cover
Contact Name
Sudadi
Contact Email
dsudadi@ugm.ac.id
Phone
+62811254834
Journal Mail Official
jka.jogja@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Komplikasi Anestesi
ISSN : 23546514     EISSN : 26155818     DOI : https://doi.org/10.22146/jka.v11i2.12773
Core Subject : Health,
JURNAL KOMPLIKASI ANESTESI (e-ISSN 2354-6514) is a scientific and original journal which published as a forum for various scientific articles including research, literature reviews, case reports and recent book reviews. The presence of this journal, it is hoped that it can provide input of knowledge and knowledge in the field of Anesthesiology and Intensive Therapy for medical personnel.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)" : 9 Documents clear
Penatalaksanaan Paliatif Pasien dengan Nyeri Kanker Nugraha, Achmad Fauzani; Mahmud; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7268

Abstract

Kanker masih merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan di seluruh dunia. Penatalaksanaan paliatif berperan secara efektif dalam mengontrol gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit progresif serta keluarganya. Penatalaksanaan paliatif merupakan multidisiplin spesialisasi yang diantaranyaberperan dalam penanganan nyeri kanker Beberapa studi menunjukkan peningkatan survival pasien kanker dengan kontrol nyeri yang agresif. Nyeri pada kanker bisa karena nyeri visceral, nyeri somaatik, dan nyeri neuropatik. Berbagai modalitas digunakan untuk intervensi nyeri pada pasien kanker, misal farmakologi, epidural maupun tindakan intervensi yang lain.
Anestesi pada Pasien Anak dengan Penyakit Jantung Kongenital Asianotik (PDA, ASD, VSD) Setiandari, Kristina; Kurniawaty, Juni; Pratomo, Bhirowo Yudo
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7269

Abstract

Penyakit jantung kongenital merupakan kelainan kongenital pada anak yang banyak dijumpai. Mortalitas akan meningkat pada pasien yang berusia < 6 bulan, status emergensi, lesi jantung yang kompleks dan pasien yang menjalani prosedur pembedahan mayor. Penyakit jantung kongenital yang banyak dijumpai dalampraktek sehari-hari di antaranya adalah yang digolongkan pada penyakit jantung asianotik dengan kelainan anatomi berupa atrial septal defect (ASD), ventricular septal defect (VSD) dan patent ductus arteriosus (PDA). Anestesi pada pasien anak dengan PDA, ASD dan VSD memerlukan pemahaman yang baik mengenai anatomi dan patofiologi defek yang terjadi sehingga perencanaan manajemen anestesi dapat mengoptimalkan kondisi pasien serta mengurangi mortalitas maupun komplikasi yang terkait dengan anestesi.
General Anestesi Tonsilektomy pada Pediatri Tjokronolo, Yudistira; Widyastuti, Yunita; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7270

Abstract

Telah dilakukan General anestesi pada anak usia 6 tahun dengan diagnosis Tonsilitis kronis dan hipertropi adenoid dilakukan adenotonsilektomi.penilaian status fisik ASA 1 dengan berat badan 18 Kg. Durante operasi dilakukan intubasi orotracheal tanpa pelumpuh otot dan ekstubasi dengan sleep ekstubasi. Hemodinamik selama operasi HR 92 -102 x/menit. Saturasi 98 – 99%. Analgesia paska operasi dengan Paracetamol 300 mg.pasien kembali ke bangsal perawatan, setelah dilakukan observasi di recovery room selama 45 menit dengan aldrette score 10. Pasien tidak terjadi perdarahan paska operasi.
Penatalaksanaan Kejadian Oculocardiac Reflex pada Trauma Tembus Mata yang Dilakukan GA Intubasi Endotracheal Pratama, Andhika Marthsyal; Sarosa, Pandit; Jufan, Akhmad Yun
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7271

Abstract

Operasi pada mata memerlukan beberapa perhatian yang unik bagi anesthesiologist termasuk didalamnya pengaturan tekanan intraokuler, pencegahan terjadinya reflek okulokardiak, bagaimana penatalaksanaan terjadinya reflek tersebut, kontrol terhadap penyebaran gas didalam bola mata dan efek sistemik daripenggunaan obat-obat pada mata. Laporan kasus berikut membahas tatalaksana anestesi pada trauma mata dimana pasien sempat mengalami reflek okulokardiak pada saat operasi.
Sedasi Sedang pada Pasien Akut Leukemia Limfoblastik yang Mendapatkan Injeksi Methotrexat Intrathekal Anggraini, Diana; Sari, Djayanti; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7272

Abstract

Dilaporkan pasien An.J umur 3 tahun dengan diagnosis Akut Leukimia Limfoblastik standard risk minggu ke 12 (masa konsolidasi), dilakukan methotrexat intrathekal. Status fisik ASA II karena anemia. Dilakukan sedasi sedang dengan tekhnik TIVA (Total Intravena Anestesi). Lama tindakansepuluh menit, hemodinamik denyut nadi 90-110 x/mnt, saturasi oksigen 94-99%. Desaturasi terjadi setelah sedasi dengan propofol dan posisi fleksi leher saat prosedur dilakukan. Pasien kembali ke ruangan setelah skor Aldrette >9.
Gagal Penyapihan dari Ventilator Mekanik pada Pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik Eksaserbasi Akut Kusumasari, Nur Hesti; Widodo, Untung; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7273

Abstract

Pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang mengalami episode eksaserbasi akut berulang, sering membutuhkan ventilasi mekanik (VM). Berbagai metode dilakukan untuk penyapihan ventilasi mekanik. Beberapa hal yang diduga menyebabkan kegagalan penyapihan pada pasien ini antara lain : faktor pernapasan, kardiovaskular, dan gastrointestinal (nutrisi). Telah dilakukan pengelolaan di ruang intensif seorang pasien laki-laki umur 73 tahun dengan diagnosis Sepsis, PPOK eksaserbasi akut. Pasien dikelola selama 33 hari di ICU. Pasien dilakukan manajemen pernafasan dengan ventilasi mekanik atas indikasigagal napas tipe 2 (hiperkapnia) yang ditandai dengan peningkatan kadar PaCO2 dari hasil pemeriksaan analisa gas darah. Selama periode pengelolaan di intensive care unit (ICU) telah dicoba untuk dilakukan penyapihan dari ventilasi mekanik dan dilakukan ekstubasi pada hari ke-2 pengelolaan, namun mengalami kegagalan hingga pasien membutuhkan “prolonged mechanical ventilation”.
Prediksi Kematian Berdasarkan Saps II di ICU RS Dr. Sardjito Mustikawati, Siti Rakhmah; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno; Suryono, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7274

Abstract

Latar belakang : Penggunaan sistem skor penting memprediksi risiko mortalitas pada pasien sakit kritis dalam pengobatan modern. ICU RS Sardjito menggunakan APACHE II. Sistem skor APACHE II mengandung sejumlah kelemahan karena adanya bias seleksi, lead time bias dan sulitnya memilih diagnosis utama yang menyebabkan pasien masuk ICU. Simplified Acute Physiology Score (SAPS) didesain untuk mengatasi problem (menyederhanakan) Acute Physiology Score (APS) pada sistem APACHE. Performa SAPS disimpulkan sama baiknya dengan APS dari sistem APACHE tapi SAPS lebih berguna karena sifatnya yang lebih mudah diterapkan. SAPS juga dapat diaplikasikan pada suatu rentang patologi yang lebar. Pemilihan variabel fisiologik ini dilakukan dengan uji statistik, bukan dari konsensus klinisi sehingga meniadakan bias subyektif.Berdasarkan hal tersebut maka peneliti ingin meneliti berapakah prediksi kematian berdasarkan SAPS II pada pasien yang dirawat di ICU RS Sardjito.Tujuan : Mengetahui nilai PMR (Predicted Mortality Rate) menurut SAPS II pada pasien yang dirawat di ICU RS Sardjito.Metode : Studi kohort observasional retrospektif. Subyek : 115 pasien yang menjalani rawat inap di ICU RS Sardjito hingga Maret 2012. Pasien yang dirawat di ICU RS Sardjito dengan data lengkap.Hasil : Mortalitas aktual dalam penelitian ini adalah 44 (38,3%). Sedangkan 71 (61,7%) pasien dengan keluaran hidup. Pasien yang hidup memiliki rerata dari skor SAPS sebesar 33,14 (14,363) dan pasien meninggal memiliki rerata lebih besar 51,27 (17,124). Dilihat dari nilai PMR dari sistem skor SAPS II pada pasien yang hidup memiliki rerata 28,34 (27,256) dan rerata pada pasien meninggal 33,52 (26,754). Ada perbedaan yang bermakna antara penggunaan terapi vasoaktif sebelum masuk ICU dengan keluaran ICU (p = 0,024) . Diskriminasi skor SAPS lebih baik daripada PMR (PMR : ROC = 0,574. Skor SAPS : ROC = 0,795). Uji kappa hasilnya buruk (PMR : κ = 0,013. Skor SAPS : κ = 0,447). Nilai SMR pada penelitan ini 1,45.Kesimpulan : Nilai PMR dari sistem skor SAPS II pada pasien yang hidup memiliki rerata 28,34 (27,256) dan rerata pada meninggal 33,52 (26,754).
Uji Banding Respon Tekanan Darah dan Laju Jantung pada Intubasi Endotrakealantara Premedikasi MgSO4 30 mg/kgBB Intravena dengan Fentanil 1 mg/kgBB Intravena Liza, Helda; Uyun, Yusmein; Rahardjo, Sri
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7275

Abstract

Pendahuluan: Tindakan intubasi endotrakea sering menimbulkan respon kardiovaskuler yang berlebihan berupa peningkatan tekanan darah, peningkatan laju jantung dan aritmia Hal ini terjadi karena timbulnya refleks simpatis dan simpatoadrenal yang berlebihan akibat rangsangan nyeri maupun stimulus mekanikpada daerah supraglotis. Penelitian ini dimaksudkan untuk membandingkan premedikasi MgSO4 30 mg/kgBB intravena dengan fentanyl 1 mg/kgbb intravena terhadap respon tekanan darah dan laju jantung pada tindakan intubasi endotrakea.Metode: Sebuah penelitian prospektif, uji klinis acak tersamar ganda, telah dilakukan pada 56 pasien ASA I-II yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum intubasi endotrakea di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok masing–masing 28 pasien. Kelompok A menerima MgSO4 30mg/kgBB intravena 15 menit sebelum intubasi dan kelompok B menerima Fentanyl 1 µg/KgBB intravena 3 menit sebelum intubasi. Semua pasien diinduksi dengan propofol 2 mg/kgbb intravena dan fasilitas intubasi dengan Rocuronium 0.6 mg/kgBB intravena, pemeliharaan dengan O2 : N2 O = 50: 50 dan isoflurane 1 vol %. Respon perubahan TDS, TDD dan LJ setelah induksi, menit ke-1, ke-3, ke-5 dan ke-10 setelah intubasi dibandingkan antara kedua kelompok.Hasil: Pada kelompok MgSO4 terjadi peningkatan bermakna (p<0,05) TDS 9,68 mmHg (+8%), TDD 6,64 mmHg (+9%), TAR 7,50 mmHg (8,5%) dan LJ 9,96 x/mnt ( + 11%) pada menit ke-1 setelah intubasi dan kelompok fentanil terjadi peningkatan bermakna (p<0,05) TDS 23,11 mmHg (+18%), TDD 18,04 mmHg (+25%), TAR 19,75 mmHg (21,6%) dan LJ 23,89 x/mnt (+29%) pada menit ke-1 setelah intubasi. Berdasarkan statistik, terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) pada nilai rerata TDS menit ke-1 dan ke-3 setelah intubasi antara kelompok magnesium dibandingkan fentanil. Sedangkan perbedaan bermakna nilai rerata TDD danTAR terjadi pada menit ke-1, ke-3 dan ke-10 setelah intubasi. untuk nilai rerata LJ perbedaan bermakna terjadi pada pengukuran setelah induksi dan pada menit ke-1 setelah intubasi.Kesimpulan: Premedikasi MgSO4 30 mg/kgbb intravena menghasilkana respon tekanan darah (TD) dan laju jantung (LJ) lebih minimal dibandingkan dengan premedikasi fentanil 1 mg/kgbb intravena pada tindakan intubasi endotrakea.
Epidural Labour Anagesia (ELA) Mahisa, Orizanov; Uyun, Yusmein; Suryono, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7278

Abstract

Sebagian besar wanita yang melahirkan akan merasakan nyeri yang sangat hebat, hampir sama dengan derajat nyeri regional yang kompleks. Meskipun nyeri hebat tidak mengancam nyawa wanita-sehat yang melahirkan, nyeri dapat memberikan dampak neurofisiologis. Meningkatnya penggunaan neuraxial analgesia untuk mengurangi rasa nyeri selama persalinan diikuti oleh perkembangan teknik aman dalam neuraxial analgesia. Epidural Labour Analgesia merupakan teknik analgesia yang didasarkan pada epidural anestesi. Analgesi yang optimal untuk persalinan dibutuhkan blok neural setinggi T10-L1 untuk kala I dan T10-S4 untuk kala II. Kala I persalinan tidak diperpanjang oleh epidural analgesia yang dapat menghindarkan kompresi aortocaval.

Page 1 of 1 | Total Record : 9