Society
Society (ISSN 2338-6932 Print, ISSN 2597-4874 Online) is a biannual, peer-reviewed, open-access journal published by the Social Engineering Laboratory, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Bangka Belitung. It focuses on Studies in Human Society, covering fields like Sociology, Political Science, Public Policy, Anthropology, and Social Work.
Articles
721 Documents
Orang Lom: Masalah Sosial dan Ancaman Kearifan Lokal dalam Tinjauan Sosiologi
Cholillah, Jamilah
Society Vol 3 No 2 (2015): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v3i2.49
Social issues and local wisdom of Orang Lom People in Air Abik a contrasting duality. On the one side local knowledge continue to be maintained and preserved even exploited for the benefit of generations, but on the other side, the local wisdom, leaving only sadness being trapped on social issues such as local institutional stagnation and conflict prolonged tenure. The contrasting sides led to the existence of indigenous communities Lom People weakened and started moving towards industrialization resulted in waning social memory and the passage of the process of social exclusion.
Pengelolaan Warisan Budaya Bangka: Inkonsistensi Kebijakan, Regulasi dan Partisipasi Publik
Zulkarnain, Iskandar
Society Vol 3 No 1 (2015): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v3i1.50
This study aimed to describe government policy in managing the cultural heritage as a basis for legal regulation spawned cultural heritage management can strengthen the identity. This study uses qualitative policy analysis. Policy analysis seeks to influence the policy-making process "through research and arguments that not only supports the analysis of "problem", but also an analysis of what options or alternative policies to be taken". The results showed that the cultural heritage management policy which consists of the management of cultural heritage and the management of cultural heritage objects in Bangka generally been contained in the strategic documents the district level. Strategic documents such as RPJMD, RKPD, Renstra, and RTRW district policy contains clear enough about the efforts to optimize the development of culture and tourism program. But, in terms of implementation of cultural heritage management is still hampered by the absence of regulationsgoverning technical matters in the management of cultural heritage. The issue of the lack of regulation has an impact on the emergence of various internal constraints in the field of culture and tourism as well as cross-sectoral as seen from the unavailability of an expert team of cultural heritage, human resources competent in the field of culture, inconsistent implementation of culture, cultural heritage and knowledge of cultural heritage objects are less effective in the community. This affects the level of public participation in the management of cultural heritage in the future.
Pergeseran Modal Sosial dalam Pelaksanaan Upacara Adat Mandi Belimau Di Dusun Limbung Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka
Herdiyanti, Herdiyanti;
Cholillah, Jamilah
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v5i2.51
Praktik upacara adat mandi belimau merupakan salah satu ritual adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Dusun Limbung menjelang bulan puasa ramadhan. Ada kekhasan yang muncul dari praktik upacara adat ini yaitu partisipasi masyarakat dalam memeriahkan kegiatan ritual adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tentang pergeseran modal sosial dalam pelaksanaan upacara adat mandi belimau di Dusun Limbung, Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka yang saat ini diahlikan pelaksanaanya di Desa Kimak. Teori yang digunakan untuk menganalisis dinamika dalam pelaksanaan upacara adat mandi belimau yaitu teori modal sosial Fukuyama. Adapun metode penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi terlibat, wawancara tidak terstruktur dan dokumentasi sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan upacara adat mandi belimau dapat menyatukan elemen-elemen masyarakat dalam memeriahkan kegiatan. Upacara adat disinyalir menjadi modal sosial masyarakat dalam menciptakan keharmonisan sosial. Namun, upacara adat ini mengalami pergeseran terkait dengan pelaksanaan upacara atau ritual mandi belimau yang ada di Dusun Limbung, Desa Jada. Kondisi ini disebabkan beberapa factor salah satu diantaranya yakni perubahan pola pikir masyarakat yang semakin berkembang dan realistis terhadap pelaksanaan upacara adat mandi belimau.Pola pikir ini menyebabkan modal sosial masyarakat mengalami pergeseran sehingga ritual upacara adat mandi belimau diahlikan di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Dinamika pergeseran modal sosial ini memunculkan beberapa respon dari masyarakat umum yang dirasakan sangat subjektif.
Hutan Adat dan Kelas Menengah: Titik Balik Reforma Agraria di Indonesia?
Zulkarnain, Iskandar
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v5i2.52
The turning point of the agrarian reform of the customary forest arena after the Constitutional Court's Decision 35/PUU-X/2012 can not be based on state domination (government) through the agenda of territorialization of the forest and not on AMAN as representation of indigenous struggle from the paradox of interest. Bringing the alternative of a critical new middle class, as well as running a deliberation democracy through representational politics that combine extra parliamentary and intra-parliamentary struggles simultaneously in organizational form, capable of realizing sustainable agrarian reform. The new middle class struggle is a synthesis of the dialectic of forest recognition and the existence of indigenous peoples undergoing involution.
Peling - Banggai Berebut Ibukota: (Studi Tentang analisis aktor dan dinamika konflik Pemindahan Ibukota Kabupaten Banggai Kepulauan Propinsi Sulawesi Tengah Tahun-2006)
Abbas, Moh. Rafli
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v5i2.53
Studi ini di rancang untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dibalik konflik berkepanjangan dalam pemindahan Ibukota Kabupaten Banggai Kepulauan Propinsi Sulawesi Tengah. Di Kabupaten ini, ada dua kubu yang memperebutkan letak ibukota Kabupatennya. Ada yang menghendaki Kota Banggai dan ada yang menghendaki Kota Salakan. Masing-masing kubu punya alasannya sendiri, namun sama-sama tidak berterus terang dalam mengenai akar konflik yang mereka hadapi. Ketimpangan sepertinya luput dari perhatian kedua kubu. Tulisan ini lebih memfokuskan pada analisis aktor dan perkembangan tahapan-tahapan konflik dalam kerangka manajemen konflik perebutan dan pemindahan ibukota di era desentralisasi dan gencarnya spirit otonomisasi dan pemekaran daerah.
Pemberdayaan Kelompok Remaja Berbasis Kultural Sebagai Upaya Penanggulangan Dan Pencegahan Kenakalan Remaja Dan Narkoba Di Desa Penagan Kecamatan Mendo Barat
Sujadmi, Sujadmi;
Saputra, Putra Pratama
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v5i2.54
Remaja dan kenakalan renmaja khususnya narkoba senantiasa menjadi persoalan yang menarik perhatian dan utuh perhatian serius dari berbagai pihak. Generasi muda merupakan generasi penerus dan pelurus bangsa di kemudian hari. Mewujudkan generasi yang aktif, kreatif dan inovatis sudah tentu menjadi tugas bersama oleh berbagai kalangan. Program ini mencoba untuk mengupayakan penanggulangan dan pencegahan kenakalan remaja dan narkoba pada kelompok remaja di Desa Penagan Kecamatan Mendo Barat. Perspektif yang digunakan untuk melaksanakan program ini adalah perspektif pembangunan yang berpusat pada manusia/masyarakat yakni pemberdayaan masyarakat. Konsep pemberdayaan masyarakat yang selama ini digadang-gadang sebagai upaya melakukan perubahan sosial yang efektif akan digunakan dalam pelaksanakan program ini. Metode pemberdayaan yang digunakan mengacu pada strategi pemberdayaan yang mencakup tiga hal. Pertama yaitu perencanaan, kedua aksi sosial dan yang ketiga peningkatan kesadaran dan pendidikan. Ketiga strategi ini akan dilaksanakan melalui beberapa tahapan dalam proses pemberdayaan. Pertama, menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan dan tidak memberdayakan. Kedua,mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan penindakberdayaan. Ketiga, mengidentifikasikan suatu masalah atau poyek. Keempat, mengidentifikasi basis daya yang bermakna untuk melakukan perubahan dan kelima, mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikannya. Strategi pemberdayaan tersebut akan direalisasikan ke dalam empat kegiatan yang berbasiskan kultur masyarakat. Keempat kegiatan yang dimaksud adalah pesantren kilat, nganggung bersama, perkemahan sehari semalam, dan pekan olahraga dan seni. Keempat kegiatan ini akan menyasar para remaja yang ada di lokasi program. Hasil akhir dari program ini menyasar pada terbentuknya Kelompok Remaja/Pemuda Aktif Penagan. Kelompok ini diharapkan dapat meneruskan upaya memberdayakan masyarakat setempat dalam upaya menanggulangi dan mencegah kenakalan remaja dengan menciptakan remaja yang aktif, kreatif dan inovatif.
Institusionalisasi Kesejahteraan Komunal: (Studi Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Sumberdaya Kepemilikan Bersama Di Desa Kemuja Kabupaten Bangka)
Anshori, Muhammad
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v5i2.55
Berfokus pada pengelolaan sumberdaya kepemilikan bersama melalui Lembaga Karet Desa yang berlokus di Desa Kemuja Kabupaten Bangka, tulisan ini hendak menyoroti bagaimana kesejahteraan sebagai produk hilir dari pengelolaan sumberdaya diberi makna secara institusional oleh masyarakat komunal. Institusionalisasi kesejahteraan ala Masyarakat komunal Kemuja menyajikan warna yang unik dan khas yang diturunkan dari nilai-nilai lokalitas yakni kearifan lokal. Oleh karena itu, artikel ini hendak menjawab pertanyaan bagaimana proses institusionalisasi kesejahteraan yang berbasis kearifan lokal dipraktikkan oleh masyarakat Kemuja dalam rangka pecapain kesejahteraan bersama. Menjawab persoalan diatas, artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini dipilih karena mempertimbangkan aspek kehandalanya dalam menguak dan menginterpretasikan secara lebih mendalam tentang makna terdalam dari berbagai informasi mengenai pengelolaan sumberdaya bersama. Data diperoleh melalui informasi, narasi dan pernyataan langsung dari berbagai infroman serta dari berbagai naskah peraturan dan profil masyarakat desa. Temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa inisiasi pelembagaan pengelolaan sumberdaya kepemilikan bersama berangkat dari rasa kegelisahan dan kecemasan atas kondisi perekonomian dan keagamaan masyarakat. Atas dasar pertimbangan dan kebutuhan tersebut muncul berbagai kreatifitas berbalut kearifan lokal (mekanisme, nilai dan institusi) dalam pengelolaan sumberdaya. Dalam persoalan ekonomi komunal, masyarakat Kemuja menginisiasi berdirinya Lembaga Karet Desa (LKD). Dalam persoalan pendidikan keagamaan mereka mendirikan Pondok Pesantren, dan dalam persoalan sosial-keagamaan mereka mendirikan Masjid. Tiga tungku kelembagaan ini menjadi sumber inti dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Desa Kemuja.
Ekspansi Desa dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat: (Studi Pada Masyarakat 'Kundi Bersatu' Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka)
Prayoga, Rezi
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v5i2.56
Village Expansion and Its Implication towords Socio-Cultural Life of the Society ( A Study at ‘Kundi Bersatu’ Society Simpang Teritip Sub-District West Bangka Regency). (Supervised by Ibrahim and Jamilah Cholillah). Village expansion is one of a series of regional autonomy processes to create some areas into section so that the process of governance can work effectively and efficiently. The implementation of village expansion makes the separation of society life into three administrative regions. This research aims to analyze and identify village expansion and its implication towords socio-cultural life of the society. The theory used to analyze village expansion and its implication towords socio-cultural life of the society is theory social capital by James Coleman about relationship structure and network. Social capital is a relationship and network to tie individual relationships within a society. In other words, these relationship structure and network facilitate actor or people to be able to work together to achieve certain interests. The type and approach in this research were descriptive qualitative research using data collecting technique in the form of direct observation, unstructured interview, and documentation. Based on the field research that shows the implementation of village expansion that happens on the society of ‘Kundi Bersatu’ does not have significant impact on socio-cultural life of the society. It is seen from the condition of society life before and after village expansion, where social conditions of society tend not to change, so that society life still united. It is seen from the strenght of social solidarity of the society and the custom still preserved well after village expansion. There are some factors that influence the implication of village expansion in socio cultural society life consisted of internal factor including custom factor, religion, and kinship ties. External factor consisted of geographical factor and natural resources as joint assets.
Mengeksplorasi Kearifan Lokal: Bertindak Lokal, Berpikir Global
Ranto, Ranto
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v5i2.57
Pelaksanaan Rebu Kasan ini selalu dikaitkan dengan pentingnya peran laut bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan kesehariannya. Oleh karenanya, satu pesan penting yang disampaikan oleh tradisi Rebu Kasan ini adalah: menjaga ekologi laut. Jika sistem ekologi di laut rusak oleh aktifitas pertambangan maka tradisi Rebu Kasan sudah tidak memiliki makna apapun. Banyak pihak meyakini bahwa kearifan lokal atau yang populer disebut dengan local wisdom menjadi petunjuk yang bijaksana dalam menyeimbangkan kehidupan sosial di masyarakat lokal. Hampir setengah dari kepala keluarga di Air Nyatoh memiliki bagan sebagai sarana mata pencahariannya. Selama ini hasil tangkapan laut yang diperoleh dari aktifitas menggunakan jaring atau pukat, dan perangkap bagan yang dimiliki oleh nelayan lokal. Meskipun dengan cara yang cukup sederhana, perolehan hasil tangkapan ikan masyarakat Air Nyatoh mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Bangka Belitung. Padahal, jika dicermati kondisi kekinian, perolehan hasil tangkapan nelayan yang telah dioleh dalam bentuk makanan seperti kerupuk, getas, kemplang, cumi kering, ikan asin, rusip dan terasi sangat diminati oleh pebisnis internasional.
Peran Wanita Karir dalam Keluarga: (Studi Eksistensi Wanita Karier dalam Keluarga di Desa Balunijuk)
Herdiyanti, Herdiyanti
Society Vol 6 No 1 (2018): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/society.v6i1.59
The existence of women over the time in transition or shift from traditional to modern. The role of the woman who used to be adopted only capable of working in the domestic realm, but this time she is able to develop itself in the public sphere. This raises the existence of variants of interest, between the domestic and the public sphere. This study used a qualitative research method with case study approach. The theory used in this research is by using the concept of rational choice of James Coleman. The purpose of this research is to describe the existence of a career woman in the family. These results indicate that the existence of career women in the public sphere in the family recognized for their collective agreement concluded between career women with families. Mainly deal agreed with her husband and children. But the deal does not diminish the responsibility of working women in the domestic sphere. Career woman in the village Balunijuk not neglect its role as a housewife and also as a career woman. Role between domestic and public balanced and collaborate.