cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 623 Documents
Kerentanan Vektor Demam Berdarah Dengue terhadap Insektisida Golongan Organofosfat Esther Sri Majawati
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v21i56.1259

Abstract

AbstrakDemam Berdarah Dengue adalah penyakit yang bisa menyebabkan kematian. Pemberantasannya sampai saat ini adalah dengan memutuskan rantai penularan, yaitu membunuh vektor penularnya. Vektor utamanya adalah Aedes aegypti yang dibasmi dengan insektisida golongan organofosfat.Telah banyak dilaporkan bahwa Aedes aegypti sudah resisten terhadap insektisida tersebut, sehingga perlu diketahui proses resistensinya dan uji resistensi di setiap daerah di Indonesia, supaya dapat dicari alternatif solusinya.Kata Kunci: organofosfat, microplate assay, deteksi kerentananAbstractDengue fever is a disease that can cause death. Eradication today is to break the chain of transmission, ie killing the vector penularnya. The main vector is Aedes aegypti eradicated with organophosphate insecticide class. It has been widely reported that the Aedes aegypti are resistant this insecticide, so keep in mind the process of resistance and resistance tests in every region in Indonesia, in order to find an alternative solution. Key words: organophosphates, microplate assay, vulnerability detection
Depresi pada Lansia yang Menjadi Caregiver Pasien Pasca-Stroke Elly Tania
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v21i56.1260

Abstract

AbstrakDepresi sering timbul pada caregiver sebagai seseorang yang merupakan anggota keluarga (pasangan, anak, kakak, adik), tetangga, atau teman baik yang merawat orang yang mengalami penyakit mental atau fisik lainnya (seperti stroke, parkinson, kanker, subaracnoid hemorrhagic,dan sebagainya). Beban caregiver terjadi bila telah mengidap penyakit, disabilitas, dan ketergantungan terhadap orang. Beban yang dirasakan meliputi efek dalam kehidupan pribadi dan sosial, beban psikologis, perasaan bersalah (misal tidak dapat merawat dengan baik), harus menyita waktu, energi, uang, tugas yang tidak menyenangkan, serta melelahkan secara fisik. Beban psikologis yang dirasakan oleh caregiver antara lain rasa malu, marah, tegang, tertekan, dan lelah. Seiring dengan berjalannya waktu, caregiver (pasangan) juga dipengaruhi oleh faktor hormonal (menopause) dan kondisi kesehatan fisik yang berdampingan dengan tekanan psikologis, dan perubahan peran sosial di usia lanjut. Kompleks interaksi biologis dan psikososial ini memengaruhi kerentanan untuk timbulnya depresi selama periode ini. Kata kunci : Depresi, Lansia, Caregiver pasien pasca-stroke   Abstract Depression often arise in caregiver as a person who is a family member (spouse, child, brother, sister), a neighbor, or a good friend who treat people with mental illness or other physical (such as stroke, Parkinson's, cancer, subaracnoid hemorrhagic, and so on). Caregiver burden occurs when it has suffered illness, disability, and dependence on people. Perceived burden include the effect of personal and social life, the psychological burden, guilt (eg, unable to care properly), must seize the time, energy, money, unpleasant task, as well as physically exhausting. Psychological burden felt by caregivers, among others, shame, anger, tension, depressed, and tired. Over time, caregiver (partner) is also influenced by hormonal factors (menopause) and physical health conditions that coexist with psychological pressure, and changes in social roles in old age. The complex interaction of biological and psychosocial influences susceptibility to the onset of depression during this period. Keywords: Depression, Elderly, Caregiver in patients with post-stroke
Pengobatan Komplementer Daun Sambiloto (Andrographolide) sebagai Antitrombosis melalui Aktivasi Jalur Endothelial Nitric Oxide Synthase - Nitric Oxide / Cyclic Guanosin Mono Phosphate Febryan .; Ivan Laurentius Susentia; Shirly Elisa Tedjasaputra; Johannes Hudyono
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v21i56.1261

Abstract

AbstrakPenyakit kardiovaskular saat ini merupakan salah satu penyebab utama kematian di negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu pemicu penyakit kardiovaskular adalah trombosis yang berperan penting pada patogenesis penyakit kardiovaskular yang dapat dicegah dengan obat-obatan antitrombosis. Trombosis merupakan proses pembentukan, atau adanya darah beku yang terdapat di dalam pembuluh darah atau kavitas jantung. Ada dua macam trombosis, yaitu trombosis arterial (trombus putih) yang ditemukan pada arteri, dimana pada trombus tersebut ditemukan lebih banyak platelet, dan trombosis vena (trombus merah) yang ditemukan pada pembuluh darah vena dan mengandung lebih banyak sel darah merah dan lebih sedikit platelet. Peranan pengobatan herbal diperlukan sebagai terapikomplementeryang dapat dimanfaatkan untuk menekan progesifitas pembentukan trombosis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada penyakit kardiovaskular.Pada makalah ini akan dibahasperanan daun Sambiloto (andrographolide)sebagai antitrombosit yang melibatkan peningkatan endothelial nitric oxide synthase - nitric oxide siklus jalur guanosin monophosphate, yang diikuti dengan inhibisi kaskadephosphoinositide 3-kinase/Akt-p38 Mitogen-activated protein kinase dan kaskadephospolipase C γ2-protein kinase Cyang akan menginhibisi mobilisasi kadar Ca2+, dan pada akhirnya menghambat agregasi trombosit. Agregasi trombosit berperan penting dalam berbagai kelainan tromboemboli pada berbagai penyakit kardiovaskular. Oleh karenanya peran andrographolide dengan aktivitas antitrombosisnya memiliki potensi sebagai pengobatan komplementer pada pencegahan pembentukan trombus. Kata kunci: andrographolide, antitrombosis, endothelial nitric oxide synthase - nitric oxide/cyclicguanosin mono phosphate  AbstractCardiovascular disease is one of the leading and foremost causes of death in both developed and developing country, including Indonesia. One of the triggers that cause cardiovascular disease is thrombosis which plays an important role in the pathophysiology of acute cardiovascular disease that is preventable with antithrombotic drugs. Thrombosis is the process of forming, or already existed, blood clot in the blood vessel or heart cavity. There are two types of thrombosis, arterial thrombosis (white thrombi) which is found in arterial vessel and more predominated by platelets; and vein thrombosis (red thrombi) which is found in vein vessel and more predominated by red blood cells and less platelets. The role of herbal medication as a complementary medicine can be used to inhibit the progression of thrombosis formation that may cause various complications in cardiovascular disease. This review will discuss that Sambiloto leaf (andrographolide) plays a role in antiplatelet activity, which may involve the activation of the endothelial nitric oxide synthase - nitric oxide/cyclicguanosin mon phosphate pathway, resulting in the inhibition of the phosphoinositide 3-kinase /Akt p38 Mitogen-activated protein kinaseand phospolipase C γ2-protein kinase C cascades, followed by the inhibition of relative Ca2+ mobilization and, eventually, inhibition of platelet aggregation. Platelet aggregation plays important roles in a various thromboembolic disorders. Therefore, the role of andrographolide in antiplatelet activation may represent a high therapeutic as complementary medicine to treat thrombus formation. Keywords: andrographolide, antithrombosis, endothelial nitric oxide synthase - nitric oxide/cyclicguanosin monophosphate
Dampak dan Monitoring pada Pekerja Terpapar Benzena Susanty Dewi Winata
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v21i56.1262

Abstract

AbstrakBenzena merupakan salah satu senyawa hidrokarbon aromatik yang banyak digunakan di sektor industri karet, penyulingan minyak, pabrik kimia, pabrik sepatu, dan industri yang terkait dengan minyak. Benzena juga ditemukan pada fasilitas publik seperti asap rokok, pompabensin, pembakaran bahan bakar mobil, dan sebagainya. American Conference of Government Industrial Hygienists (ACGIH) menggolongkan benzena kedalam bahan karsinogen group-1A. Pengukuran benzena dapat dilakukan dalam udara ekspirasi, urin dan darah.Pajanan benzena dalam kadar yang rendah di tempat kerja dapat dinilai dengan baik oleh t,t-asam mukonat dan S-asam fenil merkapturat dalam urin. Dengan nilai ambang batas (NAB) benzena 0,5 ppm, ACGIH merekomendasikan pengukuran t,t-asam mukonat dan asam fenilmerkapturat dalam urin dengan indeks monitoring biologis 0,5 mg/g kreatinin sedangkan untuk asam mukonat yaitu 25µg/g kreatinin. Diperlukan berbagai pengendalian pajanan agar para pekerja terlindung dari dampak buruk benzena terhadap kesehatan pekerja.  AbstractBenzena is a aromatic hydrocarbon prevalently used in the rubber industry, oil refinery, chemical industry, shoe factories and other industries correlated with oil. Benzena can also be found in public facilities as it is contained in smoke of the cigarette, petrol station and the result of fuel burning. ACGIH (American Conference of Government Industrial Hygienists) classifies Benzena in Carcinogen group 1A. Benzena measurement can be conducted in the expiration air, urine and blood. The exposure of benzena at working place can be measured precisely by t-Mukonat Acid and S-Phenylmercapturat acid content in the urine with biological monitoring index of 0,5 mg/g Creatinin for Mukonat Acid and 25µg/g Creatinin for Phenylmercapturat acid. There should be control in the level of the chemicals to protect the workers from the harmful effects of benzena to their health.
Implikasi Klinis Angiosome pada Revaskularisasi Iskemia Tungkai Kritis Ronald Winardi Kartika
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1263

Abstract

AbstrakIan Taylor memperkenalkan konsep angiosome, membagi  tubuh menjadi blok tiga dimensi berdasarkan  pasokan sumber arteri. Perlunya memahami angiosome dari kaki dan pergelangan kaki serta  interaksi di antara arteri tersebut  secara klinis berguna dalam revaskularisasi iskemia tungkai kristis pada kaki dan pergelangan kaki, terutama bila disertai dengan luka pada kaki yang sulit disembuhkan. Dengan bantuan angiosome, ahli bedah pembuluh darah dapat menentukan target utama dalam revaskularisasi untuk luka kronik pada iskemia tungkai kritis. Ada enam angiosome dari kaki dan pergelangan kaki yang berasal dari tiga arteri utama dengan  cabang-cabangnya di daerah plantar. Tiga cabang A. tibialis posterior masing-masing memasok bagian-bagian yang berbeda dari kaki plantar. Dua cabang A. peroneal memasok bagian anterolateral dari pergelangan kaki dan kaki belakang. Arteri tibialis anterior memasok pergelangan kaki anterior, dan bila diteruskan, arteri pedis dorsalis, persediaan dorsum kaki. Dengan selektif melakukan pemeriksaan USG pembuluh darah (doppler ultrasound)  pada koneksi angiosome ini dapat dengan  cepat memetakan pembuluh darah kaki  yang ada dan arah aliran, sehingga target revaskularisasi dapat ditentukan dengan tepat. Dari beberapa penelitian, revaskularisasi langsung pada angiosome luka kronik sangat berpengaruh pada penyembuhan luka.Pengetahuan rinci tentang anatomi vaskular dari kaki dan pergelangan kaki memungkinkan ahli bedah vaskuler merencanakan revascularisasi  pembuluh darah  kaki dan pergelangan kaki. Ahli bedah vaskuler juga dapat  merancang eksposur yang aman dari kerangka yang mendasari, dan memilih revaskularisasi yang paling efektif untuk luka kronik pada pasien. Kata kunci : Iskemia Tungkai Kritis, Revaskularisasi, Angiosome                                                            AbstractIan Taylor introduced the concept angiosome, dividing the body into three different dimensional blocks of tissue which supply by the artery. Understanding angiosomes of the foot and ankle and the interaction between their source arteries is clinically useful in the surgery of the foot and ankle, especially with the presence of peripheral vascular disease. Based on  angiosome, the vascular surgeon can determine the primary target in the revascularization of the chronic wounds in critical limb ischemia.There are six angiosomes of the foot and ankle, which is derived from the three main arteries and their branches to the foot and ankle. The three branches of the posterior tibia artery supply different parts of the plantar foot. Two branches of the peroneal artery supply the anterolateral part of the ankle and hind legs. The anterior tibia artery supply the anterior ankle, and its continuation, the dorsal pedis artery, supplies the dorsum of the foot. The blood flow to the foot and ankle redundant; because the three main arteries of each legs have some connection..Using selective Doppler examination of this connection, it is possible to  map the existing leg veins and the direction of flow. Some author reported that direct revascularization  of chronic wound angiosome well influence quickly in wound healing. Detailed knowledge of the vascular anatomy of the foot and ankle allows the surgeon to plan the reconstruction the veins of the legs and ankles. Surgeons also can design a safe exposure of the underlying framework, and choose the most effective revascularization of the wound. Keywords : Critical Limb Ischemia, Revascularization, Angiosome
Gambaran Klinis dan Tata Kelola Batu Saluran Kemih pada Bayi dan Anak-anak Ahmad Ricardo
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1264

Abstract

AbstrakPrevalensi batu saluran kemih pada anak saat ini berkisar 2-3%, sedangkan tingkat rekurensinya dapat mencapai 6,5-54%. Penyebabnya sebagian besar faktor metabolik. Penyebab lain berupa kelainan anatomis dan infeksi saluran kemih. Jenis batu paling sering berupa  batu kalsium oksalat (40-60%), dan paling jarang berupa batu urat (2-10%). Lokasi batu sebagian besar di ginjal pada anak berusia 0-5 tahun (68%). Sedangkan batu pada uretra lebih sering ditemukan pada kelompok anak berusia 6-10 tahun (64%), dan berusia 11-18 tahun (82%).Keluhan yang dirasakan dapat berupa nyeri perut yang tidak khas, mudah menangis, muntah, sulit mengeluarkan urine, tidak nafsu makan dan sering memegang alat kelaminnya tanpa sebab yang jelas. Namun sebagian anak ada yang tidak mengeluhkan gejala sama sekali. Selain anamnesis yang teliti, diperlukan pemeriksaan radiologis seperti USG (utama), Foto Polos Abdomen atau Spiral CT Scan (dilakukan sesuai indikasi) untuk mencari kelainan anatomis dan mengetahui lokasi batu. Pemeriksaan urinanalisa yang diperlukan antara lain derajat keasaman (pH) urine, dan pemeriksaan urine 24 jam untuk mengetahui kandungan kristal (seperti kalsium, oksalat, sitrat, asam urat, magnesium, fostat, sistin dan kreatinin) pada urine. Pemeriksaan serum (darah), sebaiknya diperiksa kadar Ca, PO4, Na, K, HCO3, asam urat, Mg, Kreatinin serum, serta kadar alkalin fosfatase. Jika batu keluar secara spontan, pemeriksaan analisa batu sangat berguna untuk penegakan diagnosis, penentuan jenis batu dan mencegah terjadinya batu saluran kemih berulang.Penanganan batu saluran kemih pada anak dapat berupa pemberian analgetik, peningkatan intake cairan untuk meningkatkan volume urine, dan tindakan operatif seperti pembedahan terbuka (open stone surgery), ureteroskopi, Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), hingga Percutaneous nephrolithotomy (PCNL). Kata kunci: Batu saluran kemih, anak, keluhan, pemeriksaan  AbstractThe prevalence of urinary tract stones in children is now about 2 to 3%, while the recurrence rate can reach 6.5 to 54%. The largest cause being metabolic factors. Other causes are anatomic abnormalities and urinary tract infections. These types of stones are most often in the form of calcium oxalate stones (40-60%), while the least common form is urate stones (2-10%). The location is most often in the kidneys in children aged 0-5 years (68%). Whereas stones in the urethra are more often found in the group of children aged 6-10 years (64%) and aged 11-18 years (82%).While complaints of abdominal pain are not typical, patients often suffer from: crying easily, vomiting, difficulty passing urine, loss of appetite, and often touch their genitals for no apparent reason. However, some children do not complain of any symptoms at all. In addition to a careful history, radiological examinations are required, including ultrasounds (foremost), Plain Abdominal x-ray or Spiral CT Scans (performed as indicated) to search for anatomical abnormalities and to know the location of the stone. Urinanalysis examinations are required, among other analyses, to measure the degree of acidity (pH) of urine and a 24-hour urine test to determine the content of crystals (such as calcium, oxalate, citrate, uric acid, magnesium, phosphate, cystine and creatinine) in the urine. Examination of serum (blood) should be conducted as well as examination of levels of: Ca, PO4, Na, K, HCO3, gout, Mg, serum creatinine, and alkaline phosphatase levels. If the stones come out spontaneously, stone analysis is very useful for diagnosis as well as determining of the type of stone in order to prevent recurrent urinary tract stones.Handling of urinary tract stones in children can be pain relief, increase fluid intake to increase urine volume and take operative measures, such as open surgery (open stone surgery), ureteroscopy, extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), or Percutaneous nephrolithotomy (PCNL). Key words: Urinary tract stone, children, complaint, examination
Malformasi Anorektal Irene Lokananta; Rochadi .
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1265

Abstract

Abstrak Atresia ani, yang kini dikenal sebagai malformasi anorektal (MAR) adalah suatu kelainan kongenital yang menunjukkan keadaan tanpa anus atau dengan anus yang tidak sempurna. Malformasi anorektal merupakan kelainan kongenital yang sering kita jumpai pada kasus bedah anak. Lebih dari setengah abad terakhir terjadi perkembangan terapi bedah untuk malformasi anorektal dari cut back sederhana sampai dengan yang sering dikerjakan saat ini, yaitu posterior sagittal anorectoplasty (PSARP).Karena malformasi anorektal merupakan kasus bedah anak yang paling sering dijumpai dan berhubungan dengan tingginya morbiditas maka perlulah para ahli medis dan orang awam segera mengenali diagnosis penyakit kongenital ini. Kata kunci: Atresia ani, malformasi anorektal, posterior sagittal anorectoplasty, kolostomi.  Abstract Imperforata ani that now known as anorectal malformation (ARM) is a congenital disorder that indicates the absence or the imperfect of the ani. Anorectal malformation is a congenital disorder which is often encountered in pediatric surgery. Over the last half century the surgical treatment for anorectal malformation is developed, from the simple cut back to posterior sagittal anorectoplasty (PSARP). Because anorectal malformation is the most common case in pediatric surgery and also associated with high morbidity, it is necessary for immediately medical experts and layman to recognize the diagnosis of this congenital disease.  Keywords: Imperforate ani, anorectal malformation, posterior sagittal anorectoplasty, colostomy.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Terkini Pituitary Tumor William Stevenson
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1266

Abstract

Abstrak Hipofisis dikenal sebagai "master gland" karena membantu untuk mengontrol sekresi hormon kelenjar lain dan target organ dalam tubuh mencakup tiroid, adrenal, testis, dan ovarium. Tumor hipofisis insidensnya 12 -19% dari semua tumor otak, membuat mereka yang ketiga yang paling umum tumor otak primer pada orang dewasa, meningioma berikut dan glioma. Tumor hipofisis dapat ditemukan di setiap kelompok umur, insiden cenderung meningkat sesuai usia.  Wanita didiagnosa tumor hipofisis lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Pengobatan tumor hipofisis tergantung pada aktivitas hormonal tumor, ukuran dan lokasi tumor, serta usia dan kondisi umum dari penderita. Tujuan pengobatan untuk menghilangkan tumor, mengurangi atau mengontrol ukuran tumor, dan / atau untuk mengatur keseimbangan kadar hormon.1 Kata kunci : Hipofisis,  tumor,  kelenjar, pengobatan  Abstract Pituitary gland is known as the “master gland” because it controls the secretion of hormones from a number glands and “target” organs in the body. These include the thyroid, the adrenals, testes and ovaries. Pituitary tumors account for 12 -19% of all primary brain tumors, making them the third most common primary brain tumor in adults, following meningiomas and the gliomas. Pituitary tumors can be found in every age group, but their incidence tends to increase with age.  Women are diagnosed with pituitary tumors slightly more often than men. Treatment of a pituitary tumor depends on the hormonal activity of the tumor, the size and location of the tumor, as well as the age and overall health of the person with the tumor. The goals of treatment are to remove the tumor, to reduce or control tumor size, and/or to re-balance hormone levels. 1 Keywords : Pituitary,  tumor,  glands, treatments
Gangguan Fungsi Tiroid pada Penggunaan Amiodaron David Susanto; Visakha Revana Irawan
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1267

Abstract

AbstrakAmiodaron merupakan obat anti aritmia yang efektif untuk mengontrol ritme aritmia yang mengancam, namun pengobatan ini dapat memberikan berbagai efek samping. Disfungsi tiroid merupakan efek samping yang cukup sering terjadi selama terapi amiodaron. Hal ini disebabkan karena tingginya jumlah ion iodin dan adanya hambatan pada aktivitas enzim deiodinase. Disfungsi tiroid yang disebabkan oleh amiodaron, memiliki variasi klinis, mulai dari tanpa gejala, hipotiroid, hingga tirotoksikosis. Di perlukan pemantauan pengobatan jangka panjang karena eliminasi amiodaron yang memanjang dan waktu paruh yang terkait dengan komplikasinya. Kata Kunci: amiodaron, gangguan tiroid, hipotiroid, tirotoksikosis  AbstractAmiodarone is an effective anti arrhytmic agent to control the rhytm of life threatening arrhytmia but will causevarious side effects. Thyroid dysfunction is not uncommon during amiodarone therapy and is caused by iodide excess and inhibition of deiodinase activity. Amiodarone induced thyroid dysfunction and it varies from asymptomatic variation in thyroid function to clinically hypothyroidism and thyrotoxicosis. Amiodarone should be monitored due to its prolong elimination and half life which is associated with its complication. Keywords: amiodarone, hypothyroidism, thyroid disorder, thyrotoxicosis
Mendengkur Erna M. Marbun
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1268

Abstract

AbstrakMendengkur merupakan suatu masalah sosial yang harus diwaspadai, karena dapat menjadi  petunjuk adanya masalah kesehatan yang berhubungan dengan struktur fisiologi anatomi saluran pernapasan atas. Salah satu penyakit yang memiliki gejala  mendengkur  adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pada orang yang menderita OSA, pernapasan  dapat terhenti sesaat  sehingga asupan oksigen pada jantung dan otak dapat berkurang, hal ini dapat mengancam jiwa. Menurut American Academy of Otorhinolaringology, 45% orang dewasa pernah mengalami snoring dan lebih sering ditemukan pada laki-laki, sedangkan prevalensi terjadinya OSA pada usia 30-60 tahun adalah sebanyak 12 juta. Oleh karena itu, penting  untuk mengetahui penyebabnya dengan menggunakan teknik yang tepat agar gangguan ini mendapatkan pengobatan yang efektif. Kata kunci :  Mendengkur, OSA (Obstructive Sleep Apnea) Abstract Snoring is a social problem that needs more attention because, it can be an indication of health problems that associated with the anatomy physiology structure of the upper respiratory tract. One of the diseases that have symptoms of snoring is Obstructive Sleep Apneu (OSA). Breathing can stop for a moment so that supply of oxygen to the heart and brain is reduced. The complication and sequele of snoring can be life  threatening. According to American Academy of Otorhinolaringology, 45% of adults have experienced snoring and commonly found in men. While the prevalence of OSA happened at the age of 30-60 years is 12 million. Therefore it is important for us to find out the  cause by using the right technique so that these disorders receive effective treatment  Keywords : Snoring, (OSA) Obstructive Sleep Apnea

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 2 (2026): Maret Vol 32 No 1 (2026): Januari Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue