cover
Contact Name
Avi Meilawati
Contact Email
avimeilawati@uny.ac.id
Phone
+6285820103395
Journal Mail Official
avimeilawati@uny.ac.id
Editorial Address
Jl. Colombo no 1 Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah
ISSN : 20897537     EISSN : 26858282     DOI : https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v13i1
Ikadbudi journal is a journal belonging to the professional organization IKADBUDI (Indonesian cultural lecturer association) which accommodates thoughts and research on language, literature, regional culture and learning.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi" : 10 Documents clear
Nilai Edukasi Metafora Teks-teks Seksual dalam Serat Centhini Karya Pakubuwana V - Nurnaningsih
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12311

Abstract

Tema mengenai ajaran seks yang termuat dalam SC karya Pakubuwana V banyak dituangkan dalam bentuk bahasa-bahasa metafora. Masyarakat Jawa masih menganggap tabu masalah seks. Pembicaraan tentang seks dianggap tidak senonoh. Akan tetapi di dalam SC penulis mampu menampilkan model penyampaian pendidikan seks secara baik dan santun. Penulis SC berkomunikasi  tidak hanya menggunakan ungkapan harfiah (literal meaning) saja, melainkan terkadang juga menggunakan ungkapan yang bermakna figuratif (metaphorical meaning). Pemahaman hakikat seks yang benar akan menjadikan seseorang mengerti pada sangkan ‘asal usul’ dan paran ‘tujuan akhir hidup’ yang akan dilalui oleh setiap manusia. Pemahaman sangkan paraning dumadi ini akan lebih mudah diajarkan jika mempergunakan gaya bahasa metafora.Kata kunci: Pakubuwana V, Serat Centhini, metafora, seks. AbstractThe theme of the teaching of sex contained in the SC's work poured Pakubuwana V many languages in the form of a metaphor. Java community is still taboo subject of sex. Talks about sex are considered indecent. But in SC authors were able to show a model of delivering good sex education and manners. Author SC communicates not only use literal expression (literal meaning) only, but sometimes also used the phrase meaningful figurative (metaphorical meaning). Understanding the nature of sex are really going to make someone understand the sangkan 'origin' and famine 'the ultimate goal of life' which will be passed by every human being. Sangkan paraning dumadi understanding of being taught this will be easier if you use the metaphor language style.Keywords: Pakubuwana V, Serat Centhini, metaphor, sex.
Peningkatan Literasi Cerita Wayang sebagai Upaya Pemertahanan Nilai-Nilai Budaya Lokal - Alfiah
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.16746

Abstract

AbstrakWayang merupakan salah satu wahana atau alat pendidikan watak yang efektif, karena wayang mengajarkan ajaran dan nilai tidak secara dogmatis dan teoritis sebagai indoktrinasi, tetapi secara demokrasi dan konkrit dengan menghadirkan kehidupan tokoh-tokoh sebagai teladan yang nyata. Melalui ajaran moral yang berupa ungkapan nilai-nilai keluhuran bagi manusia secara lahir dan batin yang termuat di dalam cerita wayang, dapat dijadikan sebagai teladan hidup guna membina sifat manusia secara berketuhanan, pribadi, dan sosial. Ironisnya, muatan nilai-nilai luhur dalam cerita wayang tersebut belum mampu tercerna secara optimal oleh masyarakat, khususnya generasi muda karena pada umumnya mereka kurang menguasai bahasa Jawa. Keterbatasan dalam pemahaman penggunaan bahasa Jawa menjadi kendala utama dalam pemahaman isi cerita wayang.Berdasarkan fenomena yang cukup memprihatinkan tersebut, mendorong munculnya berbagai upaya untuk menjembatani pemertahanan nilai-nilai budaya lokal dalam bentuk cerita wayang sebagai alternatif media pendidikan karakter pada generasi muda dalam  menghadapi bebasnya arus informasi sebagai dampak dari MEA. Dalam hal ini, peningkatan literasi cerita wayang menjadi konsentrasi yang perlu diberdayakan. Adapun upaya peningkatan literasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain: 1) penyediaan buku cerita wayang yang komunikatif dan inovatif bagi anak usia dini; 2) penerapan metode dan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah; 4) penugasan siswa untuk menonton pertunjukan wayang secara rutin oleh guru bahasa Jawa . Melalui upaya tersebut diharapkan cerita wayang dapat tercerna secara optimal sehingga generasi muda mampu memahami dan meneladani nilai-nilai luhur yang tersirat di dalamnya. Kata kunci: literasi, cerita wayang, nilai-nilai budaya lokal
BUDAYA JAWA DALAM DIASPORA: TINJAUAN PADA MASYARAKAT JAWA DI SURINAME - Darmoko
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12307

Abstract

Javanese society and culture has been forged by the situation and condition of the times centuries. Cultural influences from outside, such as the Hindu - Buddhist, Islamic, Chinese, and European, indigenous cultures should lead to "adapt", the acculturation strategy. Local genius to filter incoming external cultural influence of local culture. Javanese culture and society continues to change, whether caused by external and internal factors.Policy and socio-economic problems caused the population of a particular region should move. Dutch colonial period to independence there has been a migration of people from rural to urban areas of Java, from a rural island to another, and from a village in Indonesia to foreign countries. In new areas of the Javanese form a new community as the Javanese developed overseas and that's where Javanese culture that was once their preserve, coached, and developed, such as the Java community in Jakarta, Deli Serdang - North Sumatra, Sitiyung - west Sumatra, Lampung, and Suriname. Java community in this new place coexist and mingle with other tribes and not seldom of those who later married and have children and grandchildren .In the early days of the country Suriname frequent conflicts between tribes that are in there. Suriname Javanese people often act as peacemaker for the tribes opposing it. Javanese cultural values operate to defuse a tense situation and soften the situation and condition of the nuances of violence. The value of local knowledge of Java can be used as an "heirloom" wherever people are and in what circumstances they experience. The value of local knowledge of Java prioritize a sense of leadership and uphold the principles of equality and harmony and respect. This paper aims to explore the value of indigenous leadership that operates on Java Javanese in Suriname. Results will be achieved this paper determined the value of local knowledge is Java - oriented leadership as a solution for the value of a conflicts in society.Keywords : Java, culture, values, diaspora, Suriname
Pandangan Multikultural Ki Padmasusastra Melalui Empat Karya Sastranya Prasetyo Adi Wisnu Wibowo
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12312

Abstract

Ki Padmasusastra (1843-1926) yang sering menyebut dirinya dengan nama tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi ing Surakarta adalah penulis dan pemerhati bahasa, sastra, dan budaya Jawa setelah era para pujangga Jawa. Ki Padmasusastra walaupun tertarik dan menerima norma-norma sastra dan budaya Eropa, akan tetapi ia tetap mengabdikan diri pada sastra dan budaya Jawa tradisional. Kehadiran empat karya sastranya memiliki warna dan keunikan tersendiri yang menempatkan Ki Padmasusastra sebagai salah satu pengarang Jawa yang terkenal. Pandangan-pandangan multikultural, pemikiran, kreativitas, maupun keteladanan semangat Ki Padmasusastra sebagai seorang pengarang telah berhasil membangun karakter bangsa melalui karya sastra.Kata kunci: Ki Padmasusastra, karya sastra, pandangan multikultural. AbstractKi Padmasusastra (1843-1926) is often called himself by the name tiyang mardika ingkang Marsudi kasusastran Jawi ing Surakarta is a writer and observer of language, literature, and culture of Java after the era of the poets of Java. Ki Padmasusastra although interested and accepted norms of European literature and culture, but he remains devoted to literature and traditional Javanese culture. The presence of four literary works have colors and unique that puts Ki Padmasusastra as one of the authors of the famous Java. The views multicultural, thinking, creativity, and the exemplary spirit of Ki Padmasusastra as an author has succeeded in building the character of the nation through literary works.Keywords: Ki Padmasusastra, literature, multicultural outlook.
KONSEPSI TENTANG TUHAN DALAM TEKS AKSARA SWARA Hesti Mulyani
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12308

Abstract

Aksara swara termasuk di dalam klasifikasi bunyi bahasa, yakni bunyi vokal. Aksara swara adalah suatu sistem lambang grafis atau lambang bunyi (aksara) yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa. Jumlah aksara Jawa ada 6, yaitu a – i – u – e [e, æ] – o – e [ǝ]. Penulisan dengan Aksara swara telah berhasil mendokumentasikan dan mengabadikan ajaran konsepsi tentang Tuhan bernuansa rasa kejawen melalui naskah Serat Kridhasastra karya Mas Ngabei Mangunwijaya yang berisi salah satunya adalah teks Aksara Swara.Tulisan ini berusaha menyajikan suatu gagasan yang berhubungan dengan ajaran konsepsi tentang Tuhan. Gagasan mengangkat kembali ajaran konsepsi tentang Tuhan itu disajikan melalui kajian deskriptif terhadap teks berjudul Aksara Swara.Pengkajian teks berjudul Aksara Swara karya Mas Ngabei Mangunwijaya diharapkan dapat memahami makna teks bagi masyarakat pada zamannya, yakni pada masa lampau sebagai sejarah, dan pada masa kini sebagai pemertahanan eksistensi ajaran atau piwulang, dalam hal ini konsepsi tentang Tuhan serta pada masa yang akan datang sebagai dokumentasi dan pelestarian mengenai ajaran konsepsi tentang Tuhan terdiri atas (1) Tuhan sebagai  Af’al atau Pencipta alam semesta, (2) Keberadaan Tuhan, (3) Tuhan sebagai Sumber Kehidupan makhluk, (4) Kekuasaan Tuhan, dan (5) Sirrullah yang tersimpan dalam teks tersebut. Selanjutnya, pada masa kini dan masa nanti makna teks tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengungkap dan melestarikan nilai-nilai budaya Jawa sebagai pembentukan akhlak dan kepribadian manusia secara religius.Kata kunci: konsepsi tentang Tuhan, Aksara Swara AbstractAksara Swara included in the classification of the sounds of language, which sounds vokal. Vowel script is a graphic emblem or symbol system sound (characters) used to write Java script language. There are 6 vowel script, namely a - i - u - e [e, æ ] - o - e [ǝ] . The process of writting of vowel script successfully documented and perpetuate the theory construct about God in Javanese point of view through manuscript Serat Kridhasastra by Mas Ngabei Mangunwijaya containing one of which is a text Aksara Swara.This paper tries to present an idea that relates with the theory construct about God. The idea reappoint the theory construct about God was presented through a descriptive study of the text entitled Aksara Swara.Assessment of the text titled Aksara Swara by Mas Ngabei Mangunwijaya expected to understand the meaning of the text for the people of his time, which in the past as history, and today as the retention of the existence of the doctrine or piwulang, in this case the conception of Tuhan and in the future as the documentation and preservation of the theory construct about God of the above (1) God as the creator of the universe Af'al or, (2) existence of God, (3) God as being the source of life, (4) Power of God, and (5) Sirrullah stored in the text. Furthermore, in the present and future meaning of the text later can be used to uncover and preserve the cultural values of Java as the formation of human character and personality religiously.Keywords: the theory construct about God, Aksara Swara
MITOS BUNDO KANDUANG SEBAGAI TIRAI NALAR ORANG MINANGKABAU ATAS DUNIANYA Silvia Rosa
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12313

Abstract

Penelitian ini menerapkan teori strulturalisme Levi-Staruss terhadap mitos Bundo Kanduang dalam kaba Cindua Mato dan mempelajari makna yang terkandung di balik mitos itu. Kaba ini ditulis oleh Sy. St Rajo Endah, tahun 1985.Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengolahan data adalah pembacaan teks, pemenggalan teks atas beberapa episode, penentuan ceritheme, menyusun ceritheme dalam relasi sintagmatik dan paradigmatik, dan membuat tafsir atas mitos secara keseluruhan. Data dianalisis dengan teori struktural Levi-Strauss sebagaimana yang dikerjakannnya dalam analisis mitos Indian yang berjudul “The Story of Asdiwal”.Penelitian ini menyimpulkan bahwa kaba Cindua Mato merupakan mitos yang diciptakan orang Minangkabau dalam memandang masyarakat dan dunianya yang serba mendua. Sistem kekerabatannya yang matrilineal: yang extended family berhadapan dengan egoisme nuclear family yang bernuansa patrilineal. Melalui mitos Bundo Kanduang, orang Minangkabau mencoba memahami paradoks nilai yang dianutnya. Pertentangan konsep yang harus dibuat seirama. Perbenturan yang harus dibuat harmonis. Mitos Bundo Kanduang adalah legitimasi dari cita-cita harmoni yang harus dilaksanakan oleh orang Minangkabau dalam mengharungi bahtera kehidupan budayanya. Agar sesorang dipandang ada, maka ia harus menciptakan harmoni dengan dunia sekitarnya. Makna mitos Bundo Kanduang ini diperoleh dari analisis yang komprehensif terhadap seratus dua puluh ceritheme yang ditemukan dalam kaba Cindua Mato. Melalui analisis yang menyeluruh itu diperoleh struktur kaba Cindua Mato. Ternyata, terdapat suatu keteraturan-keteraturan dalam mitos Bundo Kanduang yang termuat dalam kaba Cindua Mato. Keteraturan itu berupa struktur isi atau gagasan, ide mitos Bundo Kanduang. Struktur itu mencerminkan cara berpikir orang Minangkabau yang cenderung serba mendua. Benturan nilai anatar matrilineal dengan patrilineal. Konsep matrilineal berhomologi dengan adat, dan konsep patrilineal berhomologi dengan agama Islam. Akan tetapi, dualisme itu harus dibuat harmonis. Ketegangan dalam diri menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Mitos mencoba melerai ketegangan itu. Kata kunci: mitos, kaba Cindua Mato, mendua  AbstractThe current research applied Levi-Staruss structural theory to Bundo kanduang mythology in the story of Cindua Mato and studies the meaning of it. This story have written by Sy. St Rajo Endah, in1985, the tittle Cindua Mato.The several steps in data analysisnare reading the text, make several episodes from the text, determining the ceritheme, composing the ceritheme in syntagmatic-paradigmatic correlation, and comprehension interpreting of mythology. The data were analyzed using Levi-Staruss structural theory as ini his analysis of Indian mythology entitled “The Story of Asdiwal”.The study concluded that the story of Cindua Mato is a mythology created by people of Minangkabau based on the ambigious perspective of their community and world. Their relationship is of matrilineal nature: the extended family versus the egoism of nuclear family having patrilianeal characteristic. Through the mythology of Bundo Kanduang, the Minangkabau people tried to comprehend yhe paradox of their sosial values. The contradicting concept that should be made in accord. A clash that must harmonized. Such mythology represents the legitimacy of a harmonic idealnto be realized by the Minangkabau people in the course of the cultural life. One must created a harmony between he and his surroundings. The nation of Bundo Kanduang mythology was derrived from a comprehensive analysis of 125 ceritheme found in the story of Cindua Mato. The stucture of Cindua Mato story was resulted from such analysis. In fact, there were regularities in Bundo Kanduang mythology contained in the story of Cindua Mato. By regularity we mean a consistency in the structural and idea of Bundo Kanduang mythology. The structure reflects the thinking pattern of the Minangkabau people that tend to be ambigious. A clash of values between matrilineal and patrilineal concept is homologous to tradition, while patrilineal concept is homologous ti Islamic concept. However, such dualism must be harmonized. The tension in oneself is unavoidable. And the mythology tried to reconcile the tension.Keywords: myth, story of Cindua Mato, ambigous
KAJIAN EUFEMIA DAN DISFEMIA DALAM BERITA POJOK KAMPUNG JTV Latif Nur Hasan
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12309

Abstract

Manusia berbahasa akan melakukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut bisa dengan pertimbangan kesopanan, penghormatan, penegasan, rasa jengkel dan lain sebagainya. Redaksi sebuah berita Pojok Kampung di stasiun televisi JTV-pun juga melakukan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Pertimbangan-pertimbangan tersebut memunculkan penggunaan eufemia dan disfemia yang kadang terkesan tidak berterima.Penggunaan eufemia dan disfemia dalam berita Pojok Kampung JTV ditemukan berupa kata dan frasa. Data-data yang didapatkan diperoleh kesimpulan bahwa ketika kata tersebut tidak pantas/kasar diucapkan akan diganti dengan kata yang lebih pantas/halus (eufemia). Sebaliknya jika kata kasar/tidak pantas tersebut memang pantas digunakan untuk sesuatu yang dibicarakan, maka kata kasar yang akan dipilih (disfemia). Makna kata yang digantikan dari eufemia dan disfemia bukanlah makna kata atau makna ujaran, melainkan nilai rasa. Makna ujaran dipertahankan tetap. Eufemia digunakan untuk; menyamarkan yang dianggap tabu; memberi penghargaan atau penghormatan terhadap yang dibicarakan. Sedangkan disfemia digunakan untuk; menunjukkan sikap tidak suka, tidak ramah, atau jengkel; memberikan penekanan yang kuat pada suatu tindakan dan nilai rasa kasar terkadang tidak terasa bila digunakan untuk memberi penekanan kuat.Kata kunci: eufimia, disfemia, berita Pojok Kampung AbstractWhen humans speak, they will consider a language considerations. Such considerations can be considered politeness, respect, affirmation, annoyance, and so forth. Pojok Kampung news editor of JTV television station do such considerations. These considerations led to the use of Eufemia and disfemia that sometimes seem unacceptable.Uses of Eufemia and disfemia in Pojok Kampung news JTV, found in the form of words and phrases. The data obtained is concluded that when the word is inappropriate / rough pronounced will be replaced with more appropriate words/smooth (Eufemia). Conversely, if the word rude/inappropriate it deserves used for the matters discussed, the rant will be selected (disfemia). Meaning of words that were replaced from Eufemia and disfemia not the meaning of words or meanings of speech, but a sense of value. Meaning of speech is kept constant. Eufemia is used for; disguise taboo; reward or respect for the discussion. While disfemia used to; shows the attitude of dislike, unfriendly, or annoyed; giving a strong emphasis on action and values sometimes feels rough sense when used to give a stronger emphasis. Keywords: eufimia, disfemia, Pojok Kampung news
KAJIAN PENULISAN TUGAS AKHIR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA JAWA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA - Suharti; Endang Nurhayati; Venny Indria Ekowati; Hartanto Utomo
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12314

Abstract

This study is proposed for eight months. The purposes of the study are: (1) identifying the fields of science and sub-fields of research science in the thesis or "Tugas Akhir Skripsi" (TAS) of Javanese Department Students in Faculty of Language and Arts, Yogyakarta State University, (2) identifying the reason for choosing a title, (3) identifying the criteria of thesis supervisor according to the students and alumni of the Javanese Department in Faculty of Language and Arts, Yogyakarta State University, (4) identifying suggestions and criticism from the students and alumni of Javanese Department in Faculty of Language and Arts, Yogyakarta State University related to "TAS". The outcomes of the study are: (1) the data base regarding to the fields of science and sub-fields of research science in "TAS" of Javanese Department students of Faculty of Language and Arts, Yogyakarta State University, (2) reasons for choosing a title, (3) criteria of ideal thesis supervisors according to the students and alumni of Javanese Department in Faculty of Language and Arts, Yogyakarta State University, (4) suggestions and criticism of the students and alumni of Javanese Department in Faculty of Language and Arts, Yogyakarta State University related to "TAS", and (5) a national seminar papers and journals that are not accredited. This study is a survey research using descriptive method with 100 students as the respondents. Based on the findings of the discussion, it can be concluded that: (1) the fields of linguistics as well as the sub-fields of morphology is a field of research the most studied by the students of Javanese Department, (2) reason for choosing a title and topic of thesis by the students is because the students are glad to the field of science and topic taken, (3) the main criteria of the ideal supervisor according to the students of Javanese Department is the appropriateness between the supervisors' field of science and the thesis that is done by the students, (4) respondents noted that they do not agree if the topic and thesis titles are chosen by the Department because of the diversity of the students ability.Keywords: thesis, Javanese Department AbstrakPenelitianini bertujuan untuk: (1) Mengindentifikasi bidang ilmu dan sub bidang ilmu penelitian dalam Tugas Akhir Skripsi (TAS) mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa FBS UNY, (2) Mengidentifikasi alasan pemilihan judul, (3) Identifikasi kriteria ideal pembimbing skripsi menurut mahasiswa dan alumni Prodi Pendidikan Bahasa Jawa FBS UNY, (4) Mengidentifikasi saran dan kritik mahasiswa serta alumni Prodi Pendidikan Bahasa Jawa FBS UNY terkait TAS. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey dengan metode deskriptif dengan jumlah responden 100 orang mahasiswa maupun alumni Prodi Pendidikan Bahasa Jawa FBS UNY. Penelitian ini menggunakan metode survey. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa: (1) Bidang ilmu linguistik serta sub bidang morfologi merupakan bidang penelitian yang paling banyak dikaji, (2) Alasan pemilihan judul dan topik skripsi adalah karena mahasiswa senang terhadap bidang ilmu dan topik yang diambil, (3) Kriteria utama seorang pembimbing yang ideal adalah kesesuaian bidang ilmu pembimbing dengan skripsi yang dikerjakan, (4) Responden menyatakan tidak setuju jika topik dan judul skripsi dipilihkan oleh prodi dengan alasan utama keberagaman kemampuan mahasiswa.Kata kunci: tugas akhir skripsi, Prodi Pendidikan Bahasa Jawa, FBS UNY
HISTORIFIKASI, ALINASI PADA TEATER EPIK BRECHT DAN SENI DRAMA TRADISI KETHOPRAK Nuning Zaidah
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12310

Abstract

Historifikasi, alinasi pada Teater Epik Bertolt Brecht mempunyai kemiripan dengan pertunjukan seni drama tradisi Kethoprak. Alinasi dalam naskah karya Brecht muncul dari rangkaian pemikirannya, yaitu Historifikasi-Alinasi-Epik. Historifikasi adalah usaha Brecht untuk menempatkan aktor seolah-olah memainkan sebuah adegan sejarah. Alinasi adalah usaha untuk menggambarkan sebuah peristiwa ke dalam bentuk baru yang bertujuan untuk mencegah penonton menjadi katarsis, sedangkan Epik adalah diambil dari kata epos atau cerita kepahlawanan. Ketiga hal tersebut, alinasi menjadi unsur paling sering dibahas dalam konteks pembicaraan tentang teater Epik.  Untuk mendapatkan alinasi, Brecht tidak menciptakan metode khusus pelatihan aktor dalam mencapainya, tetapi alinasi tersebut melekat dalam naskah yang ditulisnya. Alinasi didapatkan dari cara menganalisis struktur naskahnya. Historifikasi-Alinasi-Epik juga terdapat pada struktur naskah lakon-lakon pertunjukan seni drama tradisi Kethoprak berupa dialog, mood dan spectacle.Kata kunci: historifikasi, alinasi, Teater Epik Brecht, Kethoprak.
IRAWAN SEBAGAI KORBAN MEDAN PERANG DALAM PERISTIWA KEMATIAN IRAWAN MENURUT SASTRA LAKON TRADISI PEDALANGAN YOGYAKARTA Bambang Sulanjari
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12305

Abstract

Naratif Kematian Irawan menurut tradisi pedalangan Yogyakarta telah mengalami “pergeseran” dari induknya: Mahabharata Sansekerta. Menurut tradisi pedalangan Yogyakarta Irawan mati sebelum perang baratayuda dimulai. Naratif kematian Irawan seperti itu, tidak dijumpai dalam Mahabharata Sansekerta maupun kitab-kitab Jawa Kuna.Pergeseran letak naratif kematian Irawan dalam tradisi pedalangan Yogyakarta tersebut, tampaknya bukan hal yang tanpa alasan, karena lakon yang memuat naratif tersebut termasuk Lakon Baratayuda, yaitu lakon yang dikeramatkan dan sangat ketat diwariskan. Untuk memahami kasus ini dilakukan pengkajian tokoh seperti yang pernah dilakukan oleh Alf Hiltebeitel yang berhasil menembus makna Mahabharata melalui pendekatan epik, mite, dan ritual.Peristiwa kematian Irawan dalam tradisi pedalangan Yogyakarta erat kaitannnya dengan Baratayuda. Terbunuhnya Irawan rupanya menyarankan ke arah upacara korban pada tataran ritual. Naratif kematian Irawan tersebut rupanya mengacu pada pemujaan kepada Durga pembunuh Mahisasura. Dengan terlaksananya korban Irawan, maka Pandawa pun memperoleh jaminan kemenangan dalam Baratayuda.Kata kunci: kematian Irawan; tradisi pedalangan Yogyakarta; pendekatan epik, mite dan ritual AbstractThe death of Irawan narrative in the tradition of Yogyakarta puppetry has undergone a "shift" of the origin text: Sanskrit Mahabharata. According to the tradition of Yogyakarta puppetry Irawan die before the Baratayuda war began. Irawan death narrative as such, is not found in the Sanskrit Mahabharata and the books of the Old Javanese.Shifting the narrative the death of Irawan in Yogyakarta puppetry tradition, it seems is not without reason, because the lakon that contains the narrative included Baratayuda lakon, that lakon is sacred and very tight inherited. To understand this case do figures study such ever undertaken by Alf Hiltebeitel who was penetrates the meaning of the Mahabharata through epic, myth, and ritual approach.Irawan death scene in the traditions of Yogyakarta puppetry connected closely with Baratayuda. The kill of Irawan apparently suggested direction sacrifice at the level of ritual approach. The death of Irawan narrative was apparently referring to the cult of Durga Mahisasura killer. With the implementation of Irawan victim, the Pandavas victory was assured in Baratayuda.Key words: the death of Irawan; the tradition of Yogyakarta puppetry; epic, myth, and ritual approach

Page 1 of 1 | Total Record : 10