cover
Contact Name
La Ode Agus Salim
Contact Email
sciencetech.group23@gmail.com
Phone
+6289508163057
Journal Mail Official
sciencetech.group23@gmail.com
Editorial Address
Jl. Findayani Indah, Kec. Baruga, Kel. Wundudopi, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia
Published by CV. Science Tech Group
ISSN : -     EISSN : 30478855     DOI : -
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia adalah platform publikasi terkemuka yang berkomitmen menyajikan penelitian berkualitas tinggi dengan penekanan pada inovasi, kreativitas, dan keaslian, yang berlandaskan metodologi ilmiah yang ketat. Jurnal ini mencakup berbagai bidang studi seperti kesehatan umum, farmasi, teknologi dan rekayasa kesehatan, nutrisi dan gizi, sains alam dan lingkungan, biologi, kimia, dan fisika. Terbit enam kali setahun, Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia didedikasikan untuk standar kualitas tertinggi, berupaya menjadi sumber rujukan utama, dan memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan serta peningkatan kesehatan masyarakat.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2026): Jan-Feb" : 5 Documents clear
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kekambuhan Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Wua Wua Tahun 2024 Harleli; Muh Edihar
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): Jan-Feb
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i1.678

Abstract

Kekambuhan hipertensi merupakan terjadinya peningkatan tekanan darah secara berulang ≥140/90 mmHg. faktor penyebab terjadinya  kekambuhan hipertensi, karena sering mengkomsumsi  makanan tinggi lemak, tinggi natrium, kurangnya aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kekambuhan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Wua Wua. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 71 pasien hipertensi. Analisis data menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki nilai p = 0,100 (>0,05) dan kepatuhan minum obat memiliki nilai p = 0,351 (>0,05). Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat dengan kekambuhan hipertensi. Kesimpulan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat tidak berhubungan secara signifikan dengan kekambuhan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Wua Wua.
Hubungan Kebisingan Terhadap Stres Kerja pada Karyawan Bagian Produksi di Pabrik Kelapa Sawit PT. X Provinsi Riau Tahun 2025 Putri, Retno; Rizka Prasetya Putri Dewi
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): Jan-Feb
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i1.698

Abstract

Stres merupakan tekanan mental yang dapat dialami setiap individu; dalam kadar rendah dapat meningkatkan motivasi, namun jika berlebihan dapat menimbulkan gangguan biologis, psikologis, dan sosial. Di tempat kerja, stres sering muncul akibat beban kerja, konflik, kondisi tidak nyaman, serta paparan kebisingan. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia sebesar 9,8%, sedangkan survei awal di PT. X menunjukkan 7 dari 10 pekerja mengalami stres terutama pada area dengan kebisingan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebisingan terhadap stres kerja pada karyawan bagian produksi di PT. X Provinsi Riau tahun 2025. Penelitian bersifat analitik observasional dengan desain cross-sectional menggunakan total sampling sebanyak 67 responden. Tingkat kebisingan diukur dengan Sound Level Meter (SLM), sedangkan stres kerja menggunakan kuesioner DASS-42, kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square atau Fisher Exact pada α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan 20 (30%) responden mengalami stres normal, 35 (52%) stres ringan, dan 12 (18%) stres parah. Pada area kebisingan sedang mayoritas responden mengalami stres normal (58%), sedangkan pada area kebisingan tinggi mayoritas mengalami stres ringan (65%) dan parah (32%). Hasil uji Chi-Square memperoleh nilai χ² = 26,839, df = 2, p-value = 0,000 (<0,05) yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat kebisingan dengan stres kerja. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kebisingan dengan stres kerja, dan direkomendasikan agar perusahaan melakukan pengendalian kebisingan melalui perawatan mesin, penggunaan alat pelindung diri, serta manajemen kerja yang baik untuk menurunkan tingkat stres karyawan.
Penanganan Pasien Gagal Nafas Tipe Dua dengan Asma Bronchiale dan Pneumonia Lasmaria Flora
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): Jan-Feb
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i1.699

Abstract

Gagal nafas adalah suatu sindrom yang diakibatkan sistem respirasi gagal untuk melakukan pertukaran gas yaitu oksigenasi darah arteri dan pembuangan karbondioksida. Gejala klinis pada gagal nafas terdiri dari tanda kompensasi pernafasan yaitu takipneu, penggunaan otot pernafasan tambahan, retraksi intercostal, suprasternal dan supraklavikuler. Penelitian ini bertujuan untuk menegakkan alur diagnosis secara tepat pada pasien gagal napas tipe 2 dengan asma bronchial dan pneumonia melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang.  Metode: Penelitian ini merupakan case report dengan analisis data primer yang diperoleh melalui alloanamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta penatalaksanaan pasien selama perawatan. Hasil penelitian menunjukkan Seorang wanita 24 tahun datang dengan penurunan kesadaran (GCS 12), takipneu 34×/menit, SpO2 82%, hipertensi, takikardia, dan demam. Pemeriksaan toraks ditemukan ronkhi dan wheezing bilateral. Laboratorium menunjukkan leukositosis (32.600/mm³), prokalsitonin meningkat (4,5 μg/dL), eosinofil meningkat, dan analisis gas darah menunjukkan asidosis respiratorik (PaCO2 85,3 mmHg). Foto toraks memperlihatkan gambaran pneumonia lobus kiri. Pasien didiagnosis gagal napas tipe 2, asma bronchial, pneumonia, dan sepsis. Terapi di ICU meliputi ventilasi mekanik non-invasif, antibiotik (sefoperazon-sulbaktam dan levofloksasin), bronkodilator (kombivent nebulizer, aminofilin), kortikosteroid (fartison), N-asetilsistein, dan parasetamol. Hari kedua perawatan, kesadaran membaik (GCS 15), tanda vital stabil, SpO2 99% dengan NRM. Hari keempat pasien pindah ke ruang rawat inap biasa. Penegakan diagnosis tepat dan tatalaksana komprehensif pada gagal napas tipe 2 memberikan outcome klinis yang baik. Laporan ini berkontribusi pada pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan tata laksana kegawatdaruratan pernapasan.
Tinjauan Literatur: Etnofarmasi Tumbuhan Obat Sebagai Antipiretik pada Berbagai Etnis di Indonesia Vira Margitha, Ayu; Zulpakor Oktoba; Ramadhan Triyandi; Asep Sukohar
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): Jan-Feb
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i1.684

Abstract

Demam merupakan salah satu keluhan kesehatan yang sering dijumpai dan umumnya ditangani dengan penggunaan obat antipiretik sintetis. Namun, penggunaan obat tersebut dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping, sehingga masyarakat di berbagai wilayah masih mempertahankan pemanfaatan tumbuhan obat sebagai alternatif pengobatan tradisional. Studi ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan obat sebagai sumber senyawa antipiretik berdasarkan kajian etnofarmasi lintas etnis di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan penelusuran sumber ilmiah melalui basis data Google Scholar menggunakan kata kunci yang relevan, kemudian diseleksi hingga diperoleh 18 artikel yang sesuai untuk ditinjau. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat 71 spesies tumbuhan obat yang berasal dari 34 famili dan dimanfaatkan sebagai antipiretik oleh berbagai kelompok etnis, dengan bagian daun sebagai bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan. Temuan ini menunjukkan adanya potensi tumbuhan obat sebagai sumber pengembangan agen antipiretik berbahan alam dan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dalam pengembangan fitofarmaka berbasis kearifan lokal.
Analisis Bibliometrik Gangguan Kulit yang Berkaitan dengan Skincare pada Remaja: Tren, Kesenjangan Penelitian, dan Arah Penelitian ke Depan Agustina, Diah; Desy Sulistiyorini
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): Jan-Feb
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i1.696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis bibliometrik komprehensif terhadap literatur ilmiah global mengenai gangguan kulit yang berkaitan dengan penggunaan skincare pada remaja. Fokus utama studi ini adalah memetakan tren publikasi, mengidentifikasi kontributor paling berpengaruh, serta mengungkap kesenjangan penelitian yang ada sebagai panduan riset masa depan. Data diambil dari  basis data Scopus dari periode Januari 1969 hingga Oktober 2024 menggunakan kombinasi kata kunci spesifik terkait penyakit kulit, produk kosmetik, dan populasi remaja pada judul artikel. Sebanyak 471 dokumen dianalisis secara statistik menggunakan Microsoft Excel 365, VOSviewer, dan paket Bibliometrix (Biblioshiny) berbasis R. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 3,85%, dengan lonjakan signifikan setelah tahun 2000 yang mencapai puncaknya pada 2020. Analisis jaringan mengungkap bahwa Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis adalah negara yang paling berpengaruh, sementara jurnal Contact Dermatitis menjadi sumber publikasi utama. Penulis paling produktif diidentifikasi adalah Uter, W. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun perhatian terhadap keamanan produk kulit remaja meningkat selama dua dekade terakhir, terdapat penurunan tren publikasi pasca-2020 yang memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Temuan ini memberikan dasar strategis bagi peneliti untuk mengisi celah riset dan bagi otoritas kesehatan untuk merumuskan kebijakan perlindungan konsumen remaja yang lebih ketat.

Page 1 of 1 | Total Record : 5