cover
Contact Name
Mokhamad Nizar Z
Contact Email
disdikkbb@gmail.com
Phone
+6283829108047
Journal Mail Official
jurnalkinanti@gmail.com
Editorial Address
Gedung A Lantai 1, Komplek Pemerintahan Kabupaten Bandung Barat, Jl. Padalarang - Cisarua Km. 2, Mekarsari, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia 40381
Location
Kab. bandung barat,
Jawa barat
INDONESIA
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih
ISSN : 30314917     EISSN : 30316642     DOI : https://doi.org/10.62518/t86cq065
Core Subject : Education,
Kinanti: Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih merupakan jurnal online, akses terbuka, dan peer-review. JK terbit dua kali setahun (Desember, Juni; Pertama kali diterbitkan pada Desember 2023). Jurnal ini bertujuan untuk menyebarluaskan hasil penelitian asli, laporan kasus, dan ulasan kritis di bidang pendidikan. Fokus dan ruang lingkup ini termasuk best practice yang dilaksanakan para pendidik dan tenaga kependidikan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 75 Documents
Building Empathy in The Digital Space: A cyberbullying Prevention Campaign at SMKN 4 Bandung Zakia, Dhysa Humaida; Marnia, Salwa Aulia; Ayshiah, Nicky Nadja; Faiz Rahman, Davin; Fattan Izyan, Muhamad
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 2 (2025): Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/gv1ba609

Abstract

Fenomena cyberbullying yang semakin marak di kalangan pelajar menunjukkan rendahnya empati dalam interaksi digital. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di SMKN 4 Bandung dengan tujuan menumbuhkan empati dan kesadaran digital melalui kampanye pencegahan cyberbullying. Program ini menggunakan pendekatan komunikasi edukatif dengan metode penyuluhan, diskusi interaktif, dan publikasi konten kampanye di media sosial bertema “Building Empathy in the Digital Space.” Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai dampak psikologis cyberbullying serta pentingnya etika berkomunikasi di dunia maya. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan empati melalui kampanye digital efektif dalam membentuk perilaku komunikasi yang positif di kalangan pelajar.
Pengembangan Media Pembelajaran Video Animasi Berbantuan “AI” Pada Pembelajaran Mengidentifikasi Informasi Penting dalam Teks LHO Kelas VIII di SMP Negeri 2 Cihampelas Maryani, Dina
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 2 (2025): Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/312jms48

Abstract

Perkembangan teknologi digital membawa pengaruh besar terhadap dunia pendidikan. Meski demikian, pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih banyak yang menggunakan cara konvensional dengan variasi media yang terbatas, sehingga suasana belajar sering terasa monoton. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran Bahasa Indonesia berupa video animasi berbantuan kecerdasan buatan (AI) yang inovatif, menarik, serta sesuai dengan karakteristik peserta didik tingkat SMP. Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan modifikasi enam tahapan utama. Validasi dilakukan oleh tiga ahli media, satu ahli materi, satu ahli media dan satu ahli bahasa, sedangkan uji coba dilakukan pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Cihampelas dengan jumlah 36 peserta didik. Sampel uji coba terdiri dari sepuluh siswa untuk uji kelompok kecil dan tiga puluh enam siswa untuk uji kelompok besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran video animasi berbantuan AI layak digunakan dalam proses pembelajaran. Rata-rata hasil validasi dari tiga ahli tersebut sebagai berikut ahli media memperoleh nilai 88,5%, ahli materi memperoleh 86%, dan ahli bahasa memperoleh 86,2%. Respon peserta didik juga menunjukkan kategori sangat layak dengan perolehan rata-rata 88,4% pada uji kelompok kecil dan 87,5% pada uji kelompok besar 86,5%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran video animasi berbantuan AI merupakan inovasi yang efektif dan layak digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi mengidentifikasi informasi penting dalam teks laporan hasil observasi.
Model Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah dalam Menyukseskan Gelar Karya (Panen Hasil Belajar) P5 Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/f0cqga06

Abstract

Pendidikan nasional dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang implementasinya didasarkan pada empat pilar pendidikan UNESCO, salah satunya adalah Learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Dalam konteks Kurikulum Merdeka, ini diwujudkan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang menuntut kolaborasi aktif antara sekolah dan orang tua sebagai mitra sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model kolaborasi yang paling efektif antara orang tua dan sekolah dalam menunjang tahapan puncak P5, yaitu Gelar Karya (Panen Hasil Belajar), dan mengidentifikasi faktor kritis yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif (penelitian deskriptif kualitatif) dengan pendekatan studi kasus (case study), yang berfokus untuk mendapatkan gambaran mendalam tentang implementasi kolaborasi dalam konteks nyata. Data diperoleh melalui sintesis model kolaborasi yang terdiri dari Parenting Education, Komunikasi, dan Keterlibatan Orang Tua, kemudian dianalisis berdasarkan faktor pendukung dan penghambat yang teridentifikasi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Kolaborasi Tiga Pilar (P3) sangat krusial untuk keberhasilan Gelar Karya P5, yang meliputi: (1) Sosialisasi dan Penyamarataan Persepsi (Parenting Education), (2) Komunikasi Berkelanjutan (formal dan non-formal), dan (3) Keterlibatan Langsung (dukungan logistik dan pendampingan). Kunci keberhasilan Gelar Karya adalah sinkronisasi pembiasaan karakter (enam dimensi P5) antara sekolah dan rumah. Faktor penghambat utama yang harus dikelola adalah konflik waktu orang tua, pandangan orang tua yang menganggap guru sebagai ‘ahli tunggal’ (expert bias), dan rendahnya rasa percaya diri orang tua dalam terlibat langsung dalam pembelajaran anak. Kolaborasi yang terstruktur dan terfleksibel ini memastikan Gelar Karya berfungsi sebagai panen autentik dari karakter siswa.
Analisis Tantangan dan Hambatan Guru dalam Implementasi P5 pada Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/0hvmyw90

Abstract

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah komponen kokurikuler utama dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan mengembangkan karakter holistik siswa berdasarkan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan dan hambatan krusial yang dihadapi guru Sekolah Dasar (SD) dalam merencanakan dan melaksanakan P5. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk menyintesis temuan dari studi kasus dan kajian literatur terkait implementasi P5. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga klaster hambatan utama: (1) Kesenjangan Kompetensi Guru, ditandai dengan kurangnya pemahaman konseptual P5, kebingungan dalam merancang modul proyek yang berbeda dari modul ajar intrakurikuler, dan minimnya pelatihan tatap muka yang memadai ; (2) Hambatan Logistik dan Waktu, meliputi keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) yang menghambat kegiatan praktik eksploratif, serta alokasi waktu yang sempit yang memaksa sekolah menerapkan sistem blocking (pemadatan waktu) yang berpotensi mengurangi efektivitas penanaman karakter ; dan (3) Faktor Penyesuaian Pedagogis, di mana guru kesulitan melepaskan diri dari pola pengajaran teacher-centered Kurikulum 2013, menyebabkan resistensi terhadap metodologi pembelajaran berbasis proyek (PjBL) yang berpusat pada siswa. Keberhasilan P5 memerlukan dukungan sistemik berupa pelatihan mendalam dan strategi kolaborasi untuk mengatasi defisit sumber daya dan pemahaman.
Efektivitas Komunitas Belajar (Kombel) Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru SMP Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/2vbb1w02

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Komunitas Belajar (Kombel) dalam meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia, sebagai respons terhadap tuntutan Kurikulum Merdeka dan rendahnya kualitas kompetensi guru yang terstandardisasi. Menggunakan metode sintesis literatur deskriptif kualitatif dan analisis temuan kuantitatif, penelitian ini mengintegrasikan data dari studi kasus implementasi Kombel di berbagai jenjang pendidikan, dengan fokus pada relevansi konteks SMP. Hasil sintesis empiris menunjukkan bahwa partisipasi dalam Kombel memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan pedagogik guru. Mekanisme peningkatan ini terwujud melalui tiga pilar utama: kolaborasi reflektif untuk pengembangan kurikulum dan pemahaman karakteristik peserta didik, berbagi praktik baik dengan prinsip Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM), serta penguatan keterampilan digital guru. Meskipun demikian, efektivitas Kombel terhambat oleh tantangan implementasi yang krusial, terutama misalignment fokus diskusi, di mana mayoritas topik (65%) tidak berkaitan langsung dengan pedagogi inti, melainkan terdistraksi oleh isu administratif dan kesejahteraan. Selain itu, dukungan kepala sekolah yang belum bersifat riil serta keterbatasan fasilitas menjadi kendala. Ditemukan bahwa Kombel berfungsi sebagai mekanisme kompensasi yang vital untuk menutup kesenjangan yang tidak teratasi oleh pelatihan formal. Dengan demikian, optimalisasi Kombel memerlukan intervensi kebijakan yang memastikan relevansi topik dan dukungan institusional yang konsisten untuk memaksimalkan dampak positifnya pada peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru SMP, yang secara statistik terhubung erat dengan kinerja guru secara keseluruhan.
Strategi Peer Coaching dalam Komunitas Belajar untuk Meningkatkan Kemampuan Asesmen Formatif Guru Matematika SMP Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/rdp81q26

Abstract

Kualitas hidup di masa depan sangat bergantung pada bagaimana individu dipersiapkan di hari ini, dan pendidikan memainkan peran krusial dalam menyiapkan individu yang mampu berdaya saing secara global. Dalam konteks pendidikan nasional, terutama dengan implementasi Kurikulum Merdeka, kompetensi pedagogik guru dituntut untuk mengelola pembelajaran secara optimal, termasuk dalam aspek evaluasi hasil belajar. Asesmen formatif (AF) menjadi fokus utama sebagai proses berkelanjutan untuk mengumpulkan bukti pembelajaran dan memberikan umpan balik instruksional. Namun, guru Matematika Sekolah Menengah Pertama (SMP) menghadapi tantangan spesifik dalam merancang dan mengimplementasikan AF secara objektif dan berkelanjutan, khususnya ketika menggunakan teknik Peer Assessment (PA) yang rentan terhadap subjektivitas dan inkonsistensi penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model strategis Peer Coaching (PC) berbasis Komunitas Belajar (KB) untuk secara efektif meningkatkan kemampuan guru Matematika SMP dalam melaksanakan Asesmen Formatif, khususnya melalui teknik Peer Assessment (Putra, 2023). Kajian literatur kualitatif digunakan untuk mensintesis konsep-konsep kunci, yaitu urgensi kompetensi pedagogik, prinsip AF, keunggulan dan tantangan Peer Assessment sebagai teknik AF, dan efektivitas Peer Coaching sebagai model pengembangan profesional non-klasikal. Hasil kajian menunjukkan bahwa Peer Coaching yang terinstitusionalisasi dalam Komunitas Belajar menyediakan kerangka kerja lima tahap yang secara sinergis mengatasi masalah subjektivitas dalam Peer Assessment dan menjembatani kesenjangan kompetensi pedagogik guru. Model ini mengintegrasikan siklus perencanaan bersama, observasi kelas, refleksi terstruktur, dan umpan balik berbasis bukti untuk memastikan praktik AF yang valid dan reliabel. Penekanan pada pembelajaran sosial (social learning) dan pengalaman (experiential learning), sesuai dengan model 70:20:10, memungkinkan guru untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang kriteria penilaian dan strategi fasilitasi, yang pada gilirannya meningkatkan objektivitas dan kualitas umpan balik formatif kepada siswa. Strategi ini selaras dengan kebutuhan pembelajaran orang dewasa (adult learning) yang berorientasi praktik, dan merupakan langkah krusial dalam memastikan pendidikan Matematika yang adaptif, inovatif, dan berpusat pada peserta didik.
Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA) Guru Sekolah Dasar dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/dtj88t90

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kebutuhan pelatihan (Training Needs Assessment - TNA) bagi guru Sekolah Dasar (SD) sebagai strategi diagnostik dalam menghadapi tantangan implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi (PB) pada Kurikulum Merdeka (KM). Metode yang digunakan adalah kajian literatur sistematis dan analisis konseptual, mengintegrasikan kerangka teori TNA tiga tingkat (Organisasi, Tugas, Individu) dengan tuntutan kompetensi pedagogik PB di SD. Temuan utama menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi yang multidimensi, mencakup ketidaksiapan guru dalam merancang modul ajar yang fleksibel, penguasaan asesmen diagnostik yang rendah, dan keterbatasan dalam adaptasi teknologi informasi (IT) untuk pembelajaran abad ke-21. Kesenjangan ini diperparah oleh kendala manajerial seperti beban kerja tinggi dan kurangnya waktu perencanaan yang memadai. Studi ini menemukan bahwa pelatihan yang ada, seringkali berbentuk workshop generik, terbukti tidak efektif dan bahkan menimbulkan kebingungan bagi guru, mengindikasikan kegagalan diagnostik pada tahap TNA. Sebagai hasilnya, penelitian ini merumuskan sebuah model TNA terintegrasi yang berfokus pada diagnosis kebutuhan spesifik di tingkat tugas (literasi asesmen diagnostik) dan tingkat individu (penguasaan TIK dan resistensi psikologis). Model ini berfungsi sebagai prasyarat wajib untuk merancang program pelatihan yang berdiferensiasi, berkelanjutan, dan adaptif, sehingga investasi dalam pengembangan profesional guru dapat menjadi tepat sasaran dan secara efektif menjembatani kesenjangan antara kompetensi aktual dan tuntutan Kurikulum Merdeka.
Implementasi Pelatihan Flipped Classroom dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SMP di Era Digital Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/hpg20j96

Abstract

Latar Belakang dan Urgensi: Era digital dan sistem pembelajaran pasca-pandemi, yang ditandai dengan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas atau yang dikenal sebagai Era New Normal, menuntut pergeseran paradigma pembelajaran yang fundamental (Hidayat & Ningsih, 2022; Chalim et al., 2022). Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditantang untuk mengadopsi model pembelajaran yang tidak hanya mengintegrasikan teknologi secara efektif, tetapi juga mampu mengoptimalkan waktu tatap muka yang singkat (Hidayat & Ningsih, 2022). Flipped Classroom (FC) hadir sebagai model blended learning yang memanfaatkan teknologi untuk membalik pola tradisional penyampaian konten dan praktik, menjadikannya solusi strategis untuk mengatasi keterbatasan waktu dan meningkatkan keterlibatan siswa (Madang et al., 2022). Model ini memindahkan transfer informasi pasif ke ranah asinkron (pra-kelas), sementara waktu di kelas (sinkron) digunakan untuk aktivitas kognitif tingkat tinggi (HOTS) (Madang et al., 2022). Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis desain dan implementasi pelatihan FC yang terintegrasi dengan pendekatan pedagogis modern, serta mengevaluasi dampak spesifiknya terhadap peningkatan profesionalisme guru SMP (Madang et al., 2022). Fokus utama peningkatan profesionalisme mencakup penguasaan kompetensi pedagogik (termasuk penerapan Student-Centered Learning (SCL) dan pemetaan HOTS), kompetensi TIK, dan kompetensi manajerial dalam konteks pembelajaran hibrida (Lestari et al., 2021). Metode Penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah Kajian Literatur Sistematis (SLR) dan Sintesis Kualitatif (Nengsih & Mawardi, 2021). Pendekatan ini dipilih untuk merangkum, menganalisis, dan menginterpretasikan temuan empiris dan konseptual dari berbagai penelitian terkait pelatihan FC dan pengembangan profesional guru yang relevan untuk jenjang SMP/MTs (Chalim et al., 2022). Semua literatur yang disintesis dipilih dari publikasi yang diterbitkan hingga tahun 2023 (Chalim et al., 2022). Teknik analisis data berfokus pada sintesis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola kausalitas antara pelatihan FC, perubahan perilaku pedagogis guru, dan dampak pada hasil belajar siswa (Nengsih & Mawardi, 2021). Hasil dan Pembahasan Kunci: Hasil analisis menunjukkan bahwa pelatihan FC secara signifikan meningkatkan profesionalisme guru dengan membekali mereka untuk (1) Menguasai Desain Kognitif yang cermat, memetakan keterampilan berpikir tingkat rendah (LOTS) ke fase asinkron dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) ke fase sinkron (Nurhijrah, 2023); (2) Mengintegrasikan model saintifik, seperti Problem-Based Learning (PBL) atau Guided Inquiry ke dalam implementasi FC di kelas, terutama untuk mata pelajaran yang menuntut analisis mendalam (Madang et al., 2022); dan (3) Mengatasi tantangan manajerial terkait asesmen daring dan komunikasi dengan orang tua untuk memastikan dukungan pembelajaran yang optimal (Chalim et al., 2022). Peningkatan profesionalisme guru ini secara langsung berkorelasi dengan peningkatan motivasi, kemandirian, dan hasil belajar kognitif siswa MTs/SMP (Ubaidillah, 2019).
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Bingkai Kurikulum Merdeka: Tantangan dan Strategi Guru Sekolah Penggerak Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/0db8bj89

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia menandai pergeseran paradigma pendidikan yang fundamental, bergerak dari standardisasi yang kaku menuju fleksibilitas yang berpusat pada peserta didik. Jurnal ilmiah ini menyajikan analisis komprehensif dan mendalam mengenai penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi pedagogis utama dalam kerangka Kurikulum Merdeka, dengan fokus spesifik pada dinamika yang dialami oleh guru di Sekolah Penggerak. Melalui tinjauan literatur sistematis dan sintesis data dari berbagai studi kasus empiris yang mencakup jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), penelitian ini menginvestigasi kesenjangan antara idealisme konseptual dan realitas operasional di lapangan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun filosofi diferensiasi menawarkan solusi yang menjanjikan untuk mengakomodasi heterogenitas peserta didik, pelaksanaannya menghadapi hambatan multidimensi yang signifikan. Tantangan dominan yang teridentifikasi meliputi kompleksitas manajemen waktu dalam perencanaan pembelajaran, keterbatasan infrastruktur dan sumber daya pendidikan, miskonsepsi guru mengenai esensi diferensiasi, serta variabilitas kesiapan siswa dalam mengadopsi kemandirian belajar. Di sisi lain, studi ini juga memetakan strategi mitigasi yang efektif yang telah dikembangkan oleh praktisi pendidikan, termasuk optimalisasi asesmen diagnostik, integrasi model pembelajaran konstruktivis (seperti Problem Based Learning dan Cooperative Learning), penguatan komunitas belajar profesional guru, serta pengembangan modul ajar yang adaptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya bergantung pada peningkatan kompetensi individual guru, melainkan memerlukan transformasi ekosistem sekolah yang mencakup dukungan manajerial, kebijakan yang fleksibel, dan kolaborasi sinergis antar pemangku kepentingan pendidikan.
Strategi Guru dalam Melakukan Asesmen Diagnostik Kognitif dan Non-Kognitif sebagai Dasar Pembelajaran Berdiferensiasi Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/41vk5j84

Abstract

Transformasi pendidikan di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi guru dalam merancang, melaksanakan, dan menindaklanjuti asesmen diagnostik kognitif dan non-kognitif sebagai fondasi utama implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur sistematis dan analisis kualitatif deskriptif terhadap berbagai praktik empiris di jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dipublikasikan antara tahun 2018 hingga 2024. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi guru meliputi tiga tahapan krusial: (1) Tahap Persiapan, yang melibatkan penyusunan instrumen tes berjenjang (soal prasyarat dan materi baru) serta pemetaan kompetensi dasar; (2) Tahap Pelaksanaan, yang mengintegrasikan teknik tes tulis, observasi, dan wawancara untuk menggali aspek kognitif serta kesejahteraan psikososial siswa; dan (3) Tahap Diagnosis dan Tindak Lanjut, di mana data diolah untuk memetakan siswa ke dalam kategori kemampuan (tinggi, sedang, perlu bimbingan) serta mengidentifikasi gaya belajar dominan (visual, auditori, kinestetik). Hasil asesmen ini kemudian dijadikan basis data untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi diferensiasi konten, proses, dan produk, serta penerapan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) yang terintegrasi dengan model Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). Penelitian menyimpulkan bahwa sinergi antara asesmen diagnostik yang akurat dengan strategi pembelajaran yang adaptif mampu meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterlibatan siswa secara signifikan, meskipun masih terdapat tantangan terkait manajemen waktu, kompetensi guru dalam analisis data, dan adaptasi instrumen untuk siswa berkebutuhan khusus.