-7 H) Rahmawati; Rifa’ Tsamrotul Sya’adah
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2321

Abstract

Lafaz wajh yang disandarkan kepada Allah dalam Al-Qur’an termasuk ayat sifat (mutasyabihat) yang memicu perdebatan panjang di kalangan ulama, yakni apakah maknanya dipahami secara literal-jasmani atau ditakwilkan secara metaforis. Kajian terhadap lafaz ini selama ini cenderung terjebak dalam dikotomi teologis, sementara dimensi semantiknya kurang mendapat perhatian. Artikel ini bertujuan mengkaji makna lafaz wajh secara sistematis dengan mengaplikasikan teori semantik Toshihiko Izutsu pada tafsir abad pertengahan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis komparatif, dengan kerangka analisis meliputi makna dasar, makna relasional, analisis sinkronik-diakronik, medan semantik, dan rekonstruksi weltanschauung. Objek kajian mencakup tiga ayat, yaitu Q.S. al-Baqarah [2]: 115, Q.S. al-Rahman [55]: 27, dan Q.S. al-Qashash [28]: 88, yang dianalisis melalui al-Kashshaf karya al-Zamakhsyari, Mafatih al-Ghayb karya al-Razi, dan Anwar al-Tanzil karya al-Baydawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga mufasir secara konsisten menafsirkan wajh secara non-literal melalui jalur argumentasi yang berbeda: balaghah pada al-Zamakhsyari, silogisme filosofis pada al-Razi, dan sintesis ringkas pada al-Baydawi. Melalui kerangka Izutsu, makna dasar wajh sebagai “bagian depan/yang menghadap” bersifat konstan, sedangkan makna relasionalnya bercabang menjadi tiga varian: “arah ibadah yang diridai” (al-Baqarah), “zat Allah yang kekal” (al-Rahman), dan “wujud Allah yang niscaya” (al-Qashash). Secara sinkronik, ketiganya bermuara pada dzat Allah sebagai pusat medan semantik. Rekonstruksi weltanschauung menghasilkan tiga pilar: ihatah (kehadiran yang meliputi), baqa’ (kekekalan), dan wujub al-wujud (keniscayaan wujud). Prinsip tanzih berfungsi sebagai kerangka hermeneutis bersama lintas mazhab kalam.
Penafsiran Konsep Ibadah dalam Al-Qur’an Samsul Hadi Mungawan
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2339

Abstract

Pemahaman masyarakat terntang ibadah bervariasi, sesuai yang ditulis para penafsir. Di antaranya ada yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja serta kurang mengenal Allah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan ibadah guna menegaskan bahwa konsep ibadah dalam Al-Qur’an merupakan tujuan utama penciptaan manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research), dengan bersumber pada buku-buku tafsir, hadis Nabi dan artikel ilmiah yang relevan yang mendukung dalam pencarian referensi penelitian ini. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi mencakup seluruh aktivitas kehidupan manusia yang dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat. Ibadah juga berkaitan dengan upaya manusia menjalankan perannya sebagai hamba Allah sesuai dengan tujuan penciptaannya. Sebagai-mana di dalamnya menjelaskan secara rinci yang diwujudkan ibadah dengan bentuk salat, sabar, dan syukur serta relevansinya dengan pengendalian diri dalam perbuatan sehari-hari. Ibadah dan relevansinya dengan pengendalian diri dari perbuatan keji dan munkar memang ada jika salat itu benar-benar karena Allah bukan karena keterpaksaan. Sabar yang dimaksud adalah senantiasa menjalankan perintah Allah dengan iklas. Syukur disini yaitu tertuju pada pelaksanaan penghambaan sebagai rasa syukur atas segala nikmat Tuhan. Pelaksanaannya penuh dengan kekhusyukan, penghambaan yang penuh dengan ketenangan, menghamba secara lahiriah dan menghamba secara batiniyah. Maksudnya di samping gerak-gerik salat yang dilakukan oleh anggota badan, hati juga melakukan ibadah, meyakini dalam hati bahwa sedang berkomuniaksi dengan Allah.
Israf Revisited: A Gadamerian Fusion of Horizons in Tafsir Al-Azhar and Tafsir Al-Mishbah Ahmed Hafiz Al Fikri; Halimatussa'diyah Halimatussa'diyah; Raden Ayu Erika Septiana; Kusnadi Kusnadi; Ahmad Syarif Hidayatullah
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2360

Abstract

This study examines the Qur'anic concept of israf (excess) through Hans-Georg Gadamer's fusion-of-horizons hermeneutics, comparing the interpretations found in Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka and Tafsir Al-Mishbah by M. Quraish Shihab. Because israf spans personal, social, and structural domains, its contemporary significance cannot be captured through descriptive comparison alone. A Gadamerian reading of Tafsir Al-Azhar and Tafsir Al-Mishbah is important because the two works emerge from different Indonesian historical horizons, enabling a dialogical account of how Qur'anic meaning is rearticulated across changing contexts. This qualitative library research analyzes seven israf verses across six thematic clusters (QS. An-Nisa [4]: 6; Al-An'am [6]: 141; Al-A'raf [7]: 31 and 81; Al-Furqan [25]: 67; and Ash-Shu'ara [26]: 151–152) through four stages of Gadamerian hermeneutics: historical reading, pre-understanding, fusion of horizons, and contemporary application. The findings show that both exegetes agree that israf constitutes transgressing reasonable limits, extending from the personal-consumptive, moral-behavioral, and fiduciary domains to the structural-political domain, while differing in emphasis: Tafsir Al-Azhar foregrounds socio-agrarian responsibility and leadership legitimacy within mid-twentieth-century Indonesia, whereas Tafsir Al-Mishbah foregrounds spiritual motive, structural justice, and wasathiyyah, reflecting late-twentieth- to early-twenty-first-century discourse. The fusion of these two interpretive horizons is relevant to contemporary issues, particularly social-media flexing and frugal living, as well as accountability in the management of public and fiduciary resources, and contributes a multidimensional hermeneutic reading of israf that connects personal ethics, social responsibility, and structural accountability within contemporary Indonesia, thereby reaffirming the Qur'anic message as shalih li kulli zaman wa makan (valid for every time and place).
Internalisasi Karakter Anak melalui Living Qur’an: Studi Kasus Fenomenologi di TK TPA Tahfizh Al Fath Azhar Muhtarom; Muhammad Farhan Maulana; Muhammad Pasya Dinia Pratama; Ahmad Verdy Ramadhan; Aldi Aldi; Muhammad Wildan Asy Syavqi
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.1762

Abstract

Pendidikan Al-Qur’an pada jenjang usia dini sering kali masih berorientasi pada target penyelesaian hafalan teks murni. Orientasi tersebut belum sepenuhnya menekankan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan anak. Karena itu, diperlukan pembelajaran yang mengintegrasikan hafalan dengan internalisasi nilai keagamaan melalui praktik keseharian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pergeseran orientasi pengajaran tersebut menuju internalisasi nilai-nilai agama, dengan membedah fenomena Living Qur’an di TK TPA Tahfizh Al Fath Azhar. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatoris selama 180 jam kegiatan pengabdian masyarakat serta wawancara informal bersama pendidik. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, penerapan rutinitas adab keseharian sukses mengubah teks hafalan menjadi tindakan sosial dan etika yang nyata. Kedua, inisiasi fasilitas pojok literasi terbukti mampu menciptakan lingkungan fisik yang merangsang santri untuk aktif mengeksplorasi bacaan keislaman secara mandiri. Ketiga, metode berkisah (storytelling) memainkan peran sebagai tafsir lisan yang menjembatani teks teologis yang berat dengan nalar kepolosan anak-anak. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa literasi Qur'ani bagi anak prasekolah jauh lebih bermakna dan membumi apabila diintegrasikan lewat pembiasaan lingkungan, penyediaan fasilitas baca, serta pendekatan naratif, ketimbang sekadar mengandalkan metode setoran hafalan konvensional. Temuan Living Qur’an menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an diinternalisasikan melalui pembiasaan membaca, berdoa, berperilaku baik, dan penerapan nilai Qur’ani dalam aktivitas sehari-hari.
Al-Qur’an sebagai Sumber Motivasi Spiritual dalam Kehidupan Muslim: Studi Tematik terhadap Ayat-Ayat Motivatif Ivana Zafira Aurellia; Agus Sarifudin; Cecep Supriadi
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2344

Abstract

Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai pedoman ibadah, tetapi juga menjadi sumber nilai yang memberikan dorongan spiritual bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Berbagai ayat dalam Al-Qur’an mengandung pesan motivatif yang berkaitan dengan keimanan, harapan, kesabaran, tawakal, dan evaluasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai motivatif serta mengkaji bagaimana ayat-ayat tersebut menjadi sumber motivasi spiritual dalam kehidupan Muslim. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research) melalui pendekatan tafsir tematik (maudhu’i). Data penelitian diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan motivasi spiritual serta didukung oleh kitab tafsir, buku ilmiah, artikel jurnal, dan penelitian terdahulu yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-interpretatif dengan mengelompokkan ayat berdasarkan tema motivasi spiritual dan mengkaji penafsirannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat motivatif dalam Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tema utama, yaitu keimanan dan amal saleh, harapan dan optimisme, kesabaran, tawakal, keteguhan, serta muhasabah dan orientasi kehidupan akhirat. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa motivasi spiritual dalam Al-Qur’an tidak hanya berorientasi pada pencapaian duniawi, tetapi membangun kesadaran hubungan manusia dengan Allah, memberikan kekuatan dalam menghadapi ujian, serta mendorong manusia untuk melakukan perbaikan diri secara berkelanjutan. Dengan demikian, Al-Qur’an memiliki relevansi sebagai sumber motivasi spiritual yang membentuk sikap optimis, tangguh, dan bertanggung jawab dalam kehidupan Muslim.
Konsep Penyelesaian Konflik Waris dalam Tafsir Al-Mishbah:  Analisis Persepsi Keadilan dan Resolusi Konflik dalam Psikologi Sosial Syadza Yumna Asyraf Pramuditya; Anas Mujahiddin
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2358

Abstract

Konflik pembagian warisan kerap menjadi sumber retaknya hubungan kekerabatan dalam keluarga Muslim, bukan semata karena ketidaktahuan terhadap hukum farā'iḍ, melainkan karena persepsi ketidakadilan yang dirasakan para ahli waris. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep penyelesaian konflik waris yang ditawarkan M. Quraish Shihab dalam Tafsīr Al-Mishbah, kemudian membacanya melalui kerangka teori keadilan distributif (equity theory) John Stacy Adams dan teori resolusi konflik Morton Deutsch. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berjenis kepustakaan (library research). Analisis data dilakukan melalui analisis isi (content analysis) kualitatif bermodel interpretatif-komparatif dengan menerapkan mutual-illumination antara temuan tafsir dan konsep psikologi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir Al-Mishbah memaknai keadilan (al-'adl) bukan sebagai kesamaan rata (equality), melainkan proporsionalitas berbasis tanggung jawab dan kebutuhan, selaras dengan rasio input-outcome dalam teori Adams. Prinsip iṣlāḥ, musyāwarah, dan tabayyun yang ditekankan Shihab merepresenta-sikan strategi resolusi konflik kooperatif Deutsch yang berorientasi pada penyelesaian konstruktif berbasis kepercayaan dan komunikasi terbuka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir Al-Mishbah menyediakan sumber daya substantif untuk merekonsiliasi kepastian hukum dengan persepsi keadilan psikologis ahli waris. Penelitian ini menyumbangkan model integratif empat tahap (kognitif, relasional, prosedural, dan pemulihan) sebagai kerangka praktis bagi penyuluh agama, mediator, dan konselor keluarga dalam menangani sengketa waris secara lebih komprehensif.
Praktik Hadis Menghormati Tamu dalam Pembacaan Manaqib di Desa Sentong, Probolinggo: Analisis Living Hadis Ummu Aiman; Nurul Istiqomah
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2368

Abstract

Penelitian living hadis ini penting untuk di analisis, karena living hadis merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai hadis yang hidup dan dipraktikkan dalam sebuah tradisi, budaya, dan perilaku masyarakat. Penelitian ini mengkaji fenomena suguhan ayam sebagai bentuk perhormatan tamu dalam tradisi pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Tradisi ini telah dilaksanakan turun-temurun di kalangan masyarakat Muslim setempat dan biasa diselenggarakan pada peringatan hari besar Islam, pernikahan, sunatan, kelahiran, maupun kegiatan rutinan warga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis suguhan ayam dalam tradisi manaqib serta mengkaji pandangan masyarakat terhadap praktik penghormatan tamu tersebut sebagai fenomena sosial yang terjadi di Desa Sentong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis living hadis dengan dengan jenis penelitian lapangan, serta menggunakan pendekatan Edmund Husserl untuk mengungkap makna, nilai keagamaan, dan pengalaman hidup yang melandasi tradisi tersebut. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap satu tokoh masyarakat dan enam anggota manaqib sebagai informan utama, kemudian dianalisis melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suguhan ayam, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan toron dere (secara harfiah berarti turun darah) dimaknai sebagai simbol syukur dan penghapus dosa-dosa yang telah lalu, sekaligus wujud aktualisasi hadis Nabi tentang memuliakan tamu. Masyarakat memandang tradisi ini sebagai sarana mempererat silaturrahim dan solidaritas sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya khazanah living hadis dengan menghadirkan objek kajian baru (suguhan ayam), serta menjadi rujukan metodologis bagi peneliti lain yang ingin mengkaji fenomena serupa di daerah lain.