cover
Contact Name
Ainurrahman Hidayat
Contact Email
anik_mamang@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
biologiyayan@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Jalan Raya Panglegur KM 04 Pamekasan Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Nuansa: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam
ISSN : 19077211     EISSN : 24428078     DOI : https://doi.org/10.19105/nuansa
Nuansa is a journal that publishes scientific articles that have been derived from research on social sciences and Islamic studies This journal is published biannually in June and December and published articles reviewed by experts on related issues Journal Nuansa scope includes culture politics law economy theology philosophy communication and history
Articles 248 Documents
Best Practice Pembelajaran Toleransi (Implementasi Kajian Tematik Hadith Al-Adyan Bagi Kerukunan Umat Beragama) Akhmad Jazuli Afandi
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2365

Abstract

Toleransi dalam Islam merupakan persoalan yang menarik dan penting untuk dikaji, karena banyak di kalangan umat Islam yang memahami toleransi dengan pemahaman yang kurang tepat. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang mendalam tentang bagaimana sesungguhnya konsep toleransi dalam Islam. Khususnya konsep-konsep toleransi yang terdapat dalam hadith-hadith Nabi. Implementasi atas kajian terhadap hadis-hadis yang bertemakan hubungan antara muslim dengan non-muslim juga dapat mewujudkan rasa toleransi dan mampu memicu terjadinya sinkronisasi kehidupan antar umat beragama sehingga terciptalah suasana beragama yang rukun tanpa adanya intimidasi antar satu agama dengan agama lain. Toleransi dalam Islam bukan berarti bersikap sinkretis (proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan). Akan tetapi sikap toleransi dalam Islam merupakan sikap menghargai dan menghormati keyakinan dan agama lain di luar Islam, bukan menyamakan atau mensederajatkannya dengan keyakinan Islam itu sendiri. Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.(Tolerance in Islam is an interesting and important issue to study, because many of the Muslims understand tolerance with inappropriate understanding. Therefore, an in-depth study of the concept of tolerance in Islam is needed. Especially the concepts of tolerance contained in prophetic hadiths. The implementation of the study of hadiths with the theme of the relationship between Muslims and non-Muslims can also create a sense of tolerance and be able to trigger synchronization of inter-religious life so as to create a harmonious religious atmosphere without intimidation between one religion with another religion. Tolerance in Islam does not mean being syncretic (a process of combining several religious or belief ideals or schools). However, tolerance in Islam is an attitude of respect and respect for other faiths and religions outside of Islam, not equating or equaling them with Islamic beliefs themselves. So, there are common boundaries that may and should not be violated. This is the essence of tolerance where each party is in control of themselves and provides space to respect each other's uniqueness without feeling threatened by their beliefs or rights.) 
Kajian Filologis Naskah Djodo Leni Nur'aeni; Agus Saeful Anwar
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2366

Abstract

Penelitian Kajian filologis Naskah Djodo memiliki tujuan untuk Menyajikan edisi teks naskah Djodo yang bersih dari kesalahan serta untuk mengungkapkan fungsi sosial teks naskah Djodo. Kesalahan penyalinan yang teridentifikasi dalam naskah Djodo berupa substitusi 2 kesalahan, dan omisi 2 kesalahan. Pada edisi teks kesalahan-kesalahan tersebut diperbaiki dengan diberikan keterangan aparat kritik sebagai pertanggungjawaban terhadap perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan. Naskah Djodo ini dahulu berfungsi sebagai pedoman hidup penyalin. Namun, saat ini naskah Djodo sudah tidak dipakai lagi karena dianggap sudah tidak relevan dengan keadaan saat ini.(Research on Philological Studies Djodo manuskript aims to present Djodo manuskript edition which is free from errors and to reveal Djodo manuskript social functions. The copying error identified in the Djodo manuskript is a substitution of 2 errors, and omits 2 errors. In the edition of the text these errors were corrected by being given a statement by the critics as accountability for the improvements that had been made. This Djodo manuskript used to function as a copyist's life guide. However, currently the Djodo script is no longer used because it is considered to be irrelevant to the current situation.)
Penguatan Karakter Dalam Pendidikan Sistem Persekolahan (Implementasi Perpres Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter) Siti Musawwamah; Taufiqurrahman Taufiqurrahman
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2369

Abstract

Keberhasilan dan kegagalan peradaban suatu bangsa banyak ditentukan oleh karakter warga bangsanya. Oleh karenanya, pendidikan karakter menempati posisi tertinggi dalam prioritas pembangunan bangsa secara fisik material maupun secara psikis-spiritual. Lembaga pendidikan juga diberi amanat oleh negara untuk mendidik generasi bangsa dalam mewujudkan karakter warga bangsa yang unggul dan mapan. Termasuk di dalamnya lembaga pendidikan tingkat menengah di seluruh Indonesia. Untuk memperkokoh karakter warga bangsa, pemerintah menerbitkan regulasi berupa PERPRES Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter atau PPK. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan tentang kesiapan penyelenggara sistem persekolahan dalam pelaksanaan PPK; gambaran tentang pelaksanaan PPK pada sistem pesekolahan; problem pelaksanaan PPK dalam pendidikan sistem persekolahan; dan langkah-langkah solutif penyelenggara pendidikan dalam memecahkan problem pelaksanaan PPK dalam pendidikan sistem persekolahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan metode kualitatif dengan orientasi teotetik fenomenologis untuk mengungkap dan mendeskripsikan fokur-fokus kajian. Lokasi penelitian ini di SMA Negeri 1 Pamekasan. Informan penelitian ini adalah guru, pimpinan sekolah, dan murid. Analisis data dilakukan secara kualitatif terhadap catatan lapangan. Analisis ini dilakukan pada saat dan setelah pengumpulan data dilakukan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan 4 teknik, yaitu kredibilitas, dependabilitas, transferablitas, dan konfirmabilitas.(The success and the failure of a nation’s civilization depends on the characteristics of its people’s character. Therefore, character building sets in the highest position in the priority of the nation’s development both material-physically and mental- spiritually. The nation also instructs the education institution to teach the students well in forming an excellent and proper citizen, including all senior high schools in Indonesia. In forming the citizen’s character, the government publishes the regulation of PERPRES no. 87 year 2017 about the strengthening of character building or PPK. The purpose of this research is to reveal, identify and describe the readiness of the organizer of schooling system in implementing PPK; the description of the PPK implementation in schooling system; the problems in implementing PPK in schooling system; and the solutions for the education organizer in solving the problems of PPK implementation in schooling system. The research uses the qualitative method and approach with theoretic phenomenological orientation to reveal and describe the research focuses. The location of this research is at SMAN 1 Pamekasan. The sources of data are the teachers, the principle, and the students. The data analysis to the field notes is done qualitatively. This analysis is done in the process of data collecting and afterward. The checking of data is done with four techniques; they are credibility, dependability, transferability and confirm ability.)
Kemampuan Berbicara Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan M. Ismail Makki; Aflahah Aflahah
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2384

Abstract

Kemampuan berbicara adalah kemampuan berbahasa yang paling sering digunakan. Pelajaran berbicara di sekolah-sekolah maupun di perguruan tinggi kurang mendapat perhatian dan pembinaan. Demikian pula di Program Studi Tadris Bahasa Indonesia yang sangat berkaitan dengan kemampuan berbicara. Akibatnya, mahasiswa kurang menguasai kemahiran ini. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui bagaimana kemampuan berbicara mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia angkatan 2017/2018 dari aspek kebahasaan dan aspek non-kebahasaan dan juga Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kemampuan berbicara mahasiswa tersebut kurang maksimal. Peneliti menggunakan menggunakan Mixed Method (metode campuran) dengan desain Sequential Explanatory Research Design. Data penelitian yang akan dikumpulkan berupa pidato dari populasi seluruh mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia tahun 2017/2018, sedangkan sampel yang diambil adalah 13% atau 16 mahasiswa. Data kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan Three Flow Model dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini adalah kemampuan berbicara mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan Tahun Akademik 2017/2018 termasuk dalam kategori (cukup) dengan nilai 63,91. Pada aspek kebahasaan termasuk kategori (kurang) dengan nilai rata-rata 58,75; dan (cukup) pada aspek non-kebahasaan dengan nilai 69,06. Untuk itu diharapkan bagi guru dan mahasiswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa karena berbicara merupakan kemampuan berbahasa yang sangat penting.(The ability to speak is the language skills most often used. Lessons learned in schools and in universities are not given enough attention and guidance. Likewise, in the Indonesian Language Tadris Study Program which is closely related to speaking ability. As a result, students lack mastery in this skill. The researcher used a Mixed Method with the Sequential Explanatory Research Design. The research data will be collected in the form of speeches from the population of all these students, while the samples taken were 13% or 16 students. Analyzed data using descriptive statistics and Three Flow Models from Miles and Huberman. The results of this study are the students' speaking ability of the Indonesian Language Study Program, Department of Tarbiyah STAIN Pamekasan 2017/2018 Academic Year included in the category (sufficient) with a value of 63,91. In linguistic aspects including (less) category with an average value of 58,75; and (sufficient) on non-linguistic aspects with a value of 69,06. For this reason, it is expected that teachers and students can improve students' speaking skills because speaking is a very important language ability.) 
Eksistensi Kitab Kuning Di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (Studi Analisis Tentang Penggunaan Kitab Kuning Sebagai Referensi Kajian Keislaman Di STAIN Pamekasan dan STAI Al-Khairat Pamekasan) Mohammmad Thoha
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2391

Abstract

Kitab kuning diyakini sebagai referensi studi keilmuan (Islamic studies) yang otoritatif. Keberadaannya senantiasa menyertai eksistensi pesantren sebagai insitusi pendidikan islam tertua. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) diharapkan menjadi kelanjutan pesantren yang memadukan tradisi keilmuan klasik dengan metodologi studi yang beradaptasi dengan tuntutan zaman. PTKI sebagai wadah pendadaran sarjana muslim dituntut mampu melestarikan tradisi keislaman di satu sisi, dan juga mampu memformulasikan metode studi yang adaptif dan progresif di sisi yang berbeda, sehinga menjadi transimisi keilmuan yang konperhensif. Artikel ini mendiskripsikan potret keterpakaian kitab kuning di STAIN Pamekasan dan STAI Al-Khairat, juga di Pamekasan. Hasilnya, keterpakain kitab kuning sebagai referensi kajian keislaman berbeda antara kedua PTKI tersebut. STAIN Pamekasan, dengan jumlah program studi yang besar (18 prodi) keterpakaian kitab kuning relatif kecil, dikarenakan mayoritas mahasiswa tidak memiliki kompetensi dasar penguasaan kitab kuning. Demikian pula pola perkuliahan dan penguasan karya ilmiah oleh dosen yang tidak mewajibkan penggunaan referensi kitab kuning, juga menyebabkan rendahnya ketertarikan mahasiswa untuk menelaahnya. Hal ini berbeda dengan STAI Al-Khairat. Mahasiswa sudah terbiasa dengan penggunaaan kitab kuning sejak semester awal. Di samping mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menelaah kitab kuning, dukungan para dosen dan iklim kompetisi antar mahasiswa yang berasal dari beberapa pesantren juga menyebabkan tingginya penggunaan kitab kuning.(Kitab Kuning is believed as the authoritative Islamic studies’ reference. Its existence is accompanying the pesantren’s existence as the oldest Islamic education institution. Islamic universities are expected to continue pesantren to combine classical knowledge tradition with research methodology which is adapted the demands in this era. Islamic university is as the place to make Moslems scholar able to put Islamic tradition in one side while in another side they are able to formulate an adaptive and progressive research method. So that it can be a comprehensible knowledge transmission. This research is trying to describe the use of kitab kuning in STAIN Pamekasan, STAI Al- Khairat and in Pamekasan too. The results are; there are differences in the usage of kitab kuning as reference in those two universities. STAIN Pamekasan with big amount of study programs (18 study programs) has low level on the usage of kitab kuning and it is caused by the students’ lack of basic knowledge about it. Moreover, the terms of lecturing process and the lecturer’s mastery of kitab kuning and they do not oblige the students to use it as reference is degrading the students’ interest in analyzing it. It is different to what happen in STAI Al-Khairat. The students get used to make use of kitab kuning since the first semester. They both have the competency in analyzing kitab kuning and their lecturers also support them and create an atmosphere to have a competition among the students from any pesantren. These both reasons make the high kitab kuning usage in the latter Islamic university.)
Gerakan Madrasah Adiwiyata di Madura; Telaah Konsep Peduli Lingkungan dalam Islam Mohammad Holis
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2394

Abstract

Manusia memberi pengaruh terhadap lingkungan yang lebih aktif, sedangkan lingkungan pasif memberi keuntungan terhadap manusia. Ada dua golongan pandangan manusia yang dapat membedakan terhadap lingkungan, yakni pandangan imanen (holistik) dan pandangan transenden. Masalah lingkungan adalah juga masalah moral manusia, atau persoalan prilaku manusia. Kerusakan bukan masalah teknis tetapi krisis lingkungan atau krisis moral manusia. Untuk mengatasinya, salah satu langkah yang bisa dilakukan dengan cara merubah cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam secara mendasar melalui pengembangan etika lingkungan. Pendidikan lingkungan, merupakan pemberian wawasan keterampilan dalam pengelolaan lingkungan dimana sejak dini sudah diajarkan bagamana peduli terhadap lingkungan, memelihara bumi, mengelola sampah, memanfaatkan sumber daya alam dengan hemat. Madrasah sebagai institusi yang memiliki wewenang untuk pendidik, membimbing, membina dan membiasakan dalam pembelajaran termasuk masalah lingkungan hidup. Penelitian ini merupakan studi lapangan. Penelitian ini menkaji konsep Peduli Lingkungan dalam Islam yang dilakukan melalui Gerakan Adiwiyata dalam madrasah Penyelenggaraan program madrasah adiwiyata atau program madrasah peduli dan berbudaya lingkungan setiap orang berhak dan berperan dalam pengelolaan lingkungan. Adiwiyata bukanlah sebuah lomba, melainkan lebih pada membentukkan karakter atau perilaku yang peduli dan berbudaya lingkungn secara berkelanjutan melalui lembaga pendidikan termasuk madrasah.(Human beings influence the environment more actively than the environment can do. There are two points of view that human beings have about environment; they are imanen point of view (Holistic) and transcendence point of view. Environment problem actually is a human values problem or human’s attitude problems. The environmental damage is not a technical problem but an environmental problem or human’s moral crisis. Change the human’s point of view and their attitude toward their environment are ways to solve the problem. Environment education is giving the skill on knowledge of environmental management to students where it is needed to taught early, how to take care of environment, to save the earth, to manage the rubbish, to make use of natural resources safely. Madrasah is as an institution with the authority to teach, to guide and to make the students get used to care to the environment’s problem. This study is a field research, which are analyzing the concept of environmental care in Islam by Adiwiyata program in Madrasah and the implementation of Madrasah Adiwiyata or madrasah care of environment and have environmental culture.  Everyone has the right and the role in managing the Adiwiyata environment. Adiwiyata is not a competition; it is more to character building or the caring attitude and having the environmental culture continuously through the education institution including Madrasah.)
Literasi Keuangan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Dan Bisnis Islam IAIN Madura Berdasarkan Demografi Sebagai Dasar Penguatan Kompetensi Program Studi Fatati Nuryana
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2402

Abstract

Literasi keuangan merupakan salah satu kunci kesejahteraan masyarakat sebab akan memberikan pengetahuan dan pemahaman agar terhindar dari kesulitan ekonomi dan kesalahan dalam pengelolaan keuangan. Saat ini tingkat literasi keuangan masyarakat sangat rendah, khususnya literasi keuangan syariah sehingga perlu dibangun melalui perencanaan strategis dan langkah inisiatif berupa program aksi dengan melibatkan semua elemen masyarakat, khususnya stakeholders keuangan syariah dan regulator keuangan. Mahasiswa JEBIS IAIN Madura sebagai agen perubahan perlu dibekali pemahaman tentang literasi keuangan yang baik sehingga mampu memberikan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang tingkat literasi keuangan syariah mahasiswa JEBIS IAIN Madura berdasarkan demografinya sebagai dasar evaluasi terhadap penguatan kompetensi jurusan. Penelitian ini mengikuti desain kuantitatif deskriptif dengan 174 sampel dari tiga prodi di JEBIS yaitu PBS, ES dan AS secara proporsional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Teknik analisis data menggunakan skor dan tabulasi silang antar variabel dan demografi responden dengan menggunakan softwere SPSS 21.(Financial literacy is one of the keys of the society’s welfare because it can give the society the knowledge and understanding that can make them avoid the economic difficulty and faults in finance management. Nowadays, the level of society’s financial literacy is very low, especially Sharia financial literacy so that it is needed to form the strategic planning and initiative steps in the form of action containing all society’s elements, moreover the Sharia’s finance stakeholder and finance regulators.  The JEBIS (Islamic Business and Economic Department) students of IAIN Madura as the agent of change need to be supported by understanding about good financial literacy so that they can educate the society about it. This study is trying to give a description about the Sharia’s financial literacy level of the students in JEBIS IAIN Madura based on its demography as the basic evaluation to strengthen the faculty’s competency.  This research uses the descriptive quantitative design with 174 samples from three departments under JEBIS faculty; they are PBS, ES and AS proportionally. The sampling is done by the accidental sampling technique. The data analysis technique uses the score and cross tabulation between the variable and demography respondents using SPSS 21 software.)
Stratifikasi Sosial Ondhâg Bâsa Bahasa Madura Mulyadi Mulyadi; Umar Bukhory
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2403

Abstract

Bahasa Madura, sebagai bahasa, mengalami kepadatan linguistik dan non-linguistik. Namun harus bersaing dengan bahasa nasional dan internasional untuk bertahan hidup sebagai lingua franca. Secara bertahap ditinggalkan oleh penuturnya karena kompleksitas morfologis, prestise, dan praktik komunikasi. Fenomena ini menginspirasi penulis untuk melakukan studi bagaimana penutur Madura menerima bahasa mereka sendiri dan harus menyelidiki karakteristik sosial penutur. Kelas menengah adalah salah satu stratifikasi sosial yang cenderung lebih fleksibel dalam menolak dan mengambil budaya baru dan bahasa adalah bagian dari budaya. Penulis memfokuskan penelitian tentang bagaimana kelas menengah Pamekasan melakukan Madura Ondhâg Bâsa dan bagaimana kelas menengah Pamekasan menerima Ondhâg Bâsa. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dan fenomenologi dalam pendekatan. Hasil penelitian: pertama, kelas menengah Pamekasan sebagian besar menggunakan stratifikasi Madura tingkat rendah, bâsa mabâ, dipertukarkan dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari alih-alih mempraktikkan stratifikasi tingkat Madura yang lebih tinggi menengah (bása alos) dan tingkat tinggi (bâsa tèngghi). Situasi bahasa ini mudah ditemukan pada percakapan antara pasangan suami-istri, anak-anak dan orang tua, saudara kandung, lingkungan baik dalam situasi formal dan non-formal. Kedua, dari temuan ini dapat secara interpretatif dijelaskan bahwa Ondhâg Bâsa Madura diterima dengan cara-cara berikut: sebagai ungkapan keadilan, strategi kesopanan, strategi ice breaking, pernyataan posisi, percepatan prestise, dan strategi ekonomi. (Madurese, as language, experience linguistic and non-linguistic densities. It must compete to national and international languages to survive as lingua franca; it is gradually left by its speakers due to its morphological complexity, prestige, and communication practice. This inspires to conduct a study how the Madurese speaker accept their own language and must also investigate the social characteristics of the speakers. Middle class is one of the social stratifications that tend to be more flexible in rejecting and taking new culture and language is part of culture. The writer focuses the research on how middle class of Pamekasan perform Madurese Ondhâg Bâsa and how middle class of Pamekasan accept Ondhâg Bâsa. Qualitative design and phenomenology in approach of this research. The result: firstly, the middle class of Pamekasan mostly use the low level of Madurese stratification, bâsa mabâ, interchangeably with Indonesian in daily conversation instead of practice the higher level of Madurese stratification middle (bâsa alos) and high level (bâsa tèngghi). Secondly, from this finding it could be interpretatively described that Madurese Ondhâg Bâsaare accepted in the following ways: as the expression of equity, strategy of politeness, strategy of ice breaking, statement of position, prestige acceleration, and economic strategy.) 
Efektivitas Pemanfaatan Dana Desa dalam Mengentaskan Kemiskinan di Kec Kuala Kabupaten Nagan Raya Wahyuddin Wahyuddin; Arroyyan Ramly; Muslim A. Djalil; Mirna Indriani
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 2 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i2.2410

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisa dan melihat efektifitas distribusi pemanfaatan dana desa di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya dan hubungannya dengan tingkat kemiskinan. Data yang digunakan berupa data time series dari tahun 2015 hingga tahun 2018 yang dikumpulkan melalui data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan mendatangi langsung ke desa-desa di kecamatan kuala. Sementara data sekunder diperoleh dari website Badan Pusat Statistik (BPS), telaah dokumen, artikel yang berhubungan dengan objek penelitian. Penelitian ini melakukan observasi terhadap 10 desa sebagai sample dari 17 desa di Kecamatan Kuala. Metode analisa mengunakan regresi data panel dengan metode analisa random effect model (REM). Dari hasil regresi model random effect ditemukan bahwa variabel dana desa berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemisikinan dengan Probabilitas sebesar 0,0000 = p-value α = 5%. Kemudian variabel alokasi dana desa berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan dengan Probabilitas sebesar 0,0000 = p-value α = 5%. Artinya dengan menambahkan 1% dana desa atau meningkatkan dana desa akan mengurangi kemiskinan di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya. (This research is aimed at analyzing and seeing the effectiveness of village fund utilizing distribution in Kuala sub-district, Nagan Raya regency and also its relations with the poverty level. The data used the time series data from 2015 to 2018 collected through primary and secondary data. Primary data is taken from directly getting the data from the villages in Kuala sub-district, while secondary one is taken from Central Bureau of Statistics, document and articles analysis related to the research object. This research did observation on 10 out of 17 villages as sample in Kuala sub-district. The analysis used panel data regression with random analysis model (REM). From the effect random model regression result, fit is found that the village fund variable has given a positive and significant effect on the poverty for 0,0000 = p-value α = 5%. The village fund allocation variable affects negatively on the poverty with probability 0,0000 = p-value α = 5%. It means that by adding 1% village fund or adding the village fund can make the poverty in Kuala sub-district Nagan Raya regency decreased.)
Motivasi Marbut Masjid Di Kelurahan Anduring Kecamatan Kuranji Kota Padang (Studi Terhadap Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang) Ahmad Putra
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 2 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i2.2452

Abstract

Mahasiswa yang bertugas sebagai marbut masjid banyak yang tidak melakukan pekerjaannya dengan maksimal, seperti marbut terlambat dalam mengumandangkan adzan, sering meninggalkan masjid di waktu shalat, kurangnya kebersihan masjid. Hal ini berdampak kepada ketidaknyamanan pada sebagian besar jamaah.  Berangkat dari permasalahan tersebut penulis tertarik menteliti motivasi marbut secara teologis, sosioligis, biogetis untuk mengetahui hal yang mendorong marbut dalam melaksanakan aktivitas saat bertugas di masjid. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan fenomena motivasi marbut masjid. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) Motivasi teologis marbut Masjid adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memakmurkan masjid, melaksanakan shalat berjamaah, membersihkan masjid, berzikir dan berdoa, meminta ampun atas kesalahan kepada Allah, belajar ilmu agama, belajar berceramah, serta belajar jadi imam. (2) Motivasi sosiogenetis marbut Masjid adalah untuk hidup bermasyarakat dan terlibat dengan kegiatan-kegiatan sosial yang ada di dalam masyarakat, sepe rti terlibat dengan kegiatan gotong royong, menghadiri walimah di rumah jamaah dan diminta untuk berdoa pada acara syukuran ataupun ketika ada kemalangan. (3) Motivasi biogenetis marbut Masjid adalah untuk mengurangi beban orangtua dalam membiayai perkuliahan dan kebutuhan hidup, karena marbut memperoleh kesejahteraan, seperti uang saku, makan sehari-hari, jaminan kesehatan, keamanan, serta fasilitas.(Students who served as mosque marbut many did not do their work to the maximum, such as marbut being late in making the call to prayer, often leaving the mosque during prayer times, lack of cleanliness of the mosque. This affected the inconvenience of most pilgrims. Departing from these problems the authors are interested in examining the motivation of marbut theologically, socioligically, biogetically to find out what drives marbut in carrying out activities while on duty at the mosque. The method used in this study is a qualitative research method with a descriptive approach to describe the phenomenon of mosque marbut motivation. The results of this study indicate that, (1) The mosque's marbut theological motivation is to get closer to Allah SWT, to prosper the mosque, to pray in congregation, to clean the mosque, to recite and to pray, to ask forgiveness for mistakes to Allah, to study religion, to learn to lecture, and learn to be a priest. (2) The mosque's marbut sociogenetic motivation is to live in a community and be involved with social activities in the community, such as being involved in mutual cooperation activities, attending walimah in the congregation's house and asked to pray at thanksgiving or when there is misfortune. (3) Biogenetic motivation of mosque marbut is to reduce the burden on parents in paying for lectures and living necessities, because marbut gets welfare, such as pocket money, daily meals, health insurance, security, and facilities.)