cover
Contact Name
-
Contact Email
tugaspsi@uhamka.ac.id
Phone
+6282255115400
Journal Mail Official
tugaspsi@uhamka.ac.id
Editorial Address
Jl. Limau 2 , Kebayoran Baru, Jakarta Selatan DKI Jakarta 12130
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JIPP
ISSN : 26859157     EISSN : 24773158     DOI : -
The editorial board would like to receive manuscripts submitted via the online submission system. Make sure that the manuscripts meet the scope and submission guidelines of the journal. For more detailed information, please refer to the terms and conditions of Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris dan Non-Empiris. JIPP is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in empiric and non-empiric studies in psychology.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2017): 2017" : 5 Documents clear
Dari Mengabaikan ke Menolong: Tinjauan Studi Bystander-Effect Fahmi, Abu Bakar
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 3 No 1 (2017): 2017
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v3i1.9214

Abstract

Penelitian tentang bystander-effect, yakni bahwa kehadiran orang lain pada suatu keadaan darurat mengurangi kemungkinan seseorang memberikan bantuan, telah dilakukan oleh banyak peneliti sejak dirintis oleh Bill Latane dan John Darley pada tahun 1968. Tulisan ini menunjau tentang studi bystander-effect dengan memaparkan paradigma penelitian dan proses terjadinya bystander-effect, adanya bystander-effect yang positif, dan beberapa penelitian kontemporer tentang bystander-effect. Dari beberapa penelitian kontemporer tersebut terungkap adanya pergeseran sudut pandang peneliti dari bystander-effect yang negatif, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian klasik, menuju bystander-effect yang positif, yakni bahwa kehadiran orang lain justru membuat seseorang mau membantu. Adanya implicit bystander-effect, public self­-awareness, dan kesamaan identitas sosial membuat seseorang, meskipun banyak orang lain di sekitarnya, tergerak membantu saat berada pada situasi yang membutuhkan pertolongan.
Peran Kepemimpinan Profetik dan Pemberdayaan Psikologis dalam Membangun Keterikatan Kerja Karyawan Widiasih, Puti Archianti
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 3 No 1 (2017): 2017
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v3i1.9215

Abstract

Keterlibatan kerja merupakan isu penting dalam efektivitas organisasi. Keterlibatan kerja akan terkait dengan kinerja karyawan yang lebih baik. Pekerja yang terlibat sering mengalami emosi positif, mengalami kesehatan yang lebih baik, dan juga menciptakan pekerjaan dan sumber daya pribadi mereka sendiri. Keterlibatan kerja ditemukan berhubungan positif dengan sumber daya pekerjaan termasuk dukungan sosial dari atasan dan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kesejahteraan kerja kenabian, gaya kepemimpinan dan pemberdayaan psikologis sebagai prediktor keterlibatan kerja. Penelitian ini mengumpulkan data dari 239 karyawan dan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan profetik dan pemberdayaan psikologis telah berkontribusi terhadap keterikatan kerja melalui R² sebesar 0,112. Artinya kontribusi dari kepemimpinan profetik dan pemberdayaan psikologis secara simultan yang mempengaruhi keterikatan kerja karyawan sebesar 11,2%, sisanya sebesar 88.8% akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
Keluarga Sakinah Dalam Pandangan Masyarakat Kumala, Anisia; Tresnawati, Yulistin
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 3 No 1 (2017): 2017
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v3i1.9216

Abstract

Keluarga adalah institusi terkecil masyarakat yang dianggap sebagai salah satu penentu masa depan bangsa. Setiap orang mendambakan keluarga bahagia. Masyarakat Indonesia lazim menyebutkan keluarga sakinah sebagai gambaran keluarga ideal yang diharapkan setiap suami, istri dan anggota keluarga lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat Indonesia tentang makna keluarga sakinah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan open-ended questionnaire dan multi respon, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan coding dan kategorisasi, kemudian dilakukan analisa deskriptif. Responden untuk penelitian ini adalah masyarakat di DKI Jakarta sebanyak 300 orang. Dari penelitian ini didapatkan 5 kategori makna keluarga sakinah yaitu ketentraman lahir dan batin (46,6%), cinta dan kasih sayang (24.9%), keluarga yang religious (17.9%), ketercukupan materi (5.2%) serta kesetaraan antara suami dan istri (5.4%). Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pada laki-laki ketercukupan materi menjadi makna yang lebih penting dibandingkan kesetaraan, sedangkan perempuan lebih memfokuskan pada kesetaraan hubungan suami dan istri daripada ketercukupan materi. Pada orang yang belum menikah juga memperlihatkan lebih pentingnya ketercukupan materi, sementara pada orang yang sudah menikah dan pernah menikah lebih mementingkan kesetaraan dibandingkan materi.
Qana'ah pada Mahasiswa Ditinjau dari Kepuasan Hidup dan Stres Saputro, Iswan; Hasanti, Annisa Fitri; Nashori, Fuad
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 3 No 1 (2017): 2017
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v3i1.9217

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepuasan hidup dan stres terhadap qana'ah pada mahasiswa. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 105 mahasiswa. Analisis data yang digunakan adalah regresi berganda dan uji beda. Qana'ah diukur menggunakan skala qana'ah dari Rusdi (2016) (Cronbach's Alpha = 0,810), kepuasan hidup diukur menggunakan Satisfaction Life Scale (SWLS) yang telah diujicobakan oleh Krisnawati (2015) yang mengacu pada teori Diener, dkk (1985) (Cronbach's Alpha 0,828), dan stres diukur menggunakan skala yang telah diujicobakan oleh Sari dan Uyun (2016) yang merujuk pada aspek-aspek stres dari Sarafino (2012) (Cronbach's Alpha = 0,869). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan hidup dan stres terhadap qana'ah pada mahasiswa ( p = 0.002, F = 6.559 ). Selain itu, terdapat hubungan positif yang signifikan antara kepuasan hidup dan qana'ah pada mahasiswa ( p = 0.003, r = 0.267 ) dan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara stres dan qana'ah pada mahasiswa ( p = 0.005, r = -0.249 ).
Pemberian konseling kelompok untuk meningkatkan empati pelaku bullying di Sekolah Kedinasan Negeri Bandung Timur Utari, Riyanda
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 3 No 1 (2017): 2017
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v3i1.9218

Abstract

Empati merupakan salah satu aspek dalam kecerdasan emosional yang dibutuhkan seseorang untuk berinteraksi sosial. Di dalam dunia pendidikan khususnya tingkat perguruan tinggi, rendahnya empati dapat menjadi salah satu penyebab maraknya bullying di antara senior terhadap junior. Mahasiswa dengan empati rendah membuat dirinya kurang mampu merespon tekanan dan ketidaknyamanan yang dialami oleh orang lain, karena orang yang rendah empatinya tidak mampu memahami pengalaman emosi yang dialami oleh orang lain. Orang yang kurang empati tidak mampu menghubungkan perilaku anti sosial dalam hal ini bullying yang dilakukannya dengan reaksi emosi orang lain. Dikarenakan penelitian dilakukan pada Perguruan Tinggi Kedinasan di Bandung Timur yang mencetak pamong atau abdi masyarakat nantinya, kiranya tidaklah berlebihan apabila empati sangat dibutuhkan untuk dapat memahami problematika yang ada dalam masyarakat, dan seorang aparat pemerintahan yang tidak memiliki empati yang tinggi akan dengan mudah melakukan pelanggaran dalam masyarakat seperti kecurangan, bullying dalam masyarakat, ingin menang sendiri hingga korupsi. Oleh karena itu metode konseling khususnya konseling kelompok menjadi dibutuhkan sebagai problem solving mengurangi perilaku bullying di perguruan tinggi kedinasan tersebut dengan meningkatkan empati yang dimilikinya, karena dalam konseling kelompok diharapkan dapat menghantarkan konseli mencapai insight (pemahaman) tentang diri konseli sendiri sehingga pemikiran-pemikiran irasional yang sebelumnya ada, seperti perasaan lebih unggul, senioritas, serta percaya diri berlebihan dapat berubah menjadi pemikiran rasional. Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif, dapat diperoleh data bahwa ada peningkatan empati dari sebelum dan sesudah diberikan konseling kelompok yaitu sebesar 27,88%. Aspek dari empati yang memiliki perubahan signifikan adalah aspek perhatian 53,13% dan fantasi 42,11%. Ini menunjukkan adanya pengaruh konseling kelompok terhadap empati seseorang.

Page 1 of 1 | Total Record : 5