cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6221-7394422
Journal Mail Official
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI
Published by LEMIGAS
ISSN : 20893396     EISSN : 25980300     DOI : 10.29017/LPMGB.58.1.1610
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (LPMGB) merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS untuk menyebar luaskan informasi terkait kegiatan penelitian, pengembangan rekayasa teknologi dan pengujian laboratorium di bidang migas. Naskah dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri migas dari dalam dan luar negeri
Articles 544 Documents
Pengaruh Kualitatif dan Kuantitatif Surfaktan Terhadap Peningkatan Perolehan Minyak Tjuwati Makmur
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya jumlah penggunaan minyak dari penyimpanan pada waktu produksi adalah relatif kecil dibandingkan dengan kandungan minyak dari penyimpanan tersebut, sehingga minyak yang tersisa dalam mervoar masih cukup besar. Hal ini disebabkan oleh adanya potensi pori-pori dan perbedaan interaksi antarmuka minyak dan udara, sehingga dapat menghambat aliran minyak yang terproduksi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas penginjeksian dan kosurfaktan kerja antara lain adalah terjadinya adsorpsi batuan dengan adanya kandungan mineral (lempung) yang dominan. Tujuan dari penelitian laboratorium ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas penginjeksian kosurfaktan terhadap peningkatan perolehan minyak. Dalam penelitian ini digunakan satu batuan inti (core) berupa batu pasir (sandstone) dengan panjang 4,56 cm, diameter 2,5 cm, porositas 19,99 %, permeabilitas 56,76 mD, pada kondisi percobaan temperatur 40 °C dan laju injeksi 10 cc/jam dan kosurfaktan yang digunakan dalam penelitian ini adalah petroleum sulfonat (Leonox A), yang dilarutkan ke dalam air formasi dengan kandungan garam 21000 ppm. Pengurasan minyak pertama-tama dilakukan dengan cara injeksi udara dan menghasilkan minyak sekitar 2.6 cc dengan perolehan sebesar 73.45 %. Dari proses injeksi air dapat dilihat ternyata minyak yang terproduksi belum seluruhnya, berarti masih ada minyak yang tertinggal di reservoir, yaitu masih terjebak dalam pori-pori batuan. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya perbedaan tegangan antar muka minyak-air yang tinggi. Faktor-faktor yang dapat mendukung pendesakan kosurfaktan adalah absorpsi batuan reservoar terhadap larutan kosurfaktan. Dari hasil petrografi, batuan percontoh yang dianalisa merupakan batuan pasir, memiliki kandungan mineral yang dominan, yaitu silika = 91%. Segmen yang dominan adalah kaolinit. Hasil pengamatan tegangan antar muka minyak dan udara, solusi yang baik digunakan adalah kosurfaktan dengan konsentrasi 2.3 % yang menghasilkan harga antarmuka minyak-air (IFT) sebesar 0.0507 dyne/cm. Perolehan minyak yang dihasil- kan dari penginjeksian air adalah sebesar 73,45%. Setelah dilakukan penginjeksian kosurfaktan ke dalam batuan, dapat menaikan produksi minyak, yaitu: sebesar 25,954% setelah penginjeksian air. Dan perolehan minyak keseluruhan dari penelitian ini adalah sebesar 99.40 %.
Analisa Kerusakan Komponen Mesin Diesel Melalui Uji Fisika Kimia Minyak Lumas APi CF-4 M. Hanifuddin; Shinta Sari Hastuningtyas
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penggunaan mesin diesel banyak hal yang mempengaruhi kehandalan mesin tersebut, terutama terkait dengan kinerja mesin diesel. Salah satunya kondisi komponen-komponen yang ada diruang bakar seperti piston dan cylinder liner. Salah satu bentuk pemeliharaan pada mesin diesel yang cukup efektif adalah melalui pemantauan analisa fisika kimia minyak lumasnya.Penurunan nilai Angka Basa Total (TBN) berbanding lurus dengan meningkatnya jarak tempuh kendaraan. Pengujian beberapa unsur kimia memperlihatkan adanya peningkatan nilai terutama unsur Fe, Al, Cu, Cr, Si.
Reformasi Katalitik Nafta untuk Pembuatan Bensin dan Aromatik dengan Katalisator Reforming Bifungsional A.S Nasution
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya kebutuhan bensin berangka oktana tinggi dan hidrokarbon aromatik rendah sebagai salah satu bahan baku utama industri petrokimia telah memacu pengolahan minyak bumi untuk meningkatkan jumlah jenis kedua produk tersebut. Reformasi dari fraksi nafta dengan bantuan katalisator bifungsional adalah salah satu proses katalitik untuk pembuatan reformat yang berangka oktana tinggi dan juga sumber aromatik rendah seperti benzena, toluena dan exylena atau BTX". Schubungan dengan kandungan hidrokarbon paraffin dan naftana yang tinggi dari umpan napta tersebut, maka konversi kedua jenis hidrokarbon tersebut dengan bantuan katalis reformasi bifungsional menjadi hidrokarbon aromatik adalah reaksi utama dari proses reformasi katalitik. Untuk meneliti tỉngkah laku katalisator refomasi bifungsional pada konversi hidrokarbon parafin dan naftana menjadi hidro karbon aromatik, maka suatu percobaan telah dilakukan dari katalik reformasi hidrokarbon murni (n.heksana, n.heptana, n.oktana dan metilisklopentana) dan umpan fraksi nafta dengan memakai dua jenis katalisator reformasi (mono dan bi-metalik) pada kondisi operasi: suhu dari 450'sampai 510 C, tekanan: dari 5 sampai 30 kg/cm2 dan perbandingan H/HC = 6 mol/mol dengan memakai alat catatest unit yang diopersikan secara kontinu. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa aromatisasi parafin diamati lebih rendah dari pada aromatisasi naftana, dan tingkah laku katalisator re- forming bi-metlik untuk aromatisasi paraffin dan neftana tersebut adalah lebih unggul dari katalisator reforming monometalik.
Apakah Estimasi Porositas dari Log Akustik Cukup Akurat untuk Batuan yang Tersaturasi Secara Parsial – Sebuah Alternatif Sederhana untuk Mengurangi Heru Atmoko; Rosidelly Rosidelly; Bambang Widarsono; Fakhriyadi Saptono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam memperkirakan harga besaran porositas dapat digunakan bermacam-macam metode, antara lain dengan merambatkan gelombang akustik pada media berpori dengan memberikan interpretasi kecepatan gelombang tersebut. Pada tahun 1956 Wyllie dkk mengajukan persamaan waktu rata-rata (time average), yang merupakan hubungan linier antara waktu dan porositas berdasarkan hasil penelitian terhadap batuan pasir (sandstone) di laboratorium. Persamaan Wyllie di atas sebenarnya hanya berlaku pada kondisi dimana batuan yang diukur porositasnya mengandung hanya air saja, dengan porositas yang seragam, bersih dari lempung, dan kompak. Contoh yang dapat dianggap paling relevan adalah daerah di sekitar lubang bor. Fakta di sekitar lubang bor tersebut diperkirakan dapat menyebabkan bias dalam memperkirakan harga besaran porositas batuan karena asumsi yang lazim dalam menggunakan persamaan Wyllie adalah batuan tersaturasi secara penuh oleh satu jedis fluida saja. Beragamnya saturasi fluida di formasi ternyata dapat mempengaruhi akurasi perhitungan porositas yang dihasilkan dari log akustik. Untuk mendapatkan besaran porositas yang akurat diperlukan pemilihan waktu transit matriks batuan dan waktu transit fluida yang cukup mewakili. Suatu bentuk koreksi atas perhiitungan porositas akustik pada kondisi saturasi air kurang dari 100% telah dibangun beserta penerapan di laboratorium. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap litologi lainnya seperti pada formasi karbonat untuk mengetahui sejauh mana validasinya atas bentuk koreksian yang telah dibangun
Prediksi Jumlah Emisi CO2 dari Kegiatan Transportasi Khusus Kereta api dan Upaya Teknologi Tersedia Pengurang Emisi M.S. Wibisono Wibisono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportasi sangat dibutuhkan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. Kereta api merupakan salah satu sarana transportasi pilihan publik yang menggunakan bahan bakar minyak Diesel. Hasil pembakaran dalam ruang mesin akan menghasilkan emisi gas antara lain CO2 yang akhir akhir ini dikaitkan dengan salah satu penyebab pemanasan global. Menurut Baku Emisi Kendaraan Bermotor versi Peraturan Menteri Lingkungan Jepang yang diamandemen tahun 1996 menyebutkan pembakaran untuk setiap satu liter minyak diesel akan menghasilkan CO2 sebanyak 2,7 kg. Data emisi CO2 dari kereta api diesel di Indonesia sangat terbatas, sehingga dalam paper ini dibahas estimasi kasar jumlah CO2 yang di emisikan kereta api di Indonesia sebagai angkutan umum maupun angkutan batu bara. Metode JETRO (2010) digunakan dalam perhitungan jumlah emisi. Disamping itu secara singkat disajikan pula ulasan tentang dampak lingkungan yang mungkin timbul. Adapun tujuan dari paper ini adalah sebagai bahan masukan yang dapat ditindaklanjuti dalam rangka merealisir program pemerintah untuk mengurangi CO2 di atmosfir.
Pengaruh pH, Temperatur dan Waktu Kontak terhadap Efisiensi Pencegahan Kerak Barium Sulfat dengan Menggunakan Inhibitor DETPMP Tjuwati Makmur
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Singkapan sedimen umur Paleogen yang terdapat di Indonesia Barat sangat terbatas jumlahnya. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas tektonik yang intensif yang berlangsung bersamaan dan sesudah umur Paleogen, yang mengakibatkan formasi umur ini tertimbun jauh di bawah permukaan. Sedangkan sedimen Paleogen yang didapat dari pemboran eksplorasi sulit diperoleh karena bersifat rahasia. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau penelitian palinologi terhadap sedimen umur ini masih terbatas jumlahnya. Meskipun demikian, gambaran umum palinologi umur Paleogen sedikit banyak sudah terungkap. Sebagai buktinya beberapa peneliti telah menyusun zonasi polen untuk umur Paleogen seperti Morley (1991) dan Rahardjo dkk. (1994). Penelitian paling lengkap terhadap sedimen Paleogen tertua dilakukan oleh Muller (1968) terhadap Formasi Kayan (dulu bernama Plateau Sandstone) berumur Paleosen- Eosen Awal yang tersingkap di Sarawak. Keragaman polen dari formasi ini rendah dibandingkan dengan keragaman polen masa kini yang ada di Dataran Sunda dan umumnya tidak mempunyai kesamaan dengan spesies modern. Di antara sedimen Paleogen yang paling kaya dengan kandungan palinomorf adalah Formasi Nanggulan berumur Eosen Tengah-Akhir yang tersingkap di desa Nanggulan, D. I. Yogyakarta. Beberapa penelitian dilakukan pada formasi ini antara lain oleh Barton (1988), Morley dan Harley (1995), dan Lelono (2000). Keragaman dan kelimpahan polen pada Formasi Nanggulan sangat tinggi terutama pada sedimen umur Eosen Tengah menunjukkan kondisi iklim basah tropis yang memungkinkan terbentuknya hutan tropis yang lebat. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan kehadiran palinomorf yang berasal dari India. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi migrasi tumbuhan dari India ke wilayah Asia Tenggara karena menyatunya kedua daerah tersebut.
Upaya Penurunan Efek Rumah Kaca Melalui Bangunan Hijau Studi Kasus: Gedung Teknologi Gas sebagai Bangunan Hijau Djoko Sunarjanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan bahan bakar minyak, tenaga listrik dan airtanah secara bijaksana bertujuan untuk melakukan efisiensi dan konservasi lingkungan. Termasuk upaya penggunaan bahan bangunan dari mineral industri untuk menggantikan material kayu produk hutan. Melalui aplikasi geologi lingkungan, hemat energi, dan hemat bahan bakar minyak dapat mulai dilakukan dalam kehidupan sehari-hari termasuk pengelolaan bangunan perkantoran. Penerapan kriteria utama guna memenuhi kategori bangunan hijau (green building) sudah dilakukan dalam Revitalisasi Gedung Teknologi Gas LEMIGAS. Sehingga Gedung Teknologi Gas berhasil masuk dalam pilot project bangunan hijau Indonesia. Sebagai bangunan hijau diharapkan ikut berperan menciptakan penurunan efekrumah kaca yang muaranya menjaga keselamatan lingkungan bagi kehidupan.
Prospek Pelumas Bekas sebagai Bahan Bakar Nur Ahadiat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelumas digunakan untuk mengurangi gesekan dan keausan dua permukaan logam yang saling bersentuhan dengan membentuk satu lapisan film tipis diantara kedua logam yang bergesekan. Pelumas diformulasikan dari bahan dasar pelumas yang dihasilkan dari pengilangan minyak mentah parafinik, selain itu juga ditambahkan bahan-bahan aditif untuk memperbaiki karakteristik tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja pelumas tersebut. Minyak lumas digunakan dalam berbagai keperluan dan setiap jenis pelumas dirancang untuk dapat memenuhi setiap kebutuhan tertentu. Pelumas mempunyai usia pakai tertentu yang umumnya dihitung dari jam operasi pada mesin statis dan berdasarkan akumulasi jarak tempuh untuk mesin yang berjalan sehingga perlu diganti dengan pelumas baru. Pelumas bekas sesuai dengan penggunaannya, mengandung kotaminan seperti sisa pembakaran, partikel logam yang berasal dari mesin yang menggunakannya maupun yang berasal dari aditif yang digunakan serta bahan pengikat seperti fosfor, belerang dan klor. Menurut aturan yang ada pelumas bekas hanya dapat diolah menjadi bahan dasar pelumas yang selanjutnya dijadikan pelumas komersial. sementara penggunaan pelumas bekas langsubg sebagai bahan bakar seperti di industri kecil belum diatur dengan jelas dan tegas.
Penelitian Proses Dehidrasi Parsial pada Pembuatan Minyak Dasar Rolling Oil Berbahan Baku Minyak Jarak E. Suhardono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi berdasarkan proses dehidrasi parsial yang dikembangkan dalam penelitian ini, dapat menaikkan nilai indeks viskositas minyak jarak. Kondisi operasi optimum pada proses ini tercapai pada suhu sekitar 210°C dan lama pemanasan 3 jam. Sedangkan komposisi katalis terbaik adalah campuran bahan yang mengandung atapulgit 2% dan natrium bisulfat 0,5%. Pada kondisi optimum ini, nilai indeks viskositas minyak jarak dapat dinaikkan dari 85 menjadi sekitar 122-125. Dengan naiknya nilai indeks viskositas menjadi sekitar 125, minyak jarak ini bisa memenuhi kriteria sifat-sifat yang diperlukan sebagai bahan dasar rolling oil. Dengan demikian minyak jarak yang telah diproses secara dehidrasi parsial, dapat dipakai sebagai minyak dasar rolling oil, terutama dalam penggunaannya secara langsung (straight rolling oil).
Penelitian Palinologi pada Sedimen Paleogen di Kawasan Indonesia Bagian Barat Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Singkapan sedimen umur Paleogen yang terdapat di Indonesia Barat sangat terbatas jumlahnya. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas tektonik yang intensif yang berlangsung bersamaan dan sesudah umur Paleogen, yang mengakibatkan formasi umur ini tertimbun jauh di bawah permukaan. Sedangkan sedimen Paleogen yang didapat dari pemboran eksplorasi sulit diperoleh karena bersifat rahasia. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau penelitian palinologi terhadap sedimen umur ini masih terbatas jumlahnya. Meskipun demikian, gambaran umum palinologi umur Paleogen sedikit banyak sudah terungkap. Sebagai buktinya beberapa peneliti telah menyusun zonasi polen untuk umur Paleogen seperti Morley (1991) dan Rahardjo dkk. (1994). Penelitian paling lengkap terhadap sedimen Paleogen tertua dilakukan oleh Muller (1968) terhadap Formasi Kayan (dulu bernama Plateau Sandstone) berumur Paleosen- Eosen Awal yang tersingkap di Sarawak. Keragaman polen dari formasi ini rendah dibandingkan dengan keragaman polen masa kini yang ada di Dataran Sunda dan umumnya tidak mempunyai kesamaan dengan spesies modern. Di antara sedimen Paleogen yang paling kaya dengan kandungan palinomorf adalah Formasi Nanggulan berumur Eosen Tengah-Akhir yang tersingkap di desa Nanggulan, D. I. Yogyakarta. Beberapa penelitian dilakukan pada formasi ini antara lain oleh Barton (1988), Morley dan Harley (1995), dan Lelono (2000). Keragaman dan kelimpahan polen pada Formasi Nanggulan sangat tinggi terutama pada sedimen umur Eosen Tengah menunjukkan kondisi iklim basah tropis yang memungkinkan terbentuknya hutan tropis yang lebat. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan kehadiran palinomorf yang berasal dari India. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi migrasi tumbuhan dari India ke wilayah Asia Tenggara karena menyatunya kedua daerah tersebut akibat tumbukan antara Lempeng India dan Lempeng Asia yang diperkirakan berlangsung pada Eosen Tengah (Hall, 1998). Pada Oligosen Awal proses rifting dan subsid- ence (yang sudah dimulai pada Eosen Akhir) terus berlanjut yang ditandai dengan pembentukan pull-apart basin di beberapa daerah seperti Laut Cina Selatan, Sumatra dan Laut Jawa Barat Utara (Morley, 2000). Pada fase awal pembentukan pull-apart basin ditandai oleh terbentuknya endapan danau atau darat lainnya yang dibuktikan dengan dominasi alga air tawar Pediastrum spp. seperti ditemukan pada Cekungan Jawa Barat Utara. Mendekati umur Oligosen Akhir proses penurunan cekungan (subsidence) berlangsung sangat intensif pada area yang luas. Proses ini ditambah dengan kenaikan muka laut menyebabkan penyusutan daratan akibat penggenangan air laut, sehingga sedimentasi umumnya terjadi di lingkungan transisi sampai laut dangkal. Hal ini ditandai oleh kehadiran beragam palinomorf air payau (mangrove dan back- mangrove) pada penampang sumur umur Oligosen Akhir seperti dijumpai di Cekungan Jawa Barat Utara dan Jawa Timur Utara. Secara umum, keragaman dan kelimpahan palinomorf umur Oligosen jauh rendah dari pada umur Eosen. Hal ini disebabkan kondisi iklim lebih kering yang mendominasi umur Oligosen, meskipun di beberapa tempat dipengaruhi oleh iklim basah.

Filter by Year

1980 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 2 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 1 (2023): LPMGB Vol. 56 No. 3 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 2 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 1 (2022): LPMGB Vol. 55 No. 3 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 2 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 1 (2021): LPMGB Vol. 54 No. 3 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 2 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 1 (2020): LPMGB Vol. 53 No. 3 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 2 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 1 (2019): LPMGB Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 2 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB Vol. 51 No. 3 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 2 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 1 (2017): LPMGB Vol. 50 No. 3 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB Vol. 49 No. 3 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 2 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB Vol. 48 No. 3 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 2 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 1 (2009): LPMGB Vol. 42 No. 3 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 1 (2006): LPMGB Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB Vol. 24 No. 2 (1990): LPMGB Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB Vol. 23 No. 3 (1989): LPMGB Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB Vol. 21 No. 3 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 2 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB Vol. 20 No. 3 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 2 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 1 (1986): LPMGB Vol. 19 No. 3 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 2 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 1 (1985): LPMGB Vol. 18 No. 3 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 2 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 1 (1984): LPMGB Vol. 17 No. 2 (1983): LPMGB Vol. 15 No. 1 (1981): LPMGB Vol. 14 No. 3 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 2 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 1 (1980): LPMGB More Issue