cover
Contact Name
Dian Safrina Putri
Contact Email
dian.safrina@bpjsketenagakerjaan.go.id
Phone
+6281381866959
Journal Mail Official
jurnal.bpjamsostek@gmail.com
Editorial Address
Deputi Bidang Learning and Development Kantor GRHA BPJAMSOSTEK Jl. Gatot Subroto No.79, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan 12930
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jamsostek
Published by BPJS Ketenagakerjaan
ISSN : 30249147     EISSN : 3025941X     DOI : https://doi.org/10.61626/jamsostek
Jurnal Jamsostek diterbitkan oleh BPJS Ketenagakerjaan sebagai media pengelolaan dan pertukaran pengetahuan tentang isu-isu Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Jurnal ini menerima naskah yang mendiskusikan teori, kebijakan, atau dinamika praktik Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dalam konteks Indonesia dan global. Jurnal ini terbit dua kali setahun (Juni dan Desember). Semua naskah yang dikirimkan akan melalui penilaian awal oleh Editor, dan apabila sesuai dengan fokus dan ruang lingkup, akan menjalani double-blind review.
Articles 35 Documents
Posisi BPJS Ketenagakerjaan dalam Basis Data Scopus: Pemetaan Ilmiah Bibliometrik dengan Biblioshiny Diaz Ilyasa
Jurnal Jamsostek Vol. 4 No. 1 (2026): Juni
Publisher : BPJS Ketenagakerjaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61626/jamsostek.v4i1.114

Abstract

BPJS Ketenagakerjaan sebagai penyelenggara jaminan sosial ketenagakerjaan di Indonesia mencatat pertumbuhan peserta signifikan hingga 60,64 juta pada 2024, namun kajian ilmiah yang memetakan perkembangan literaturnya secara sistematis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemetaan ilmiah publikasi BPJS Ketenagakerjaan dalam basis data Scopus pada periode 1996–2025 menggunakan analisis bibliometrix Biblioshiny melalui tiga analisis utama, yaitu produksi ilmiah tahunan, three-field plot, dan thematic map. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data PRISMA, dengan total 112 publikasi Scopus. Hasil analisis bibliometrik menunjukkan bahwa meskipun publikasi telah dimulai sejak 1996, perkembangan signifikan baru terjadi sejak 2016, dengan puncak pada tahun 2020 dan 2024. Analisis three-field plot menggambarkan keterkaitan antara sumber publikasi, penulis, dan topik dalam dataset yang dianalisis, yang umumnya berfokus pada layanan jaminan sosial, kepuasan pengguna, dan digitalisasi layanan publik. Selain itu juga ditemukan adanya fragmentasi kata kunci serta irisan terminologis dengan BPJS Kesehatan, yang menunjukkan bahwa literatur akademik pada bidang ini masih menghadapi tantangan dalam hal konsistensi istilah dan struktur tematik. Hasil analisis thematic map menunjukkan bahwa social security, users' experience, Jamsostek Mobile (JMO), dan mobile applications merupakan tema penggerak yang dominan. Studi ini mengindikasikan bahwa meskipun perhatian akademik terhadap BPJS Ketenagakerjaan semakin meningkat, kolaborasi internasional, konsistensi terminologi, dan pematangan konsep masih perlu diperkuat untuk meningkatkan visibilitas topik ini dalam literatur ilmiah internasional.
Examining Continuance Intention to Use the Jamsostek Mobile (JMO) Application: A UTAUT Approach with Experience as a Moderating Variable Wahyu Dwi Atmoko
Jurnal Jamsostek Vol. 4 No. 1 (2026): Juni
Publisher : BPJS Ketenagakerjaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61626/jamsostek.v4i1.119

Abstract

The declining percentage of Jamsostek Mobile (JMO) application users despite a significant increase in active BPJS Ketenagakerjaan participants poses a challenge to maintaining the sustainable use of the application. This study examines the factors influencing the continuance intention to use the JMO application of BPJS Ketenagakerjaan using the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) framework, with user experience as a moderating variable. Data were collected from 100 active BPJS Ketenagakerjaan participants registered as JMO users in the Central Java and Yogyakarta regions in 2023 and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings indicate that performance expectancy and facilitating conditions are significant predictors of continuance intention, while effort expectancy and social influence are not. Furthermore, experience does not significantly moderate any of the proposed relationships, suggesting that its moderating role may be context-dependent and less relevant among users with already high levels of digital familiarity. These findings provide important insights for public digital service providers in formulating strategies to strengthen sustained application use through functional perceptions and supporting conditions.
Rekomendasi OECD untuk Sistem Perlindungan Sosial Indonesia: Analisis Hukum, Ekonomi, dan Tantangan Implementasi Kebijakan Lenggo Arya Putri; Lahvem Alginda
Jurnal Jamsostek Vol. 4 No. 1 (2026): Juni
Publisher : BPJS Ketenagakerjaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61626/jamsostek.v4i1.78

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kompatibilitas hukum dan implikasi ekonomi serta mengidentifikasi tantangan implementasi kebijakan dari rekomendasi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terhadap sistem perlindungan sosial Indonesia. OECD merekomendasikan berbagai reformasi yang mencakup perluasan cakupan perlindungan sosial, penguatan program pensiun dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan, integrasi kelembagaan, serta peningkatan keberlanjutan fiskal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan mengintegrasikan perspektif hukum normatif dan ekonomi kebijakan publik. Sumber data berasal dari dokumen OECD, peraturan perundang-undangan nasional, laporan organisasi internasional, dan literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif rekomendasi OECD kompatibel dengan kerangka hukum Indonesia, khususnya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Namun demikian, tantangan utama implementasi tidak terletak pada aspek normatif, melainkan pada kapasitas kelembagaan, integrasi data, koordinasi antar lembaga, informalitas tenaga kerja, dan keberlanjutan pembiayaan. Analisis juga menunjukkan bahwa perluasan perlindungan bagi pekerja informal, penguatan program pensiun dalam menghadapi transisi demografis, serta peningkatan tata kelola menjadi agenda prioritas reformasi. Penelitian menyimpulkan bahwa rekomendasi OECD dapat menjadi referensi strategis bagi penguatan sistem perlindungan sosial Indonesia, sepanjang diadaptasi secara kontekstual sesuai karakteristik hukum, kelembagaan, pasar kerja, dan kapasitas fiskal nasional.
Labor Resilience During the Climate Crisis: The Strategic Function of BPJS Ketenagakerjaan in the Informal Sector Minkhaya Silviana Putri; Ardi Rifai
Jurnal Jamsostek Vol. 4 No. 1 (2026): Juni
Publisher : BPJS Ketenagakerjaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61626/jamsostek.v4i1.126

Abstract

This study examines the strategic role of BPJS Ketenagakerjaan in strengthening labor resilience in the context of climate change, particularly among informal workers in Indonesia.  The study employed a qualitative systematic literature review using a critical-interpretive synthesis approach to integrate national and international evidence on climate-induced labor risks, access to social protection, and institutional adaptability. The findings indicate that while BPJS Ketenagakerjaan has expanded its formal coverage, its capacity to address climate-related disruptions is limited by rigid regulations, fragmented governance, and a lack of climate risk integration.  Informal and climate-sensitive workers remained the least protected, highlighting a gap between program design and actual climate-related risks.  Comparative evidence from Bangladesh, Vietnam, and the Philippines shows that integrating climate risk analysis and adaptive benefit mechanisms can significantly enhance institutional responsiveness.  The study finds that transforming BPJS Ketenagakerjaan into a climate-adaptive social protection institution requires integrating climate risk into policy frameworks, strengthening inter-agency coordination, and expanding coverage for informal workers.  These reforms are crucial to ensuring equitable and climate-resilient employment protection in Indonesia's evolving labor landscape.
Rekonstruksi Konsep Diri Sosial Tenaga Kerja Pascaamputasi melalui Program Return to Work BPJS Ketenagakerjaan Latri Hijrah
Jurnal Jamsostek Vol. 4 No. 1 (2026): Juni
Publisher : BPJS Ketenagakerjaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61626/jamsostek.v4i1.130

Abstract

Amputasi ekstremitas akibat kecelakaan kerja tidak hanya menimbulkan kehilangan fungsi fisik, tetapi juga memengaruhi konsep diri sosial tenaga kerja. Program Jaminan Kecelakaan Kerja Return to Work (JKK RTW) BPJS Ketenagakerjaan berperan dalam mendukung proses rehabilitasi dan reintegrasi pekerja pascaamputasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses interaksi simbolik dalam rekonstruksi konsep diri sosial tenaga kerja peserta Program JKK RTW BPJS Ketenagakerjaan berdasarkan Teori Interaksi Simbolik George Herbert Mead. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi terhadap enam peserta Program JKK RTW di Kota Pekanbaru yang mengalami amputasi akibat kecelakaan kerja dan telah kembali bekerja selama 6 bulan hingga 2 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan prosedur fenomenologi dengan uji kredibilitas melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri sosial tenaga kerja pascaamputasi bersifat dinamis. Pengalaman diskriminasi membentuk konsep diri negatif, sedangkan dukungan keluarga, rekan kerja, masyarakat, dan Program JKK RTW memfasilitasi rekonstruksi identitas sosial melalui proses interaksi simbolik. Program RTW berfungsi sebagai social bridge yang memperkuat aspek diri (self), meningkatkan penerimaan sosial, dan mendukung keberhasilan kembali bekerja. Temuan ini memperkaya penerapan Teori Interaksi Simbolik dalam konteks rehabilitasi dan reintegrasi tenaga kerja pascaamputasi serta menegaskan pentingnya penguatan dukungan psikososial dalam Program JKK RTW.

Page 4 of 4 | Total Record : 35