cover
Contact Name
Arif Abadi
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
+6287723481132
Journal Mail Official
redaksi.panggung@gmail.com
Editorial Address
Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Panggung is a peer-reviewed journal focuses art studies and their cultural contexts with various perspectives such as anthropology, sociology, education, religion, philosophy, technology, and others. Panggung invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies in the areas related to arts and culture with interdisciplinary approaches.
Articles 474 Documents
Penciptaan Teater Tubuh Tony Supartono
PANGGUNG Vol 26 No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.177

Abstract

ABSTRACT The  process  of creative  of theatrical   body is an offer of renewal  theatre  by exploring and processing  the body, which become the main  key in theatre production.   This paper proposed the design to offer new thinking,  and alternative  thinking.Creative  of theatrical  bodyis a process  of body practice  with the body consciousness  either  as an idea or the body itself  as the idea, the learning  process of the body until get the consciousness  movements which resulted by the body. For  the process of practice  the researcher  called it as “Actor  Body Interrogation”  that is the process of breaking  and re-asking  the problem of actors’  body.Creative  of theatrical  body offers new point  of view about  the body, which not only as the expression media, but the body itself stands  alone as its identity. The body is considered  as the phenomena   which stand  alone and also making relationship to the environment,  spaces, build- ings, vehicles, peoples, even to the society  and their  ideology which dominant.  Therefore, cre- a t i v e  o f  t h e a tr i ca l b o d y i s a p ro ce s s o f  com p l e t e  t h e a t re  b e t we e n a ct o r,  a n d  t h e  b o d y laugaugeinclude its relationship to the society. Keyword:  theatre,  body, body interogation,   public  space     ABSTRAK Proses penciptaan teater tubuh merupakan penawaran pembaharuan teater dengan menggarap dan mengolah tubuh, yang menjadi kunci utama produksi teater. Paper ini mengajukan rancangan untuk menawarkan pikiran-pikiran baru, pikiran-pikiran alternatif. Penciptaan teater tubuh adalah proses latihan tubuh dengan kesadaran tubuh sebagai gagasan atau tubuh itu sendiri sebagai ide, proses belajar pada tubuh sehingga mendapat kesadaran gerak-gerak yang dilahirkan oleh tubuh. Proses latihannya penulis memberi nama “interogasi tubuh aktor ”, yaitu proses membongkar dan mempertanyakan kembali persoalan tubuh aktor.Penciptaan teater tubuh menawarkan pandangan baru tentang tubuh yang bukan sekedar media ungkap tetapi tubuh itu sendiri mandiri sebagai sebuah identitas. Tubuh dipandang sebagai fenomena yang berdiri sendiri tetapi sekaligus melakukan relasi dengan lingkungan: jalan, bangunan, kendaraan, orang-orang dan bahkan seluruh masyarakat dan ideologinya yang sedang dominan. Dengan demikian penciptaan teater tubuh adalah proses teater yang utuh antara aktor   dan bahasatubuh sekaligus relasinya dengan masyarakat. Kata kunci : teater, tubuh, interogasi tubuh, ruang publik.
Komodifikasi Tari Barong di Pulau Bali (Seni Berdasarkan Karakter Pariwisata) Anggraeni Purnama Dewi
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.187

Abstract

ABSTRAK Artikel ini berjudul “Komodifikasi Tari Barong di Pulau Bali”, yang mengungkap bagaimana keterkaitan antara seni tradisional yang bersifat religius yang pada awalnya hanya dipersembahkan untuk upacara ritual keagamaan, namun kini menjadi industri pariwisata yang bernilai komersial. Pulau Bali atau yang terkenal dengan sebutan Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura kerap kali menjadi tujuan utama dari para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara sebagai tempat berlibur. Selain pesona alam yang indah, Bali memang sangat kaya akan adat istiadat dan budayanya. Seiring dengan tuntutan pemasaran produk pariwisata, maka kenyataan yang ada di Bali saat ini terkait dengan seni pertunjukan adalah, bagaimana mengemas seni tradisional yang bernilai religius menjadi seni pariwisata yang bernilai komersial yang dapat dipertontonkan secara bebas kepada para wisatawan. Salah satu seni pertunjukan yang telah dikomodifikasi menjadi seni pariwisata adalah tari tradisional Barong. Kata Kunci: Komodifikasi Tari Barong, Seni Pertunjukan, Industri, PariwisataABSTRACTThe title of this article is "The Commodification of Barong Dance in Bali". This article reveals how the relationship between the traditional art of a religious nature that was originally only offered for religious rituals, but now becoming commercially valuable tourism industry. The Bali island or which is known as the island of the gods, or island of thousand temples, often becomes the main purpose of the tourists, both local and foreign tourists as a vacation destination. Besides of natural charm and beautiful beaches, Bali is very rich in tradition and culture. Along with the demands of the tourism product marketing, Bali islandthat currently associated with the performing arts is, how to package the valuable traditional religious art becomes art tourism commercial value that can be displayed freely to the tourists. One of the performing arts that has become commodified touristic art is traditional Barong dance.Keywords: Commodification of Barong Dance, Performing Arts, Industry, Tourism
Film “Darah dan Do’a” Sebagai Wacana Film Nasional Indonesia Arda - Muhlisiun
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.188

Abstract

AbstrakFilm nasional merujuk pada pengertian identitas nasional. Dia bisa disebut nasional karena representasi identitas itu bisa menunjukkannya. Film Usmar Ismail (Darah dan Doa, 1950) disebut sebagai (gagasan) film nasional karena diwacanakan sebagai film yang “asli” Indonesia.Melalui analisa tekstual bisa didapatkan satu pengertian diskursif-performatif atas film nasional, yang sesungguhnya telah menjadi “mitos” terhadap film Usmar Ismail ini. Untuk memperjelas pengertian film nasional, sekaligus sebagai upaya mendeskripsikan wacana film nasional atas film Usmar Ismail ini digunakan konsep film nasional yang ditawarkan oleh Jinhee Choi tentang pengertian film nasional yang menurutnya bisa berdasarkan nilai teritori, nilai fungsional dan nilai relasional. Hasil analisa yang didapatkan dari penelitian ini menemukan bahwa gagasan film nasional atas film Usmar Ismail memang lebih berkutat pada kekuatan wacana yang mengelilinginya, terutama Usmar Ismail yang memang menjadi faktor determinan dalam lahirnya gagasan film nasional Indonesia.Kata Kunci : Film Nasional, Usmar Ismail, Darah dan DoaAbstractA national film suggestived towards the ideas of national identity. It can be labelled ‘national’ because the representation of national identity pertains to it. Usmar Ismail’s film was described as a national film because it presents genuine Indonesian. Through the textual analysis that discursive-performative understanding of national films can be achieved; an understanding that has become a myth in context to Usmar Ismail’s film.In order to clarified concepts of national film as well as to illustrate the discourse of national films in Usmar Ismail’s work, this analysis used JinHee Choi’s theory of national cinema. In which national film was theorized based on territorial, functional and relational factors.The findings of this analysis showed how the concept of national film in Usmar Ismail’s film actually struggles against the dominant discourse of its time particularly in terms of Usmar Ismail’s figure as a determining factor in establishing national films in Indonesia.Keyword : National Cinema, Usmar Ismail, Darah dan Doa 
Dinamika Budaya Material pada Desain Furnitur Kayu di Indonesia Arianti Ayu Puspita Ayu Puspita; Agus Sachari; Andar Bagus Sriwarno
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.189

Abstract

AbstrakKayu merupakan material yang banyak dimanfaatkan di Indonesia, salah satunya adalah untuk furnitur. Perubahan kondisi ekonomi hingga abad ke-21, kemudian meningkatnya kebutuhan furnitur baik dari luar dan dalam negeri, dan perkembangan ilmu desain di Indonesia, secara tidak langsung berhubungan dengan permasalahan ekologi. Ketersediaan sumber daya alam seperti kayu, semakin berkurang walaupun kebutuhannya semakin tinggi. Hingga kini kondisi tersebut mendorong industri furnitur di Indonesia untuk menggunakan alternatif berbagai macam kayu solid, kayu olahan hingga kayu limbah. Selain karena faktor keterbatasan persediaan kayu, aspek sosial dan budaya juga turut mempengaruhi kemunculan berbagai jenis alternatif kayu tersebut. Dari waktu ke waktu, perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan gaya hidup, turut berperan pada kemunculan bentuk-bentuk furnitur baru di Indonesia. Pada penelitian ini, transisi kebutuhan material kayu pada furnitur akan dikaitkan dengan dinamika sosial budaya yang terjadi dari abad ke-18 hingga abad ke-21 di Indonesia. Transisi akan dilihat berdasarkan perubahan teori Material Cultural Studies, yang kemudian akan menghasilkan kesimpulan bahwa sebuah material memiliki pengaruh besar terhadap karakter desain furnitur di Indonesia.Kata kunci: transisi, furnitur, kayu, Indonesia, ekologiAbstractWood is a material that is widely used in Indonesia, particularly for furniture. The impact of Indonesia economic development in 21st century, then the increasing needs of furniture both from outside and within the country, and the development of design in Indonesia, are directly related to ecological problems.The high demand for wood can reduce timber supply.Until now, these conditions encourage the furniture industry in Indonesia to use alternate various kinds of solid wood, wood processing and wood waste.Wood has a role in the dynamic cultural development of Java, both from the aspect of spiritual, philosophical, aesthetic and economic.The role can be assessed through one of the symbols of culture, namely furniture products. This study aims to describe the shift in social and cultural values that occurred on the island of Java, in particular the use of wood materials.The development of wood utilization will be explained based on the changing needs of the community, through Material Cultural Studies viewpoint. By looking at the changes in technological trends, social conditions and public taste, will be known tendency of any type of wood used today. Sustainable and ecologicalconcept for furniture design in Indonesia would be seen as an opportunity to maintain the continuity of wood materials.Keyword: transition, furniture, wood, Indonesia, ecology
Fungsi dan Nilai pada Kain Batik Tulis Gedhog Khas Masyarakat di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur Fajar Ciptandi; Agus Sachari; Achmad Haldani
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.190

Abstract

ABSTRACTKerek subdistrict, Tuban residence in East Java is an area whose people work on field and have a tradition on making fabric with gedhog weaving. Each fabric produced by Kerek people have specific characteristic which distinguish them from batik fabric on another area in Indonesia. This is because they have special knowledge concerning fungtion, cosmology, aesthetics, as well as their ability on making fabric which they have been learned from generation to generation.Then, through art and design approaching through method of etnograph,visual morphology, and Focus Group Disscusion, which is convinced able to give tangible contribution for developing of art and design and impact on sustainability of tradition.Keywords: Fungtion, Kerek subdistrict, Textile, Tradition, ValueABSTRAKKecamatan Kerek, Kabupaten Tuban di Jawa Timur merupakan sebuah kawasan dengan karakteristik masyarakat peladang dan memiliki tradisi membuat kain dengan teknik tenun tradisional gedhog. Setiap lembar kain yang dihasilkan oleh masyarakat Kerek ini memiliki ciri khas pada tampilan visual, teknik, serta makna yang membedakannya dengan kain-kain batik dari daerah lain di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya kekhasan pengetahuan masyarakat Kerek terhadap konsep kosmologi dan estetika, akulturasi budaya asing dengan budaya lokal stempat, serta bekal keterampilan yang dimilikinya dalam menciptakan kain yang dipelajari secara turun temurun dari generasi ke generasi.Maka melalui pendekatan ilmu seni dan desain dengan metodologi etnografi, morfologi visual, dan kelompok diskusi terarah yang diyakini mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan dunia seni dan desain serta berdampak terhadap keberlangsungan tradisi tersebut.Kata kunci: Fungsi, Kecamatan Kerek, Nilai, Tekstil. Tradisi
Menggelar Narasidan Reputasi: PameranSeniRupa sebagai Pergelaran G. R. Lono Lastoro Simatupang
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.191

Abstract

AbstrakPembagian seni secara konvensional ke dalam Seni Rupa dan Seni Pertunjukan dapat dituduhsebagai faktor pendorong tidak saling bertegursapanya kajian kedua ranah seni tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kajian pertunjukan. Hasil penelitian ini menyajikan tawaran cara pandang pergelaran (performance) sebagai salah satu alternatif perspektif untuk menjembatani kajian kedua ranah seni tersebut. Penulis berpendapat bahwa melihat pameran seni rupa sebagai peristiwa pergelaran berpeluang menghasilkan wilayah kajian baru dalam kajian seni rupa. Cara pandang pergelaran bahkan juga dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk mengkaji akuisisi dan koleksi seni rupa.Kata kunci: pameran seni rupa, pergelaran, kajian pertunjukanAbstractThe conventional division of arts into Arts and Performing Arts can be blamed as an impedingfactor for conversation between studies of the two art realms. This research uses performance studies method.This research result proposes performance as analternative perspective to bridge both studies. It argues that viewing arts exhibition as performance might give result to a new field of arts studies. Performance perspectives even can be applied further to examine arts acquisition and collection.Key words: arts exhibition, performance, performance studies
Perwujudan Keyakinan akan Keberadaan Mahluk Halus dalam Komik Kawin ka Kunti Kankan Kasmana; Setiawan Sabana; Iwan Gunawan; Hafiz Aziz Ahmad
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.192

Abstract

AbstrakMahluk halus dalam masyarakat Sunda merupakan fenomena antara mitos dan realitas. Kepercayaan terhadap mahluk yang dianggap immateri-spiritual ini mempengaruhi kehidupan masyarakat, dan banyak diangkat dalam media populer. Tahun 1986 hadir komik Sunda berjudul Kawin ka Kunti, bercerita tentang pernikahan manusia dan mahluk halus, Kuntianak. Penelitian ini bersifat kualitatif, secara deskriptif menguraikan tentang pengemasan mitos dan tradisi dalam komik sebagai wujud interteks. Analisis intertekstualitas digunakan dalam penelitian berupaya mencari representasi teks berupa keyakinan akan keberadaan mahluk halus di masyarakat Sunda yang muncul dalam komik. Diperoleh kesimpulan bahwa interteks hadir dalam komik berupa keyakinan akan keberadaan mahluk halus, meliputi wujud hantu, kehadiran mantra berupa jampe pamakena, serta adat istiadat yang berkaitan dengan mahluk halus. Imaji hantu dalam komik ini adalah representasi dari konsep, pandangan, kepercayaan akan kehadiran mahluk halus. Gambarannya bisa jadi merupakan sebuah imaji perseptual, yang hadir dalam diri komikus didasarkan pada referensi eksternal di lingkungan komikus berada. Kata Kunci: Mahluk Halus, Komik, Intertekstual, Sunda, Tradisi AbstractSpiritual beings within Sundanese is both myth and reality phenomenon. This spiritual-immaterial belief influences Sundanese people’s life, where it frequently appears in popular media. In 1986, there was a comic titled Kawin ka Kunti, told a story about spiritual being (Kuntianak)-human marriage.It is a qualitative research which descriptively explains how myth and tradition are wrapped as an intertext form. Uses intertextual analysis, this research attempts to find text representation in form of belief on spiritual beings existence in the comic. It is then concluded that intertext exists in the comic in form of belief on spiritual beings existence comprises of incarnation of several ghosts, spells presence in form of jampe pamakena, as well as custom related to ghosts. Ghost imaging in this comic is a representation of concept, point of view, and belief of jurig (ghost). It may come in form of perceptual imaging, presents in anything that is based on external reference of the comic artist her/himself.Keywords: Jurig (ghost), Comic, Intertextual, Sunda, Tradition
Re-Interpretasi Budaya Tradisi dalam Karya Seni Kontemporer Bandung Karya Radi Arwinda Kiki Rizky Soetisna Putri; Setiawan Sabana
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.193

Abstract

AbstrakBandung memiliki posisi begitu penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.Perkembangan yang pesat paska boom tahun 2000an serta peran penting salah satu akademi seni tertua di Indonesia menjadi lahan subur bermunculannya seniman muda dengan karakter yang khas. Karakter yang khas tersebut salah satuya dimiliki oleh Radi Arwinda, seorang seniman yang dibesarkan dari lingkungan keluarga yang begitu tertarik pada kebudayaan tradisi, namun tumbuh dan berkembang di kota urban dengan dipengaruhi oleh kultur populer Jepang dan Amerika lewat film animasi, dan komik. Karya-karya Radi pada perkembangannya merupakan upaya re-interpretasi budaya, mengubah struktur dengan pembacaan personal terhadap fenomena di masyarakat.Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif secara deskriptif dengan menganalisis berbagai macam data literatur serta data hasil wawancara dan observasi yang mendukung penelitian. Penelitian ini juga meminjam pendekatan kritik seni untuk menginterpretasikan karya.(Kata-kata Kunci: Radi Arwinda re-interpretasi budaya tradisi, seni rupa kontemporer, , Bandung)AbstractBandung has a very important position in the development of contemporary art in Indonesia. The rapid development after the boom of the 2000s as well as the important role of one of the oldest art academy in Indonesia to be fertile ground emergence of young artists with a distinctive character. Distinctive character is one of owned by Radi Arwinda, an artist who grew up in the so interested in cultural tradition family environment, but thrive in an urban city with popular Japan and the US culture influenced through animated films and comics. Radi works on the development of an attempt to re-interpretation of the culture, changing the structure of the personal reading of the phenomena in the society. This study uses descriptive qualitative methodological approach to analyzing a wide range of literature data as well as data from interviews and observations to support research. The study also borrow approach of art criticism to interpret the works.(Key Words:Radi Arwinda,traditional cultural re-interpretation, contemporary art, Bandung) 
Sakuren: Konsep Spasial Sebagai Prasyarat Keselamatan Masyarakat Keselamatan Masyarakat Budaya Padi di Kasepuhan Ciptagelar Susilo Kusdiwanggo; Jakob Sumardjo
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.194

Abstract

ABSTRACTIn the rice culture of KasepuhanCiptagelar society, life will emerge after sakuren brought together (pangawinan). Life is not static, but dynamic and cyclical. Sakuren should be sought through the ngalasuwung, that is a process of ritual activity. Ngalasuwung performed through pattern of space motion katuhu or kenca. Goal of ngalasuwung is to achieve a suwung. The process of ngalasuwung does not cease after the reality of sakuren found. Reality of sakuren remains to be mated (pangawinan) in suwung space. Aim of pangawinan is obtain pancer. Through an ethnographic approach, sakuren cultural theme as a result of a domain analysis, studied simultaneously with taxonomic analysis and elaborated with thick description. Comprehensive studies show that sakuren is an existential meaning which should be pursued and a prerequisite for obtaining safety and sustainability.Keywords: KasepuhanCiptagelar, pangawinan, pancer, sakurenABSTRAKDalam budaya padi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, kehidupan akan muncul setelah sakuren dipertemukan. Kehidupan tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan siklis. Sakuren adalah konsep sepasang. Sakuren harus dicari melalui proses ngalasuwung, yaitu sebuah proses aktivitas ritual. Ngalasuwung dilakukan dengan dengan pola gerak ruang katuhu atau kenca. Tujuan ngalasuwung adalah mencapai ruang suwung. Proses ngalasuwung tidak berhenti setelah realitas sakuren ditemukan. Realitas sakuren masih harus dikawinkan dalam ruang suwung. Tujuan pangawinan adalah memperoleh pancer (keselamatan). Melalui pendekatan etnografi, tema kultural sakuren sebagai hasil dari analisis domain, dikaji secara simultan dengan analisis taksonomi dan dielaborasi dengan thick description. Kajian komprehensif menunjukkan bahwa sakuren merupakan makna eksistensial yang harus diupayakan dan menjadi prasyarat untuk memperoleh keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat budaya padi Ciptagelar.Kata Kunci :Kasepuhan Ciptagelar, pangawinan, pancer, sakuren 
Kitsch dalam Iklan TV Komersial dan Selera Konsumer Indonesia Wildan Hanif; Yasraf Amir Piliang
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.195

Abstract

ABSTRAKIklan TV komersial memiliki hubungan timbal balik dengan selera konsumer. Penelitian mengenai iklan TV bermuatan kitsch, yang sering dikaitkan dengan selera rendah ini, mencoba menjawab bagaimana gambaran selera masyarakat konsumer Indonesia pada tahun 2015. Metode yang digunakan adalah metode lintas disiplin dengan pendekatan Cultural studies. Penelitian ini menguraikan gambaran selera massa konsumer Indonesia sebagai dampak dari tayangan iklan TV komersial. Dengan mengambil sampel “Iklan Biji Selasih Serbuk Panas Dalam Bintang Toedjoe”, didapati bahwa iklan tersebut mengandung unsur budaya global yang bercampur (hibrid) dengan budaya lokal dan mitos populer khas Indonesia. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa selera masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah bawah, sangat terkait dengan karakter manusia Indonesia yang memiliki naluri berkesenian yang tinggi, suka pamer, percaya tahayul, mudah dipengaruhi oleh budaya dari luar, dan bersifat hipokrit. Kata Kunci : Kitsch, Selera Konsumer, Iklan TVABSTRACTCommercial TV advertising has a considerable influence on the tastes of consumers. Research on the kitsch-laden TV ads, which are often associated with bad taste, try to answer how is the consumer tastes of the people of Indonesia in 2015. The method used is the method of cross-disciplinary approach to Cultural studies. This study provides a picture of the mass consumer tastes Indonesia as a result of commercial TV ad impressions. By taking samples of “Biji Selasih Serbuk Panas Dalam Bintang Toedjoe” " TV ad, found that the advertisement contained elements of global culture mixed (hybrid) with the local culture and popular myths typical of Indonesia. The results of this study also showed that the tastes of Indonesian people, especially the lower middle class, strongly associated with the character of Indonesian people who have a high artistic instinct, happy to show off, but easily influenced by the culture from the outside, believe in superstitious, and is hypocritical.Keywords: Kitsch, Consumer Tastes, TV ad

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32 No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28 No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28 No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27 No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Con Vol 27 No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27 No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26 No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26 No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25 No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25 No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25 No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24 No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23 No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23 No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23 No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajara Vol 22 No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22 No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22 No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22 No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21 No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21 No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21 No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18 No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15 No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1 No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional J More Issue