cover
Contact Name
hasbi aswar
Contact Email
hasbiaswar@uii.ac.id
Phone
+6281228258889
Journal Mail Official
insiera.indonesia@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang Km. 14,5, Sleman, Yogyakarta, Postal code 55548, Phone (+62274) 444898 Ext. 2122, Faximile (+62274) 898444 Ext. 2106
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations
ISSN : 25283472     EISSN : 25485164     DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.13955244
Core Subject : Social,
Jurnal Kajian Islam dan Hubungan Internasional yang dikenal dengan Jisiera merupakan jurnal akademik tahunan yang diterbitkan oleh Persatuan Kajian Islam dan Hubungan Internasional Indonesia (Insiera). Penerbitan jurnal ini bertujuan sebagai jembatan komunikasi intelektual yang memperkuat jaringan Insiera dan menyebarluaskan pemikiran atau karya penelitian yang memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan ummat (komunitas Islam global). Jisiera mempromosikan perdebatan akademis dengan menyediakan artikel ilmiah dengan semua pendekatan akademik yang tersedia (intradisipliner, lintas disiplin, multidisiplin, interdisipliner, dan transdisipliner) yang berfokus pada isu-isu terkait Islam, Dunia Muslim, dan Hubungan Internasional. Perhatian khusus diberikan pada artikel yang membahas pendekatan Kajian Islam dalam Hubungan Internasional dan penerapan perspektif Islam dalam Hubungan Internasional. Meski begitu, Jisiera tidak sebatas pembahasan hanya pada tema-tema tertentu saja.
Articles 67 Documents
NEGARA BARU ITU BERNAMA ISIS: POTRET SEJARAH KELAHIRAN ISIS SEBAGAI SEBUAH NEGARA DI TIMUR TENGAH Bimo Rizandi; Meilia Widad Angela
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 1 No. 2 (2016): ISIS dan Skenario Perang Dunia Ketiga (Edisi Spesial)
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4623702

Abstract

Terlalu dini untuk mengatakan bahwa ISIS adalah sebuah negara. Masih banyak tantangan dan persyaratan yang belum terpenuhi bagi ISIS untuk dapat dikatakan sebagai sebuah negara yang ideal dan berdaulat. Hambatan kedepan tampaknya masih sangat berat bagi ISIS karena kurangnya legitimasi di mata masyarakat internasional dan tidak adanya dukungan dari negara lain manapun untuknya. Masyarakat internasional justru bersatu menentang ISIS itu sendiri. Belum lagi ISIS pasti akan dihadapkan kepada masalah atas hukum-hukum internasional yang telah dilanggarnya. Irak dan Suriah pun tidak mungkin akan tinggal diam. Mereka masih memiliki hak kedaulatan dan hak untuk mempertahankan integritas negaranya sehingga memungkinkan mereka untuk mengambil tindakan militer melawan ISIS.
PERUBAHAN GEOPOLITIK TIMUR TENGAH PASCA KELAHIRAN ISIS Afifah Cahyaningtyas; Dian Muhammad Supriyatno
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 1 No. 2 (2016): ISIS dan Skenario Perang Dunia Ketiga (Edisi Spesial)
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4623936

Abstract

Basis-basis kekuasaan ISIS di Irak dan Suriah adalah wilayah yang memiliki sumber daya minyak. Wilayah-wilayah yang sedang mereka usahakan untuk ditaklukkan juga merupakan wilayah dengan sumber minyak bumi. Bila dikaitkan dengan teori heartland, dapat dikatakan bahwa ISIS tengah berusaha menguasai ladang-ladang minyak di Irak dan Suriah sebagai cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Kekuasaan yang mereka dapatkan adalah atas kerja keras mereka melawan pemerintahan yang sah serta dengan mengupayakan pendapatan maksimal atas penjualan minyak dari ladang minyak yang mereka kuasai.
MENGENAL ISIS LEBIH DEKAT: MENYOAL IDEOLOGI GERAKAN ISIS: MENYOAL IDEOLOGI GERAKAN ISIS Nyphadear Tiara; Wiwit Putri Handayani
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 1 No. 2 (2016): ISIS dan Skenario Perang Dunia Ketiga (Edisi Spesial)
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4624032

Abstract

Pada bulan Ramadhan 1435 Hijriah, Shaykh Abu Muhammad al-‘Adnani ash-Shami mengumumkan bahwa Khilafah telah bangkit kembali. Negara ini terdiri dari bangsa Arab, non-Arab, orang kulit putih, orang kulit hitam, orang timur dan orang barat, semuanya sama. Banyak orang-orang Eropa, Australia, Perancis, dan orang-orang di kawasan Timur Tengah yang bergabung di bawah bendera Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) demi menikmati keberkahan dari persaudaraan orang-orang yang beriman serta untuk berperang melawan orang-orang yang dianggap murtad. Ideologi menjadi bahan doktrinasi ISIS sehingga jalan pikiran seseorang bisa berubah. Untuk menguak ideologi mereka, perlu diteliti bagaimana mereka menyebarkannya, dalam bentuk apa, serta apa tujuannya.
GELOMBANG JIHAD DARI NUSANTARA : DUKUNGAN EKSTRIMIS INDONESIA TERHADAP ISIS Chastiti Mediafira Wulolo; Boy Avianto
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 1 No. 2 (2016): ISIS dan Skenario Perang Dunia Ketiga (Edisi Spesial)
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4625174

Abstract

Peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center pada 11 September 2001 menjadi awal mula berkembang pesatnya istilah jihad dalam lingkungan politik global. Dengan adanya bom bunuh diri yang menewaskan banyak warga sipil Amerika Serikat, jihad kemudian diartikan sebagai tindakan terorisme yang bergerak atas nama Tuhan. Perang melawan terorisme mulai dikumandangkan dan Islam pun mulai dipersalahkan atas munculnya berbagai aksi terorisme, dari Eropa hingga daratan Asia.
JIHAD MELAWAN IDEOLOGI RADIKAL ISIS DI INDONESIA Dina Oktarina; Adhiatma Nanda Wardhana
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 1 No. 2 (2016): ISIS dan Skenario Perang Dunia Ketiga (Edisi Spesial)
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4626211

Abstract

Meski Indonesia bukanlah negara Islam, namun mayoritas penduduknya menganut agama Islam, yakni sebanyak 87,18 persen dari total penduduk Indonesia. Sebagai sebuah negara yang menghargai kemajemukan, berbagai agama dapat hidup secara berdampingan dan saling menghargai. Kehadiran ISIS di Indonesia dianggap sebagai sebuah ancaman bagi keberagaman agama yang ada di Indonesia, dimana ISIS sebagai kelompok radikal yang menyetujui penggunaan kekerasan dapat mengganggu keamanan dan stabilitas Indonesia. Keberadaan ISIS di Indonesia menjadi sebuah ancaman bagi penduduk Indonesia karena akan menyebarkan ketakutan yang bersifat luas.
ALIANSI GLOBAL MELAWAN ISIS : RESPON PBB, RESOLUSI DAN UPAYA PEMBENTUKAN REZIM Agustina Siahaan; Hanan Rananta Arbi
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 1 No. 2 (2016): ISIS dan Skenario Perang Dunia Ketiga (Edisi Spesial)
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4626259

Abstract

Tidak hanya menyatakan ISIS sebagai teroris, PBB melalui Ban Ki Moon berupaya menyatukan visi dan pikiran masyarakat internasional dengan memberi pernyataan bahwa ISIS bukanlah “Islamic state” karena dalam hal ini ISIS tidak merepresentasikan ajaran Islam dan tidak pula merepresentasikan sebuah negara. Lebih spesifik, Ban Ki-moon menyatakan bahwa kelompok ISIS ini lebih tepatnya disebut “The Un-Islamic Non State”. Saat ini PBB telah sampai pada tahapan pembentukan gerakan formal melalui adopsi resolusi-resolusi yang disimpulkan oleh Dewan Keamanan PBB. Meskipun tidak mengizinkan penggunaan kekuatan militer, resolusi Dewan Keamanan sudah melarang memberikan dukungan keuangan apapun kepada ekstrimis Irak dan Suriah serta afiliasi Qaeda yang beroperasi di Suriah dan Irak.
RESPON MASYARAKAT INTERNASIONAL TERHADAP ISIS: ASPEK POLITIK DAN MILITER Kurnia Ariesta Fahdiny; Radina Abdillah
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 1 No. 2 (2016): ISIS dan Skenario Perang Dunia Ketiga (Edisi Spesial)
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4642969

Abstract

Sekuat apakah ISIS sebagai kaum insurgensi hingga mampu meneror tidak hanya beberapa negara tapi hingga seluruh dunia dan masyarakat internasional? Atau apakah ISIS merupakan kaum beligerensi, terlepas dari fakta bahwa tidak ada yang mengakui keberadaannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar dalam penulisan artikel ini. Penulis akan menyajikan informasi mengenai hal yang berkaitan dengan respon masyarakat internasional sebagai bentuk penolakan akan keberadaan ISIS. Informasi-informasi yang dipaparkan diharapkan dapat membangun sebuah pemahaman yang dapat membantu pembaca menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar ISIS serta respon masyarakat internasional dalam melawannya.
GLOBALISASI & IDENTITAS NASIONAL: KONFIGURASI STANDAR HALAL INTERNASIONAL & NASIONAL DI DUNIA ISLAM DALAM TINJAUAN RELASIONAL-INTERSUBJEKTIF: CONFIGURATION OF INTERNATIONAL & NATIONAL HALAL STANDARDS IN THE ISLAMIC WORLD IN RELATIONAL-INTERSUBJECTIVE APPROACH Moh. Fathoni Hakim
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 6 No. 2 (2023): Jisiera Volume 6, Oktober, 2023
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10029307

Abstract

Discussions about international halal standards, to this day there is no global halal concept that is universally used. In the Islamic world itself, member countries of the OIC (Organization of Islamic Cooperation) initiated the international halal standard SMIIC (The Standards and Metrology Institute for Islamic Countries) since 2010. But to this day, when OIC member countries conduct international halal trade with other countries members, still use the national halal standards. There is competition between international halal standardization and national halal standards. Or it can also be said that globalization and national identity are fighting, competing for influence in the interpretation of the halal concept. By using a relational-intersubjective approach, this study maps the relationship between the subject “I” and the reality of “phenomen” in viewing international halal standards. Humans will definitely look for meaning in their reality. This framework of thinking is then developed into an intersubjective relation model which requires the relationship between subjects in understanding reality. Reality should not be understood monotonically by one particular subject, but there must be communicative action between subjects in building reality together. International halal standards cannot be monopolized by the interests of certain subjects. There must be communication between subjects to provide a compromise space in formulating international halal standards. This is where globalization and national identity dialogue make compromises in a balanced way.
DONALD TRUMP, EROPA, ASIA DAN ISLAM Herdi Sahrasad
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 2 No. 1 (2017): Jisiera Volume 2, Agustus, 2017
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.6787188

Abstract

US presidential election in 2016 had brought Donald Trump to the oval office. Compare to the regime before, Trump would make US approaches to its counterparts more hard and firm. In this context, Trump would possibly raise the conflict tense towards China and Islamic World since the US would tend to utilise hard rather than soft power. Trump never pictured clearly his foreign policy direction, but he indicated to prefer isolationism and protectionism. He did not have foreign policy record so that US foreign policy would be very relying on Trump’s rhetorical campaigns. The eccentric leadership of US President Donald Trump is a unique global phenomena which very interesting to be discussed.
RELEVANSI TEORI FREE TRADE DALAM PERSPEKTIF ISLAM Ajeng Puspa Marlinda
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations Vol. 2 No. 1 (2017): Jisiera Volume 2, Agustus, 2017
Publisher : The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.6789453

Abstract

This study focuses on the relevance of free trade in an Islamic perspective. However, in the first explanation of free trade will be examined from the point of view of several theories of international relations such as realism, liberalism, socialism, and marxism. After that explanation, then free trade will be presented in general according to Islamic perspective. Whether good or bad, and what may or may not be in the free trade itself according to Islamic views. In this paper, the discussion will try to analyze free trade in Islamic perspective in terms of ontology that is the reason of what or what is free trade according to Islam, then epistemology which talk about the forms of free trade allowed Islam, and last from the axiological aspect that is About what the benefits of free trade are viewed from an Islamic perspective.