cover
Contact Name
Mawaddah Ar Rachmah
Contact Email
neurona.perdossi@gmail.com
Phone
+6282130377088
Journal Mail Official
baybasalamah@gmail.com
Editorial Address
SEKRETARIAT PP PERDOSSI Apartemen Menteng Square, Tower A Blok R-19 Jl. Matraman nomor 30E, RT.5/RW.6, Kenari, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10430
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Neurona
ISSN : 02166402     EISSN : 25023748     DOI : https://doi.org/10.52386/neurona
Core Subject : Health, Science,
Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSSI) Pusat di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan bulan Maret, Juni, September dan Desember. Bidang studi cakupan NEURONA meliputi: Stroke dan Pembuluh darah Neurotrauma Neuroonkologi Neuro Infeksi Neuro Behavior Neurorestorasi Neuropediatri Gangguan Tidur Nyeri Kepala Neurootologi Neuro Intervensi Neuro Intensif Neurogeriatri Gangguan Gerak Epilepsi Neuro Epidemiologi
Articles 314 Documents
NEUROPATI PERIFER PADA PENYANDANG TALASEMIA DI POLIKLINIK HEMATO-ONKOLOGI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG Uni Gamayani; Fanny Adhy Putri; Nushrotul Lailiyya; Pandji Irani Fianza; Ramdan Panigoro
NEURONA Vol 36 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i3.75

Abstract

     PERIPHERAL NEUROPATHY IN THALASSEMIA PATIENTS AT HAEMATO-ONCOLOGY CLINIC HASAN SADIKIN GENERAL HOSPITAL BANDUNGABSTRACTIntroduction: Thalassemia is an inherited blood disorder with high prevalence that can lead to various neurological complications such as peripheral neuropathy. Peripheral neuropathy in thalassemia patients is commonly subclinical. Chronic hypoxia due to anemia and iron deposition are thought to be the risk factors for neuropathy in thalassemia. Nerve Conduction Study (NCS) is the gold standard in diagnosing peripheral neuropathy.Aims: To identify peripheral neuropathy among thalassemia patients in Hemato-oncology Clinic at Hasan Sadikin General Hospital, Bandung.Method: This was  a  cross  sectional,  observational  descriptive  study  conducted  on thalassemia patients who regularly underwent blood transfusion in Haemato-oncology Clinic at Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. The study was held from November 2017 until March 2018. All subjects who met inclusion criteria and did not meet any exclusion criteria were assessed with neurological examination, Toronto clinical score and NCS.Results: Forty subjects with mean age 21.8±6.4 years old, 57.5% were female. The mean hemoglobin level was 7.3±0.7g/dL  and  mean  ferritin  serum  level was 5,032±3,423μg/L. The median Toronto clinical s c o r e  was 4 (0-7) with normal, mild neuropathy, and moderate neuropathy in 55%, 42.5%, and 2.5% subjects respectively. Ninety percent patients had abnormal NCS examination with axonal degeneration found in 57.5% subjects and polyneuropathy in 82.5% subjects.Discussion: Peripheral neuropathy were found in most adult thalassemia patients. Although,  NCS  examination is important to established definitive diagnosis and considered to be  performed in thalassemia patients to  diagnose peripheral neuropathy.Keywords: NCS, peripheral neuropathy, thalassemia, Toronto clinical scoreABSTRAKPendahuluan: Talasemia adalah penyakit kelainan darah herediter dengan prevalensi tinggi dan menimbulkan komplikasi neurologis berupa neuropati perifer. Neuropati perifer pada penyandang talasemia seringkali bersifat subklinis. Hipoksia jaringan akibat anemia kronis dan deposisi besi karena transfusi dicurigai sebagai faktor risiko terjadinya neuropati perifer pada talasemia. Standar baku diagnosis neuropati perifer adalah dengan pemeriksaan Kecepatan Hantar Saraf (KHS).Tujuan: Untuk mengetahui adanya neuropati perifer pada penyandang talasemia di Poliklinik Hemato-OnkologiMedik RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif observasional, dengan rancangan potong lintang, dilakukan  pada subjek penyandang talasemia yang rutin menjalani transfusi  di  Poliklinik  Hemato-Onkologi Medik RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Penelitian dilakukan sejak November 2017 sampai Maret 2018. Seluruh subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memiliki kriteria eksklusi dilakukan pemeriksaan neurologis, skor klinis Toronto dan KHS.Hasil: Sebanyak 40 subjek berusia rerata 21,8±6,4 tahun, 57,5% perempuan. Rerata kadar hemoglobin 7,3±0,7g/ dL dan rerata kadar feritin 5,032±3,423μg/L. Skor klinis neuropati Toronto didapatkan median 4 (0-7) dengan interpretasi tidak ada neuropati, neuropati ringan dan neuropati sedang berturut-turut pada 55%, 42,5%, dan 2,5% subjek. Sebanyak 90% subjek memiliki gambaran KHS abnormal, polineuropati didapatkan pada 82,5% subjek dan gambaran degenerasi aksonal pada 57,5% subjek.Diskusi: Neuropati perifer terjadi pada sebagian besar penyandang talasemia dewasa. Pemeriksaan KHS diperlukan untuk diagnosis pasti dan dipertimbangkan untuk dilakukan pada penyandang talasemia.Kata kunci: KHS, neuropati perifer, skor klinis Toronto, talasemia 
HUBUNGAN KADAR ZINK SERUM DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA Prabaningrum Widyasmoro Prasetyanti; Hexanto Muhartomo; Maria Immaculata Widiastuti
NEURONA Vol 36 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i3.76

Abstract

  THE ASSOCIATION BETWEEN SERUM ZINC LEVEL AND COGNITIVE FUNCTION IN ELDERLY PEOPLEABSTRACTBackground: Dietary food intake can influence brain function, including zinc that has its higher level at hippocampus and amygdala. The most vulnerable age group that were exposed to zinc deficiency is elderly people >60 years. Zinc deficiency can lead to cognitive dysfunction, so early detection is required.Aims: To analyze the association between zinc serum levels with cognitive function in elderly people.Method: This research is an analytic observational research with cross sectional design. The subjects were elderly who fulfilled inclusion and exclusion criteria in Tresna Wredha Nursing Home, Semarang from May 1st, 2017 to November 30th, 2017. The nutritionist evaluated the diet at nursing home by food recall, and the result of zink diet was poor. Basic data were collected by interviewing the respondents with questionnaire, zinc serum level taken, and cognitive function assessed using Montreal Cognitive Assessment (MoCA) at the same time. The data was analyzed by bivariate analysis, and multivariate test with independent sample Kruskal-Wallis test, considered significant if p<0.05.Result: There were 47 subjects, with 48.9% had  <12 years duration of education, 6.4% with obesity BMI, 59.6% with hypertension, 14.9% were smokers, 31.9% had anemia, 34% had hypercholesterolemia and 8.5% subjects with hypoproteinemia. Based on serum zinc levels 6.4% of subjects had zinc deficiency, 83% had normal low serum zinc levels, and 18.6% had normal high serum zinc levels. There was significant association between zinc serum levels, education, and hypertension with cognitive function. Based on multivariate test, a low zinc serum level had 8 times the risk of experiencing cognitive impairment.Discussion: There was a correlation between zinc serum levels and cognitive function in elderly people.Keyword: Cognitive function, elderly people, zinc serum levelABSTRAKPendahuluan: Asupan makanan memengaruhi fungsi otak, termasuk zink yang banyak terdapat di otak terutama hipokampus dan amigdala. Kelompok usia paling rentan terhadap defisiensi zink adalah orang dewasa berumur >60 tahun. Kekurangan zink dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif sehingga diperlukan deteksi dini.Tujuan: Menganalisis hubungan kadar zink serum dengan fungsi kognitif pada lanjut usia.Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian adalah lanjut usia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di Panti Sosial Tresna Wredha, Semarang. Penelitian dilakukan mulai 1 September 2017 hingga 31 Januari 2018. Dilakukan perhitungan diet oleh ahli gizi dengan food recall, dengan hasil asupan zink kurang. Data diperoleh dengan wawancara, pemeriksaan kadar zink serum, bersamaan dengan penilaian fungsi kognitif menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina). Analisis data dengan uji bivariat dan uji multivariat menggunakan uji independent sample Kruskal-Wallis, dianggap bermakna bila nilai p<0,05.Hasil: Terdapat 47 subjek, dengan persebaran subjek dengan lama pendidikan  <12 tahun 48,9%, subjek obesitas 6,4%, subjek dengan hipertensi 59,6%, subjek perokok 14,9%, subjek dengan anemia 31,9%, subjek hiperkolesterolemia 34% dan subjek hipoproteinemia 8,5%. Didapatkan 6,4% mengalami defisiensi zink, 83% memiliki kadar zink serum normal rendah, dan 18,6% memiliki kadar zink normal tinggi. Terdapat hubungan bermakna antara kadar zink serum, lama pendidikan, dan hipertensi dengan fungsi kognitif. Analisis multivariat menunjukkan kadar zink serum yang rendah memiliki risiko 8 kali lebih besar untuk mengalami gangguan kognitif.Diskusi: Terdapat hubungan bermakna antara kadar zink serum dengan fungsi kognitif pada lanjut usia.Kata Kunci: Fungsi kognitif, kadar zink serum, lanjut usia  
EFEKTIVITAS EXTRA VIRGIN COCONUT OIL DAN OLIVE OIL TERHADAP FUNGSI MEMORI DAN BELAJAR MENCIT Gorga Menak Sihombing; Rizna Tyrani Rumanti; Decky Gunawan
NEURONA Vol 36 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i3.77

Abstract

  THE EFFECT OF EXTRA VIRGIN COCONUT OIL AND OLIVE OIL TOWARD MEMORY AND STUDY FUNCTION IN MICEABSTRACTIntroduction: Dementia is a neurodegenerative syndrome caused by chronic progressive abnormality and multiple malfunctions of the noble functions especially in memory and learning. Medium chain triglycerides (MCT) and polyphenol in extra virgin coconut oil (EVCO) and extra virgin olive oil (EVOO) can increase cognitive function.Aim: To discover the effect of extra virgin coconut oil (EVCO), extra virgin olive oil (EVOO) on increasing memory and learning ability of mice that are induced by aluminium chloride (AlCl3).Methods: A true experimental study was conducted using a completely randomized and comparative design. Experimental subjects were 24 mice, divided into 4 groups: K1 (negative control, aquades), K2 (AlCl3 + aquades), K3 (AlCl3 + EVCO 30mL/kg/day), and K4 (AlCl3 +EVOO 30mL/kg/day). Aluminium chloride was given for 15 days, then continued by EVCO and EVOO for 15 days. The dependent variable was recognition index (RI) with object recognition test post treatment. Data was analyzed using ANOVA, continued by LSD test with α=0.05.Results: Recognition index between K3 and both K1 and K2 showed a highly significant difference, and RI between K4 and both K1 and K2 also showed a highly significant difference. K4 was better in increasing RI compared with K3 with significant difference.Discussion: Extra virgin olive oil and EVOO improved the learning function and memory of mice induced by AlCl3. Extra virgin olive oil worked better than EVCO, because EVOO contains polyphenols that can work as neuro- inflammation, neurotoxicity and neuronal dysfunction inhibitors, while EVCO contains MCT as the main energy source when nerve damage occurs.Keywords: Dementia, extra virgin coconut oil (oleum cocos), extra virgin olive oil (oleum olivae), learning, memoryABSTRAKPendahuluan: Demensia adalah sindrom neurodegeneratif yang timbul karena adanya kelainan yang bersifat kronis dan progresif disertai dengan gangguan fungsi luhur multipel terutama pada memori dan belajar. Medium chain triglycerides (MCT) dan polifenol pada extra virgin coconut oil (EVCO) dan extra virgin olive oil (EVOO) dapat meningkatkan fungsi kognitif.Tujuan: Untuk mengetahui efek pemberian EVCO, EVOO, serta membandingkan keduanya dalam meningkatkan fungsi memori dan belajar mencit yang diinduksi aluminium klorida (AlCl3).Metode: Penelitian dengan desain studi eksperimental sungguhan menggunakan rancangan acak lengkap dan bersifat komparatif, dengan subjek penelitian 24 ekor mencit Swiss Webster yang dibagi menjadi 4 kelompok: K1 (kontrol negatif, akuades), K2 (AlCl3 +akuades), K3 (AlCl3 +EVCO 30mL/kgBB/hari), dan K4 (AlCl3 + EVOO 30mL/kgBB/hari). Aluminium klorida diberikan selama 15 hari, dilanjutkan dengan pemberian EVCO dan EVOO selama 15 hari. Variabel respons adalah indeks rekognisi (IR), dengan object recognition test setelah perlakuan. Analisis data dengan ANOVA dilanjutkan uji LSD dengan α=0,05.Hasil: Perbandingan IR K3 dengan K1 dan K2 memiliki perbedaan yang sangat bermakna, sedangkan K4 dengan K1 dan K2 memiliki perbedaan yang sangat bermakna. Kelompok 4 lebih baik dalam meningkatkan IR dibandingkan K3 dengan perbedaan bermakna.Diskusi: Extra virgin coconut oil dan EVOO meningkatkan fungsi belajar dan memori mencit yang diinduksi AlCl3. Extra virgin olive oil lebih baik dibandingkan EVOO, karena EVOO mengandung polifenol yang dapat bekerja sebagai penghambat neuroinflamasi, neurotoksisitas, dan disfungsi neuron, sedangkan EVCO mengandung MCT sebagai kandungan utama yang berperan sebagai sumber energi utama bila terjadi kerusakan saraf.Kata kunci: Belajar, demensia, extra virgin coconut oil (oleum cocos), extra virgin olive oil (oleum olivae), memori  
MEKANISME IMUNODEPRESI PASCASTROKE Al Rasyid
NEURONA Vol 36 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i3.78

Abstract

  POST-STROKE IMMUNODEPRESSION MECHANISMSABSTRACTImmunodepression refers to a condition when immune system has reduced capacity to fulfill its functions therefore leading to infection. Infections develop frequently after stroke, and have been associated with poor clinical and functional outcome. Several studies show ischemic stroke, leads to impairment of immune responses, which increases susceptibility of an infection. This review analyzes the mechanisms of post-stroke immunodepression involving nervous system, such as adrenergic pathway, cholinergic pathway, or HPA axis, comprehensively based on recent clinical and experimental evidences. A better understanding of immune system modification after stroke could encourage further studies regarding immunomodulation therapy use in fighting infection.Keywords: Immune response, infection, post-stroke immunodepressionABSTRAKImunodepresi merupakan suatu kondisi saat sistem imun tidak dapat menjalankan perannya dengan baik sehingga dapat menimbulkan suatu infeksi. Infeksi sendiri merupakan komplikasi yang umum terjadi pascastroke, dihubungkan dengan luaran klinis dan fungsional yang buruk pada pasien stroke. Berbagai studi klinis menyimpulkan kondisi iskemik pada stroke menyebabkan gangguan pada respons imun sehingga menimbulkan kerentanan terhadap infeksi. Tulisan ini membahas mekanisme imunodepresi pascastroke terkait sistem saraf, baik jalur adrenergik, kolinergik, dan aksis HPA, secara komprehensif berbasis bukti klinis maupun eksperimental. Pemahaman konsep modifikasi sistem imun pascastroke dapat mendorong studi-studi lanjutan terkait penggunaan terapi imunomodulasi untuk melawan komplikasi infeksi.Kata kunci: Imunodepresi pascastroke, infeksi, respons imun
HUBUNGAN KADAR ZINK SERUM DENGAN DERAJAT NEUROPATI DIABETIK Udi Panata; Dodik Tugasworo; Amin Husni
NEURONA Vol 36 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i3.79

Abstract

      THE ASSOCIATION BETWEEN SERUM ZINC LEVELS AND SEVERITY OF DIABETIC NEUROPATHYABSTRACTIntroduction: Diabetic neuropathy (DN) is one of the complications in diabetes mellitus (DM) that occurs frequently. This might be caused by deficiencies of trace elements, such as zinc, related to the complications. Zinc controls hyperglycemic factor and oxidative stress caused by hyperglycemia, which causes DN.Aim: To analyze the association between serum zinc levels and severity of DN in patients with type 2 DM.Methods: An observational analytical study with cross-sectional approach was conducted. Sixty subjects diagnosed with type 2 DM in the Neurology Clinic of Dr. Kariadi General Hospital, Semarang and HM Ashari General Hospital, Pemalang were scored using Toronto Clinical Scoring System (TCSS) to measure severity of DN. Characteristic data were analyzed descriptively. Categorical analysis were analyzed using Mann-Whitney method. The variables were also analyzed using Mann-Whitney test and unpaired t-test between Semarang and Pemalang Hospitals. Furthermore, all variables were tested for multivariate analysis using linear regression.Results: There were 60 subjects with a majority of females (63.3%) who suffer from DN (90%) and of 52.35±4.02 years old in age with duration of disease of 9.37±3.44 years. On average, the serum zinc levels were found normal, while average triglyceride and HbA1c levels were increased. It was observed that there were correlations among DN severity, serum zinc levels, duration of DM disease and serum triglyceride levels. In multivariate data analysis, the most significant relationship was found between triglyceride levels and duration of DM disease.Discussion: Hyperglycemia causes glucose accumulation in nerve tissues. In a long period of time, high blood glucose levels will damage the blood vessels walls that are directly related to nerves. Furthermore, in elderly patients, the amount of blood flow to peripheral nerves decreases. High triglyceride levels becomes a predictive factor that severely decreases myelin nerve fibers density. Whereas, zinc can prevent the decrease in motor nerve conduction speed.Keywords: DN, serum zinc levels, type 2 DMABSTRAKPendahuluan: Neuropati diabetik (ND) adalah salah satu komplikasi diabetes melitus (DM) yang lebih sering terjadi. Hal ini dapat disebabkan oleh defisiensi trace element akibat komplikasi diabetes, antara lain zink. Elemen ini mengendalikan faktor hiperglikemik dan stres oksidatif yang disebabkan oleh hiperglikemia, hingga menyebabkan ND.Tujuan: Menganalisis hubungan kadar zink serum dengan derajat ND pada pasien DM tipe 2, dan faktor-faktor lain yang memengaruhinya.Metode: Penelitian analitik observasional secara potong lintang terhadap pasien DM tipe 2 yang berobat di Po- liklinik Penyakit Saraf RSUP Dr. Kariadi, Semarang dan RSUD HM Ashari, Pemalang. Subjek dilakukan pengukuran derajat ND menggunakan Toronto Clinical Scoring System (TCSS). Data karakteristik dianalisis secara deskriptif. Analisis kategorikal menggunakan metode Mann-Whitney, pengujian antar variabel juga dengan Mann-Whitney dan uji t tidak berpasangan, serta uji multivariat menggunakan regresi linear.Hasil: Didapatkan 60 subjek yang mayoritas perempuan (63,3%) dan menderita ND (90%), serta rerata usia 52,35±4,02 tahun dan rerata durasi menderita DM 9,37±3,44 tahun.  Rerata kadar serum zink dalam batas normal, namun rerata kadar trigliserida dan HbA1c meningkat. Didapatkan hubungan antara ND dengan kadar serum zink, durasi penyakit DM, dan kadar trigliserida serum. Dalam analisis data multivariat, hubungan tertinggi ditemukan antara kadar trigliserida dan durasi penyakit DM.Diskusi: Hiperglikemia menyebabkan akumulasi glukosa pada jaringan saraf. Jangka waktu yang cukup lama, kadar glukosa dalam darah akan merusak dinding pembuluh darah kapiler yang berhubungan langsung ke saraf, ditambah lagi pada usia lanjut terjadi penurunan aliran darah pada pembuluh darah yang menuju saraf tepi. Kadar trigliserida yang tinggi menjadi faktor prediktif penurunan secara dramatis pada masa jenis atau kepadatan serabut saraf mielin. Zink dapat mencegah penurunan kecepatan konduksi saraf motorik.Kata kunci: DM tipe 2, kadar zink serum, neuropati diabetik
MENINJAU KEMBALI GLASGOW COMA SCALE: MASIHKAH RELEVAN? Arthur Hendrik Philips Mawuntu
NEURONA Vol 36 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i3.80

Abstract

REVISITING THE GLASGOW COMA SCALE: IS IT STILL RELEVANT?ABSTRACTGlasgow Coma Scale (GCS) is the most popular quantitative assesment of consciousness. Its popularity is gained by the simplicity of the assessment making the scale easy to be performed by medical officers from various background. Glasgow Coma Scale was rapidly adopted worldwide since its first publication in 1974. The wide adoption of the scale has affected the improvement of head injury management as well as other neurological conditions. Furthermore, many large scale studies about head injury have used this scale to evaluate degree of severity and prognosis. After more than 40 years, GCS has underwent various critisms and modifications. The last modification was published on 2014. Some cutting edge devices and new evaluation methods have been introduced in the last two decades that, probably, reduced the role of GCS. However, GCS still seems to be relevant in evaluating patients’clinical condition periodically, therefore we need to understand the development of GCS, its relevance in the present, and some modification of GCS.Keywords: Glasgow Coma Scale, history, relevanceABSTRAKGlasgow Coma Scale (GCS) atau Skala Koma Glasgow (SKG) adalah metode penilaian kuantitatif kesadaran yang paling popular. Popularitasnya justru disebabkan oleh kesederhanaan metode penilaiannya, sehingga mudah dikerjakan oleh petugas kesehatan dari berbagai latar belakang. Glasgow Coma Scale diadopsi dengan cepat di seluruh dunia setelah dipublikasikan pertama kali pada tahun 1974. Hal ini berdampak secara luas pada perbaikan manajemen cedera kepala dan penyakit neurologis lain, serta berbagai penelitian. Setelah lebih dari 40 tahun, skala ini melewati berbagai kritik dan modifikasi, yaitu terakhir pada tahun 2014. Berbagai alat pemeriksaan canggih dan metode penilaian baru telah diperke- nalkan dalam dua dekade terakhir sehingga mungkin mengurangi peran GCS. Meskipun demikian, masih digunakan untuk mengevaluasi keadaan klinis pasien secara berkala, sehingga perlu diketahui tentang perjalanan GCS, relevansinya di masa kini, serta beberapa modifikasi SKG.Kata kunci: Relevansi, sejarah, Skala Koma Glasgow  
KORELASI INDEKS MASSA TUBUH DENGAN DERAJAT KEPARAHAN SERANGAN MIGREN TANPA AURA Andry Andry; Muhammad Akbar; Hasmawati Basir
NEURONA Vol 36 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i3.81

Abstract

  THE CORRELATION BETWEEN THE BODY MASS INDEX AND THE SEVERITY OF MIGRAINE ATTACK WITHOUT AURAABSTRACTIntroduction: In Indonesia, there has been only a few studies that correlate Body Mass Index (BMI) to severity of migraine.Aim: To identify the correlation between the body mass index and the severity of migraine attack  without aura.Methods:  The research used the cross sectional design method. The subjects’ age was 18 years or above, and they were treated at the neurology outpatient clinic of Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital and its networking hospitals from June through September 2018. The measurement of Body Mass Index (BMI) of the subjects was conducted, and the level of migraine severity was determined using the numeric pain rating scale (NPRS), while the frequency of migraine attacks was determined in 1 month during the last 3 months  of the study.Results: The research results revealed that 45 samples met the inclusion criteria, consisting of 86.7% women and 13.3% men. By using Spearman’s test, it was found that there was a correlation between the BMI and the pain intensity, and between the BMI and the frequency of the migraine attacks.Discussion: There were correlations between BMI and pain intensity which confounded by sleep disorder and mi- graine prophylaxis, and between BMI and the frequency of migraine attacks which confounded by prophylaxis of migraine without aura.Keywords: BMI, migraine rant, obesity, severityABSTRAK Pendahuluan: Penelitian yang menghubungkan indeks massa tubuh (IMT) dengan derajat keparahan migren masih sedikit di Indonesia.Tujuan: Mengetahui hubungan IMT dengan derajat keparahan serangan migren tanpa aura.Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang. Subjek berumur 18 tahun atau lebih dan berobat ke Poliklinik Neurologi RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan rumah sakit jejaring antara Juni hingga September 2018. Terhadap subjek dilakukan pengukuran IMT. Derajat keparahan migren ditentukan secara kuantitatif melalui penggunaan numeric pain rating scale (NPRS) dan ditentukan frekuensi serangan migren dalam satu bulan pada interval tiga bulan terakhir saat dilakukan penelitian.Hasil: Didapatkan 45 sampel yang memenuhi kriteria inklusi yang terdiri dari 86,7% perempuan dan 13,3% laki-la- ki. Dengan menggunakan uji Spearman, didapatkan korelasi antara IMT dan tingkat nyeri dan frekuensi serangan migren.Diskusi: Terdapat korelasi antara IMT, dengan tingkat nyeri yang dirancu dengan gangguan tidur, dan pengobatan preventif, dan antara IMT dengan frekuensi serangan yang dirancu dengan pengobatan preventif  pada penderita migren tanpa aura.Kata kunci: Derajat keparahan, IMT, migren, obesitas  
PENGARUH REPETITIVE TRANSCRANIAL MAGNETIC STIMULATION (RTMS) TERHADAP GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PASCASTROKE ISKEMIK Novika Azirah Azis; Jumraini Tammasse; Abdul Muis
NEURONA Vol 36 No 4 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i4.82

Abstract

  THE INFLUENCE OF REPETITIVE TRANSCRANIAL MAGNETIC STIMULATION (RTMS) TOWARDS IMPAIRED COGNITIVE FUNCTION AFTER ISCHEMIC STROKEABSTRACTIntroduction: The increasing number of ischemic stroke patients who experience memory disturbances and a long rehabilitation process requires an innovation that can strengthen both existing therapies (medical therapy) and non-invasive stimulation of cognitive rehabilitation in the form of repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS).Aim: To determine effectiveness of rTMS towards impaired cognitive function in ischemic stroke.Methods: This research was conducted using experimental with open clinical trial test method  on ischemic stroke patients suffering from cognitive impairment at Wahidin Sudirohusodo Hospital and Inggit Clinic, Makassar, from November 2018 until January 2019. Samples were divided into control who was given only medical therapy and treatment group who was given medical therapy and rTMS. Stimulation is given in the form of a high frequency of 10Hz in 2 cycles for 5 consecutive days with a gap of 2 days. MoCA-Ina was used to assess cognitive impairment. The assessment were made on day-1 before therapy and day-15 after therapy. The statistical analysis of correlation among variables was conducted by using Chi-square test with value of p <0.05 which was considered significant.Results: There were 22 samples, 11 in each group. The difference of MoCA-Ina scores in both groups with the final average after 15 days of treatment was 5.27 in the treatment group and 1.45 in control group. This difference is considered significant with the p value of 0.003.Discussion: There was an effect of rTMS therapy on cognitive function disorders after ischemic stroke, in which the change was greater in the treatment group than in the control group.Keywords: Cognitive impairment, ischemic stroke, Montreal Cognitive Assesment Indonesian Version (MoCA-Ina), repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS)ABSTRAKPendahuluan: Peningkatan jumlah pasien stroke iskemik yang mengalami gangguan memori serta proses rehabilitasi yang lama membutuhkan suatu inovasi yang dapat saling menguatkan antara terapi yang sudah ada (terapi medik) dan stimulasi non-invasif rehabilitasi kognitif berupa repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS).Tujuan: Mengetahui pengaruh intervensi rTMS terhadap fungsi kognitif pascastroke iskemik.Metode: Penelitian eksperimental dengan uji klinis terbuka terhadap pasien stroke iskemik yang menderita gangguan fungsi kognitif di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Klinik Inggit Medika, Makassar, pada bulan November 2018 hingga Januari 2019. Subjek dibagi ke dalam kelompok kontrol yang diberikan terapi medikamentosa saja serta kelompok perlakuan yang diberikan terapi medikamentosa dan intervensi rTMS. Stimulasi diberikan berupa frekuensi tinggi 10Hz dalam 2 siklus selama 5 hari berturut-turut dengan jeda waktu 2 hari. Penilaian gangguan kognitif menggunakan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina). Pengukuran dilakukan pada hari-1 pre-terapi dan hari ke-15 pascaterapi. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Chi-square dengan nilai p<0,05 dianggap bermakna.Hasil: Terdapat 22 subjek yang masing-masing terdiri dari 11 subjek pada kelompok kontrol dan perlakuan. Selisih skor MoCA-Ina pada kedua kelompok dengan rerata akhir setelah lima belas hari perlakuan sebesar 5,27 pada kelompok perlakuan dan 1,45 pada kelompok kontrol yang bermakna (p=0,003).Diskusi: Terdapat pengaruh terapi rTMS terhadap gangguan fungsi kognitif pascastroke yang lebih besar pada kelompok perlakuan dibanding kelompok kontrol.Kata kunci: Gangguan kognitif, Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina), repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS), stroke iskemik  
TERAPI STIMULASI KOGNITIF UNTUK LANSIA DENGAN MILD COGNITIVE IMPAIRMENT: STUDI EKSPERIMENTAL DI PANTI WREDA Nathalie Sanchia; Magdalena Surjaningsih Halim
NEURONA Vol 36 No 4 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i4.83

Abstract

 COGNITIVE STIMULATION THERAPY FOR ELDERLY WITH MILD COGNITIVE IMPAIRMENT: AN EXPERIMENTAL STUDY IN NURSING HOMEABSTRACTIntroduction: Mild cognitive impairment (MCI) is a transitional stage between the elderly’s normal (expected) cognitive decline and the more serious decline caused by dementia that needs interventions. One of the non-pharmacological interventions that can be done is cognitive stimulation therapy (CST). Research has shown that CST can stabilize and/ improve cognitive function in the elderly with MCI.Aims: To find out the differences in cognitive functions in the elderly with MCI and given CST intervention and elderly with MCI not given CST intervention.Methods: This was an experimental study that included elderly aged 60 years old divided into experimental and control group, each consists of four subjects. The experimental group was given CST twice a week with a total of fifteen meetings, but not on the control group. All subjects were subjected to cognitive examinations using neuropsychological instruments before, after, and one month after CST was completed. The statistical analysis performed in this study was Mann-Whitney U Test.Results: There was a significant difference in cognitive function in the attention domain with the trail making test sub-test and the memory domain with the digit pan sub-test after the CST is finished. One month after CST is completed, there were significant differences in cognitive function, in the memory domain.Discussion: The elderly group with MCI given CST has a different cognitive function than elderly group who are not given CST.Keywords: Cognitive function, elderly, mild cognitive impairment, nursing houseABSTRAKPendahuluan: Gangguan kognitif ringan atau mild cognitive impairment (MCI) merupakan proses transisi antara penurunan kognitif normal dan demensia yang perlu diintervensi. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat dilakukan adalah cognitive stimulation therapy (CST). Banyak penelitian menunjukkan bahwa CST dapat menstabilkan dan/meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan MCI.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh intervensi CST terhadap fungsi kognitif lansia dengan MCI.Metode: Studi eksperimental pada subjek lansia usia 60 tahun yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol yang masing-masing terdiri dari 4 subjek. Kelompok eksperimen dilakukan CST dua kali seminggu sebanyak lima belas kali pertemuan, tidak pada kelompok kontrol. Seluruh subjek dilakukan pemeriksaan kognitif dengan menggunakan instrumen neuropsikologi sebelum, sesudah, dan satu bulan setelah CST selesai. Analisis statistik menggunakan Mann- Whitney U test.Hasil: Terdapat perbedaan fungsi kognitif yang signifikan pada domain atensi dengan subtes Trail Making Test dan domain memori dengan subtes digit span setelah CST selesai. Satu bulan setelah CST selesai, terdapat perbedaan fungsi kognitif yang signifikan pada domain memori.Diskusi: Kelompok lansia dengan MCI yang diberikan CST memiliki fungsi kognitif yang berbeda dengan kelompok lansia yang tidak diberikan CST.Kata kunci: Fungsi kognitif, gangguan kognitif ringan, lansia, panti wreda  
PROFIL KLINIS BENIGN ROLANDIC EPILEPSY (BRE) DI RSUD PASAR REBO TAHUN 2013-2018 Donny Hamdani Hamid; Syairah Syairah; Syarly Melani; Astri Budikayanti
NEURONA Vol 36 No 4 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i4.84

Abstract

   CLINICAL PROFILE OF BENIGN ROLANDIC EPILEPSY (BRE) PASAR REBO GENERAL REGIONAL HOSPITAL 2013-2018ABSTRACTIntroduction: Benign rolandic epilepsy (BRE) is the most common focal epileptic syndromes in children, correlated with genetic abnormality, has unique clinical features and specific electroencephalogaphic (EEG) pattern. Most of BRE cases will remit spontaneously even without medication by puberty.Aims: To know the clinical profile of BRE and the association between electroencephalogaphic (EEG) pattern with and seizure types in BRE.Methods: Observational analytic cross-sectional study based on medical record of BRE cases in Pasar Rebo general regional hospital from January 2013–Desember 2018. Subjects were grouped into focal to bilateral tonic clonic seizure (group I) and focal onset seizures with impaired awareness (group II). Relationship between groups and hemispheric lateralization based on interictal epileptiform (unilateral or bilateral) using EEG was analyzed.Results: There were 22 subjects, average age of seizure onset was 7,86+2,3 years old with male-to-female ratio1,75:1. The majority of subjects (40.9%) had only received an EEG after more than 1 year of onset and only 6 (27.3%) subjects had done less than one month.. Amongst all subjects, 15 subjects (68,2%) already consumed anti epileptic drugs (AED), in which 11 subjects (73,3%) consumed valproic acid (VPA). Most common clinical features were hypersalivation and hemifacial sensorimotor symptoms with localization of interictal epileptiform discharges mainly in centro-temporal. There were no significant relationship between hemispheric lateralization of epileptiform discharge and type of seizure.Discussion: Most BRE subjects had onset of 7.86+2.3  years with the main symptoms of hypersalivation  and hemifacial sensorimotor symptoms, as well as localization of interictal epileptiform discharges especially in the centro- temporal.. There were no significant relationship between hemispheric lateralization of interictal epileptiform discharges and seizure type.Keywords: BRE, clinical profiles, epilepsy syndromesABSTRAKPendahuluan: Benign rolandic epilepsy (BRE) merupakan sindrom epilepsi fokal yang paling sering ditemukan pada anak kelompok usia 1-14 tahun, berhubungan dengan kelainan genetik, memiliki gambaran klinis dan EEG khas. Sebagian besar mengalami remisi tanpa obat pada usia pubertas.Tujuan: Mengetahui karakteristik profil klinis dan hubungan antara gambaran elektroensefalografi (EEG) dengan bentuk bangkitan pada BRE.Metode: Studi potong lintang analitik observasional menggunakan data rekam medispasien yang didiagnosis BRE di Klinik Saraf RSUD Pasar Rebo, Jakarta, periode Januari 2013 hingga Desember 2018. Subjek dikelompokkan menjadi tipe bangkitan awitan fokal yang berkembang menjadi tonik klonik bilateral (grup I) dan tipe bangkitan awitan fokal dengan gangguan kesadaran (grup II), yang dihubungkan dengan lateralisasi hemisferik aktivitas epileptiform interiktal (unilateral atau bilateral) pada EEG.Hasil: Dari 22 subjek, rasio perbandingan laki-laki:perempuan sebesar 1,75:1 dan rerata usia awitan bangkitan adalah 7,86+2,3 tahun. Mayoritas subjek (40,9%) baru dilakukan EEG setelah lebih dari 1 tahun dari awitan dan hanya 6 subjek (27,3%) yang dilakukan kurang dari satu bulan. Pada 15 subjek (68,2%) telah mengkonsumsi obat antiepilepsi (OAE) yang sebagian besar berupa asam valproat (73,3%). Gambaran klinis utama adalah hipersalivasi dan gejala sensorimotor hemifasial dengan lokalisasi cetusan epileptiform interiktal terutama di sentro-temporal. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara lateralisasi hemisferik aktivitas epileptiform interiktal dengan bentuk bangkitan.Diskusi: Sebagian besar subjek BRE mengalami usia awitan bangkitan 7,86+2,3 tahun dengan gejala utama hipersalivasi dan gejala sensorimotor hemifasial, serta lokalisasi cetusan epileptiform interiktal terutama di sentro-temporal. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara lateralisasi aktivitas epileptiform interiktal dengan jenis bangkitan pada BRE.Kata kunci: BRE, profil klinis, sindrom epilepsi  

Page 8 of 32 | Total Record : 314