cover
Contact Name
Adhi Agus Oktaviana
Contact Email
jurnalkalpataru@iaai.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkalpataru@iaai.or.id
Editorial Address
Badan Riset dan Inovasi Nasional KS R.P. Soejono Jl. Raya Condet Pejaten No.4, Pejaten Barat, Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Kalpataru
ISSN : 01263099     EISSN : 25500449     DOI : https://doi.org/10.55981/kpt.
Kalpataru is an open access and peer reviewed scientific publication on the prehistory of Southeast Asia and its surrounding areas with the scope of materials such as culture, humans, and environment during the prehistoric and proto historic periods. The perspectives from cross disciplines other than archaeology, both hard sciences and soft sciences, are welcome.
Articles 143 Documents
TIGA TIPE TATA RUANG DESA TRADISIONAL DI NIAS SELATAN, SUMATERA UTARA Elyada Wigati Pramaresti
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

South Nias is one of many regions in Indonesia that still mantains the existence of traditional settlement. Villages found in this regency have unique characteristic as are shown by their linear forms with two rows of houses facing each other. Although the villages seem to have similar forms, in fact, there are three types of spatial patterns which present in South Nias traditional villages. The main purpose of this research relates to the variations of spatial patterns in this region’s traditional settlement. Moreover, its aim is to obtain the classification of settlement forms in South Nias. The research method used to answer the question is qualitative and the data are obtained by field observation, interviews, and literature study. The result reveals that traditional villages in South Nias have spatial patterns in the form of branched linear, I-shaped linear, and T-shaped linear. Classification of the settlement form is based on differences in the shape and location of village materil components. This research also intents to conduct documentation about South Nias traditional villages together with their components which become scarce in present day because damaged by natural factors or deliberately replaced by modern components. Nias Selatan adalah salah satu wilayah di Indonesia yang masih mempertahankan keberadaan permukiman tradisional. Desa-desa yang ditemukan di kabupaten tersebut memiliki karakteristik yang unik, yaitu berbentuk linear dengan dua baris rumah yang saling berhadapan. Meskipun sekilas desa-desa itu tampak memiliki bentuk yang sama, sebenarnya terdapat tiga tipe bentuk tata ruang yang dijumpai pada desa tradisional di Nias Selatan. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan variasi bentuk tata ruang permukiman tradisional di wilayah tersebut. Tujuannya untuk memperoleh klasifikasi bentuk permukiman tradisional Nias Selatan. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab permasalahan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan desa tradisional di Nias Selatan memiliki bentuk tata ruang linear bercabang, linear I, dan linear T. Klasifikasi bentuk permukiman tersebut didasarkan atas perbedaan bentuk dan keletakan komponen materi desa. Penelitian ini juga berupaya untuk melakukan dokumentasi desa-desa tradisional Nias Selatan beserta komponennya yang kini menjadi langka karena rusak oleh faktor alam maupun sengaja diganti dengan komponen yang modern.
TATA RUANG PEMUKIMAN KOMPLEKS MEGALITIK SITUS TANJUNG ARO Kristantina Indriastuti
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Megalithic Sites in South Sumatra are widely known as Pasemah Megalithic Culture. One of its sites, Tanjung Aro Site in Pagar Alam City, was conducted for research related to find the pattern of community settlement and to reveal the link between land fortifications, potteries, and megalithic structures at the site. This study aims to reconstruct the spatial layout of Tanjung Aro Megalithic Site using survey and excavation methods. The result reveals that various factors such as ecology, belief, safety, and social organization hugely affected the selection of residential location. Other aspects of life such as agriculture, plantations, harvesting forest products, and fishing were also found not too far from their settlements. Stone mortars in the area hinted an agricultural products-related activities. The worshipping activities can also be seen from the distribution of dolmens and flat stones in several areas. Situs-situs megalitik di Sumatera Selatan biasa dikenal dengan budaya Megalitik Pasemah. Di Situs megalitik Tanjung Aro, Kota Pagar Alam, terdapat kubur batu, benteng tanah, tembikar, dan bangunan-bangunan megalitik lainnya. Sebaran temuan ini mengarah kepada adanya suatu permukiman. Permasalahannya adalah bagaimanakah pola permukiman masyarakat pendukung situs Megalitik Tanjung Aro dan kaitan antara benteng tanah, temuan tembikar, dan bangunan-bangunan megalitik di situs Tanjung Aro. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi tata ruang Situs Megalitik Tanjung Aro. Metode penelitian yang dipakai adalah metode survei dan ekskavasi. Hasil penelitian ini adalah informasi adanya pengaruh dari ekologi, kepercayaan, pertahanan/keamanan, dan organisasi sosial terhadap pemilihan lokasi pemukiman. Dalam hal ini berbagai aspek kehidupan yang lain yang berkaitan dengan pertanian, perkebunan, pengambilan hasil hutan, penangkapan ikan tidak terlalu jauh dari lokasi pemukiman mereka. Terdapat lumpang batu yang menandakan adanya aktivitas pengolahan hasil pertanian. Aktivitas pemujaan dilihat dari banyaknya sebaran dolmen dan sebaran batu datar yang berada di beberapa area.
GANESHA TANPA MAHKOTA DALAM PUSARAN RELIGI MASYARAKAT JAWA KUNA (Sebuah Kajian Permulaan) Ashar Murdihastomo
KALPATARU Vol. 29 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Ganesha statue without a crown is one of the unique depictions of archeological remains in Indonesia. These statues can be found in several areas such as Temanggung, Pekalongan, the National Museum, and Yogyakarta. This uniqueness is a reason to be appointed in an initial assessment. This is because no one has ever discussed this topic. Therefore, the challenge to be raised on this occasion is about the Ganesha in the community regarding their portrayal in the form without a crown? The objective to be achieved from this discussion is a discussion of Javanese society related to the previous discussion. In answering these questions, qualitative research methods are used by taking secondary data from a literature review. The approach used in this review discusses the iconology proposed to explain the background of phenomena that occur through related stories or mythologies. Through an analysis of the results, offering three initial responses to the crownless Ganesha statue, related to the story of Ganesh who prevented Ravana from bringing Atmalinga to Lanka, the spread of Gupta art in Southeast Asia, and related to traditions outside the palace. Arca Ganesha tanpa mahkota merupakan salah satu bentuk penggambaran unik dari tinggalan arkeologi di Indonesia. Keberadaannya diketahui terdapat di beberapa wilayah seperti Temanggung, Pekalongan, dan Museum Nasional. Keunikan tersebut menjadi alasan untuk diangkat dalam sebuah kajian permulaan. Hal ini dikarenakan belum pernah ada kajian yang membahas topik tersebut. Oleh karena itu, permasalahan yang coba diangkat pada kesempatan ini adalah bagaimana posisi dewa Ganesha di lingkungan masyarakat pada penggambarannya dalam wujud tanpa mahkota? Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui pandangan masyarakat jawa Kuno terkait dengan keberadaan arca tersebut. Dalam upaya menjawab permasalahan tersebut, digunakan metode penelitian kualitatif dengan mengambil data sekunder dari kajian pustaka. Pendekatan yang digunakan pada kajian ini adalah pendekatan ikonologi, yang berusaha untuk menjelaskan latar belakang keberadaan fenomena tersebut melalui kisah atau mitologi yang terkait. Melalui hasil analisis, diperoleh tiga asumsi awal terhadap keberadaan arca Ganesha tanpa mahkota, yaitu terkait dengan kisah Ganesha yang mencegah Rahwana membawa Atmalinga ke Lanka, terkait dengan persebaran gaya seni Gupta di Asia Tenggara, dan terkait dengan tradisi luar keraton.
TRACING VISHNU THROUGH ARCHEOLOGICAL REMAINS AT THE WESTERN SLOPE OF MOUNT LAWU Heri Purwanto; Kadek Dedy Prawirajaya R. Prawirajaya R.
KALPATARU Vol. 29 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

To date, The West Slope area of Mount Lawu has quite a lot of archaeological remains originated from Prehistoric Period to Colonial Period. The number of religious shrines built on Mount Lawu had increased during the Late Majapahit period and were inhabited and used by high priests (rsi) and ascetics. The religious community was resigned to a quiet place, deserted, and placed far away on purpose to be closer to God. All religious activities were held to worship Gods. This study aims to trace Vishnu through archaeological remains. Archaeological methods used in this study are observation, description, and explanation. Result of this study shows that no statue has ever been identified as Vishnu. However, based on archeological data, the signs or symbols that indicated the existence of Vishnu had clearly been observed. The archeological evidences are the tortoise statue as a form of Vishnu Avatar, Garuda as the vehicle of Vishnu, a figure riding Garuda, a figure carrying cakra (the main weapon of Vishnu), and soles of his feet (trivikrama of Vishnu). Kawasan Lereng Barat Gunung Lawu hingga saat ini cukup banyak menyimpan tinggalan arkeologi, baik yang berasal dari Masa Prasejarah hingga Masa Kolonial. Jumlah bangunan suci keagamaan yang didirikan mengalami peningkatan ketika masa Majapahit Akhir, yang diyakini dibangun dan dihuni oleh kaum rsi dan pertapa. Kaum agamawan tersebut sengaja mengundurkan diri ke tempat yang sunyi, sepi, dan jauh dari keramaian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sudah barang tentu kegiataan keagamaan yang dilakukan adalah pemujaan terhadap para dewa. Kajian ini ingin menelusuri jejak keberadaan Wisnu melalui tinggalan arkeologi yang ada. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut digunakan metode arkeologi yakni observasi, deskripsi, dan ekplanasi. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa hingga sekarang belum ditemukan adanya arca Wisnu, namun berdasarkan tanda dan simbol yang berkaitan dengan Wisnu jelas teramati. Bukti-bukti tersebut adalah arca kura-kura yang merupakan salah satu wujud dari avatara Wisnu, Garuda wahana dari Wisnu, tokoh menunggang garuda, tokoh membawa cakra (senjata utama dari Wisnu), dan telapak kaki (trivikrama Wisnu).
KEHIDUPAN BERAGAMA RAJA KERTANAGARA Hariani Santiko
KALPATARU Vol. 29 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

During the reign of King Kertanagara the last ruler of Singasari, the Buddhist Tantrayana and the Siwa Bhairawa merging together into one religious system. The motivation behind the merging of the two religions is not clear, it may have been tolerant nature of the king or to strengthen the kingdom to face the Chinese enemy Kubilai Khan. For this reason, king Kertanagara built two Siva-Buddhist temples, Candi Jawi and Candi Singasari. Pada masa pemerintahan Raja Kertanagara, penguasa terakhir Singasari, Buddha Tantrayana dan Siwa Bhairawa bergabung menjadi satu sistem agama. Motif di balik penggabungan kedua agama tersebut belum jelas. Mungkin karena sifat toleran Raja atau untuk memperkuat kerajaan dalam menghadapi musuh dari Cina, Kubilai Khan. Dengan alasan tersebut, Raja Kertanagara membangun dua kuil Siwa-Buddha, Candi Jawi dan Candi Singasari.
THE SUNDANESE ECO-RELIGION KAMPONG OF KASEPUHAN CIPTAGELAR INDIGENOUS LOCAL COMMUNITY: CASE STUDY KAMPONG CENGKUK, SUKABUMI REGENCY Ary Sulistyo
KALPATARU Vol. 29 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research focused on eco-religion of indigenous Sundanese local community of Kasepuhan Ciptagelar at Southern Halimun Mountain on how to manage sustainable environment. The Kampong Cengkuk is one of several kampongs that still follow the tradition of indigenous local community of Kasepuhan Ciptagelar for hundred years. This descriptive qualitative research aims to reveal the internal and external factors led to deforestation of natural forests with average around 6-8% per year. The research shows that the kampong is still practicing eco-religion tradition by protecting forestland (leuweung tutupan) only for their subsistence. The hypothesis is that the social-culture changes had been occurred in the community not only to restrict outer island agriculture in the forest, but also, in wet rice cultivation activities, to manage sustainable environment. The reduction in process and ceremonial activities also happened, which was originally eight ceremonies of outer island agriculture rituals into five ceremonies of wet rice cultivation. The more profane activities were developing economic crops in home garden. Penelitian ini membahas tentang eko-religi masyarakat lokal Sunda Kampung Ciptagelar di Pegunungan Halimun Selatan bagaimana dalam pengelolaan lingkungan keberlanjutan saat ini. Kampung Cengkuk adalah salah satu dari kampung-kampung pengikut tradisi Kasepuhan Ciptagelar selama ratusan tahun. Penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif ini yang bertujuan untuk mengetahui faktor dari dalam dan luar kampung penyebab deforestasi hutan alam dengan rata-rata sekitar 6-8% per tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ekoreligi masih dianut warga kampung dengan menjaga hutan tutupan (leuweung tutupan) untuk kegiatan subsistensi. Hipotesa yang dibangun adalah perubahan sosio-kultur terjadi pada masyarakat dengan membatasi kegiatan berladang di hutan tetapi lebih kepada kegiatan bertani di sawah ladang untuk mengelola lingkungan berkelanjutan. Pengurangan pada proses dan kegiatan upacara, yang semula delapan upacara daur ladang menjadi lima upacara daur sawah. Kegiatan profan lebih banyak pada pengembangan komoditas tanaman ekonomi di kebun-talun.
KAJIAN IKONOGRAFI DAN IKONOLOGI TERHADAP TIGA IKON GAJAH DI DALAM GEREJA SAINT PIERRE AULNAY PRANCIS PADA ABAD KE-12 Panji Syofiadisna
KALPATARU Vol. 29 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saint Pierre Aulnay Church is a Romanic-style church (Romanesque) that was built in the 12th century and is located in the Aquitaine Region, France. In this church, there are three elephant icons in the capital columns section. At the top of the icon, there is also an inscription in Roman that reads "HI SVNT ELEPHANTES" which means "this is an elephant-elephant". This unique sentence and elephant icon is not found in other Romanic-style churches in France. Elephants are not native to Europe, but elephant icons are produced in European (French) churches. During Medieval, some churches were found to have icons of animals or mythological creatures that were placed in several parts of the church. The icons of the animals are connected with the character of Jesus and are called bestiaries. The problem that will be answered in this research is what is the meaning contained in the elephant icon with the words "HI SVNT ELEPHANTES". The review in this study is the history of iconography and emphasizes the themes, concepts, styles, and meanings of icons. The theory used to analyze the problem put forward is the iconography and iconology of Erwin Panofsky. The results of this interpretation will be compared with the meaning of elephants in the archipelago at the same time. Gereja Saint Pierre Aulnay adalah gereja bergaya Romanik (Romanesque) yang dibangun pada abad ke-12 dan terletak di Region Aquitaine, Prancis. Di dalam gereja ini terdapat tiga ikon gajah pada bagian capital columns. Pada bagian atas ikon terdapat pula inskripsi dalam bahasa Romawi yang bertuliskan “HI SVNT ELEPHANTES” yang artinya “ini adalah gajah-gajah”. Uniknya kalimat dan ikon gajah ini tidak ditemukan pada gereja bergaya Romanik lain di Prancis. Gajah bukan hewan asli Eropa namun ikon gajah diproduksi di gereja Eropa (Prancis). Pada masa Medieval memang didapati sejumlah gereja memiliki ikon-ikon hewan atau makhluk mitologi yang ditempatkan pada beberapa bagian gereja. Ikon dari hewan-hewan itu terhubung dengan karakter Yesus dan dinamakan bestiary. Masalah yang akan dijawab pada penelitian ini yaitu apa makna yang terkandung pada ikon gajah dengan tulisan “HI SVNT ELEPHANTES”. Tinjauan dalam penelitian ini bersifat sejarah ikonografi dan ditekankan pada tema, konsep, gaya, serta makna dari ikon. Teori yang dipakai untuk menganalisis masalah yang dikemukakan adalah ikonografi dan ikonologi dari Erwin Panofsky. Hasil dari pemaknaan ini akan dibandingkan dengan makna gajah di nusantara pada masa yang sama.
STRATEGI TERINTEGRASI UNTUK PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KOTA SURAKARTA Pratomo Aji Krisnugrahanto; Denny Zulkaidi
KALPATARU Vol. 29 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Every cultural heritage has different strategic management depends on its context. This research focused on the lack of good management strategy for Cultural Heritage Area in Surakarta City. The aims of this study is to formulate an integrated strategic management for cultural heritage areas in Surakarta City. This research used qualitative exploratory methodology with inductive approach. Primary data were obtained from field observations and interviews with sources related to cultural preservations, while secondary data were obtained from Surakarta City planning documents. The strategic management aimed for the community and government, therefore the internal variable is the condition of four aspects strategic management owned by the community and the city government, while the external variable is from outside the community and the city government. This research produces 73 strategy formulations which are summarized into 43 formulations based on the predicated similarity. The designation of strategy for managing Cultural Heritage Area is divided into two parts, which are 13 strategies for the scale of Surakarta City and 30 strategies for each region. Management integration can be seen from these strategies that are divided into each aspect to support the management of Cultural Heritage Area in Surakarta City. Setiap cagar budaya membutuhkan strategi pengelolaan yang berbeda sesuai dengan konteks cagar budaya. Keberadaan bangunan dan kawasan cagar budaya menjadi permasalahan tersendiri bagi perkembangan kota Surakarta. Sampai saat ini, kota Surakarta belum memiliki strategi pengelolaan kawasan cagar budaya yang terintegrasi. Penelitian ini merumuskan strategi pengelolaan kawasan cagar budaya yang terintegrasi di kota Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah eksploratif kualitatif dengan pendekatan induktif. Data primer diperoleh dari observasi KCB dan wawancara dengan narasumber terkait cagar budaya, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen perencanaan kota Surakarta. Strategi pengelolaan ditujukan masyarakat dan Pemerintah Kota Surakarta sehingga variabel internal adalah kondisi aspek strategi pengelolaan yang dimiliki masyarakat dan pemerintah kota, sedangkan variabel eksternal adalah kondisi aspek strategi pengelolaan dari luar masyarakat dan pemerintah kota. Penelitian ini menghasilkan 73 rumusan strategi yang kemudian diringkas menjadi 43 rumusan berdasarkan kesamaan predikat dan makna. Peruntukan strategi terbagi dalam 13 strategi pengelolaan kawasan cagar budaya untuk skala kota Surakarta, 30 strategi pengelolaan kawasan cagar budaya untuk setiap kawasan. Integrasi pengelolaan dapat diketahui dari adanya 17 strategi yang merupakan ringkasan dari 43 strategi dan digolongkan sesuai aspek pengelolaan kawasan cagar budaya.
KETERLIBATAN KOMUNITAS PENGGIAT BUDAYA DALAM MENGOMUNIKASIKAN NILAI SRAWUNG BERDASARKAN RELIEF CANDI Salma Fitri Kusumastuti; Yustina Dwi Stefanie; Dwi Kurnia Sandy
KALPATARU Vol. 29 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The value of srawung in Javanese society are slowly dying because of modernization. This value is related to harmony and respect to others, as can be seen in Ramayana reliefs from Candi Prambanan. Reliefs in the temple have been analysed by archaeologists through many researches and scientific books but at times, they are unable to deliver and communicate the value of srawung well. This research studied about how the heritage community conveys some research reports which contain important values to pursue a new relevant way of communicating its substantial value. The heritage community is partner to archaeologists, and also a part of society. So, with a role of heritage community, the value of srawung will be easily received by the people. Di era modern ini nilai-nilai srawung yang berkaitan dengan kerukunan dan sikap saling menghormati sudah mulai terkikis. Pada dasarnya, nilai ini merupakan nilai luhur dari masa lalu yang dapat ditelusuri, salah satunya melalui relief Ramayana di Candi Prambanan. Relief di Candi Prambanan sebenarnya sudah banyak dikaji oleh para peneliti Arkeologi, tetapi penyampaiannya kepada masyarakat masih belum maksimal. Karenanya, permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana melibatkan komunitas untuk berperan menyampaikan hasil penelitian dari para peneliti yang mengandung salah satu nilai luhur yaitu srawung. Tujuannya adalah untuk mendapatkan cara baru dalam menyajikan hasil penelitian arkeologi dengan lebih relevan dan luwes sehingga mudah diterima masyarakat. Komunitas penggiat budaya dapat menjadi rekan bagi peneliti untuk menyampaikan hasil penelitian dengan cara-cara relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman.
PENGELOLAAN SUMBER DAYA ARKEOLOGI DI PULAU HARUKU DAN SAPARUA, KABUPATEN MALUKU TENGAH Karyamantha Surbakti
KALPATARU Vol. 29 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The management of cultural heritage in various parts of Indonesia is still a major issue that is often used in many studies of Cultural Resource Management. Problems that arise often intersect with matters of identity, authenticity, and authority that directly target the cultural heritage. The three things mentioned above are significant in seeing the root of the problem, about how cultural heritage with physical appearances has not been included in the list of cultural heritage. This research is an exploratory survey conducted in Haruku and Saparua Islands, or known locally as Lease Islands. The purpose of this study is to share about public archaeology to the community and stakeholders, based on the management issues in several old mosques and colonial heritage fortresses in Haruku and Saparua Islands. The method used in this study was by collecting data in the form of photographs and geographical degrees, as well as conducting interviews with local people. The result of this research hopefully will benefit the community and stakeholders when doing archaeological management system of those heritage buildings. Permasalahan pengelolaan tinggalan warisan budaya (heritage) di berbagai wilayah Indonesia menjadi isu utama yang kerap digunakan dalam banyak studi culture resource management. Permasalahan yang muncul sering bersinggungan dengan hal identitas, otentisitas, dan otoritas yang langsung menyasar warisan budaya tersebut. Ketiga hal yang disebutkan di atas tersebut sering menjadi hal ikhwal dalam melihat akar permasalahan, bagaimana suatu warisan budaya, terutama yang berupa bangunan belum dimasukkan dalam daftar cagar budaya. Penelitian ini bersifat survei eksploratif yang dilakukan di Pulau-pulau Lease, yaitu Haruku dan Saparua. Tujuan penelitian ini untuk mendistribusikan pengetahuan arkeologi, khususnya pemahaman arkelogi publik. Metode penelitian yang dilakukan di lapangan adalah pengumpulan data berupa foto, keletakan geografis, dan pengumpulan data oral hasil wawancara terhadap informan secara kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh adalah berkenaan otentisitas Masjid Tua Rohomoni, Benteng New Zelandia di Pulau Haruku, dan Duurstede di Pulau Saparua yang masih cukup terjaga keasliannya karena masyarakat dan stakeholder lain di sekitar situs menganggap semua bangunan tersebut bernilai penting yang harus dikelola dengan sistem manajemen arkeologi yang berbasis nilai penting pula.

Page 11 of 15 | Total Record : 143