cover
Contact Name
Magfiroh
Contact Email
dokicti@gmail.com
Phone
+6285288852893
Journal Mail Official
dokicti@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Surya Alam 8 Blok A No. 15 Jl. Masjid Jami, Talang Jambe, Kec. Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30961
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
ISSN : 2988439X     EISSN : 2987260X     DOI : https://doi.org/10.61994/alshamela
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies is a scientific journal published by CV Doki Course and Training. The papers to be published in Al-Shamela are research articles (quantitative or qualitative research approaches), literature studies or original ideas that are considered to contribute to scientific studies of Quranic and Hadith Studies. It is published two times a year, in April and October. There are two version of publication; print out (p) with ISSN: 2988-439X and electronic (e) with ISSN Online: 2987-260X
Articles 36 Documents
Studi Al-Qur’an dalam Lensa Orientalis: Antara Kritik dan Kontribusi Indri, Indri; Masayu Nisa Malihah; Bukhari Abdul Shomad
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v3i2.1041

Abstract

Sebagian besar orientalis berasumsi bahwa Al-Qur’an bukanlah wahyu murni, melainkan teks religius yang sarat dengan jejak tradisi Yahudi dan Kristen. Artikel bertujuan menganalisis kajian orientalis, yang secara umum menegaskan bahwa kandungan ajaran Yahudi serta sejumlah unsur doktrin Kristen memberikan pengaruh signifikan terhadap konstruksi al-Qur’an. Orientalis secara umum memahami bahwa dogma serta kisah para nabi yang disampaikan Muhammad dalam Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari rujukan Alkitab. Bahkan, mereka menilai bahwa tanpa acuan kitab suci Yahudi-Kristen, banyak narasi dalam Al-Qur’an yang tidak bisa dipahami secara utuh. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif-analitis serta telaah pustaka. Dari hasil kajian literatur, terungkap bahwa orientalisme tidaklah monolitik, di satu sisi terdapat kritik tajam dan kecenderungan reduksionis terhadap asal-usul Islam, namun di sisi lain ada pula kontribusi ilmiah yang objektif, khususnya dalam bidang filologi, kajian bahasa Semantik, serta kronologi sejarah teks. Dengan demikian, orientalisme dapat dipandang sebagai medan akademik yang ambivalen, di mana bias ideologis bercampur dengan capaian ilmiah yang bernilai. Penelitian ini berkontribusi dalam melengkapi kajian pengaruh pemikiran orientalis terhadap studi Al-Qur’an, mengakui sumbangan orientalis dalam bidang bahasa dan sejarah teks, serta menekankan perlunya sikap kritis umat Islam agar tidak menolak atau menerima pandangan mereka secara berlebihan.
Kontroversi dan Kritik: Pandangan Orientalis tentang Autentisitas Al-Qur’an Masruchin, Masruchin; Sultan Dzaki; Rahmat Gani
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v3i2.1043

Abstract

Studi ini membahas berbagai kontroversi dan kritik yang dilontarkan oleh orientalis terkait autentisitas al-Qur’an. Penelitian ini menelaah pemikiran sejumlah orientalis klasik dan modern, antara lain Theodor Nöldeke, John Wansbrough, Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, dan Patricia Crone, serta mengeksplorasi bagaimana para sarjana Muslim kontemporer di Indonesia merespons dan menanggapi pandangan-pandangan tersebut. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan metode analisis-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak kritik orientalis terhadap autentisitas al-Qur’an bersandar pada metodologi yang problematis, asumsi yang lemah, serta kurangnya pemahaman mendalam terhadap tradisi intelektual Islam. Sebagai respons, para sarjana Muslim Indonesia telah memberikan kritik dan tanggapan substantif, dengan memanfaatkan perspektif keilmuan Islam dan kajian ilmiah modern untuk membantah atau memperjelas asumsi-asumsi orientalis. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan diskursus akademik tentang studi al-Qur’an, khususnya dalam konteks intelektual kontemporer di Indonesia, dengan menyoroti pentingnya dialog kritis antara pendekatan tradisional Islam dan studi modern.
Rekonstruksi Makna Hadis tentang Penciptaan Perempuan: Perspektif Simbolik, Kontekstualisasi, dan Kesetaraan Gender Hilda Husaini Rusdi; Eko Zulfikar
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v3i2.1075

Abstract

Artikel ini bertujuan menelaah hadis tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk, dengan pendekatan yang menekankan pada kajian sanad (rantai perawi) serta matan (teks) hadis tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan teori ma‘ani al-hadis, yaitu ilmu yang membahas makna-makna hadis, yang memungkinkan munculnya pemahaman hadis secara tekstual maupun kontekstual. Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa sanad dan matan hadis tersebut adalah otentik. Sanadnya sahih karena bersambung hingga Rasulullah, perawinya bersifat adil, ḍābiṭ, dan tidak ditemukan cacat (syudhūdh) atau ‘illat. Melalui analisis simbolik-metaforis, hadis ini menekankan agar laki-laki mengubah perspektif dalam berinteraksi dengan perempuan. Laki-laki dianjurkan bersikap hati-hati dan bijaksana karena sifat perempuan diibaratkan seperti tulang rusuk yang bengkok—dalam arti unik dan indah, bukan menyimpang atau rendah. Hadis ini menunjukkan perbedaan tabiat antara laki-laki dan perempuan, sehingga laki-laki sebaiknya tidak mencoba mengubah-nya. Meski begitu, sebagian ulama menafsirkan hadis ini secara tekstual dan ada yang condong pada pandangan subordinasi perempuan. Oleh karena itu, pemahaman hadis ini perlu ditempatkan dalam konteksnya. Dengan pendekatan yang adil gender, perempuan dapat diperlakukan secara setara dan bermartabat. Artikel ini berkontribusi dalam memperluas pemahaman hadis secara konteks-tual, menolak interpretasi seksisme, dan menegaskan perlunya pendekatan adil gender dalam penafsiran teks-teks keagamaan, sehingga menjadi dasar akademik bagi perlakuan yang setara terhadap perempuan dalam konteks sosial dan keagamaan.
Fenomena Social Climber: Interpretasi Hadis dalam Menyikapi Etika Sosial di Era Kontemporer Anisa Ade Ramadhani; Muhajirin Muhajirin; Adriansyah NZ
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v3i2.1094

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas fenomena social climber, yaitu perilaku individu yang berusaha meningkatkan status sosialnya melalui berbagai cara, termasuk membangun citra, menampilkan gaya hidup, dan menonjolkan penampilan di hadapan orang lain. Individu semacam ini kerap menampilkan kehidupan yang lebih mewah atau berlebihan daripada kondisi nyata, dengan tujuan memperoleh pengakuan sosial lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka (library research) dengan perspektif fenomenologi, menelaah hadis-hadis dari Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim untuk memahami pandangan Islam terhadap perilaku social climber dan solusi yang ditawarkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku social climber cenderung bertentangan dengan nilai-nilai Islam karena mengandung sifat sombong, riya’, dan obsesi untuk terlihat lebih dari kemampuan nyata. Hadis menekankan pentingnya kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati dalam kehidupan sosial sebagai antitesis dari perilaku social climber. Kontribusi utama artikel ini terletak pada pemahaman kontekstual tentang social climber dari perspektif hadis, yang menunjukkan relevansi ajaran Islam dalam membentuk etika sosial dan moralitas kontemporer, serta memberikan panduan bagi individu untuk menilai dan mengendalikan ambisi mereka agar selaras dengan prinsip-prinsip agama.
Interpretasi Makna Khalifah dalam Al-Qur’an: Perspektif Hermeneutika Ma’na-Cum-Maghza Adrika Fithrotul Aini
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v3i2.1100

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai makna khalifah yang oleh beberapa oknum atau kelompok dimaknai dengan berbeda-beda. Beberapa poin bahasannya ditekankan pada apa makna sinkronik kata khalifah dari masa Qur’anik hingga pasca Qur’anik dan bagaimana makna signifikan yang dihasilkan dari penafsiran kata ini yang dapat direlevansikan dengan berbagai konteks yang ada. Penelitian dengan bentuk studi pustaka dan analisis teori ma’na cum maghza menjadi landasan dasar metode yang penulis gunakan. Hasil tulisan ini menunjukkan bahwa makna kata khalifah terjadi pergeseran, yaitu dari makna pengganti ke makna pengelola atau pelaksana. Ada dua makna kata khalifah, yaitu secara horizontal antara fitrah manusia dengan Allah dan secara vertikal antara sesama manusia. Penyebutan khalifah berimplikasi kepada tugas dan tanggungjawab yang harus diemban dalam menjaga stabilisasi kehidupan di muka bumi, baik mengenai kualifikasi khalifah atau pun job description yang perlu dilaksanakan. Tulisan ini berkontribusi dalam memperkaya khazanah tafsir tentang makna khalifah dalam konteks sosial-politik Islam. Dengan memberikan kerangka konseptual yang lebih utuh tentang makna khalifah dengan menyingkap dimensi sinkronik dan diakroniknya, tulisan ini memungkinkan terbangunnya pemahaman yang tidak hanya bersifat tekstual-normatif, tetapi juga kontekstual dan fungsional.
The Construction of the Meaning of al-aql and al-qalb in Tafsir Mafatih al-Ghaib Ahmad Humaidi; Dian Erwanto
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v3i2.1210

Abstract

This study examines the role of reason (al-aql) and heart (al-qalb) in the Qur'an as cognitive and spiritual tools for humans. QS. al-Ankabut: 43 emphasizes the importance of reason in understanding divine parables, while QS. al-A'raf: 179 highlights human negligence in not using the heart to grasp the meaning of Allah's verses. The method used is analytical interpretation, through the perspective of Tafsir Mafatih al-Ghaib by Fakhruddin Al-Razi, which is known for its rational and philosophical approach. This study concludes that in Al-Razi's interpretation, reason is understood as an intellectual ability that enables scholars (al-'alimun) to interpret the parables of the Qur'an in depth through the process of ta'aqqul, which is holistic thinking that integrates rational analysis with revelatory guidance. Reason plays a role in assessing truth in the aspects of belief, law, and ethics. Meanwhile, the heart is the center of spiritual awareness (lathīfah rūḥiyyah), which enables humans to experience a spiritual journey (suluk), attain knowledge of Allah (wushul), and purify the soul from diseases of the heart (tazkiyah). Failure to use the heart causes humans to go astray, even becoming lower than other creatures. The findings of this study show that reason and the heart complement each other. Reason functions as a tool for rational analysis, while the heart is the center of internalization of spiritual values. An imbalance between the two, for example, relying on reason without purifying the heart, has the potential to produce a superficial understanding. The implications of this research are important for Islamic education, namely the integration of cognitive and spiritual development in the curriculum, as well as for contemporary life, by emphasizing the balance between reason and heart in facing modern challenges such as spiritual crises and the spread of disinformation.

Page 4 of 4 | Total Record : 36