cover
Contact Name
Arif Abadi
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
+6287723481132
Journal Mail Official
redaksi.panggung@gmail.com
Editorial Address
Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Panggung is a peer-reviewed journal focuses art studies and their cultural contexts with various perspectives such as anthropology, sociology, education, religion, philosophy, technology, and others. Panggung invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies in the areas related to arts and culture with interdisciplinary approaches.
Articles 474 Documents
Representasi Perempuan Indonesia Melalui Artikel Mode Pada Majalah Femina Ariani Warhani; Setiawan Sabana; Ira Ardianti
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.204

Abstract

AbstrakMajalah merupakan salah satu bentuk media massa telah lahir sejak lama sebagai sarana media informasi dan alat pendidikan bagi masyarakat. Bagi perempuan, informasi dapat diperoleh salah satunya melalui majalah wanita.Majalah Femina adalah salah satu majalah wanita pertama di Indonesia sehingga memiliki pembaca dari beberapa generasi yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis visual artikel mode dengan menggunakan analisis semiotika dari awal majalah Femina terbit tahun 1974 hingga 2015 untuk melihat elemen visual dan tanda sebagai representasi perempuan Indonesia melalui artikel mode. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan diakronik dengan pemaparan secara deskriptif melalui studi literature pengumpulan artikel mode.Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika diakronik dengan analisis semiotika.Penelitian ini fokus untuk mendapatkan representasi citra perempuan di Indonesia dengan melalui elemen-elemen visual yang terdapat pada artikel mode, sehingga mengetahuicitra melalui pemahaman mendalam tentang situasi sosial budaya perempuan di Indonesia.Kata Kunci: perempuan, mode, majalah, visual, semiotika.ABSTRACTMagazine is one of mass media that have been born since a long time as a means of information and educational tools for the community. Information can be obtained for women from women’s magazine. Femina magazine is one of the first magazines in Indonesia that have readers from several generations. The aim of this study was to see the visual elements and the sign as representation of Indonesia women from Femina magazine’s visual article mode using semiotic analysis during 1974 to 2015. The method used in this study is a qualitative method diachronic approach with descriptive exposure through the study literature mode article Femina magazine. This research is going to appearance at the representation of the image of women in Indonesia with through visual elements contained in article mode. Thus the visual mode produces an image through a deep understanding of the social and cultural situation of women in Indonesia.Key words: women, mode, magazine, visual, semiotic
Desain Interior Toko Sebagai Pembentuk Suasana Rumah Saudagar di Kampung Batik Laweyan Dhian Lestari Hastuti
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.205

Abstract

ABSTRAKArtikel ini hasil penelitian Interior toko cinderamata pada Rumah Pusaka Saudagar Batik Terhadap Karakter Kampung Batik Laweyan. Strategi penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah dan desain interior. Rumusan masalah: (1) Bagaimana pola organisasi dan sirkulasi rumah pusaka saudagar batik Laweyan dengan toko cinderamata tersebut? (2) Bagaimana persepsi visual dan impressi visual desain interior toko cinderamata batik di Laweyan saat ini? Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, analisis dokumen, studi literatur, dan kemudian penyusunan simpulan serta disampaikan solusi alternatif desain. Hasil penelitian yaitu: 1) Persepsi visual belum terlihat sebagai fungsi toko yang memfasilitasi tata display, area penyimpanan, dan aktual jual beli, 2) Impresi visual belum membuat konsumen merasakan, mengingat, dan menikmati toko di Laweyan sebagai bagian dari kampung pusaka dan bernilai budaya yang sangat tinggi.Kata Kunci: Desain interior, toko, persepsi dan impresi visual, LaweyanABSTRACTThis article is results of research on Interior souvenir shop in Heritage House of character batik merchants Kampung Batik Laweyan. The research strategy uses qualitative research as history and interior design approach. Meanwhile the structure of the research issues is: (1) How organizational pattern and space circulation of the Laweyan batik merchant’s heritage house and souvenir shop? (2) How is current visual perception and visual impression of the batik shop’s interior design in Laweyan? Data collected by observation, interview, document analysis, literature studies and structuring conclusion as well as alternative design. Research result: 1) visual perception of merchants house is not shown the shop facilitating display style, storage area, and actual transaction, 2) visual impression does not encourage customer to feel, remember and enjoy a shop in Laweyan as part of heritage village and highly has valuable culture.Key words: Interior Design, Laweyan’s Shop, Visual Perception and Visual Impression, Laweyan. 
Narasi Cahaya Kearifan Lokal Dalam Film Sang Pencerah Karya Hanung Bramantyo Dyah Gayatri Puspitasari; Setiawan Sabana; Hafiz Azis Ahmad
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.206

Abstract

ABSTRACT Narrative is an important element in film. Its sequence has certain logic related to the meaning of film story. A film is the work of a director, its events sequence has accommodated certain message or in- tention of the director. The study of Sang Pencerah by Hanung Bramantyo applies the text visual nara- tive analysis using narrative theory of Genette and semiotics of Peirce as supporting theory. The result of the analyses finds out that Sang Pencerah is a film structure in three chapters with linier pattern. The light aspect correlated  with the meaning of enlightment seems to be used as the binding factor of the main story. By analysing various visual signs it is found that the enlightment idea (pencerahan) in the film is the western rationality of modernism versus Ahmad Dahlan. It is a rationality which manifests hospitality and local wisdom as a strong identity which balances the modernity. Keywords: narrative, film, light, message, modernism    ABSTRAK Narasi merupakan unsur penting dalam film. Urutannya mengandung logika tertentu yang berkaitan dengan makna cerita film. Film dapat dikatakan sebagai narasi yang merep- resentasikan realitas. Namun karena film merupakan gubahan sutradara, maka urutan peris- tiwa itu tentunya sudah dibubuhi pesan atau niatan tertentu sutradara. Dengan mengambil film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo sebagai studi kasus, dilakukan identifikasi pesan dan makna yang termuat di dalam film tersebut. Kajian ini menggunakan metode analisis teks visual naratif dengan teori narasi Genette dan semiotika Peirce sebagai pembantu. Dari hasil analisis struktur narasiditemukan bahwa Sang Pencerah merupakan film alur tiga babak dengan pola linier. Aspek cahaya yang dikorelasikan dengan makna pencerahan, tampak dimanfaat- kan sebagai pengikat rangkaian inti cerita. Melalui analisis berbagai penanda visual selanjutnya ditemukan bahwa gagasan pembaharuan (pencerahan) yang diketengahkan sutradara dalam film ini merupakanrasionalitas modernisme Barat versus Ahmad Dahlan. Sebuah rasionalitas yang mengejawantahkan kesantunan dan kearifan lokal sebagai keutuhan jati diri pengimbang kebaharuan. Kata kunci: narasi, film, cahaya, pesan, modernisme 
Kursi Betawi: Bentuk Dan Fungsi Dalam Seni Pertunjukan Gerry Rachmat
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.207

Abstract

ABSTRACT Chair as one of supporting elements in the life of social society Indonesian in general. With progress in experiencing shift shape and function in accordance with the development of science, technology and art. The Chair became one of an important property on Betawi arts performances. The form of a Betawi Chair having a distinctive feature different from other chairs. A method of this research is through Participatory Action Research (PAR), by selecting  Betawi Chair  as the objects which used as a stage property in Lenong Betawi shaw in a television program. This Study producet an understanding of the concept of performances on thematic stage setting, and player’acts ( interaction of the players, stage and properties ) so giving atmosphere impression and the misit which is representatif and harmony. Keywords: betawi chair, form, function, performance art     ABSTRAK Kursi sebagai salah satu elemen pendukung dalam kehidupan sosial masyarakat Indone- sia pada umumnya. Dalam perkembangannya mengalami pergeseran bentuk dan fungsi se- suai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kursi menjadi salah satu properti yang penting pada pertunjukan kesenian Betawi. Bentuk dari Kursi Betawi memiliki ciri khas yang berbeda dari kursi yang lain. Metode penelitian ini yaitu melalui Participatory Action Research (PAR), dengan memilih Kursi Betawi sebagai objek yang dipergunakan seba- gai properti panggung pertunjukan Lenong Betawi di suatu acara televisi. Kajian tulisan ini menghasilkan sebuah pemahaman konsep pertunjukan dengan penata panggung yangsesuai dengan tema, dan aktivitas pemain (interaksi pemain, panggung dan propertinya) sehingga memberikan suasana, kesan dan pesan yang representatif dan harmoni. Kata kunci: kursi betawi, bentuk, fungsi, seni pertunjukana
Seni Rupa Pasemah: Arah Hadap dan Orientasi Karya Seni Rupa Pasemah A. Erwan Suryanegara; Agus Sachari
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.208

Abstract

ABSTRACT In Bukit Barisan of southern Sumatra, exactly in Lahat and Pagaralam, South Sumatra, was found remains of megalithic artifacts. The artifacts in the form ofvisual arts are in larger quantities, particu- larly sculptures other than paintings,reliefs, etc. Surveys and literature studies show that visual arts as those contemporary Pasemah visual arts are not yet discovered in other regions. One ofspecial charac- teristics is Point of the Orientation and the Orientation of sculptures which is not referring to point of the compass, rather to the object of nature surroundings. The Pasemah visual arts are never apart from the underlyingEcocentric concept and in harmony with the worship of ancestral souls in a cosmocentric mystical culture. The uniqueness of Pasemah visual arts is, actually, potential that must be excavated and prolif- erated as learning for citizens and, thus, inspire community surroundings in particular and Nusantara societies in general. Keywords: Pasemah, sculpture, megalithic, point, orientation     ABSTRAK Bukit Barisan bagian selatan Sumatra, tepatnya di Lahat dan Pagaralam, Sumatra Selatan, ditemukan peninggalan artefak-artefak megalitik. Secara kuantitatif memperlihatkan bahwa jumlah artefak berwujud karya seni rupa (visual) lebih banyak, terutama yang berbentuk pa- tung selain lukisan, relief, dan sebagainya. Kajian atas hasil survei dan studi literatur membuk- tikan bahwa seperti karya visual Pasemah itu memang tidak ditemukan di kawasan lain yang sezaman. Satu kekhasannya adalah Arah Hadap dan Orientasi patung yang tidak mengacu ke- pada arah mata angin, tetapi kepada objek alam di sekitarnya. Karya-karya visual Pasemah itu tidak pernah lepas dari konsep ekosentris yang menjadi konsep mendasar dan selaras dengan pemujaan arwah leluhur dalam peradaban mistis yang kosmosentris. Keunikan karya visual Pasemah sesungguhnya merupakan potensi yang harus digali dan ditumbuhkembangkan se- bagai pembelajaran bagi anak bangsa, sehingga dapat menginspirasi masyarakat sekitar khu- susnya maupun masyarakat Nusantara umumnya. Kata kunci: Pasemah, patung, megalitik, arah, orientasi
Representasi Nilai Kosmologi Pada Wujud Lokal Bangunan Hunian Bali Aga Ida Ayu Dyah Maharani; Imam Santosa; Prabu Wardono
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.209

Abstract

ABSTRACT Bali Aga architecture is the second oldest architecture in Bali lasted the 8th to 13th century which there were two important events that brought acculturation impact: the arrival of Resi Markandeya came from India who brought Budha Mahayana belief and Empu Kuturan came from East Java who brought Hindu belief. Before those, Bali Aga community had a cosmological ideology as their belief and still visible in every thought, behavior and artifacts including their housing.This qualitative research is performed uses ethnography method to be able to trace the representa- tion of cosmological ideology, especially in the form of local housing. The result of this study describes some cosmological ideologies of community in each Bali Aga villages cannot regarded as the same be- cause it influenced by each local wisdom. However, the diversity has the same value, idea and purpose to put the universe as the main orientation. Bali Aga community’s submission to the universe makes their housing are able to survive with their identity until now. Keywords: Bali Aga, cosmology, housing, ethnography     ABSTRAK Arsitektur Bali Aga merupakan arsitektur tertua kedua di Bali yang masa kemunculannya meliputi kurun waktu abad ke-8 s.d 13, dimana terdapat dua peristiwa akulturasi penting yaitu kedatangan Resi Markandeya dari India yang membawa ajaran Budha Mahayana dan Empu Kuturan dari Jawa Timur yang membawa ajaran Hindu. Sebelum masuknya kedua budaya tersebut, masyarakat Bali Aga memiliki pandangan kosmologi sebagai anutan kepercayaan yang masih terlihat hingga kini dalam setiap pemikiran, perilaku dan artefak bangunan huni- annya.Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan metode etnografi untuk dapat menelusuri representasi pandangan kosmologi masyarakat, khususnya dalam wujud lokal bangunan huniannya. Hasil penelitian ini menjelaskan beberapa pandangan kosmologi di desa-desa Bali Aga ternyata tidak dapat dianggap sama karena sangat dipengaruhi masing- masing local wisdom. Namun keberagaman tersebut tetap mengandung nilai, maksud dan tu- juan yang sama dengan menjadikan alam semesta sebagai orientasi yang utama. Keberserahan diri masyarakat Bali Aga kepada alam semesta ini menjadikan bangunan huniannya mampu bertahan dengan identitasnya hingga kini. Kata kunci: Bali Aga, kosmologi, bangunan hunian, etnografi
Estetika, Seren taun Antara Seni, Ritual, Dan Kehidupan Ign. Herry Subiantoro
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.212

Abstract

 ABSTRACT Seren taun presents a ceremony system which has aspects of ideas, aspect of language, aspect of behaviour and aspect of equipments. These aspects is related to one another and understood as a sacred communication. Three life principles as the conditions to achieve as the perfection of life and The Truth of death is ritualized on the Pwahaci as the birth symbol, the priciple of maturity and the image of per- fection (death).Under Djati Kusumah leaderships, Seren taun was developing physically as well as the content of appreciation presentation of the ADS spiritual, be able to be accepted by the community. SerenTaun is seen as guidance of aesthetical beauty in the trilogy of verum, bonum,  and pulchrum. Beautiful ways to present aesthetic of Seren taun which is anticipate the nature beauty and art as the safety signs, there are shown by the guidance of the harmonization between human beings and God, the nature and other human beings. The art and ritual performance are kinds and true gives the universal as the harmoniza- tion and balance of humans’lives physically and mentally. Keywords: Seren taun, ritual performance, aesthetic of beauty, and balancing of humans’lives     ABSTRAK Seren taun merupakan presentasi estetik masyarakat agraris untuk mendatangkan berkah dari leluhur. Sistem upacara meliputi aspek gagasan, kebahasaan, prilaku, dan peralatan dalam seren taun dimaknai sebagai komunikasi sakral. Tiga prinsip kehidupan sebagai syarat menca- pai kesempurnaan hidup diritualisasikan pada Dewi Pwahaci untuk mengungkapkan tentang prinsip kelahiran, kedewasaan, dan gambaran prinsip kesempurnaan (kematian).Di tangan Kekarismatikan pemimpin tradisional Pangeran Djati Kusumah, Seren taun berkembang baik secara bentuk maupun isi, sebagai  presentasi penghayatan ajaran spiritual ADS, agar mudah diterima oleh semua orang. Pemahaman itu menunjukan Seren taun sebagai tuntunan nilai-nilai keindahan, yang syarat dengan trilogi antara verum (kebenaran) bonum (ke- baikan), dan pulchrum (keindahan). Cara-cara indah dari presentasi estetik Seren taun merupa- kan keindahan alam dan seni sebagai tutuntunan-keharmonisan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sesamanya. Pertunjukan seni dan ritual itu, memberikan manfaat secara universal sebagai penyelaras atau balancing kehidupan manusia secara lahir maupun batin. Kata kunci: Seren taun, estetika, pertunjukan ritual 
Tari Manyakok, Tari Turun Mandi, dan Tari Podang Perisai sebagai Ekspresi Budaya Masyarakat Melayu Riau Irdawati Irdawati
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.213

Abstract

ABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian tentang nilai-nilai budaya masyarakat Melayu melalui tiga tari tradisional di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Tiga bentuk tari tradisional tersebut adalah  Tari Manyakok, Tari Turun Mandi dan Tari Podang Perisai. Ketiga tari tradisional hidup dan berkembang dilatar belakangi oleh budaya masyarakat setempat. Tari Manyakok merupakan cerminan budaya menangkap ikan yang memiliki simbol-simbol berkaitan dengan budaya masyarakatnya. Tari Turun mandi merupakan tarian ritual yang berhubungan dengan kelahiran seorang anak, dan tari Podang Perisai merupakan simbol kepahlawanan dalam mempertahankan daerah dari serangan musuh. Kata Kunci: Tari Manyakok, Tari Turun Mandi, Tari Podang Parisai, Budaya Melayu, Kuantan Sengingi ABSTRACTThis paper is describing the research about the value of culture of Malayan people through three different dance in Kuantan Singingi Regency of Riau Province. These dance are Manyakok Dance, Turun Mandi Dance, and Podang Perisai Dance. From these results, the conclusion is these form of dance are growing and spread, based on their own culture. Manyakok Dance reflect the tradition of fishing, and have the symbol that related with the culture. Turun Mandi Dance is a ritual dance that related with the birth of a child, and Podang Perisai Dance is a symbol of patriotizm in defending the region from the attack of enemy. Keywords : Dance Mangoyak,Dance Turun Mandi, Dance Podang Parisai, Malay Culture, Kuantan Sengingi
Fenomena Intertekstualitas Fashion Karnaval di Nusantara Lois Denissa; Yasraf Amir Pialang; Pribadi Widodo; Nuning Yanti Damayanti Adidsasmito
PANGGUNG Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.214

Abstract

ABSTRACT Rampant fashion Carnival in Nusantara and various other genres triggered by the presence of Jember Fashion Carnaval. Michael Bahtin refer to this phenomenon as intertextuality, namely the de- pendence of the text with other texts, so that the existence of a text is always influenced by previous texts. This intertextuality theory changed the perception of quoting process and bear criticism of the work that emphasizes authenticity and originality. Research using qualitative interpretative approach by analyzing how the developments have affected similar Carnival in other cities and the rise of art genres positive response take part together. Its consistency has been a magnet for photographers, media, photography exhibition, painting, culinary and local creative industries. The formation of Indonesian Carnival Association, incorpora seven provinces in Indonesian Wonderful Archipelago Carnival and Jember Carnival hosted storefront for Nusantara Carnival. The research interpreting that the process of intertextuality is a positive perspective because of its ability to enable similar or different art genres, creating a conducive terrain Carnival. Keywords: Intertextuality, Jember Fashion Carnival, Carnival Terrain     ABSTRAK Merebaknya fashion karnaval di Nusantara dan berbagai genre lain dipicu oleh keberadaan Jember Fashion Carnaval. Michael Bahtin menyebut fenomena ini sebagai intertekstualitas yaitu ketergantungan satu teks dengan teks lain, sehingga keberadaan sebuah teks selalu dipengaruhi oleh teks sebelumnya. Teori intertekstualitas ini mengubah pandangan orang terhadap proses pengutipan karya dan melahirkan kritik terhadap karya yang mengedepankan otentisitas dan orisinalitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretastif dengan menganalisis bagaimana perkembangan Jember Fashion Carnaval mempengaruhi merebaknya karnaval seru- pa di kota lain dan bangkitnya respon positif genre-genre seni untuk berkiprah bersama. Kon- sistensinya telah menjadi magnit bagi fotografer, media, pameran fotografi, lukisan, kuliner dan industri kreatif lokal. Terbentuknya Asosiasi Karnaval Indonesia, tergabungnya tujuh propinsi dalam Wonderful Archipelago Carnival Indonesia  dan Jember menjadi tuan rumah etalase karna- val Nusantara. Hasil penelitian ini menginterpretasikan bahwa proses interteks-tualitas kostum pada karnaval merupakan perspektif yang positif karena kemampuannya mengaktifkan genre seni sejenis maupun berbeda sehingga menciptakan medan karnaval yang kondusif. Kata kunci: Intertekstualitas, Jember Fashion Carnaval, Medan Karnaval
Pergeseran Teknik dan Material Marbling pada Tekstil sebagai Konsekuensi dari Perkembangan dan Inovasi Aldi Hendrawan
PANGGUNG Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.228

Abstract

ABSTRAKTeknik marbling yang telah dikenal luas bahkan sebelum abad ke-15 memiliki potensi yang cukup baik dalam bidang industri tekstil walaupun pengaplikasiannya yang umum dikenal hanya pada kertas. Potensi ini merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan secara lebih luas, namun berbagai kendala muncul terutama dalam hal ketersediaan material yang langka dan tinggi harganya. Penulisan ini menggunakan metoda eksperimentasi, pendekatan literature dan kajian sejarah guna mencari alternatif bahan baku lokal yang dapat diaplikasikan pada tekstil menggunakan teknik marbling. Tepung maizena dan tapioka menjadi bahan baku lokal yang paling baik sebagai pengganti medium gel pada teknik marbling. Bahan baku lokal dengan harga terjangkau menjadi potensi baik untuk para pelaku industri tekstil menengenah. Perkembangan ini pada akhirnya bisa dijustifikasi sebagai sebuah proses evolusi kebudayaan yang termanifestasikan dalam perkembangan pengolahan tekstil yang didorong oleh motif ekonomi dan teknologi. Kata-kata Kunci: Marbling,Teknik, Tekstil, Bahan Lokal.ABSTRACTMarbling technique that has been widely known even before the 15th century has a good potential in the field of textile industry although its application is generally known only on paper. This potential is an opportunity that could be used more widely, but many obstacles arise particularly on the availability of rare and high material costs. This research uses experimental methods, approaches literature and historical studies in order to seek alternative local raw materials that can be applied to the textile using the technique of marbling. Cornstarch and tapioca as raw material for the most improved local instead of gel medium on marbling techniques. Local raw materials at affordable prices become good potential for the textile industry menengenah. This development could ultimately justified as a process of cultural evolution which manifests itself in the development of textile processing driven by economic motives and technology.Keywords: Marbling, Engineering, Textile, Local Ingredients. 

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32 No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28 No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28 No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27 No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Con Vol 27 No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27 No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26 No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26 No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25 No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25 No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25 No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24 No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23 No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23 No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23 No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajara Vol 22 No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22 No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22 No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22 No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21 No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21 No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21 No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18 No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15 No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1 No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional J More Issue